484
TERAPI AFIRMASI POSITIF PADA KLIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH: STUDI KASUS
POSITIVE AFFIRMATION THERAPY FOR CLIENTS WITH LOW SELF- ESTEEM: CASE STUDY
Susanti Niman1*, Laura Nikita Surbakti2
1Dosen Keperawatan Jiwa STIKes Santo Borromeus, Bandung Barat, Padalarang
2 Mahasiwa program studi diploma tiga keperawatan, STIKes Santo Borromeus Corresponding Email : [email protected]
Abstrak
Latar belakang : Seorang mahasiswi mengalami harga diri rendah akibat pengalaman kekerasan dalam keluarga dan bullying. Studi kasus ini mengambarkan bagaimana kekerasan dalam keluarga dan bullying memicu harga diri rendah dan pengaruh tindakan keperawatan afirmasi positif.
Laporan kasus : Seorang mahasiswi melakukan konseling pada praktisi keperawatan jiwa.
Klien sejak kecil sering dibandingkan dengan saudara kandung oleh ibunya karena bentuk tubuhnya yang kurus dan nilai dari sekolah yang selalu rendah. Selain di rumah klien juga mengatakan sering diejek karena kurus dan kulitnya berwarna gelap. Pengalaman tersebut membuat klien merasa tidak percaya diri, merasa berbeda dari orang lain dan takut untuk berteman. Klien mengatakan pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri. Asuhan keperawatan diberikan pada klien selama lima hari dengan fokus intervensi pemberian terapi afirmasi positif. Hasil evaluasi dari asuhan keperawatan yang diberikan menunjukkan peningkatan harga diri, memiliki pikiran positif tentang dirinya, melakukan kemampuan untuk meningkatkan harga diri sesuai aspek positif yang dimiliki. Hasil pengukuran harga diri menggunakan Rosenberg self esteem Scale menunjukkan peningkatan dan penurunan dari hasil pengukuran Self reporting Quetionnaire 29 menunjukkan penurunan.
Kesimpulan : Asuhan keperawatan dengan fokus intervensi terapi afirmasi positif memegang peranan penting dalam membantu klien dengan masalah keperawatan harga diri rendah. Asuhan keperawatam selama lima hari dapat meningkatkan harga diri dan mengubah pikiran negatif.
Kata kunci : afirmasi positif, bullying, harga diri rendah, kekerasan dalam keluarga, , studi kasus
Abstract
Background : A female student experiences low self-esteem due to experiences of family violence and bullying. This case study illustrates how family violence and bullying trigger low self-esteem and influence positive affirmative nursing actions.
Case report: A female student conducts counselling with a psychiatric nursing practitioner.
Clients since childhood are often compared to siblings by their mothers because of their thin body shape and consistently low grades in school. Apart from being at home, the client also said she was often ridiculed because he was thin and had dark skin. The experience makes
485 the client feel insecure, different from others and afraid to make friends. The client said he had thoughts of suicide. For five days, nursing care is given to clients focusing on positive affirmation therapy interventions. The results of the evaluation of the nursing care provided showed an increase in self-esteem, positive thoughts about himself, did the ability to increase self-esteem according to the positive aspects possessed. The results of self-esteem measurement using the Rosenberg self-esteem scale showed an increase and the results of the Self-reporting Questionnaire 29 measurement showed a decrease.
Conclusion: Nursing care focusing on positive affirmation therapy interventions is essential in helping clients with low self-esteem nursing problems. Five days of nursing care can increase self-esteem and change negative thoughts.
Keywords: bullying, case study, domestic violence, positive affirmation, low self-esteem
PENDAHULUAN
Kekerasan dalam keluarga dapat berbentuk fisik, seksual ataupun verbal. Kekerasan timbul pada individu oleh orang lain yang memiliki kedekatan atau hubungan dalam keluarga.
