• Tidak ada hasil yang ditemukan

2621-1130 ISSN (Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "2621-1130 ISSN (Online)"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149

(3)

EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting

Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep Penyunting Pelaksana:

Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Penyunting:

Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.

Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِAl-Khairat, Pamekasan.

IT Support:

Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK

Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)

Jl. Bukit Lancaran PP.

Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:

[email protected] Website:

http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik

Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah

(4)

ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149

234-354 Kontribusi Pendidikan Pesantren dalam Membentuk Intelektualitas dan Spritualitas Santri

Abbadi Ishomuddin

255-278 Analisis Dampak Maklumat Kapolri Nomor MAK/2/III/2020 terhadap Sektor Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 di Desa Rombiya Timur

Abdul Wahid dan Ach Hamdan

279-300 Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan PSG (Pemulung Sampah Gaul) di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Ah Mutam Muchtar dan Masyhuri

301-325 Perkawinan Antar Agama dan Dampaknya Terhadap Psikologi Pendidikan Anak Abdul Halim dan Mohammad Hosnan 326-343 Studi Komparasi Hukum Islam

dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Human Trafficking)

Moh Jazuli dan A Washil

(5)

344-366 Program Zero Waste Sebagai Implementasi Pendidikan Cinta Lingkungan di PPA Lubangsa Utara Fadhilah Khunaini

367-384 Studi tentang Tujuan Pendidikan Islam Menurut Azyumardi Azra

Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan 385-405 Urgensi Pendidikan Islam Tradisional Dalam

Menciptakan Manusia Ideal Moh. Naqib dan A. Faisol Rizal

406-425 Analisis terhadap Pemikiran Ahmad Baso tentang Penyemaian Pendidikan Karakter di Pesantren M Faizi dan Yondriani Akbar

426-451 Konsep Ulul Al-bab dalam Tafsir Al-Mishbah Dan Pengembangannya dalam Pendidikan Islam Moh. Shalahuddin A. Warits, Moh. Asyari Muthhar, dan Muthmainnah

(6)

AL-MISHBAH DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Moh. Shalahuddin A. Warits Institut Ilmu keislaman Annuqayah (INSTIKA)

[email protected] Moh. Asy’ari Muthhar

Institut Ilmu keislaman Annuqayah (INSTIKA) moh.asy’[email protected]

Muthmainnah

Institut Ilmu keislaman Annuqayah (INSTIKA) [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan ulul al-bab dalam tafsir Al-Mishbah dan pengembangannya dalam pendidikan Islam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Pendekatan ini dagunakan karena objek dan fokus penelitiannya dalam kajian ini menggunakan jenis Library Research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan Ulul Albab dianggap tercapai ketika pribadi yang terbentuk dalam proses pendidikan memiliki kualitas sebagai berikut: mempunyai Ilmu pengetahuan yang luas, mampu melihat atau membaca fenomena alam dan sosial secara tepat, memiliki otak yang cerdas, berhati lembut, bersemangat juang tinggi karena Allah sebagai pengejawantahan amal shaleh.

Kata Kunci: Ulul Albab, Pendidikan Islam, Tafsir Al-Mishbah

(7)

Pendahuluan

Pendidikan merupakan wahana untuk mengasuh, membimbing, dan mendidik putra putri generasi penerus bangsa untuk bisa menjadi warga negara yang baik supaya mempunyai keseimbangan hidup antara duniawi dan ukhrawi. Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari dua dimensi. Pertama, dimensi jasmani yang sifatnya matearelistik. Kedua, dimensi ruhaniah yang sifatnya imateri.1 Agar dengannya manusia mampu mempertahankan hidup serta kesejahteraan.

Apabila dicermati, bahwa salah satu ciri dari pendidikan Islam yaitu perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan petunjuk ajaran Islam, maka dengan kata lain pendidikan Islam merupakan upaya sadar dalam rangka pembentukan keperibadian muslim.2 Disini dapat dipahami bahwa tugas pendidikan pada umumnya termasuk pendidikan Islam pada khususnya adalah untuk membentuk peserta didik agar memiliki sifat-sifat kepribadian yang unggul dalam kehidupan material, sosial, dan unggul pula dalam kehidupan spritual berdasarkan ajaran Agama Islam. Ketiga keunggulan tersebut bersifat saling menunjang, sehingga mampu mewujudkan kehidupan yang selamat, bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat.

Manusia dalam kehidupannya mempunyai peran ganda. Disatu sisi dia dituntut berperan sebagai ‘Abdullāh, dan pada sisi lain sebagai khalîfah Allāh. Sebagai 'Abdullāh manusia dituntut melakukan kegiatan ritual, suatu bentuk pengakuan dirinya sebagai hamba Allah.

Sedangkan sebagai Khalîfatullāh, dia dituntut melakukan aktivitas sosial (social activity) suatu konsekuensi logis dari jabatan sosialnya sebagai wakil Tuhan dimuka bumi.

Peran ganda tersebut harus dilakukan secara simultan dan berimbang agar dapat memperoleh kebahagiaan secara ganda pula, dunia dan akhirat. Sebagaimana Almawardi dalam bukunya Memahami Hakikat Beragama Membangun Pemahaman Keislaman Inklusif menyebutkan bahwa manusia mendapatkan tugas sebagai

1 Faisol, Gusdur & Pendidikan Islam: Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global, (Jogjakarta: Arruz media, 2011), hal. 9

2 Zakiah Drajat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 28

(8)

khalifah Allah dimuka bumi ini mempunyai dua peran yang teramat mulia dan berat. Pertama, sebagai harasat al-din (penjaga agama).

