BAB IV ANALISIS DATA
4.1 Keterkaitan Antar Sektor
Berdasarkan tabel input-output tahun 2005 dan 2010 dihitung indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan menggunakan persamaan (2.15) dan (2.16).
Tabel 4.1
Indeks Daya Penyebaran (α) dan Derajat kepekaan (β) Jawa Barat Tahun 2005 dan 2010
Sektor Tahun 2005 Tahun 2010
α β α β
1 0.17979 1.07623 0.39633 1.39082 2 0.52887 0.46710 0.50717 0.37347 3 0.80870 0.24547 0.83505 0.24366 4 0.30670 0.67212 0.33431 0.33307 5 0.49559 0.20102 0.49116 0.18658 6 0.56843 3.91059 0.29617 1.70465 7 0.55829 0.93440 0.48624 0.68517 8 1.52444 1.76803 1.76557 1.66925 9 1.39192 0.89694 1.46538 1.53166 10 1.66271 0.79103 1.40934 0.54506 11 1.56922 1.33537 1.43990 1.06953 12 1.43549 2.36621 1.61159 2.23916 13 1.59011 2.10930 1.20155 2.21593 14 1.35462 0.55426 1.27847 0.32226 15 1.62382 0.70987 1.64129 0.61553 16 1.41670 2.26445 1.41863 2.70698 17 1.27959 0.15385 1.25934 0.47790 18 1.31984 1.26623 1.39680 1.41909 19 1.14283 0.09003 1.01012 0.74580 20 0.54533 0.03782 0.79999 0.01663 21 1.60959 0.29853 1.55726 0.77817 22 0.69957 1.94264 0.53622 2.19092 23 0.58058 0.40903 0.89702 0.36395 24 1.18548 1.05713 1.14522 2.37455 25 0.64697 0.34978 0.66005 0.23795 26 0.57183 1.32846 0.72574 1.13758 27 0.52654 1.05501 0.46026 0.40580 28 0.87671 0.08108 0.91821 0.05559 29 0.99974 0.62803 1.05561 0.96328
Berikut ini adalah contoh cara menghitung nilai α dan β tahun 2005.
Tabel 4.2 Matriks Pengganda Provinsi Jawa Barat Tahun 2005
Sektor 1 2 3 . . . 29 Total
1 0.02830 0.00000 0.00894 . . . 0.01713 0.43682 2 0.00003 0.06514 0.00048 . . . 0.00147 0.18959 3 0.00219 0.00593 0.00871 . . . 0.00412 0.09963
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
29 0.00146 0.00386 0.00042 . . . 0.01448 0.25490 Total 0.07297 0.21466 0.32823 . . . 0.40578 11.77050
α1 = 0.0729711.77050
29
β1 = 0.4368211.77050
29
α1 = 0.17979 β1= 1.07623
Analisis keterkaitan sektor dilakukan dengan cara menggambarkan plot antara nilai indeks daya penyebaran (α) dengan indeks derajat kepekaan (β).
1.8 1.6
1.4 1.2
1.0 0.8
0.6 0.4
0.2 0.0
4
3
2
1
0
Indeks Daya Penyebaran (a)
Indeks Derajat Kepekaan (ß)
1
1
29
28 27
26
25
24
23 22
21
20 19
18
17 16
15 14
13 12
11
9 10 8
7 6
5 4
3 2
1
KUADRAN I KUADRAN II
KUADRAN III
KUADRAN IV
Gambar 4.1 Plot Indeks Daya Penyebaran dengan Indeks Derajat Kepekaan Jawa Barat Tahun 2005
Berdasarkan plot tahun 2005, menunjukkan bahwa ada beberapa sektor yang terbagi dalam empat golongan yaitu:
• Kuadran I merupakan sektor yang dianggap leader dalam pertumbuhan ekonomi, terdapat 7 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.3 Kuadran I Tahun 2005
Sektor Nama Sektor
12 Industri Kimia, Barang-barang dari Bahan Kimia, Karet dan Plastik 16 Industri Barang Jadi dari Logam
13 Pengilangan Minyak Bumi 8 Industri Makanan dan Minuman
11 Industri Kertas dan barang-barang dari kertas, Percetakan dan Penerbitan 18 Listrik
24 Pengangkutan
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut mampu menarik sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut akan terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, sektor ini mampu menarik sektor lain untuk maju disaat sektor ini maju, dan disaat sektor lain maju sektor ini pun akan ikut maju.
• Kuadran II merupakan sektor yang memiliki ketergantungan terhadap sektor lain yang tinggi, namun daya dorong terhadap sektor lain rendah, terdapat 5 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.4 Kuadran II Tahun 2005
Sektor Nama Sektor
6 Pertambangan Minyak dan Gas Bumi 22 Perdagangan Besar dan Eceran 26 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 27 Usaha Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan
1 Tanaman Bahan Makanan
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut kurang mampu mendorong
sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut akan terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, disaat sektor ini maju kurang mampu mengajak sektor lain untuk maju, dan disaat sektor lain maju, maka sektor ini akan ikut maju.