Kekerasan dalam keluarga sulit untuk kenali oleh lingkungan, apalagi pada keluarga yang tertutup (Mohammadi et al.,2019). Kekerasan verbal dalam keluarga pada anak adalah kekerasan emosional yang dapat membuat anak memiliki perasaan malu, bersalah, rendah dan tidak berharga (Teicher & Samson, 2016). Kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua dapat membuat anak memiliki perasaan yang negatif.
Perasaan negatif dapat dialami oleh korban verbal bullying. Bullying yang dialami pada masa anak dapat meningkatkan masalah kesehatan. Korban bullying rentan terhadap tekanan psikologis. Anak atau remaja korban bullying dapat mengalami masalah kesehatan jiwa seperti depresi, ansietas dan resiko bunuh diri (Armitage, 2021). Kekerasan verbal dalam keluarga dan verbal bullying dapat mempengaruhi perkembangan dan kesehatan jiwa anak.
Perkembangan dan kesehatan jiwa anak dan remaja dapat dipengaruhi oleh pengalaman traumatik seperti kekerasan. Kekerasan yang dialami oleh anak dan remaja akan mempengaruhi bagian otak sebagai pusat emosi. Hasil penelitian sebelumnya menyatakan hippocampus sebagai bagian penting dari sistem limbik yang ada di otak merupakan bagian otak yang paling terdampak pada anak yang pernah mengalami kekerasan. Saat ada stressor maka kadar glukokortikoid seperti kortisol akan meningkat paparan kortisol yan tinggi menyebabkan kerusakan pada hippocampus. Kerusakan pada struktur otak dapat meningkatkan resiko masalah kesehatan jiwa (Teicher & Samson, 2016; Kim et al.,2019).
Dengan demikian, remaja korban kekerasan verbal dan bullying dapat mengalami perubahan pada struktur otak akibat meningkatnya kadar kortisol sebagai efek dari stres yang dialami.
Dampak yang dapat dipredikasi adalah remaja korban kekerasan verbal dan bullying lebih rentan menderita masalah kejiwaan.
Masalah kejiwaan pada korban bullying adalah ansietas, harga diri rendah, depresi, self harm dan drop out dari sekolah (Kowalski & Limber, 2013; Rivers & Noret,2013; Rana et al.,2020;
Armitage, 2021). Harga diri rendah yang dialami anak dapat dipicu oleh gaya pengasuhan
486 orang tua (Aremu, John-Akinola, & Desmennu, 2019). Anak dengan riwayat kekerasan psikologis seperti kekerasan verbal dalam keluarga beresiko mengalami harga diri rendah (Wang et al.,2021). Harga diri rendah yang dialami pada masa anak dan remaja membuat individu lebih sulit dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa (Seim et al.,2021). Harga diri rendah pada remaja merupakan masalah keperawatan jiwa yang perlu ditangani. Intervensi keperawatan mandiri yang dapat dilakukan oleh perawat jiwa adalah terapi afirmasi positif.
Terapi Afirmasi positif merupakan intervensi keperawatan generalis pada keperawatan jiwa.
Afirmasi positif berfokus untuk meningkatkan kepercayaan diri. Berbagai hasil studi menunjukkan bahwa afirmasi diri terbukti bermanfaat dalam berbagai situasi seperti kinerja kepemimpinan berbagai kompetensi kognitif, prestasi akademik dan mengurangi tekanan sosial (Stankov& Crawford, 1997; Hollenbeck& Hall, 2004; Kleitman & Stankov, 2007;
Beckmann et al.,2009 ; Srivastava, 2013; Szpitalak, & Polczyk,2020). Artikel ini berfokus pada penggunaan tindakan afirmasi positif pada klien dengan harga diri rendah. Sebuah in- dept analisis kasus dilakukan dengan menggunakan desain studi kasus. Studi kasus ditampilkan meliputi latar belakang klien, pengkajian, intervensi dan hasil intervensi. Tujuan studi untuk mendeskripsikan laporan kasus asuhan keperawatan pada klien dengan harga diri rendah.
Gambaran kasus
Mahasiswi usia 21 tahun, single, jenis kelamin perempuan dengan status sosial ekonomi menengah. Klien berasal dari kota di Provinsi Papua dan merupakan seorang mahasiswa strata satu tahun ke dua di perguruan tinggi di Jawa Barat.Tahapan asuhan keperawatan yang dilakukan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, tujuan dan intervensi, implementasi dan evaluasi.
