Meneladani kisah heroik Nusaibah binti Ka’ab
“Cinta adalah ruh manusia, jika ruh itu hilang maka matilah jiwanya”
Setiap orang tak perlu bertanya lagi mengapa di balik setiap hal yang memukau pasti tersimpan perjuangan yang tak sederhana.Sebuah kemerdekaan, kemenangan, kesuksesan, bisa bersama dengan orang yang dicintai, dan mendapatkan segala hal yang menjadi nilai kebahagiaan, itu semua pasti memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang besar .
Islam adalah agama cinta, segala hal yang ada dalam Islam adalah bentuk cinta Allah Swt. Tak ayal para pejuang agama Islam berani tampil dengan gagah berani dan dengan hati yang ikhlas semata-mata demi menegakkan cinta Allah dan rasul-Nya, karena dengan itulah mereka mendapatkan apa yang mereka tuju, yakni meraih cinta tuhan beserta kekasih-Nya.
Nusaibah binti Ka’ab yang akrab disapa dengan ‘Ummu Umaroh adalah salah satu diantara para pejuang tersebut. Selaras dengan namanya, beliau adalah wanita pejuang yang agung lagi pemberani sebagaimana yang telah masyhur, tak jauh beda dengan sifat-sifat para pejuang islam yang hakiki dengan misi untuk selalu berjuang di jalan yang benar dan haq, menegakkannya, serta memberantas kebatilan.
Jika wanita dinilai baik, serta agung penuh pesona dengan cara memandang akhlak dan budi pekertinya, kecerdasannya, keimanannya, ketaatannya, kesabarannya, serta kepiawaiannya dalam berperang, maka Nusaibah-lah diantara salah satu wanita yang pantas mendapatkannya dari sekian ribu wanita di muka bumi rahmat ini. Beliau adalah wanita mulia yang penuh dengan keindahan. Hatinya tulus dan suci sesuci air mata kautsar.
Biografi
Namanya adalah Nusaibah atau dalam suatu riwayat disebut Nasibah1 merupakan putri dari Ka'ab bin Amr bin 'Auf bin Mabdzul yang berasal dari kalangan Al-Anshariyah, Al- Khazrajiyyah, An-Najjariyah, Al-Maziniyyah, Al-Madaniyyah, dan ibunya bernama Rubab binti Abdullah bin Habib bin Abd Haritsah bin Malik bin Ghadb bin Jusham juga dari kabilah yang sama,sebab itulah beliau masyhur dengan panggilan Nusaibah Maziniyah. Beliau adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw, begitupula dengan kedua saudaranya yaitu, Abdullah bin Ka'ab dan Abdurrahman bin Ka'ab2.
Keislaman Nusaibah dimulai dari dakwah Mushab bin ‘Umair, duta yang ditunjuk Nabi Muhammad Saw untuk mengajak penduduk Madinah dengan tanpa lelah atau bahkan bosan, dengan kalimat-kalimat yang memang disadari dan sikap yang tenang, argumentasi yang meyakinkan, logika yang manis, dengan hikmat dan nasehat yang indah agar semua penduduk
1Muhammad Ali Kutbi, nisa’ haular rasul, hlm 153.
2Ibnu Saad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld.8, hlm.301.
madinah beribadah hanya kepada Allah3. Hati Nusaibah telah suci seperti saat dilahirkan ke muka bumi dan telah dipenuhi kecintaan serta keyakinan terhadap Islam. Kemudian, ia pergi dari Madinah ke Mekah bersama Mushab bin Umair beserta 73 lelaki dan satu lagi wanita(Ummu Mani’/ Asma’binti ‘Amrbin ‘Adiy) untuk menghadap Nabi Muhammad saw dalam bai'at Aqabah kedua di Mina Pada tahun 622 atau tahun ke-13 kenabian.
Sebelum memeluk Islam, Ummu ‘umarah menikah dengan Zaid bin ‘AshimAl- Maziniy, An-Najjariy dan dikaruniai dua putra yang bernama Habib dan Abdullah, keduanya merupakan sahabat Rasulullah Saw. Setelah suami pertamanya meninggal dan beliau telah memeluk Islam beliau menikah dengan Ghaziyah bin AmrAl- Maziniy, An-Najjariy . Darinya mempunyai anak bernama Khaulah. Nusaibah dan keluarganya itu sungguh memiliki peran penting dalam Islam.4
Nusaibah wafat pada tahun ke 13 hijriyah pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dan dimakamkan di pemakaman Baqi’.
