• Tidak ada hasil yang ditemukan

2014 - Universitas Udayana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "2014 - Universitas Udayana"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

2014

(2)

© 2014 ISBN Judul Buku:

Pusaka Sistem Pertanian Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Desain Sampul:

G. Sahl Wahono Lokasi Sampul Muka:

Bendungan sungai di Desa Bugbug (HS Arifin IPB) Lanskap Desa Bugbug (RL. Kaswanto)

Pangan Lokal Paco Maka (Talas), Cengka (Huwi Ungu) dan Kopi Bantaeng(HS Arifin IPB)

Tanaman buah nanas di Bantaeng (RL. Kaswanto) Ternak sapi di Bugbug (RL. Kaswanto)

Kapolaga di Puncak Suroloyo (Budiadi UGM) Tata Letak:

RL Kaswanto

Kerjasama antara:

KEMENKOKESRA IPB FAO PBB

UNILA UGM UNMUL UDAYANA UNHAS

(3)

Kata Pengantar

Praktek Sistem Pertanian berbasis Pemberdayaan Masyarakat dengan mengedepankan potensi sumber daya alam, lanskap dan kekayaan lokal, sudah sejak lama dilakukan oleh petani dan peternak dan nelayan. Hal ini mencerminkan pengetahuan dan pengalaman lokal, sistem agribisnis, keragaman pengetahuan, dan hubungan yang mendalam dengan alam. Sistem ini telah menghasilkan lanskap yang luar biasa, pengelolaan dan adaptasi keanekaragaman hayati pertanian yang signifikan secara global, sistem pengetahuan lokal dan ekosistem yang stabil. Demikian pula, penyediaan beberapa barang dan jasa, keamanan pangan dan mata pencaharian bagi jutaan orang miskin dan petani kecil secara berkelanjutan.

Dalam rangka menjaga dan mendukung pusaka sistem pertanian di dunia, pada tahun 2002 FAO memulai sebuah inisiatif untuk melakukan konservasi dinamis terhadap sumber daya alam yang dikenal dengan Globally Important Agriculture Heritage System (GIAHS) atau dapat diartikan sebagai Pusaka Sistem Pertanian Global.

GIAHS mempromosikan pemahaman umum, kesadaran, pengakuan nasional dan internasional tentang Pusaka Sistem Pertanian. Dengan menjaga aspek sosial, budaya dan jasa, sistem ini diharapkan dapat memberikan kepada petani, masyarakat adat dan masyarakat lokal, dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan dan pembangunan lanskap perdesaan.

Praktek-peraktek GIAHS sudah dilakukan di berbagai negara, yakni di Aljazair, Azerbaijan, Bangladesh, Chile, China, Ethiopia, India, Iran (Republik Islam), Jepang, Kenya, Meksiko, Maroko, Peru, Filipina, Sri Lanka, Tanzania, Tunisia, dan Turki serta Indonesia sendiri. Di negara- negara ini, pendekatan manajemen adaptif akan dikembangkan dan diimplementasikan, untuk membantu para pemangku kepentingan nasional dan lokal dalam konservasi dinamis pusaka sistem pertanian mereka.

(4)

Di Indonesia khususnya, inisiasi GIAHS sudah dilakukan sejak tahun 2013 yang sampai sekarang sudah mengalami progres yang amat baik seperti mengikuti secara aktif kegiatan GIAHS atas inisiasi FAO baik di Roma maupun Jepang dan Thailand. Pengalaman negara-negara lain dalam pelaksanaan GIAHS diharapkan dapat diimplementasikan di Indonesia melalui berbagai inisiatif dan inovasi berdasarkan potensi lokal yang telah ada.

GIAHS atau Pusaka Sistem Pertanian Global diharapkan dapat memelihara dan mempertahankan pusaka sistem pertanian tradisional yang saat ini sudah banyak ditinggalkan. GIAHS juga diharapkan memberikan kontribusi yang positif, baik secara ekologi, sosial maupun ekonomi sebagai bagian dari tindakan pelestarian lingkungan dan alam sekitarnya.

