2nd INDIVIDUAL ASSIGNMENT JOURNAL REVIEW
Dosen Pengampu: Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., Ph.D.
Disusun Oleh:
Nyoman Aditi Arundhati (205120207111008) B.KOM-5
Manajemen Isu dan Krisis
Prodi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
2022/2023
Issue Management and Crisis Management: An Integrated, Non-linier, Relational Construct
Banyaknya upaya akademis dan praktis yang luas dilakukan untuk mendefinisikan serta membedakan disiplin ilmu manajemen isu dan manajemen krisis yang membuat kedua disiplin ini menjadi ambigu. Namun, Jaques (2007) berpendapat bahwa tantangan dari manajemen isu dan manajemen krisis bukan hanya persoalaan definisi, tetapi juga penerapan definisi tersebut ke dalam teori dan praktik nyata. Jaques juga berpendapat bahwa pendekatan definisi dan model linier life cycle gagal dalam menangkap seluruh dinamika disiplin ilmu manajemen isu dan manajemen krisis. Ia mengusulkan konstruksi relasional non-linier sebagai model untuk mengoptimalkan hubungan strategis antara manajemen isu dan manajemen krisis.
Jurnal ini mengulas pendekatan definisi yang berupaya membedakan manajemen isu dan manajemen krisis. Jaques mengutip definisi yang memandang manajemen isu sebagai disiplin ilmu yang melihat ke masa depan untuk mengidentifikasi peristiwa potensial yang dapat memengaruhi organisasi, sedangkan manajemen krisis dipandang sebagai disiplin yang lebih reaktif dan fokus pada situasi setelah krisis terjadi. Selain itu, Ia juga membahas mengenai Life Cycle Model yang dikembangkan untuk menggambarkan perbedaan dan hubungan antara elemen-elemen manajemen secara linier.
Dalam pembahasan terkait Life Cycle Model, Ia mengungkapkan bahwa modelnya yang linier menjadi kelemahan utama model ini. Hal tersebut karena model linier menunjukkan bahwa aktivitas berlangsung secara berurutan sebelum akhirnya terbentuk resolusi. Menurutnya, itu tidak relevan dengan manajemen isu karena isu-isu yang berbeda seringkali dikelola secara bersamaan dan pada fase yang berbeda-beda sehingga manajemen isu bukanlah proses linier. Selanjutnya, Jaques membahas Chaos Theory yang menekankan pada kausalitas berbagai arah dan kurangnya prediktabilitas serta Disaster Management yang mampu memberikan kerangka yang berguna untuk manajemen krisis karena menyoroti unsur-unsur di dalamnya sebagai proses yang berkaitan sehingga dapat digunakan sebagai alternatif dari life cycle model dan chaos theory. Kemudian, dibahas mengenai evolusi manajemen krisis selama 20 tahun terakhir yang akhirnya membentuk model baru berdasarkan pandangan bahwa pencegahan krisis dan kesiapsiagaan krisis adalah bagian dari keseluruhan proses sebagai tindakan yang harus diambil setelah krisis menyerang, yaitu Model Relasional Manajemen Krisis.
Jaques menjelaskan bahwa model relasional menekankan kita untuk melihat unsur- unsur sebagai kelompok disiplin ilmu yang saling berkaitan dan terintegrasi, buka sebagai langkah yang harus dilakukan. Terdapat 4 elemen utama dari model ini, yaitu kesiapsiagaan (perencanaan peran, sistem manual dan peralatan, simulasi), pencegahan (scanning, manajemen risiko, respons darurat), manajemen krisis (pengenalan krisis, renpons, manajemen krisis), dan pascakrisis (pemulihan, dampak isu pascakrisis, evaluasi dan modifikasi).
Kelemahan dari jurnal ini, akhir pembahasannya hanya fokus pada manajemen krisis dan tidak membahas lebih lanjut lagi mengenai manajemen isu. Selain itu, jurnal ini tidak memiliki struktur yang jelas sehingga inti dari pembahasan terkesan tersirat. Namun, tak
dapat dipungkiri bahwa jurnal ini menggunakan penjabaran yang detail di pembahasan model relasional sehingga cukup mudah dimengerti.
Dari paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model relasional non-linier ini mampu mencakup keseluruhan proses dari manajemen krisis dan mampu menganalisis dinamika yang terjadi di dalam manajemen krisis melalui 4 elemen, yaitu kesiapsiagaan, pencegahan, manajemen krisis, dan pascakrisis sehingga model ini dapat menjadi alternatif lain dari life cycle model yang dianggap tidak relevan karena bersifat linier.