• Kuadran III merupakan sektor yang memerlukan dorongan dan dukungan dari sektor lain karena kemampuan diri sektor ini lemah, terdapat 10 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.5 Kuadran III Tahun 2005
Sektor Nama Sektor
7 Pertambangan Tapa Migas dan Penggalian 4 Kehutanan
5 Perikanan 2 Perkebunan 20 Air Bersih 23 Hotel dan Restoran 25 Komunikasi
3 Peternakan
28 Pemerintahan Umum dan Pertahanan
29 Jasa Sosial dan Kemasyarakatan serta Jasa Lainnya
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut kurang mampu menarik sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut tidak terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, disaat sektor ini maju kurang mampu menarik sektor lain untuk maju, dan disaat sektor lain maju, maka sektor ini tidak akan ikut maju.
• Kuadran IV merupakan sektor yang dapat mendorong sektor yang lain akan tetapi ketergantungan terhadap sektor lain rendah, terdapat 7 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.6 Kuadran IV Tahun 2005
Sektor Nama Sektor
10 Industri Kayu, Bambu, Rotan dan Furniture.
15 Industri Logam Dasar 21 Bangunan
9 Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Kulit dan Alas Kaki 14 Industri Barang Mineral bukan Logam
17 Industri Pengolahan Lainnya 19 Gas Kota
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut mampu menarik sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut tidak terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, disaat sektor ini maju mampu menarik sektor lain maju, dan disaat sektor lain maju sektor ini tidak akan ikut maju.
Sedangkan untuk plot Plot Indeks Daya Penyebaran dengan Indeks Derajat Kepekaan Jawa Barat Tahun 2010 adalah sebagai berikut.
1.8 1.6
1.4 1.2
1.0 0.8
0.6 0.4
0.2 3.0
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0
Indeks daya Penyebaran (a)
Indeks Derajat Kepekaan (ß)
1
29 1
28 27
26
25
24
23 22
21
20
19
18
17 16
15 14
13 12
11
10 9
8
7 6
5
4 3
2 1
KUADRAN I KUADRAN II
KUADRAN III
KUADRAN IV
Gambar 4.2 Plot Indeks Daya Penyebaran dengan Indeks Derajat Kepekaan Jawa Barat Tahun 2010
Berdasarkan plot tahun 2010, menunjukkan bahwa ada beberapa sektor yang terbagi dalam empat golongan yaitu:
• Kuadran I merupakan sektor yang dianggap leader dalam pertumbuhan ekonomi, terdapat 7 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.7 Kuadran I Tahun 2010
Sektor Nama Sektor
8 Industri Makanan dan Minuman
12 Industri Kimia, Barang-barang dari Bahan Kimia, Karet dan Plastik 16 Industri Barang Jadi dari Logam
9 Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Kulit dan Alas Kaki
11 Industri Kertas dan barang-barang dari kertas, Percetakan dan Penerbitan 18 Listrik
13 Pengilangan Minyak Bumi 24 Pengangkutan
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut mampu menarik sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat
akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut akan terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, sektor ini mampu menarik sektor lain untuk maju disaat sektor ini maju, dan disaat sektor lain maju sektor ini pun akan ikut maju.
• Kuadran II merupakan sektor yang memiliki ketergantungan terhadap sektor lain yang tinggi, namun daya dorong terhadap sektor lain rendah, terdapat 5 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.8 Kuadran II Tahun 2010
Sektor Nama Sektor
6 Pertambangan Minyak dan Gas Bumi 1 Tanaman Bahan Makanan
22 Perdagangan Besar dan Eceran 26 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut kurang mampu mendorong sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut akan terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, disaat sektor ini maju kurang mampu mendorong sektor lain untuk maju, dan disaat sektor lain maju, maka sektor ini akan ikut maju.
• Kuadran III merupakan sektor yang memerlukan dorongan dan dukungan dari sektor lain karena kemampuan diri sektor ini lemah, terdapat 10 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.9 Kuadran III Tahun 2010
Sektor Nama Sektor
4 Kehutanan
7 Pertambangan Tapa Migas dan Penggalian 27 Usaha Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan
2 Perkebunan 5 Perikanan 25 Komunikasi 20 Air Bersih
3 Peternakan 23 Hotel dan Restoran
28 Pemerintahan Umum dan Pertahanan
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut kurang mampu menarik sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut tidak terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, disaat sektor ini maju kurang mampu mendorong sektor lain untuk maju, dan disaat sektor lain maju, maka sektor ini tidak akan ikut maju.
• Kuadran IV merupakan sektor yang dapat mendorong sektor yang lain akan tetapi ketergantungan terhadap sektor lain rendah, terdapat 7 sektor yang termasuk dalam golongan ini.
Tabel 4.10 Kuadran IV Tahun 2010
Sektor Nama Sektor
15 Industri Logam Dasar 21 Bangunan
10 Industri Kayu, Bambu, Rotan dan Furniture.
14 Industri Barang Mineral bukan Logam 17 Industri Pengolahan Lainnya
29 Jasa Sosial dan Kemasyarakatan serta Jasa Lainnya 19 Gas Kota
Hal ini berarti jika output di sektor tersebut meningkat akibat adanya perubahan permintaan akhir, maka sektor tersebut mampu menarik sektor lain untuk meningkatkan outputnya, dan jika output di sektor lain meningkat akibat adanya permintaan akhir, maka sektor tersebut tidak terdorong untuk meningkatkan outputnya. Dengan perkataan lain, disaat sektor ini maju mampu menarik sektor lain maju, dan disaat sektor lain maju sektor ini tidak akan ikut maju.
