PRAKTIKUM 2
PERBANDINGAN POLITIK
Aylssa Salvia
215120501111005
Hard Line Autocracy
China (3.23) Kazakhstan (3.78) Saudi Arabia (2.50)
BTI telah menentuan bahwa Cina bukan negara yang demokrasi, meskipun Cina mengklaim bahwa ia negara demokrasi. 8 Indikator yang menjadi dasar penentuan demokrasi oleh BTI. Cina tidak memenuhi minimum indikator demokrasi yang ada, beberapa alasan diantaranya sebagai berikut:
Pertama, Cina menganut sistem partai tunggal (Partai Komunis Cina). PKC memiliki kekuatan tertinggi, mereka memerintah semua lembaga negara, dan memiliki kontrol atas lembaga legislatif (Kongres Nasional Rakyat Cina), sehingga PKC juga memegang kekuasaan eksekutif, dan semua otoritas di negara tidak dipilih secara demokratis melainkan melalui seleksi internal oleh PKC. Tidak adanya pemisahan kekuasaan.
Kedua, Partai Komunis Cina berada di atas hukum seringkali mereka mengontrol serta mencampuri urusan peradilan. Misalnya, pengacara dilarang mengumpulkan bukti dan menghadapi pelecehan ketika membela hak asasi manusia. terlhiat bahwa tidak adanya perlindungan atas HAM.
Ketiga, Indikator penentu lainnya menurut BTI adalah penilaian status hak-hak sipil, hak berserikat dan berkumpul, serta kebebasan berekspresi, sedangkan Cina
Kazakhstan dulunya merupakan bagian dari Uni Soviet sampai 1991. Hingga kini rezim otoriter ala Soviet tetap bertahan. Presiden terpilih Nursuktan Nazarbayev berkuasa di Kazakhstan hampir 30 tahun. Warisan dari Soviet berupa praktik represi politik dan korupsi yang merajalela masih dilanjutkan hingga kini. Klaim Kazakhstan bahwa sebagai negara demokratis modern, nyatanya tidak ada reformasi politik atau demokrasi yang terlihat di bawah pemerintahan Nazarbayev. Dikatakan sebagai hard line autocracy, disebabkan karena adanya indikator yang nilainya lemah di Kazakhstan. Seperti kurangnya proses pemilu yang bebas dan adil, masyarakat sipil yang kritis, media yang independen, dan independensi peradilan, dan semua tingkat pemerintahan yang menunjukkan tingkat korupsi yang tinggi.
Presiden Kazakhstan saat ini, Kassym-Jomart Tokayev, serta badan eksekutif dan legislatif negara tersebut tidak dipilih melalui pemilu yang bebas dan adil.
Pemilihan presiden tahun 2019, setelah pengunduran diri Presiden Nursultan Nazarbayev, tidak memiliki persaingan yang seimbang karena represi sistematis yang dilakukan rezim terhadap anggota oposisi.
Presiden Tokayev memenangkan 71% suara
Arab Saudi adalah contoh dari pemimpin terakhir monarki absolut sejak pembentukannya pada tahun 1932 oleh Ibn Saud hingga saat ini. Kita dapat dengan mudah mengetahui esensi monarki absolut di Arab Saudi dengan fakta bahwa Raja Arab Saudi juga merupakan kepala negara, perdana menteri, panglima militer dan kepala pemerintahan, anekdotnya tidak berhenti sampai di sini, hampir semua jabatan, posisi, dan kementerian penting juga ditempati oleh keluarga yang sama sejak terbentuknya Arab Saudi.
Faktor-faktor yang membantu dan memberdayakan otoritarianisme di Arab Saudi berkisar dari keberlanjutan sistem politik (monarki), renitier perekonomian negara, penggunaan agama oleh negara, penggunaan kekayaan minyak (renitier) oleh elit negara untuk mempertahankan kekuasaan dan legitimasinya, tidak adanya pajak, negara menjadi penyalur kekayaan dan bukan pengekstraksi, praktik pemaksaan lewat aparatur oleh negara yang mencakup penggunaan polisi agama, penggunaan hukum Islam untuk menundukkan masyarakat,
mendapat nilai yang buruk 2/10.
Dikarenakan kebebasan berkspresi dan hak berserikat berkumpul sering kali mendapat campur tangan atau pembatasan oleh pemerintah, dan pelanggaran hak-hak sipil secara sistematis. Misalnya, penganiayaan, kekerasan fisik, dan penyiksaan adalah hal biasa di penjara.
Keempat, Organisasi masyarakat sipil atau NGO yang berkaitan dengan politik tidak dapat beroperasi secara independen. Segala bentuk oposisi politik terhadap PKC dilarang keras. Dikarenakan pemerintah takut kendali negara atas masyarakat sipil akan berkurang. Terkecuali untuk NGO di bidang non politik, pemerintah masih memfasilitasi. Namun masih banyak NGO yang memiliki koneksi yang buruk, kurangnya kapasitas dan pendanaan. Juga banyak kelompok kepentingan yang tidak terwakilkan.
