• Tidak ada hasil yang ditemukan

18.2500.045 iMRAN RAHMAN .pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "18.2500.045 iMRAN RAHMAN .pdf"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Sederhananya, menurut sebagian ulama, orang yang melakukan aborsi setelah hamil (40 hari atau lebih) wajib membayar sepersepuluh dari jatahnya secara sengaja. Apabila melakukan aborsi setelah meledaknya ruh dalam kandungan yaitu setelah usia kehamilan 4 (empat) bulan, maka seluruh ulama.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Memberikan hasil yang bermanfaat dalam pemberian dan pengembangan ilmu hukum, terkait penerapan kepolisian sebagai pelindung hukum dan bentuk perlindungan hukum terhadap korban kejahatan aborsi. Memberikan pengetahuan lebih mendalam mengenai perlindungan hukum menurut hukum Negara Republik Indonesia yang telah ditetapkan, dan memberikan pemahaman mengenai tindak pidana aborsi serta upaya yang dilakukan agar tindak pidana tersebut dapat dihindari.

TINJAUAN PUSTAKA

  • Tinjauan Penelitian Relevan
  • Kerangka Teori
  • Kerangka Konseptual
  • Kerangka pikir

Persamaan penelitian terdahulu dengan peneliti adalah sama-sama melakukan penelitian mengenai tindak pidana aborsi. Sedangkan perbedaan keduanya terletak pada objek penelitiannya, peneliti sebelumnya menyelidiki upaya penegakan konsep Hifzhu Al-nasl untuk menghukum pelanggar, sedangkan peneliti menggunakan tindak pidana Iijhad dalam Putusan Nomor 52/Pid.B/2019/PN Bar (Perbandingan). kajian hukum pidana Islam dan hukum positif Dalam penelitian Miftahul Utami yang berjudul “Tindak Pidana Aborsi Pemerkosaan Dalam Aspek Kesehatan Dari Perspektif Hukum dan Hukum Islam”.

Upaya untuk mencapai tujuan hukum pidana adalah dengan memberikan sanksi kepada pelaku tindak pidana. Berdasarkan judul yang saya usulkan, maka saya akan fokus melakukan penelitian mengenai tindak pidana Iijhad pada Putusan Nomor 52/Pid.B/2019/PN BAR (Studi Perbandingan Hukum Pidana Islam dan Hukum Positif). Hukuman dalam kasus aborsi merupakan kejahatan umum dengan memberikan hukuman kepada pelaku kejahatan umum.

Analisis peneliti terhadap pertimbangan hakim terhadap pelaku tindak pidana aborsi remaja memperhatikan ketentuan pidana maksimum pemidanaan pada Pasal 77A ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua. undang-undang no. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam undang-undang dan undang-undang no. 8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana. hakim menghukum terdakwa tindak pidana penahanan selama 2 tahun dan pidana denda sebesar Rp.

METODE PENELITIAN

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan ini diartikan sebagai penelitian hukum klinis dengan metode kualitatif dan jenis penelitian lapangan (FieldResearch). Hal ini karena tujuannya bukan untuk menciptakan teori, tetapi untuk menguji teori tersebut dalam situasi dunia nyata. Penelitian kualitatif yang digunakan peneliti adalah penelitian yang mendeskripsikan tentang mekanisme peninjauan dan penyidikan tindak pidana pembunuhan anak, penilaian positif hukum kasus aborsi di kabupaten Barru, kajian terhadap putusan nomor 52/Pid.B/2019 / Bilah PN.

Dan bagaimana kedudukan hukum Islam terhadap pembelaan hukum terhadap tindak pidana Jarimah Iijhad (aborsi) di Kabupaten Barru. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan harapan memperoleh makna dari objek dan subjek yang penulis teliti.29.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Kemudian, dalam putusan perkara pidana di Pengadilan Negeri Barru, Salmia (terdakwa) sah memutus dan menegaskan bersalah melakukan tindak pidana aborsi, Salmia divonis 2 tahun penjara dan denda Rp. dengan ketentuan bila denda tidak dibayarkan maka harus diringankan menjadi 2 tahun penjara. Jika unsur Pasal 77A Ayat (1) UU RI Nomor 17 tentang Penetapan PP, bukan UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam undang-undang sudah tercakup semua, maka terdakwa harus terbukti secara hukum dan yakin telah melakukan tindak pidana seperti dalam dakwaan alternatif kedua. Berdasarkan hasil pertimbangan hakim, dengan mempertimbangkan aspek pelaku perbuatan aborsi, maka dianggap mudah bagi terdakwa, jika dilihat dari penelitian yang relevan pada pembahasan sebelumnya yang masuk ke dalam bidang kriminologi atau hukum. aspek dalam menentukan tindak pidana, tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 77A Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia no. 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang no. 1981 tentang hukum acara.

