• Tidak ada hasil yang ditemukan

| 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "| 1"

Copied!
248
0
0

Teks penuh

Undang-undang Nomor 24 Prp Tahun 1960 tanggal 1 Januari 1961 tentang penyidikan, penuntutan, dan penyidikan tindak pidana korupsi (UU Pemberantasan Korupsi). e. Mempertimbangkan permasalahan tersebut, timbullah gagasan untuk membuat undang-undang baru dan lahirlah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Konsep Hukum Tindak Pidana Korupsi

Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memberikan pengertian yang lebih luas, yaitu perbuatan yang merugikan keuangan negara dan menjadikan pejabat publik tidak efektif, efisien, bersih, dan berwibawa15. 13 Djoko Prakoso, Ati Suryati, Upetisme Dilihat dari UU Pemberantasan Korupsi, Bina Aksara, 1986, hal.68.

PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUSPI

PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUSPI

Wewenang Penyidikan Tindak Pidana Korupsi

Undang-undang tentang Penyidikan, Penuntutan, dan Penuntutan Kejahatan Ekonomi (UU Nomor 7 Drt Tahun 1955); Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Nomor 3 Tahun 1971), mencatat bahwa semua ketentuan khusus dalam proses pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang tertentu akan berlaku.

Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana

Dalam tindakan penyidikan, yang dititikberatkan pada tindakan “mencari dan menemukan” suatu peristiwa yang dianggap atau patut diduga merupakan tindak pidana. Dalam penyidikan, penekanannya diberikan pada tindakan “mencari dan mengumpulkan bukti-bukti” agar tindak pidana yang ditemukan juga menjadi jelas.

Wewenang Penyidikan Tindak Pidana Korupsi Oleh Kepolisian Kepolisian

Sedangkan dalam acara pidana khusus tindak pidana korupsi sebagaimana tertuang dalam Bab IV Pasal 25 sampai dengan. “Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan mengenai tindak pidana korupsi dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini.”

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM TINDAK TINDAK

PIDANA KORUPSI

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM TINDAK TINDAK PIDANA KORUPSI

Peran Serta Masyarakat Terhadap Perka Korupsi

Dalam Pasal 10A ayat (2) huruf a UU No. 19 Tahun 2019 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dalam hal pencegahan tindak pidana korupsi juga memerlukan peran serta masyarakat, yaitu: 38. 38 Lihat huruf a ayat (2) Pasal 10A UU No. 19 Tahun 2019 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 197, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 6409.

Penerimaan Laporan Perkara Korupsi

Sebaliknya, apabila tidak diperoleh bukti yang cukup dari tersangka atas dilakukannya tindak pidana korupsi, maka penyidik ​​dapat meminta bank untuk mencabut pemblokiran tersebut. Kemudian dibuat resume, diberikan penutup dan setelah mengikat, berkas perkara tindak pidana korupsi diserahkan kepada penuntut umum.

PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI

PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Pembuktian

Badan peradilan dalam mencari dan menetapkan kebenaran yang akan diberikan dalam putusan harus bersandar pada alat bukti yang ditentukan undang-undang secara “membatasi”, sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHP. Pembuktian dimaksudkan sebagai upaya meyakinkan hakim akan kebenaran suatu dalil, kedudukan, atau dakwaan dengan alat bukti. Hakim dalam mencari dan menemukan kebenaran untuk menjatuhkan putusan dalam perkara pidana di hadapannya, harus bersandar pada alat bukti yang ditentukan undang-undang secara terbatas, sebagaimana ditentukan.

Artinya hakim tidak boleh menyimpang atau menetapkan alat bukti selain yang ditetapkan undang-undang. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak secara spesifik menyebutkan alat bukti yang dapat digunakan dalam pembuktian tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, dalam pembuktian tindak pidana korupsi tetap mengacu pada jenis alat bukti yang ditentukan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, sebagaimana diatur secara tegas dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 pada Pasal 14.

Sistim Pembuktian

Undang-undang Pemberantasan Tipikor yang baru adalah undang-undang nomor 31 tahun 1999, soalnya... sama dengan pasal 7 undang-undang nomor 3 tahun 1971. KUHAP tidak mengatur tentang perlindungan hukum terhadap pelapor saksi, sebagaimana diatur dalam undang-undang nomor 3 tahun 1971. Ketertiban masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam undang-undang ini merupakan upaya yang lebih canggih, dan peran masyarakat juga berfungsi sebagai saksi yang memberikan kesaksian.

Dengan ketentuan Pasal 42 UU No. 10 Tahun 1998 bagi bank, rahasia perbankan dapat dilanggar. UU No. 3 Tahun 1971 sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 ayat (3) izin harus diberikan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal permohonan izin oleh Menteri Keuangan. Permasalahannya adalah batasan waktu pemberian izin antara ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terdapat perbedaan yang cukup besar. .