Kelima, terkait kontrol negara dan sensor teknologi komunikasi. penduduk yang semakin banyak menggunakan teknologi komunikasi massa dan jejaring sosial untuk pengekspresian diri secara kritis. Malah pemerintah Cina berusaha memperketat kendalinya atas teknologi ini, dengan menutup situs web, memblokir aplikasi pengiriman pesan, dan sensor konten online. Pernah pada tahun 2018, jutaan akun pengguna di Weibo, mitra Twitter di Cina, telah dihapus.
dalam pemilihan yang dikontrol ketat dan memberikan hasil yang menguntungkan bagi rezim tersebut.
Selain itu, pada pemilu parlemen pada bulan Januari 2021, partai yang berkuasa di Kazakhstan mendominasi pemilu yang tidak memiliki persaingan yang berarti bahkan satu-satunya partai oposisi yang terdaftar pun tidak bisa berpartisipasi dalam pemilu tersebut. Hal tersebut menunjukkan tidak adanya kebebasan partisipasi politik.
Rezim ini dengan keras menindak organisasi masyarakat sipil, kebebasan berekspresi, dan segala bentuk oposisi terhadap pemerintahannya. Misalnya, kebebasan pers sangat dibatasi di Kazakhstan, karena sebagian besar media dimiliki atau didanai oleh negara, dan hanya sedikit media independen yang beroperasi di bawah pembatasan yang ketat. Jurnalis terus menghadapi pelecehan, penangkapan, dan penuntutan, hanya karena menjalankan pekerjaan mereka. Masyarakat – khususnya para aktivis dan anggota oposisi – masih merasa takut bahwa menyampaikan pandangan mereka akan mendapat balasan dari pemerintah, karena mereka sering menjadi sasaran dan ditahan oleh rezim.
Peradilan terhadap mereka tetap tidak adil, karena presiden menunjuk atau mencalonkan hakim berdasarkan rekomendasi Dewan Mahkamah Agung, yang pada gilirannya juga dibentuk oleh presiden dan menyebabkan
penindasan terhadap kebebasan berbicara, berkumpul, dan berekspresi, tahanan politik, penindasan terhadap media, penindasan terhadap hak-hak perempuan dan hukuman politik, dll.
Menyangkut sistem politik di Arab Saudi, tidak ada keraguan untuk mengatakan bahwa Arab Saudi adalah contoh dari monarki absolut, dengan rajanya memegang kekuasaan absolut dan berbagi beberapa posisi, jabatan, dan kementerian yang kuat dengan kerabat dekatnya.
Pemerintah di Arab Saudi berulang kali mengurung aktivis politik yang melakukan protes atau terlibat dalam bentuk advokasi sipil lainnya, sejauh ini belum ada protes berskala besar yang dilakukan di Arab Saudi, namun protes dengan skala lebih kecil menjadi lebih sering terjadi, yang terbesar terjadi di Provinsi Timur yang didominasi oleh kaum Syiah. Hal tersebut menunjukkan adanya keterbatasan hak sipil untuk bersuara atau mengkritik.
Keenam, selama periode peninjauan, para analis BTI mengamati adanya peningkatan campur tangan terhadap kebebasan beragama. Meskipun rezim Tiongkok secara resmi mengakui agama Katolik, Protestan, Buddha, Taoisme, dan Islam, mereka menghancurkan masjid-masjid di provinsi Xinjiang dan Institut Buddha di Larung Gar, Tibet. Terlebih lagi, pada tahun 2018, sebuah gereja di Chengdu ditutup secara paksa, otoritas Tiongkok terus menurunkan salib dari gereja dan melarang penjualan Alkitab secara online. Yang terakhir, hak-hak sekitar satu juta warga Uighur dan Muslim Turki lainnya dilanggar karena mereka ditahan tanpa proses hukum apa pun di kamp-kamp di mana mereka
“dikenakan indoktrinasi politik yang dipaksakan, penolakan terhadap keyakinan mereka, penganiayaan, dan, dalam beberapa kasus, penyiksaan. - mendatang".
tidak adanya independensi peradilan. Di penjara, penggunaan penyiksaan dan perlakuan buruk merupakan hal yang lazim.
Selain itu, pemerintah juga menerapkan pembatasan ketat terhadap kebebasan berkumpul, sehingga protes dalam bentuk apa pun menjadi sangat jarang terjadi.
Moderate Autocracy
Russia (4.40) Bangladesh (4.25) Turkey (4.80)
Rusia adalah negara otokrasi personalis klasik – individu tunggal, bukan organisasi seperti militer atau partai politik, yang mendominasi kebijakan dan keputusan personel. Para pemimpin di negara otokrasi yang bersifat personalis memusatkan kekuasaan di tangan mereka sendiri dan terlepas dari apa yang diatur dalam undang-undang negara tersebut, mereka tidak menghadapi batas masa jabatan. Untuk tetap menjabat, mereka harus menghadapi dua ancaman:
kudeta yang dilakukan oleh elit di lingkaran dalam mereka dan pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat luas. Ancaman- ancaman ini jarang dapat diatasi pada saat yang bersamaan.
