Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Manajemen Hipertensi
Anggiya Yuliasari1, Chicy Widya Morfi2
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Bagian Ilmu Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Dewasa ini hipertensi masih menjadi permasalahan di dunia dan negara berkembang, khususnya Indonesia terlihat dari prevalensi hipertensi yang masih tinggi. Penyakit ini disebut sebagai silent killer karena penyakit ini mematikan, namun sering kali tidak menunjukkan gejala. Seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. Prevalensi hipertensi berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan pengukuran terlihat meningkat dengan bertambahnya usia, cenderung lebih tinggi pada perempuan, penduduk perkotaan, kelompok pendidikan lebih rendah, dan kelompok tidak bekerja. Hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer merupakan keadaan hipertensi yang penyebab utamanya bersifat idiopatik, sedangkan hipertensi sekunder diakibatkan oleh suatu penyakit lain yang mendasari, misalnya penyakit ginjal. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi yang berdampak pada sistem kardiovaskular dan serebrovaskular, ginjal dan retina yang sering disebut dengan kerusakan organ target. Pendekatan kedokteran keluarga pada manajemen hipertensi mengikuti karakteristik dokter keluarga yang ada. Dokter mampu menjadi kontak medis pertama, melakukan koordinasi maupun advokasi, berorientasi pada individu-keluarga-komunitas, mendukung kekuatan pasien, membina hubungan dokter-pasien, bertanggungjawab atas perawatan lanjutan, mengambil keputusan berdasarkan insidensi dan prevalensi, menangani masalah kesehatan akut dan kronik, menangani penyakit yang masih belum jelas dalam fase dini, promosi kesehatan, bertanggungjawab atas kesehatan komunitas, serta mengelola masalah biopsikososiokultural.
Kata kunci: hipertensi, kedokteran keluarga, tekanan darah.
Family Medicine Approach to Hypertension Management
Abstract
Now a day hypertension is still a problem in the world and developing countries, in Indonesia seen from the prevalence of hypertension is still high. This disease is called a silent killer because the disease is deadly but often show no symptoms. A person diagnosed to have hypertension when having systolic blood pressure ≥ 140 mmHg and / or diastolic blood pressure
≥ 90 mmHg, on repeated examination. The prevalence of hypertension based on diagnosed health personnel and measurements seen increases with age, tends to be higher in women, urban residents, lower education groups, and non- working groups. Hypertension is divided into 2, primary hypertension and secondary hypertension. Primary hypertension is a condition of hypertension that is the main cause is idiopathic, whereas secondary hypertension is caused by an underlying disease, such as kidney disease. Uncontrolled hypertension can lead to complications that affect the cardiovascular and cerebrovascular, kidney and retinal systems that are often referred to as target organ damage. The family medical approach to hypertension management follows the characteristics of existing family physicians. Doctors can be the first medical contact, coordinate or advocate, individual-oriented, supportive of patient strength, physician-patient relationship, responsible for follow-up care, decision-making based on incidence and prevalence, deal with acute and chronic health problems, deal with diseases that are still unclear in the early stages, health promotion, responsible for community health, and managing biopsychosociocultural problems.
Keywords: blood pressure, family medicine, hypertension.
Korespondensi: Anggiya Yuliasari, alamat Jl. Soekarno Hatta Gang Wiratama No. 100 Sukarame, Bandar Lampung, HP: 082281862666, e-mail: [email protected]
Pendahuluan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia.1–3 Seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang.1,4,5 Penyakit ini disebut sebagai silent killer karena penyakit ini mematikan namun sering kali tidak menunjukkan gejala (asimptomatik).4
Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan pengukuran tekanan darah menunjukkan penurunan dari 31,7% tahun 2007 menjadi 25,8% tahun 2013. Asumsi terjadi penurunan bisa bermacam-macam mulai dari alat pengukur tensi yang berbeda sampai pada kemungkinan masyarakat sudah mulai datang berobat ke fasilitas kesehatan.