Asuhan keperawatan Tahap 1 Pengkajian Keluhan utama
Klien merasa semakin tidak percaya diri sejak kecil. Ia merasa badannya terlalu kurus sulit untuk bergaul dengan orang lain. Klien mengungkapkan mudah kuatir dan sedih. Menurut klien sejak kecil sering dibanding-bandingkan dengan saudara yang lain dan dimarahi oleh ibunya. Saat sekolah juga pernah diejek oleh teman – temannya karena terlalu kurus. Sejak 1 bulan klien semakin sulit konsentrasi, merasa sedih, sulit tidur dan tidak nafsu makan.
Riwayat pengobatan
Klien melakukan konseling untuk pertama kali. Klien belum pernah berkunjung ke pelayanan kesehatan sebelumnya.
487 Pengkajian
Informasi latar belakang klien dan kondisi saat ini dikaji mengacu pada standar praktik psychiatric-mental health nursing (ANA et al., 2014). Format pengkajian memberikan tuntunan melakukan pengkajian riwayat kesehatan masa lalu dan saat ini, pengkajian status mental (perilaku, komunikasi nonverbal, penampilan, pembicaraan, mood dan affect, isi pikir, persepsi, kemampuan kognitif, insight dan penilaian), pengkajian psikososial, pengkajian spiritual, pengkajian sosial budaya (ANA et al., 2014; Halter, 2018).
Interview individu
Kondisi saat ini, klien mengatakan sering merasa tidak percaya diri dan merasa berbeda dari teman-teman di sekitarnya. Hasil skrining menggunakan SRQ-29 (Self Reporting Questinnaire)= 14 (0 - 29). Hasil identifikasi harga diri menggunakan Rosenberg self esteem scale = 18 (10 - 40).
Riwayat masa lalu, sejak kecil sering menerima kekerasan verbal dari Ibu klien dan sering dibanding-bandingkan dengan saudara yang lain. Di sekolah saat SD dan SMP sering diejek oleh teman sekolah. Hal tersebut yang membuat pasien tidak percaya diri dan sedih Klien sering memiliki pikiran untuk mati.
Pengkajian status mental
Klien kooperatif, penampilan bersih dan cara berpakaian rapi. Ekspresi wajah sesuai dan langsung menangis saat menceritakan masa kecilnya. Tidak ditemukan gerakan yang abnormal, klien cenderung menunduk saat wawancara, nada suara pelan dan lambat. Affect sesuai, mood tampak sedih. Tidak ditemukan gangguan proses pikir dan isi pikir. Klien tidak mengalami gangguan persepsi. Tidak ditemukan gangguan kognisi. Klien memiliki pikiran untuk bunuh diri.
Pengkajian psikososial
Klien menilai dirinya jelek karena kurus dan kulitnya gelap. Klien merasa bahwa ibunya membedakan klien, diperlakukan tidak adil dan ibunya lebih sayang kepada kakaknya. Klien tidak pernah mendapat pujian atas apa yang sudah dilakukan sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri. Di lingkungan kampus, klien memiliki perasaan tidak memiliki teman dekat.
Pengkajian spiritual
Klien memegang teguh keyakinan sesuai agama Kristen. Klien menjalankan ibadah sesuai agamanya.
488 Pengkajian sosial budaya
Klien merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Memiliki 2 kakak perempuan, 2 kakak laki – laki, 2 adik perempuan dan 1 adik laki-laki. Klien berasal dari suku Sentani Papua dan keluarga tinggal di Papua. Sejak kuliah klien tinggal sendiri di Bandung.