Pada tahun 2013 telah dilakukan inisiasi kerjasama antara Food and Agriculture Organization - Headquarter (FAO-HQ) Roma dan FAO Indonesia (FAO-ID) dengan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra) untuk melakukan kajian awal terhadap potensi GIAHS di Indonesia. Mengingat fokus kerja Kemenkokesra bukan dalam bidang penelitian, maka selanjutnya dilakukan kerjasama dengan Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB). Disadari bahwa potensi Pusaka Sistem Pertanian dan Tanaman Pangan di Indonesia sangat besar, maka dipilih 5 (lima) lokasi pilot kajian melalui kerjasama dengan perguruan tinggi setempat yaitu Provinsi Lampung dengan Universitas Lampung (UNILA), Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Provinsi Kalimantan Timur dengan Universitas Mulawarman (UNMUL), Provinsi Bali dengan Universitas Udayana (UNUD) dan Provinsi Sulawesi Selatan dengan Universitas Hasanuddin (UNHAS).

Hasil kajian di 5 (lima) provinsi tersebut kemudian dibawa ke dalam pembahasan yang mendalam melalui workshop di Jakarta.

Berdasarkan pembahasan dalam workshop tersebut, maka hasil kajian disusun ke dalam buku ini dengan maksud untuk memberikan pemahaman kepada pembaca dan para stakesholder tentang GIAHS dan kajian tentang potensinya di Indonesia, agar selanjutnya dapat diusulkan penetapan baik skala nasional yaitu Nationally Importany Agriculture Heritage System (NIAHS), maupun skala Global yaitu Globally Important Agriculture Heritage System (GIAHS).

(5)

Buku ini merupakan kajian awal yang tentunya masih banyak keterbatasan terutama dalam memahami konsep GIAHS secara utuh.

Kami menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu perbaikan tetap akan dilakukan agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada kepada Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dan Dr. RL Kaswanto (IPB) yang telah mengkoordinasikan tim dari Perguruan Tinggi lokal, melakukan kunjungan lapang dan menyusun laporan pelaksanaan studi potensi GIAHS di 5 (lima) lokasi. Kami juga menyampaikan ucapan terimakasih atas kontribusi dan kerja kerasnya dalam penyusunan laporan di masing-masing lokasi, kepada para anggota tim yaitu, Dr. Christine Wulandari dan Duryat (UNILA), Dr.

Budiadi dan Singgih Utomo (UGM), Dr. Hadi Pranoto dan Penny Pujowati (UNMUL), Lury Sevita Yusiana dan Ni Wayan Febriana Utami (UDAYANA), Dr. Abdul Haris Bahrun dan Nurfaida (UNHAS). Demikian pula kepada Dr. Mustafa Imir dan Dr. Ageng Herianto (FAO-ID) yang telah memfasilitasi pelaksanaan dan melakukan penandatanganan MoU dengan IPB tentang Studi Potensi GIAHS di Indonesia. Kami juga menyampaikan terimakasih kepada Dr. Parviz Koohafkan dan Dr.

Marie Jane Ramozdelacruz (FAO-Roma dan International Fund for Agriculture Development/IFAD) yang telah memberikan sosialisasi tentang GIAHS, mendampingi kami dalam melakukan kajian dan mengalokasikan pendanaan dalam Kajian Potensi GIAHS di Indonesia.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada teman-teman di Sekretariat Kelompok Kerja Pengendali PNPM Mandiri yang di samping tugas pokoknya juga melakukan pendampingan kunjungan lapangan, berkontribusi dalam pelaksanaan workshop dan penulisan laporan, serta Pemerintah Daerah yang telah memfasilitasi kunjungan lapangan dan semua pihak yang telah memberikan kontribusi sejak awal kajian di lapangan sampai penulisan buku ini.

Jakarta, Desember 2014 Dr. Pamuji Lestari Asisten Deputi Urusan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat

(6)

Daftar Isi

BAB 1 Konsep Umum Pusaka Sistem Pertanian Global (Globally Important Agriculture Heritage Systems/GIAHS) di

Indonesia ... 1 Hadi Susilo Arifin dan RL Kaswanto

BAB 2 Hutan Mangrove dan Hutan Marga sebagai Pusaka

Sistem Pertanian Global di Provinsi Lampung ... 5 Christine Wulandari, Duryat, Hadi Susilo Arifin dan RL

