• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. tugas in silico baiq mesy

N/A
N/A
Baik mesy darita fitriani

Academic year: 2025

Membagikan "2. tugas in silico baiq mesy"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

REKA BENTUK ASPIRAN VAKSIN SINTETIK UNTUK INFEKSI VIRUS HERPES PADA KUDA SECARA IN-SILICO

Disusun oleh :

NAMA : BAIK MESY DARITA FITRIANI NIM : I2D02410003

MATA KULIAH : BIOTEKNOLOGI PETERNAKAN

PROGRAM MAGISTER

(2)

REKA BENTUK ASPIRAN VAKSIN SINTETIK UNTUK INFEKSI VIRUS HERPES PADA KUDA SECARA IN-SILICO

Baik Mesy Darita Fitriani

Fakultas Peternakan, Universitas Mataram

Jl. Majapahit No. 62, Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat Email: [email protected]

ABSTRAK

Equin herpesvirus tipe 1 (EHV-1) adalah patogen umum pada kuda di seluruh dunia yang sifatnya menular dan menjadi sorotan dan pertimbangan ulang prosedur diagnostik, modalitas pengobatan, dan protokol biosekuriti serta perancangan potensi antivirus yang paten. Penggunaan metode imunoinformatika dengan database memberikan efisiensi biaya, tenaga dan waktu untuk pengembangan simulasi dan perhitungan dalam penelitian pengembangan vaksin. Penelitian ini bertujuan untuk merancang aspiran atau calon vaksin EHV-1 menggunakan pendekatan in-silico berbasis epitop, dengan fokus pada identifikasi epitop potensial dari patogen penyebab penyakit respirasi dan abortus khususnya. Pendekatan In Silico digunakan untuk menganalisis sekuens genom virus EHV dari UniProtKB (https://www.uniprot.org) sehingga didapat sekuen asam aminonya. Selanjutnya sekuen asam amino diperdiksi ketersediaan sel B dan sel T menggunakan database Immune Epitope Database (IEDB) (http://tools.immuneepitope.org/bcell/). Kemudian penentuan tingkat antigenitas peptida dengan perangkat lunak VaxiJen 2.0 sampai didapatkan afinitas yang sesuai. Hasil identifikasi potensi pengembangan virus dengan peptida antara lain

yaitu ISVPYY, GVNYSE,

LTYASGASASSSQSTPATPTHTTPNLTTAHGAGSDNTTNANGTESTHSHET,

ERKKSRRGGQLGVIPDRLPK, LPLHTEGGT, SVDWRTA, KNGTLV,

APLLDLSVHPSLKGE, FPH, AREVDFTKYVTNASSVW, DPEEEYT, YRDEVSFARIA,

NDHLPGVPSQDMTTGVCPSHS, SEENG, PDGLPMFSDTVVYDASPIVEDR dan

PSQAPYKK. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan vaksin peptida yang lebih terjangkau dan ampuh serta tanpa bahaya. Dengan berfokus pada epitop, vaksin yang dihasilkan dapat meningkatkan efektivitas dan keamanan vaksinasi serta mempercepat pengembangan vaksin baru untuk pencegahan penyakit herpes pada kuda.

Kata Kunci : Equine Herpes Virus, Imunoinformatika, Kuda, In Silico, Vaksin.

(3)

PENDAHULUAN

Kuda (Equus ferus caballus) adalah hewan mamalia yang dimanfaatkan sejak dahulu oleh manusia untuk bermacam keperluan, termasuk transportasi, pertanian, olahraga, dan rekreasi.

Sebagai hewan yang aktif dan sering berinteraksi dalam kelompok, kuda rentan terhadap berbagai penyakit menular, terutama yang menyerang sistem pernapasan. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian utama dalam dunia kedokteran hewan adalah infeksi virus herpes yang menyerang saluran pernapasan kuda.

Virus herpes pada kuda atau sering disebut Equine Herpes Virus (EHV) terbagi menjadi beberapa jenis dari famili herpesveridae antara lain EHV1 dengan subfamili Alphaherpesviridae dan genus Varicellovirus, EHV2 dengan subfamili Gammaherpesvirinae dan genus Rhadinovirus, EHV3 dengan subfamili Alphaherpesvirinae dan genus Varicellovirus, EHV4 dengan subfamili Alphaherpesvirinaevaricellovirus dan EHV5 dengan subfamili Gammaherpesvirinae dan genus Rhadinovirus (Triakoso, 2011).

Virus herpes kuda tersebar luas di seluruh dunia yang merupakan masalah serius dalam industri peternakan dan pacuan kuda. EHV-1 dan EHV-4 adalah dua tipe virus yang paling umum dan secara klinis menjadi penyebab umum menginfeksi kuda yaitu penyakit respirasi termasuk juga abortus yang biasaanya terjadi di akhir kehamilan (Reed dan Toribio, 2003).

Allen et al (1999) telah menunjukkan kerusakan uterus atau plasenta tanpa aborsi selama awal kehamilan serta mieloensefalopati, umumnya pada kuda dewasa. Demam, keluarnya cairan dari hidung, malaise, faringitis, dan batuk merupakan gejala utamanya (Lascola, 2023). Equine herpesvirus-4 (EHV-4) selama ini dianggap sebagai subtipe dari EHV-1, namun melalui penggunaan teknik karakterisasi molekuler, virus ini telah dibuktikan sebagai spesies virus berbeda yang juga dapat menyebabkan aborsi dan penyakit pernapasan (Allen et al, 1999).

Pendapat lain Allen et al, (1999); Ostlund et al, (1990) dalam (Reed dan Toribio, 2003) mengemukakan bahwa EHV-4 bertanggung jawab atas infeksi saluran pernapasan atas pada kuda muda dan jarang menyebabkan masalah lain, seperti aborsi. Kedua virus tersebut mampu menyebabkan myeloencephalopathy, meskipun EHV-1 jelas merupakan penyebab paling umum dari bentuk penyakit ini. Lanjut dikatakan oleh (Wikipedia, 2005; Smith, 2004) dalam (Reed and Toribio, 2005), bahwa EHV-1 juga disebut Equid alphaherpesvirus-1 adalah virus dari

(4)

kematian neonatal pada kuda. Penyakit pernafasan seringkali tidak terlihat atau sulit dideteksi.

Meskipun demikian, bentuk pernafasan EHV-1 dapat diamati sebagai wabah demam dan keluarnya cairan dari hidung pada sekelompok kuda muda. Penyakit dapat terjadi pada masing- masing kuda atau kadang-kadang dalam kelompok kasus. EHV-1 sangat menular dan seringkali menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan akibat aborsi, penyakit neurologis, masalah pernapasan, kehilangan fungsi, dan bahkan kematian. Wabah penyakit ini telah diketahui selama berabad-abad pada populasi kuda domestik. Wabah EHV-1 dalam bentuk apa pun mempunyai dampak ekonomi yang signifikan terhadap peternakan, rumah sakit hewan, atau tempat lain di mana wabah tersebut terjadi. Dampak ekonomi dari wabah EHV-1 atau EHV-4 adalah akibat meningkatnya biaya perawatan medis, hilangnya waktu untuk berlatih dan tampil, serta kematian (Otslud et al, 1999 dan Meyer, 1993) dalam (Reed dan Toribio, 2005). Stokol dan Hussey (2020) juga menyatakan bahwa Equine herpesvirus tipe-1 adalah virus DNA berantai ganda yang ditemukan di seluruh dunia. Ini adalah patogen utama pada kuda, menyebabkan wabah infeksi dan kasus aborsi, Equine Herpesvirus Myeloencephalopathy (EHM) dan pneumonia neonatal (1).

EHV-1 merugikan industri peternakan karena penerapan prosedur karantina dan tindakan biosekuriti dan merupakan penyakit yang dapat dilaporkan di banyak negara bagian AS.

Vaksin inaktif yang saat ini beredar di pasaran tidak dapat sepenuhnya mengendalikan penyakit ini, karena kemampuan virus herpes untuk menghindari respon imun inang dan membentuk infeksi laten. Karena dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi, maka dipandang perlu melakukan studi untuk merancang vaksin sintetik dalam melakukan pencegahan penyakit pernapasan dan penyakit lain yang disebabkan oleh virus herpes pada ternak kuda yang efektif dengan menggunakan metode sekuens. Adanya pencegahan dengan cara vaksinasi itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh ternak untuk mengurangi resiko terpaparnya penyakit respirasi dan abortus khususnya.

BAHAN DAN METODE

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah vaksin gC,GP13, dengan metode sekuen asam amino yang berasal dari pelacakan pada bank protein UniProtKB (https://www.uniprot.org) sehingga didapatkan sekuen asam aminonya. Selanjutnya sekuen asama amino yang didapat, diperdiksi ketersediaan sel B dan sel T dengan menggunakan database Immune Epitope Database (IEDB) (http://tools.immuneepitope.org/bcell/). Selanjutnya, perangkat

(5)

lunak VaxiJen 2.0 digunakan untuk mengukur tingkat antigenitas peptida. Perangkat lunak ini berbasis server dan memungkinkan prediksi antigen untuk mengidentifikasi potensi antigen dari sekuens protein tanpa menggunakan struktur tiga dimensi (Martinelli, 2022). Pertama, sekuens protein virus EHV-1 yang dikirim dari hasil gabungan peptida sel T dan sel B dimasukkan ke dalam VaxiJen 2.0, dan kemudian dianalisis dan ditentukan nilainya yang memungkinkan atau sesuai standar. Perangkat lunak bioinformatika digunakan untuk memetakan epitop pada antigen virus EHV-1, mengevaluasi afinitas kandidat epitop menggunakan simulasi komputer, dan kemudian menentukan epitop paling mungkin berdasarkan ambang batas dan nilai afinitas yang dihasilkan. Pengembangan vaksin peptida memungkinkan calon epitop dengan nilai ambang batas yaitu ≥ 0.4.