Pejuang Haqiqi Yang Bertaruh Mati
Sebagaimana yang sudah ditetapkan pada masa Rasulullah Saw, di saat Rasulullah Saw melakukan peperangan melawan orang-orang kafir, musyrik, dan yang murtad dari Islam, maka bukan hanya para lelaki muslim yang bisa berjihad di jalan mulia itu, akan tetapi wanita juga boleh ikut andil di dalamnya dengan mengobati yang terluka, megobati yang sakit, serta memberi makan dan minum pasukan perang. Dengan itu Islam menjadikan wanita juga memiliki keutamaan dan kemuliaan yang setimpal.
Ummu ‘Umaroh adalah salah satu wanita mulia itu. Beliau percaya bahwa wanita juga berhak serta pantas untuk mempertahankan serta membela agama yang diyakininya, bahkan itu memang sebuah kewajiban. Sehingga suatu ketika, berdasarkan keyakinan itu beliau bersama suami dan anaknya juga ikut dalam barisan pasukan perang untuk memerangi musuh, tepatnya di perang Uhud yaitu perang Rasulullah Saw melawan kafir Quraisy dengan pasukan yang pada awalnya berjumlah 1000 namun berkurang hingga menjadi 700 sebab orang –orang munafik pada saat itu keluar dari kelompok perang5.Pasukan muslimin yang berjumlah 700 orang tersebut terbagi menjadi pasukan infanteri dan pasukan kavaleri. Jumlah pasukan infanteri sebanyak 650 orang. Jumlah pasukan kavaleri sebanyak 50 orang. Sedangkan pasukan musyrikin berjumlah 3.000 orang. Sebanyak 2.900 orang berasal dari suku Quraisy dan para sekutunya. Sedangkan 100 orang lainnya berasal dari Bani Tsaqif. Sebanyak 700 orang memakai baju besi. Pasukan musyrikin dilengkapi dengan 200 ekor kuda dan 3.000 ekor unta. Pemimpinnya adalah Abu Sufyan bin Harb. Para istri dari pemuka suku Quraisy turut serta dalam pasukan ini.6
3Muhammad Ali Kutbi, Nisa’ haular rasul, hlm 154.
4Ahmad Kholil Jum’ah, Nisa’ Mubassyirot Bil-Jannah, hlm 64.
5Muhammad Abu Ayyasi, strategi perang Rasulullah, hlm 73.
6Khaththab, Mahmud Syait (2019). Rasulullah Sang Panglima: Meneladani Strategi dan Kepemimpinan Nabi dalam Berperanghlm 229; Wikipedia.
Manusia, dimanapun ia berada maka tak akan lepas dari yang namanya nafsu dan sifat lupa. Maka wajar ketika para pasukan muslim mulai memperebutkan harta rampasan perang di saat melihat pihak musuh sudah lari dan mundur, pasukan muslim kavaleri/pemanah yang berposisi di bukit uhud juga sudah tercerai berai. Khalid bin walid dari pihak kafir yang menyadari hal itu langsung memerintahkan pasukan untuk melakukan penyerangan kembali. Hal itulah yang kemudian menimbulkan bencana besar, Rasulullah Saw berada dalam bahaya.
