Irvan Miftahul Arif dan Utari Gita Mutiara|Post Traumatic Stress Disorder dan Tatalaksana Non-Farmakologi pada Penderita Retardasi Mental
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|215
Post Traumatic Stress Disorder dan Tatalaksana Non-Farmakologi pada Penderita Retardasi Mental
Irvan Miftahul Arif1, Utari Gita Mutiara2
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Bagian Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Retardasi Mental (RM) adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang ditandai dengan keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat inteligensi yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Penderita RM biasanya berumur dibawah 18 tahun. Orang dengan RM akan lebih mudah terkena PTSD ketika terpapar dengan trauma. Untuk memenuhi kriteria diagnostik American Association nn Mental Retardation (AAMR) menggunakan suatu pendekatan multi-dimensional atau biopsikososial yang mencakup 5 dimensi mengenai RM, yaitu kemampuan intelektual, Perilaku adaptif, partisipasi, interaksi dan peran sosial, kesehatan fisik dan mental, konteks : termasuk budaya dan lingkungan. Kriteria diagnostik yang digunakan ialah menurut DSM IV-TR dan DM- ID. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah membahas yang telah menjadi penyebab tersebut, manifestasi yang timbul dan penatalaksanaan non-farmakologi penderita PTSD pada orang RM. Simpulan pada artikel ini penderita PTSD pada orang RM dapat ditalaksana non-farmakologi dengan pengobatan psychotherapeuic (EDMR dan CBT) dan terapi kognitif-perilaku.
Kata kunci: CBT, EDMR, PTSD, Retardasi Mental
Post Traumatic Stress Disorder and Non-Pharmacology Management in Mental Retardation Patients
Abstract
Mental retardation (MR) is a state of stalled or incomplete mental development, characterized by skills during development, affecting all levels of intelligence, cognitive, linguistic, motor, and social skills. The RM patient is usually under 18 years of age. People with RM will be more susceptible to PTSD when exposed to trauma. To meet the American Association On Mental Retardation (AAMR) diagnostic criteria using a multi-dimensional or biopsychosocial approach that includes 5 dimensions of RM, ie intellectual ability, adaptive behavior, participation, interaction and social role, physical and mental health, context: including culture and the environment. The diagnostic knees used are according to DSM IV-TR and DM-ID. The purpose of writing this article is to discuss who has been the cause, the manifestations arising and the management of non-pharmacologic patients of PTSD in people RM. The conclusions in this article of patients with PTSD in RM people can be trained non-pharmacologically with psychotherapeuic treatment (EDMR and CBT) and behavioral- cognitive therapy.
Keywords: CBT, EDMR, Mental retardation, PTSD
Korespondensi: Irvan Miftahul Arif, alamat Jl. Sutan Badarudin Gang Kenanga No 38 Langkapura Bandar Lampung, HP: 082177007276, e-mail: [email protected]
Pendahuluan
Retardasi Mental (RM) merupakan suatu fenomena psikososial dan juga suatu fenomena biomedis. Retardasi Mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat inteligensi yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial1. Penderita retardasi mental biasanya berumur dibawah 18 tahun2. Telah diketahui gangguan jiwa rentan terjadi pada populasi ini, namun frekuensinya sekurang-kurangnya 2 sampai 4 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Selain itu, gejala yang ditimbulkan relatif berbeda terhadap mereka yang bukan penderita RM3.
Mengalami bencana merupakan pengalaman yang menimbulkan tekanan bagi hampir semua orang. Respon setiap idividu pun berbeda, yaitu rasa takut, cemas, sedih, tidak berdaya dan marah. Setiap orang memiliki jangkauan perasaan yang berbeda-beda untuk alasan yang berbeda. Memiliki gangguan kesehatan mental juga dapat mempengaruhi bagaimana seseorang mengalami bencana4. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa orang dengan gangguan mental memiliki risiko kejadian lebih tinggi mengalami trauma dan kehidupan yang kurang baik dibanding dengan orang yang tidak terdapat gangguan mental.
Hasil penelitian menunjukkan sekitar 30%
sampai 40% orang dengan gangguan mental saat ini memiliki PTSD4,5. Retardasi Mental
Irvan Miftahul Arif dan Utari Gita Mutiara|Post Traumatic Stress Disorder dan Tatalaksana Non-Farmakologi pada Penderita Retardasi Mental
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|216 merupakan salah satu gangguan mental dan
penderita RM lebih berisiko menderita gangguan akibat trauma termasuk Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)5.
Hasil dari beberapa laporan kasus menyatakan bahwa penatalaksanaan pada PTSD dapat dilakukan dengan Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) dan Trauma Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF CBT). Berbeda dengan orang yang bukan RM, penatalaksanaan yang dilakukan secara komprehensif untuk meredahkan kecemasan dan juga modifikasi pola hidup1,4.
Hasil studi meta analisis menemukan bahwa penderita RM memiliki risiko tinggi terjadinya PTSD dan menimbulkan manifestasi yang berbeda dengan yang bukan RM. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah membahas yang telah menjadi penyebab tersebut, manifestasi yang timbul dan penatalaksanaan pada penderita RM dengan PTSD.