484 kata
Effective Crisis Management
Manajemen krisis perusahaan yang efektif seringkali kurang diperhatikan oleh manajer, konsultan, dan peneliti yang telah fokus pada masalah performa dan peningkatan keuangan. Efek negatif dari aktivitas perusahaan dianggap sebagai dampak kecil dari produksi dan fokus terhadap krisis seperti itu adalah hal yang tidak perlu. Namun, saat ini krisis seperti polusi, kecelakaan industry, dan kecacatan produk telah berkembang menjadi lebih luas hingga titik dapat menyebabkan kebangkrutan.
Menggunakan latar belakang tersebut, jurnal ini membahas mengenai cara untuk melakukan manajemen krisis yang efektif bagi perusahaan dengan tujuan untuk memberikan pendapat bahwa meskipun situasinya serius, bukan berarti manajer, konsultan, dan peneliti tidak memiliki harapan untuk menghadapi masalah secara langsung. Perusahaan dapat mengadopsi perspektif yang sistematis dan komprehensif untuk mengelolanya secara lebih efektif.
Mitroff, dkk (1987) dalam jurnal ini menjelaskan model dasar dari manajemen krisis, yaitu detection, crisis, repair, dan assessment. Detection merupakan sistem early warning perusahaan yang biasanya terjadi sebelum pencegahan. Selanjutnya adalah crisis sebagai hal yang tidak dapat dihindari, tetapi jika dilakukan tes dan revisi rencana secara berkala, maka perusahaan dapat mengatasi krisis yang terjadi dengan lebih efektif. Lalu repair, yang merupakan mekanisme perusahaan untuk memulihkan diri. Terakhir adalah assessment, yaitu apa yang dapat dipelajari dari krisis sebelumnya dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan serta dikembangkan untuk masa mendatang. Mereka berpendapat bahwa perusahaan perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai krisis agar perusahaan tidak menjadi rentan ketika krisis menyerang. Selain menjelaskan model dasar manajemen krisis, jurnal ini juga menjabarkan tipe krisis seperti apa yang dapat menyerang perusahaan dan juga berbagai penyebab terjadinya krisis pada perusahaan. Selanjutnya, dalam jurnal ini dijabarkan juga tindakan pencegahan apa saja yang dapat menjadi opsi perusahaan berdasarkan jangka waktu dan ruang lingkupnya.
Dalam jurnal ini, Mitroff, dkk. menganalogikan krisis seperti emosi orang-orang yang divonis mengidap kanker stadium akhir. Fase pertama adalah denial. Kemudian ketika denial sudah tidak lagi efektif, maka akan muncul perasaan marah. Lalu rasa marah itu berkembang menjadi depresi. Dan terakhir fase yang dapat dicapai oleh orang-orang yang hidupnya cukup panjang, yaitu penerimaan. Tahapan ini juga berlaku dalam manajemen krisis dalam perusahaan.
Kelebihan dari jurnal ini adalah pembahasan dijabarkan secara detail serta penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Selain itu, penggunaan gambar atau kuadran serta pemberian contoh kasus juga sangat membantu pembaca untuk memahami isi dari jurnal ini. Meski demikian, jurnal ini juga memiliki kekurangan, seperti tidak adanya penjelasan mengenai exhibit 5. Meski exhibit 2 dan exhibit 3 juga tidak memiliki penjelasan rinci, keduanya masih dapat dipahami melalui kuadran yang tertera. Namun, untuk ehibit 5 diperlukan penjelasan yang lebih rinci agar dapat lebih dipahami.
Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk memanajemen krisis secara efektif, perusahaan harus mengetahui lebih dulu fase dan tahapan yang termasuk ke dalam
keseluruhan proses manajemen krisis, mempersiapkan diri untuk krisis yang mungkin datang, mengatasi krisis, dan mempelajari krisis tersebut untuk situasi di masa mendatang.
Perusahaan juga harus siap menangani kerusakan emosi karena sangat sulit untuk mengatur emosi, khususnya di situasi krisis sehingga perusahaan disarankan untuk meningkatkan level anxiety mereka ketika mempersiapkan kemungkinan terburuk agar mereka dapat mengatasi ketika krisis nyata terjadi.
497 kata
REFERENSI
Jaques, T. (2007). Issue management and crisis management: A integrated, non-linear, relational construct. Public Relations Review, 33(2), 147-157.
http://dx.doi.org/10.1016/j.pubrev.2007.02.001
Mitroff, I. I., Shrivastava, P., & Udwadia, F. E. (1987, November). Effective Crisis Management. Academy of Management Perspectives, 1(4), 283–292.
https://doi.org/10.5465/ame.1987.4275639