Tahap 2 : Penetapan Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan sebuah clinical judgement tentang respon, kebutuhan mengenai gangguan atau masalah kesehatan jiwa baik yang aktual maupun potensial (Halter, 2018). Diagnosa keperawatan yang diangkat mengacu pada standar diagnosis keperawatan Indonesia (Tim Pokja SDKI DPP PPNI 2016), yaitu :
Kategori : Psikologis Subkategori : Integritas Ego D.0086 Harga Diri Rendah Kronis
Tahap 3 : Penetapan tujuan dan intervensi
Intervensi difokuskan pada membangun hubungan saling percaya dengan klien, meningkatkan harga diri dan memperkuat keterampilan koping yang efektif. Intervensi yang diberikan dalam bentuk positive affirmation diberikan dalam 4 sesi setiap sesi selama 30 menit.
Tahap 4 : Implementasi
Implementasi dalam bentuk terapi individu untuk membantu klien mengenal potensi diri, melakukan tindakan sesuai kemampuan diri dan meningkatkan keterampilan koping.
Proses implementasi meliputi : Mengenal potensi diri
Perawat membantu klien untuk mengenal aspek positif yang dimiliki. Klien diminta menuliskan aspek positif yang dimiliki dalam buku catatan. Potensi atau kemampuan ini penting dalam meningkatkan harga diri klien.
Mengembangkan kegiatan positif sesuai kemampuan diri
Perawat membantu klien untuk melakukan kemampuan yang telah dituliskan dalam buku catatan. Keberhasilan dari latihan kemampuan akan menimbulkan perasaan berharga dan meningkatkan harga diri klien .
Melatih koping efektif
Perawat membantu klien untuk mengatasi masalah yang dialami dengan cara yang efektif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Latihan ini membentuk kemampuan klien dalam menghadapi masalah dengan cara yang adaptif.
Self affirmation
Self affirmation membuat klien mampu merefleksikan nilai inti yang mampu memberi individu pandangan yang lebih luas tentang diri. Self affirmation membantu klien untuk
489 mengurangi stres, mengatasi situasi yang dianggap sebagai ancaman terhadap integritas atau kompetensi diri dan membuat klien lebih terbuka untuk merubah perilaku.
Tahap 5 : Evaluasi
Evaluasi dari implementasi yang dilakukan meningkatnya harga diri klien, klien memiliki memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan yang meningkatkan harga diri dan melakukan keterampilan koping yang telah dilatihkan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa harga diri klien meningkat berdasarkan intrumen harga diri Rosenberg dari 18 menjadi 22 dan pengukuran SRQ 29 menurun dari 14 menjadi 4.
Pembahasan
Pengkajian individu menunjukkan menunjukkan bahwa klien memiliki harga diri rendah, keterampilan problem solving yang buruk, insecure dengan tubuhnya yang kurus dan memiliki konflik interpersonal dengan ibunya. Kekerasan verbal dan bullying dapat menjadi faktor predisposisi masalah kesehatan jiwa pada individu. Masalah yang dialami oleh klien sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya bahwa anak dan remaja yang mengalami stres dalam kehidupan sehari- hari dan mengalami kejadian traumatik akan berpengaruh terhadap kesehatan jiwanya (Steel et al.,2006; Silove et al.,2007; Cleary et al.,2018). Trauma masa anak telah terbukti berkontribusi pada konsep diri yang rendah dan berpotensi mempengaruhi persepsi korban trauma tentang evaluasi sosial dari orang lain (Zhang et al.,2022). Hasil studi kasus didapatkan klien menyatakan adanya perasaan malu karena keluarganya sering mengatakan dirinya terlalu kurus dan saat sekolahpun sering diejek kurus oleh temannya.
Perkataan negatif tentang gambaran tubuh dari lingkungan dapat diinternalisasi oleh individu sehingga dapat muncul ungkapan rasa malu dan harga diri rendah. Dampak dari proses internalisasi adalah penurunan harga diri, perasaan dipermalukan, ketakutan akan masa depan, isolasi sosial dan kondisi kesehatan jiwa yang buruk (El Ayadi et al.,2020).
