Tahun 1960 tentang Panitia Piutang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2104); Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Pembatalan Piutang Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4488), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4652); KEUANGAN TERKAIT TATA CARA OPTIMASI PERATURAN PEMBEBARAN NEGARA DARI PINJAMAN LUAR NEGERI DAN REKENING DANA INVESTASI PADA USAHA NEGARA/PERUSAHAAN TERBATAS.
Panitia Urusan Piutang Negara yang selanjutnya disingkat PUPN adalah panitia antar lembaga yang bertugas melakukan pengelolaan piutang negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 49 Prp. Pengelolaan piutang negara melalui PUPN sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (3) dilakukan dalam hal BUMN/Perusahaan/BHL :. tidak ada prospek usaha yang dibuktikan dengan Uji Tuntas; atau. belum tercapai kesepakatan mengenai cara penyelesaian piutang negara bagi BUMN/Perusahaan/BHL yang memiliki utang dengan tingkat kolektibilitas buruk. 1) BUMN/Perusahaan/BHL dapat mengajukan permohonan pelunasan piutang negara kepada Menteri u.p. Direktur Jenderal dinyatakan kurang lancar atau diragukan sesuai format sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
1) BUMN/Selskab/BHL wajib mengajukan permohonan pelunasan piutang kepada negara paling lambat tanggal 6 (enam). bulan sejak dinyatakan dalam status rugi sesuai format sebagaimana tercantum dalam Jadwal I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Dalam hal hasil analisis permohonan pelunasan piutang negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 tidak mempunyai prospek usaha, BUMN/Persero/BHL selanjutnya dapat diproses oleh PUPN. Dalam hal menteri menyetujui rekomendasi optimalisasi pelunasan piutang negara, menteri menerbitkan surat. persetujuan optimalisasi pelunasan piutang negara kepada BUMN/Perusahaan/BHL.
BUMN/Perusahaan/BHL wajib mencantumkan pemenuhan kewajiban optimalisasi pelunasan debitur Negara dalam kontrak manajemen atau dokumen yang dipersamakan.
PELAPORAN
RKAP/dokumen yang dipersamakan dengan RUPS/Rapat Pembahasan Gabungan (RPB)/Vægge/Rapat Anggota Tahunan tahun anggaran berjalan; Dan. kontrak man8Yaman diselesaikan.
SANKS I
LATAR BELAKANG
PENDAHULUAN
DASAR
RUANG LINGKUP
- DATA UMUM
- ASPEK MANAJEMEN
- ASPEK KEUANGAN
- PERMASALAHAN YANG DIHADAPI
- PENYEBAB UTAMA PERMASALAHAN
Kinerja perseroan didasarkan pada Laporan Audit Kinerja tahun lalu yang dilakukan oleh auditor independen, kinerja BUMN/Perseroan Terbatas/Badan Hukum Lainnya. Saldo kas minimal BUMN/Perusahaan Swasta/Badan Hukum Lainnya selama 3 (tiga) tahun berturut-turut mengalami kenaikan/penurunan. Hasil penjualan dan penghasilan lain-lain...sehingga hasil penjualan dan penghasilan lain-lain berjumlah Rp. . akibatnya.. sehingga pendapatan penjualan dan pendapatan lain-lain sebesar Rp. . hasil dari.
Posisi dan persentase pembayaran masing-masing BUMN/Perseroan/Badan Hukum Lainnya... sampai dengan tanggal pengakhiran. tidak termasuk pembayaran atas pinjaman yang telah dilunasi) berdasarkan hasil rekonsiliasi sampai saat ini.
BAB IX
TATA CARA OPTIMASI PENYELESAIAN TAGIHAN NEGARA DARI REKENING PINJAMAN LUAR NEGERI DAN DANA INVESTASI PADA PERUSAHAAN/PERUSAHAAN DI NEGARA/BADAN HUKUM LAINNYA. Berdasarkan surat Direktur Utama/Direksi BUMN/Perseroan Terbatas/Badan Hukum Lainnya Nomor: tanggal permohonan restrukturisasi pinjaman sebagai kelanjutan program peningkatan kinerja BUMN/Perseroan Terbatas/Badan Hukum Lainnya , Direksi BUMN/Perseroan Terbatas/Badan Hukum Lainnya. TATA CARA OPTIMASI PENYELESAIAN TAGIHAN NEGARA DARI PINJAMAN LUAR NEGERI DAN DANA INVESTASI PADA PERUSAHAAN NEGARA/PERUSAHAAN DENGAN/BADAN HUKUM LAINNYA.
TATA CARA OPTIMASI PENYELESAIAN TAGIHAN NEGARA DARI PINJAMAN LUAR NEGERI DAN DANA INVESTASI PADA PERUSAHAAN/PERUSAHAAN DI NEGARA/BADAN HUKUM LAINNYA. Tata cara analisis kemungkinan usaha dan kemampuan membayar kembali BUMN/perusahaan/badan hukum lainnya dalam rangka penyelesaian. Apabila prospek usaha BUMN/DOO/Badan Hukum Lainnya dinilai BAIK, maka penyelesaian tagihan negara dapat dilanjutkan dengan menentukan cara yang optimal berdasarkan solvabilitas.
Namun apabila BUMN/Perseroan Terbatas dinilai kurang/tidak mempunyai prospek usaha, maka pelunasan piutang negara dapat diselesaikan melalui PUPN. Analisis posisi BUMN/Perseroan Terbatas dalam persaingan bisnis dimulai dari analisis pangsa pasar. Melalui perbandingan analisa diatas dengan RKA dan Rencana Jangka Panjang.can.a BUMN/Perusahaan Swasta/Badan Hukum Lainnya, diharapkan dapat terlihat prospek usaha BUMN/Perusahaan Swasta/Badan Hukum Lainnya ke depan.
Menetapkan cara optimalisasi pelunasan piutang negara berdasarkan indikator kemampuan pelunasan BUMN/Perseroan Terbatas/Badan Hukum Lainnya. Indikasi kemampuan membayar kembali dapat dilihat dari laporan keuangan yang diolah dari data keuangan perusahaan. Ada beberapa rasio yang akan dijadikan indikator kapasitas pembayaran, yaitu Free Cash Flow (FCF) atau Cash Flow Available for Debt Service (CFADS), Debt Service Coverage Ratio (DSCR), Earnings Interest Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA) , Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (RoE) dan Debt to Equity Ratio (DER).
Pada akhirnya, indikator kemampuan membayar suatu perusahaan lebih terfokus pada proyeksi arus kas dan laba operasional perusahaan. Skema ini diwujudkan dengan membagi pembayaran kewajiban pokok dan non pokok untuk jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun, termasuk masa tenggang (grace period). Skema ini dilakukan dengan menurunkan tingkat suku bunga, sehingga kewajiban pokok dan non pokok terbagi dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun (termasuk periode gagal bayar).