Kaswanto

BAB 3 Keberlanjutan Sistem Agroforestri Herbal di Provinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta ... 23 Budiadi, Singgih Utomo, Hadi Susilo Arifin dan RL Kaswanto BAB 4 Keterpaduan Sistem Pertanian Desa Budaya Pampang di

Provinsi Kalimantan Timur ... 35 Hadi Pranoto, Penny Pujowati, Hadi Susilo Arifin dan RL

Kaswanto

BAB 5 Konsep Tri Hita Karana dalam Sistem Pertanian di

Provinsi Bali ... 49 Lury Sevita Yusiana, Ni Wayan Febriana Utami, Hadi Susilo Arifin dan RL Kaswanto

BAB 6 Hutan Perkebunan Kopi Desa Labbo di Provinsi Sulawesi Selatan ... 59 Abdul Haris Bahrun, Nurfaida, Hadi Susilo Arifin dan RL

Kaswanto

BAB 7 Peran Pemerintah dalam Pelestarian Pusaka Sistem

Pertanian Nasional dan Global ... 75 Hadi Susilo Arifin dan Pamuji Lestari

(7)

BAB 5 Konsep Tri Hita Karana dalam Sistem Pertanian di Provinsi Bali

Lury Sevita Yusiana, Ni Wayan Febriana Utami, Hadi Susilo Arifin dan RL Kaswanto

5

Sekilas Mengenai Desa Bugbug

Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali merupakan kawasan yang memiliki potensi warisan budaya berupa sistem Subak dan Tri Hita Kirana (THK). Sistem Subak sendiri sudah dianut oleh masyarakat Bali sejak lama. Sistem Subak merupakan cara bertani masyarakat Bali dengan cara mengelola sumberdaya air untuk mengirigasi padi sawah pada area pertanian (Gambar 5.1).

Sumber foto: Googlemap

Gambar 5.1 Peta Lokasi di Provinsi Bali

(8)

Mata pencaharian masyarakat Desa Bugbug sebagian besar adalah petani dan nelayan. Kegiatan pertanian yang banyak dilakukan oleh masyarakat Bugbug khususnya budidaya padi sawah yang dikelola dengan sistem irigasi Subak. Selain budidaya padi sawah, terdapat pula beberapa komoditas pertanian lainnya yang juga dibudidayakan petani di desa Bugbug diantaranya palawija dan tanaman buah antara lain pisang, jagung, kacang panjang dan jambu mente (Gambar 5.2).

Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, masyarakat desa Bugbug memanfaatkan hasil tangkapan nelayan setempat berupa produk laut seperti ikan, khususnya jenis ikan tongkol (Survey lapangan, September 2013) (Gambar 5.3).

Sumber foto: Hadi Susilo Arifin (2013)

Gambar 5.2 Tanaman Buah dan Sayur Desa Bugbug

Sumber foto: Hadi Susilo Arifin (2013)

Gambar 5.3 Perahu Nelayan di Desa Bugbug

(9)

Sumber foto: Hadi Susilo Arifin (2013)

Gambar 5.4 Area Sawah di Desa Bugbug

Luas area desa Bugbug terbagi menjadi dua jenis yaitu area sawah 126.96 Ha (14.32%) dan tanah bukan sawah/tanah kering sebesar 756.89 Ha (85.68%) dimana terdapat lima (5) buah Subak (Subak Glogor, Subak Pesa, Subak Mepaang, Subak Tegakin, dan Subak Lumpadang) dengan 545 orang anggota (Kecamatan Karangasem Dalam Angka 2012) (Gambar 5.4).

Sedangkan jumlah kelompok nelayan yang terdapat di desa Bugbug adalah sebanyak 13 kelompok nelayan (Giri Samudra, Jaya Arnawa, Samudra Harapan, Sari Merta Baruna, Sih Amerta Baruna, Sari Baruna, Sari Wahyu Baruna, Sami Rahayu, Samudra Bali, Amerta Segara, Ayu Manik Segara, Ayu Segara, dan Widiana), tiap kelompoknya terdiri atas 20 hingga 56 orang.