4.2 Analisis Angka Pengganda
4.2.1 Analisis Angka Pengganda Output (Output Multiplier)
Angka Pengganda output suatu sektor menunjukkan besarnya efek penciptaan keseluruhan output di perekonomian di setiap satu rupiah perubahan permintaan akhir di sektor tersebut.
Dengan menggunakan persamaan (2.17) didapatkan angka pengganda output untuk tahun 2005 dan 2010 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.11 Angka Pengganda Output Sektor Angka Pengganda Output
2005 2010
1 0.07297 0.17330
2 0.21466 0.22177
3 0.32823 0.36514
4 0.12448 0.14618
5 0.20115 0.21477
6 0.23071 0.12950
7 0.22660 0.21262
8 0.61874 0.77201
9 0.56495 0.64075
10 0.67486 0.61625
11 0.63691 0.62961
12 0.58264 0.70469
13 0.64539 0.52539
14 0.54981 0.55903
15 0.65908 0.71767
16 0.57501 0.62031
17 0.51936 0.55066
Tabel 4.11 Lanjutan Angka Pengganda Output
Sektor Angka Pengganda Output
2005 2010
18 0.53570 0.61077
19 0.46385 0.44169
20 0.22134 0.34980
21 0.65330 0.68093
22 0.28394 0.23447
23 0.23565 0.39223
24 0.48116 0.50076
25 0.26259 0.28861
26 0.23209 0.31734
27 0.21371 0.20125
28 0.35584 0.40150
29 0.40578 0.46158
Apabila diilustrasikan perubahan nilai angka pengganda output tahun 2005 ke tahun 2010 dapat dilihat pada Gambar 4.3.
29 28 27 26 25 24 23 22 21 20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0.0
Data
pengganda output tahun 2010 lebih besar dari tahun 2005 (meningkat) pengganda output tahun 2010 lebih kecil dari tahun 2005 (menurun)
Gambar 4.3 Angka Pengganda Output Periode 2005 dan 2010
Terlihat bahwa nilai angka pengganda output tertinggi pada tahun 2005 dan 2010 adalah di sektor 8 (Industri Makanan dan Minuman). Hal ini berarti
setiap satu juta rupiah peningkatan permintaan akhir di sektor tersebut akan meningkatkan output seluruh sektor sebesar 0,61874 juta rupiah pada tahun 2005, sedangkan pada tahun 2010 sebesar 0,77201 juta rupiah. Sementara itu, angka pengganda output terkecil pada tahun 2005 dan 2010 terletak pada sektor 1 (Tanaman Bahan Makanan) yaitu sebesar 0,07297 dan 0,17330. Walaupun angka pengganda outputnya kecil, namun peningkatannya cukup besar yaitu sebesar 0,10033, hal ini berarti apa yang direncanakan oleh Gubernur cukup berhasil yaitu ingin meningkatkan sektor tanaman bahan makanan pada tahun 2008.
Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa sektor 8 (Industri Makanan dan Minuman) dan sektor 23 (Hotel dan restoran) mengalami peningkatan angka pengganda output yang paling besar di perekonomian Jawa Barat, sedangkan untuk peningkatan terendah berada pada sektor 2 (perkebunan) dan sektor 14 (Industri Barang Mineral Bukan Logam). Artinya, akibat permintaan akhir di sektor Industri Makanan, Minuman, Hotel, dan Restoran dengan nilai yang sama di sektor lainnya akan menyebabkan peningkatan output di seluruh sektor paling tinggi dibandingkan dengan permintaan akhir di sektor yang lain.
4.2.2 Analisis Angka Pengganda Pendapatan Rumah Tangga (House Hold Income Multiplier)
Angka pengganda pendapatan merupakan jumlah pendapatan rumah tangga total yang tercipta (termasuk sebagian pendapatan yang di belanjakan kembali ke dalam perekonomian) sebagai akibat adanya tambahan satu unit uang permintaan akhir di suatu sektor.
Dengan menggunakan persamaan (2.18) didapatkan angka pengganda pendapatan rumah tangga untuk tahun 2005 dan 2010 yang ditampilkan oleh
Tabel 4.12. Apabila diilustrasikan perubahan nilai angka pengganda pendapatan rumah tangga tahun 2005 ke tahun 2010 dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Tabel 4.12 Angka Pengganda Pendapatan Rumah Tangga Sektor Angka Pengganda Pendapatan Rumah Tangga
2005 2010
1 0.01185 0.02381
2 0.04187 0.03691
3 0.04285 0.04049
4 0.01871 0.02367
5 0.02756 0.02897
6 0.01814 0.01455
7 0.04120 0.03313
8 0.11096 0.11241
9 0.08198 0.07536
10 0.08839 0.08501
11 0.09279 0.07654
12 0.08435 0.08932
13 0.04946 0.04197
14 0.08812 0.06867
15 0.07939 0.07107
16 0.07871 0.07955
17 0.08474 0.08591
18 0.05348 0.05985
19 0.04787 0.05749
20 0.02991 0.04068
21 0.09074 0.09058
22 0.03856 0.03482
23 0.03468 0.04940
24 0.06682 0.08171
25 0.03849 0.04937
26 0.03689 0.06028
27 0.03945 0.03360
28 0.06013 0.06078
29 0.05766 0.06241
29 28 27 26 25 24 23 22 21 20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
0.12
0.10
0.08
0.06
0.04
0.02
0.00
Data
pengganda pendapatan tahun 2010 lebih kecil dari tahun 2005(menurun) pengganda pendapatan tahun 2010 lebih besar dari tahun 2005(meningkat)
Gambar 4.4 Angka Pengganda Pendapatan Rumah Tangga
Periode 2005 dan 2010
Menurut angka pengganda pendapatan rumah tangga sektor yang paling tinggi efek pendapatannya pada tahun 2005 adalah sektor 8 (Industri Makanan dan Minuman) sebesar 0,11096, sedangkan pada tahun 2010 sebesar 0,11241.
