• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga di Pulau Penyengat Kepulauan Riau: Analisis Sejarah, Rasm, dan Qira`āt

N/A
N/A
Lectus

Academic year: 2023

Membagikan "Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga di Pulau Penyengat Kepulauan Riau: Analisis Sejarah, Rasm, dan Qira`āt"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga di Pulau Penyengat Kepulauan Riau: Analisis Sejarah, Rasm, dan Qira`āt

Wendy Hermawan

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau [email protected]

Afriadi Putra

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau [email protected]

Wilaela

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau [email protected]

Keywords : Manuscripts of Mushaf

al-Quran;

Penyengat Island;

qira`at; rasm;

tekstologi.

Abstract

The Lingga Kingdom is one of the Malay kingdoms that has many historical legacies that are intellectual property. One of them is the large number of al-Qur'an Mushaf manuscripts scattered in this area, especially on Lingga Island and Penyengat Island. This study focused on research on a manuscript found on Penyengat Island with inventory number M. 1 24 and an analysis of the use of rasm and qira`at as the formulation of the problem to be studied. This study was field research used qualitative methods with textological approaches, rasm science, and qira`āt science. Research data obtained from the results of observations, interviews, and documentation obtained during research. The data is reduced and described in detail then drawn a deductive conclusion. Judging from the use of the words hadhf, ziyādah, hamzah, badl, waṣl wa faṣl, and the writing of the qira`āt. This manuscript falls into the category of mushaf with mixed rasm, namely the use of rasm imlā`i and rasm ‘uthmāni simultaneously. Meanwhile, from the aspect of the type of qira`āt used, this manuscript follows the qira`at of Imam Ậṣim al- Kūfi through the narration of Imam Hafṣ.

Kata Kunci : Manuskrip Mushaf Al-Qur’an;

Pulau Penyengat;

qira`at; rasm;

tekstologi.

Abstrak

Kerajaan Lingga merupakan salah satu kerajaan Melayu yang memiliki banyak peninggalan bersejarah yang bersifat kekayaan intelektual. Salah satunya adalah banyaknya manuskrip mushaf al-Qur’an yang tersebar di wilayah ini khususnya di Pulau Lingga dan Pulau Penyengat. Penelitian ini menfokuskan pada sebuah manuskrip yang terdapat di Pulau Penyengat bernomor inventaris M. 1 24 dengan analisis penggunaan rasm dan qira`at sebagai rumusan masalah yang akan dikaji. Penelitian dengan jenis field research ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tekstologi, ilmu rasm dan ilmu qira`at.

Data penelitian didapatkan dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yaang didapatkan selama melakukan penelitian. Data tersebut direduksi dan dideskripsikan secara rinci kemudian ditarik kesimpulan secara deduktif. Ditinjau dari penggunaan lafadz hadhf, ziyādah, hamzah, badl, waṣl wa faṣl dan penulisan qira`āt-nya. Manuskrip ini masuk ke dalam kategori mushaf dengan rasm campuran yakni penggunaan rasm imlā`i dan rasm

‘uthmāni secara bersamaan. Sedangkan dari aspek jenis qira`āt yang digunakan, manuskrip ini mengikuti qira`āt imam ‘Ậṣim al-Kūfi melalui jalur periwayatan imam Hafṣ.

Article History Received : 2023-02-09 Accepted : 2023-06-08 Published : 2023-06-30 MLA Citation

Format Hermawan, W. ., A. Putra, and Wilaela. “Manuskrip Mushaf Al-Qur’an Kerajaan Lingga Di Pulau Penyengat Kepulauan Riau: Analisis Sejarah, Rasm, Dan Qira’`āt”. QOF, vol. 7, no. 1, June 2023, pp.

83-104, doi:10.30762/qof.v7i1.994.

APA Citation

Format Hermawan, W. ., Putra, A., & Wilaela. (2023). Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga di Pulau Penyengat Kepulauan Riau: Analisis Sejarah, Rasm, dan Qira’`āt. QOF, 7(1), 83–104.

https://doi.org/10.30762/qof.v7i1.994

(2)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

Pendahuluan

Tradisi penulisan Al-Qur’an telah berlangsung sejak zaman Rasulullah Saw. Pada zaman itu, ketika suatu ayat diturunkan Allah Swt. maka Rasulullah akan memanggil para penulis wahyu untuk menuliskan ayat-ayat tersebut di benda apa saja yang dapat digunakan untuk menuliskannya, seperti: pelepah kurma, potongan kayu, sobekann kain, kepingan batu, lembaran kulit binatang yang telah disamak ataupun tulang belulang.1 Semua catatan tersebut masih berupa lembaran-lembaran manuskrip yang belum dikodifikasikan menjadi sebuah mushaf al-Qur’an. Di zaman Abu Bakar As-Shiddiq, al-Qur’an mulai dikodifikasikan menjadi satu mushaf. Hal ini dikarenakan banyak para penghafal al-Qur’an yang meninggal akibat perang Yamamah.2 Sedangkan di zaman Utsman, barulah al-Qur’an dikodifikasikan secara terstruktur. Hasil kodifikasi inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Uthmānī.3

Sejak saat itu, tradisi penulisan al-Qur’an semakin marak dilakukan dan semakin luas penyebarannya beriringan dengan penyebaran agama Islam hingga kemudian sampai ke Bumi Nusantara. Perkembangan Islam di Bumi Nusantara didukung oleh karya-karya bersejarah yang telah ditulis dan disalin oleh para ulama Nusantara. Karya-karya tersebut kemudian menjadi kontribusi monumental yang signifikan terhadap perkembangan ajaran Islam pada umat Islam di Nusantara.4 Salah satu karya monumental para ulama dalam mengimbangi perkembangan agama Islam di Nusantara adalah dengan melakukan penyalinan terhadap naskah al-Qur’an.5 Penyalinan manuskrip mushaf al-Qur’an di Nusantara secara tradisional telah bermula sejak zaman kerajaan Samudera Pasai, ujung utara pulau Sumatera yakni sekitar abad ke-XIII M. Penulisan tersebut berlangsung hingga akhir abad ke-XIX M yang berpusat di berbagai kota penting bagi masyarakat Islam kala itu seperti Aceh, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta dan sebagainya.6 Hingga kini, warisan manuskrip mushaf Al-Qur’an tersebut tersimpan di berbagai tempat seperti museum, kolektor, perpustakaan, pondok pesantren dan masjid. Terdapat ratusan bahkan ribuan manuskrip yang tersebar di seluruh Nusantara.7

Usaha penyalinan manuskrip mushaf Al-Qur’an juga dilakukan oleh para ulama yang berada di Kerajaan Lingga. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan beberapa manuskrip yang

1 Qona’ah Dwi Hastuti dan Moh. Abdul Kholiq Hasan, “Manuskrip Mushaf Al-Qur’an Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim: Kajian Pemakaian Rasm Dan Qira`at,” Profetika: Jurnal Studi Islam 21, no. 1 (6 Juni 2020): 57.

DOI: https://doi.org/10.23917/profetika.v21i1.11060.

2 Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam (Depok: PT. Raja Grafindo Persada, 2018), 53.

3 Aspandi dan Muhammad Sarkoni, “Menelaah Ulang Kodifikasi Struktur Ayat dan Surah Al-Qur’an Rasm Uthmani,” KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin 12, no. 1 (1 Februari 2022): 101.

4 Moch. Lukluil Maknun, Muhammad Aji Nugroho, dan Yuyun Libriyanti, “Kontribusi Ulama Nusantara Terhadap Keilmuan Islam di Indonesia; Studi Kasus Inventarisasi Manuskrip Ponspes Tremas dan Tebuireng,”

Jurnal Muslim Heritage 7, no. 1 (Juni 2022): 113.

5 Hastuti dan Hasan, “Manuskrip Mushaf Al-Qur’an Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim (Kajian Pemakaian Rasm Dan Qira`at),” 57.

6 Lenni Lestari, ‘Mushaf al-Quran Nusantara Perpaduan Islam dan Budaya Lokal’, Jurnal At-Tibyan1, No. 1, (Januari-Juni 2016), 175.