Menggulingkan otokrat personalis tidaklah mudah. Karena elit individu jarang dapat menyingkirkan seorang diktator sendirian, mereka memerlukan sebuah partai, organisasi bisnis, suku, atau militer untuk mendukung mereka dan memastikan bahwa orang lain akan mengikuti jejak mereka.
Menyadari ancaman ini, para autokrat personalis melemahkan organisasi- organisasi yang memungkinkan para elit bersatu melawan mereka. Kurangnya organisasi juga mempersulit massa untuk melakukan mobilisasi melawan rezim. Ketika seorang penguasa mampu
Sejak Bangladesh merdeka pada tahun 1971, demokrasinya masih belum terkonsolidasi, ditandai dengan kekuasaan diktator dan otoriter melalui pemilu yang dimanipulasi secara politik dapat disebut dengan competitive authoritarianism Terjadinya pelemahan oposisi politik dan menekan suara-suara yang berbeda pendapat melalui manipulasi pemilu telah mengakibatkan kekosongan oposisi atau tidak adanya oposisi politik secara sistemik. Hal ini menunjukkan bahwa Bangladesh sedang bergerak menuju sistem satu partai. Sementara itu, rezim otoriter BAL juga telah melembagakan kebijakan otoriter dan mengkooptasi para pemimpin politik untuk mengkonsolidasikan kekuasaan. Hal ini menandakan Bangladesh akan menjadi negara otoriter yang kompetitif.
Perubahan penting yang terjadi pada amandemen ke-16 konstitusi Bangladesh adalah bahwa parlemen mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan lembaga peradilan. Dalam konteks politik, hal ini memberikan wewenang kepada pemerintah BAL untuk mengontrol sistem peradilan, misalnya dengan memberhentikan hakim agung jika ia merupakan ancaman langsung terhadap kebijakan otoriter pemerintah. Dalam konteks konstitusional, amandemen tersebut
Adanya perpecahan Old Turkey vs New Turkey, dinilai bahwa era New Turkey menunjukkan era keemasan, dengan sistem negara, pemerintah satu partai, demokrasi maju, kekayaan, dan akuntabilitas. Nmun adanya penyerangan terhadap segala jenis oposisi dan dianggap sebagai musuh negara cukup menggambarkan pemerintahan turki yang otoriter.
AKP merupakan partai dominan di Turki, mereka menganggap dirinya sebagai interpretasi mayoritas demokrasi. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya konsentrasi kekuasaan dan penghapusan kontrol terhadap kekuasaan. AKP mendapatkan kekuasaannya dengan melakukan hegemoni pemilu. Kepemimpinan AKP mendefinisikan dirinya sebagai kelompok demokrat konservatif.
Erdoğan pada masa jabatannya digadang sebagai pemimpin populis. Pendekatan mayoritas dan plebisitarian terhadap demokrasi membuat Erdoğan mendapatkan keistimewaan, sebagai instrumen akuntabilitas dan sumber legitimasi, memiliki hubungan langsung tanpa perantara dengan rakyat (misalnya pemilu, referendum, demonstrasi massal) dengan penerapan prinsip
menciptakan otokrasi personalis dengan menghilangkan pusat-pusat kekuasaan lainnya, maka pusat-pusat kekuasaan tersebut akan sangat sulit untuk disingkirkan. Semakin lama autokrat personalis berkuasa, semakin kecil kemungkinan mereka akan digulingkan dari kekuasaan melalui kudeta atau pemberontakan.
Pada tahun 2021 di Rusia ditandai dengan penekanan terhadap oposisi yaitu demokratis dan masyarakat sipil. Meskipun hal ini belum terjadi dalam skala besar. Hal ini secara bertahap menjadi alat utama dalam pengelolaan dan kontrol negara terhadap masyarakat. Garis otoriter pemerintah yang lebih ketat merupakan reaksi terhadap perkembangan politik yang dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas rezim Rusia.
Setelah beberapa demonstrasi Rusia melakukan gelombang penahanan, penangkapan dan penggeledahan baik di kantor NGO maupun di rumah-rumah pribadi secara masif. Mereka yang menyebarkan informasi mengenai demonstrasi secara online sering kali dianiaya dianggap sebagai salah satu penyelenggara acara ‘ilegal’.
mendistorsi pemisahan kekuasaan yang merupakan prinsip dasar demokrasi fungsional.
Pemerintah Bangladesh juga telah menyatakan dengan jelas dalam sebuah kebijakan bahwa jika ada hukum internasional yang bertentangan dengan Al- Quran dan Sunnah, maka hal itu tidak akan berlaku di Bangladesh. Penegasan intoleransi semacam ini tidak hanya menggambarkan bagaimana rezim BAL menyatukan agama dan politik untuk mendukung rezim otoriter yang tidak liberal, namun juga mengungkapkan bagaimana kebebasan beragama menjadi sesuatu yang langka di Bangladesh. Hal ini juga menjelaskan mengapa menurunnya kebebasan beragama dan otoritarianisme berjalan seiring.
checks and balances yang demokratis.