(6)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rancangan In-Silico untuk mendapatkan aspiran antibodi virus EHV-1 merupakan pendekatan berbasis komputer sebelum dilakukan pengujian secara in-Vitro tau pengujian Laboratorium. Dari hasil penelusuran yang dilakukan pada (https://www.unitprot.org), diperoleh 693 hasil dengan 114 organisme yang sama yaitu Equine Herpes Virus-1 atau EHV-1 yang bisa dijadikan target potensial pengembangan vaksin. Akan tetapi diambil satu dari urutan asam amino EHV-1 dengan jumlah sekuen asam amino sebanyak 468 dengan entry name GC_EHV1D dan entry identifier P68325 berupa organisme EHV-1(strain kentucky D),EHV-1(Equine Abortion Virus). Urutan asam amino dari EHV-1 dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 1. Hasil Pencarian Equine Herpes Virus (dipilih salah satu P68325)

(7)

Tabel 1.Protein Virus EHV-1 pada Kuda dari data UniProtKB

No Entry Gene Name Length Entry Name Organism

1 P68325 gC, GP13 468 AA GC-EHV1D EHV1(Strain Kentucky D) (EHV1) (Equine Abortus Virus) 2 P25218 gB, GP14 980 AA GB-EHV1D EHV1(Strain Kentucky D)

(EHV1) (Equine Abortus Virus)

3 P84454 35 646 AA SCAF-

EHV1V

EHV1(Strain V-592) (EHV1) (Equine Abortus Virus)

4 P68330 gH 848 AA GH-EHV1 EHV1(Strain HVS25A) (EHV1)

(Equine Abortus Virus)

5 P24872 gD, GP17/18 452 AA GD-EHV1B EHV1(Strain AB1) (EHV1) (Equine Abortus Virus)

Dari kelima protein virus diatas, didapat panjang asam amino berbeda-beda dengan organisme yang hampir sama yaitu Equine Abortus Virus yang menjadi penyebab utama keguguran dan penyakit pernapasan pada kuda. Selanjutnya dilakukan pencarian urutan sekuen asam amino dari salah satu protein virus yang terdapat pada tabel 1 (nomor 1) sehingga diperoleh gambar 2. Terdapat 468 panjang asam amino dengan nama protein Envelope Glico Protein atau disebut gC, GP13 Fungsi dari protein virus tersebut yaitu penting untuk perlekatan awal pada gugus heparan sulfat dari proteoglikan permukaan sel inang. Juga berperan dalam penghindaran kekebalan tubuh inang dengan menghambat aktivasi kaskade komplemen inang.

(8)

Gambar 2. Urutan sekuen asam amino

Jika urutan asam amino sudah didapatkan, dilakukan prediksi ketersediaan sel T dan sel B dengan menggunakan database Immune Epitope Database (IEDB) (http://tools.immuneepitope.org/bcell/). Hasil prediski sel T dan sel B dapat dilihat pada gambar 3 dan 4 secara berurutan.

Gambar 3. Hasil Identifikasi sel T Gambar 4. Hasil Identifikasi sel B Langkah yang ditempuh selanjutnya adalah dengan menggabungkan peptida dari sel T dengan peptida sel yang memenuhi standar score di atas 0,5 dengan persentil ≤ 0.02 dan

(9)

selanjutnya di identifikasi dengan perangkat lunak VaxiJen 2.0 untuk mendapatkan peptida yang dapat digunakan sebagai antigen. Dari gambar 3, hanya 1 peptida yang memenuhi standar untuk diuji coba menjadi vaksin. Hasil percobaan penggabungan sel T dengan sel B dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Pencocokan sel T dengan sel B

No Sel T Sel B Ambang

Batas

Afinitas Hasil

Peptida Start End Peptida Start End

1 LDLSVHPSL 222 230 ISVPYY 81 86 0.4 0.9868 Antigen

2 LDLSVHPSL 222 230 GVNYSE 98 103 0.4 1.2440 Antigen

3 LDLSVHPSL 222 230 LTYASGASASSS QSTPAATP THTTPNLTT AHGAGSDNTT NANGTESTHSHET

22 72 0.4 0.5173 Antigen

4 LDLSVHPSL 222 230 RTPFSGT PPGDEENYI NHNATKD

113 135 0.4 0.3237 Non Antigen

5 LDLSVHPSL 222 230 ERKKSRRGG QLGVIPDRLPK

145 164 0.4 0.9797 Antigen

6 LDLSVHPSL 222 230 LPLHTEGGT 170 178 0.4 0.9035 Antigen

7 LDLSVHPSL 222 230 SVDWRTA 186 192 0.4 1.3632 Antigen

8 LDLSVHPSL 222 230 KNGTLV 202 207 0.4 1.2361 Antigen

9 LDLSVHPSL 222 230 APLLDLSVHPSLKGE 219 230 0.4 1.1938 Antigen

10 LDLSVHPSL 222 230 FPH 245 247 0.4 0.8679 Antigen

11 LDLSVHPSL 222 230 AREVDFTKYVTNASSVW 258 274 0.4 0.5547 Antigen

12 LDLSVHPSL 222 230 DFEEEYT 290 296 0.4 1.0741 Antigen

13 LDLSVHPSL 222 230 YRDEVSFARIA 306 316 0.4 0.4239 Antigen 14 LDLSVHPSL 222 230 NDHLPGVPSQ

DMTTGVCPSHS

357 377 0.4 0.7936 Antigen

15 LDLSVHPSL 222 230 SEENG 389 393 0.4 0.8858 Antigen

16 LDLSVHPSL 222 230 PDGLPMFSDTVVYDASPIV EDR

405 426 0.4 0.5409 Antigen

17 LDLSVHPSL 222 230 PSQAPYKK 458 465 0.4 0.7013 Antigen

(10)

Dari tabel diaras, dapat terlihat bahwa semua asam amino dari sel B yang dicocokkan dengan sel T hampir semua berpotensi untuk dijadikan vaksin, kecuali pencocokan pada tabel dengan nomor urut 4 tidak memenuhi standar untuk dijadikan vaksin. Hasil afinitas tertinggi secara berturut-turut diperoleh pada tabel dengan nomer urut 7,8 dan 9.

Sedangkan gambar 5 menunjukkan hasil analisis penyelarasan sekuens menggunakan basis data Immuno-Epitope (IEDB). Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi epitop potensial untuk pengembangan vaksin berbasis peptida. Distribusi dan posisi epitop pada grafik yang diidentifikasi dalam sekuens protein virus EHV-1 dan warna serta simbol pada gambar menunjukkan tingkat antigenisitas dan potensi setiap epitop untuk pengembangan vaksin. Prediksi aksesibilitas permukaan Emini dari epitop yang diusulkan dengan skor kecenderungan minimum 1dan maksimum 2500. Posisi sekuens dan probabilitas permukaan diarahkan oleh sumbu X dan Y, masing-masing. Area dengan warna kuning menunjukkan tingkat antigenik

Gambar 5. Hasil penyelarasan sel T dengan sel B menggunakan IEDB STRUKTUR EHV-1

EHV-1 terdiri dari nukleokapsid ikosahedral yang mengandung genom virus, dikelilingi oleh selubung amorf, yang mengandung beberapa glikoprotein (Gambar 6). Mayoritas protein EHV-1 memiliki homologi yang sama dengan human simplex virus (HSV), yang merupakan

(11)

prototipe virus dari virus Alfaherpesvirinae subfamili. Seluruh genom DNA untai ganda linier dari klon EHV-1 strain Ab4 yang dimurnikan dan telah diurutkan (Telford et al, 1992). Genom virus terkandung dalam nukleokapsid yang terdiri dari enam protein (Ferdue et al, 1974) dalam (Paillot et al, 2008). Semua virus herpes memiliki struktur tutup yang serupa, terdiri dari 162 kapsomer (12 penton dan 150 hekson). Dua belas protein portal membentuk cincin di sisi nukleokaps, yang digunakan oleh DNA virus untuk masuk ke dalam kapsid ( Newcomb et al, 1989 dan Baker et al, 1990).