7 Ahmad Syari’in dan Jamaluddin, “Manuskrip Al-Qur’an di Masjid Agung Jamik Singaraja Bali: Kajian Filologi Al-Qur’an,” Alif Lam: Journal of Islamic Studies and Humanities 2, no. 2 (Juli 2021): 218.

(3)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

tersebar di wilayah Kepulauan Riau khususnya di Pulau Penyengat dan Pulau Lingga.8 Sebagaimana yang disebutkan oleh Khairunnas Jamal dan Idris Harun, Kerajaan Lingga merupakan salah satu kerajaan Melayu yang memiliki kekayaan intelektual yang bersifat karya tulis. Hal ini dikarenakan hidupnya suasana keilmuan di tengah masyarakat yang kemudian ditopang dengan ketersediaan fasilitas yang dimiliki oleh kerajaan salah satunya adalah percetakan. Tidak hanya itu, masyarakat kerajaan ini pun saling berlomba untuk menulis berbagai buku dengan berbagai bidang keilmuan khususnya agama Islam seperti manuskrip mushaf al-Qur’an.9

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2017, setidaknya terdapat sembilan buah manuskrip mushaf Al-Qur’an yang terdapat di Pulau Lingga. Kesembilan manuskrip mushaf al-Qur’an tersebut disimpan di dalam Museum Linggam Cahaya.10 Dua tahun setelah itu yakni pada tahun 2019, Dian Rahmawati mengatakan masih ada satu buah lagi manuskrip mushaf al-Qur’an yang terdapat di pulau tersebut. Namun, bukan menjadi koleksi Museum Linggam Cahaya melainkan berada di tangan warga yang merupakan ahli waris yang bernama Maharani.11 Tidak hanya di Pulau Lingga, terdapat juga manuskrip mushaf Al-Qur’an di Pulau Penyengat yakni sebuah pulau yang pernah menjadi pusat Kerajaan Lingga. Di Pulau Penyengat ini, terdapat tujuh buah manuskrip mushaf al-Qur’an. Lima di antaranya berada di dalam lemari penyimpanan Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat dan dua di antaranya berada di Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu Pulau Penyengat.12

Penelitian terhadap karakteristik manuskrip mushaf al-Qur’an, rasm dan qira`at bukanlah suatu penelitian yang baru melainkan telah banyak penelitian-penelitian yang serupa seperti penelitian yang dilakukan oleh Elsa Mulazimah,13 Iskandar Mansibul A’la,14 Ahmad Syari’in dan Jamaluddin,15 Isyroqotun Nashoiha,16 dan Jajang A. Rohmana.17 Namun, penelitian dengan metode analisis rasm dan qira`at ini akan mendatangkan hasil yang berbeda jika objek penelitian atau manuskripnya berbeda. Setiap manuskrip mushaf Al- Qur’an memiliki ciri-ciri tersendiri walaupun subjek penelitiannya sama.

8Dian Rahmawati, “Manuskrip Al-Quran Pulau Penyengat Sebagai Khazanah Mushaf Al-Quran di Kepulauan Riau,” Jurnal Perada 3, no. 1 (23 Juni 2020): 3–4.

9 Khairunnas Jamal dan Idris Harun, “Inventarisasi Naskah Klasik Kerajaan Lingga,” Sosial Budaya : Media Komunikasi Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya 11, no. 1 (Juni 2014): 60.

10 Kementerian Agama Republik Indonesia, Mushaf Kuno Nusantara Pulau Sumatera (Jakarta: LPMQ, 2017), 91–

100.

11 Dian Rahmawati, Manuskrip Al-Qur’an Pulau Penyengat Sebagai Khazanah Mushaf Al-Qur’an di Kepulauan Riau (Bintan: STAIN Sultan Abdurrahman Press, 2019), 3–4.

12 Rahmawati, “Manuskrip Al-Quran Pulau...,,” 54–64.

13 Elsa Mulazimah, "Telaah Rasm Utsmani Dalam Manuskrip Mushaf Al-Quran Koleksi Jamal Nasuhi", (Skripsi, UIN Sunan Ampel, 2020).pdf,” t.t.

14Iskandar Mansibul A’la, “Manuskrip Mushaf Al-Qur’an Koleksi Ponpes Al-Yasir Jekulo: Kajian Kodikologi, Rasm dan Qirā`at,” AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur’an 5, no. 2 (15 Agustus 2019): 1–28.

15Syari’in dan Jamaluddin, “Manuskrip Al-Qur’an di Masjid Agung Jamik Singaraja Bali: Kajian Filologi Al- Qur’an.”

16Isyroqotun Nashoiha, “Karakteristik Mushaf Kuno Nusantara: Analisis Bentuk, Konsistensi dan Relevansi Dhabt al-Mushaf Lamongan Jawa Timur” (Tesis, Jakarta, Institut Ilmu Al-Qur’an, 2021).

17 Jajang A. Rohmana, “Empat Manuskrip Alquran di Subang Jawa Barat (Studi Kodikologi Manuskrip Alquran),”

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 3, no. 1 (30 Juni 2018): 1–16.

(4)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

Begitu pula dengan penelitian ini, objek yang dikaji adalah manuskrip mushaf al-Quran yang berada di wilayah Kerajaan Lingga yang pasti akan memunculkan perbedaan hasil dengan penelitian-penelitian yang telah disebutkan sebelumnya. Begitu pula dengan penelitian yang membahas tentang manuskrip mushaf Al-Qur’an di Kerajaan Lingga atau Kepulauan Riau yang berpusat di dua pulau yakni Pulau Lingga dan Pulau Penyengat.

Setidaknya terdapat tiga penelitian yakni oleh Kementerian Agama,18 Dian Rahmawati,19 dan Khairunnas Jamal.20 Untuk manuskrip yang terdapat di Pulau Lingga telah ada penelitian yang membahas mengenai rasm dan qira`atnya yakni penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Agama. Sedangkan untuk manuskrip di Pulau Penyengat, Dian Rahmawati hanya membahas aspek kodikologi semata. Karena itulah, tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah mengisi kekosongan pembahasan terhadap penelitian sebelumnya.

Penelitian ini fokus kepada sebuah manuskrip al-Qur’an yang terdapat di Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat dengan nomor inventaris M. 1 24. Hal ini dikarenakan di antara beberapa manuskrip al-Qur’an yang terdapat di masjid ini, hanya manuskrip inilah yang dapat diakses secara rinci. Manuskrip yang lainnya telah mengalami pelapukan sehingga sulit untuk diakses oleh para peneliti. Terdapat dua permasalahan yang akan dikaji yakni aspek rasm dan aspek qira`at-nya. Masalah tersebut akan dijawab dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif sehingga hasil penelitian tampak jelas. Harapannya penelitian ini dapat menjadi salah satu bagian untuk melengkapi khazanah keilmuan terhadap manuskrip mushaf al-Qur’an di Kerajaan Lingga atau Kepulauan Riau.

Sekilas tentang Kerajaan Lingga dan Pulau Penyengat

Lingga adalah nama sebuah kabupaten yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten ini beribu kota di sebuah tempat yang bernama Daik. Nama kedua tempat ini kemudian menjadi satu kesatuan sehingga sekarang lebih dikenal dengan nama Daik Lingga. Lingga merupakan salah satu tempat yang dituju oleh Laksmana Muhammad Ceng Ho. Olehnya pulau ini diberi nama dengan istilah Pintu Gigi Naga. Hal ini dikarenakan terdapat dua gunung yang saling berhadapan yang berbentuk seperti gigi naga.21 Pada abad ke-XIX M di wilayah ini berdiri suatu kerajaan Melayu yang cukup besar yakni Kerajaan Lingga. Sejarah kerajaan Lingga ini tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga. Keempat wilayah ini merupakan satu kesatuan kesultanan diraja yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah.