Menguatnya populisme Erdoğan semakin mengintensifkan konsentrasi kekuasaan di tangannya, serta kontrolnya yang tidak terkendali terhadap lembaga-lembaga negara, yang semakin banyak digunakan untuk melawan oposisi. Ia berhasil menjadikan AKP tunduk pada pemerintahan satu orang, dengan kader- kader partai dibersihkan dari suara-suara alternatif dan terorganisir. sesuai dengan kesetiaan yang dirasakan kepada pemimpin.
Dapat disimpulkan Turki merupakan negara yang sebagian praktiknya terbuka dengan sistem demokrasi, namun dengan kepemimpinan Erdoğan yang menghapus segala pihak oposisi, maka kontrol kekuasaan akan semakin lemah dan rawan menyebabkan penyelewengan kekuasaan, dan terlihat partisipasi politik yang terbatas karena menganut sistem satu partai.
Highly Defective Democracy
Malaysia (5.30) Philippines (5.40) Bosnia and Herzegovina (5.60)
Penerapan demokrasi elektoral di Malaysia semakin menguat. Pergantian dalam pemilu telah menjadi hal yang normal, dan transisi kekuasaan yang damai, juga semakin banyaknya masyarakat yang menerima alternatif pemilu baru.
Masyarakat dapat menggunakan hak mereka di tempat opemungutan suara untuk mengungkapkan ketidakpuasan dan tuntutan mereka terhadap pemerintahan yang lebih baik.
Namun di sisi lain, terdapat pendapat bahwa perluasan ruang politik tanpa membangun norma dan praktik demokrasi dapat menyebabkan perpecahan etnis dan ideologi. Praktik pemberdayaan kekuatan non demokrasi masih ada, warisan era otoriter Malaysia juga beberapa masih melekat.
Pelaksanaan pemilu diwarnai dengan peningkatan daya saing dan pemberdayaan oposisi, adanya ruang yang lebih kompetitif. Masyarakat Malaysia mengikuti pola serupa dengan negara-negara demokrasi di negara lain, mencari opsi baru untuk pemerintahan yang lebih baik.
Guncangan yang berulang-ulang akibat pergantian pemerintahan telah mengubah persepsi para politisi dan politik. Politisi
Praktik demokrasi di Filipina bisa dijelaskan lewat drug war yang terjadi pada era pemerintahan Duterte.
Perang narkoba bukan hanya kebijakan penting Duterte. Ini juga menunjukkan logika pengorganisasian pemerintahannya. Sebuah negara yang sedang berperang membenarkan praktik-praktik otoriter, karena proses hukum adalah proses yang berjalan lambat, dan protes dari kaum liberal yang menghalangi agenda hukum dan ketertiban presiden.
Kebijakan dan retorika perang narkoba saat itu mempunyai implikasi yang luas. Hal ini menciptakan institusi demokrasi yang rapuh dan rentan terhadap penyalahgunaan.
Coercive Institutions, Institusi polisi yang dapat bersikap represif, berada di garda terdepan dalam menerapkan kebijakan sosial.
Seperti pada masa pandemi, polisi adalah salah satu garda depan yang paling terlihat dalam menegakkan kebijakan jam malam.
Kasus kebrutalan polisi pun bermunculan.
Beberapa pelanggar dikurung di kandang anjing sementara yang lain disuruh duduk di bawah sinar matahari. Pernyataan dari atas menjamin impunitas bagi pasukan keamanan negara. “Tembak mati mereka” adalah perintah presiden bagi pelanggar, sama seperti “izin membunuh” dalam perang narkoba.
Perjanjian Dayton tahun 1995 yang mengakhiri perang di BiH mereorganisasi negara menjadi kombinasi dua entitas otonom Federasi BiH, yang sebagian besar penduduknya adalah Bosnia dan Kroasia, dan Republika Srpska (RS) yang didominasi Serbia, beroperasi di bawah kekuasaan pemerintah pusat yang lemah. Jabatan kepala negara dipegang oleh tiga anggota kepresidenan yang terdiri dari satu orang Bosnia, satu orang Serbia, dan satu orang Kroasia, mereka masing- masing dipilih untuk masa jabatan empat tahun, yang mereka layani secara bersamaan.
Partai politik biasanya berorganisasi dan beroperasi secara bebas, meskipun arena politik di Federasi umumnya terbatas pada warga Bosnia dan Kroasia, sedangkan Serbia mengendalikan politik di RS.
Meskipun tidak ada hambatan hukum yang jelas yang mencegah partai-partai oposisi untuk memasuki pemerintahan, hak veto yang luas diberikan kepada masyarakat konstitutif dan perwakilan mereka telah membantu partai-partai nasionalis yang dominan untuk
telah berubah dari pahlawan yang melawan musuh politik menjadi pencari kekuasaan yang bekerja sama dengan musuh politik sebelumnya. Banyak pemilih beradu untuk menerima aliansi politik baru dan apa yang diperjuangkan oleh berbagai koalisi tersebut.