Namun, prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara (apakah pernah didiagnosis nakes dan minum obat hipertensi) terjadi
peningkatan dari 7,6% tahun 2007 menjadi 9,5% tahun 2013.5
Prevalensi hipertensi pada usia ≥18 tahun yang didapat melalui jawaban pernah didiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4%, sedangkan yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat hipertensi sendiri sebesar 9,5%. Jadi, terdapat 0,1%
penduduk yang minum obat sendiri, meskipun tidak pernah didiagnosis hipertensi oleh nakes.
Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran pada usia ≥18 tahun sebesar 25,8%. Jadi cakupan nakes hanya 36,8%, sebagian besar (63,2%) kasus hipertensi di masyarakat tidak terdiagnosis. Prevalensi hipertensi berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan pengukuran terlihat meningkat dengan bertambahnya usia, cenderung lebih tinggi pada perempuan, penduduk perkotaan, kelompok pendidikan lebih rendah, dan kelompok tidak bekerja.5
Berdasarkan survei prevalensi hipertensi tersebut, terlihat bahwa hipertensi masih menjadi permasalahan dan akan semakin meningkat seiring dengan komplikasi dari hipertensi.2,3 Komplikasi hipertensi sendiri yang paling sering adalah terkait masalah renovaskular seperti gagal ginjal dan penyakit jantung seperti left ventricular hypertrophy dan congestive heart failure.2–6 Tentunya seiring dengan meningkatnya kejadian hipertensi dan komplikasi hipertensi akan meningkatkan beban masalah kesehatan kepada masyarakat Indonesia, penyelenggara fasilitas kesehatan, dan pemerintah Indonesia.3
Pendekatan kedokteran keluarga menekankan pada orientasi keluarga pada pelayanan medis. Banyak negara yang telah menjalankan pendekatan kedokteran keluarga dalam pelayanannya. Dasar penyelenggaraan pelayanan dengan orientasi keluarga adalah model biopsikososial. Pendekatan yang semula hanya pada individu dikembangkan lebih luas pada keluarga bahkan pada komunitas di sekitar kehidupan pasien. Konsep ini memperkenalkan keluarga sebagai unit of care, dengan fokus utama pelayanan ditujukan pada pasien dalam konteks keluarganya. Untuk itu, keterlibatan anggota keluarga dalam proses
menegakkan diagnosis suatu penyakit serta menatalaksana masalah kesehatan merupakan bentuk partisipasi aktif pada pelayanan dan perawatan kesehatan.7
Isi
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis.5 Hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer merupakan keadaan hipertensi yang penyebab utamanya bersifat idiopatik, sedangkan hipertensii sekunder diakibatkan oleh suatu penyakit lain yang mendasari, misalnya penyakit ginjal.3 Hipertensi primer memiliki faktor risiko yang menyebabkan seseorang lebih mudah terkena hipertensi. Faktor risiko tersebut dibagi menjadi faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah. Faktor-faktor yang tidak dapat diubah antara lain riwayat keluarga, usia, ras, dan jenis kelamin.