Tabel 3. Karakteristik EHV-1

Spesies Inang Nama Nama/Hubungan Lain Subfamili Penyakit

Kuda EHV-1 Persamaan. virus aborsi a2 Pernafasan, aborsi, neurologis

EHV-2 Persamaan.

sitomegalovirus c3 Not Associated

EHV-3 Persamaan. virus

eksantema koital A Eksantema koital

(12)

EHV-4 Persamaan. virus rinopneumonitis

a2 Pernafasan

EHV-5 Persamaan.

sitomegalovirus

c3 Not Associated

Kuda keledai AHV-1/EHV-6 Terkait dengan EHV-3 A Eksantema koital

AHV-2/EHV-7 Terkait dengan EHV-2 c3 Not Associated

AHV-3/EHV-8 Terkait dengan EHV-1 A rinitis

Gazella thomsoni

GHV-1/EHV-9 Mirip dengan

EHV-1/EHV-8

A Gazelle.&Persamaan.

neurologis

(13)

Tegument (lapisan pelindung) sesuai dengan ruang antara nukleokapsid dan selubung. Ini terdiri dari 12 protein virus dan enzim yang terlibat dalam inisiasi replikasi virus. Nukleokapsid dan tegumen dikelilingi oleh penyimpanan yang menyajikan 11 glikoprotein virus pada permukaannya (Tabel 4). Sebelas glikoprotein EHV-1 (yaitu gB-gp14, gC-gp13, gD-gp18, gE, gG, gH, gI, gK, gL, gM dan gN) disimpan dalam virus herpes alfa lainnya dan oleh karena itu dinamai sesuai dengan nomenklatur yang ditetapkan untuk Herpes Simlex Virus-1(HSV1).

Glikoprotein sangat penting dalam proses infeksi termasuk adsorpsi virus, penetrasi, dan penyebaran sel ke sel. Dibandingkan dengan HSV-1 dan sebagian besar virus herpes alfa lainnya, EHV-1 mengkodekan glikoprotein tambahan, gp2, dengan homolog hanya terdapat pada EHV-4 dan AHV-3

Gambar 4. Equine Herpes Virus

Tabel 4. Envelope Glicoproteins of EHV-1

(14)

Glikoprotein Nama Lama Fungsi

GB gp14 Penetrasi sel dan penyebaran sel ke sel

gC gp13 Lampiran dan jalan keluar

gD GP17/18 atau GP60 Penetrasi sel dan penyebaran sel ke sel

gE Tidak ada Penyebaran sel ke sel

gG Tidak ada Tidak jelas

(15)

gH Tidak ada Tidak jelas

gI Tidak ada Penyebaran sel ke sel

gK Tidak ada Penyebaran sel ke sel dan keluarnya virus

gL Tidak ada Tidak jelas

gM gp21/22a atau

gp45

Penetrasi sel dan penyebaran sel ke sel

gN tidak ada Pemrosesan gM

(16)

gp2 GP300 Tidak jelas

PATOGENESIS

Berdasarkan sifat biologisnya, virus herpes dibagi menjadi tiga subfamili, yaitu alfa, beta, dan gamma (α, β, dan γ) (Payne, 2017) dalam ( Tyrnenopoulou dan Diakakis , 2023). Sampai saat ini, sembilan spesies EHV yang berbeda telah dilaporkan, sementara 5 di antaranya telah dikaitkan dengan penyakit kuda (Davison et al., 2009). Equine herpes virus 1 adalah virus DNA beruntai ganda, menonjol sebagai salah satu virus alfa-herpes yang paling lama dalam rekonstruksi filogeni (Karlin et al., 1994) dalam ( Tyrnenopoulou dan Diakakis , 2023). Saat ini, diperkirakan prevalensi infeksi laten EHV-1 di seluruh dunia melebihi 60% (Pusterla et al., 2014). EHV-1 terutama bereplikasi secara plakat di sel epitel yang melapisi saluran pernapasan bagian atas. Data dari percobaan in vivo menunjukkan bahwa plak yang diinduksi EHV-1 terlihat di epitel mukosa hidung 2-7 hari setelah okulasi (Gryspeerdt et al., 2010). Selain itu, percobaan in ex vivo, plak tunggal yang diinduksi EHV-1 yang terinfeksi diamati pada epitel eksplan hidung kuda dan nasofaring mulai dari 24 jam pasca inokulasi (Vandekerckhove et al., 2010; Laval et al., 2021).

Oleh karena itu, inokulasi primer pada jaringan saluran pernafasan bagian atas menyebabkan erosi epitel, pengelupasan hidung dan peradangan lokal dengan gejala klinis ringan pada kuda dewasa, kuda yang lebih muda biasanya mengalami manifestasi klinis yang lebih parah (Laval et al., 2021). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa virus membajak leukosit mononuklear individu dari saluran pernapasan bagian atas untuk melintasi membran basal ke dalam jaringan ikat (Vandekerck hove et al., 2010). Pada akhirnya, strain EHV-1 mengembangkan viremia yang sangat terkait dengan sel dan memiliki kecenderungan pada endotel vaskular (Bryant et al., 2018);

oleh karena itu, virus bereplikasi pada sel endotel organ target, seperti sistem saraf dan atau rahim hamil (Allen et al., 2004; Van Cleemput et al., 2017). Meskipun sefalopati myeloen virus herpes kuda (EHM) dianggap sebagai manifestasi EHV-1 yang sporadis dan relatif jarang, wabah baru- baru ini yang menguraikan potensi strain neuropatogenik yang lebih agresif, meningkatkan

(17)

kesadaran. Equine herpesvirus tipe 4, yang berkerabat dekat dengan EHV-1, juga dapat menyebabkan gejala pernafasan ringan, namun viremia terkait sel pada leukosit jarang terjadi (Oladunni et al., 2019). Akibatnya, penentu utama patogenisitas EHV adalah penggunaan sel kekebalan sebagai “kuda Troya” untuk menyebar di dalam inang. Terbentuknya infeksi laten dan reaktif pada inang merupakan ciri khas virus herpes (Grinde, 2013). Penularan virus ke hewan yang rentan biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan sekret pernapasan yang mengandung virus atau secara tidak langsung melalui benda asing (Allen et al., 2004). Siklus latensi dan reaktivasi ini mendorong pelepasan dan penularan ke inang baru, sehingga virus dapat bertahan dalam kelompok.

EPIDEMIOLOGI

Equine herpesvirus 1 (EHV-1) pertama kali dideskripsikan oleh Dimock dan Edwards pada awal tahun 1930an (Dimock & Edwards, 1933). Identifikasi selanjutnya dari perubahan patologis yang nyata pada janin yang diaborsi menghasilkan istilah ‘aborsi virus kuda’ untuk menggambarkan penyakit tersebut (Dimock & Edwards, 1933; Dimock & Edwards, 1933;

Dimock & Edwards, 1933; tiruan, 1940) dalam (Tyrnenopoul, P & N Diakakis, 2023)Selanjutnya,

‘virus aborsi kuda’ dibudidayakan pada hewan laboratorium dan kultur jaringan (Westerfield dan Dimock, 1946); Randall dkk., 1953). Virus ini akhirnya diakui oleh Komite Internasional Taksonomi Virus pada tahun 1988 (Roizman, 1991). Equine herpesvirus tipe 1, telah diisolasi dari janin yang diaborsi pada populasi kuda di seluruh dunia (Bażanów et al., 2014; McFadden et al., 2016). Hubungan antara aborsi virus dan bentuk pernafasan EHV-1 pertama kali diasumsikan oleh Manninger dan Csontos (1941) dalam Tyrnenopoul, P & N Diakakis (2023) di Eropa. Mereka mendokumentasikan gejala serupa seperti yang diamati pada “aborsi virus kuda” bersama dengan tanda-tanda respiratory infeksi dan demam ringan. Pada saat yang sama, Kress (1941) dalam Tyrnenopoul, P & N Diakakis (2023) menunjukkan virus aborsi jelas mempunyai potensi pneumotro pism karena prevalensi bronkopneumonia pada kuda yang bersentuhan dengan bahan yang diaborsi. Hubungan definitif pertama antara EHV-1 dan myeloencephalopathy dibuat pada tahun 1966 di Nor ketika virus diisolasi dari otak dan sumsum tulang belakang seekor kuda dengan disfungsi neurologis yang parah (Saxegaard, 1966; Wilson 1997) dalam Tyrnenopoul, P & N Diakakis (2023) Bentuk neurologis infeksi EHV-1 saat ini dianggap tersebar di seluruh dunia (Laval dkk., 2021). Kemunculan strain mutan virus EHV-1 yang berpotensi lebih ganas baru-baru

(18)

ini (Pusterla et al., 2021) telah mengakibatkan wabah EHM di beberapa negara. Peningkatan kemampuan neuropatogenik EHV-1 telah menghasilkan angka morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan sebelumnya. Potensi patogen di antara EHV-1 dan virus alfaherpes kuda lainnya telah dilaporkan sebelumnya (Osterrieder et al., 2010; Ma et al., 2013). Sejak awal tahun 70an, sebagian besar strain dapat dibedakan menjadi strain pernafasan (subtipe 2) dan abortigenik (subtipe 1) (Burrows dan Goodridge, 1973). Sebaliknya, keberadaan potensi patogen di antara keluarga EHV-1 yang terkait dengan penyakit neurologis masih dalam penyelidikan (Paillot et al., 2020; Mesquita et al., 2021). Salah satu poin penting dari wabah EHV-1 baru-baru ini di Amerika Serikat adalah bahwa penyelidikan dimulai ketika kuda menunjukkan demam tanpa gejala klinis lain yang jelas (Pusterla et al., 2021). Karakterisasi genetik strain EHV-1 menunjukkan mutasi baru, serupa dengan mutasi yang dilaporkan pada wabah baru-baru ini di Eropa (Sutton et al., 2020).