Nusaibah yang pada awalnya hanya bertugas seperti wanita-wanita lainnya yakni memenuhi kebutuhan logistik, memberi minum para pasukan serta mengobati yang terluka saat itu telah bangkit melebihi itu semua, berdiri dengan tegak dan gagah berani. Maka tergeraklah raga wanita tangguh itu untuk terjun ke medan pertempuran tanpa rasa takut dan gentar, hal itu bersifat alamiah. Hatinya memang begitu takut, takut kehilangan sang pemimpin umat, takut akan Islam jatuh, segala ketakutan yang timbul dari hati orang-orang yang penuh dengan cinta dan iman.Segera Nusaibah mempersenjatai dirinya, mengambil pedang dan perisai, mengambil posisi di samping Rasulullah Saw dan sejurus kemudian beliau telah mengangkat pedangnya dan menghunuskannya ke kanan dan kiri Rasulullah Saw. Nusaibah menjadi tameng untuk melindungi Rasulullah Saw dari serangan musuh. Beliau sudah tidak memperdulikan lagi urusan dunianya, yang beliau fikirkan adalah masa depan Islam. Pada suatu kesempatan, ketika pasukan kuda kafir Quraisy menyerang, Nusaibah menyerang betis kuda yang ditunggangi pasukan kafir tersebut sehingga pasukan tersebut terjatuh, melihat hal itu Rasulullah Saw berteriak kepada putra Nusaibah, Abdullah bin Zaid, lalu berkata “Zaid, Ibumu!”. Mendengar seruan tersebut Zaid mengerti maksud Rasulullah Saw dan segera membantu ibunya, Nusaibah.
Di saat Nusaibah berdampingan dengan putranya, Rasulullah Saw berteriak agar melempari pasukan kafir Quraisy dengan batu, maka mereka pun mematuhi perintah tersebut.
Salah satu batu yang dilemparkan oleh Abdullah bin Zaid mengenai mata kuda yang ditunggangi musuh sehingga kuda tersebut hilang kendali dan penunggangnya pun jatuh. Rasulullah Saw yang melihat kejadian itu tersenyum sampai terlihat gigi gerahamnya , namun kemudian Rasulullah Saw melihat darah segar mengalir dari bahu Nusaibah, segera Rasulullah Saw memerintahkan Abdullah membalut luka ibunya dan Rasullah Saw mendoakannya. Rasulullah berkata kepada Abdullah bin Zaid “Ibumu terluka, balutlah lukanya!semoga Allah Swt merahmati keluarga kalian, sungguh kedudukan ayah tirimu lebih baik derajatnya daripada si fulan dan si fulan. Semoga Allah Swt merahmati keluarga kalian.”7 Kemudian Rasulullah Saw mendoakan keluarga Nusaibah agar kelak menemani Rasulullah di surga. Mendengar do’a yang baik dan menggembirakan tersebut Nusaibah dan putranya semakin semangat untuk berjihad, mereka berperang dan terus berperang. Ditengah pertempuran juga, putra Nusaibah terkena tebasan pedang musuh di lengan kirinya, darah tak berhenti mengalir dari luka itu, namun setelah membalut luka putranya, Nusaibah berkata pada putranya, “Bangunlah anakku! Serang mereka.”
beliau tetap memberi semangat. Dan Rasulullah Saw pun bertanya: “Siapa yang mampu melakukan seperti apa yang kamu lakukan wahai Ummu ‘Umaroh?”
7 Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt al-Kubra,jld 8, hlm 414-415.
Nusaibah tetap berada di samping Rasulullah Saw, pedangnya cekatan menyambar setiap musuh yang melewatinya, sehingga Rasulullah Saw melihat orang yang melukai Abdullah bin Zaid kemudian menunjukkannya kepada Nusaibah, maka Nusaibah membantainya sampai musuh itu terjatuh, kemudian pasukan muslim yang lain menyerangnya sampai musuh tersebut terbunuh.8Setelah itu Rasulullah Saw menemui Nusaibah lalu berkata, “Segala puji bagi Allah Swt yang telah memberi kemenangan kepadamu, dan menjernihkan matamu dari musuhmu, serta menuntaskan balas dendammu.”
Diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar bin Khattab berkata: “ Saya mendengar Rasulullah Saw berkata: “ Aku tidak menoleh ke kanan dan kiri saat perang Uhud kecuali aku melihat Nusaibah saling berperang membunuh selainku.” 9Hal itu menunjukkan bahwa Nusaibah mendapatkan pujian yang tak terhingga dari Rasulullah Saw sebagaimana pujian terhadap para pejuang syahid yang lainnya. Beliau mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt dan Rasul-Nya.
Tak henti-hentinya Nusaibah membela Rasulullah Saw. Menangkis semua jenis serangan musuh, sehingga pada akhirnya, sama seperti pasukan yang lain, Nusaibah pun juga mendapat- kan banyak luka di saat beraksi melindungi Rasulullah Saw di perang Uhud. Luka yang sangat parah beliau dapatkan dari Ibnu Qumiah.