Hal ini berarti setiap satu juta rupiah peningkatan permintaan akhir sektor ini akan meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar 0,11096 juta rupiah pada tahun 2005, sedangkan pada tahun 2010 sebesar 0,11241 rupiah. Sektor yang paling rendah efek pendapatannya adalah sektor 1 (Tanaman Bahan Makanan) sebesar 0,01185 juta rupiah. Terlihat juga bahwa hampir semua sektor mengalami efek pendapatan yang meningkat pada tahun 2010. Hal ini berarti pendapatan rumah tangga di Jawa Barat semakin membaik pada tahun 2010.
Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa sektor 26 (bank dan lembaga keuangan lainnya) mengalami peningkatan angka pengganda pendapatan rumah tangga yang paling besar di perekonomian Jawa Barat, sedangkan untuk peningkatan terendah berada pada sektor 28 (Pemerintah umum dan pertahanan).
Artinya, apabila terjadi perubahan permintaan akhir di sektor bank dan lembaga keuangan lainnya dengan nilai yang sama di sektor lainnya akan menyebabkan pendapatan rumah tangga sektor tersebut paling tinggi di banding sektor yang lain.
4.3 Backward dan Forward Linkage
Tabel 4.14 Nilai Backward dan Forward Linkage
Sektor
Tahun 2005 Tahun 2010
Backward Linkage
Forward Linkage
Backward Linkage
Forward Linkage
1 0.07297 0.43682 0.17330 0.60815
2 0.21466 0.18959 0.22177 0.16331
3 0.32823 0.09963 0.36514 0.10654
4 0.12448 0.27280 0.14618 0.14564
5 0.20115 0.08159 0.21477 0.08159
6 0.23071 1.58723 0.12950 0.74538
7 0.22660 0.37925 0.21262 0.29960
8 0.61874 0.71761 0.77201 0.72990
9 0.56495 0.36405 0.64075 0.66974
10 0.67486 0.32106 0.61625 0.23833
11 0.63691 0.54200 0.62961 0.46767
12 0.58264 0.96039 0.70469 0.97910
13 0.64539 0.85612 0.52539 0.96894
14 0.54981 0.22496 0.55903 0.14091
16 0.57501 0.91909 0.62031 1.18366
17 0.51936 0.06244 0.55066 0.20897
18 0.53570 0.51393 0.61077 0.62051
19 0.46385 0.03654 0.44169 0.32611
20 0.22134 0.01535 0.34980 0.00727
21 0.65330 0.12117 0.68093 0.34026
22 0.28394 0.78848 0.23447 0.95800
23 0.23565 0.16602 0.39223 0.15914
24 0.48116 0.42907 0.50076 1.03830
25 0.26259 0.14197 0.28861 0.10404
26 0.23209 0.53920 0.31734 0.49742
27 0.21371 0.42821 0.20125 0.17744
28 0.35584 0.03291 0.40150 0.02431
29 0.40578 0.25490 0.46158 0.42121
Dengan menggunakan persamaan (2.13) dan (2.14) didapatkan nilai backward dan forward linkage untuk tahun 2005 dan 2010 yang di tampilkan pada Tabel 4.14.
Sebagai contoh, untuk tahun 2005 dan 2010 nilai backward linkage tertinggi adalah sektor 10 dan sektor 16 yaitu sebesar 0,67486 dan 0,77201 atau bisa ditulis 10= 0,67486 dan 8= 0,77201. Hal ini dapat diartikan bahwa akibat kenaikan satu juta rupiah permintaan akhir sektor 10 (industri kayu) akan menyebabkan kenaikan output seluruh sektor sebesar 0,67486 juta rupiah pada tahun 2005, sedangkan kenaikan satu juta rupiah permintaan akhir sektor 8 (Industri Makanan dan Minuman) akan menyebabkan kenaikan output seluruh sektor sebesar 0,77201 juta rupiah pada tahun 2010.
Seperti nilai backward linkage untuk tahun 2005 dan 2010 nilai forward linkage tertinggi terjadi pada sektor 6 dan sektor 16 sebesar 1,58723 dan 1,18366 atau bisa ditulis 6 = 1,58723dan 16= 1,18366 . Hal ini dapat diartikan bahwa akibat kenaikan satu juta rupiah permintaan di seluruh sektor akan menyebabkan kenaikan output sektor 6 (Pertambangan Minyak) sebesar 1,58723 juta rupiah pada tahun 2005, sedangkan kenaikan output sektor 16 (Industri Barang Jadi dari Logam) pada tahun 2010 sebesar 1,18366 juta rupiah.