PERBEDAAN NORMA BATAS WAKTU PEMBERIAN IJIN

BANK

PERBEDAAN NORMA

BATAS WAKTU PEMBERIAN IJIN BANK

Batas Waktu Pemberian Ijin

Basis Lex Posteriori (Lex Posteriori derogat legi Priori), undang-undang yang datang kemudian mengalahkan undang-undang terdahulu. Asas Lex Specialis (Lex Specialis derogat legi Generali), Undang-undang khusus mengatasi undang-undang am; c. Asas Lex Superiori (Lex Superiori derogat legi . enferiori), Undang-undang yang lebih tinggi, mengalahkan undang-undang yang lebih rendah.

Perbedaan batas waktu perizinan antara kedua undang-undang tersebut dapat dikatakan adanya pertentangan norma (antinomi). Dengan demikian, batasan waktu pemberian izin Gubernur Bank Indonesia untuk membongkar rahasia bank mengenai kondisi keuangan nasabah bank yang terlibat kasus korupsi akan mengacu pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Namun demikian, dalam hal peristiwa pidana yang melibatkan tindak pidana korupsi, ketentuan di atas dapat diabaikan sepanjang penggeledahan rumah mutlak diperlukan untuk mencari dan mengumpulkan alat bukti, artinya untuk melakukan penggeledahan rumah tidak diperlukan lagi izin dari pihak yang berwenang. ketua pengadilan negeri, dan berlaku ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 13 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 sebagai berikut:

Pembuktian Menurut Para Ahli

Pengakuan asas praduga tak bersalah juga berlaku dalam tata cara penanganan tindak pidana korupsi. Ayat (1) Hakim dapat memperbolehkan terdakwa menyampaikan keterangan untuk keperluan sidang yang membuktikan dirinya tidak bersalah melakukan tindak pidana korupsi; Dalam perkara demikian, penuntut umum tetap wajib membuktikan bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

Dalam perkara demikian, jaksa penuntut umum tetap harus membuktikan bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Untuk memperkuat landasan hukum dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi yang semakin canggih dan sulit dibuktikan, sangat tepat jika Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 menerapkan sistem pembuktian terbalik. Menurut penulis, sistem pembuktian terbalik yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah sebuah sistem.

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Chairuman, Asas Pembuktian Terbalik dalam Tindak Pidana Korupsi, Makalah Seminar Nasional, Universitas Trisakti, Jakarta, 2001. Mulyadi, Lilik, Tindak Pidana Korupsi (Tinjauan khusus penyidikan, penuntutan, proses peradilan dan upaya hukum menurut undang-undang no. 31 1999), Cet I, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000. Prakoso, Djoko dan Ati Suryati, Penghormatan Mengingat UU Pemberantasan Korupsi, Bina Aksara, Jakarta, 1986.

UU No. 20 Tahun 2001 terkait perubahan undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. UU No. 30 Tahun 2002 tentang perubahan undang-undang no. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002

TENTANG

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing; Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia; Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mempunyai kewenangan kepolisian umum berdasarkan undang-undang.

Penyidik ​​adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. Penyidik ​​adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah: menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat;. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

PENJELASAN ATAS

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UMUM

Sejak berlakunya Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bab -Ketetapan Nomor VII/MPR/2000, Keamanan Dalam Negeri dirumuskan sebagai format tujuan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan secara konsisten dinyatakan dalam rincian tugas pokok, yaitu.

Dalam hal ini, setiap pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia mempunyai kewenangan diskresi, yaitu kewenangan untuk bertindak demi kepentingan umum berdasarkan penilaiannya sendiri. Oleh karena itu, undang-undang ini juga mengatur tentang pengembangan profesi dan kode etik profesi agar perbuatan pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat dipertanggungjawabkan. Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib berpedoman dan menaati ketentuan Undang-undang di atas.

PASALDEMI PASAL Pasal 1

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertanggung jawab kepada Presiden baik dalam fungsi kepolisian yang bersifat preventif maupun represif yudisial. Yang dimaksud dengan “ditetapkan” adalah suatu proses internal di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menentukan jabatan fungsional lain yang dibutuhkan di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kepolisian Negara Republik Indonesia terikat pada ketentuan hukum internasional, baik perjanjian bilateral maupun perjanjian multilateral.

Kewenangan tersebut merupakan kewenangan umum dan kewenangan dalam perkara pidana yang dalam pelaksanaannya harus dibuktikan sendiri oleh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Yang dimaksud dengan “pelatihan bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia” meliputi pemberian, pendidikan, penggunaan, pemeliharaan, dan penghentian pelayanan. Arah kebijakan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden merupakan pedoman bagi penyusunan kebijakan teknis kepolisian yang menjadi kewenangan Kapolri.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2019 TENTANG

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, dan d, perlu membentuk undang-undang tentang perubahan kedua atas undang-undang no. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi; UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4250), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor. 10 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang - UU No. 1 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5698),. Beberapa ketentuan dalam UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4250), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor. 10.

Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5698) diubah sebagai berikut: Tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana yang diatur dalam undang-undang yang mengatur tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Komisi Pemberantasan Tipikor yang selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga negara pada kekuasaan eksekutif yang melaksanakan tugas pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi sesuai dengan undang-undang ini.

Referensi

Dokumen terkait