Kedua, sebagai siyasat al-dunya (pengatur dunia).

Meskipun demikian, realitas yang terjadi saat ini ternyata kejahatan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai justru banyak dilakukan oleh penjahat kerah putih (white collar crime), yaitu kaum atau golongan yang seharusnya memberikan teladan kepada masyarakat luas. Tindakan yang merugikan masyarakat luas ini merupakan kejahatan yang dilakukan oleh golongan yang terpelajar, terdidik, para pengusaha, para pejabat dalam menjalankan peran dan fungsinya. Bahkan kejahatan kerah putih ini lebih berbahaya daripada yang dilakukan oleh kaum kerah biru (blue collar crime), yang merupakan golongan yang menempati strata rendah, kaum kurang terdidik dan kurang terpelajar.3

Bertolak dari realita tersebut, maka pendidikan secara umum dan khususnya pendidikan Islam seharusnya mampu melahirkan output yang mampu mengemban misi Rahmatan lil ‘ālamîn, mempunyai kesadaran transendental. Karakteristik cendikiawan muslim yang dianggap kompeten membangun masyarakat yang berperadaban tersebut dalam Alquran disebut sebagai Ulul Albab.

Alquran telah memaparkan perkataan Ulul Albab sebanyak 16 kali.

Pengulangan istilah ini telah membuktikan ketinggian nilai kemuliaan, keagungan dan kepentingannya kepada umat Islam khususnya dan manusia sejagat umumnya. Menurut terjemahan Alquran perkataan Ulul Albab yang terdapat di dalamnya diartikan sebagai ”orang-orang yang berakal” dan “orang-orang yang mempunyai fikiran”.4

Ulul Albab sementara ini dipahami sebagai seorang muslim yang beriman, memiliki wawasan keilmuan, mengamalkan ilmunya dan memperjuangkan gagasan-gagasannya sampai terwujud suatu tata sosial yang diridhai Allah SWT. Oleh karena itu, target ideal yang harus dicapai oleh lembaga pendidikan Islam adalah melahirkan generasi-generasi yang mempunyai kesiapan untuk mencapai

3Soerjono Soekanto, Sosiologi Sesuatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hal. 409

4http://papagege.blogspot.com/2013/05/konsep-ulul-albab-dalam- pendidikan .html . diakses pada 10 September 2014.

(9)

karakteristik Ulul Albab seperti yang dimaksud. Output pendidikan seperti inilah yang merupakan arah yang harus dituju agar kelak mampu mewujudkan peradaban Islam alternative. Mereka yang dinamai Ulul Albab tidak terbatas pada kaum lelaki saja, tetapi juga kaum perempuan.

Namun apabila kita telusuri secara teliti realita yang ada saat ini, bahwa kiprah Ulul Albab (cendikiawan muslim) dewasa ini diberbagai belahan dunia, ideal cendikiawan tersebut baru terwujud dalam jumlah yang kecil, tidak sebanding dengan jumlah umat dan lembaga pendidikan yang ada. Hanya segelintir saja dari mereka yang memiliki keperihatinan yang mendalam mengenai keadaan umat yang semakin tak menentu ini.

Dari uraian diatas dapat di pahami bahwa Ulul Albab merupakan sebuah tawaran output sekaligus outcome ideal yang harus dicapai oleh pendidikan Islam. Namun kenyataannya, semakin hari umat Islam semakin tertinggal jauh dari tuntutan zaman. Dengan kata lain, pendidikan belum berhasil menciptakan output yang berkarakteristik Ulul Albab, Ulamak dan pemikir, karena kurang adanya kejelasan orientasi pendidikan. Penyebab lain yaitu keluaran pendidikan dipahami hanya sebagai output, tidak sampai menyentuh wilayah outcome pendidikan. Padahal tantangan pendidikan diera modern sekarang ini sangatlah berat.

Dengan demikian pertanyaan yang muncul adalah apakah konsep Ulul Albab yang menjadi tawaran konseptual pendidikan tersebut perlu mendapatkan penafsiran yang lebih luas dan lebih jelas dalam dunia pendidikan? Dan apakah kedepan pendidikan mampu mencetak output dan outcome tersebut? Maka dari itu, perangkat seperti apa sajakah yang diperlukan untuk melahirkan generasi- generasi yang mampu melakukan transformasi sosial dan menciptakan civil society serta melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan yang lain dalam rangka melaksanakan misi Rahmatan lil’ālamîn.

Pengertian pendidikan Islam

Ada banyak definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli. Sebagai salah satu tolok ukur dari definisi-definisi itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan penjelasan yang cukup memadai tentang makna pendidikan, yaitu:

(10)

Pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata dasar didik, dan diberi awalan men, menjadi mendidik, yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.5

Pengertian pendidikan jika ditinjau secara definitif telah banyak diartikan atau dikemukakan oleh para ahli dalam rumusan yang beraneka ragam, diantaranya:

Pertama, menurut Ahmad D. Marimba, sebagaimana yang dikutip oleh suwarno, pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

Kedua, Ki Hajar Dewantara, pendidikan yaitu tuntutan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.6

Ketiga, sedangkan menurut Undang-Undang RI NO.20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.7

Kemudian apabila kata pendidikan dikaitkan dengan kata Islam, maka akan menjadi pendidikan Islam. Pendidikan Islam ini juga banyak didefinisikan oleh pakar pendidikan, seperti halnyayang dikatakan oleh:

Keempat, Ahmad Supardi berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah p endidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau tuntunan Agama Islam dalam usaha membina dan membentuk pribadi muslim

5 H. Mahmud, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), hal.

19 6 Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal. 3-4

7 Undang-Undang SISDIKNAS, NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Khusty Publisher, 2009), hal. 2

(11)

yang bertakwa kepada Allah SWT., cinta kasih kepada orang tua dan sesame hidupnya, juga pada tanah airnya, sebagai karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Kelima, H. M. afif Hasan mengatakan Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan Islam yaitu merujuk pada Alquran dan Al sunah. Beliau juga mengatakan pendidikan Islam adalah upaya pelayanan untuk mengembangkan potensi dasar manusia dalam berketuhanan, berbuat baik, kekhalifahan, berilmu pengetahuan, berpikir, dan bertindak tegas. Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

Jadi dari beberapa pengertian tentang pendidikan Islam diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan yang dilakukan dengan sengja untuk mencapai kepribadian muslim, baik yang berkenaan dengan dimensi jasmani, rohani, agar anak didik tubuh dan berkembang menuju terbentuknya pribadi, keluarga, dan masyarakat yang Islami.

Tujuan dan Fungsi Pendidikan Islam

Menurut Abdul Fattah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat Al-Takwir ayat 27, jalal mengatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia (sekali lagi: seluruh manusia) menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah.

Pendidikan berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan Islam.

Dan Islam memberikan landasan sistem nilai untuk mengembangkan berbagai pemikiran tentang pendidikan Islam.8 Secara umum paling

8 H. Mahmud, pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), hal. 18

(12)

tidak ada dua point penting fungsi pendidikan Agama Islam dalam kehidupan manusia muslim, yaitu:

1. Sebagai pengembangan potensi manusia

Fungsi pendidikan Agama Islam ini merupakan realisasi dari pengertian tarbiyah (menumbuhkan atau mengaktualisasikan).

Asumsi tugas ini adalah bahwa manusia mempunyai sejumlah potensi kemampuan, sedangkan pendidikan merupakan proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi tersebut.

2. Sebagai pewarisan budaya

Fungsi pendidikan Agama Islam selanjutnya adalah mewariskan nilai-nilai budaya Islam. Hal ini perlu karena kebudayaan Islam akan mati apabila nilai-nilai dan normanya tidak berfungsi dan belum sempat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ulul Albab dalam Tafsir Al-Misbah

Kata Al-Albab adalah bentuk jamak dari Lubb yaitu saripati sesuatu. Kacang, misalnya memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang tersebut dinamai Lubb.9 Secara Etimologis, Ulul Albab berarti orang-orang yang memiliki akal, yaitu daya Rohani yang dapat memahami kebenaran baik yang fisik maupun yang metafisik.

Sedangkan secara termenologis, Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki ciri-ciri pokok antara lain: beriman, berpengetahuan tinggi, berakhlak mulia, tekun beribadah, berjiwa sosial dan bertakwa.10

Ulul Albab adalah orang-orang yang mau menggunakan pikirannya, mengambil faedah dari-Nya, mengambil hidayah dari- Nya, menggambarkan keagungan Allah dan mau mengingat hikmah akal dan keutamaannya, disamping keagungan karunia-Nya dalam segala sikap dan perbuatan mereka, sehingga mereka bisa berdiri, duduk, berjalan, berbaring dan lain sebagainya.11

9 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Ciputat Tangerang: Lentera Hati, 2002), hal. 307

10 M. Zainuddin, Paradigma Pendidikan Terpadu Menyiapkan Generasi Ulul Albab, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hal. 98

11 Ahmad Musthafa Al-Maragi, Terjemahan Tafsir Al-Maragi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1986), hal. 290

(13)

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Al-Lubab, surat Ali Imran ayat 190, disana berbicara tentang penciptaan benda-benda angkasa. Seperti matahari, bulan, dan gugusan bintang-bintang atau berbicara tentang pengaturan sistem kerja benda-benda langit itu.

Demikian juga kejadian dan perputaran bumi, yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang atau perbedaannya dalam panjang dan pendeknya masa masing-masing semua fenomena itu, menurut ayat tersebut, merupakan tanda-tanda tentang wujud dan kemahakuasaan Allah SWT., bagi Ulul Albab, yakni orang-orang yang mempunyai akal dan jiwa yang tidak diselubungi oleh kerancuan.12

Sedangkan Ilmu yang dikembangkan oleh Ulul Albab bukan sekedar Ilmu untuk Ilmu, tetapi selain Ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan juga Ilmu yang membawa peningkatan Iman kepada Allah karena menyadari keagungan Tuhan. 13Sedangkan Ulul Albab menurut Tafsir Al-Mishbah adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berfikir. Yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT.14

Jadi Ulul Albab bukanlah sekedar memiliki pemikiran cemerlang semata, akan tetapi memiliki kemampuan untuk berpikir yang disertai dengan kesucian hati dengan pemahaman yang mendalam sehingga mampu membedakan antara kebaikan dan kebatilan, sehingga mendorong pemiliknya menuju kemenangan dan mengamalkannya dalam kehidupannya. Atau Ulul Albab adalah sama dengan Intelektual plus ketakwaan, Intelektual plus keshalehan.

Didalam diri Ulul Albab berpadu sifat-sifat Ilmuan, sifat-sifat Intelektual, dan sifat orang yang dekat dengan Allah.

Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dagunakan karena objek dan

12 M. Quraish Shihab, Al-lubab, (Tangerang: Lentera Hati, 2012), hal.

157 13 H. Ahmadi, Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 111-112

14 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah..., hal307

(14)

fokus penelitiannya dalam kajian ini menggunakan jenis Library Research,15 sebab penelitian ini berusaha menghimpun data penelitian dari khazanah literatur dan menjadikan dunia teks sebagai objek utama analisisnya. Dalam penelitian ini pengumpulan data ini diperoleh dari buku-buku, kitab, kamus, artikel, dan situs-situs internet atau dokumen yang dipandang memilki relevansi terhadap pembahasan, baik referensi yang secara langsung membahas tema penelitian atau yang secara tidak langsung yang berkaitan dengan penelitian ini, karena kajian ini adalah kajian pustaka.

Literatur-literatur tersebut diambil dari pustaka yang bersifat primer dan juga pustaka bersifat skunder.16 Data primer adalah sumber yang menjadi rujukan atau referensi utama dari penelitian ini, seperti: M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, pesan, kesan dan keserasian Alquran (Jakarta: Lentera Hati, 2005) sebagai referensi utama, sekaligus sebagai titik pijak penelitian penulis. Teknik yang digunakan yaitu dengan memadukan antara kontens analisis,17 dan deskriptif analisis, yaitu data yang terkait dengan topik dihimpun, kemudian dianalisa dan dipaparkan dalam bentuk deskripsi,18 metode ini menganalisa data yang ada kaitannya dengan topik bahasan.

Merumuskan Ulul Abab sebagai Tujuan Pendidikan Islam Prof. M. Quraish Shihab menyatakan dalam Tafsir Al- Mishbahnya, bahwa orang yang disebut dengan Ulul Albab itu mereka yang memiliki ciri-ciri, yaitu mereka adalah orang-orang baik lelaki maupun perempuan yang terus menerus mengingat Allah, dengan ucapan, dan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi saat bekerja

15 Mohamad Nazir, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Galia Indonesia, 1998) hal. 6

16 Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, (Yogyakarta: Andi Offset, 1993) hal.9

17 Tim Penyusun, Buku Pedoman Skripsi, (INSTIKA 2006-2007)

18 Masduqi, pendidikan Agama Islam yang terkandung dalam Alquran surat luqman ayat 13-19 menurut tafsir Al-mishbah (skripsi INSTIKA, 2012), hal. 16

(15)

atau istirahat, sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.19

Dalam bukunya Al-Lubab M.Quraish Shihab juga menguraikan sebagian dari ciri dan sifat Ulul Albab, yaitu:

1. Memenuhi janji atau tidak membatalkan perjanjian, baik antara yang bersangkutan dengan Allah SWT. Maupun dengan orang lain atau dirinya sendiri.

2. Menghubungkan apa yang Allah SWT. Perintahkan untuk dihubungkan, seperti silaturrahim.

3. Takut kepada Allah dan takut menghadapi perhitungan hari kemanusiaan.

4. Bersabar melaksanakan perintah, menjauhi larangan, suka menghadapi tantangan dan petaka.20

Mereka yang menyandang sifat-sifat inilah yang akan memperoleh kesudahan baik. Sosok manusia Ulul Albab adalah orang yang mengedepankan dzikir, fikir, dan amal shaleh. Ia memiliki Ilmu yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas, hati yang lembut, dan semangat serta jiwa pejuang (Jihad dijalan Allah) dengan sebenar-benarnya perjuangan. Ia bukan manusia sembarangan, kehadirannya dimuka bumi sebagai pemimpin menegakkan yang hak dan menjauhkan kebatilan.

Ulul Albab adalah manusia yang bertauhid. Kalimah Syahadat sebagai pegangan pokoknya. “Asyhadualla Ilaaha Illallah wa asyhaduanna muhammadar Rasulullah”. Sebagai penyandang tauhid ia berpandangan bahwa tidak terdapat kekuatan dimika bumi ini selain Allah. Bagi Ulul Albab, mencari Ilmu bukan sebatas untuk memperoleh ijazah dan kemudahan dalam mencari pekerjaan dan rizki, akan tetapi bagi Ulul Albab mencari Ilmu hanya semata mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena Ulul Albab selalu yakin pada janji Allah, bahwa rizki seseorang selalu berada dibawah keputusan-Nya.

19 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 308

20 M. Quraish Shihab, Al-Lubab, (Tangerang: Lentera Hati, 2012), hal.

69

(16)

Keberhasilan hidup bagi penyandang Ulul Albab bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, dan sanjungan yang diperoleh, melainkan terletak pada keselamatan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Penyandang Ulul Albab selalu memilih jenis dan cara kerja yang shaleh artinya mereka bekerja dengan cara yang benar, lurus, ikhlas, dan profesional. Ulul Albab meyakini adanya kehidupan jasmani dan rohani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi kehidupan tersebut harus memperoleh perhatian yang seimbang dan tidak dibenarkan hanya memperioritaskan salah satunya.

Keberuntungan dunia harus berdampak positif pada kehidupan akhirat, demikian juga sebaliknya. Hal ini didasari ajaran Rasulullah yang mengharuskan umat Islam untuk mencari kehidupan dunia seolah-olah akan hidup selamanya, dan mencari kehidupan akhirat seolah-olah kematian sudah diepan mata. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pendidikan harus mampu mengembangkan dzikir, fikir, dan amal shaleh. Menurut Ahmad Djalaluddin dalam bukunya Tarbiyah Ulul Albab, bahwa ukuran keberhasilan dari pendidikan Ulul Albab dianggap tercapai ketika pribadi yang terbentuk dalam proses pendidikan memiliki kwalitas, yaitu mempunyai ilmu pengetahuan yang luas, mampu melihat atau membaca fenomena alam dan sosial secara tepat, dan bersemangat juang tinggi karena Allah sebagai pengejawantahan amal shaleh.

Jika kelima kekuatan ini berhasil dimiliki oleh siapa saja yang belajar berarti pendidikan Ulul Albab sudah dipandang berhasil.

Sebab, dengan ciri-ciri itu seseorang diharapkan akan memiliki kekokohan akidah dan kedalaman spiritua, keagungan Akhlak, keluasan Ilmu dan kematangan profesional.21

Dari uraian tentang Ulul Albab diatas, ada beberapa bentuk operasional suatu alat ukur yang ditandai adanya empat kekuatan, yaitu: Kedalaman spiritual, yaitu kemampuan individu dalam memaknai kehidupan dan berperilaku yang didasari dengan adanya semangat spiritual. Kemamapuan ini dicirikan dengan adanya kesadaran terhadap kehadiran Allah, kemampuan untuk mengagumi ciptaan Allah, rasa takut hanya oleh Allah.

21 H. Ahmad Djalaluddin, Tarbiyah Ulul Albab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), hal.3

(17)

Keagungan Akhlak, yaitu kemampuan individu untuk berperilaku mulia sesuai dengan ajaran Islam sehingga perilaku tersebut menjadi ciri dari kepribadiannya. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidup baik berupa keyakinan, lisan, maupun perbuatan, dan kemampuan untuk bersabar dalam menghadapi cobaan, dan kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk.

Metode dan Langkah Pembentukan Ulul Albab dalam Pendidikan Islam

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbahnya mengatakan bahwa pada ayat 191 sampai pada ayat 195 merupakan sebuah metode yang sempurna bagi penyucian jiwa, penalaran dan pengamatan yang diajarkan Islam. Ayat-ayat itu bermula dengan membawa jiwa kearah kesucian, lalu mengarahkan akal kepada fungsi pertama diantara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari ayat-ayat Tuhan yang terbentang, hingga akhirnya berakhir dengan kesungguhan beramal, sampai kepada tingkat mengorbankan diri demi karena Allah.22

Menurut Al-Nahlawi yang dikutip oleh Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, bahwadalam Alquran dan hadits dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa, dan membangkitkan semangat. Metode- metode itu katanya mampu menggugah puluhan ribu muslimin untuk membuka hati umat manusia menerima tuntutan Tuhan.

1. Metode Hiwar Qurani dan Nabawi

Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini adalah guru).23 Sedangkan menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Alquran”

bahwa menurut beliau salah satu metode yang digunakan Alquran untuk mengarahkan manusia ke arah yang dikehendakinya adalah dengan menggunakan metode “Kisah” karena setiap kisah itu

22 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002), hal. 317

23 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam..., hal. 136

(18)

menunjang materi yang disajikan, baik kisah tersebut benar-benar terjadi maupun kisah simbolik.24

2. Metode Kisah Qurani dan Nabawi

Dalam pendidikan Islam, terutama pendidikan Agama Islam (sebagai suatu bidang studi), kisah sebagai metode pendidikan amat penting. Dikatakan amat penting, alasannya antara lain: Pertama, kisah selalu memikat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya. Selanjutnya, makna-makna itu akan menimbulkan kesan dalam hati pembaca atau pendengar tersebut. Kedua, kisah Qurani dan Nabawi dapat menyentuh hati manusia karena kisah itu menampilkan tokoh dalam konteksnya yang menyeluruh, pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati atau merasakan isi kisah itu, seolah-olah dia sendiri yang menjadi tokohnya. Ketiga, qisah Qurani mendidik perasaan keimanan dengan cara.25

3. Metode Keteladanan

Metode ini merupakan metode yang paling unggul dan paling jitu dibandingkan metode-metode lainnya. Melalui metode ini para orang tua, pendidik, da’i memberi contoh atau teladan terhadap anak atau peserta didiknya bagaimana cara berbicara, berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah, dan sebagainya.

Melalui metode ini maka anak atau peserta didik dapat melihat, menyaksikan dan meyakini cara yang sebenarnya sehingga mereka dapat melaksanakannya dengan lebih baik dan lebih mudah. Murid- murid cenderung meneladani pendidikannya, ini diakui oleh semua ahli pendidikan, baik dari barat maupun dari timur. Dasarnya, ialah karena secara psikologis anak memang senang meniru, tidak saja yang baik yang jelekpun ditirunya. Pribadi Rasul itu adalah interpretasi Alquran secara nyata. Tidak hanya caranya beribadah, caranya

24 M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran, ( Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 273

25 M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 140

(19)

berkehidupan sehari-hari pun kebanyakan merupakan contoh tentang cara berkehidupan Islami.26

4. Metode Pembiasaan

Inti pembiasaana adalah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu telah dapat diartikan sebagai usaha membiasakan. Bila murid masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka guru mengingatkan agar bila masuk ruangan hendaklah mengucapkan salam, ini juga satu cara membiasakan.27

Sehubungan itu tetaplah pesan Rasulullah kepada kita agar melatih atau membiasakan anak untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan memukulnya (tanpa cedera atau bekas) ketika mereka berumur sepuluh tahun atau lebih apabila mereka tidak mengerjakannya. Dalam pelaksanaan metode ini diperlukan pengertian, kesabaran, dan keteladanan orang tua, pendidik dan da’i terhadap anak atau peserta didik.28 Dengan beberapa metode diatas diharapkan mampu menjadikan generasi-generasi penerus bangsa yang berkepribadian Ulul Albab.

Dengan demikian, seorang pendidik harus benar-benar menggunakan metode yang baik dalam mengajar yang dapat menjadikan anak didiknya senang mengikuti pelajaran dan tidak merasa jenuh. Seorang pendidik atau guru muslim secara mendalam terlibat dalam membentuk pribadi dan merasa susah jika muridnya gagal mencapai standart yang diinginkan. Supaya terlahir manusia yang berkepribadian Ulul Albab.

Manajemen Pendidikan Islam untuk Mencetak Manusia Ulul Albab

Manajemen yang harus dikembangkan agar lembaga tumbuh secara wajar, dinamis, inovatif, dan terhindar dari hambatan

26 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan..., hal. 143

27 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 144

28 Heri Jauhari Muchtar, Fikih..., hal. 19

(20)

psikologiharus selalu menumbuhkembangkan suasana kebersamaan, keterbukaan, tanggung jawab, amanah dan profesional. Sebagai lembaga pendidikan kampus memiliki peran dan tanggungjawab menumbuhkembangkan anak-anak muda yang penuh harap agar kelak menjadi manusia Ulul Albab. Lembaga tidak ubahnya sebidang persemaian anak manusia yang tumbuh secara wajar, sehat dan sempurna.

Sedemikian berat peran yang harus diemban oleh lembaga pendidikan tinggi. Oleh karena itu, lembaga harus disanggah oleh orang banyak, dan bukan justru saling merebutkan amanah.29 Sebagai langkah inspiratif untuk menjaga kebersamaan yang kokoh kampus harus menjauhkan diri dari atmosfir politik. Sebab kampus bukan lembaga politik, melainkan lembaga akademik. Manajemen Pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga Pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber- sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam seperti efektif dan efisien. 30

Dalam GBHN (Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978), berkenaan dengan pendidikan dikemukakan antara lain sebagai berikut:

“Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Tanggung jawab pendidikan diselenggarakan dengan kewajiban mendidik. Secara umum mendidik ialah membantu anak didik didalam perkembangan dari daya-dayanya dan didalam penetapan nilai-nilai. Bantuan atau bimbingan itu dilakukan dalam pergaulan antara pendidik dan anak didik dalam situasi pendidikan yang terdapat dalam lingkungan rumah tangga, sekolah maupun masyarakat.

Keluarga merupakan kelembagaan (institusi) primer yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Setiap individu berangkat dari sistem sosial

29 Ahmad Djalaluddin, Tarbiyah Ulul Albab, (Malang: UIN Maliki Press, 2012), hal. 12

30Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam; Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, (Erlangga), hal. 10

(21)

keluarga, sebelum ia memasuki sistem sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat, kemudian kembali dalam sistem sosial keluarga. Oleh karena itu, sistem nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan keluarga merupakan faktor utama dan pertama dalam membentuk kepribadian individu.31

Lebih lanjut lagi, keluarga mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian seseorang sejak kecil sampai dewasa. Segala bentuk komonikasi, karakteristik orang tua, dan situasi didalam keluarga akan sangat mempengaruhi perkembangan keperibadian seluruh anggota keluarga. Dari lingkungan keluarga, anak dipersiapkan untuk melakukan hubungan sosial dengan orang lain dan berbagai kelompok sosial dilingkungan masyarakat, sehingga keluarga berfungsi sebagai lembaga penyeleksi segenap budaya dari luar dan mediasi hubungan anak dengan lingkungannya.32Terutama yang paling berperan dan bertanggung jawab terhadap pendidikan dalam keluargaadalah orang tua.

Pemberian bimbingan ini dilakukan oleh orang tua didalam lingkungan rumah tangga, para guru didalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

a. Orang tua

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak- anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan dan bimbingan terhadap anak, karena hal itu sangat menentukan perkembangan anak untuk mencapai keberhasilannya. Hal ini juga sangat bergantung pada penerapan Pendidikan khususnya Agama, serta peranan orang tua sebagai pembuka mata yang pertama bagi anak dalam rumah tangga.

Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan

31H. Hendi Suhendi, Pengantar Studi Sosiologi Keluarga, (Bandung:

CV. Pustaka Setia, 2001), hal. 5

32H. Dindin Jamaluddin, Paradigma Pendidikan Anak Dalam Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2013), hal. 126

(22)

strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al-Mishbah, beliau menggambarkan bahwa Pendidikan harus bermula dari rumah.33 Ini berarti kedua orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing- masing, sebagaimana masing-masing bertanggung jawab atas kelakuannya.

Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada disampingnya. Oleh karena itu, ia meniru perangai ibunya dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula menjadi temannya dan mula-mula dipercayainya. Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula. Cara ayah itu melakukan pekerjaannya sehari-hari berpengaruh pada cara pekerjaan anaknya. Ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang agak besar, baik laki-laki maupun perempuan.

Disamping itu pangkal ketentraman dan kedamaian hidup terletak dalam keluarga. Mengingat pentingnya hidup keluarga yang demikian, maka Islam memandang keluarga bukan hanya sebagai lembaga hidup manusia yang memberi peluang kepada para anggotanya untuk hidup celaka atau bahagia dunia dan akhirat.

Pertama-tama yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad dalam mengembangkan Agama Islam adalah untuk mengajarkan Agama itu kepada keluarganya, baru kemudian kepada masyarakat luas. Hal itu, didalamnya terkandung makna bahwa keselamatan keluarga harus lebih dahulu mendapat perhatian atau harus didahulukan ketimbang keselamatan masyarakat. Karena keselamatan masyarakat pada hakikatnya bertumpu pada keselamatan keluarga.

33 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 177

(23)

Tanggung jawab pendidikan Islam yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka. Pertama, memelihara dan membesarkan anak. Kedua, melindungi dan menjamin kesamaan, baik jasmaniah maupun rohaniah, dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan falsafat hidup dan Agama yang dianutnya.

Ketiga, memberi pengajaran dalam arti yang luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya. Keempat, membahagiakan anak, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.34

b. Sekolah

Tanggungjawab utama pada sekolah ada pada pendidik.

Pendidik adalah profil manusia yang setiap hari didengar perkataannya, dilihat dan mungkin ditiru perilakunya oleh murid- muridnya disekolah. Para pendidik sepantasnya merupakan manusia pilihan yang bukan hanya memiliki kelebihan Ilmu pengetahuan, melainkan juga memiliki tanggungjawab yang berat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pendidik saling memberi dalam Ilmu pengetahuan merupakan sikap pendidik yang sesuai dengan kehendak Allah.35

Karena pendidikan sebagai penentu masa depan, maka pendidik (Guru) mempunyai tanggung jawab yang sangat berat. Maju mundurnya suatu bangsa sangat tergantung kepada berhasil tidaknya usaha pendidikan dalam menggali potensi Insani sebagai modal dasar mencapai kemajuan dan derajat yang didasari iman dan takwa.

Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua. Mereka ini tatkala menyerahkan anaknya kesekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru.36 Dalam

34 Zakiah Drajat dkk, Ilmu Pendidikan..., hal. 38

35 Tatang, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hal. 86

36Muhammad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional, (Jogjakarta:

Ar-ruz Media, 2008), hal. 127

(24)

usaha mewariskan kebudayaan dari generasi tua ke generasi muda agar hidup bermasyarakat tetap berlanjut, maka tampaknya akan sangat dipengaruhi oleh para penanggung jawab pendidikan, diantaranya yaitu Guru.37

Dalam meningkatkan mutu belajar, hendaknya guru mampu merencanakan program pengajaran sekaligus mampu melaksanakan dalam bentuk pengelolaan kegiatan belajar mengajar. Bila guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, akan tampak perubahan- perubahan yang berarti pada siswanya, antara lain timbul sikap positif dalam belajarnya edan sudah barang tentu prestasi belajarnya akan meningkat.

Hal ini menunjukkan bahwa guru merupakan ujung tombak pendidikan. Karena itu, para guru dituntut mampu mengembangkan kurikulum dengan baik. Dibandingkan pelaku-pelaku pendidikan lainnya, guru merupakan pelaku pendidikan yang paling mengenal kondisi para siswa yang diajar didalam kelas. Menurut Al-Ghazali yang dikutip oleh tatang dalam bukunya Ilmu Pendidikan, dalam menjalankan kebijakannya, para pendidika harus cermat mengamati berbagai persoalan yang tumbuh. Pendidik memerlukan empat kecakapan berikut:

Pertama, kecakapan menyusun rancangan kerja. Kecakapan ini memungkinkan seseorang menemukan cara terbaik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Kedua, kecermatan yang tajam. Hal ini diperlukan untuk menyelesaikan setiap perbedaan pendapat. Ketiga, kejernihan pikiran dan analisis. Dengan kemampuan ini, seseorang bisa mendapatkan kebenaran secara langsung berdasarkan pengalaman, tanpa terjebak oleh argumentasi yang salah.38

c. Masyarakat

Ciri universal dari manusia adalah kehidupan dalam kelompok.

Manusia lahir dalam kelompok dan melalui kehidupan bersama ini manusia belajar dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap,

37Muhammad Nurdin, Kiat Menjadi…, hal. 44

38 Tatang, Ilmu..., hal. 87-88

(25)

nilai, dan sebagainya. Dalam kelompok pula manusia mempelajari alat-alat dan proses-proses menerima Agama dan pandangan hidup.39

Manusia sebagai makhluk sosial dalam masyarakat yang bersifat dinamis dan berkembang kearus kemajuan. Perkembangan tersebut menyebabkan masyarakat menjadi semakin komplik, yang berakibat semakin besarnya tuntutan untuk hidup layak secara manusiawi.

Dalam pasal 8 dinyatakan bahwa: “Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan”. demikian pula dalam pasal 9 menegaskan bahwa: “Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan”.40

d. Pemerintah

Pemerintah bertanggungjawab terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia. Sebagai aplikasi dan manifestasi dari tanggungjawab pemerintah adalah ditetapkan di Undang- Undang sistem pendidikan Nasional dan Undang-Undang tentang guru dan Dosen. Pemerintahpun mencanangkan wajib belajar 9 tahun atau wajar yang SPPnya digratiskan dari dana bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS). Tanggungjawab pemerintah berkaitan dengan pernyataan Undang-Undang tentang guru dan Dosen pasal 44 yang menyebutkan sebagai berikut.

Pertama, pemerintah dan pemerintah Daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh dan pemerintah Daerah. Kedua, penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. Ketiga, pemerintah dan pemerintah Daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat.41

39Oemar Malik, Pengembangan Kurikulum: Dasar-dasar dan Pengembangannya, (Bandung: Mandar Maju, 1990), hal. 49

40 Tatang, Ilmu..., hal. 92

41Ibid, hal. 88

(26)

Pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, sebagai pengkoordinasi pendidikan diseluruh Nusantara, seyogianya memandang dengan kacamata realitas, bahwa Negara ini akan maju saat bangsanya berpendidikan layak. Pendidikan yang layak memungkinkan bangsanya seperti Jepang, yang mampu tampil sebagai Negara majuyang tidak melupakan kodrat kenegaraannya.

Simpulan

Ulul Albab menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab seorang ahli Tafsir di Indonesia, di dalam Tafsir Al-Mishbahnya dia menjelaskan bahwa kata Albab adalah bentuk jamak dari kata lubb. Dengan demikian, Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Sebagaimana terungkap dalam Alquran surat Ali Imran ayat 190-191. Dalam kaitannya dengan Alquran surat Ali Imran ayat diatas ia menjelaskan bahwa orang yang berdzikir dan berpikir (secara murni) atau merenungkan tentang fenomena alam raya, maka akan dapat sampai pada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah. Jika Ulul Albab dikembangkan dalam Pendidikan Islam, maka output dan outcome dari lembaga tersebut akan mengantarkan seseorang menjadi manusia terbaik, sehat jasmani dan rohani. Sebagai manusia terbaik, ia selalu melakukan kegiatan dan pelayanan terbaik kepada sesama, “Khair an- nas anfauhum li an-nas”.

Langkah untuk mencetak manusia yang berkeperibadian Ulul Albab, menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbahnya, adalah terdapat pada ayat 190-195 surat Al-Imran, beliau tidak menyebutkan nama metode akan tetapi beliau mengatakan bahwa pada ayat tersebut metode merupakan hal yang sempurna bagi penyucian jiwa, penalaran dan pengamatan yang diajarkan Islam.

Identitas Ulul Albab diyakini dapat dibentuk lewat proses pendidikan yang diperoleh sedemikian rupa. Pola pendidikan yang dimaksudkan itu ialah pendidikan yang mampu membangun iklim yang dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya dzikir, fikir dan amal shaleh. Disesuaikan dengan konteks agama yang nantinya berhasil melahirkan manusia-manusia yang mengedepankan dzikir, melahirkan

(27)

manusia yang berpikir cerdas dan atas dasar kedua kekuatan itu akan terlahir manusia yang berakhlak mulia dengan selalu berkeinginan untuk beramal shaleh.

Adapun ciri-ciri Ulul Albab menurut Tafsir Al-Mishbah yaitu:

Mereka adalah orang-orang baik laki-laki maupun perempuan yang terus menerus mengingat Allah, dengan ucapan, dan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi saat bekerja atau istirahat sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, atau bagaimanapun dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Jika ciri-ciri Ulul Albab tersebut dikembangkan dalam Pendidikan Islam, maka akan melahirkan seluruh mahasiswanya berilmu pengetahuan yang luas, mampu membaca fenomena alam dan sosial secara tepat, memiliki otak yang cerdas, berhati lembut, dan bersemangat juang tinggi karena Allah SWT. Jika kelima kekuatan ini berhasil dimiliki oleh siapa saja yang belajar di lembaga Pendidikan, artinya Pendidikan Ulul Albab sudah dipandang berhasil. Sebab dengan ciri- ciri itu seseorang diharapkan akan memiliki kekokohan Akidah dan kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional.

Daftar Pustaka

Al-Barri, M. Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta:

Arkola.

Arifin. 1993. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Agama RI. 2000. Alquran dan Terjemahannya.

Jakarta: Kalim.

Departemen pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Drajat, Zakiah dkk. 2000. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

(28)

Faisol. 2011. Gusdur & Pendidikan Islam: Upaya mengembalikan esensi Pendidikan di era global. Jogjakarta: Arruz media.

Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Tafsir, Ahmad. 2007. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Tatang dkk. Ilmu Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Umar, Bukhari. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.

Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Daryanto. 2009. Panduan Pembelajaran Kreatif & Inovatif.

Jakarta: AV. Publisher.

Zuhairini. 1981. Metodik Khusus Pendidikan Islam. Surabaya:

Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel.

Shihab, Quraish. 2007. Membumikan Alquran; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masarakat. Bandung: Mizan.

Referensi

Dokumen terkait

By considering real value contained in the currency, cash waqf can only be executed with gold and silver criteria (full bodied money), not paper money criteria (representative

Menengahi perbedaan pendapat ini, Sufyān mengatakan bahwa yang bertanggungjawab untuk memberikan ASI jika ayah seorang anak meninggal adalah ibunya yang masih hidup, dan jika ibunya