Oposisi Perikatan Nasional yang didominasi oleh partai Islam PAS bekerja sama dengan partai etno-nasionalis Bersatu yang dipimpin oleh mantan perdana menteri Muhyiddin Yassin bisa dibilang berkinerja baik karena ini adalah kemitraan koalisi yang paling ‘normal’. Kombinasi Islamisme konservatif dan ultra- nasionalisme Melayu mendapatkan dukungan luas di kalangan pemilih yang marah terhadap dislokasi sosial ekonomi dan mencari keamanan yang lebih besar di saat kondisi tidak aman. Perikatan memanfaatkan gagasan nasionalisme Melayu yang sudah lama ada dalam politik Malaysia yang sangat etnik dan dibangun di atas tumbuhnya kekuatan lembaga-lembaga keagamaan Islam konservatif di Malaysia.
Keterbukaan politik kontemporer Malaysia terus dibentuk oleh masa lalunya. Yang paling jelas dari hal ini adalah dominasi politik etnis, di mana mobilisasi politik dan pandangan yang bersifat rasialis sangat melekat.
Akibat dari retorika presiden adalah budaya impunitas di kepolisian. Upaya selama berpuluh-puluh tahun dalam melembagakan kontrol demokratis atas pasukan keamanan kini diremehkan, karena generasi baru polisi disosialisasikan ke dalam institusi yang tidak akuntabel. Hal tersebut, antara lain menggambarkan jangkauan praktik otoriter dalam membatasi prospek akuntabilitas dan kontrol demokratis terhadap pasukan keamanan.
Monitory Institutions, praktik otoriter mengkompromikan institusi atau badan pengawas yang dirancang untuk mengawasi kekuasaan. Salah satu tanda awal rapuhnya lembaga pengawasan adalah keterlibatan, atau bahkan partisipasi aktif anggota parlemen. Pernah terjadi kasus yang terjadi di Filipina, De Lima memimpin penyelidikan Senat terhadap pasukan pembunuh Duterte beberapa bulan setelah Duterte menjabat sebagai presiden. Enam belas rekan senatornya memilih untuk memecatnya dari jabatan ketua Komite Hak Asasi Manusia Senat, diikuti dengan serangkaian investigasi memalukan yang menunjukkan bahwa De Lima telah mengambil uang dari gembong narkoba.
Kasus De Lima merupakan wujud nyata praktik otoriter. Hal ini membatasi akuntabilitas dengan menumbangkan peran Senat sebagai pengawas kekuasaan eksekutif.
Hal ini juga membatasi suara karena De Lima
memanipulasi sistem dan menghalangi para penantang reformis atau multi etnis.
Para pengamat internasional menyuarakan keprihatinan mengenai integritas pemilu, termasuk tingginya jumlah surat suara yang didiskualifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum Pusat (CIK).
Pembentukan pemerintahan dan implementasi kebijakan sangat terhambat oleh sistem perwakilan etnis yang rumit di negara ini.
Berdasarkan Perjanjian Dayton, perwakilan dari masing-masing tiga kelompok etnis utama, baik di tingkat negara bagian maupun entitas, dapat menggunakan hak veto terhadap undang-undang yang dianggap merugikan kepentingan mereka.
Pemerintahan negara bagian juga dilemahkan oleh gerakan-gerakan di dalam masing-masing entitas BiH untuk mencapai otonomi yang lebih besar.
Kebebasan berekspresi dijamin secara hukum namun dalam praktiknya terbatas. Jurnalis menghadapi tekanan politik serta pelecehan, ancaman, dan penyerangan sesekali dalam menjalankan pekerjaannya. Lembaga penyiaran publik di kedua entitas, dan di tingkat wilayah, sering kali beroperasi sebagai platform partisan.
dijadikan contoh seberapa jauh negara dapat melakukan tindakan balasan terhadap suara- suara kritis.
The Public Sphere, praktik otoriter menciptakan ruang publik yang rapuh. Rezim Duterte terkenal karena distorsi sistematisnya terhadap wacana publik. Terdapat studi yang mengatakan bahwa ada praktik mobilisasi pasukan troll yang disponsori pemerintah, untuk menciptakan lingkungan online yang beracun dan menghukum suara-suara yang berbeda pendapat.
Kebebasan pers di Filipina juga terkikis, karena organisasi berita tidak hanya menghadapi ancaman penutupan namun juga telah ditutup berdasarkan hasil pemungutan suara kongres dan keputusan pengadilan.
Kebebasan beragama tidak dibatasi secara formal, namun dalam praktiknya komunitas agama menghadapi diskriminasi di wilayah dimana mereka merupakan minoritas.
Kebebasan berkumpul umumnya dihormati di BiH, dan protes damai sering terjadi. Namun, para demonstran terkadang menghadapi kendala administratif atau kekerasan polisi, dan penyelenggara dapat menjadi sasaran pelecehan polisi atau politik.
Sektor organisasi non-pemerintah NGO di BiH tetap kuat namun terkadang terkena tekanan dan campur tangan pemerintah, dan kondisi yang lebih sulit terjadi di RS.
