Hidup Bermakna Ketika Ada Kebenaran
DALAM Amsal 10: 21 dikatakan: Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi. Sebelumnya, pada ayat 11 dikatakan: Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman.
Orang benar dan orang bodoh, merupakan perbandingan yang sangat luar biasa, ketika digambarkan akibat apa yang dihasilkan dari perbuatan mereka. Jika dikatakan “bibir orang benar menggembalakan banyak orang”, maka bibir orang benar identik dengan kebenaran itu, yang selalu menghasilkan kehidupan. Bibir orang benar mendatangkan kehidupan, karena orang mempunyai kehidupan akibat/atau karena kebenaran. Kebenaran menciptakan ketenangan, pengharapan, sehingga kebenaran menghidupkan hidup dan memberi makna, nilai, pada hidup itu. Kebenaran itu menjadi sesuatu yang luar biasa karena ia mengumpulkan orang banyak.
Kebenaran memberikan kehidupan, maka kebenaran itu juga memberikan pengharapan. Kebenaran yang memberikan pengharapan, memberikan nilai-nilai yang tinggi dalam kehidupan. Hidup menjadi bermakna ketika ada kebenaran. Tetapi sebaliknya ketika tidak ada kebenaran, hidup tidak bermakna, karena di sana ada penipuan, kebencian, dan sifat-sifat jelek. Buat apa kita hidup seperti itu? Bukankah mimpi setiap kita hidup dalam ketenangan? Bukankah kita ingin hidup dalam kebahagiaan, pengharapan dan kepastian? Maka mimpi-mimpi itu hanya bisa diwujudkan jikalau ada kebenaran, dan kebenaran menjadi prinsip hidup kita.
Lucunya kita, kita mau hidup bahagia, penuh pengharapan, tetapi tidak mau membangun kebenaran. Bagaimana kita mendapatkan kehidupan atau memberi nilai pada kehidupan itu? Tanpa kebenaran, hidup bukan lagi hidup. Tetapi hidup sudah kehilangan makna dan pengharapannya, sehingga orang pun tidak mau lama-lama hidup karena tiada kebenaran. Kepahitan kepedihan ditimbulkan oleh ketidakbenaran. Tetapi sebaliknya kebenaran memberi kehidupan, pengharapan. Kiranya itulah yang kita bangun dan pertahankan.
Kebenaran didatangkan dan diberikan oleh Tuhan. Segala kebenaran adalah kebenaran Tuhan. Common grace, secara umum Tuhan memberikan kebenaran kepada setiap orang, dalam pengertian memahami apa yang benar. Sekalipun secara keselamatan, Tuhan memberikannya kepada orang yang diperkenan-Nya. Itu ketetapan Tuhan. Kebenaran menjadi satu aturan, patron hidup yang harus kita nikmati dalam kehidupan, kita jalani bersama. Kebenaran itulah yang memberi kita rasa merdeka: merdeka dari rasa takut, merdeka dari rasa tertekan, dan berbagai perasaan yang mematikan keindahan kehidupan.
Kebenaran penting dalam kehidupan, kebenaran yang memberi warna luar biasa itu.
Kebenaran itu memampukan kita melihat masa depan yang jauh di sana tetapi penuh kepastian dalam pengharapan.
Oleh karena itulah kebenaran menjadi kerinduan. Tetapi kebenaran tidak cukup hanya menjadi kerinduan tetapi harus menjadi suatu aktualisasi dalam kehidupan percaya orang-orang Kristen, supaya menaruh pengharapannya kepada Sang Kebenaran itu. Maka kebenaran yang dinyatakan dalam diri-Nya harus diproklamasikan. Jangankan orang benar, ketika orang-orang berdosa pun belajar melakukan kebenaran, hidup menjadi lebih indah.
Itu sebab humanis, di mana manusia sangat dihargai, seringkali menjadi semacam fotokopi dari kekristenan. Karena humanis, pada dirinya tidak salah di dalam semangat untuk
menghargai sesama dan manusia. Kesalahan humanis adalah lepas dari hubungan vertikal dengan Tuhan, karena humanis hanya menyisakan hubungan horizontal dengan sesama.
Tetapi alangkah naifnya, sedih, pahit kalau orang-orang Kristen berbicara tentang kehidupan tetapi hidupnya tidak baik dan tidak lebih dari orang-orang humanis yang tidak menerima dan tidak percaya pada Tuhan tetapi percaya pada kekuatan kemanusiaan.
Bukankah kita seharusnya mempunyai kekuatan ekstra, hidup kita menjadi lebih benar dari orang-orang humanis karena kebenaran yang menghidupkan itu milik kita? Tuhan itu ada di hidup kita?
Bisa diukur
Oleh karena itu ukuran-ukuran kebenaran seperti ini harus bisa diukur dalam kehidupan setiap orang, artinya kelihatan, buahnya, maknanya, dst. Jika kebenaran itu menghidupi hidup maka kebenaran itu memberikan gairah, sehingga tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dalam kebenaran. Tak ada tembok yang terlalu tinggi untuk diloncat. Tidak ada batu yang terlalu keras untuk dipecahkan. Kebenaran memungkinan semua itu terjadi dalam kehidupan. Permusuhan bisa berakhir karena kebenaran sejati dikumandangkan. Gairah hidup akan semakin menguat ketika kebenaran sejati
didemonstrasikan dalam kehidupan. Karena itu kebenaran itu harus menjadi impian setiap kita,dambaan dan cita-cita tertinggi kita.
Tetapi apa yang dihasilkan kebodohan? Kebodohan hanya mendatangkan
malapetaka. Karena orang bodoh, dikatakan, mati karena kurang akal budi. Artinya orang bodoh memang bisa menciptakan malapetaka dalam hidupnya. Bagi orang bodoh, apa pun yang tidak menjadi persoalan, menjadi persoalan. Yang sederhana menjadi rumit. Bukit rubuh karena dia. Apa pun yang dilakukan selalu mendatangkan masalah. Maka dia menciptakan kegelisahan, kepedihan, kekosongan dalam kehidupan. Sehingga orang bisa kehilangan gairah kehidupan itu karena kebodohan. Kebodohan bisa memakan korban, sehingga orang hidup tak lagi merasakan kehidupan. Karena kebodohan telah menciptakan kejengkelan yang tidak berkesudahan, bahkan berwujud menjadi kemarahan dan kerugian yang tak terhitung. Kebodohan selalu memakan korban di mana pun. Di kantor, kebodohan menjadi masalah, perusahaan yang seharusnya untung bisa jadi bangkrut. Di rumah
kebodohan jadi masalah, karena suami-stri yang seharusnya saling mencintai bisa menjadi bodoh saling membenci.
Karena itu, di tengah pergumulan antara benar dan bodoh ini, bagaimana kita memainkan kualitas kekristenan itu harus tampak nyata. Gereja yang bodoh hanya akan menciptakan persoalan di tengah kehidupan ini. Gereja yang bodoh bisa menciptakan malapetaka, tetapi gereja yang benar, bijak, akan memberikan kontribusi-kontribusi utuh dalam kehidupan. (Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)