Pusat kerajaan ini mengalami perpindahan hingga beberapa kali hingga pada tahun 1900 M, pusat kerajaan dipindahkan ke Pulau Penyengat,22

Pulau Penyengat merupakan sebuah pulau yang terletak persis di depan Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau. Luasnya yang tidak sampai 2 km membuat Pulau Penyengat bisa dijelajahi hanya dengan berjalan kaki saja. Kendati mungil, Kerajaan Melayu Riau-

18 Kementerian Agama Republik Indonesia, Mushaf Kuno Nusantara...,91-100.

19 Rahmawati, “Manuskrip Al-Quran Pulau...,56-64.

20 Jamal dan Harun, “Inventarisasi Naskah Klasik..., 55-69.

21 Jamal dan Harun, “Inventarisasi Naskah Klasik...,.” 58.

22 Rahmawati, Manuskrip Al-Qur’an Pulau..., 41.

(5)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

Lingga pernah membangun ibu kota di sini.23 Jika kita berangkat dari Kota Batam, pulau ini hanya berjarak sejauh 35 km. Pulau ini memiliki letak geografis yang sangat strategis dikarenakan ia berseberangan langsung dengan negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Letak geografis seperti ini merupakan salah satu aspek yang sangat mendukung potensi dunia pariwisata untuk melakukan pengembangan dan pemberdayaan secara professional. Hal tersebut juga dikarenakan, Pulau Penyengat ini memiliki rantaian sejarah yang sangat panjang khususnya terkait hubungannya dengan kedua negara tersebut di masa lalu yang tak terpisahkan antara Riau Lingga, Johor di Malaysia dan Singapura. Seperti yang diketahui bahwa ketiga wilayah ini pernah berada di bawah satu imperium yakni Kerajaan Melayu Riau Lingga.24 Menurut catatan sejarah pulau itu menjadi satu-satunya pulau di dunia yang digunakan sebagai emas kawin (mahar) suatu pernikahan agung Sultan Mahmud Riayat Syah,Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga (1761—1812) dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah.25

Kawasan Pulau Penyengat memiliki karakteristik tersendiri seperti lokasinya yang terpisah, adat istiadat masyarakatnya yang masih dipegang teguh, warisan pusaka (heritage) yang telah berusia ratusan tahun dan cerita-cerita masyarakat serta peninggalan lainnya yang mendorong keingintahuan orang terhadap Pulau Penyengat. Semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan menandakan bahwa kawasan Pulau Penyengat memiliki karakteristik yang memikat dan menjadi perhatian banyak orang.26 Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal dengan nama ”pompong” yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.27 Sejarah Manuskrip Mushaf al-Qur’an M. 1 24

Keberadaan manuskrip mushaf Al-

Qur’an yang terdapat di dalam Masjid Raya

Sultan Riau Pulau Penyengat ini memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari sejarah kerajaan Riau- Lingga. Menurut Syafarullah, pada pertengahan abad ke-XIX M, kerajaan

mengirim Abdurrahman untuk belajar ilmu

agama Islam di Mesir. Sekembalinya Abdurrahman ke Pulau Penyengat ia

23 Irwan Irwan, Ute Lies Khadijah, dan Rusdin Tahir, “Memperkenalkan Pariwisata Budaya dan Heritage Kepada Generasi Muda Melalui Virtual Tour ke Pulau Penyengat,” Sosial Budaya 17, no. 2 (31 Desember 2020): 136.

24 Supriyanto, “Analisis Dampak Cagar Budaya Pulau Penyengat,” SIGMA TEKNIKA 5, no. 1 (29 Juni 2022): 194.

25 Abdul Malik, Warisan Kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat Inderasakti (Johor: Jawatankuasa Kemajuan Luar Bandar dan Wilayah, Kesenian, Kebudayaan, dan Warisan Negeri Johor, 2009), 2.

26 Ismadianto, Syafri Harto, dan Tito Handoko, “Model Komunikasi Pemerintahan Kota Tanjung Pinang Dalam Pengembangan Wisata Pulau Penyengat Kepulauan Riau,” Nakhoda: Jurnal Ilmu Pemerintahan 18, no. 1 (Juni 2019): 22.

27 Rahmawati, Manuskrip Al-Qur’an Pulau..., 50.

Gambar 1. Sejarah keberadaan Manuskrip M.

1 24

(6)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

mengabdikan dirinya ke kerajaan dan menjadi guru ngaji. Abdurrahman juga aktif menulis dan salah satunya adalah manuskrip mushaf Al-Qur’an ini. Abdurrahman identik menggunakan khaṭ yang bergaya Istambul sehingga ia dikenal dengan julukan Abdurrahman Stambul. Manuskrip ini disalin sama persis kepada manuskrip yang memang sudah ada di dalam Masjid Sultan seperti manuskrip al-Qur’an yang dibawa oleh Raja Haji Fisabilillah sekembalinya ia dari penyerbuan terhadap Negeri Kedah. Kesamaan ini meliputi hampir semua aspek kecuali iluminasi yang terdapat antar keduanya. Manuskrip mushaf Al-Qur’an ini selesai ditulis pada tahun 1867.28

Karakteristik Manuskrip Mushaf Al-Qur’an M. 1 24

Manuskrip mushaf al-Qur’an koleksi Masjid Raya Sultan Pulau Penyengat dengan nomor inventaris M. 1 24 ini merupakan salah satu peninggalan sejarah kebudayaan kerajaan Melayu Lingga yang masih bertahan hingga kini dengan kondisi yang cukup baik. Manuskrip ini diletakkan di depan pintu masuk utama masjid. Hal ini menyebabkan manuskrip ini mudah untuk diakses oleh seluruh wisatawan yang datang berkunjung ke Masjid Raya Sultan.

Manuskrip ini ditulis di atas kertas eropa dengan watermark propatria dan countermark berbentuk huruf IV. Jenis cap tandingan seperti ini diperkirakan terdapat pada kertas yang diproduksi pada tahun 1736 hingga 1812 M.29 Secara garis besar, manuskrip ini masih berada dalam kondisi lengkap 30 juz. Namun untuk halaman pertama sampai keempat, terdapat beberapa koyak akibat dimakan waktu, namun telah disempurnakan kembali ketika manuskrip ini dijilid ulang di Singapura.

Manuskrip ini berukuran panjang 40 cm lebar 25 cm dan tebal 7 cm. Terdiri dari 301 halaman dengan tiap halamannya memuat lima belas baris ayat Al-Qur’an. Sistem penulisan ayat-ayat al-Qur’an di dalam manuskrip ini menggunakan ayat pojok yakni akhir suatu ayat berada di akhir halaman sedangkan halaman berikutnya dimulai dengan ayat yang baru pula.

Terdapat rubrikasi30 yang berwarna merah untuk memberikan tanda awal setiap surah dan rubrikasi lingkaran berwarna kuning untuk tanda akhir ayat. Sedangkan untuk awal juz dan tanda pertengahan al-Qur’an (فصن) menggunakan lingkaran besar dengan

hiasan indah yang

mengelilinginya.Selain rubrikasi merah yang berfungsi untuk penamaan setiap

28 R. Mohd. Syafarullah, wawancara oleh Wendy Hermawan, Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Rabu Tanggal 23 November 2022.

29 W.A Churchill, Watermark in Paper in Holland, England, France, etc., in the XVII and XVIII Centuries and Their Interconnection (Amsterdam: Menho Hertzberger, 1965), 22.

30 Rubrikasi adalah tulisan tangan dengan menggunakan tinta merah atau warna selain itu yang terdapat pada suatu kata, afiks, atau kalimat. Lihat: “Tio Cahya Sadewa, ‘Rubrikasi Dalam Naskah Sěrat Rama (Pb A.243L291) Koleksi Perpustakaan Museum Sonobudoyo Yogyakarta’, Jurnal Jumantara 10, no. 2, (2019), 226.