Presentasi klinis dan diagnosis

Secara umum, infeksi EHV-1 dapat terjadi tanpa gejala atau disertai penyakit pernafasan dengan tingkat keparahan yang bervariasi (Van Maanen, 2010). Namun, seperti disebutkan sebelumnya, infeksi EHV-1 juga dapat menyebabkan manifestasi klinis yang lebih serius seperti aborsi, kematian neonatal, atau penyakit neurologis.

Penyakit pernapasan

Secara klinis, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh EHV 1 dapat bersifat ringan atau tanpa gejala pada kuda yang lebih tua atau yang pernah terpapar (Allen et al., 2004).

Sebaliknya, penyakit pernapasan yang diamati pada kuda muda yang naif secara imunologis seringkali parah, ditandai dengan demam, anoreksia, limfadenopati dan sekret okulonasal awalnya serosa (Gibson et al., 1992). Isolat virus yang diperoleh dari kuda dengan manifestasi pernapasan parah biasanya hanya menyebabkan penyakit pernapasan ringan dalam kondisi eksperimental (Pusterla et al., 2014). Fakta tersebut dan juga masa inkubasi yang lebih lama pada infeksi alami (Slater 2007) menunjukkan adanya potensi infeksi bakteri sekunder jika terjadi infeksi. Beberapa hewan mungkin mengalami batuk, meskipun hal ini bukan merupakan gambaran klinis yang konsisten. Leukopenia bifasik awal diikuti dengan peningkatan leukosit 8 hari setelah infeksi EHV-1 (Gibson et al., 1992). Tanda-tanda klinis penyakit pernafasan bagian atas mereda dalam waktu 14 hari dan kuda biasanya pulih dengan lancar (Slater, 2007). Meskipun demikian, kinerja

(19)

buruk yang berkepanjangan telah dilaporkan pada kuda yang terkena infeksi sekunder atau bersamaan (Slater, 2007). Diagnosis banding EHV-1 dan kerabat dekatnya EHV-4 terhambat oleh spektrum penyakit yang tumpang tindih serta hubungan genetik dan antigenik yang erat. Secara klinis, penyakit pernafasan yang ditimbulkan oleh EHV-1 dan EHV-4 tidak dapat dibedakan;

Namun, infeksi EHV-1 menyebabkan viremia sistemik yang lebih mungkin berkembang menjadi gejala sisa yang parah, seperti aborsi dan/atau penyakit neurologis. Alternatif Sebelumnya, infeksi EHV-4 biasanya terbatas pada saluran pernapasan bagian atas (O'Callaghan et al., 2008). Tanda- tanda klinis EHV-1 sering kali mirip dengan gejala yang terkait dengan virus arteritis kuda;

menginfeksi secara akut hewan yang dirawat juga dapat mengalami berbagai tanda klinis termasuk demam, gangguan pernapasan, dan aborsi, sering kali disertai edema dependen, kekakuan gaya berjalan, edema periorbital dan supraorbital, serta urtikaria (Balasuriya dkk., 2016). Virus equine influenza enza adalah patogen lain yang sangat menular dengan manifestasi klinis serupa. Pada populasi yang rentan, diagnosis dugaan dapat dibuat berdasarkan tanda-tanda klinis, terutama batuk dan riwayat vaksinasi (Gilkerson et al., 2015). Studi terbaru menyelidiki potensi keterlibatan virus herpes lainnya, seperti EHV-2 dan EHV-5 yang terkait dengan penyakit pernapasan kuda (Hartley et al., 2013; Xie et al., 2021). Selain itu, virus rinitis kuda A dan B serta adenovirus kuda juga umum terjadi pada populasi kuda di seluruh dunia dan dapat menyebabkan penyakit klinis yang tidak dapat dibedakan dari patogen pernapasan lainnya (Back et al., 2019).

Meskipun virus ini belum diteliti dengan baik, virus ini diketahui menyebabkan penyakit pernafasan ringan hingga berat yang mempengaruhi saluran pernafasan atas dan bawah. Mereka mungkin juga berkontribusi untuk, atau memperburuk, penyakit inflamasi saluran napas dan obstruksi saluran napas berulang. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian telah menggunakan metagenomik untuk mengidentifikasi virus baru (siklovirus, parvovirus) yang terkait dengan penyakit pernapasan akut (Altan et al., 2019). Terakhir, diagnosis banding, terutama bila dicurigai adanya infeksi bakteri sekunder, juga mencakup agen infeksi lain seperti Streptococcus equi subsp. setara; Dan Streptococcus equi subsp. zooepidemicus (Boyle dkk., 2018).

Abortus

Equine herpesvirus-1 dianggap sebagai salah satu agen umum yang bertanggung jawab atas aborsi jangka panjang pada kuda. Aborsi biasanya terjadi pada trimester terakhir kehamilan

(20)

tanpa peringatan dan plasenta keluar bersama janin (Smith et al., 2010). Sebagian besar aborsi terjadi sebagai kasus sporadis dan dianggap disebabkan oleh pengaktifan kembali virus laten, bukan akibat dari aborsi. lagi infeksi. Kadang-kadang, “badai aborsi EHV-1” digambarkan dengan penularan virus secara lateral antar kuda (Damiani et al., 2014). Kuda betina hamil menularkan mereka yang terkena virus dapat gugur secara spontan tanpa adanya tanda-tanda penyakit pernapasan primer sebelumnya (Smith et al., 2010). Faktor-faktor penting yang ditimbulkan oleh respon imun dan inflamasi inang, dan kaskade koagulasi vaskular yang memediasi aborsi yang disebabkan oleh EHV-1 belum sepenuhnya dijelaskan. Mikrotrombosis di dalam pembuluh darah diyakini dapat menyebabkan efek samping lebih banyak nekrosis iskemik pada kotiledon dan stroma iledon interkotil, menyebabkan janin terlepas dari plasenta dan mati karena anoksia (Allen et al., 2004). Lesi berat pada janin kuda yang diaborsi meliputi area nekrotik multifokal di paru-paru, hati dan jaringan limfoid, edema paru, serta plasenta edema dan kongesti (Stasiak et al., 2020). Tidak ada efek jangka panjang setelah aborsi EHV-1 terhadap kinerja reproduksi kuda betina yang terkena dampak (Schulman et al., 2013). Diagnosis banding mencakup berbagai macam agen abortigenik seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Bartonella spp., Leptospira spp., Salmonella spp., Streptococcus equi subspesies zooepidemicus, Streptococcus dysga laktis subsp. seperti kuda, Klamidia psittaci, bersama dengan banyak agen parasit (Marenzoni et al., 2012). Riwayat vaksinasi, patologi yang terjadi bersamaan di peternakan dan laporan “badai aborsi” adalah koefisien yang harus dipertimbangkan dalam setiap aborsi mendadak dan tidak terduga dengan janin ikterik.

Penyakit neonatus

Kemampuan EHV-1 untuk menimbulkan infeksi dini pada anak kuda merupakan keuntungan epidemiologi yang penting (Gilkerson et al., 2000). Anak kuda yang lahir hidup meskipun mengalami infeksi dalam rahim, biasanya tidak normal sejak lahir dan mungkin menunjukkan tanda-tanda kelemahan, penyakit kuning, dispnea, dan tanda-tanda neurologis (Slater., 2007). Infeksi peri partum dapat menyebabkan anak kuda mengalami leukopenia parah (Dixon et al., 1978) yang biasanya mati dalam beberapa hari pertama kehidupannya; kemungkinan besar mereka yang bertahan hidup akan menderita pneumonia dengan komplikasi infeksi bakteri sekunder (Slater, 2007).

(21)

Penyakit Mata

Anak kuda muda yang melakukan kontak dekat dengan kuda yang terinfeksi EHM mempunyai risiko tinggi terkena penyakit mata (McCartan et al., 1995). Infeksi pernafasan dengan strain EHV-1 yang sangat patogen adalah sebagai berhubungan dengan lesi mata yang parah seperti chorioret initis atau uveitis. Dipercaya bahwa replikasi virus pada pembuluh darah korioretinal menyebabkan nekrosis iskemik dan akibatnya gangguan penglihatan (Hussey et al., 2013). Lesi mata terutama mempengaruhi pembuluh darah koroid dan muncul antara 4 minggu hingga 3 bulan pasca infeksi. Lesi dapat bersifat fokal, multifokal, dan jarang terjadi secara klinis sebagai lesi difus (Pusterla et al., 2014). Perbedaan infiltrat korioretinal termasuk penyakit menular sistemik lainnya yang disebabkan oleh virus (EHV-2, equine influenza, equine viral arteritis, Para-influenza tipe 3), bakteri (Leptospira spp., Brucella spp., radang tenggorokan spp., Rhodococcus equi, Borrelia burgdor feri), parasit (Onchocerca spp., Kuatus spp., Toksoplasma gondii), atau neoplasia (Gilger dkk., 2010).