Keragaman Ekosistem Desa Bugbug

Keragaman jenis ekosistem yang ditemukan di Desa Bugbug adalah ekosistem Subak/lahan basah, ekosistem kebun/lahan kering, serta ekosistem pantai. Keragaman hayati ekosistem Subak seperti tanaman

(10)

padi pisang, jagung, kacang panjang dan jambu mente. Selain itu, terdapat keragaman hayati berupa hewan ternak budidaya yang dikembangkan di Bugbug antara lain sapi (1,404 ekor), babi (5,576 ekor), kambing (403 ekor), ayam (17,500 ekor ayam kampung dan 189,500 ekor ayam ras), itik (250 ekor), dan hewan ternak lainnya (280 ekor) (Kecamatan Karangasem Dalam Angka 2012) (Gambar 5.5).

Sumber foto: Hadi Susilo Arifin (2013)

Gambar 5.1 Jenis Keragaman hayati di Desa Bugbug

Keindahan Lanskap Desa Bugbug

Bentuk pemandangan lanskap sawah yang berteras (undag) adalah salah satu karakteristik pemandangan Subak di Bali. Ini adalah kesederhanaan sistem pengelolaan air dari gunung, dam, sungai, telabah, kekalen ke dalam wilayah sawah. Keindahan sawah yang berteras memberikan nilai lebih banyak terhadap lanskap pedesaan di Desa Bugbug. Pemandangan lain yang menarik adalah pemandangan pantai, pemandangan pesisir khususnya pemandangan dari pasir putih

Sosial dan Budaya Sistem Pertanian Desa Bugbug

Sistem pemerintahan desa di Desa Bugbug dikelola oleh Desa Perbekel (Desa Dinas) dan ‘Desa Adat’. Sistem ini merupakan perpanjangan dari

‘Desa Dinas’. Sistem ‘Desa Adat’ menyatakan bahwa lahan diduduki oleh masyarakat pribumi. Hanya orang Bugbug yang berhak untuk menggunakan lahan tersebut, bukan untuk mengendalikan atau bahkan untuk menjualnya ke luar. Sistem ini telah melindungi sistem pertanian di Bugbug. Hal ini karena tanah adat tidak dibagi dan supaya tanah - setidaknya - yang ditunjuk sebagai lahan pertanian akan bertahan dan dilakukan oleh ahli waris dari pengelola lahan. Lebih

(11)

lanjut, harmonisasi dari kepemimpinan yang terjadi antara kedua desa pemimpin dalam memutuskan kebijakan.Dikondisikan karena sampai sekarang pemimpin desa adalah bersaudara, mereka adalah keturunan langsung dari Bendesa Mas (pemerintahan pertama yang pemimpin dalam Bugbug yang dikirim langsung oleh Raja Klungkung).

Sistem pengetahuan maupun adaptasi teknologi yang diterapkan di desa Bugbug berupa sistem irigasi sawah atau disebut Subak. Dalam penerapannya, para petani yang memiliki satu sumber air yang sama membentuk perkumpulan pura air dan kemudian bersama-sama merencanakan sistem pembagian air. Di Desa Bugbug, dikenal kearifan lokal terkait dengan pengendalian hama tikus. Penanggulangan terhadap hama tikus dilakukan apabila terdapat ciri-ciri khusus antara lain mulai banyak ditemukannya tikus hitam di sawah dan terlihatnya rasi bintang tikus. Pada saat kedua tanda tersebut mulai muncul, maka itulah saat yang paling tepat untuk melakukan pemberantasan hama tikus dengan cara melakukan upacara pengabenan (dibakar seperti halnya jasad manusia yang sudah meninggal).

Selain dikenal dengan sistem irigasi sawah, Subak juga dikenal dengan sistem budaya serta adat istiadat yang sangat kental dengan budaya Hindu Bali. Dalam setiap aktivitas terkait Subak, selalu disertai dengan kegiatan yang mencerminkan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Rangkaian upacara keagamaan yang dilaksanakan terkait aktivitas Subak antara lain

1. Mendag toya 2. Ngendagin 3. Ngurit 4. Newasen

5. Mebalik sumpah 6. Neduh

7. Biukukung

8. Merebu/Banten Manyi 9. Ngusaba

10. Mantenin 11. Odalan

Dalam pelaksanaanya, konsep THK yang merupakan filosofis masyarakat Bali dan masyarakat di desa Bugbug pada khususnya juga diterapkan dalam Subak. Penerapan konsep ini bertujuan untuk

(12)

menjaga keseimbangan kehidupan sesuai dengan ajaran agama Hindu.