Gambar 2. Tanda فصن

(7)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

surah di dalam manuskrip ini, kita juga bisa melihat goresan-goresan kecil yang berwarna merah yang terdapat di atas naskah utama. Berdasarkan pengamatan dan analisis yang telah dilakukan, disimpulkanlah bahwa goresan-goresan merah tersebut bertujuan untuk memberikan tanda hukum tajwid yang terdapat di lafadz-lafadz ayat tersebut. Terdapat huruf

خ yang menandakan bacaan ikhfa, huruf غ yang menandakan idgham, huruf ظ yang

menandakan iẓhar, huruf ب menandakan iqlab, huruf صق yang menandakan bacaan qaṣr, huruf ـك dan ت sebagai tanda waqaf baik di akhir ayat atau di tengah-tengah ayat, تكس sebagai penanda saktah, serta goresan maad yang panjang sebagai penanda mad wājib dan mad jā`iz.

Sedangkan untuk shakal yang bertujuan untuk i’rab lafadz-lafadz yang terdapat di dalam ayat mushaf, penulis menggunakan tanda ( ْ ) untuk sukun, ( َ ) untuk fatḥah, ( ) untuk kasrah, ( ) untuk ḍammah, ( ً ) untuk fatḥatayn, dan ( ٍ ) untuk kasratain. Untuk ḍammatain pula penulis manuskrip ini menggunakan syakal seperti huruf 6.

Hal indah yang terdapat di dalam manuskrip ini adalah terdapat iluminasi yang terdapat di bagian awal manuskrip (halaman QS. Al-Fatihah dan awal QS. al-Baqarah), dan di tengah manuskrip (QS. al-Isrā’). Iluminasi yang terdapat di kedua tempat ini merupakan iluminasi penuh yang mengelilingi teks ayat.

Sedangkan tiga buah iluminasi lainnya yang terdapat di awal juz 4, awal juz 30 dan akhir juz 30 merupakan iluminasi kepala yang tak kalah indahnya dan juga menggunakan sepuhan tinta emas.

Gaya iluminasi yang dipakai di dalam manuskrip ini cenderung mengakar kepada gaya iluminasi Semenanjung Melayu Pantai Timur yakni iluminasi bercorak flora yang indah, teliti, mewah, dan kaya dengan sepuhan tinta emasnya. Kemewahan yang terdapat dalam iluminasi manuskrip mushaf al-

Qur’an ini disebabkan karena ia ditulis di lingkungan kerajaan ataupun lingkungan para elit. Hal ini berbeda dengan manuskrip al-Qur’an yang ditulis di lingkungan pesantren yang terkesan lebih sederhana bahkan tanpa iluminasi karena tujuannya adalah untuk dipakai sehari-hari.

Perbedaan kentara yang bisa kita ketahui hanya dengan melihat manuskrip mushaf al- Qur’an ini adalah terdapat perbedaan penulisan jumlah ayat dan nama surah. Berdasarkan penelitian singkat yang dilakukan, di akhir juz 30 terdapat perbedaan jumlah ayat untuk surah al-Ikhlash. Dalam manuskrip tersebut dikatakan bahwa surah al-Ikhlash memuat tiga ayat sedangkan yang masyhur kita ketahui ialah berjumlah empat ayat. Begitu pula dengan penamaan surah al-Lahab atau al-Masad yang di dalam manuskrip ini dinamakan dengan nama Surah Tabbat. Hal tersebut hanya merupakan sampel yang didapat selama melakukan

Gambar 3. Iluminasi di Awal Juz 15

(8)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

penelitian dan kemungkinan besar terdapat perbedaan jumlah ayat dan perbedaan penamaan surah di tempat yang lainnya. Perbedaan yang lainnya adalah ketika penulisan huruf dzal (ذ), di dalam manuskrip mushaf tersebut huruf dzal dibuat dengan titik yang berada di depan huruf bukan di atas seperti yang biasa kita lihat sekarang ini di mushaf-mushaf al-Qur’an. Hal ini merupakan hal yang lumrah dan banyak kita jumpai di manuskrip-manuskrip mushaf al- Qur’an yang lainnya. Selanjutnya adalah penulisan harakat kasrah yang bertemu dengan huruf ya sukun ( ْي), maka harakat kasrah tersebut ditulis berdiri yang berada di bawah huruf sebelum ya sukun tersebut. Selain itu setiap penulisan alif maqsūrah (ى) ditulis dengan menggunakan titik dua seperti penulisan huruf ya’ dan hal ini terdapat di seluruh halaman manuskrip ini.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan eksistensi manuskrip ini, di antaranya pihak yang berkuasa pernah mengirimkan manuskrip mushaf al-Qur’an ini ke Singapura untuk dilakukan penjilidan ulang. Sampul depan yang berwarna merah yang ada sekarang merupakan hasil dari penjilidan ulang yang dilakukan tersebut. Namun sayang, diperkirakan saat penjilidan ulang, ada proses pemotongan kertas yang menyebabkan iluminasi terdapat di dalam manuskrip mushaf al-Qur’an ini tampak terpotong. Selain melakukan penjilidan ulang, pihak yang berkuasa bekerja sama dengan pemerintah membuat suatu terobosan yakni dengan meletakkan manuskrip mushaf al-Qur’an ini ke dalam peti kaca yang telah dilapisi dengan sinar anti-UV. Hal ini bertujuan untuk menghindari pelapukan terhadap kertas manuskrip apalagi mengingat manuskrip inilah yang tersisa dengan kondisi yang bagus dibandingkan manuskrip yang lainnya. Selain itu, manuskrip ini termasuk ke dalam Cagar Budaya Tidak Bergerak yang dilindungi Undang- Undang. Akibatnya ia mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah.31 Namun demikian, harapan dari pengurus masjid selaku pemelihara dan penanggungjawab manuskrip ini kepada pemerintah adalah agar memperbarui pola pemeliharaan tersebut.

Sebagaimana yang disampaikan oleh R. Mohd Syafarullah, ia berharap kelak manuskrip ini mendapatkan tempat penyimpanan yang lebih modern seperti dry cabinet atau semisalnya.

Hal ini bertujuan agar eksistensi manuskrip mushaf al-Qur’an yang menjadi salah satu kekayaan intelektual di Provinsi Kepulauan Riau ini tetap terjaga bentuknya walaupun berganti masa.32

Penggunaan Rasm dalam Manuskrip Mushaf al-Qur’an M. 1 24

Untuk menganalisis penggunaan rasm yang dipakai dalam manuskrip mushaf Al-Qur’an koleksi Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat ini, maka diperlukanlah dasar atau landasannya. Untuk itu, dipakailah kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh Imam Jalaluddin as- Suyuthi dalam kitabnya al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān sebagai landasan atau dasar mengambil

31 R. Mohd. Syafarullah, wawancara oleh Wendy Hermawan, Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Rabu Tanggal 23 November 2022.

32 R. Mohd. Syafarullah, wawancara oleh Wendy Hermawan, Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Rabu Tanggal 23 November 2022.

(9)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

kesimpulan dengan cara melalukan pencocokan kaidah tersebut dengan rasm yang terdapat di dalam manuskrip mushaf al-Qur’an ini. Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah:33

a. Hadhf

Menurut al-Jahiz, Hadhf ialah menggugurkan sebagian unsur dalam teks karena adanya hal tertentu yang menjadi tujuan yang disertai dengan adanya alasan dan bukti atas sesuatu yang terbuang (mahdhuf) tersebut.34 Hadhf bermakna membuang seluruh atau sebagian dari suatu lafadz atau kalam karena adanya suatu dalil, petunjuk, atau indikasi yang melandasi.35 Hadhf juga bermakna menghilangkan atau membuang suatu huruf yang terdapat di dalam lafaz ayat al-Qur’an yang ditulis dengan mengikuti kaidah rasm uthmānī. Maksudnya adalah membuang sebuah huruf dari teks ayat yang seharusnya ada di dalam rasm imlā`i. Huruf-huruf yang dihilangkan atau dibuang dalam rasm uthmānī adalah huruf alif )ا(, wawu )و(, nun )ن(, ya’