Asuhan keperawatan jiwa dengan intervensi yang diberikan dalam bentuk positive affirmation. Latihan yang dilakukan bertujuan memperluas perspektif individu tentang diri secara keseluruhan. Latihan positif afirmasi dilakukan oleh klien bersama perawat maupun mandiri dapat mengurangi emosi negatif dan meningkatkan harga diri. Self affirmation bertujuan dalam mempertahankan integritas diri saat adanya ancaman pada harga diri. Self affirmation dapat diberikan secara kelompok ataupun individu. Self affirmation bermanfaat untuk meningkatkan harga diri, meningkatkan kinerja kognitif dan akademik serta mengurangi kadar kortisol dan efinefrin (Spencer-Rodgers, et al., 2016).
Hasil evaluasi pasca pemberian terapi afirmasi positif diperoleh peningkatan harga diri. Hal tersebut dinyatakan dari hasil evaluasi subyektif yang menyatakan memiliki perasaan berharga dan hasil evaluasi obyektif menggunakan instrumen harga diri dari Rosenberg meningkat dari 18 menjadi 22. Studi kasus yang dilakukan sejalan dengan hasil penelitian bahwa self affirmationi dapat mengurangi resistensi diri terhadap situasi yang mengancam.
Self affirmation dapat meningkatkan pencapaian akademik, meningkatkan harga diri dan mengubah perilaku (Hill et al.,2020).
490 Implikasi asuhan keperawatan
Klien dengan harga diri rendah akibat kekerasan verbal dan riwayat bullying beresiko mengalami ansietas dan depresi. Asuhan keperawatan jiwa dengan fokus intervensi terapi afirmasi positif membantu klien memahami, menerima dan mengembangkan aspek positif dari dirinya.
Keterbatasan studi kasus
Studi kasus ini merupakan analisa mendalam pada satu kasus yang sulit digeneralisasi pada semua klien harga diri rendah. Faktor karakteristik klien, kontek keluarga dan hubungan therapeutik dapat mempengaruhi hasil dari studi.
Kesimpulan
Terapi afirmasi positif yang diberikan pada klien dengan harga diri rendah dapat meningkatkan harga diri klien. Asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dapat menurunkan masalah kejiwaan pada klien berdasarkan hasil skrining SRQ 29 sebelum diberikan asuhan keperawatan dan setelah diberikan asuhan keperawatan.
Rekomendasi
namun diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat penerapan terapi afirmasi positif pada berbagai tahap tumbuh kembang.
DAFTAR PUSTAKA
Aremu, T. A., John-Akinola, Y. O., & Desmennu, A. T. (2019). Relationship Between Parenting Styles and Adolescents' Self-Esteem. International quarterly of community health education, 39(2), 91–99. https://doi.org/10.1177/0272684X18811023
Armitage R. (2021). Bullying in children: impact on child health. BMJ paediatrics open, 5(1), e000939. https://doi.org/10.1136/bmjpo-2020-000939
Beckmann, N., Beckmann, J. F., & Elliott, J. G. (2009). Self-confidence and performance goal orientation interactively predict performance in a reasoning test with accuracy feedback. Learning and Individual Differences, 19(2), 277-282.
491 Cleary, S. D., Snead, R., Dietz-Chavez, D., Rivera, I., & Edberg, M. C. (2018). Immigrant Trauma and Mental Health Outcomes Among Latino Youth. Journal of immigrant and minority health, 20(5), 1053–1059. https://doi.org/10.1007/s10903-017-0673-6
El Ayadi, A. M., Barageine, J. K., Miller, S., Byamugisha, J., Nalubwama, H., Obore, S., Korn, A., Sukumar, S., Kakaire, O., Mwanje, H., Lester, F., & Turan, J. M. (2020).
Women's experiences of fistula-related stigma in Uganda: a conceptual framework to inform stigma-reduction interventions. Culture, health & sexuality, 22(3), 352–367.
https://doi.org/10.1080/13691058.2019.1600721.
Hill, Z., Spiegel, M., & Gennetian, L. A. (2020). Pride-Based Self-Affirmations and Parenting Programs. Frontiers in psychology, 11, 910.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.00910
Hollenbeck, G. P., & Hall, D. T. (2004). Self-confidence and leader performance.