Unsur-unsur THK yang dapat ditemukan dalam sistem Subak antara lain:

1. Parahyangan

Setiap subak mempunyai pura tersendiri yang disebut Pura Subak/

Pura Ulun Carik, Pura Bedugul, Pura Ulun Empelan atau sebutan lain, sebagai unsur Tuhan.

2. Pawongan

Subak mempunyai anggota yang disebut Krama Subak atau di beberapa tempat disebut Krama Carik sebagai unsur masyarakat

3. Palemahan

Subak mempunyai wilayah atau areal pertanian dengan batas alam tertentu seperti sungai, jalan, pematang besar, desa dan lain-lain

Terkait dengan penerapan THK dalam sistem Subak maupun kehidupan masyarakat di desa Bugbug secara umum, segala jenis kegiatan terkait aktivitas masyarakat desa selama satu tahun penuh telah disusun, direncanakan, dan didokumentasikan dalam bentuk

“Kalender Kegiatan Desa Adat Bugbug”. Di dalamnya secara lengkap dijelaskan hari-hari apa saja dalam setiap bulannya dilakukan upacara (rainan) termasuk di dalamnya upacara yang terkait dengan Subak.

Selain sistem irigasinya, bentukan lanskap sawah berundag/ berteras merupakan ciri khas dari lanskap Subak yang ada di Bali. Hal ini untuk memudahkan pengelolaan air yang berasal dari air gunung, bendungan, sungai, telabah, dan kekalen. Keindahan sawah berteras memberikan nilai lebih bagi lanskap pertanian di desa Bugbug. Selain sumberdaya pemandangan Subak, Desa Bugbug juga memiliki potensi lanskap pesisir yang tidak kalah indahnya dengan lanskap Subak. Salah satu kawasan pesisir yang memiliki potensi tersebut adalah pantai Pasir Putih.

Sejarah Desa Bugbug

Dalam buku “Eka Ilikita” disebutkan bahwa kata Bugbug berasal dari Bahasa Bali yaitu “Buwug-buwug” yang artinya rawa-rawa dan

(13)

kemudian menjadi “Bugbug”. Menurut sejarah, saat terjadi letusan Gn. Agung, lahar Gn.Agung menyebabkan kawasan disekitar Bugbug saat itu menjadi subur sehingga banyak yang datang untuk menetap.

Namun selain memberi kesuburan, bekas lahar tersebut menyebabkan aliran sungai terhambat oleh bebatuan besar sehingga tidak bisa mengalir ke arah timur (pantai), maka terbentuklah rawa-rawa.

Masyarakat yang kemudian menetap di sekitar rawa-rawa (yang sudah ditimbun) tersebut merupakan cikal bakal masyarakat Desa Bugbug saat ini.

Relevansi irigasi Subak dengan sistem irigasi yang ada sekarang ini adalah Subak telah memenuhi “Standar Perencanaan Irigasi” karena telah memiliki empat fungsi pokok seperti yang disyaratkan yaitu:

1. Bangunan utama disebut empelan (bendung) atau buka (intake).

2. Saluran disebut telabah (bila berupa saluran terbuka) atau aungan (bila berupa saluran tertutup).

3. Hamparan petak-petak yang merupakan bagian dari subak yang disebut tempek atau munduk dilengkapi pula dengan bangunan dan saluran untuk membagi-bagikan air ke seluruh area dengan saluran pembuangan yang disebut kekalen.

4. Sistem pembuangan kolektif yang disebut pengutangan juga dimiliki Subak, yang umumnya berupa saluran alam (pangkung).

Tantangan dan Hambatan GIAHS untuk Desa Bugbug

Tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh Desa Bugbug apabila dikembangkan sebagai kawasan GIAHS antara lain:

• Kondisi subak saat ini menghadapi berbagai masalah terutama berkaitan dengan distribusi air. Subak sekarang menghadapi banyak masalah dan tantangan, seperti terbatasnya sumber daya air dan kompetisi dalam pemanfaatan air. Selain itu, faktor pasokan air dan tingginya pajak tanah juga memicu terjadinya konversi lahan yang membuat Subak terancam.

• Beberapa “pawongan” Subak tidak menaati pola pemberian air (padi-palawija) yang mengakibatkan terganggunya pengairan subak secara keseluruhan.