)ي(, dan lam )ل(.36 Berdasarkan pada pernyataan tersebut, di bawah ini dicantumkan tabel

sampel lafaz yang digunakan di dalam manuskrip mushaf al-Qur’an dengan nomor inventaris M. 1 24 khususnya yang berkaitan dengan kaidah Hadhf atau menghilangkan huruf yang terdapat dalam susunan lafaz ayatnya. Hasil inventarisasi tersebut kemudian dianalisis sehingga diketahui jenis rasm manakah yang dominan digunakan dalam manuskrip ini. Lafadz tersebut adalah:

No Lafadz Surah: Ayat Jenis Rasm Keterangan Kaidah

1 QS. Al-Fatihah: 4 Imlā`i HadHf huruf ا setelah huruf م

2 QS. Al-Fatihah: 6 Imlā`i

Hadhf huruf ا setelah huruf ر

3 QS. Al-Isra`: 6 Imlā`i Hadhf huruf ا setelah huruf ن karena

bertemu dengan ḍamir

4 QS. Al-Isra`: 8 Imlā`i Hadhf huruf ا setelah huruf ك (jamak

mudhakkar sālim)

5 QS. Al-Kahfi: 2 Imlā`i Hadhf huruf ا setelah huruf ص dan ح

(jama’ mu`annath sālim)

6 QS. Al-Kahfi: 14 Imlā`i Hadhf huruf ا setelah huruf ص dan ح

(jama’ taksīr)

7 QS. Al-Kahfi: 15 ‘Uthmānī Hadhf huruf ا setelah ـه tanbīh

8 QS. Al-Kahfi: 25 ‘Uthmānī Hadhf huruf ا setelah ل (bilangan)

9 QS. Al-Kahfi: 86 Imlā`i

Hadhf huruf ا setelah ي nidā`

10 QS. Al-Isra`: 11 Imlā`i

Hadhf huruf و setelah huruf ع (mufrad)

33 Jalaluddin as-Suyuṭī, al-Itqān fī 'Ulūm al-Qur’ān (Kairo: Dār al-Alamiyyah, 2017), 657–665.

34 Fakhrun Djola dkk., “The Phenomenon of al-Hazf in the Qur’an: An Analysis of the Rasm Rule in Surah Ali- Imran,” Journal of Foreign Language 1, no. 1 (April 2022): 22–23.

35 Djola dkk., “The Phenomenon of al-Hazf in the Qur’an: 22–23.

36 Ahmad Sarwat, Karakteristik Rasm Utsmani (Kuningan: Rumah Fiqh Publishing, t.t.), 9.

(10)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

11 QS. Al-Isra`: 36 ‘Uthmānī Hadhf huruf و setelah huruf س

12 QS. Al-Isra`: 83 Imlā`i

Hadhf huruf و setelah huruf ؤ

13 QS. Al-Isra`: 55 Imlā`i Hadhf huruf ي setelah huruf ي

(bertemunya dua ي)

14 QS. Al-Isra`: 62 ‘Uthmānī Hadhf huruf ي setelah huruf ن (Hadhf ي mutakallim)

15 QS. Al-Isra`: 12 Imlā`i Hadhf huruf ل setelah huruf ل

(bertemunya dua ل)

b. Ziyādah

Ziyādah bermakna menambah huruf-huruf tertentu pada lafazh yang tertentu pula di dalam al-Qur’an mengikuti kaidah penulisan rasm uthmānī. Huruf tersebut ditulis tetapi tidak dibaca pada semua keadaan. Dalam penulisan mushaf-mushaf rasm ‘uthmānī. Di antara huruf yang dapat berperan sebagai huruf ziyādah ialah huruf alif (ا) huruf waw (و) dan huruf ya (ي).37 Berdasarkan penelitian dan hasil analisis yang telah dilakukan, terdapat perbedaan yang cukup jelas terhadap penulisan antara ziyādah huruf manuskrip mushaf al-Qur’an dengan nomor inventaris M. 1 24 ini dengan pola penulisan ziyādah huruf yang terdapat di dalam mushaf yang mengikuti kaidah penulisan rasm ‘uthmānī. Perbedaan tersebut bisa dilihat di dalam tabel berikut ini:

No Lafadz Surah: Ayat Jenis Rasm Keterangan Kaidah

1 QS. Al-Isra`:57 ‘Uthmānī Ziyādah و setelah huruf ا

2 QS. Al-Isra`: 107 ‘Uthmānī Ziyādah ا setelah huruf و (jamak)

3 QS. Al-Kahfi: 20 ‘Uthmānī Ziyādah ا setelah huruf و (jamak)

5 QS. Al-Kahfi: 23 Imlā`i Ziyādah ا setelah huruf ش

6 QS. Al-Kahfi: 25 ‘Uthmānī Ziyādah ا setelah huruf م

7 QS. Al-Kahfi: 83 Imlā`i Ziyādah ا setelah huruf و

8 QS. Al-Kahfi: 14 Imlā`i Ziyādah ا setelah huruf و

c. Hamzah

Dalam mushaf ‘uthmānī, ḥamzah qata’ dilambangkan dengan bentuk alif apabila terletak di awal kosa kata seperti ini (عمسإ – رصنأ – أرقإ) dan kalau bukan terletak di awal kosa kata

37 Abd Qadir Umar Usman Al-Hamidy, “Penulisan al-Quran dengan Rasm Uthmani di antara Tawqif dan Ijtihad:

Quranic Orthography with the Uthmani Script: Between Tawqif and Ijtihad,” Maʿālim al-Qurʾān wa al-Sunnah 14, no. 2 (1 Desember 2018): 122–123.

(11)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

maka terkadang ditulis dengan rupa huruf alif seperti (لأس) atau rupa waw seperti (نمؤي) atau rupa huruf ya seperti (ئدبي).38 Berdasarkan kaidah tersebut, berikut ini disertakan inventarisasi rasm yang terdapat di dalam manuskrip mushaf al-Qur’an yang menjadi objek penelitian ini khususnya yang berkaitan dengan penulisan huruf ḥamzah pada susunan lafadz ayat-ayatnya.

No Lafadz Surah: Ayat Jenis

Rasm Keterangan Kaidah

1 QS. Al-Fatihah: 7 ‘Uthmānī ḥamzah ditulis menyerupai bentuk huruf ا (أ) karena berada di awal lafaz

2 QS. Al-Isra`: 7 ‘Uthmānī ḥamzah sukun ditulis menyerupai bentuk huruf ا (أ) karena jatuh setelah harakat fatḥah

3 QS. Al-Isra`: 10 ‘Uthmānī ḥamzah sukun ditulis menyerupai bentuk huruf و (ؤ) karena jatuh setelah harakat ḍammah 4 QS. Al-Kahfi: 18 ‘Uthmānī ḥamzah sukun ditulis menyerupai bentuk huruf ي (ئ)

karena jatuh setelah harakat kasrah 5 QS. Al-Isra’ 31 Imlā`ī ḥamzah ditulis menyerupai bentuk huruf ا (أ) 6 QS. Al-Kahfi: 5 ‘Uthmānī ḥamzah ditulis menyerupai bentuk huruf ا (أ) dan

huruf ي (ئ)

7 QS. Al-Kahfi: 50 ‘Uthmānī

ḥamzah ditulis menyerupai bentuk huruf ي (ئ)

8 QS. Al-Kahfi: 15 ‘Uthmānī ḥamzah ditulis menyerupai bentuk huruf و (ؤ) 9 QS. Al-Isra`: 7 Imlā`ī ḥamzah ditulis terpisah seperti kepala huruf ع (ء)

10 QS. Al-Isra`: 61 ‘Uthmānī ḥamzah ditulis terpisah seperti kepala huruf ع (ء)

d. Badl

Badl merupakan penggantian suatu huruf dengan huruf yang lainnya di dalam teks ayat- ayat Al-Qur’an. 20Terdapat dua bentuk penggantian huruf di dalam kaidah ini. Pertama ialah penulisan ا yang berasal dari huruf ي seperti ىده.39 Kedua ialah penggantian huruf ا dengan huruf و seperti pada lafzh ةولصلا namun tidak menghilangkan eksistensi huruf ا dalam lafadz tersebut.40 Kaidah badl huruf juga merupakan salah satu dari kaidah penulisan rasm yang telah disetujui oleh Khalifah Utsman bin Affan. Keberadaan badl huruf juga dapat kita temui di dalam manuskrip mushaf al-Qur’an koleksi Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat khususnya yang bernomor M. 1 24 ini. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini diinventarisasikan lafadz-lafadz yang memuat kaidah penulisan ini.

