Judul Skripsi: Analisis Jarīmah Qishās Terhadap Tindak Pidana Penuntutan yang Menyebabkan Kematian (Putusan Kajian Nomor 210/Pid.B/2020/Pn.Parepare). Judul Skripsi: Analisis Jarīmah Qishās Terhadap Tindak Pidana Penganiayaan yang Menyebabkan Kematian (Putusan Kajian Nomor 210/Pin.B/2020/Pn.Pre).
Latar Belakang Masalah
Penggolongan pelanggaran jenis ini didasarkan pada sanksi yang akan dijatuhkan kepada pelaku apabila perbuatannya memenuhi unsur diyat dan Qishās. Berdasarkan penjelasan di atas, menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian dalam bentuk proposal disertasi yang berjudul: “ANALISIS JARĪMAH QISHĀS TERHADAP TINDAKAN PIDANA PENYIKSAAN YANG MENYEBABKAN KEMATIAN”.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Definisi Istilah
Penjelasan dalam bagian ini adalah bahwa setiap orang atau orang-orang yang melakukan tindak pidana menurut bagian di atas diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun (12 tahun) dan bila mengakibatkan kematian, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya. jangka waktu yang dapat diperpanjang sampai dengan lima belas tahun (15 tahun). Penjelasan dalam pasal ini adalah barangsiapa melanggar pasal ini, akan diancam dengan pasal yang termasuk dalam tindak pidana penganiayaan yaitu pasal dan 355 plus (sepertiga) bila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap ibu, ayah, dan atasannya.
Tinjauan Penelitian Relevan
17 Roihan, “Pertanggungjawaban Pidana Penganiayaan yang Menimbulkan Kematian Dalam Perspektif Hukum Pidana Positif dan Hukum Pidana Islam (Analisis Putusan No. 124/PID.B/2014/PN. Ms.).” (Jakarta: UI, 2021), hal. 27/Pid.B/2019/PN.Kdl tentang Penganiayaan yang Berakhir dengan Kematian” adapun hasil penelitian dari tesis Nur Cholis yaitu: 1.
Tinjaun Teoritis
- Teori Pertimbangan Hakim
- Konsep Qishāsh
Pendekatan saintifik dijadikan pengingat bahwa seorang hakim tidak boleh hanya mengandalkan intuisi dan naluri dalam memutus suatu perkara, melainkan harus dibarengi dengan pengetahuan hukum dan peningkatan pengetahuan teoritis. d.) Teori Pendekatan Pengalaman. Penalaran seorang hakim harus mempunyai dasar dan konsep yang jelas agar penerapan hukum membawa keadilan bagi semua pihak yang bersengketa. P.). Menurut Van Apeldoom, seorang hakim dalam memproses suatu perkara pidana harus bersikap adil dan juga harus mengacu pada aturan yang berlaku.
Putusan hakim atas perkara tersebut merupakan puncak perkara di pengadilan. Qishāsh bagian tubuh adalah hukuman bagi pelaku kejahatan yang melukai, merusak atau menghilangkan fungsi bagian tubuh. A.
METODE PENELITIAN
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, kamus hukum, hasil penelitian berupa laporan, jurnal hukum dan sumber lain yang dijadikan pelengkap sumber data primer.29. Teknik pengumpulan bahan hukum merupakan metode yang paling strategis dalam penelitian untuk menjawab berbagai rumusan masalah dalam penelitian ini 30 Dan metode pengumpulan bahan hukum yang digunakan penulis dalam penelitian ini masing-masing. Prinsip analisis data adalah proses menafsirkan capaian pengumpulan data guna menghasilkan data yang dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah peneliti.
Penyajian data dalam penelitian kualitatif melibatkan suatu proses dalam bentuk grafik, ringkasan, hubungan antar kriteria yang berbeda dan kesimpulan dalam bentuk grafik atau tabel. Data yang disajikan harus disusun secara sistematis berdasarkan kategorisasi yang telah ditetapkan, yaitu perincian kategori, konsep, dan lain-lain, yang mudah dipahami.
Penganiayaan yang menyebabkan kematian dalam hukum pidana
Oleh karena itu kesengajaan dalam melakukan kejahatan merupakan salah satu unsur yang harus ada, yaitu adanya tujuan untuk melukai atau menimbulkan rasa sakit. Ketika orang tersebut mempunyai niat dan tindakan untuk menimbulkan rasa sakit, cedera, atau kerusakan pada kesehatan orang lain.37. Tindak pidana terhadap badan yang disebabkan oleh kelalaiannya tercantum dalam Pasal 360 Bab XXI KUHP yang mengenakan kualifikasi akibat kelalaiannya yang menimbulkan kerugian pada orang lain;
Tindak pidana yang dimaksud tergolong penganiayaan, sebagaimana tertuang dalam Bab XX Buku II Pasal 351-358 KUHP. Sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana penuntutan yang mengakibatkan kematian dalam Surat Keputusan nomor 210/Pid.B/2020/Pn.Pre.