Penyakit neurologis

Equine herpesvirus myeloencephalopathy (EHM) dapat terjadi sebagai kasus sporadis tunggal atau sebagai wabah, yang kemungkinan merupakan reaktivasi virus laten dan sumber infeksi yang menyebar secara lateral (Burgess et al., 2012; Traub-Dargatz et al., 2013). Oleh karena itu, masa inkubasi sulit ditentukan, karena infeksi primer mungkin terjadi beberapa bulan sebelum reaktivasi. Demam tampaknya menjadi salah satu tanda klinis yang paling konsisten pada beberapa wabah EHM (Negussie et al., 2017; Preziuso et al., 2019; Pusterla et al., 2021).

Biasanya, interval antara deteksi pertama pireksia dan timbulnya tanda-tanda neurologis berkisar antara 4 hingga 9 hari (Walter et al., 2013). Tanda-tanda klinis sangat bervariasi tergantung pada lokasi dampak neurologis (Allen et al., 2004). Mulai dari ataksia ringan hingga defisit neurologis berat dan defisit proprioseptif sadar serta posisi berbaring (Allen 2008; Göhring et al., 2010).

Lebih khusus lagi, sumsum tulang belakang bagian ekor biasanya terkena dampak paling parah.

Kasus-kasus khas EHM sering kali mencakup demam awal yang diikuti oleh kelemahan dan ataksia, disuria, retensi tinja, defisit nada ekor dan anal, dan postur “mengasuh anjing”. Defisit saraf kranial dan disfungsi otak primer dapat terjadi. Tanda-tanda klinis EHM muncul setelah timbulnya viremia, seringkali setelah lonjakan demam sekunder dan tidak adanya penyakit pernafasan. Kecuali diketahui adanya trauma atau penyebab lain yang jelas, setiap kasus mielopati

(22)

progresif akut dan alomielopati ensefal atau defisit saraf kranial minus harus mencakup EHM (Pusterla et al., 2014). Daftar diagnosis bandingnya meliputi virus West Nile, other ar boviral encephalitides, EHV-4, equine protozoal my eloencephalitis, trauma sistem saraf pusat, keracunan timbal, tetanus, rabies, botulism polyneuritis equi, dan penyakit Aujeszky (Van den Ingh et al., 1990; Long, 2014; Barba et al., 2019; Lecollinet dkk., 2020). Meskipun tanda-tanda klinis awal pada sebagian besar kasus termasuk demam, tidak mungkin untuk mengesampingkan EHM, dan oleh karena itu, pengujian untuk penyakit ini harus disertakan dalam pemeriksaan. Kriteria diagnostik utama untuk EHM harus didasarkan pada tanda-tanda neurologis yang khas (biasanya termasuk ataksia, paresis, dan inkontinensia urin), riwayat demam dan kadang-kadang, aborsi atau tanda-tanda pernafasan atau keterlibatan kuda lain. Ada banyak penelitian yang menyelidiki keberadaan strain EHV-1 dengan potensi neuropatogenik (Al len et al., 2008; Gryspeerdt et al., 2010; Castro dan Arbiza, 2017; Negussie et al., 2017; Preziuso et al., 2019; Pusterla et al., 2021) dalam (Tyrnenopoul dan Diakakis, 2023) Meskipun P. TYRNENOPOUOU, N. DIAKAKIS 5671 beberapa isolat EHV-1 tampaknya lebih mungkin menginduksi EHM dibandingkan yang lain, semua EHV-1 harus dianggap berpotensi neuropatogenik (Pronost dkk., 2010).

Secara umum, prognosis resolusi EHM bergantung pada tingkat keparahan gangguan neurologis dan tingkat perawatan suportif yang tersedia. Secara umum, hasilnya cukup menguntungkan bagi kuda yang tidak berbaring dan diberikan tindakan dukungan yang tepat, namun buruk bagi kuda yang berbaring (van Maanen dkk., 2001).

Diagnosa

Tes tradisional seperti isolasi virus, bermacam-macam metode serologis dan tes PCR yang dikembangkan semuanya digunakan untuk diagnosis (McCann et al., 1995) dalam (Tyrnenopoul dan Diakakis, 2023). Kemiripan yang sangat mirip antara EHV-1 dan kerabat dekatnya EHV-4, serta kurangnya ketersediaan tes antibodi spesifik cenderung menghambat interpretasi data serologis hingga awal tahun 90an (Crabb & Studdert, 1993) dalam (Tyrnenopoul dan Diakakis, 2023). Jika mencurigai adanya penyakit, dokter hewan harus menyerahkan sampel yang sesuai.

Sampel usap hidung/na sopharyngeal dan sampel buffy-coat darah utuh harus diserahkan ke laboratorium yang disetujui untuk pengujian EHV-1 jika ada kasus yang dicurigai, bersama dengan sinyal yang sesuai (Pusterla et al., 2008; Kydd et al.2012). Diagnosis serologis pasti dari infeksi EHV-1 baru-baru ini memerlukan setidaknya peningkatan titer 4 kali lipat antara sampel

(23)

akut dan masa pemulihan. Pengujian ini menjadi rumit karena penggunaan vaksinasi EHV-1 secara rutin dan reaktivitas silang yang luas karena tingginya persentase identitas urutan antara EHV-1 dan EHV-4 (Telford et al., 1998). Baru-baru ini, ELISA tipe spesifik telah dikembangkan, meskipun tidak didistribusikan secara komersial (Hartley et al., 2005)

Dalam kasus aborsi, hal ini mencakup seluruh janin/bangkai anak kuda dan selaput janin.

QPCR modern dapat dijalankan dalam hitungan jam sehingga memungkinkan tindakan biosekuriti dilakukan dengan sangat cepat (Hussey dkk., 2006). Beberapa pengujian memiliki kemampuan tambahan untuk membedakan antara tipe neuropatogenik mutan dan tipe liar (Smith et al., 2012).

Pemeriksaan virologi plasenta dengan metode nested PCR khusus virus dapat menjadi pilihan yang berguna dalam pemeriksaan aborsi kuda (Gerst dkk., 2003). Karena nilai prediksi positif tes berbasis PCR untuk EHV-1 pada kuda tanpa gejala masih belum pasti saat ini, kuda di luar area karantina atau di kandang yang tidak terpapar tidak boleh diuji secara acak; rendahnya tingkat virus yang tidak bereplikasi mungkin menjadi sumber DNA virus yang terdeteksi (Hussey et al., 2006). Artinya, deteksi virus melalui analisis PCR tidak memberikan diagnosis jika tidak ada tanda-tanda klinis dan/atau informasi lain yang menguatkan.

Langkah-langkah pengelolaan biosekuriti Terlepas dari strategi vaksinasi, berbagai praktik atau saran manajemen sangat penting untuk mencegah infeksi dan wabah EHV-1 pada kuda (Kushro dkk., 2020).

 Untuk meminimalkan risiko infeksi virus di peternakan, penting untuk mengkarantina kuda baru dari kuda lainnya selama minimal 21 hari.

 Kawanan ternak yang tertutup dapat menjadi praktik pengelolaan yang penting. Hewan yang tidak bersifat sementara dapat disimpan di tempat yang jauh dari kuda yang terus bergerak.

 Memisahkan induk dari kuda pertunjukan dapat mengurangi kemungkinan penularan.

 Transportasi, personel dan peralatan penanganan perlu didesinfeksi secara teratur.

 Berbagi tempat makan atau tangki air dan peralatan perawatan pada kuda baru harus dihindari.

 Kuda baru harus divaksinasi selama masa karantina.

 Paparan terhadap hewan lain harus dibatasi.

 Tali pengikat, bantalan pelana, dan selimut milik pemilik kuda lain, harus dihindari.

 Jumlah pengunjung harus dibatasi. Buku catatan untuk semua pengunjung juga perlu dipelihara.

(24)

 Kuda yang terinfeksi harus disimpan di kandangnya dan dipisahkan dari kuda lain selama periode latihan.

 Jika kuda mengalami gejala klinis, dokter hewan harus diberitahu, dan pergerakan kuda lain di area tersebut harus dihindari sampai infeksi dipastikan.

 Kuda yang menunjukkan gejala klinis EHV-1 harus segera disingkirkan dan disimpan di tempat terisolasi.

 Karena stres memainkan peranan penting, kuda yang dipelihara di daerah yang terinfeksi tidak boleh melakukan latihan fisik yang berat atau transportasi jarak jauh.

 Kuda yang positif EHV-1 di area karantina yang ditentukan harus diuji ulang secara berkala

Perlakuan

Setelah tindakan biosekuriti dan karantina diterapkan, terdapat banyak pilihan pengobatan suportif untuk kuda positif EHV-1 (Tabel 1). Atas gejala klinis EHM, penting untuk mempertimbangkan perawatan intensif. Hal ini mungkin termasuk penyediaan alas tidur empuk untuk melindungi kuda dari dekubitasi dan trauma kepala, penggunaan kateter urin dan evakuasi rektum secara manual dan membantu kuda dengan gendongan. Jika kuda tidak dapat berdiri, kuda harus dijaga dalam posisi telentang, dan digulingkan ke sisi yang berbeda setiap 2-4 jam.

Memantau dan menjaga hidrasi sangat penting.