No Lafadz Surah: Ayat Jenis Rasm Keterangan Kaidah

38 Muhammad Zaini dan Nor Hafizah Bin Mat Jusoh, “Problematika Penulisan Al-Qur’an dengan Rasm Usmani pada Al-Qur’an Cetakan Indonesia dan Malaysia,” TAFSE: Journal of Qur’anic Studies 5, no. 1 (19 Maret 2022):

165.

39 Nurul Istiqomah, “Karakteristik Rasm dan Sumber Penafsiran Al-Qur’an (Free),” QOF 6, no. 1 (15 Juni 2022):

55.

40 Sarwat, Karakteristik Rasm Utsmani…, 18.

(12)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

1 QS. Al-Isra`: 1 ‘Uthmānī Badl huruf ا dengan huruf ى

2 QS. Al-Isra`:

32 Imlā`ī Badl huruf ا dengan huruf ى

3 QS. Al-Isra`:

47 ‘Uthmānī Badl huruf ا dengan huruf ى

4 QS. Al-Isra`:

78

‘Uthmānī

Badl huruf ا dengan huruf و

5 QS. Al-Kahfi:

28

‘Uthmānī

Badl huruf ا dengan huruf و

6 QS. Al-Kahfi:

28 Imlā`ī Badl huruf ا dengan huruf و

7 QS. Al-Kahfi:

81 ‘Uthmānī Badl huruf ا dengan huruf و

8 QS. Al-

Isra`:109 Imlā`ī Tidak sesuai dengan aturan penulisan dalam rasm ‘uthmānī

e. Al-Wal wa al-Fal

Al-faṣl dan al-waṣl memiliki istilah lain yang bisa disebut dengan al-maqṭū` ,dan al- mawṣūl. Secara etimologi, maqṭū` bermakna terputus atau terpotong sedangkan secara terminologi ia bermakna setiap kata yang terpisah dari kata setelahnya yang terdapat dalam rasmuthmānī. Berbeda dengan itu, mawṣūl secara etimologi adalah tersambung. Sedangkan secara terminologi mawṣūl bermakna setiap kata yang tersambung dengan kata setelahnya yang terdapat di dalam rasm uthmānī.41 Dalam rasm uthmānī ada beberapa lafadz yang disambungkan antara satu lafaz dengan lafaz setelahnya. Contohnya adalah ْنَم ,اَّم م = ْن م + اَم

= ْن م +

َّلََأ = َلَ + ْنَأ , ْنَّم م , dan beberapa lafaz yang lainnya. Sedangkan di dalam rasm imlā`ī, setiap

kalimat atau huruf yang bisa dibuat untuk memulai kalam dan mengakhirinya itu harus dipisah (penulisannya) dari lafaz sebelum dan sesudahnya. Jika tidak demikian, maka tidak boleh dipisah melainkan harus disambung misalnya lafaz نيا dengan ام maṣdariyyah yang wajib disambung.42 Berdasarkan data tersebut, di bawah ini dicantumkan beberapa lafaz yang digunakan di dalam manuskrip dengan nomor M. 1 24. Hal ini bertujuan untuk mengetahui jenis rasm yang digunakan di dalam manuskrip tersebut khususnya yang berkaitan dengan kaidah pemutusan dan penggabungan dua lafadz di dalam ayat-ayat Al- Qur’an.

No Lafadz Surah: Ayat Jenis Rasm Keterangan Kaidah

1 QS. Al-Isrā`: 2 ‘Uthmānī

ْنَأ + Huruf َل

2 QS. Al-Isrā`: 23 ‘Uthmānī

ْن إ اَم + Huruf

41 Nafi’atul Ummah dan Abdul Wadud Kasful Humam, “Analisis Penulisan Surat Yasin Berdasarkan Kaidah Rasm

Utsmani Dalam Al-Qur’an Kudus Cetakan 1974,” AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur’an 3, no. 1 (28 Februari 2017):

115.

42 Luluk Asfiatur Rohmah, “Kajian Terhadap Rasm Dalam Naskah Mushaf Al-Qur’an Madura,” AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur’an 4, no. 2 (13 Agustus 2018): 31–32.

(13)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

3 QS.Al-Isrā`: 55 ‘Uthmānī

Huruf نَم + ب

4 QS. Al-Isrā`: 69 ‘Uthmānī

Huruf اَم + ب

5 QS. Al-Isrā`: 70 ‘Uthmānī

ْن م ْنَم + Huruf

6 QS.Al-Isrā`: 97 ‘Uthmānī

َّل ك اَم + Huruf

7 QS.Al-Kahfi: 48 ‘Uthmānī

ْنَأ + نَل Huruf

8 QS. Al-Kahfi: 66 ‘Uthmānī

ْن م اَم + Huruf

9 QS.Al-Kahfi: 79 ‘Uthmānī

ْنَأ اَم + Huruf

f. Mā hi Qira`atāni wa Kutiba ‘alā Iḥdahumā

Perbedaan qira`āt yang terjadi menurut para ahl al-qira`āt as-sab’ah pada dasarnya tidak keluar dari tujuh pokok masalah yakni perbedaan tentang kalimat isim, perbedaan karena beberapa kalimat fi’il, perbedaan dalam wajah i’rāb, terjadinya pengurangan dan penambahan, perbedaan antara taqdīm dan ta`khīr, perbedaan antara ibdal, dan perbedaan soal lahjah.43 Menurut Muhammad Abd al-Aẓīm al-Zarqani sebagai mana yang dikutip oleh M. Fathu El Rahman Awing di dalam tesisnya bahwa kata yang bisa dibaca dengan dua bunyi adalah suatu lafaz yang memiliki dua ragam bacaan dalam bahasa Arab, penulisannya disesuaikan dengan salah satu dari dua ragam bacaan tersebut. Di dalam mushaf ‘uthmānī penulisan lafaz yang seperti ini ditulis dengan menghilangkan atau membuang huruf alif (ا) seperti yang terdapat di dalam QS. al-Fātiḥah: 4 yakni نيدلا موي كلم. Selain itu terdapat juga di dalam QS. al-Baqarah:9 yang juga menghilangkan huruf alif (ا) yang terdapat di dalam lafaznya. Bagi ayat-ayat seperti ini, ia bisa dibaca dengan menetapkan alif (mad) dan boleh pula tanpa alif (qaṣr).44

Dalam penulisan al-Qur’an yang mengikuti kaidah rasmuthmānī, perbedaan tersebut diminimalisasikan dengan cara memilih salah satu bacaan (qira`āt) dari ragam bacaan yang ada untuk dituliskan di dalam mushaf. Kaidah inilah yang disebut dengan ma fīhi qira`atāni wa kutiba ‘ala ihdāhumā. Berdasarkan defenisi yang telah dijelaskan tersebut, maka dibawah ini dicantumkan beberapa contoh lafaz yang terdapat di dalam manuskrip dengan nomor inventaris M. 1 24 koleksi Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Tujuan inventarisasi ini adalah untuk mengetahui bagaimana aplikasi kaidah ma fīhi qira`atāni wa kutiba ‘ala ihdāhumā ini ke dalam manuskrip mushaf yang menjadi objek penelitian tersebut.

43 Asmuni M. Nor, Kajian Ringkas Seputar al-Quran dan Rasm Utsmani (Serang: LPTQ Provinsi Banten, 2018), 69–72.

44 M. Fathu El Rahman Awing, “Hamzah Qath’i dan Hamzah Washl dalam QS. al-Baqarah (Tinjauan Kaidah Imla’

Terhadap Mushaf Madinah dan Mushaf Standar Indonesia)” (Tesis, UIN Alauddin, 2018), 68.