Sanksi Pidana Bagi Pelaku Tindak Pidana Penganiayaan Yang Menyebabkan
Dalam Pasal 355 KUHP tentang kematian karena penganiayaan berat yang disengaja, diancam dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun apabila seseorang melakukan penganiayaan berat dengan sengaja. Apabila perbuatan itu mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. Dalam pemberian sanksi kepada pelaku penganiayaan yang mengakibatkan kematian diwujudkan dalam berbagai tindakan yang dilakukan, sehingga tindakan yang dilakukan tersebut berakhir dengan suatu tindak pidana.
Melalui penjelasan tersebut maka seseorang yang menjadi pelaku penganiayaan yang mengakibatkan kematian dapat digolongkan dalam penganiayaan biasa, ringan, dan berat menurut unsur-unsur yang ada, seperti halnya dalam Putusan Nomor 210/Pid.B/2020/Pn.Parepare, dimana pelaku dikenakan Pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 10 (sepuluh) tahun. Parepare, pelaku penganiayaan, dijerat dengan dakwaan alternatif yaitu dakwaan pertama mengacu pada Pasal 338 KUHP yaitu tindak pidana terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja (pembunuhan biasa dalam bentuk pokoknya) dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun. (lima belas) tahun, dakwaan kedua ada dalam KUHP pasal 351 ayat 3, tentang penganiayaan biasa dengan pidana penjara 7 (tujuh) tahun.
35
Kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian dalam Putusan Nomor
Bahwa korban dirawat di rumah sakit selama 10 (sepuluh) hari dan kondisi kesehatan korban terus menurun karena terus mengeluarkan darah; Bahwa korban keluar dari RS atas permintaan keluarga karena kehabisan uang, selanjutnya korban dibawa ke rumah orang tuanya di Desa Mario Rio, Mallusetasi, Kabupaten Barru; Bahwa korban meninggal beberapa jam setelah keluar dari rumah sakit, bahwa korban tidak mempunyai riwayat kesehatan sebelumnya;
Bahwa saksi adalah dokter yang memeriksa korban pada tanggal 20 Juli 2020 sekitar pukul 02.00 WITA di IGD RSUD Andi Makksau; Menimbang bahwa selanjutnya majelis hakim akan menilai akibat yang timbul dari penganiayaan yang dilakukan terdakwa terhadap korban sebagai berikut.
Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Dalam Putusan
Majelis Pengadilan Negeri Kota Parepare merujuk pada ketentuan pasal 351 ayat 3 (tiga) KUHP tentang penganiayaan biasa. Struktur hukum yang dimaksud mengacu pada beberapa lembaga penegak hukum di Indonesia seperti kejaksaan, kepolisian, dan juga pengadilan. Sebagus apapun pengaturan struktur hukum untuk melaksanakan aturan hukum yang telah ditetapkan dan sebaik apapun kualitas substansi hukumnya tanpa didukung oleh budaya hukum dari masyarakat.
Hukum merupakan alat untuk mengatur masyarakat dan juga sebagai rekayasa sosial yang tidak hanya sekedar rancangan tetapi harus diwujudkan, untuk menjamin tercapainya fungsi hukum sebagai rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik, tidak hanya diperlukan kesiapan hukum dalam masyarakat. pengertian ketentuan atau peraturan hukum tetapi juga adanya jaminan bagi terwujudnya peraturan hukum dalam praktek hukum atau jaminan akan adanya penegakan hukum yang baik. Friedman menyatakan bahwa unsur-unsur tersebut di atas merupakan faktor penentu dapat berjalannya sistem peradilan dengan baik, sejalan dengan pendapat Soerjono Soekanto yang mengatakan bahwa ketiga komponen tersebut merupakan bagian dari faktor penegakan hukum yang tidak dapat diabaikan, yaitu, jika diabaikan, dapat mempengaruhi penegakan hukum yang tidak tepat.