4.4 Perubahan Struktur Ekonomi (Economic Landscape)
Dengan menggunakan persamaan (2.19) didapatkan nilai MPM Jawa Barat untuk tahun 2005 dan 2010 pada Tabel 4.15 dan 4.16. Tabel selengkapnya ada di lampiran 6 dan lampiran 7. Visualisasi economic landscape digambarkan berdasarkan nilai MPM yang telah diurutkan dari yang terbesar hingga yang terkecil.
Nilai MPM yang telah diurutkan ditampilkan pada Tabel 4.17. Tabel selengkapnya ada di lampiran 8.
Urutan nilai MPM tahun 2005 terbesar terletak pada sel (6;10), yaitu interaksi antara sektor 6 (Pertambangan Minyak dan Gas Bumi) dengan sektor 10 (Industri Kayu). Selanjutnya untuk nilai MPM yang terkecil terletak pada sel (20;1), yaitu interaksi sektor 20 (Air Bersih) dengan sektor 1 (Tanaman Bahan Makanan).
Tabel 4.15 Nilai MPM Tahun 2005
Sektor 1 2 3 4 5 6 . . . 29
1 0.00271 0.00797 0.01218 0.00462 0.00746 0.00856 . . . 0.01506 2 0.00118 0.00346 0.00529 0.00201 0.00324 0.00372 . . . 0.00654 3 0.00062 0.00182 0.00278 0.00105 0.00170 0.00195 . . . 0.00343 4 0.00169 0.00498 0.00761 0.00289 0.00466 0.00535 . . . 0.00940 5 0.00051 0.00149 0.00228 0.00086 0.00139 0.00160 . . . 0.00281 6 0.00984 0.02895 0.04426 0.01679 0.02712 0.03111 . . . 0.05472 7 0.00235 0.00692 0.01058 0.00401 0.00648 0.00743 . . . 0.01307 8 0.00445 0.01309 0.02001 0.00759 0.01226 0.01407 . . . 0.02474 9 0.00226 0.00664 0.01015 0.00385 0.00622 0.00714 . . . 0.01255 10 0.00199 0.00586 0.00895 0.00340 0.00549 0.00629 . . . 0.01107 11 0.00336 0.00988 0.01511 0.00573 0.00926 0.01062 . . . 0.01868 12 0.00595 0.01751 0.02678 0.01016 0.01641 0.01882 . . . 0.03311 13 0.00531 0.01561 0.02387 0.00905 0.01463 0.01678 . . . 0.02951 14 0.00139 0.00410 0.00627 0.00238 0.00384 0.00441 . . . 0.00776 15 0.00179 0.00525 0.00803 0.00305 0.00492 0.00565 . . . 0.00993 16 0.00570 0.01676 0.02563 0.00972 0.01571 0.01802 . . . 0.03168 17 0.00039 0.00114 0.00174 0.00066 0.00107 0.00122 . . . 0.00215 18 0.00319 0.00937 0.01433 0.00544 0.00878 0.01007 . . . 0.01772 19 0.00023 0.00067 0.00102 0.00039 0.00062 0.00072 . . . 0.00126 20 0.00010 0.00028 0.00043 0.00016 0.00026 0.00030 . . . 0.00053 21 0.00075 0.00221 0.00338 0.00128 0.00207 0.00237 . . . 0.00418 22 0.00489 0.01438 0.02199 0.00834 0.01347 0.01546 . . . 0.02718 23 0.00103 0.00303 0.00463 0.00176 0.00284 0.00325 . . . 0.00572 24 0.00266 0.00782 0.01197 0.00454 0.00733 0.00841 . . . 0.01479 25 0.00088 0.00259 0.00396 0.00150 0.00243 0.00278 . . . 0.00489 26 0.00334 0.00983 0.01504 0.00570 0.00921 0.01057 . . . 0.01859 27 0.00265 0.00781 0.01194 0.00453 0.00732 0.00839 . . . 0.01476 28 0.00020 0.00060 0.00092 0.00035 0.00056 0.00065 . . . 0.00113 29 0.00158 0.00465 0.00711 0.00270 0.00436 0.00500 . . . 0.00879
Urutan nilai MPM tahun 2010 terbesar terletak pada sel (16;8), yaitu interaksi antara sektor 16 (Industri Barang Jadi dari Logam) dengan sektor 8 (Industri Makanan dan Minuman). Selanjutnya untuk nilai MPM yang terkecil terletak pada
sel (20;6), yaitu interaksi sektor 20 (Air Bersih) dengan sektor 6 (Pertambangan Minyak dan Gas Bumi).