(14)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

No Lafadz Surah: Ayat Jenis

Rasm Keterangan Kaidah

1 QS. Al-Fatihah: 4 Imlā`ī

Lafaz ini memuat perbedaan bacaan atau qira`at.

Ada yang membaca dengan menambahkan alif setelah mim dan ada pula yang tidak menambahkannya.

2 QS. Al-Fatihah: 7

‘Uthmānī Terdapat tiga qira`at yang berhubungan dengan lafadz ini. Ada yang membaca dengan ص sebagaimana tertulis dalam rasm, ada yang membaca dengan menggunakan huruf س, dan ada pula yang membaca dengan ishmam ص kepada ز.

3 QS. Al-Fatihah: 7

‘Uthmānī Penulisan huruf ـه dengan kasrah merupakan salah satu dari dua ragam bacaan atau qira`āt karena ada yang membacanya dengan cara di-ḍammah-kan sehingga bacaannya menjadi ْم هْيَلَع. Selain itu, lafaz ini ditulis dengan men-sukun-kan huruf mim walaupun ada qira`at lain yang membaca dengan menambahkan و maddiyyah setiap bertemu dengan mim jamak sehingga dibaca dengan ْو م هْيَلَع.

4 QS. Al-Isra`: 19

‘Uthmānī Terdapat dua ragam bacaan dalam membaca lafadz ini. Jumhur imam qira`at membacanya dengan men- ḍammah-kan huruf ـه sedangkan di antara mereka ada yang men-sukun-kan huruf ـه sehingga mereka membaca َوْه َو.

5 QS. Al-Kahfi: 2 ‘Uthmānī Lafaz ini ditulis dengan mengikuti salah satu dari dua ragam bacaan . Karena ada dari imam qira`at yang membaca lafaz ini dengan bacaan َر شْبَي َو.

Melalui pengamatan dan analisis terhadap kaidah-kaidah rasm ‘uthmānī mulai dari ḥadhf, ziyādah, penulisan huruf ḥamzah, badl, al-faṣl wa al-waṣl, dan kaidah ma fīhi qira`atāni wa kutiba ‘ala ihdāhumā, diambil kesimpulan bahwa manuskrip mushaf Al-Qur’an dengan nomor inventaris M. 1 24 yang terdapat di dalam Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat Kepulauan Riau ini menggunakan jenis rasm campuran yaitu penggunaan rasm ‘uthmānī dan rasm imlā`ī secara bersamaan. Penggabungan dua jenis rasm ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah keilmuan tentang rasm al-Qur’an yang dimiliki oleh penulis manuskrip mushaf Al-Qur’an ini yang terbatas. Jenis rasm campuran merupakan jenis rasm yang banyak ditemukan di dalam penyalinan manuskrip-manuskrip mushaf al- Qur’an yang terdapat di Nusantara.

Penggunaan Qira`at dalam Manuskrip Mushaf al-Qur’an M. 1 24

Untuk mengetahui variasi qira`āt yang dipakai di dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur’an M.

1 24 ini, terlebih dahulu akan diuraikan beberapa perbedaan qira`āt yang terdapat di dalam QS. al-Fātiḥah, QS. al-Isrā`, dan QS. al-Kahfi. Akan diambil tiga lafaz dari QS. al-Fātiḥah, sepuluh lafaz dari QS. al-Isrā`, dan sepuluh lafadz pula dari QS. al-Kahfi sebagai sampelnya.

Perbedaan qira`āt yang terdapat di dalam lafaz tersebut akan dijelaskan secara ringkas dengan berpedoman kepada literatur-literatur yang khusus membahas tentang perbedaan qira`āt tersebut. Setelah dilakukan inventarisasi perbedaan qira`āt, maka hasil tersebut akan

(15)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

diklasifikasikan di dalam sebuah tabel yang akan dicantumkan kemudian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan qira`āt yang dipakai oleh penyalin manuskrip mushaf al- Qur’an ini.

Beberapa perbedaan qira`āt yang terdapat di dalam surah tersebut adalah:

1) Lafaz ك لَم dalam QS. al-Fātiḥah:4 dibaca dengan alif oleh Imam ‘Ậshim dan Imam Kisa`i sehingga menjadi ك لاَم. Sedangkan para Imam Nāfi’, Imam Abū ‘Amar, Imam Ibnu ‘Ậmir, Imam Ibnu Kathīr, dan Imam Ḥamzah membacanya tanpa alif.45

2) Lafadz َطا َر صلا pada QS. al-Fātiḥah:6 dibaca dengan َطا َر سلا oleh Qunbul yang merupakan salah satu perawi dari Imam Ibnu Kathīr. Ada juga yang membaca dengan ishmām ص kepada ز seperti bacaan Imam Hamzah. Sedangkan yang membaca dengan ص adalah bacaan Imam Nāfi’, Imam Ibnu ‘Ậmir, Imam Abū Amr, Imam Kisa`i, dan Imam ‘Ậṣim.46 3) Pada QS. al-Fatihah:7, lafadz ْم هْيَلَعdibaca Imam Ḥamzah dengan ha ḍammah dan mim

sukun sehingga menjadi ْم هْيَلَع. Sedangkan Jumhur membaca dengan meng-kasrah-kan ha dan sukun mim. 47 Namun Qalun yang merupakan salah satu dari perawi dari Imam Nāfi’

membaca setiap lafaz yang berakhiran dengan mim jamak dengan menambah bunyi bacaan huruf waw sehingga kedengaran bacaan tersebut menjadi و م هْيَلَع.

4) Pada QS. al-Isrā`: 2, lafadz ا ْوُذ ِخاتَت الََّأ dibaca dengan bacaan ا ْوُذ ِخاتَي الََّأ oleh Imam Abū Amr.48 5) Lafadz ا ْو ء ْو سَي ل pada QS. al-Isrā`: 7 oleh Imam Ibnu ‘Amir dan Imam Ḥamzah dibaca dengan

me-naṣab-kan huruf ḥamzah menjadi َء ْو سَي ل. Sedangkan Imam Kisa`i membaca dengan huruf nun dan me- naṣab -kan huruf hamzah menjadi َء ْو سَن ل.49

6) QS. al-Isrā`: 9 tepatnya pada lafaz ر شَب ي َو dibaca oleh Imam Kisa`i dan Imam Ḥamzah dengan fatḥah huruf ya dan sukun huruf ba sehingga menjadi ر شْبَي َو.50

7) Untuk lafadz هاَقْلَي pada QS. al-Isra` :13, Ibnu ‘Ậmir membaca dengan men-ḍammah-kan huruf ya ) ي ( dan mem-fathah-kan huruf lam ) ل ( serta men-tashdid-kan huruf qaf )ق(.

Dengan demikian Ibnu ‘Ậmir membacanya dengan هَا قَل ي.51 Sedangkan Jumhur membaca lafaz tersebut dengan tetap dengan lafaz هاَقْلَي.

8) Lafaz ٍ ف ا pada QS. al-Isrā`: 23 dibaca dengan tiga ragam bacaan. Imam Nafi’ dan Imam Hafṣ (salah seorang perawi Imam ‘Ậṣim) membaca dengan bacaan ٍ ف ا, Imam Ibnu Kathīr membaca dengan bacaan َّف أ, dan Imam yang lainnya membaca dengan ف أ.52

45 Abu ’Amr Uthman bin Sa’id ad-Dany, Jāmi’ al-Bayān fī Qira`āt as-Sab’ah al-Mashhūrah (Beirut: Darr Kutub al-

’Ilmiyyah, 2005), 154.

46 Ad-Dany, Jāmi’ al-Bayān fī Qira`āt...,155–156.

47 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah wa al-Sharī’ah wa al-Manhaj (Jakarta: Gema Insani, 2013), 30.

48 Az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah..., jilid 8, 34.

49 Khalaf bin Hamud bin Salim as-Saghdaly, Dirasah wa at-Tahqīq li Kitab at-Taysīr fī Qira`āt Sab’ (Ha’il: Darr al-Andalus, 2015), 409.