Defective Democracy
South Africa (7.70) Sri Lanka (6.25) Poland (7.50)
Sejak berakhirnya Apartheid, pemerintahan Afrika Selatan berfungsi sebagai negara demokrasi satu partai yang dominan.
Kongres Nasional Afrika (ANC) telah memberikan stabilitas politik bagi negara baru yang dikhawatirkan akan terpecah belah oleh perpecahan ras, etnis, dan suku.
Afrika selatan menerapkan sistem satu partai yang dominan, mereka cenderung menyamakan kepentingan partai dengan kepentingan negara. Namun, hal ini tidak berarti bahwa partai-partai tersebut tidak dapat menoleransi faksi-faksi internal yang mempunyai pandangan politik yang berbeda, adanya penerimaan pada oposisi dalam pemerintahan.
Presiden Afrika Selatan, Ramaphosa yang beberapa kali sempat terlibat pada skandal korupsi, ia melakukan pemberhentian pada salah satu pelindung masyarakat yang menyelidiki tentang kasus korupsi. Jika sebelumnya dalam penentuan kebijakan ada keterbukaan dalam menerima oposisi, namun jika terkait skandal korupsi pemimpin Afrika ini segala bentuk protes, oposisi, dan upaya pengungkapan dilarang oleh pemerintah.
Dapat disimpulkan, selama dua dekade terakhir, pemerintah Afrika Selatan perlahan namun pasti beralih dari demokrasi penuh menuju rezim hibrida.
Sri Langka merupakan negara yang memiliki pengalaman yang relatif lama dengan institusi dan praktik demokrasi liberal.
Hak pilih universal serta pemerintahan yang sebagian representatif didirikan di Sri Lanka sejak tahun 1931, ketika pulau itu masih berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris.
Sejak awal tahun 1970-an, politik di Sri Lanka terjadi pada dua tingkatan pertama pada tingkat praktik hukum, pemilu, dan parlementer dan kedua, sebagai mobilisasi kontra-negara, pemberontakan bersenjata dan perang melawan pemberontakan.
Lembaga-lembaga demokrasi parlementer nampaknya telah mengakar kuat dalam masyarakat. Sri Lanka, yang ditandai dengan sejarah kelembagaan demokrasi modern yang relatif panjang, tingkat partisipasi pemilu yang tinggi, penetrasi sistem partai politik ke seluruh pelosok masyarakat, dan keseharian masyarakat. dan pergantian rezim secara damai melalui pemilu. Namun, Sri Lanka juga telah melahirkan dua pemberontakan melawan negara satu terjadi di masyarakat mayoritas Sinhala dan satu lagi terjadi di masyarakat minoritas Tamil.
Maraknya pemberontakan melawan negara menunjukkan bahwa demokrasi Sri Lanka mempunyai keterbatasan yang serius dalam
Lembaga-lembaga demokrasi Polandia berakar pada awal transisi dari pemerintahan komunis pada tahun 1989. Presiden Polandia dipilih secara langsung oleh rakyat untuk dua periode masa jabatan lima tahun.
Penunjukan perdana menteri oleh presiden harus dikonfirmasi oleh Sejm, majelis rendah parlemen. Meskipun perdana menteri memegang sebagian besar kekuasaan eksekutif, presiden juga mempunyai pengaruh, terutama dalam urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri. Para pemilih dan politisi pada umumnya bebas dari campur tangan kelompok luar.
Anggota parlemen bikameral dipilih untuk masa jabatan empat tahun. Sejm, majelis rendah, yang memiliki 460 kursi, dipilih melalui perwakilan proporsional dan memegang sebagian besar wewenang legislatif. 100 anggota Senat, majelis tinggi, dipilih di daerah pemilihan beranggota tunggal. Senat dapat menunda dan mengubah undang- undang, namun hanya mempunyai sedikit wewenang.
Partai politik Polandia berorganisasi dan beroperasi secara bebas.
Meskipun sistem kepartaian telah didominasi oleh PiS dan PO yang
Hal ini terjadi bersamaan dengan pergeseran sub-struktural dalam hal kebebasan sipil, fungsi pemerintahan, kebebasan peradilan, partisipasi dalam politik, dan penindasan terhadap oposisi.
mengatasi keluhan sosial dan etnis yang besar. Namun, tantangan-tantangan sistemik ini tampaknya belum memicu upaya reformasi demokrasi yang serius. Paradoks demokrasi di Sri Lanka semakin terlihat jelas melalui ketangguhan lembaga- lembaga negara yang luar biasa untuk tetap tidak melakukan reformasi meskipun terjadi pemberontakan, protes, dan kekerasan politik selama empat dekade. Pemberontakan bersenjata melawan negara tidak mengarah pada reformasi struktural politik, namun pada budaya 'perlawanan terhadap reformasi'.
berhaluan tengah selama lebih dari dua dekade, juga adanya para pihak oposisi namun menunjukkan grafik meningkat dan menurun.