Jarīmah Qishāsh Penganiayaan Yang Menyebabkan Kematian
Kondisi ini penting untuk dicermati karena niat merupakan syarat utama untuk dikatakan membunuh dengan sengaja, karena niat tersebut tidak berwujud, ketiga ulama mazhab di atas mengaitkan niat tersebut dengan alat yang digunakan pelaku ketika melakukan pembunuhan tersebut. pelanggar. pembunuhan. Maka untuk membuktikan apakah pelaku tidak berniat menghilangkan nyawa korbannya, lihat saja peralatan yang digunakan pelaku. Apabila alat-alat yang digunakan biasanya tidak menimbulkan akibat yang fatal seperti pada umumnya yaitu: kerikil, tongkat kayu, tongkat dan sebagainya, maka tidak dapat dikatakan bahwa pembunuhan tersebut disengaja.44. Adapun alat pembunuh yang digunakan menurut Imam Abu Hanifah, alat yang digunakan dalam pembunuhan yang disengaja haruslah sesuatu yang biasanya mematikan dan penggunaannya dalam bentuk yang membunuh dan mematikan, yaitu setiap alat yang melukai (tajam) atau dapat menusuk. potong (runcing). ) yang mempunyai benda tajam dan retak, baik itu besi, timah, tembaga, kayu runcing atau benda lain seperti pedang, senapan, pisau, tombak, anak panah dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut ulama Syafi’iyah dan ulama Hanabilah mengatakan bahwa alat-alat yang digunakan dalam pembunuhan dengan sengaja berupa alat-alat yang biasanya mematikan, baik berupa benda tajam maupun benda tumpul. Manakala menurut ulama Maliki pula, alat dalam membunuh dengan sengaja ialah sebarang alat yang biasanya boleh membawa maut seperti benda tajam seperti senjata tajam dan benda tumpul seperti batu.
Sanksi Tindak Pidana Penganiayaan Yang Menyebabkan Kematian Dalam
Ta'zir adalah hukuman yang akan diterapkan pada kejahatan yang mana ta'zir jarimah ini tidak diatur dalam hukum hadhad. Dari ayat dan hadis tersebut para ulama fiqh sepakat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan berencana adalah qishās. Dilihat dari hukum Islam, tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan kematian dalam putusan nomor 210/Pid.B/2020/Pn.Parepare, terdakwa Ardyansa alias Ardy bin Taufik melakukan penganiayaan dengan menggunakan besi cor berujung runcing berbentuk a. tombak (menikam) dan menimbulkan luka. Mulai dari menikam korban hingga meninggal dunia, dalam hukum Islam penganiayaan ini termasuk dalam pembunuhan berencana.
Adapun mengenai penjatuhan sanksi, sesuai dengan berbagai pendapat yang dikemukakan penulis dan hadis yang telah dijelaskan di atas, terdakwa Ardyansa alias Ardy bin Taufik diganjar hukuman pokok yaitu qishās. Namun dalam putusan nomor 210/Pid.B/2020/Pn.Parepare, terdakwa Ardyansa alias Ardy bin Taufik diampuni oleh keluarga atau wali korban, sehingga hukuman pokok qishāsh dibatalkan dan diganti dengan hukuman diyat.
Kesimpulan
Dan juga hal yang meringankan yaitu keluarga korban memaafkan terdakwa dan terdakwa menyesalinya serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Jika dilihat dari hukum Islam, Keputusan no. 210/Pid.B/2020/PN.Pre, perbuatan Ardyans alias Ardy bin Taufik yang melakukan penganiayaan menggunakan besi cor berujung tajam berbentuk tombak dan korban meninggal dunia akibat luka tusuk yang dilakukan pelaku. , dalam hukum Islam penganiayaan ini termasuk dalam pembunuhan yang disengaja. Qatl Al-'Amd merupakan pembunuhan berencana dengan menggunakan alat yang dapat mematikan. Mengenai penjatuhan sanksi, menurut beberapa pendapat yang dikemukakan penulis dan hadis yang telah dijelaskan di atas, hukuman pokok yang dijatuhkan kepada terdakwa Ardyans alias Ardy bin Taufik yaitu hukuman qishas.
Saran
Agar aparat penegak hukum atau pemerintah lebih memperhatikan upaya preventif yang bertujuan agar tidak terjadi lagi penyerangan yang menimbulkan kematian, maka sebaiknya aparat penegak hukum memperketat aturan dan masyarakat tidak lagi mampu menyelesaikan permasalahan melalui kekerasan, karena negara kita adalah negara hukum dan bisa bersikap dewasa dalam bertindak. “Peninjauan kembali terhadap tindak pidana penganiayaan berat (analisis putusan hakim nomor: 372/Pid.B/2020/PN Jkt. Utr).” Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2021. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian janin oleh suami terhadap istri dalam perspektif hukum pidana Islam.” UIN Sunan Kalijaga, 2014.
“Penanganan Tindak Pidana Anak di Bawah Umur Dalam Kasus Penganiayaan di Pengadilan Negeri Parepare (Analisis Fiqh Jināyah).” IAIN PAREPARE, 2021. Pertanggungjawaban pidana atas penuntutan yang mengakibatkan kematian dalam perspektif hukum pidana positif dan hukum pidana Islam (analisis putusan no.