Padahal, dalam putusan PN Barru nomor 51/Pid.B/2019/PN Bar, hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa mengandung tiga unsur dakwaan alternatif kedua, yang pertama adalah unsur subjektif masing-masing orang. dilakukannya tindak pidana aborsi, yang kedua adalah dilakukannya aborsi terhadap anak yang dilahirkan mati, mengandung unsur kesengajaan, yang ketiga adalah alasan dan tata cara yang salah berdasarkan ketentuan undang-undang. Pemidanaan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh juri untuk menghukum terdakwa di persidangan atas perbuatannya.Hakim tidak hanya memberikan hukuman berdasarkan ancaman lamanya suatu perkara tetapi hakim juga memperhatikan hal-hal yang dapat memberikan keringanan. bagi terdakwa dalam kenyataan persidangan, sebagaimana dalam putusan pemeriksaan nomor 52/Pid.B/2019/PN Bar, dimana putusan tersebut mempunyai kekuatan hukum tetap (Incracht) dimana terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana berencana. pembunuhan dengan ancaman 2 tahun penjara dan pidana denda Rp, dengan ketentuan tidak membayar denda tersebut maka harus diganti dengan pidana penjara 2 bulan. Pemberian hukuman pidana kepada terdakwa harus memberikan efek jera yang menjamin pendidikan bagi pelaku, pemidanaan sebagai tindakan penghukuman terhadap pelaku tindak pidana yang biasanya dibenarkan karena aspek-aspek yang diuraikan dalam pemidanaan mempunyai dampak positif. akibat yang ditimbulkan bagi terdakwa, korban atau orang lain dalam masyarakat, menjaga keharmonisan dan keseimbangan sosial dalam masyarakat.

Analisa pidana Islam terhadap pelaku ijhad atau tindak pidana aborsi dilarang keras dalam hukum Islam, apalagi bila usia kehamilan sudah mencapai 7 (tujuh) bulan, artinya telah ditiupkan ruh kepada anak dalam kandungan dan hal ini termasuk melanggar. Prinsip maqashid syariah karena menghilangkan jiwa anak, maka hukuman yang dijatuhkan dalam hukum pidana Islam adalah pembayaran ghurrah.

Jenis dan Sumber Data

Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data

Uji Keabsahan Data

Teknik Analisis Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pertimbangan hakim terhadap kasus ijhad (aborsi) pada putusan

Pertimbangan hakim terhadap tindak pidana ijhad kasus Salmia (terdakwa) pada mulanya diambil pada hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa, yaitu faktor-faktor yang memberatkan yang terdiri dari perbuatan terdakwa yang membuat masyarakat tidak nyaman dan perbuatan terdakwa mencelakakan. dia dalam bahaya. kehidupan. Berdasarkan pertimbangan hakim, terdakwa diberikan alternatif dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum, sehingga majelis hakim berdasarkan fakta hukum menetapkan dakwaan alternatif kedua sebagaimana diatur dalam Pasal 77A ayat. 1 Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Ketentuan Negara Kompensasi. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi undang-undang. Unsur-unsur putusan hakim yang terpenuhi adalah semua orang yang melakukan aborsi terhadap anak dalam kandungan dengan sengaja dengan cara dan alasan yang salah sesuai dengan peraturan perundang-undangan, karena semua unsur tersebut dianggap oleh majelis hakim dan dianggap memenuhi unsur-unsur tersebut. kejahatan aborsi. Terdakwa melakukan hal tersebut.

Majelis hakim menilai orang tua Salmia (tersangka) bersedia bertanggung jawab dan mengawasi anaknya atas perbuatan anaknya. Salmia (tersangka) bersifat korporasi. Karena fakta-fakta tersebut terkait dengan bukti-bukti yang diperkuat oleh para saksi dan terdakwa di persidangan, maka jelas terlihat bahwa terdakwa dengan sengaja melakukan aborsi terhadap anak dalam kandungan sehingga menyebabkan bayi tersebut meninggal, menurut majelis hakim. unsur kedua pertimbangan hukum di atas bahwa “melakukan aborsi dengan sengaja terhadap anak yang masih dalam kandungan” telah terpenuhi. Majelis hakim dianggap sebagai salah satu alasan untuk merancang dan membentuk undang-undang untuk menghukum tersangka.