Perempuan memiliki hak politik yang setara dan memegang 28% kursi di Sejm, namun jumlah kementerian dikurangi dari 20 menjadi 14 pada September 2020, sehingga hanya menyisakan satu perempuan di kabinet baru.
Democracy in Consolidation
South Korea (8.60) Taiwan (9.60) Uruguay (9.95)
Bukti bahwa politik di Korea Selatan terus berfungsi sesuai dengan norma-norma demokrasi yang telah dicapai dengan susah payah adalah proses yang tertib seputar pemilihan presiden pada bulan Maret 2022 dan kemauan para pemilih, terutama semakin banyak pemilih independen atau floating voters yang mengidentifikasi diri mereka sendiri, untuk membuat pilihan berdasarkan kepentingan pribadi, dan tidak bergantung ke kubu partisan.
Tingginya jumlah pemilih yang berpartisipasi dalam pemilu 2022 tersebut, dengan 77 persen pemilih berpartisipasi, menunjukkan bahwa para pemilih di Korea menganggap serius tanggung jawab demokrasi mereka.
Kedua kandidat utama pemilu menerima legitimasi penghitungan akhir dan bahwa pemenangnya, Yoon Suk-yeol, menekankan adanya penghargaan akan pentingnya pemerintahan. Demi kepentingan negara secara keseluruhan dan menghormati pandangan parlemen (di mana oposisi progresif masih memiliki mayoritas kursi). Pejabat terpilih menentukan dan melaksanakan kebijakan negara tanpa campur tangan yang tidak semestinya dari entitas dan kepentingan yang tidak dipilih.
Sistem demokrasi Taiwan yang dinamis dan kompetitif telah memungkinkan terjadinya tiga kali peralihan kekuasaan secara damai antara partai-partai yang bersaing sejak tahun 2000, dan perlindungan terhadap kebebasan sipil pada umumnya kuat.
Pemilu di Taiwan diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Pusat (CEC).
Undang-undang tersebut mengamanatkan bahwa tidak ada partai politik yang boleh memegang lebih dari sepertiga kursi di CEC, dan dalam praktiknya CEC beroperasi secara tidak memihak.
Sistem politik multipartai menampilkan persaingan yang ketat antara dua partai besar, DPP dan KMT. Partai-partai kecil juga dapat berfungsi tanpa campur tangan dan telah memainkan peran penting baik dalam pemilihan presiden maupun legislatif.
Pejabat terpilih di Taiwan dapat menetapkan dan menerapkan kebijakan tanpa campur tangan asing atau aktor lain yang tidak melalui pemilihan, meskipun pertimbangan terhadap Tiongkok memainkan peran penting dalam pembuatan kebijakan Taiwan.
Media berita yang bebas, mencerminkan keragaman pandangan dan memberitakan kebijakan pemerintah secara agresif,
Uruguay memiliki struktur pemerintahan demokratis yang kuat secara historis dan rekam jejak positif dalam menjunjung hak-hak politik dan kebebasan sipil serta berupaya mencapai inklusi sosial.
Adanya pemilu untuk memilih presiden secara langsung oleh rakyat, dengan masa jabatan total lima tahun.
Namun presiden tidak boleh memegang masa jabatan berturut-turut di periode selanjutnya. Pilihan politik masyarakat pada umumnya bebas dari pengaruh aktor-aktor yang tidak demokratis.
Majelis Umum bikameral terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat yang beranggotakan 99 orang dan Senat yang beranggotakan 30 orang, dengan semua anggota dipilih secara langsung untuk masa jabatan lima tahun. Tidak ada satu partai pun yang meraih mayoritas pada pemilu terakhir 2019. Pemilu berlangsung damai, dan para pemangku kepentingan menerima hasilnya.
Urruguay memiliki pengadilan pemilu yang berfungsi sebagai otoritas tertinggi dalam pemilu dan mengawasi Kantor Pemilu Nasional, yang mengawasi pendaftaran pemilih
Maraknya protes publik yang dilakukan oleh para partisan, baik dari sayap kiri maupun kanan dalam politik, merupakan tanda keterlibatan demokratis dan bukannya keterpisahan dari kehidupan politik.
Aktivisme warga masih hidup dan berkembang di Korea Selatan, meskipun terjadi penurunan jumlah anggota asosiasi aktivis sipil dalam beberapa tahun terakhir.
Media berita di Korea Selatan bebas dan kompetitif, melaporkan secara agresif kebijakan pemerintah dan tuduhan kesalahan pejabat dan perusahaan.
Kebebasan beragama dijamin oleh konstitusi dan secara umum dihormati dalam praktiknya, namun pernah ada kasus penangguhan pembangunan masjid di Daegu saat itu.
Kelompok hak asasi manusia dan organisasi non-pemerintah (LSM) lainnya aktif dan umumnya beroperasi dengan bebas, meskipun ada risiko tekanan politik ketika mereka mengkritik pemerintah atau kepentingan kuat lainnya.
Pemerintah pada umumnya menghormati kebebasan berkumpul, yang dilindungi oleh konstitusi.
meskipun banyak media yang menunjukkan afiliasi partai yang kuat dalam liputannya.