Organizational dynamics, 33(3), 254-269.
Kleitman, S., & Stankov, L. (2007). Self-confidence and metacognitive processes. Learning and individual differences, 17(2), 161-173.
Kim, D., Yoo, J. H., Park, Y. W., Kim, M., Shin, D. W., & Jeong, B. (2019). Anatomical and Neurochemical Correlates of Parental Verbal Abuse: A Combined MRS-Diffusion MRI
Study. Frontiers in human neuroscience, 13, 12.
https://doi.org/10.3389/fnhum.2019.00012
Kowalski, R. M., & Limber, S. P. (2013). Psychological, physical, and academic correlates of cyberbullying and traditional bullying. The Journal of adolescent health : official publication of the Society for Adolescent Medicine, 53(1 Suppl), S13–S20.
https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2012.09.018
Mohammadi, F., Rakhshan, M., Molazem, Z., Zareh, N., & Gillespie, M. (2019). Parents' Perspectives on Family Violence against Children with Autism. Archives of Iranian medicine, 22(9), 505–510.
Rana, M., Gupta, M., Malhi, P., Grover, S., & Kaur, M. (2020). Prevalence and correlates of bullying perpetration and victimization among school-going adolescents in Chandigarh, North India. Indian journal of psychiatry, 62(5), 531–539.
https://doi.org/10.4103/psychiatry.IndianJPsychiatry_444_19
Rivers, I., & Noret, N. (2013). Potential suicide ideation and its association with observing bullying at school. The Journal of adolescent health : official publication of the Society
for Adolescent Medicine, 53(1 Suppl), S32–S36.
https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2012.10.279
Seim, A. R., Jozefiak, T., Wichstrøm, L., Lydersen, S., & Kayed, N. S. (2021). Self-esteem in adolescents with reactive attachment disorder or disinhibited social engagement
492
disorder. Child abuse & neglect, 118, 105141.
https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2021.105141
Silove, D., Austin, P., & Steel, Z. (2007). No refuge from terror: the impact of detention on the mental health of trauma-affected refugees seeking asylum in Australia.
Transcultural psychiatry, 44(3), 359–393. https://doi.org/10.1177/1363461507081637
Srivastava, S. K. (2013). To Study the Effect of Academic Achievement on the Level of Self Confidence. Journal of Psychosocial Research, 8(1).
Stankov, L., & Crawford, J. D. (1997). Self-confidence and performance on tests of cognitive abilities. Intelligence, 25(2), 93-109.
Steel, Z., Silove, D., Brooks, R., Momartin, S., Alzuhairi, B., & Susljik, I. (2006). Impact of immigration detention and temporary protection on the mental health of refugees. The British journal of psychiatry : the journal of mental science, 188, 58–64.
https://doi.org/10.1192/bjp.bp.104.007864
Szpitalak, M., & Polczyk, R. (2020). Reducing interrogative suggestibility: The role of self- affirmation and positive feedback. PloS one, 15(7), e0236088.
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0236088
Teicher, M. H., & Samson, J. A. (2016). Annual Research Review: Enduring neurobiological effects of childhood abuse and neglect. Journal of child psychology and psychiatry, and allied disciplines, 57(3), 241–266. https://doi.org/10.1111/jcpp.12507
TIM Pokja SDKI DPP PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia definisi dan indikator diagnostik edisi 1 cetakan III. Jakarta : DPP PPNI
Wang, Y., Ma, Z., Wilson, A., Hu, Z., Ying, X., Han, M., Cui, Z., & Chen, R. (2021).
Psychopathological symptom network structure in transgender and gender queer youth reporting parental psychological abuse: a network analysis. BMC medicine, 19(1), 215.
https://doi.org/10.1186/s12916-021-02091-5
Zhang, X., Luo, L., Hu, J., Gao, Z., & Gao, S. (2022). More Exposure to Childhood Trauma Associates with Reduced Displeasure at Self-Referential Criticism. Journal of child &
adolescent trauma, 15(3), 893–898. https://doi.org/10.1007/s40653-021-00429-y