Hakim memperhatikan konstruksi penemuan dan menentukan keseriusan hukum dalam perkaranya, hakim memberikan kepastian hukum tentang kelengkapan tindak pidana dan hakim memberikan perlindungan kepada masyarakat agar terhindar dari tindak pidana aborsi.

Analisis hukum Islam terhadap kasus Ijhad pada putusan nomor

Oleh karena itu, keputusan hakim berdasarkan pertimbangan hakim adalah sesuai dengan radius ta’zir karena hukumannya cukup memberi manfaat bagi semua orang. Manfaat yang dibayarkan hakim dari besaran denda yaitu Rp50.000,00 sesuai dengan hukum Islam yaitu “ta’zir yaduru ma’a maslahah” yang artinya hukum ta’zir didasarkan pada pertimbangan kemanfaatan. dengan referensi. Analisis dalam hukum pidana Islam, pelaku aborsi dapat dipidana dengan membayar ghurrah karena menghilangkan nyawa, dimana pembayaran “ghurrah” merupakan kriteria hukuman yang pertama kali disebutkan dalam bab diyat.

Hukuman yang dijatuhkan kepada tersangka termasuk dalam golongan “jarimah ta’zir” atau diyat, dimana bentuk hukumannya tetap mengikuti hukum positif karena hak asasi manusia, namun menurut hukum Islam tersangka wajib menjalani hukuman yang dijatuhkan padanya. diputuskan. karena tersangka telah baligh dan layak untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, hal tersebut dilakukan tersangka dan juga berdasarkan prinsip maqashid syariah yaitu pemusnahan ruh. Ta'zir ditentukan dari besar ke kecil atau tinggi dan minimal pidananya ditentukan oleh penguasa negara atau Ulil Amri yang diberi kekuasaan untuk mengaturnya, sesuai dengan perbuatan dan kejahatan yang dilakukan pelaku yang menyimpang dari keumuman. aturan . ketentuan atau perbuatan asusila yang dilakukan. Baik bentuk jarimah maupun hukumannya tidak diterapkan secara rinci pada jarimah ta'zir Al-Qur'an dan hadis.

Jarimah ta'zir yang berkaitan dengan pembunuhan sama dengan hukuman mati (qishas) yang dapat dimaafkan, sehingga hukumannya diubah menjadi diat, Ulil Amri berhak menjatuhkan hukuman ta'zir jika hukuman diat dimaafkan tetap dan dipandang lebih bermanfaat dan jarimah. Pembunuhan lain yang dapat menimbulkan ancaman ta'zir adalah upaya membunuh seseorang dengan racun, namun karena imunitas tubuh tidak mengakibatkan kematian orang tersebut. Manfaat yang ditentukan oleh hakim dari besarnya denda yang dibayarkan yaitu Rp sesuai dengan hukum Islam yaitu “ta’zir yaduru ma’a maslahah” yang artinya hukum ta’zir didasarkan pada pertimbangan manfaat dengan mengacu pada dengan prinsip-prinsip keadilan sosial, yang tidak termasuk pidana penjara. Selama 2 (dua) tahun tersebut denda yang dibayarkan sebesar itu memberikan manfaat kepada keluarga atau penerima pembayaran denda tersebut dan hal ini juga berdasarkan asas hukum Islam yaitu lajarimata wa la uqubata illa binasshin (tidak ada pidananya kecuali ada teks yang menunjukkannya).

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Harapan penulis kepada aparat penegak hukum, dalam memutuskan hukuman bagi pelanggar harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mempertimbangkan keadaan yang berbeda dengan yang tercantum dalam keputusan mengenai keadaan yang meringankan dan memberatkan. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah al-Haditsah tentang Masalah Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hal.44. Chaerul Huda, Tinjauan Kritis Terhadap Teori Pemisahan Kejahatan dan Tanggung Jawab Pidana, (cet.I: Jakarta, 2011).

Dompet Dhuaa, Hukum Diyat dan Kafarat untuk Aborsi Kehamilan, https://zakat.or.id/english- Hukum-diyat-dan-kafarat- because-menggugurkan-content/, diakses Minggu 16 Oktober 2022. Kementerian Agama Selatan Kanwil Sumatera Pandangan Islam Melawan Aborsi, https://sumsel.kemenag.go.id/opini/view/2091/jalan-islam-terhadap-aborsi, diakses Sabtu 15 Oktober 2022. Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, Cet, II; Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa, 2000, Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Litbang, Bandung: Elfabeta,.

Suteki en Galang Taufani, Regsnavorsingsmetodes (filosofie, teorie en praktyk), Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2018.

Referensi

Dokumen terkait