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) NSAID seperti fenilbutazon atau flunixin meglumine memainkan peran tambahan yang penting sebagai agen antipiretik dan penghambat prostaglandin. Selain itu, obat ini dapat mengurangi agregasi trombosit selama vaskulitis pada tingkat nyeri SSP (Göhring et al., 2017). Penggunaan asam asetilsalisilat (aspirin) pada kasus suspek EHM.

Antibiotik

Karena imunosupresi, antibiotik dapat diberikan pada kasus infeksi bakteri sekunder pada saluran pernapasan bagian atas atau ketika kateter kandung kemih dipasang dalam jangka waktu lama (Walter et al., 2013).

Mukolitik/simpatomimetik

(25)

Agen mukolitik seperti dembrexine dan obat simpatomimetik, seperti clenbuterol, yang meningkatkan pembersihan mukosiliar dan mengurangi kontaminasi saluran pernapasan dapat membantu dalam kasus pernapasan (Ivens, 2014).

Antioksidan Efek positif vitamin E dalam proses inflamasi dapat bermanfaat pada setiap tahap penyakit. Namun, konsentrasi yang diperlukan dalam jaringan SSP hanya dapat dicapai setelah beberapa hari (Ivens, 2014).

Heparin

Heparin dengan berat molekul rendah dilaporkan mengurangi trombosis dan mungkin memili ki efek menguntungkan dalam manifestasi klinis EHM (Walter et al., 2013; Stokol et al., 2016). L-Lisin L-Arginine adalah asam amino penting yang diperlukan untuk replikasi virus herpes, sedangkan L-Lysine menghambat penyerapan L-Arginine di usus (Griffith et al., 1987). L- Lysine adalah komponen dari beberapa bahan tambahan makanan dan tampaknya memiliki efek terapeutik yang lebih kuat pada tahap pertama infeksi. Tinjauan terbaru dalam pengobatan manusia menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang dapat diandalkan untuk mendukung penggunaan pengobatan virus herpes (Mailoo et al., 2017.)

Obat antivirus

Pemberian agen anti-virus tampaknya berguna dalam menghambat replikasi virus; namun penggunaannya masih terus diselidiki (Shiraki, 2018). Analog nukleosida generasi kedua, seperti asiklovir dan valasiklovir menimbulkan bioavailabilitas yang dipertanyakan, meskipun dalam beberapa kasus tampaknya mengurangi keparahan gejala EHM (Garre et al., 2009; Maxwell et al., 2017) dalam (Tyrnenopoul dan Diakakis, 2023). Gansiklovir secara in vitro tampaknya menjadi obat yang paling manjur di kelasnya (Carmichael et al, 2013).

Imunostimulan Imunostimulan seperti Parapoxvirus ovis dalam studi paparan alami EHV-1 menyebabkan penurunan tanda klinis penyakit pernapasan (Ons et al, 2014). Penggunaannya belum dievaluasi dalam konteks wabah EHM dan tidak dilisensikan untuk tujuan ini.

Vaksinasi

Sampai saat ini, terdapat vaksin EHV-1 dan EHV-1/4 yang tersedia secara komersial (Slat er 2007). Nilai dan keterbatasan vaksin komersial saat ini telah diketahui secara luas, dan ditinjau secara ekstensif (Kydd et al., 2006; Goehring et al., 2010). Dari tahun 2015 hingga awal tahun 2017, banyak negara Eropa menghadapi kekurangan vaksin EHV . Kedua perusahaan farmasi

(26)

hewan yang menyediakan vaksin ini di Eropa mengalami masalah manufaktur terkait produksi dan pelepasan vaksin secara batch. Keduanya com perusahaan memperoleh izin sementara untuk mengimpor dan mengkomersialkan vaksin pengganti EHV-1 (Paillot dkk., 2017). Oleh karena itu, vaksinasi dapat digunakan secara efektif sebagai tindakan tambahan untuk mengendalikan infeksi EHV-1 dengan meminimalkan penyebaran virus (Göhring et al., 2010). Vaksinasi semua kuda di peternakan pejantan sedang dilakukan, ditentukan; kuda betina bunting diberikan vaksinasi booster pada bulan ke 5, 7 dan 9 kehamilan. Disarankan untuk memvaksinasi kuda lain di tempat pembiakan, dimulai dengan kursus utama dan kursus kedua dengan selang waktu 4 minggu diikuti dengan vaksinasi booster setiap 6 bulan. Namun, tidak satu pun vaksin yang tersedia saat ini dipasarkan untuk pencegahan penyakit neurologis EHV-1. Selain itu, vaksinasi diperumit oleh laporan peningkatan risiko EHM (Henninger et al, 2007).

KESIMPULAN

Deteksi dini, pengobatan dan pengendalian manifestasi terkait EHV-1 dan EHV-4 tetap menjadi tantangan bagi para dokter hewan dan peneliti didunia, seperti yang dicontohkan oleh wabah baru-baru ini di sekolah berkuda, arena pacuan kuda, dan rumah sakit hewan di seluruh dunia. Oleh karena itu, penelitian ini berhasil untuk mengidentifikasi potensi aspiran epitop untuk mengembangkan Equine Herpes Virus dengan menggunakan imunoinformatika. Rangkaian peptida yang dapat diidentifikasi dan menunjukkan ambang batas 0.4 serta afinitas tinggi dalam

mengikat antigen antara lain seperti ISVPYY, GVNYSE,

LTYASGASASSSQSTPATPTHTTPNLTTAHGAGSDNTTNANGTESTHSHET,

ERKKSRRGGQLGVIPDRLPK, LPLHTEGGT, SVDWRTA, KNGTLV, APLLDLSVHPSLKGE, FPH, AREVDFTKYVTNASSVW, DPEEEYT, YRDEVSFARIA, NDHLPGVPSQDMTTGVCPSHS, SEENG, PDGLPMFSDTVVYDASPIVEDR dan PSQAPYKK dimana peptida yang memiliki afinitas tertinggi yaitu sebesar 1.3632.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Allen GP, Kydd JH, Slater JD and Smith KC (2004) Equid herpesvirus 1 (EHV-1) and equid herpesvirus 4 (EHV-4) infections In: Infectious Diseases of Livestock, Eds: J.A.W.

Coetzer and R.C. Tustin, Oxford Press, Cape Town: pp 829-859.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4782672/

Altan E, Li Y, Sabino-Santos Jr G, Sawaswong V, Barnum S, Pusterla N, Deng X, Delwart E (2019) Viruses in horses with neurologic and respiratory diseases. Viruses 11(10): 942.

https://www.mdpi.com/1999-4915/11/10/942

(28)

Back H, Weld J, Walsh C, Cullinane A (2019) Equine Rhinitis A Virus Infection in Thoroughbred Racehorses—A Putative Role in Poor Performance?. Viruses 11(10): 963.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6848918/pdf/viruses-11-00963.pdf

Balasuriya UB, Carossino M, Timoney PJ (2016). Equine viral arteritis: a respiratory and reproductive disease of significant economic importance to the equine industry. Equine Vet Educ 30(9):497-512. https://beva.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/eve.12672 Baker T. S, Newcomb W.W, Booy FP, Brown J.C & Steven A.C. 1990. Three-dimensional

structures of maturable and abortive capsids of equine herpesvirus 1 from cryoelectron microscopy. Vol: 64(2). Hal:563-73. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2153224/

Barba M, Fairbanks EL, Daly JM (2019) Equine viral encephalitis: prevalence, impact, and management strategies. Vet Med: Research and Reports Vet Med (Auckl) 10:99.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6689664/pdf/vmrr-10-99.pdf

Bazanow BA, Fracka AB, Jackulak NA, Staroniewicz ZM, Ploch SM (2014) A 34-year retrospective study of equine viral abortion in Poland Pol J Vet Sci 17:607–12.

https://www.researchgate.net/publication/271708383_A_34- year_retrospective_study_of_equine_viral_abortion_in_Poland

Boyle AG, Timoney JF, Newton JR, Hines MT, Waller AS, Buchanan BR (2018) Streptococcus equi infections in horses: guidelines for treatment, control, and prevention of strangles—

revised consensus statement. J Vet Intern Med 32(2):633-47.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5867011/pdf/JVIM-32-633.pdf

Burgess BA, Tokateloff N, Manning S, Lohmann K, Lunn DP, Hussey SB, Morley PS (2012) Nasal Shedding of Equine Herpesvirus‐1 from Horses in an Outbreak of Equine Herpes Myeloencephalopathy in Western Canada. J Vet Intern Med 26(2):384-92.

https://madbarn.com/research/nasal-shedding-of-equine-herpesvirus-1-from-horses-in-an- outbreak-of-equine-herpes-myeloencephalopathy-in-western-canada/

Bryant NA, Wilkie GS, Russell CA, Compston L, Grafham D, Clissold L, McLay K, Medcalf L, Newton R, Davison AJ, Elton DM (2018) Genetic diversity of equine herpesvirus 1 isolated from neurological, abortigenic and respiratory disease outbreaks Transbound Emerg Dis 65(3):817-32. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5947664/

Carmichael RJ, Whitfield C, Maxwell LK (2013) Pharmacokinetics of ganciclovir and valganciclovir in the adult horse. J Vet Pharmacol Ther 36(5):441-9. doi: 10.1111/

jvp.12029. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4264108/pdf/nihms422700.pdf Damiani AM, de Vries M, Reimers G, Winkler S, Osterrieder N (2014) A severe equine

herpesvirus type 1 (EHV-1) abortion outbreak caused by a neuropathogenic strain at a breeding farm in northern Germany. Vet Microbiol 172(3-4):555-562.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0378113514003150?via%3Dihub

(29)

Davison, A. J. Eberle, R. Ehlers, B. Hayward, G. S. McGeoch, D. J. Minson, A. C. Pellett, P.E.