Sedangkan faktor-faktor yang dapat diubah antara lain obesitas, kurang gerak, merokok, sensitivitas natrium, kalium rendah, minum minuman berakohol secara berlebihan, dan stress. 3,4,6 Hipertensi sekunder lebih jarang terjadi, hanya sekitar 5% dari seluruh kasus tekanan darah tinggi. Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, reaksi terhadap obat-obatan tertentu misalnya pil KB, hipertiroid, hiperaldosteronisme, dan lain sebagainya.3
Tekanan darah diukur dengan sphygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi duduk punggung tegak atau terlentang paling sedikit selama 5 menit sampai 30 menit setelah merokok atau minum kopi.3 Seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. 1,4,5 Adapun pembagian derajat keparahan hipertensi pada seseorang merupakan salah satu dasar penentuan tatalaksana hipertensi.1
Tabel 1. Klasifikasi hipertensi (disadur dari A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension 2013)1
Klasifikasi Sistolik Diastolik
Optimal < 120 Dan < 80
Normal 120 – 129 dan/ atau 80 – 84
Normal tinggi 130 – 139 dan/ atau 84 – 89
Hipertensi derajat 1 140 – 159 dan/ atau 90 – 99
Hipertensi derajat 2 160 – 179 dan/ atau 100 – 109
Hipertensi derajat 3 ≥ 180 dan/ atau ≥ 110
Hipertensi sistolik terisolasi ≥ 140 Dan < 90
Hipertensi terjadi karena jantung bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh.5 Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi yang berdampak pada sistem kardiovaskular dan serebrovaskular, ginjal, dan retina yang sering disebut dengan kerusakan organ target.2–6 Kerusakan organ target tersebut seperti hipertrofi ventrikel kiri, peningkatan ketebalan intima media dari pembuluh darah, mikroalbuminuria yang mengikuti disfungsi glomerulus, penurunan kognitif dan retinopati hipertensi lalu terjadi komplikasi mayor, yaitu stroke, gagal jantung kongestif dan miokard
infark, gagal ginjal, dan oklusi vaskular retina.
Selain menyebabkan komplikasi berupa penyakit, hipertensi yang tidak terkontrol secara terus-menerus dapat menyebabkan kematian pada pasien akibat komplikasi yag ada.3
Penentuan risiko kardiovaskular dapat menggunakan perhitungan estimasi risiko kardiovaskular yang formal (ESC 2013), untuk mengetahui prognosis. Selain itu, dibutuhkan juga pencarian faktor risiko metabolik (diabetes, ganguan tiroid, dan lainnya) pada pasien dengan hipertensi dengan/tanpa penyakit jantung dan pembuluh darah.1
Tabel 2. Penentuan risiko kardiovaskular menurut derajat hipertensi dan faktor risiko tambahan1 Faktor Risiko, Kerusakan Organ
Target, Penyakit
Normal Tinggi Hipertensi Derajat 1
Hipertensi Derajat 2
Hipertensi Derajat 3
Tanpa FR lain Risiko rendah Risiko sedang Risiko tinggi
1-2 FR Risiko rendah Risiko sedang Risiko sedang-
tinggi
Risiko tinggi
≥ 3 FR Risiko rendah-
sedang
Risiko sedang- tinggi
Risiko tinggi Risiko tinggi OD, CKD std 3 atau DM Risiko sedang-
tinggi
Risiko tinggi Risiko tinggi Risiko tinggi- sangat tinggi CVD simptomatik, CKD ≥ std 4
atau DM dengan OD/FR
Risiko sangat tinggi
Risiko sangat tinggi
Risiko sangat tinggi
Risiko sangat tinggi
FR: faktor risiko, OD : organ damange, CKD : chronic kidney disease, CVD : cerebrovascular disease, DM : diabetes melitus
Tekanan darah sistolik dan diastolik merupakan pengukuran utama yang menjadi dasar penentuan diagnosis hipertensi. Dalam menegakan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan (algoritma diagnosis hipertensi) yang harus dijalani sebelum menentukan terapi atau tatalaksana yang akan diambil. 1
Target pengobatan pasien hipertensi menurut Eighth Joint National Committee (JNC
8) adalah <140/90 mmHg untuk usia <60 tahun dan <150/90 mmHg untuk usia >60 tahun.