Isi
Hasil meta analisi pada penelitian L.
Mesvissen dan A. De Jongh pada tahun 2009 didapatkan bahwa tingkat kejadian PTSD (dengan sampel 359 orang) pada orang dengan RM telah dirujuk untuk perawatan dan memiliki riwayat >1 pengalaman traumatis. Kejadian PTSD dapat terjadi pada anak-anak sampai remaja (perempuan 46%, laki-laki 37%), dan dewasa (umur 23-57 tahun, perempuan 33%
dan laki-laki 66%)3.
American Association on Mental Retardation (AAMR) menggunakan suatu pendekatan multi-dimensional atau biopsikososial yang mencakup 5 dimensi mengenai RM yaitu2 :
1. Kemampuan intelektual 2. Perilaku adaptif
3. Partisipasi, interaksi dan peran sosial 4. Kesehatan fisik dan mental
5. Konteks: termasuk budaya dan lingkungan Adapun kriteria diagnostik untuk RM menurut DSM IV–TR adalah sebagai berikut6: 1. Fungsi intelektual dibawah rata-rata (IQ <
70) yang diperiksa secara individual.
2. Kekurangan individu untuk memenuhi tuntutan standart perilaku sesuai dengan usianya dari lingkungan budayanya, dalam sedikitnya 2 hal, yaitu : komunikasi, perawatan diri, kehidupan rumah tangga, keterampilan sosial atau interpersonal, penggunaan terhadap sarana komunikasi,
dapat mengarahkan dirisendiri, keterampilan akademis fungsional, pekerjaan, waktu senggang, kesehatan dan keamanan.
3. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun Berdasarkan DSM IV – TR terdapat kode diagnostik dan derajat RM, yaitu6:
317 Retardasi Mental Ringan (IQ 50-55 sampai 70)
318 Retardasi Mental Sedang (IQ 35-40 sampai 50-55)
318.1 Retardasi Mental Berat (IQ 20-25 sampai 35-40)
318.2 Retardasi Mental Sangat Berat (IQ <25) 319 Retardasi Mental tidak tergolongkan bila
tidk dapat dilakukan pemeriksaan IQ Orang dengan RM lebih cenderung mengembangkan PTSD daripada orang tanpa RM. Tingkat peningkatan PTSD pada orang dengan RM juga mungkin disebabkan oleh meningkatnya kerentanan terhadap stress, yang mungkin terkait dengan gangguan kejiwaan mereka4.
Kerentanan RM terhadap trauma dapat ditinjau dari efek trauma terhadap penderita RM. Hasil dari penelitian Sarah Wigham tahun 2011, memberikan pejelasan bahwa peristiwa trauma seperti sexual abuse, life events, dan Bereavement terdapat hubungan dengan kejadian peningkatan stress yang berkembang menjadi PTSD2.
Buku ajar Diagnosis of Mental Disorders in Persons with Intellectual Disability menjelaskan manifestasi PTSD pada orang dengan RM diidentifikasikan dengan menggunakan kriteria oleh DM-ID, yaitu7:
1. Kriteria A: telah mengalami kejadian traumatis.
2. Kriteria B: sedang mengalami kejadian traumatis yang berulang-ulang sehingga menganggu ingatan sampai dengan menimbulkan mimpi buruk sehingga merasa bahwa kejadian traumatis akan kambuh kembali.
3. Kriteria C: mencoba untuk menghindari ransangan yang terkait dengan trauma.
Selain kriteria diatas, terdapat manifestasi yang dapat dikenali pada penderita RM yaitu perilaku yang tidak terorganisir atau kacau, melakukan tindakan yang menunjukan perilaku dari pengalaman traumatis, perilaku yang merugikan dirinya sendiri, mimpi buruk, dan reaktivasi trauma spesifik yang dapat
Irvan Miftahul Arif dan Utari Gita Mutiara|Post Traumatic Stress Disorder dan Tatalaksana Non-Farmakologi pada Penderita Retardasi Mental
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|217 timbul sebagai gejala psikosis pada orang
dewasa5,7. Menentukan diagnostik PTSD pada orang dengan RM dengan prosedur diagnosik mengikuti kriteria DM-ID. Gejala pasien memenuhi kriteria utama (telah mengalami kejadian traumatis, peristiwa traumatis sedang dialami kembali, dan menghindari ransangan yang terus berlanjut terkait trauma). Terdapat PTSD apabila mereka menunjukan tindakan yang konsisten sesuai kriteria DM-ID. Hasil dari penelitian sebelumnya didapatkan PTSD akan timbul setelah tiga sampai empat dan akan bertahan hingga sepuluh atau 20 tahun setelah kejadian traumatis7.
Berdasarkan hasil dari meta analisis didapatkan 6 penelitian yang merekomendasikan penatalaksanaan non- farmakologi untuk PTSD pada orang dengan RM yaitu dengan pengobatan psychotherapeuic (EDMR dan CBT), lihat pada tabel 1 dan 2. Pada penatalaksanaan ini berfokus pada terapi kognitif-perilaku, termasuk terapi paparan traumatis dan restrukturisasi kognitif. Terapi pemaparan membantu penderita mengurangi penghindaran rangsangan terkait trauma dengan cara memberi dorongan kepada mereka untuk menghadapi apa yang dipikirkan, perasaan, dan pengalaman yang ditakuti4,10.