50 Az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah..., 49.

51 As-Saghdaly, Dirasah wa at-Tahqīq..., 409.

52 Az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah..., 49.

(16)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

9) QS. al-Isrā`:33, khususnya pada lafadz ْف رْس ي َلََف, dibaca dengan menggunakan huruf ت sehingga menjadi ْف رْس ت َلََف oleh Imam Ḥamzah dan Imam Kisa`i. Sedangkan Imam ‘Ậṣhim, Imam Nāfi’, Imam Abū ‘Amr, Imam Ibnu ‘Ậmir, dan Imam Ibnu Kathīr tetap membaca dengan menggunakan ي.53

10) Imam ‘Ậṣhim dan Imam Ibnu ‘Ậmir membaca lafaz ه ئ يَس pada QS. al-Isrā`:38 dengan ḍammah hamzah. Sedangkan qira`at imam yang lainnya dengan fatḥah ḥamzah dan naṣab ta ta`nith )ة( dengan tanwin menjadi ًةَئ يَس.54

11) Imam Ibnu Kathīr dan Imam ‘Ashim melalui jalur Hafṣ membaca lafaz َن ْو ل ْو قَي اَمَك dalam QS.

al-Isrā`: 45 dengan huruf ي. Sedangkan yang lain membaca dengan ت sehingga menjadi َن ْو ل ْو قَت اَمَك.55

12) Lafadz َنْي ي بَّنلا dalam QS. al-Isrā`:55 dibaca oleh Imam Nafi’ dengan نْي ئْي بَّنلا. Sedangkan para imam qira`āt yang lainnya tetap membacanya dengan bacaan نْي ي بَّنلا.56

13) Imam Ibnu Kathīr dan Imam Kisa`i membaca lafadz ْلَئْسَف pada QS. al-Isrā`: 101 dengan menghilangkan ḥamzah dan mem-fatḥah-kan huruf س sehingga menjadi ْلَسَف.57

14) Lafaz رَمَث pada QS. al-Kahfi: 34 dibaca dengan ḍammah ث dan sukun م oleh Imam Abu ‘Amr menjadi رْم ث, Imam ‘Ậshim membacanya dengan fatḥah ث dan م sehingga menjadi رَمَث. Sedangkan para imam qira`āt yang lainnya membacanya dengan ḍammah ث dan م menjadi ر م ث.58

15) Lafaz حاَي رلا pada QS. al-Kahfi: 45 dibaca oleh Imam Ḥamzah dan Kisa`i tanpa alif sehingga menjadi حْي رلا. Sedangkan Imam ‘Ậsim, Imam Ibnu ‘Ậmir, Imam Abū ‘Amar, Imam Ibnu Kathīr, dan Imam Nāfi’ tetap membacanya dengan menggunakan alif.59

16) Para imam qira`āt yang berasal dari Kufah (‘Ậṣim, Ḥamzah, Kisa`i) dan Nāfi’ membaca lafadz َلاَب جْلا ر يَس ن pada QS. al-Kahfi: 47 dengan huruf ن, kasrah huruf ي dan naṣab huruf لابجلا. Sedangkan Imam Ibnu Kathīr, Ibnu ‘Ậmir dan Imam Abū Amar mereka membaca dengan huruf ت, fatḥah huruf ya, dan rafa’ huruf لابجلا sehingga mereka membaca رَّيَس ت لاَب جْلا.60

17) Lafaz َن ْو ل ْو قَي َم ْوَي pada QS. al-Kahfi:52 oleh Imam Ḥamzah dibaca dengan menggunakan ن.

Sedangkan Imam Ậṣim, Imam Nāfi’, Imam Ibnu Kathīr, Imam Ibnu ‘Ậmir, Imam Abu ‘Amr, dan Imam Kisa`i membaca dengan menggunakan ي.61

53 As-Saghdaly, Dirasah wa at-Tahqīq..., 410.

54 Ad-Dany, Jāmi’ al-Bayān fī Qira`āt..., 593.

55 Ad-Dany, Jāmi’ al-Bayān fī Qira`āt..., 593.

56 Az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah..., 111.

57 Az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah..., 181.

58 Ad-Dany, Jāmi’ al-Bayān fī Qira`āt..., 601-602.

59 Ad-Dany, Jāmi’ al-Bayān fī Qira`āt..., 604.

60 As-Saghdaly, Dirasah wa at-Tahqīq...,417.

61 As-Saghdaly, Dirasah wa at-Tahqīq...,418.

(17)

Manuskrip Mushaf al-Qur’an Kerajaan Lingga

18) Lafadz ًلَ ب ق pada QS. al-Kahfi:55 , oleh Imam Ḥamzah, Ậṣhim, dan Kisa`i dibaca dengan ḍammah ق dan ب. Sedangkan Imam Nāfi’, Ibnu Kathīr, Abū ‘Amr, dan Ibnu ‘Amir membacanya dengan kasrah ق dan fathah ي sehingga mereka membaca ًلََب ق.62

19) QS. al-Kahfi:56 dari khususnya pada lafaz ا ًو ز ه oleh Imam Ḥamzah melalui riwayat Khalaf dibaca dengan ا ًؤ ز ه apabila disambungkan dengan lafaz selanjutnya. Imam qira`āt yang lainnya juga membaca lafaz tersebut dengan ا ًؤ ز ه kecuali Imam ‘Ậṣim melalui riwayat Hafṣ yang membacanya dengan ا ًو ز ه.63

20) Lafadz ا ًرْبَص َي عَم pada QS. al-Kahfi :72 dibaca ا ًرْبَص ْي عَم oleh Imam Nāfi’, Imam Abū ‘Amr, Imam Ibnu ‘Ậmir, Imam Ibnu Kathīr, Imam Ḥamzah, dan Imam Kisa`i. Hanya Imam Hafṣ dari Imam ‘Ậṣim yang tetap membacanya dengan ا ًرْبَص َي عَم.64

No Lafadz Surah: Ayat

Imam Qira`āt Sab’ah Ậṣim Nāfi’ Ibnu

‘Ậmir Abū

Amr Ibnu

Kathīr Kisa`i Ḥamzah 1

QS. Al-Fatihah: 4

- - - - -

2

QS. Al-Fatihah: 6

- -

3

QS. Al-Fatihah: 7

-

4

QS. Al-Isra`: 2

-

5

QS. Al-Isra`: 7

- - -

6

QS. Al-Isra`: 9

- -

7

QS. Al-Isra`: 13

-

8

QS. Al-Isra`: 23

- - - - -

62 Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Marah Labid li Kashfi Ma’na al-Qur'ān al-Majīd (Beirut: Dār Kutub al-

’Ilmiyyah, 1997), 653.

63 Az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah..., 273.

64 Az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fī al-’Aqīdah..., 280.

(18)

Wendy Hermawan, Afriadi Putra, Wilaela

9

QS. Al-Isra`: 33

- -

10

QS. Al-Isra`: 38

- - - - -

11

QS. Al-Isra`: 42

- - - - -

12

QS. Al-Isra`: 55

-

13

QS. Al-Isra`: 101

- -

14

QS. Al-Kahfi: 34

- - - - - -

15

QS. Al-Kahfi: 45 - -

16

QS. Al-Kahfi: 47

- - -

17

QS. Al-Kahfi: 52 -

18

QS. Al-Kahfi: 55

- - - -

19

QS. Al-Kahfi: 56

- - - - - -

20

QS. Al-Kahfi: 72

- - - - - -

Berdasarkan uraian dan tabel inventarisasi yang telah dibuat di atas, maka selanjutnya hasil tersebut akan dijumlahkan. Hal ini bertujuan untuk mencari berapakah persentase qira`āt para Imam Qira`āt yang digunakan di dalam manuskrip mushaf al-Qur’an koleksi Masjid Raya Sultan Pulau Penyengat dengan nomor inventaris M. 1 24 ini. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Referensi

Dokumen terkait