• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "1.1 Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

Kebutuhan dan kepuasan masyarakat sebagai konsumen jasa terjamin dengan pelayanan prima.Seluruh Instansi Pemerintah, baik Kementerian/Lembaga, Provinsi, serta Kabupaten/Kota harus berkomitmen untuk memberikan pelayanan prima. Menciptakan keyakinan publik terhadap penyelenggaraan pelayanan masyarakat oleh pelaksana pelayanan masyarakat ialah syarat lain dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009. Pelayanan publik didefinisikan dalam ketentuan umum Bab I, khususnya dalam pasal 1,sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyelenggara pelayanan buat penuhi kepentingan tiap penduduk negeri serta penduduk dalam hal komoditi, jasa, dan/atau jasa administrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.untuk diberikan kepada publik dalam upaya memenuhi persyaratannya dengan tetap mematuhi semua aturan dan peraturan yang relevan.Hal ini berusaha untuk meningkatkan kepercayaan publik dengan memberikan pelayanan publik.

(Kurniawan,2016:769)

Pelayanan publik ialah unsur yang berguna bagi organisasi publik pemerintahan. Pelayanan publik haruslah mengarah pada keperluan masyarakat. Pemenuhan keperluan masyarakat merupakan tanggungjawab pemerintah dan secara substantive harus memperhatikan kualitas,agar masyarakat merasa puas dan memberikan penilaian yang positif atas

(2)

Pengelolaan pelayanan publik mesti mengacu kepada standar pelayanan yang ditetapkan.Namun pada kenyataannya masih banyak dijumpai persoalan- persoalan pelayanan yang membuat masyarakat kecewa kepada pemerintahan berdasarkan pelayanan yang mereka peroleh.Buruknya pelayanan publik yang diserahkan oleh pemerintah, terlihat dari banyaknya kasus, ini mengisyarakatkan bahwa pelayanan publik yang diberikan dan diterima masyarakat dianggab kurang berpihak kepada kepentingan masyarakat. Birokrasi yang kompleks, inefisiensi,waktu penyelesaian yang lambat, bermusuhan, dan ambigu, serta biaya layanan yang tidak diketahui, semuanya merupakan indikator kuat bahwa pemberian layanan penyedia layanan masih jauh dari harapan masyarakat. Sebagian aspek yang mengakibatkan belum berkualitasnya pelayanan public yaitu:faktor organisasi birokrasi,profesionalisme SDM Penyelenggara pelayanan publik,Pola pikir,Budaya kerja/budaya pelayanan,Teknologi,Sarana prasarana, lemahnya kebijakan, kurangnya inovasi dan kurangnya pengawasan baik internal maupun external.Sinambela (2014 :5)

Seiring dengan pesatnya kemajuan dibidang teknologi, penduduk Indonesia dihadapkan pada tatanan baru serta tantangan universal yang harus diikuti dengan peningkatan diberbagai aspek kehidupan seperti ilmu pengetahuan, data, komunikasi, pengangkutan, teknologi serta perdagangan.

Transformasi yang demikian cepat itu harus disikapi dengan bijaksana lewat upaya- upaya peningkatan aktivitas yang dilakukan secara berkelanjutan dan berkelanjutan, dan dukungan dari berbagai pihak agar terbangun kepercayaan

(3)

masyarakat pada pemerintahan khususnya penyelenggara pelayan publik.

Untuk mewujudkan ini semua diperlukan:

1. Implementasi penguatan kebijakan pelayanan publik, seperti standar pelayanan.

2. Pengembangan sistem informasi pelayanan publik 3. Pelayanan publik terintegrasi dan berbasis eletronik

4. Membuat inovasi baru dan melakukan pengembangan inovasi pelayanan publik

5.Melakukan monitoring serta penilaian terhadap kebijaksanaan pelayanan publik dengan cara teratur.(Adib, 2011, p.254).

Dalam rencana menciptakan penyelengaraan publik yang berkualitas,bersih serta bebas dari penggelapan,persekongkolan serta nepotisme,pemerintahan diharapkan bisa melakukan reformasi birokarasi,dalam hal ini area perubahan ke -8 (delapan) yakni peningkatan kualitas pelayanan publik yang membagikan tanggungan karena terpenuhinya kebahagiaan serta keinginan warga atas pelayanan publik yang diberikan.Untuk dapat mewujudkan reformasi pelayanan publik yang prima dan berkualitas,diperlukan kerja keras negara, baik itu penguasa pusat ataupun penguasa wilayah.Penguasa wilayah terus dituntut buat bisa melangsungkan pengembangan ataupun membuat inovasi baru dalam membagikan kenaikan mutu pelayanan publik di masa globalisasi saat ini yang penuh dengan tantangan.Peraturan Walikota Tanjungpinang Nomor 6 Tahun 2022 tentang Pelaksanaan Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi digunakan

(4)

sebagai persetujuan penandatangan atas informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang ditandatangani dengan tanda elektronik.(Listyana et al., 2014: 149-154)

Pemerintah Kota Tanjungpinang mendirikan kantor PM dan PTSP yang merupakan perpanjangan tangan Walikota dalam mengelola pemerintahan daerah, sebagai wujud nyata komitmennya dalam meningkatkan pelayanan publik. Kantor-kantor tersebut menawarkan pelayanan administrasi di bagian penanaman modal serta pelayanan terpadu satu pintu dengan cara berintegrasi dengan prinsip koordinasi, keterpaduan, penyerentakan, penyederhanaan, keamanan, serta kejelasan.