Gambar 1. Tabel Meta analisis penatalaksanaan non-farmakologi PTSD tipe EDMR pada orang dengan RM
Mengenai pengobatan PTSD pada orang dengan RM, beberapa metode penatalaksanaan telah digunakan dan dibuktikan. Diantaranya,
EMDR dan CBT yang telah memiliki dukungan empiris yang paling kuat dibandingkan dengan yang lain.
Gambar 2. Tabel Meta analisis penatalaksanaan non-farmakologi PTSD tipe CBT pada orang dengan RM
Evaluasi medis komprehensif direkomendasikan karena frekuensi kondisi medis lain yang ada dalam populasi ini yang mungkin mempengaruhi kesehatan mental individu.
Telah didapatkan hasil studi empiris tentang pengobatan farmakologis PTSD pada orang dengan RM kurang dan memiliki efek samping negatif, sehingga menganggu pemulihan4.
Irvan Miftahul Arif dan Utari Gita Mutiara|Post Traumatic Stress Disorder dan Tatalaksana Non-Farmakologi pada Penderita Retardasi Mental
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|218 Ringkasan
Retardasi Mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap dan penderita tersering biasanya berumur dibawah 18 tahun. Orang dengan RM sangat rentan terhadap stress yang diakibatkan trauma sehingga tingkat terjadinya PTSD lebih tinggi pada penderita ini dibandingkan dengan orang yang tidak dengan RM.
Penyebab dari PTSD pada orang dengan RM banyak disebabkan oleh sexual abuse, life events, dan Bereavemen. Manifestasi yang timbul antara lain perilaku yang tidak terorganisir atau kacau, melakukan tindakan yang menunjukan perilaku dari pengalaman traumatis, perilaku yang merugikan dirinya sendiri, mimpi buruk, dan reaktivasi trauma spesifik yang dapat timbul sebagai gejala psikosis pada orang dewasa. Penatalaksanaan yang diberikan pada penderita PTSD dengan RM yaitu dengan pengobatan psychotherapeuic (EDMR dan CBT) dan terapi kognitif-perilaku.
Simpulan
Penderita PTSD dengan RM dapat berikan tatalaksana non-farmakologi berupa EDMR atau CBT.
Daftar Pustaka
1. Elvira S dan Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FK UI;
2015.
2. American Psychiatric Association. The diagnostic and statistical manual of mental disorders. Edisi Ke-4. USA: APA; 2000.
3. L. Mevissen and A. de Jongh. PTSD and its treatment in people with intellectual disabilities A rieview of the literature.
Elsevier. 2010;30(3):308-16.
4. L. Mevissen, R. Lievegoed, A. de Jongh.
EMDR treatment in people with mild ID and PTSD: 4 Cases. Psyichiatr Q.
2011;82:43-57.
5. kay jankowski, PhD and jessica hamblen, PhD. The effect of disaster on people with severa mental illness. USA: National Center for PTSD; 2017.
6. L. Mevissen, R. Lievegoed, A. Seubert and A. De Jongh. Treatment of PTSD in people with severe intellectual disabilities: A case series. Development Neurorehabilitation.
2012;15(3):223-32.
7. Wigham. S, Hatton. C and John. T. The effects of traumatizing life events on people with intellectual disabilities: A systematic review. Journal of mental health research in inellectual disabilities.
2011;4:19-39
8. Bakken T, Nikolai A, Matre E, Kristiansen T, Ro A, Louise A, dkk. Identification of PTSD in adults with intellectual disabilities in five patients in a specialised psychiatric inpatient unit. 2014;8(4):91-102.
9. Giltaij H. EMDR bij mensen met een visuele en verstandelijke beperking. [As if a vacuum cleaner went through my head.
EMDR in people with visual and intellectual disabilities]. Tijdschrift voor Kinder-&
Jeugdpsychotherapie. 2014;3:81-97.
10. Tharner G. Over de toepassing van EMDR bij de behandeling van mensen met een lichte verstandelijke beperking. [About the application of EMDR in the treatment of people with a mild intellectual disability].
In Robert Didden (Ed.), In perspectief.
Gedragsproblemen, psychiatrische stoornissen en lichte verstandelijke beperking. Bohn Stafleu van Loghum.
Amsterdam. 2006; 30(3):145-168.
11. Rodenburg R, Benjamin A, Meijer A M, dkk.
Eye movement desensitization and reprocessing in an adolescent with epilepsy and mild intellectual disability. Epilepsy and Behavior. 2009;16:175-80.
12. Lemmon V and Mizes J. Effectiveness of exposure therapy: A study of posttraumatic stress disorder and mental retardation.
Cognitive and Behavioural Practice.
2002;4:317-23.
13. Stenfert Kroese B and Thomas G. Treating chronic nightmares of sexual assault survivors with an intellectual disability-Two descriptive case studies. Journal of Applied Research in Iintellectual Disabilities.
2006;19:75-80.