(14)

• Dilematik karena terdapat bukit-bukit yang disewakan kepada pihak swasta dalam jangka waktu yang cukup lama (sampai dengan 30 tahun; Bukit Asah) sehingga kemungkinan tidak termanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan pertanian di kawasan yang disewakan tersebut, namun di lain pihak menjadi pemasukan bagi kas desa.

Ada sejumlah tantangan oleh desa bugbug yang harus bisa dikelola dengan baik di masa mendatang, yakni:

• Melestarikan karakteristik sosial dan budaya yang relevan untuk sistem budidaya pertanian, menghadapi modernisasi dengan hasil melimpah agar dapat menjadi destinasi wisata.

• Sistem irigasi subak sebagai sistem perencanaan standar internasional harus lebih di kelola dengan baik karena memiliki nilai sistem dan budaya yang tinggi. Ketika dikelola dengan baik maka akan memberikan dampak yang positif bagi sumberdaya potensial lainnya.

Promosi GIAHS di Desa Bugbug

Usaha mempromosikan GIAHS sampai saat ini adalah dengan menginventarisasi sejarah kegiatan pertanian yang ada di Desa Bugbug. Dokumentasi yang ada berupa awig-awig Desa Bugbug, monografi Desa Bugbug, dan data statistik setempat. Potensi dan peluang untuk keberlanjutan dan manajemen GIAHS adalah sistem tata kelola dari Desa Bugbug ini baik secara administratif maupun adat tercatat dengan sangat baik. Semua bentuk perencanaan desa disusun dan dilaksanakan melalui sistem yang ada. Peluang dampak bagi masyarakat dan ekologi setempat dengan adanya GIAHS adalah terjaganya ekosistem yang ada sehingga keragaman flora dan fauna setempat dapat dipertahankan. Dengan terjaganya keragaman hayati setempat bermakna terhadap terjaganya kelangsungan hidup masyarakat setempat dengan ketersediaan sumberdaya yang mencukupi. Motivasi masyarakat lokal maupun pemerintah lokal maupun nasional dan stakeholders terkait adalah berusaha menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang bersumber dari filosofi budaya Bali, namun bersifat dinamis atau fleksibel (desa, kala, patra), tanpa paksaan, sehingga masyarakat yang ada di Bugbug maupun di luar

(15)

Bugbug tetap merasakan hubungan yang kuat dengan leluhur mereka yang ada di Bugbug. Bentuk kekerabatan yang sangat kuat ini bisa dilihat dari adanya organisasi Ikatan Warga Bugbug (IWB) yang terbentuk di luar Bugbug dimana anggotanya adalah warga Bugbug yang telah merantau ke daerah lain di Bali atau luar Bali.

Sumber Bacaan

Awig-Awig Lan Pararem Desa Adat Bugbug.

Eka Ilikita Desa Adat Bugbug (Monografi Desa Adat Bugbug). 1996.

Kabupaten Karangasem.

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2012. Kecamatan Karangasem Dalam Angka.

Meganada, IW. 1990. Morfologi Grid Paterrn Pada Desa di Bali.

Bandung: Program Pasca Sarjana S2 Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.

Pitana, IG (Ed). 1993. Subak, Sistem Irigasi Tradisional di Bali. Upada Sastra. Denpasar

Purwita, IBP. 1993, “Kajian Sejarah Subak di Bali” dalam IG Pitana (ed);

Subak Sistem Irigasi Tradisional di Bali Sebuah Canangsari, Upada Sastra, Denpasar, h. 47

Sudarsana, IBP. 2003. Ajaran Agama Hindu : Acara Agama. Percetakan Bali, Yayasan Dharma Acarya.Denpasar.

Sulistyawati et al. 1985. Preservasi Lingkungan Perumahan Pedesaan dan Rumah Tradisional Bali di Desa Bantas, Kabupaten Tabanan.

Denpasar: P3M Universitas Udayana.

Terang-Pawaka, IW. 2007. Tesis Pura Bukit Gumang Desa Pakraman Bugbug Kabupaten Karangsem (Perspektif Pendidikan Agama Hindu).

Referensi

Dokumen terkait

Kata kunci: Tri Hita Karana, Keluarga, Masyarakat Sehat Abstract Tri Hita Karana is the life values of the Balinese Hindu culture community, including palemahan, pawongan, and