Pada waktu itu, Ummu Sa’ad bin Sa’ad bin Rabi’ mendatangi Nusaibah dan beliau melihat luka parah tersebut di bahunya, lalu Ummu saad bertanya pada Nusaibah terkait siapa yang memberikan luka tersebut, maka Nusaibah pun menjawab bahwa musuh Allah-lah ‘Amr bin Qumiah yang menyebabkan itu.
Keberanian Nusaibah dalam memerangi musuh Islam tak hanya berhenti di situ saja.
Beliau tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan tetap memperteguh keimananannya.
Kecintaannya dan kesetiaannya terhadap agama Islam telah membesarkan hati dan tekadnya.
Segala harapan yang telah terpatri tak pernah ditinggalkannya begitu saja. Beliau berusaha untuk mendapatkan keridlaan Allah Swt dan kekasih-Nya. Beruntungnya Nusaibah sebab Allah Swt mengizinkan beliau untuk tetap memperoleh derajat yang tinggi di sisi-Nya dengan berjihad di beberapa peperangan lainnya, diantaranya di perang Khaibar, Hunain, dan Yamamah.
Seandainya kita analogikan dengan istilah-istilah orang zaman sekarang, Nusaibah layaknya pejuang atau pahlawan yang mengikuti beberapa kegiatan bersejarah di masa Rasulullah Saw.
Dalam kisah ini kita bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran, diantaranya adalah;
kita bisa mengetahui bahwa kesuksesan dakwah Islam, selain memang karena disebarkan oleh manusia paling mulia, manusia terindah, rahmatan lil ‘alamin yakni Rasulullah Saw, juga karena tak lepas dari setiap kontribusi para sahabat Rasulullah Saw yang mulia. Dakwah islam tidak hanya ditandai dengan pidato-pidato atau khutbah-khutbah yang dilakukan Rasulullah Saw di masjid-masjid, diplomasi, kerja sama antar negara yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw, seluruh etika politik yang dijalankan oleh seorang Nabi penutup yang tak pernah bercampur sedikitpun dengan makar atau tipuan-tipuan, akan tetapi lebih dari itu semua, ada perjuangan
8 Ahmad Kholil Jum’ah, Nisa’ Mubassyirot Bil-Jannah, hlm 67.
9 Ibid, hlm 68.
yang tiada henti dalam memerangi kekafiran, kemurtadan, dan menebas kebathilan juga tertulis dalam sejarah yang dibalut dengan tema peperangan dan perjuangan.
Islam tetap bertahan dan tetap hidup dalam hati para sahabat Rasulullah Saw. Demi Islam, dan karena ajaran Islam telah mendarah daging dalam jiwa-jiwa para sahabat, tak pernah sekalipun para sahabat tersebut berleha-leha menikmati kemenangan yang diraih di momen- momen bersejarah dalam berperang bersama Rasulullah Saw. Kebahagian mereka tampakkan dengan bersyukur dan tak henti memuji sang Maha. Sifat-sifat dan adab mulia para sahabat tersebut tetap tak berubah, bahkan hingga Rasulullah Saw telah selesai serta tuntas menjalankan tugasnya dan wafat. Terbukti dengan adanya sejarah bahwa setelah Rasulullah Saw wafat, tepatnya pada masa kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, Abu Bakar hendak memerangi orang- orang yang murtad dari agama yang hanif pada waktu itu, yaitu orang-orang yang kembali kepada agama nenek moyang-nya. Puncaknya adalah saat Musailamah Al-Kaddzab mengaku sebagai Nabi baru. Jadilah Abu Bakar R.a bersepakat untuk memeranginya.