Tabel 4.16 Nilai MPM Tahun 2010
Sektor 1 2 3 4 5 6 . . . 29
1 0.00831 0.01064 0.01751 0.00701 0.01030 0.00621 . . . 0.02214 2 0.00223 0.00286 0.00470 0.00188 0.00277 0.00167 . . . 0.00594 3 0.00146 0.00186 0.00307 0.00123 0.00180 0.00109 . . . 0.00388 4 0.00199 0.00255 0.00419 0.00168 0.00247 0.00149 . . . 0.00530 5 0.00112 0.00143 0.00235 0.00094 0.00138 0.00083 . . . 0.00297 6 0.01019 0.01304 0.02146 0.00859 0.01262 0.00761 . . . 0.02713 7 0.00409 0.00524 0.00863 0.00345 0.00507 0.00306 . . . 0.01091 8 0.00998 0.01276 0.02102 0.00841 0.01236 0.00745 . . . 0.02657 9 0.00915 0.01171 0.01928 0.00772 0.01134 0.00684 . . . 0.02438 10 0.00326 0.00417 0.00686 0.00275 0.00404 0.00243 . . . 0.00868 11 0.00639 0.00818 0.01347 0.00539 0.00792 0.00478 . . . 0.01702 12 0.01338 0.01712 0.02819 0.01129 0.01658 0.01000 . . . 0.03564 13 0.01324 0.01695 0.02790 0.01117 0.01641 0.00990 . . . 0.03527 14 0.00193 0.00246 0.00406 0.00162 0.00239 0.00144 . . . 0.00513 15 0.00368 0.00471 0.00775 0.00310 0.00456 0.00275 . . . 0.00980 16 0.01618 0.02070 0.03408 0.01365 0.02005 0.01209 . . . 0.04309 17 0.00286 0.00365 0.00602 0.00241 0.00354 0.00213 . . . 0.00761 18 0.00848 0.01085 0.01787 0.00715 0.01051 0.00634 . . . 0.02259 19 0.00446 0.00570 0.00939 0.00376 0.00552 0.00333 . . . 0.01187 20 0.00010 0.00013 0.00021 0.00008 0.00012 0.00007 . . . 0.00026 21 0.00465 0.00595 0.00980 0.00392 0.00576 0.00348 . . . 0.01239 22 0.01309 0.01675 0.02759 0.01104 0.01623 0.00978 . . . 0.03487 23 0.00217 0.00278 0.00458 0.00183 0.00270 0.00163 . . . 0.00579 24 0.01419 0.01816 0.02990 0.01197 0.01759 0.01060 . . . 0.03779 25 0.00142 0.00182 0.00300 0.00120 0.00176 0.00106 . . . 0.00379 26 0.00680 0.00870 0.01432 0.00573 0.00842 0.00508 . . . 0.01811 27 0.00243 0.00310 0.00511 0.00205 0.00301 0.00181 . . . 0.00646 28 0.00033 0.00043 0.00070 0.00028 0.00041 0.00025 . . . 0.00088 29 0.00576 0.00737 0.01213 0.00486 0.00713 0.00430 . . . 0.01533
Tabel 4.17 Urutan Nilai MPM dari yang Terbesar Hingga yang Terkecil
No Tahun 2005 Tahun 2010
Baris Kolom Nilai MPM Baris Kolom Nilai MPM
1 6 10 0.09100 16 8 0.07206
2 6 15 0.08888 16 15 0.06699
3 6 21 0.08810 16 12 0.06578
4 6 13 0.08703 16 21 0.06356
5 6 11 0.08589 24 8 0.06321
6 6 8 0.08344 16 9 0.05981
7 6 12 0.07857 12 8 0.05961
8 6 16 0.07754 13 8 0.05899
. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .
841 20 1 0.00010 20 6 0.00007
Selisih nilai MPM setiap sel ditunjukkan oleh Tabel 4.18, selengkapnya ada pada lampiran 9. Nilai selisih ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang signifikan. Perubahan yang signifikan adalah perubahan yang terjadi terhadap setiap sel, dimana sel tersebut mengalami penurunan atau peningkatan di atas 0,02 pada tahun 2010. Pada tahun 2010 ada 36 sel yang mengalami perubahan yang signifikan.
Penurunan terbesar terjadi pada sel (6;13), sedangkan untuk peningkatan terbesar terjadi pada sel (24;8).
Tabel 4.18 Selisih Nilai MPM Setiap Sel
No Baris Kolom |Selisih| Keputusan Perubahan
1 1 1 0.00560 Tidak Signifikan
2 2 1 0.00106 Tidak Signifikan
3 3 1 0.00084 Tidak Signifikan
4 4 1 0.00030 Tidak Signifikan
5 5 1 0.00061 Tidak Signifikan
6 6 1 0.00035 Tidak Signifikan
7 7 1 0.00174 Tidak Signifikan
8 8 1 0.00553 Tidak Signifikan
. . . . .
. . . . .
. . . . .
841 29 29 0.00654 Tidak Signifikan
Economic Landscape tahun 2005 ditunjukkan oleh Gambar 4.5. Gambar ini
dibuat berdasarkan nilai MPM yang telah diurutkan dari sel yang paling besar (6;10) dengan nilai MPM sebesar 0,09100, sampai yang terkecil (20;1) dengan nilai MPM sebesar 0,00010. Urutan ini mengidentifikasikan urutan besarnya pengaruh total sektor tersebut ke dalam perekonomian.
Gambar 4.6 menunjukkan Economic Landscape perekonomian Jawa Barat tahun 2010 yang disusun berdasarkan urutan tahun 2005. Hal ini dilakukan untuk membuat perbandingan antara kedua periode. Perbedaan tinggi grafik batang dalam setiap sel untuk kedua tahun menunjukkan adanya perubahan keterkaitan struktur dalam perekonomian. Pada grafik ini terlihat telah terjadi perubahan struktur perekonomian Jawa Barat dari tahun 2005 ke 2010, dimana visualisasi economic landscape-nya juga berubah sebagaimana dalam Gambar 4.6, walaupun tidak mengalami perubahan yang drastis.
Sel-sel yang mengalami perubahan negatif signifikan dengan besar penurunan diatas 0,02 ada 18 sel. Penurunan negatif tersebut ditunjukkan pada Tabel 4.19. Sel- sel yang mengalami perubahan negatif tersebut artinya mengalami penurunan tingkat peranan dalam perekonomian dibanding kondisi tahun 2005. Misalkan untuk sel (6;6), hal ini dapat diartikan bahwa interaksi antara sektor 6 (Pertambangan Minyak dan Gas Bumi) dengan dirinya sendiri (interaksi intra sektor) pada tahun 2010 mengalami penurunan peranan dalam perekonomian dibandingkan tahun 2005.
Sementara itu, sel-sel yang mengalami perubahan positif dengan besaran diatas 0,02 ada 18 sel. Perubahan positif tersebut ditunjukkan pada Tabel 4.20.
Tabel 4.19 Selisih MPM tahun 2005 dan 2010 yang turun (lebih dari 0.02)
No No Urut Baris Kolom |Selisih| Keputusan Perubahan
1 151 6 6 -0.02350 Signifikan
2 209 6 8 -0.03806 Signifikan
3 238 6 9 -0.03852 Signifikan
4 267 6 10 -0.05478 Signifikan
5 296 6 11 -0.04888 Signifikan
6 325 6 12 -0.03715 Signifikan
7 354 6 13 -0.05615 Signifikan
8 383 6 14 -0.04128 Signifikan
9 412 6 15 -0.04669 Signifikan
10 441 6 16 -0.04108 Signifikan
11 470 6 17 -0.03767 Signifikan
12 499 6 18 -0.03634 Signifikan
13 528 6 19 -0.03659 Signifikan
14 586 6 21 -0.04807 Signifikan
15 615 6 22 -0.02451 Signifikan
16 673 6 24 -0.03545 Signifikan
17 789 6 28 -0.02438 Signifikan
18 818 6 29 -0.02759 Signifikan
Tabel 4.20 Selisih MPM tahun 2005 dan 2010 yang naik (lebih dari 0.02)
No No Urut Baris Kolom |Selisih| Keputusan Perubahan
1 212 9 8 0.02164 Signifikan
2 219 16 8 0.02375 Signifikan
3 227 24 8 0.04066 Signifikan
4 256 24 9 0.03187 Signifikan
5 285 24 10 0.02586 Signifikan
6 314 24 11 0.02834 Signifikan
7 335 16 12 0.02028 Signifikan
8 343 24 12 0.03646 Signifikan
9 401 24 14 0.02573 Signifikan
10 430 24 15 0.03474 Signifikan
11 459 24 16 0.02983 Signifikan
12 488 24 17 0.02616 Signifikan
13 517 24 18 0.03048 Signifikan
14 575 24 20 0.02057 Signifikan
15 604 24 21 0.03194 Signifikan
16 662 24 23 0.02353 Signifikan
17 691 24 24 0.02346 Signifikan
18 836 24 29 0.02300 Signifikan
Misalkan untuk sel (9;8), hal ini dapat diartikan bahwa interaksi antara sektor 9 (Industri Tekstil) dengan sektor 8 (Industri Makanan dan Minuman) pada tahun 2010 mengalami peningkatan peranan dalam perekonomian dibandingkan tahun 2005.
Dari visualisasi economic landscape, terlihat bahwa tahap pembangunan Jawa Barat antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 telah mengalami perubahan struktur perekonomian dan peranan sektor-sektor ekonomi, walaupun tidak mengalami perubahan drastis.
Sektor 24 (Pengangkutan), sektor 16 (Industri Barang Jadi dari Logam), dan sektor 9 (Industri Tekstil) memacu pertumbuhan perekonomian Jawa Barat ke depan yang meliputi: peningkatan output, pendapatan dan lapangan kerja terhadap sektor lain, maka prioritas pembangunan dan investasi harus diarahkan pada sektor-sektor unggulan tersebut.
Sel-sel yang mengalami perubahan positif tersebut artinya mengalami peningkatan peranan dalam perekonomian dibanding kondisi tahun 2005. Sel-sel yang mengalami peningkatan peranan dalam perekonomian adalah sel-sel yang terkait dengan Sektor 24 (Pengangkutan), sektor 16 (Industri Barang Jadi dari Logam), dan sektor 9 (Industri Tekstil).
Gambar 4.5
6 1216 1322 811 2618 1
24 27 7
Multiplier Baris 9 10
(Forward Linkage)
Gambar 4.5 Economic Landscape Tabel I-O Tahun 2005
10 15 4
29 14 2
21 2523 17 3
5 1928 20
1924 2229 3 2528 2623 76 220 527 1 4
0.00000 0.01000 0.02000 0.03000 0.04000 0.05000 0.06000 0.07000 0.08000 0.09000 0.10000
1510 1321 811 1612 9 1814 2417
19 Multiplier Kolom (Backward Linkage)
Nilai Multiplier
Gambar 4.6
16 24 1213 22 6 8 9
18 126 1129 1921
Multiplier Baris (Forward Linkage)
Gambar 4.6 Economic Landscape Tabel I-O Tahun 2010
21 7 15 1017 2723 2 4
3 1425 5 28 20
2413 2329 319 2028 525 7 2722 226 41 6
0.00000 0.01000 0.02000 0.03000 0.04000 0.05000 0.06000 0.07000
158 2112 119 1016 1418 1317
Multiplier Kolom (Backward Linkage)
Nilai Multiplier
4.4 Analisis Sektor Unggulan
Pada analisis sektor unggulan ini akan menggunakan data pada tabel IO Provinsi Jawa Barat tahun 2010. Berikut ini adalah hasil perhitungannya dan sektor- sektor yang menjadi unggulan diprovinsi Jawa Barat tahun 2010 yang di urutkan berdasarkan nilai Indeks Komposit terbesar sampai terkecil.
Tabel 4.22 Hasil Perhitungan Indeks Komposit Provinsi Jawa Barat Tahun 2010
Sektor KNTB FL BL RIA KSE IK Nama Sektor
16 0.37969 1.18366 0.62031 0.62031 0.35657 63.21092 Industri Barang Jadi dari Logam 12 0.29531 0.97910 0.70469 0.70469 0.02763 54.22828 Industri Kimia
9 0.35925 0.66974 0.64075 0.64075 0.32220 52.65370 Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Kulit dan Alas Kaki
24 0.49924 1.03830 0.50076 0.50076 0.00261 50.83348 Pengangkutan
8 0.22799 0.72990 0.77201 0.77201 0.02378 50.51396 Industri Makanan dan Minuman 13 0.47461 0.96894 0.52539 0.52539 0.00007 49.88807 Pengilangan Minyak Bumi 22 0.76553 0.95800 0.23447 0.23447 0.16429 47.13522 Perdagangan Besar dan Eceran 18 0.38923 0.62051 0.61077 0.61077 0.02667 45.15893 Listrik
11 0.37039 0.46767 0.62961 0.62961 0.01343 42.21411 Industri Kertas dan barang- barang dari kertas 21 0.31907 0.34026 0.68093 0.68093 0.00066 40.43704 Bangunan
15 0.28233 0.26915 0.71767 0.71767 0.00088 39.75400 Industri Logam Dasar 29 0.53842 0.42121 0.46158 0.46158 0.00528 37.76140 Jasa Sosial dan Jasa Lainnya
6 0.87050 0.74538 0.12950 0.12950 0.00002 37.49797 Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
10 0.38375 0.23833 0.61625 0.61625 0.00235 37.13864 Industri Kayu, Bambu, Rotan dan Furniture.
26 0.68266 0.49742 0.31734 0.31734 0.00003 36.29568 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
1 0.82670 0.60815 0.17330 0.17330 0.01575 35.94412 Tanaman Bahan Makanan 19 0.55831 0.32611 0.44169 0.44169 0.00000 35.35593 Gas Kota
17 0.44934 0.20897 0.55066 0.55066 0.00290 35.25060 Industri Pengolahan Lainnya 14 0.44097 0.14091 0.55903 0.55903 0.01462 34.29122 Industri Barang Mineral bukan
Logam
23 0.60777 0.15914 0.39223 0.39223 0.01516 31.33069 Hotel dan Restoran
7 0.78738 0.29960 0.21262 0.21262 0.00042 30.25266 Pertambangan Tapa Migas dan Penggalian
3 0.63486 0.10654 0.36514 0.36514 0.00004 29.43435 Peternakan
28 0.59850 0.02431 0.40150 0.40150 0.00000 28.51615 Pemerintahan Umum dan Pertahanan
25 0.71139 0.10404 0.28861 0.28861 0.00000 27.85323 Komunikasi 2 0.77823 0.16331 0.22177 0.22177 0.00347 27.77092 Perkebunan
27 0.79875 0.17744 0.20125 0.20125 0.00000 27.57403 Usaha Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan
20 0.65020 0.00727 0.34980 0.34980 0.00000 27.14155 Air Bersih 5 0.78523 0.08159 0.21477 0.21477 0.00110 25.94912 Perikanan 4 0.85382 0.14564 0.14618 0.14618 0.00007 25.83781 Kehutanan
Rata-rata Indeks Komposit = 38.18013
Keterangan : KNTB = Koefisien Nilai Tambah Bruto FL = Forward Linkage
BL = Backward Linkage RIA = Rasio Input Antara
KSE = Koefisien Spesialisasi Ekspor IK = Indeks Komposit
Dalam menentukan sektor-sektor ekonomi unggulan harus dihitung nilai Indeks Komposit masing-masing sektor dan dihitung nilai rata-rata dari indeks komposit tersebut. Setelah itu, bandingkan masing-masing indeks komposit dengan rata-ratanya. Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat 11 sektor unggulan di provinsi Jawa Barat berdasarkan nilai indeks komposit yang diatas rata-rata.
Sektor unggulan yang harus jadi prioritas untuk dikembangkan adalah sektor 24 (Pengangkutan), sektor 16 (Industri Barang Jadi dari Logam), dan sektor 9 (Industri Tekstil) karena ketiga sektor tersebut juga merupakan sektor yang memiliki nilai selisih MPM tahun 2005 dan 2010 yang tertinggi pada Economic Landscape.