Roizman, B. Studdert, M.J. Thiry, E. 2009. The order Herpesvirales. Arch Virol.154(1):171-7. doi: 10.1007/s00705-008-0278-4. Epub 2008 Dec 9. PMID:

19066710; PMCID: PMC3552636. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19066710/

Dixon RJ, Hartley WJ, Hutchins DR, Lepherd EE, Feilen C, Jones RF, Love DN, Sabine M, Wells AL (1978) Perinatal foal mortality associated with a herpesvirus. Aus Vet Journal 54(3):103-5. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7159581/pdf/AVJ-53-603.pdf Elizabeth A.R. Telford, Moira S. Watson, Kathryn McBride, Andrew J. Davison. 1992. The DNA

sequence of equine herpesvirus-1. Virology. Vol(189), Issue 1,Pages 304-316, ISSN 0042- 6822, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/004268229290706U?via

%3Dihub

Gerst S, Borchers K, Gower SM, Smith KC (2003) Detection of EHV‐1 and EHV‐4 in placental sections of naturally occurring EHV‐1‐and EHV‐4related abortions in the UK: use of the

placenta in diagnosis. Equine Vet J 35(5):430-3.

https://beva.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.2746/042516403775600451

Gibson JS, Slater JD, Field HJ (1992) The pathogenicity of Ab4p, the sequenced strain of equine herpesvirus-1, in specific pathogen-free foals Virol 1;189(1):317-9.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11612248/

Gilger BC (2010) Equine recurrent uveitis: the viewpoint from the USA. Equine Vet J 2010 42(S37):57-61. https://beva.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.2042- 3306.2010.tb05636.x

Gilkerson JR, Bailey KE, Diaz-Méndez A, Hartley CA (2015) Update on viral diseases of the equine respiratory tract. Vet Clin: Equine Pract 31(1):91104.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0749073914001059?via%3Dihub Göhring LS, Landolt GA, Morley PS (2010) Detection and management of an outbreak of equine

herpesvirus type 1 infection and associated neurological disease in a veterinary teaching

hospital. J Vet Intern Med 24(5):117683.

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1939-1676.2010.0558.x

Grinde B (2013) Herpesviruses: latency and reactivation - viral strategies and host response J Oral

Microbiol 5:10.3402/jom.v3405i3400.22766 doi:

10.3402/jom.v3405i3400.22766.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3809354/

Griffith RS, Walsh DE, Myrmel KH, Thompson RW, Behforooz A (1987) Success of L-lysine therapy in frequently recurrent herpes simplex infection. Dermatology 175(4):183-90.

https://karger.com/drm/article-abstract/175/4/183/345963/Success-of-L-Lysine-Therapy- in-Frequently?redirectedFrom=fulltext

Gryspeerdt, A.C. Vandekerckhove, A.P. Garre, B. Barbe, F. Van de Walle, G.R & Nauwynck, H.J .2010. Perbedaan kinetika replikasi dan tropisme sel antara strain EHV1 neurovirulen

(30)

dan non-neurovirulen selama fase akut infeksi pada kuda. Mikrobiologi kedokteran hewan

142(3-4):242- 53.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0378113509005355

Hartley CA, Dynon KJ, Mekuria ZH, El-Hage CM, Holloway SA, Gilkerson JR (2013) Equine gammaherpesviruses: perfect parasites? Vet Microbiol 167(1-2):86-92.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0378113513003167?via%3Dihub Hartley CA, Wilks CR, Studdert MJ, Gilkerson JR (2005) Comparison of antibody detection

assays for the diagnosis of equine herpesvirus 1 and 4 infections in horses. Am J Vet Res 66(5):921-8. https://avmajournals.avma.org/view/journals/ajvr/66/5/ajvr.2005.66.921.xml Hussey GS, Goehring LS, Lunn DP, Hussey SB, Huang T, Osterrieder N, Powell C, Hand J, Holz

C, Slater J (2013) Experimental infection with equine herpesvirus type 1 (EHV-1) induces chorioretinal lesions. Vet Res 44(1):1-5. https://bib.vetmed.fu-berlin.de/pubdb/pub/15500- experimental-infection-with-equine-herpesvirus-type-ehv-induces/?lang=en

Hussey SB, Clark R, Lunn KF, Breathnach C, Soboll G, Whalley JM, Lunn DP (2006) Detection and quantification of equine herpesvirus-1 viremia and nasal shedding by real-time polymerase chain reaction. J Vet Diagn Invest 18(4):335-42.

https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/104063870601800403

Ivens P ( 2014) EHM—What every equine practitioner needs to know. Livest 19(3):180-5.

https://www.magonlinelibrary.com/doi/epub/10.12968/live.2014.19.3.180

Khusro A, Aarti C, Rivas-Caceres RR, Barbabosa-Pliego A (2020) Equine herpesvirus-I infection in horses: Recent updates on its pathogenicity, vaccination, and preventive management

strategies. J Equine V Sci 87:102923.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0737080620300149

Kydd JH, Slater J, Osterrieder N, Lunn DP, Antczak DF, Azab W, Balasuriya U, Barnett C, Brosnahan M, Cook C, Damiani A (2012) Third international havemeyer workshop on equine herpesvirus type 1. Equine Vet J. 44(5):513-7.

https://beva.onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/j.2042-3306.2012.00604.x

Laval, K. Poelaert, K.C. Van Cleemput, J. Zhao, J. Vandekerckhove, A.P. Gry speert, A.C. Garre, B. van der Meulen, K. Baghi, H.B. Dubale, H.N & Zarak, I. 2021. Patogenesis dan Mekanisme Penghindaran Imun Equine Herpesvirus Tipe 1 dalam Mikrobiologi Frontier.

4;12:435. https://www.frontiersin.org/journals/microbiology/articles/10.3389/

fmicb.2021.662686/full

Lascola, K.M. 2023. Etiologi dan Epidemologi Infeksi Virus Herpes Kuda. , Departemen Ilmu

Klinis, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Auburn.

https://www.merckvetmanual.com/respiratory-system/respiratory-diseases-of-horses/

equine-herpesvirus-infection

Lecollinet S, Pronost S, Coulpier M, Beck C, Gonzalez G, Leblond A, Tritz P (2020) Viral equine encephalitis, a growing threat to the horse population in Europe?. Viruses 12(1):23.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7019608/

(31)

Long MT (2014) West Nile virus and equine encephalitis viruses: new perspectives. Vet Clin

Equine 30(3):523-42.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0749073914000674?via%3Dihub Ma G, Azab W, Osterrieder N (2013) Equine herpesviruses type 1 (EHV-1) and 4 (EHV-4)—

masters of co-evolution and a constant threat to equids and beyond Vet microbiol 29;167(1-2):123-34.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0378113513003325?via%3Dihub Marenzoni ML, Lepri E, Proietti PC, Bietta A, Coletti M, Timoney PJ, Passamonti F. (2012)

Causes of equine abortion, stillbirth and neonatal death in central Italy. The Vet Rec 170(10):262. https://bvajournals.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1136/vr.100551

McCartan CG, Russell MM, Wood JL, Mumford JA (1995) Clinical, serological and virological characteristics of an outbreak of paresis and neonatal foal disease due to equine

herpesvirus-1 on a stud farm. Vet Rec 136(1):712.

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1939-1676.1998.tb00494.x

McFadden AM, Hanlon D, McKenzie RK, Gibson I, Bueno IM, Pulford DJ, Orr D, Dunowska M, Stanislawek WL, Spence RP, McDonald WL, Munro G, Mayhew IG (2016) The first reported outbreak of equine herpesvirus myeloencephalopathy in New Zealand. N Z Vet J

64(2):125-34. doi: 10.1080/00480169.2015.1096853.

https://www.researchgate.net/publication/282343111_The_first_reported_outbreak_of_equ ine_herpesvirus_myeloencephalopathy_in_New_Zealand

Martinelli, Dominic. (2022). In silico vaccine design: A tutorial in immunoinformatics.

Healthcare Analytics. 2. 100044. 10.1016/j.health.2022.100044.