Namun, pada pasien hipertensi yang disertai penyakit DM atau penyakit ginjal kronik, target tekanan darah harus mencapai <140/90 mmHg tanpa memandang usia pasien. Terapi pasien hipertensi diawali dengan intervensi gaya hidup, kemudian pemberian obat-obatan.3
Gambar 1. Algoritma diagnosis hipertensi (diadaptasi dari Canadian Hypertension Education Program: The Canadian Recommendation for The Management of Hypertension 2014)1
Modifikasi gaya hidup dapat menurunkan risiko penyakit lain dan menghindari kebutuhan terapi obat. Menjaga gaya hidup tetap sehat saja tidak cukup untuk menurunkan tekanan darah, kebanyakan pasien membutuhkan terapi farmakologi untuk mengontrol tekanan darah mereka. Modifikasi gaya hidup yang dilakukan adalah membatasi merokok, mengontrol diet dengan mengurangi konsumsi alkohol, membatasi sodium tidak lebih dari 2.400 mg/hari, serta melakukan aktivitas fisik 3-4 hari per minggu dengan rata- rata 40 menit per sesi.3
Terapi obat-obatan dibutuhkan jika modifikasi gaya hidup tidak mencapai target tekanan darah secara adekuat. Pengobatan lini pertama yang digunakan dalam terapi hipertensi adalah diuretik, angiotensin- converting enzyme inhibitors (ACEis) atau angiotensin receptor blockers (ARBs), beta blockers dan calcium channel blockers (CCBs).
obat anti hipertensi untuk mencapat target tekanan darah mereka.3
Ilmu kedokteran keluarga telah masuk ke Indonesia pada tahun 70-an. Ilmu yang telah berkembang pesat di Kanada dan Amerika ini mengajarkan bagaimana penanganan pasien dengan pendekatan biopsikososiokultural.
Pendekatan ini bukan hanya terpaku sesuai keluhan fisik, namun juga melibatkan kondisi mental, rohani, dan kehidupan sekitar yang dapat mempengaruhi sakit. Prinsip kedokteran keluarga dalam menangani pasien adalah komprehensif dan holistik; kontinu;
mengutamakan pencegahan; koordinatif dan kolaboratif; personal sebagai bagian integral dari keluarganya; mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan;
menjunjung tinggi etika, moral dan hukum;
sadar biaya dan sadar mutu; serta dapat diaudit dan dipertangungjawabkan.7 Sedangkan yang termasuk dalam kompetensi
Gambar 2. Kompetensi inti dan karakteristik dokter keluarga8
problem solving skills, comprehensive approach, community orientation, dan holistic modelling.8
Pendekatan kedokteran keluarga pada manajemen hipertensi mengikuti karakteristik dokter keluarga yang ada. Dokter mampu menjadi kontak medis pertama, melakukan koordinasi maupun advokasi, berorientasi pada individu-keluarga-komunitas, mendukung kekuatan pasien, membina hubungan dokter- pasien, bertanggungjawab atas perawatan lanjutan, mengambil keputusan berdasarkan insidensi dan prevalensi, menangani masalah kesehatan akut dan kronik, menangani penyakit yang masih belum jelas dalam fase dini, promosi kesehatan, bertanggungjawab atas kesehatan komunitas, serta mengelola masalah biopsikososiokultural.7,8
Orientasi yang berpusat tak hanya pada individu, melainkan pada keluarga dan komunitas juga.3,7,8 Hipertensi merupakan penyakit yang hanya dapat dikontrol, sehingga pengobatan bersifat kontinyu. Dukungan keluarga merupakan sesuatu yang esensial untuk pasien dalam mengontrol penyakit.
Keluarga merupakan dukungan utama bagi pasien hipertensi dalam mempertahankan kesehatan. Keluarga memegang peran penting
dalam perawatan maupun pencegahan kesehatan pada anggota keluarga lainnya. Oleh sebab itu, keluarga harus memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.
Pengetahuan keluarga mengenai penyakit hipertensi merupakan hal yang sangat penting.