Berkaitan dengan hal ini, lagi-lagi Nusaibah sang wanita pemberani yang mendengar hal itu, meskipun telah berusia senja tetap ingin mengabdikan dirinya pada Islam. Beliau meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar R.a untuk ikut serta dalam peperangan Yamamah bersama putranya. Abu Bakar pun mengizinkan. Dalam peperangan itu tangan Nusaibah putus tertebas pedang musuh, namun hal itu sama sekali tak mematahkan semangatnya. Kesabarannya dulu saat mendengar putranya, Habib bin Zaid dimutilasi oleh Musailamah telah begitu cukup. Hingga akhirnya perang itu berakhir dengan kemenangan Islam atas izin Allah Swt. Musailamah mati di tangan putra Nusaibah sendiri, Abdullah bin Zaid. Melihat pedang putranya yang berlumuran darah Musailamah, Nusaibah langsung tersungkur bersujud syukur memuji Allah Swt10.
MUTIARA HIKMAH
Sungguh Nusaibah adalah cahaya yang menerangi sejarah peradaban wanita-wanita muslimah sepanjang masa. Kisah perjuangannya, keberaniannya yang seluruhnya berdasarkan dengan cinta itu tak pernah mati. Beliau juga wanita bersahaja dan juga aktif dalam menjalankan syari’at Islam. Perhatian pada hukum-hukum Islam-pun tak luput darinya. Jika ada suatu hal yang tak dimengertinya tentang Islam, beliau menanyakannya kepada Rasulullah Saw. Bahkan Nusaibah pernah juga mempertanyakan tentang hak asasi bagi wanita kepada Rasulullah Saw langsung.
Disebutkan dalam kitab Asbabun nuzul ‘anis shohabah wal mufassirin karya Syaikh Abdul Fattah Al-Qady, Nusaibah pernah berkata: “Wahai Rasulullah, saya tak pernah melihat segala sesuatu kecuali didalamnya terdapat lelaki, dan saya tak melihat wanita pernah disebut”.
Sehingga turunlah ayat Q.S Al-Ahzab ayat 35 yang artinya : "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-
10 Ahmad Kholil Jum’ah, Nisa’ Mubassyirot Bil-Jannah, hlm 77.
laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar". (QS Al Ahzab : 35)
Reputasinya selalu tinggi di mata para Sahabat nabi yang lainnya. Maka kedudukan itu tetap abadi hingga kini.
Lalu apa yang dapat kita ambil hikmah dari kisah perjuangan ini dan apa yang akan kita sumbangkan untuk Islam.?
Dengan membaca kisah diatas kita bisa mengambil pelajaran bahwa wanita memiliki kewenangan dalam berpendidikan setinggi-tingginya sebab Nusaibah sendiri bertanya pada Rasululullah Saw ketika mendapati masalah yang tidak diketahui hukumnya. Wanita juga memiliki peranan penting di bidang sosial keagamaan masyarakat Islam. Wanita juga bebas berjuang menegakkan agama Islam, semisal dengan menjadi penceramah sebab sudah tidak ada peperangan, dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam yakni sesuai dengan kodratnya sebagai perempuan. Sebab Islam sudah mengatur sedemikian detail tentang wanita- wanita muslimah khususnya dan seluruh umat Islam pada umumnya.
Peradaban Islam sendiri maju sebab berpedoman pada tauhid atau keimanan. Dorongan berperang dan mengerahkan segala kemampuan demi kemajuan di segala bidang, baik politik, sosial-budaya, ekonomi, pendidikan, kedokteran, yang paling utama dilandaskan pada keimanan dan selain itu juga atas dasar keadilan. Dengan itu kita bisa mencontoh bagaiman cara berfikir, kerja keras, dan tentunya kecintaan pada Islam yang berdasar keimanan para sahabat pejuang Islam.
Bagi kita yang hidup di era millenial dimana segala hal serba modern, dimana perang sudah tak dapat kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, maka kita seharusnya istiqamah serta amanah dalam menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar. Menanamkan cinta abadi yang di ridhoi Allah Swt seperti cinta Nusaibah. Menjadi manusia yang adil, senantiasa berakhlak yang terpuji. Sebab kini dengan berperang dan menumpahkan darah sudah bukan alternatif yang tepat dalam menumpas kebathilan. Buatlah para pejuang Islam bangga dan bahagia atas apa yang kita lakukan, tentunya jangan lupa ikhlas karena Allah Swt. Sehingga kelak kita bisa bersama-sama dengan mereka di surga Allah Swt dan mendapat ridlo-Nya. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin.