Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Batang Bakau (Bruguiera gymnorrhiza) terhadap Gambaran Histopatologi Lambung Tikus Putih Jantan (Rattus
norvegicus) Galur Sprague-dawley yang Diinduksi Alkohol
Darnalis Serlina1, Soraya Rahmanisa2, Dewi Nur Fiana3
1
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2
Bagian Biokimia, Biologi Molekuler dan Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3
Bagian Rehabilitasi Medik, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Kulit batang tanaman bakau (Bruguiera gymnorrhiza) mengandung zat antioksidan yaitu tannin, saponin, flavonoid, dan quinon. Fungsi dari antioksidan adalah dapat mencegah terjadinya stress oksidatif, salah satu yang menyebabkan radikal bebas adalah konsumsi minuman beralkohol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekstrak kulit batang bakau (Bruguiera gymnorrhiza) terhadap histopatologi lambung tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague-Dawley yang diinduksi alkohol. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus yang terbagi dalam 5 kelompok selama 14 hari, yaitu kelompok K1 (kelompok kontrol -) yang tidak diinduksi alkohol dan ekstrak kulit batang bakau, kelompok K2 (kelompok kontrol +) yang diinduksi dengan alkohol selama 14 hari, kelompok P1 (kelompok perlakuan 1) yang diinduksi dengan alkohol serta diberikan ekstrak kulit batang bakau dengan dosis 6,25 mg/kgBB selama 14 hari, kelompok P2 (kelompok perlakuan 2) yang diinduksi dengan alkohol serta diberikan ekstrak kulit batang bakau dengan dosis 125 mg/kgBB selama 14 hari perlakuan, dan kelompok P3 (kelompok perlakuan 3) yang diinduksi dengan alkohol serta diberikan ekstrak kulit batang bakau dengan dosis 250 mg/kgBB. Analisis data menggunakan uji One-Way ANOVA menunjukkan nilai p < 0,05 untuk rerata kerusakan lambung tikus. Pada uji Post Hoc didapatkan nilai p > 0,05 antar kelompok K2 (kelompok kontrol +) yang diinduksi dengan alkohol selama 14 hari, P2 (kelompok perlakuan 2) yang diinduksi dengan alkohol serta diberikan ekstrak kulit batang bakau dengan dosis 125 mg/kgBB selama 14 hari perlakuan, dan P3 (kelompok perlakuan 3) yang diinduksi dengan alkohol serta diberikan ekstrak kulit batang bakau dengan dosis 250 mg/kgBB sehingga tidak menunjukan perbedaan yang bermakna.
Terdapat pengaruh pemberian ekstrak kulit batang bakau (Bruguiera gymnorrhiza) terhadap gambaran histopatologi lambung tikus putih jantan yang diinduksi alkohol, dengan secara statistik dosis yang berpengaruh adalah dosis 250 mg/kgBB.
Kata kunci: Alkohol, Bruguiera gymnorrhiza, lambung, histopatologi, Sprague-Dawley.
The Effect Of Stem Bark Extract Of (Bruguiera Gymnorrhiza) On The Stomach Histopathology Of Male Rats (Rattus Norvegicus) Sprague-Dawley Strain
Were Is Alcohol Induced
Abstract
Mangrove bark plants (Bruguiera gymnorrhiza) contains tannins, saponins, flavonoids, and quinons which are antioxidants.
High antioxidant content can prevent oxidative stress, one of the causes of free radicals is consuming alcohol. The aim of this study is to know The Influence of Giving Mangrove Bark Extract (Bruguiera Gymnorrhiza) Towards Histopathology of White Male Rat Gastric (Rattus Novergicus) The Alcohol-Induced Sprague Dawley Lane. This research used 30 rats divided into 5 groups for 14 days, K-group which was not induced by alcohol and mangrove bark extract, K + group which was induced by alcohol for 14 days, group P1 which was induced by alcohol and was given mangrove bark extract with a dose of 6.25 mg / kgBB for 14 days, group P2 was induced by alcohol and mangrove bark extract with a dose of 125 mg / kgBB for 14 days of treatment, and group P3 was induced by alcohol and mangrove bark extract with dose of 250 mg / kgBB. Datas analysis used One-Way ANOVA test showed p value was <0.05 for mean gastric damage of mice. Post Hoc test of p value obtained > 0.05 K + group which was induced by alcohol for 14 days between group P2 was induced by alcohol and mangrove bark extract with a dose of 125 mg / kgBB for 14 days of treatment, and P3 was induced by alcohol and mangrove bark extract with dose of 250 mg / kgBB so it did not show significant differences. There was an influence of giving mangrove bark extract (Bruguiera gymnorrhiza) to the histopathological picture of the gastric-induced white male rat, with statistically influential dose was a dose 250 mg / kgBB.
Keywords: Alcohol, Bruguiera gymnorrhiza, histopathology, Sprague-Dawley, stomach,
Korespondensi : Darnalis Serlina, alamat Jl. Raja Tihang No.71, Tanjung Senang, Lampung, HP 082183494020 [email protected]
Pendahuluan
Alkohol adalah sekelompok senyawa yang terdiri atas ethyl alcohol, methylalcohol, ethylen glycol, isoprophyl alcohol yang dimetabolisme oleh alkohol dehidrogenase.1 (WHO) menyebutkan 38,3% penduduk dunia telah mengonsumsi alkohol perorangan yang berusia lebih dari 15 tahun adalah 6,2 liter atau 13,5 gram alkohol murni setiap hari.
Angka ini mengalami peningkatan dari data Global Status Report on Alcohol and Health 2011 yang mencatat sekitar 6,13 liter alkohol yang dikonsumsi per kapita per tahunnya, sedangkan untuk Indonesia berdasarkan data Global Status Report on Alcohol and Health 2014 tercatat bahwa konsumsi minuman beralkohol < 2,5 liter per kapita per tahunnya.2.3
Konsumsi alkohol pada dosis rendah bisa memberikan stimulasi pada tubuh dapat menyebabkan perasaan euphoria dan peminum menjadi banyak bicara. Tetapi, minum alkohol berlebihan pada satu waktu bisa menyebabkan ada perasaan kantuk, dan depresi pernapasan dimana perapasan akan menjadi lambat, dangkal dan bahkan bisa menjadi berhenti. Apabila mengonsumsi alkohol dosis tinggi dapat menyebabkan tekanan pada sistem saraf pusat.4
Di dalam tubuh alkohol yang mengandung etanol akan masuk ke saluran gastrointestinal dan mulai terjadi penyerapan serta akan tersebar di semua jaringan dan cairan tubuh. Selanjutnya akan terjadi metabolime alkohol menjadi asetal dehid di sel hati dan mukosa lambung. Konsumsi alkohol dengan berbagai konsentrasi ke dalam saluran gastrointestinal akan menyebabkan kerusakan mukosa dan perubahan fungsional organ yang dilaluinya.5 Hal tersebut menggambarkan bahwa pencegahan kerusakan mukosa dan perubahan fungsional lambung akibat alkohol harus diminimalisir.
Paparan alkohol dapat menyebabkan struktur mitokondria menjadi bengkak, disagregasi, dan kista tidak terlihat bahkan hilang selanjutnya disebut megamitokondria.
Megamitokondria dapat menyebabkan penurunan konsumsi oksigen, penurunan sintesis ATP dan penurunan kemampuan
untuk berikatan dengan reactive oxygen spesies (ROS) dibandingkan mitokondria normal. Megamitokondria atau pembesaran mitokondria sebenarnya terjadi akibat proses adiptif dari sel yang mencoba untuk menurunkan jumlah ROS intraseluler pada saat terjadi stres oksidatif akibat paparan alkohol. 6
Pemanfaatan tanaman – tanaman sekitar menjadi salah satu media pencegahan terhadap radikal bebas yang dapat dilakukan.
Indonesia diketahui memiliki sekitar 9.600 spesies merupakan tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat, namun hanya sekitar 300 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat tradisional di industri obat tradisional.7 Salah satu tanaman yang dapat berperan sebagai antioksidan alami adalah mangrove atau disebut juga bakau.
Kandungan kimia aktif yang terdapat pada hasil ekstraksi kayu tanaman bakau sebagai antioksidan yaitu tannin, saponin, flavonoid, dan quinon. 8
Kandungan antioksidan (tannin, saponin, flavonoid, dan quinon) pada kulit batang bakau (Bruguiera gymnorrhiza) bisa dijadikan salah satu solusi untuk mencegah terjadinya stress oksidatif akibat paparan radikal bebas yang berlebih. Radikal bebas dapat meningkat akibat mengonsumsi alkohol berlebih. Kadar Reactive Oxygen Selective (ROS) akan meningkat seiring dengan meningkatnya kadar radikal bebas.
Antioksidan endogen tidak mampu menangkal banyaknya ROS yang meningkat. Hal tersebut memicu terjadinya stress oksidatif. Keadaan stress oksidatif membawa pada kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan hingga ke organ tubuh, salah satunya kerusakan pada organ lambung. Keadaan stress oksidatif yang dipicu oleh radikal bebas dari pemberian alkohol dosis tinggi dapat merusak endotel pembuluh darah lambung berupa kemerahan, kongestif, dan pembentukan lesi bahkan ulkus. Hal ini menyebabkan tubuh memerlukan antioksidan eksogen untuk menangkal peningkatan ↑ Reactive Oxygen Selective (ROS), salah satunya dari kulit batang bakau. 4
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang pemberian ekstrak kulit batang bakau (Bruguiera gymnorrhiza) terhadap gambaran histopatologi lambung tikus putih jantan (Rattus Norvegicus) galur Sprague-Dawley yang telah diinduksi alkohol 43% yang dipaparkan selama 14 hari.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif true eksperimental, dengan rancangan terkontrol pola Post test with control group design. Penelitian ini dilakukan di Animal House Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, pembuatan ekstrak dilakukan di Laboratorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung, terminasi dan dilihat hewan coba dilakukan di Laboratorium Histologi-Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2019.
Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik random sampling dengan besar sampel sebanyak 30 tikus.
Terdapat 5 kelompok penelitian yaitu kelompok K1 (kontrol), K2 (diinduksi alkohol), P1 (diinduksi alkohol dan ekstrak kulit batang bakau dosis 62,5 mg/kgBB), dan P2 (diinduksi alkohol dan ekstrak kulit batang bakau lindur dosis 125 mg/kgBB), dan P3 (diinduksi alkohol dan ekstrak kulit batang bakau dosis 250 mg/kgBB).
Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu tikus dalam kondisi sehat, memiliki berat badan 200 – 250 gram, jenis kelmin jantan, usia tikus 3 bulan. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% setelah 1 minggu masa adaptasi di laboratorium, Sakit (penampakan rambut kusam, rontok atau botak, dan aktivitas kurang atau tidak aktif), dan tikus mati.
Variable independen (bebas) pada penelitian ini adalah ekstrak kulit batang bakau (Bruguiera gymnorrhiza) yang diberikan pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley yang diinduksi alkohol 43%.
Variabel dependen (terikat) pada penelitian ini adalah perubahan gambaran histopatologi
lambung tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley.
Kriteria penilaian derajat kerusakan lambung diambil dari 5 lapang pandang dengan kerusakan mukosa yang tertinggi dari lapang pandang tersebut lalu ditentukan skornya. Kemudian ambil rata rata dari masing-masing skor kerusakan mukosa lambung dan skor kerusakan mukosa lalu dijumlahkan dengan total skor kerusakan yaitu 0-3.
Tabel 1. Definisi operasional
Variabel Hasil Ukur Skala
Ekstrak kulit batang bakau
Ekstrak kulit batang bakau diberikan sesuai dosis
Numerik
Histopatologi lambung
Kerusakan mukosa 0= gambaran normal 1= edema, hiperemis, dan terdapat serbukan sel radang
2= ditemukan
deskuamasi atau erosi sel epitel superfisial 3= tampak deskuamasi dan erosi sampai jaringan bawah epitel sampai tunika muskularis (ulkus).
Kategorik
Hasil
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan subjek penelitian yaitu hewan coba tikus sebanyak 30 ekor Rattus norvegicus galur Sprague-dawley yang terdiri dari lima kelompok dan setiap kelompok terdapat 5 ekor tikus ditambah drop out 1 ekor tikus.
Prosedur penelitian ini memerlukan waktu untuk perlakuan selama 14 hari dan aklimasi selama 7 hari semua ini dilakukan di animal house Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
Penelitian ini terdiri dari lima kelompok yaitu kelompok kontrol negatif, (K1): tidak diberi perlakuan, kelompok kontrol positif, (K2): diinduksi dengan alkohol 43% selama 14 hari, kelompok perlakuan 1, (P1): diinduksi alkohol 43% dan diberi ekstrak kulit batang bakau 62,5 mg/kgBB/hari selama 14 hari, kelompok perlakuan 2 (P2): diinduksi alkohol
43% dan diberi ekstrak kulit batang bakau 125 mg/kgBB/hari selama 14 hari, dan kelompok perlakuan 3 (P3): diinduksi alkohol 43% dan diberi ekstrak kulit batang bakau 250 mg/kgBB/hari.