Mesquita LP, Costa RC, Mesquita LL, Lara MD, Villalobos EM, Mori CM, Mori E, Howerth EW, Maiorka PC (2021) Pathogenesis of Equid Alphaherpesvirus 1 Infection in the Central Nervous System of Mice. Vet Path 15:03009858211020670.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11612248/

Negussie H, Gizaw D, Tessema TS, Nauwynck HJ (2017) Equine herpesvirus‐1 myeloencephalopathy, an emerging threat of working equids in ethiopia. Transbound Emerging Dis 64(2):389-97. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/tbed.12377 Newcomb W.W, Brown J.C, Booy F.P, & Steven, A.C. 1989. Nucleocapsid mass and capsomer

protein stoichiometry in equine herpesvirus 1: scanning transmission electron microscopic study. Vol 63(9):

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2760983/

O’Callaghan DJ, Osterrieder N (2008) Herpesviruses of horses. In: Encyclopedia of Virology. 3rd

ed, Academic Press, New York :pp 411-420.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/B9780123744104003940?via

%3Dihub

(32)

Oladunni FS, Horohov DW, Chambers TM (2019) EHV-1: A constant threat to the horse industry Front Microbiol 3;10:2668. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6901505/

Osterrieder N, Van de Walle GR (2010) Pathogenic potential of equine alphaherpesviruses: the importance of the mononuclear cell compartment in disease outcome. Vet microbiol 16;143(1):21-8.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0378113510000866?via%3Dihub Paillot, R. Case, J. Ross, R. Newton & J. Nugent. 2008. Equine Herpes Virus-1: Virus, Immunity

and Vaccines. The Open Veterinary Science Journal. Vol(2). Hal 68-91.

Paillot R, Marcillaud Pitel C, D’ablon X, Pronost S (2017) Equine Vaccines: How, When and Why? Report of the vaccinology session, french equine veterinarians association, Reims.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5748612/pdf/vaccines-05-00046.pdf

Preziuso S, Sgorbini M, Marmorini P, Cuteri V (2019) Equid alphaherpesvirus 1 from Italian Horses: Evaluation of the Variability of the ORF30, ORF33, ORF34 and ORF68 Genes.

Viruses 11(9):851.

Pronost S, Cook RF, Fortier G, Timoney PJ, Balasuriya UB (2010) Relationship between equine Pusterla N, Hussey GS. Equine herpesvirus 1 myeloencephalopathy (2014) Vet Clin North Am Equine Pract (2014) 30(3):489-506. doi: 10.1016/j. cveq.2014.08.006. Epub 2014 Oct

7. PMID: 25300635.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0749073914000649?via%3Dihub Pusterla N, Barnum S, Miller J, Varnell S, Dallap-Schaer B, Aceto H, Simeone A (2021)

Investigation of an EHV-1 outbreak in the United States caused by a new H752 genotype Pathogens 10(6):747. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8231618/

Pusterla N, Barnum S, Miller J, Varnell S, Dallap-Schaer B, Aceto H, Simeone A (2021) Investigation of an EHV-1 outbreak in the United States caused by a new H752 genotype Pathogens 10(6):747. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8231618/pdf/pathogens- 10-00747.pdf

Reed, M. S & Toribio, R (2005). Equine Heves virus 1 and 4. Veterinary Clinics of North

American Equine Practice. Vol (30). Hal 631-642. .

https://www.researchgate.net/publication/8200317_Equine_herpesvirus_1_and_4

Roizman B (1991) Family Herpesviridae. In: Francki RIB, Fauquet CM, Knudson DL and Brown F (eds) Classification and nomeclature of viruses. 5th Report of the International Committee on Taxonomy of Viruses Arch Viral., 2 (suppl) :l03-110.

https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-1-4684-4163-5_1

Shiraki K (2018) Antiviral drugs against alphaherpesvirus. Adv Exp Med Biol 1045; 103–122.

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29896665/

(33)

Schulman ML, Kass PH, Becker A, Van der Merwe B (2013) A predictive model for reproductive performance following abortion in Thoroughbred mares Vet Rec 172(2):44.

https://repository.up.ac.za/bitstream/handle/2263/21547/Schulman_Predictive_2013.pdf Slater J (2007) Equine herpesviruses. In:. Equine Infectious Diseases. Saunders Elsevier, St.

Louis, Missouri, USA: pp 134–153.

https://www.researchgate.net/publication/278407179_Equine_Herpesviruses

Smith KL, Li Y, Breheny P, Cook RF, Henney PJ, Sells S, Pronost S, Lu Z, Crossley BM, Timoney PJ, Balasuriya UB (2012) New real-time PCR assay using allelic discrimination for detection and differentiation of equine herpesvirus-1 strains with A2254 and G2254

polymorphisms. J Clin Microbiol 50(6):1981-8.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3372139/pdf/zjm1981.pdf

Smith KC, Blunden AS, Whitwell KE, Dunn KA, Wales AD (2010) A survey of equine abortion, stillbirth and neonatal death in the UK from 1988 to 1997 Equine Vet J 35(5):496-501.

https://beva.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.2746/042516403775600578?sid=nlm

%3Apubmed

Stokol, T & Hussey, G. S. 2020.Editorial: Current Research on Equine Herpes Virus Type- 1(EHV-1). Frontiers and Veterinary Science. Vol(6). Hal:492

Stokol T, Serpa PBS, Zahid MN, Brooks MB (2016) Unfractionated and low-molecular-weight heparin and the phosphodiesterase inhibitors, IBMX and cilostazol, block ex vivo equid herpesvirus type-1-induced platelet activation. Front Vet Sci 3:99. doi:

10.3389/fvets.2016.00099. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5112437/pdf/fvets- 03-00099.pdf

Stasiak K, Dunowska M, Rola J (2020) Outbreak of equid herpesvirus 1 abortions at the Arabian

stud in Poland. BMC Vet Res 16(1):1-8.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7539464/pdf/12917_2020_Article_2586.pdf Sutton G, Thieulent C, Fortier C, Hue ES, Marcillaud-Pitel C, Pléau A, Deslis A, Guitton E,

Paillot R, Pronost S (2020) Identification of a New Equid Herpesvirus 1 DNA Polymerase (ORF30) Genotype with the Isolation of a C2254/H752 Strain in French Horses Showing no Major Impact on the Strain Behaviour Viruses 12(10):1160.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7650556/

Telford EA, Watson MS, McBride K, dkk. Urutan DNA virus herpes kuda-1. Virologi 1992;

189(1): 304-316.

Traub‐Dargatz JL, Pelzel‐McCluskey AM, Creekmore LH, Geiser‐Novotny S, Kasari TR, Wiedenheft AM, Bush EJ, Bjork KE (2013) Case–control study of a multistate equine herpesvirus myeloencephalopathy outbreak. J Vet Intern Med 27(2):339-46.

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jvim.12051

(34)

Triakoso N, 2011.penyakit viral ternak.airlangga university.

https://www.researchgate.net/publication/301226213_Penyakit_Viral_Pada_Ternak

Tyrnenopoul, P & N Diakakis . 2023. Virus Herpes Kuda-1. Perspektif seorang dokter. Jurnal Masyarakat Medis Hewan Hellenic. Vol 74(2). Hal: 5667–5676.

https://doi.org/10.12681/jhvms.29907.

https://ejournals.epublishing.ekt.gr/index.php/jhvms/article/view/29907

Van Cleemput J, Poelaert KC, Laval K, Maes R, Hussey GS, Van den Broeck W, Nauwynck HJ (2017) Access to a main alphaherpesvirus receptor, located basolaterally in the respiratory epithelium, is masked by intercellular junctions. Sci Rep 30;7(1):1-5.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5709510/

Van Maanen C, van Oldruitenborgh‐Oosterbaan MS, Damen EA, Derksen AG (2001) Neurological disease associated with EHV‐1‐infection in a riding school: clinical and virological characteristics. Equine Vet J 2010 33(2):191-196.

https://beva.onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/j.2042-

3306.2001.tb00600.x https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6784080/pdf/viruses-11- 00851.pdf

Van den Ingh TS, Binkhorst GJ, Kimman TG, Vreeswijk J, Pol JM, Van Oirschot JT (1990) Aujeszky’s disease in a horse. J Vet Med Series B 37(1‐10):532-8.

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1439-0450.1990.tb01092.x

Vandekerckhove, A. Glorieux, S. Gryspeerdt, A. Steukers, L. Duchateau, L. Osterrieder, N. Van de Walle G & Nauwynck H. 2010 Kinetika replikasi strain neurovirulent versus non- neurovirulent equine herpesvirus tipe 1 pada eksplan mukosa hidung kuda. Jurnal Virologi

Umum 91(8):2019-28.

https://www.microbiologyresearch.org/content/journal/jgv/10.1099/vir.0.019257-0

Vandekerckhove A, Glorieux S, Gryspeerdt A, Steukers L, Duchateau L, Osterrieder N, Van de Walle G, Nauwynck H (2010) Replication kinetics of neurovirulent versus non- neurovirulent equine herpesvirus type 1 strains in equine nasal mucosal explants. Journal of General Virology 91(8):2019-28

Walter J, Seeh C, Fey K, Bleul U, Osterrieder N (2013) Clinical observations and management of a severe equine herpesvirus type 1 outbreak with abortion and encephalomyelitis. Acta Vet Scand 55(1):19. doi: 10.1186/17510147-55-19. PMID: 23497661; PMCID: PMC3630004.

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3630004/pdf/1751-0147-55-19.pdf

Westerfield C, Dimock WW (1946) The pathology of equine virus abortion. Journal of the American Veterinary Medical Association 109:101-11.

Xie J, Tong P, Zhang L, Ren M, Song X, Jia C, Palidan N, Zhang L, Kuang L (2021) First detection and genetic characterization of equid herpesvirus 2, 4, and 5 in China. Arch Virol 166(5):1421-6. https://link.springer.com/article/10.1007/s00705-021-05003-3

(35)

Referensi

Dokumen terkait