Undang-Undang Majelis dan Parade tahun 1988 memungkinkan pihak berwenang untuk mengadili pengunjuk rasa yang tidak mendapatkan izin atau mengikuti perintah untuk membubarkan diri, dan mencakup beberapa pembatasan pada lokasi protes, namun dalam praktiknya kebebasan berkumpul sangat dihormati.
Semua organisasi sipil harus mendaftar ke pemerintah, meskipun pendaftaran diberikan secara cuma-cuma. Organisasi non- pemerintah biasanya beroperasi tanpa campur tangan yang tidak semestinya Peradilan Taiwan bersifat independen.
Keputusan pengadilan yang bebas dari campur tangan politik atau campur tangan tidak patut lainnya.
dan memiliki satu kantor di setiap departemen regional negara tersebut.
Sistem multipartai di Uruguay terbuka dan memiliki oposisi yang kompetitif. Beberapa partai kecil juga bersaing dalam pemilu dan juga memperoleh perwakilan.
Jaminan konstitusi mengenai kebebasan berekspresi dihormati. Pers adalah milik swasta; sektor penyiaran mencakup saluran komersial dan publik.
Ada banyak surat kabar harian dan mingguan, beberapa di antaranya berhubungan dengan partai politik.
Selain itu pada aspek kebebasan agama Uruguay sangat melindungi dan menghormati hal tersebut.
Kemudian ada kebebasan untuk berkumpul (demonstrasi, dsb) yang dilindungi oleh Undang-undang dan dihormati dalam praktiknya.
Beragam organisasi masyarakat dan kelompok hak asasi manusia nasional dan internasional aktif dalam kehidupan sipil, dan tidak menghadapi campur tangan pemerintah.
Terkhir dari aspek peradilan, Uruguay dinilai memiliki peradilan yang independen, tanpa ada intervensi dari pihak manapun.
DAFTAR PUSTAKA
Castaldo, Antonino. (2018). "Populism and Competitive Authoritarianism in Turkey". SOUTHEAST EUROPEAN AND BLACK SEA STUDIES Routledge Taylor & Francis Group.
Cheema, Rauf Khalid. (2022). "Saudi Arabia And Authoritarian Regimes - OpEd". Eurasiareview news & analysis.
https://www.eurasiareview.com/05052022-saudi-arabia-and-authoritarian-regimes-oped/
Curato, Nicole. (2021). "Democratic Expressions Amidst Fragile Institutions: Possibilities for Reform in Duterte's Philippines".
BROOKINGS. https://www.brookings.edu/articles/democratic-expressions-amidst-fragile-institutions-possibilities-for-reform- in-dutertes-philippines/.
Domańska, Maria. (2021). "Russia 2021: Consolidation of a Dictatorship". CENTRE FOR EASTERN STUDIES OŚRODEK STUDIÓW WSCHDNICH. https://www.osw.waw.pl/en/publikacje/osw-commentary/2021-12-08/russia-2021-consolidation-a-dictatorship.
Freedom House. (2022). "Bosnia and Herzegovina". https://freedomhouse.org/country/bosnia-and-herzegovina/freedom-world/2022.
Freedom House. (2023). "Poland". https://freedomhouse.org/country/poland/freedom-world/2023.
Freedom House. (2022). "South Korea". https://freedomhouse.org/country/south-korea/freedom-world/2022.
Freedom House. (2022). "Taiwan". https://freedomhouse.org/country/taiwan/freedom-world/2022.
Freedom House. (2022). "Uruguay". https://freedomhouse.org/country/uruguay/freedom-world/2022.
Frye, Timothy. (2022). "Why Regime Change in Russia Might Not Be a Good Idea". POLITICO.
https://www.politico.com/news/magazine/2022/04/12/regime-change-russia-putin-00023953.
Krüger, Dorothea. (2020). "China: A Hard-Line Autocracy That Loses Credibility at An International Level". CADAL.
Mostofa, Shafi M. D. dan D. B. Subedi. (2020). "Rise of Competitive Authoritarianism in Bangladesh". School of Humanities, Arts and Social Sciences (HASS), University of New England.
Schmidt, Lisa dan Venla Steng. (2022). "Kazakhstan in Context: A Repressive State". Human Rights Foundation.
https://hrf.org/kazakhstan-in-context-a-repressive-state/
Uyangoda, Jayadeva and Pradeep Peiris. (2009). "State of Democracy in Sri Lanka: A Preliminary Report". PCD Journal Vol. 1, No.
1&2.
Walsh, Michael. (2023). "Democracy at Stake in South Africa". Foreign Policy Research Institute.
https://www.fpri.org/article/2023/05/democracy-at-stake-in-south-africa/
Welsh, Bridget. (2023). "Malaysia: A Time of Political Contradictions". The University of Melbourne.
https://asialink.unimelb.edu.au/insights/malaysia-a-time-of-political-contradictions.
Wright, John Nilsson. (2022). "Contested Politics in South Korea Democratic Evolution, National Identity and Political Partisanship".
Research Paper Chatham House.