Setelah diberi perlakuan selama 14 hari, pada hari ke 7 tikus diterminasi yang sebelumnya tikus telah dibius menggunakan ketamine-xylazine dan selanjutnya diambil organ lambung tikus lalu dibuat preparat dan pembacaan preparat oleh dokter patologi anatomi yang selanjutnya diamati dibawah mikroskop cahaya dilihat pada lima lapang pandang pada setiap preparat dengan perbesaran 400x.
Hasil penelitian dari gambaran histopatologi lambung dapat dilihat dari gambar dibawah ini
Keterangan:
Bagian yang dipanah biru merupakan deskuamasi
Bagian yang dipanah hijau merupakan erosi
Bagian yang dipanah kuning merupakan sel radang limfosit
Gambar 1. Gambaran histopatologi lambung tikus
Setelah melihat hasil penelitan ddapatkan data ini kemudian diolah dengan menggunakan program statistik. Pada hasil analisis univariat didapatkan rerata skor kerusakan histopatologi lambung dan standar deviasinya pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Rerata Kerusakan Lambung Ulangan
Ke-
Kelompok Perlakuan
K1 K2 P1 P2 P3
1 0,2 1,2 1 0,6 0,6
2 0,2 1,4 1,2 0,4 0,4
3 0,4 1,6 1,2 0,8 0,6
4 0 1,4 0,8 0,8 0,6
5 0,2 1,4 1,2 0,8 0,6
Rata±SD 2,0±
1,41
14,0±1, 41
9,0±4,7 9
6,8±1,7 8
5,6
± 0,8 9
Berdasarkan Tabel 2 dapat dijelaskan hasil pada kelompok kontrol positif (K2) merupakan yang paling tinggi nilai rerata (mean) yaitu 14,0. Diikuti oleh kelompok perlakuan 1 (P1) yaitu nilai reratanya adalah 9,0 selanjutnya kelompok perlakuan 2 (P2) nilai reratanya adalah 6,8 lalu kelompok perlakuan 3 (P3) dengan nilai reratanya 5,6 dan yang paling rendah yaitu nilai rerata dari kelompok kontrol negatif (K1) yaitu 2,0.
Hasil dari uji parametrik One-Way ANOVA menunjukan bahwa nilai p adalah 0,000 sehingga data diartikan bermakna karna p < 0,05.
Berdasarkan Tabel 3 dapat menunjukkan bahwa kelompok K2 dengan kelompok K2, P2 dan P3 memiliki nilai p=0,000, p=0,001, p=0,000 atau dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna karna (p < 0,05).
K1
K2 2
P1
P3
Tabel 3. Uji Post Hoc Tamhane.
Kelompo k
K 1
K2 P1 P2 P3
K1 - 0,000
*
0,25 0,071 0,021
*
K2 - - 0,56
1
0,001
*
0,000
*
P1 - - - 0,992 0,878
P2 - - - - 0,926
P3 - - - - -
Pembahasan
Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan secara histopatologi didapatkan bahwa kelompok kontrol negatif yang hanya diberi aquades dan makan minum standar memiliki kerusakan mukosa lambung yang paling rendah dengan rerata sebesar 2,0±1,41. Aquades yang diberikan tidak bersifat agresif terhadap mukosa lambung, namun dari hasil pengamatan didapatkan satu dari lima kelompok kontrol negarif memiliki tanda peradangan atau yang disebut juga gastritis disalah satu lapang pandang dari total lima lapang pandang yang diamati di mikroskop dengan perbesaran 400x.
Tanda peradangan atau gastritis dapat disebabkan oleh beberapa penyebab seperti konsumsi minuman beralkohol, konsumsi OAINS, kopi, infeksi Helicobacter
pylori, dan juga faktor stress. 3Pada kelompok perlakuan kontrol positif diperoleh gambaran histopatologi lambung paling tinggi yang menunjukkan proses deskuamasi dan erosi pada beberapa jaringan mukosa lambung, deskuamasi adalah pengelupasan jaringan yang terluar, erosi adalah robekan mukosa
>5 mm sampai ke muskularis. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan mukosa lambung akut adalah
Psychosocial stressorkeadaan ini dapat diperoleh dari perlakuan tikus dan keadaan lingkungan tempat adaptasi tikus atau juga dapat disebabkan dari respon tikus akibat trauma mekanik sonde
lambung yang dipakai untuk perlakuan setiap.
9Alkohol merupakan
Reactive Oxygen Species (ROS) menjadi gugus proteinsulfhydryl di mukosa lambung sebagai target utama sehingga apabila terjadi oksidasi dapat terjadi inaktivasi enzim, denaturasi dan modifikasi pada membran sel yang menyebakan kerusakan yang terjadi pada mukosa lambung. Kerusakan lambung yang diakibatkan konsumsi alkohol merupakan salah satu oksidan dengan konsentrasi tinggi dan konsumsi alkohol secara terus menerus dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung dari sel parietal. Perubahan mitokondria dan sel utama (zymogen cell) menjadi megamitokondria sehingga terjadi penurunan sintesis ATP sehingga menyebabkan terjadinya asidosis metabolik, peningkatan kalsium intrasel dan edema selular sehingga terjadi kerusakan mukosa lambung.
4Radikal bebas dapat meningkat diakibat mengonsumsi alkohol berlebih.
Kadar
Reactive Oxygen Selective (ROS)akan meningkat seiring dengan meningkatnya kadar radikal bebas.
Antioksidan endogen tidak mampu
menangkal banyaknya ROS yang
meningkat. Hal tersebut memicu
terjadinya stress oksidatif. Keadaan stress
oksidatif membawa pada kerusakan
oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan
hingga ke organ tubuh, salah satunya
kerusakan pada organ lambung. Keadaan
stress oksidatif yang dipicu oleh radikal
bebas dari pemberian alkohol dosis tinggi
dapat merusak endotel pembuluh darah
lambung berupa kemerahan, kongestif,
dan pembentukan lesi bahkan ulkus. Hal
ini menyebabkan tubuh memerlukan
antioksidan eksogen untuk menangkal
peningkatan ↑
Reactive Oxygen Selective(ROS).
Antioksidan merupakan salah satu zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, konsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan radikal bebas hidroxil yang akan bereaksi dengan lipid dan protein.
10Antioksidan sendiri bisa didapatkan pada banyak tanaman salah satunya yaitu antioksidan yang ada pada kulit batang bakau
(Bruguiera gymnorrhiza) yang kandungan antioksidanflavonoid cukup tinggi dan dapat digunakan sebagai penghambat atau mencegah terjadinya kerusakan pada organ lambung yang diakibatkan oleh radikal bebas
11.
Simpulan
Simpulan yang didapatkan dari uraian diatas adalah Terdapat perbedaan peningkatan dosis ekstrak kulit batang bakau (Bruguiera gymnorrhiza) pada kelompok perlakuan 3 pada dosis 250 mg/KgBB tampak perbaikan mukosa lambung yang paling baik tetapi mulai dosis 125 mg/KgBB sudah tampak perbaikan gambaran perbaikan terhadap histopatologi lambung tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague Dawley yang diinduksi alkohol
Daftar Pustaka
1.
Departemen Kesehatan RI. Kebijakan Obat Tradisional Nasional. Jakarta:Kemenkes RI; 2007.
2.
Gunasekara FI. Alcohol - the body and health effects: a brief overview. New Zealand: Alcohol Advisory Council of New Zealand; 2012.3.
Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 2014.4.
Manzo AS, Saavendra MA. Cellular and mitochondrial effects of alcohol consumption. Int. J. Environ. Res. Public Health. 2010;7(4):141-304.5.
Pavlovic P, Cekic S, Rankovic G, Stoiljkovic N. Antioxidant and pro-oxidant effect of ascocbic acid. Acta Medica Medianae.2005;44(1):65-69.
6.
Sudirman S. Identifikasi Struktur Senyawa Antioksidan Buah Lindur. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia.2016;19(2):94-99.
7.
Sugeng AW. Keracunan alkohol beracun.Laporan kasus ICU RS Mitra Kemayoran.
2012;2(2):109-15.
8.
World Health Organization. Global status report on alcohol and health 2011. New York: United Nations; 2011.9.
World Health Organization. Global status report on alcohol and health 2014. New York: United Nations;2014.10.
Yusro, F. Rendemen ekstrak ethanol dan uji fitokimia tiga jenis tumbuhan obat Kalimantan Barat. Jurnal Tengkawang.2011;1(1):29-36.