Apabila pengetahuan keluarga semakin baik maka perilakunya akan semakin baik. Namun, jika pengetahuan yang baik tidak disertai dengan sikap, maka pengetahuan itu tidak akan berarti.3
Keadaan kesehatan secara holistik adalah memandang individu sebagai seorang manusia yang memiliki tubuh, pikiran dan spirit, atau disebut juga terkait dengan aspek fisik, psikologis, sosial, dan kultural serta lingkungan.3 Pada aspek fisik perlu adanya penggalian pengetahuan pasien terhadap penyakitnya, termasuk hubungan antara faktor risiko dan keluhan dengan penyakit hipertensi yang diderita. Pada aspek psikologis perlu adanya penggalian terhadap perasaan dan pikiran pasien. Pada aspek sosial perlu adanya penggalian terhadap hubungan dengan anggota keluarga, rekan kerja, maupun masyarakat. Pada aspek kultural perlu adanya penggalian terhadap budaya dan kepercayaan yang dianut oleh pasien.4
Edukasi pada pasien hipertensi meliputi pemantauan tekanan darah, konsumsi obat secara rutin, pemantauan efek samping obat, olahraga atau meningkatkan aktivitas fisik, dan mengurangi asupan garam. Dengan tujuan tekanan darah dapat terkontrol degan target tekanan darah yang telah banyak direkomendasikan oleh berbagai studi pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, adalah tekanan darah sistolik
<140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik
<90 mmHg. Edukasi juga memuat tentang gaya hidup yang baik dengan olahraga sesuai dengan kondisi penyakit pasien. Berdasarkan aturan terkahir yang dikeluarkan oleh PERKI, Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30-60 menit/hari, minimal 3 hari/minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Pasien dianjurkan untuk jalan pagi di sekitar rumah.4
Ringkasan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia. Penyakit ini disebut sebagai silent killer karena penyakit ini mematikan namun sering kali tidak menunjukkan gejala. Seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik
≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik
≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang.
Prevalensi hipertensi berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan pengukuran terlihat meningkat dengan bertambahnya usia, cenderung lebih tinggi pada perempuan, penduduk perkotaan, kelompok pendidikan lebih rendah, dan kelompok tidak bekerja.
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi yang berdampak pada sistem kardiovaskular dan serebrovaskular, ginjal dan retina yang sering disebut dengan kerusakan organ target.
Pendekatan kedokteran keluarga pada manajemen hipertensi mengikuti karakteristik dokter keluarga yang ada. Dokter mampu menjadi kontak medis pertama, melakukan koordinasi maupun advokasi, berorientasi pada individu-keluarga-komunitas, mendukung kekuatan pasien, membina hubungan dokter- pasien, bertanggungjawab atas perawatan lanjutan, mengambil keputusan berdasarkan
insidensi dan prevalensi, menangani masalah kesehatan akut dan kronik, menangani penyakit yang masih belum jelas dalam fase dini, promosi kesehatan, bertanggungjawab atas kesehatan komunitas, serta mengelola masalah biopsikososiokultural.
Simpulan
Tindakan manajemen penyakit hipertensi akan lebih mudah apabila melibatkan pendekatan kedokteran keluarga dalam diagnosis dan penatalaksanaannya.
Daftar Pustaka
1. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Pedoman tatalaksana hipertensi pada penyakit kardiovaskular. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia;
2015.
2. Aveonita RAR, Larasati TA, Nusadewiarti A.
Penatalaksanaan holistik hipertensi dengan hiperkolesterolemia pada pedagang laki-laki lansia melalui pendekatan kedokteran keluarga. JPM Ruwa Jurai. 2016;2(1):38-44.
3. Efendi H, Larasati TA. Dukungan keluarga dalam manajemen penyakit hipertensi.
Majority. 2016;5(5):90-6.
4. Karina, Karyus A. Penatalaksanaan holistik pada seorang lansia usia 70 tahun dengan hipertensi grade II tidak terkontrol melalui pendekatan kedokteran keluarga.
Majority. 2017;6(3):63-8.
5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Riset kesehatan dasar RISKESDAS 2013.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013.
6. Prayoga PR, Asrizal, Anggraini DI, Silalahi TH. Penatalaksanaan hipertensi dan arthritis gout pada laki-laki usia 64 tahun melalui pendekatan kedokteran keluarga.
J Medula Unila. 2016;6(1):120-9.
7. Kurniawan H. Dokter di layanan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga dalam sistem pelayanan kesehatan. J Kedokt Syiah Kuala. 2015;15(2):114-9.
8. WONCA Europe. The European definition of general practice / family medicine.
WONCA Europe. 2011:1-33.