Pada Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”).www.izinesia.id

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tanjungpinang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, maka didirikanlah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tanjungpinang.

Berdasarkan Peraturan Walikota Tanjungpinang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 26 Tahun 2018 tentang Pendelegasian Sebagian Kewenangan Perizinan dan Non Perizinan kepada DPMPTSP, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang juga dikenal dengan DPMPTSP telah menyelenggarakan 124 jenis perizinan dan nonperizinan www.infopublik.id. Pada awal pembentukan PTSP

(5)

pada tahun 2009, pelimpahan kewenangan pelayanan perizinan hanya berjumlah 17 (tujuh belas) jenis izin,kemudian menjadi 32 (tiga puluh dua), bertambah lagi menjadi 89 (delapan puluh sembilan) dan sampai saat ini berjumlah 124 (seratus dua puluh empat) jenis izin

Dengan semakin bertambahnya jumlah pelimpahan kewenangan perizinan dan non perizinan dan semakin tingginya tuntutan masyarakat terhadap proses perizinan terutama tuntutan terhadap waktu penyelesaian perizinan, DPMPTSP kota Tanjungpinang dituntuntut untuk terus membuat inovasi baru dan melakukan pengembangan inovasi dalam peningkatan pelayanan perizinan dan non perizinan.

Data, keterangan,serta pemahaman kini bisa diciptakan dengan segera serta didistribusikan secara instan pada banyak orang dari seluruh susunan penduduk serta di seluruh belahan dunia berkat kemajuan teknologi yang sangat pesat. Hal ini juga berlaku untuk masalah yang berkaitan dengan pelayanan publik.

Efisiensi, efektivitas, keterbukaan, dan akuntabilitas semua akan tumbuh dan semakin baik karena manajemen pemerintahan semakin banyak menggunakan teknologi dan informasi (e-government).Kebijakan dan rencana pengembangan teknologi diperlukan untuk tata kelola yang efektif dan promosi layanan publik yang efektif dan efisien.

Pada tahun 2020, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Tanjungpinang berdasarkan Renstra 2018-2023 dan

(6)

peningkatan pelayanan perizinan dengan inovasi penandatangan dokumen perizinan dan non perizinan secara eletronik yang dikenal dengan E- Signature Tanjungpinang (Sekejap).

Sekejap adalah tanda tangan elektronik yang telah diterapkan DPMPTSP Kota Tanjungpinang dalam rangka memudahkan anggota masyarakat dan pelaku korporasi untuk mendapatkan perijinan dan perijinan serta membuat proses perijinan menjadi lebih cepat, aman,dan transparan www.infopublik.id. Ketidakmampuan untuk mengeluarkan izin karena kepala

Dinas dan pejabat terkait lainnya tidak hadir menjadi masalah dengan penandatanganan berkas tanda tangan elektronik ini.Selama semua persyaratan dipenuhi dan benar, izin dapat segera ditandatangani dan dikeluarkan oleh kepala kantor di luar daerah, di mana juga mereka berada serta bila mereka bersedia.Kendala yang terjadi saat ini yaitu lama menunggu surat rekomendasi dari dinas terkait maka terjadi keterlambatan untuk mengeluarkan perizinan yang seharusnya 3 hari kerja menjadi 5 hari kerja dikeluarkan oleh DPMPTSP kota Tanjungpinang.

Sektor pekerjaan umum, sektor kesehatan, dan industri pariwisata merupakan tiga sektor yang menjadi tahap pertama penerapan E-Signature DPMPTSP untuk kegiatan administrasi perizinan serta nonperizinan www.infopublik.id.

(7)

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ” Bagaimana Efektivitas E-signature Oleh Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Tanjungpinang Dalam Upaya Optimalisasi Pelayanan Perizinan .”

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah Untuk mengetahui Efektivitas E-Signature di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Tanjungpinang Dalam Upaya Optimalisasi Pelayanan Perizinan .”

1.4 Manfaat Penelitian

Hal ini dimaksudkan agar pembaca dan orang lain dapat mengambil manfaat secara tidak langsung dari penelitian ini sesuai dengan tujuannya. Hasil berikut dari penelitian ini diharapkan:

(8)

1.4.1. Manfaat Teoritis

a. Diharapkan temuan penelitian ini akan menambah pemahaman dan pengetahuan kita di bidang ilmu administrasi Negara.

b. Mahasiswa dapat menggunakannya sebagai referensi dan bahan komparatif untuk penelitian tambahan.

c. Dapat memberikan masukan dalam upaya peningkatan penyelenggaraan pelayanan publik di DPMPTSP Kota Tanjungpinang

1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

Peneliti yang juga tertarik dengan efektivitas e-signature di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Tanjungpinang diharapkan dapat menemukan manfaat dari hasil penelitian ini sebagai sumber informasi awal dan referensi.

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Walikota Tual Nomor 02.a Tahun 2019 tentang Pendelegasian Wewenang Perizinan dan Nonperizinan kepada Kepala Dinas Penanaman Modal, Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu

Peraturan Walikota Tual Nomor 02.a Tahun 2019 tentang Pendelegasian Wewenang Perizinan dan Nonperizinan kepada Kepala Dinas Penanaman Modal, Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu