ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149
EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting
Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep Penyunting Pelaksana:
Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Penyunting:
Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.
Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِAl-Khairat, Pamekasan.
IT Support:
Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK
Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)
Jl. Bukit Lancaran PP.
Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:
[email protected] Website:
http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik
Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah
ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149
234-354 Kontribusi Pendidikan Pesantren dalam Membentuk Intelektualitas dan Spritualitas Santri
Abbadi Ishomuddin
255-278 Analisis Dampak Maklumat Kapolri Nomor MAK/2/III/2020 terhadap Sektor Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 di Desa Rombiya Timur
Abdul Wahid dan Ach Hamdan
279-300 Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan PSG (Pemulung Sampah Gaul) di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep
Ah Mutam Muchtar dan Masyhuri
301-325 Perkawinan Antar Agama dan Dampaknya Terhadap Psikologi Pendidikan Anak Abdul Halim dan Mohammad Hosnan 326-343 Studi Komparasi Hukum Islam
dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Human Trafficking)
Moh Jazuli dan A Washil
344-366 Program Zero Waste Sebagai Implementasi Pendidikan Cinta Lingkungan di PPA Lubangsa Utara Fadhilah Khunaini
367-384 Studi tentang Tujuan Pendidikan Islam Menurut Azyumardi Azra
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan 385-405 Urgensi Pendidikan Islam Tradisional Dalam
Menciptakan Manusia Ideal Moh. Naqib dan A. Faisol Rizal
406-425 Analisis terhadap Pemikiran Ahmad Baso tentang Penyemaian Pendidikan Karakter di Pesantren M Faizi dan Yondriani Akbar
426-451 Konsep Ulul Al-bab dalam Tafsir Al-Mishbah Dan Pengembangannya dalam Pendidikan Islam Moh. Shalahuddin A. Warits, Moh. Asyari Muthhar, dan Muthmainnah
STUDI TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT AZYUMARDI AZRA
Mohammad Afnan
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]
Muhammad Nihwan
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) yang mengkaji pemikiran Azyumardi Azra tentang tujuan pendidikan Islam.
Dari kajian ini ditemukan bahwa hakikat tujuan pendidikan adalah penyerapan informasi pengatahuan yang sebanyak-banyaknya dan penkajian yang mendalam serta uji coba dan penerapannya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dan juga termasuk dari hakikat tujuan pendidikan Islam yaitu upaya menolong manusia agar menjadi manusia terdidik. Pemikiran Azyumardi Azra tentang konsep tujuan pendidika Islam bersifat etis-religius. Secara keseluruhan konsep tujuan pendidikan Islam yang ditawarkan oleh Azyumardi Azra masih relevan dengan tujuan pendidikan Nasional Indonesia dan juga masih bisa diterima untuk terus diterapkan dan dikembangkan di Indonesia, hanya saja perlu diadakan kajian yang komprehensip dan perhatian yang serius atas konsep yang di tawarkan oleh Azyumardi Azra. Sehingga dalam penanaman dan pembumian dari konsepnya bisa sejalan dan sesuai dengan harapan kita bersama (bangsa dan ummat sedunia). Karena sebagus apapun konsep itu, tanpa adanya keseriusan dan pematangan akan menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan idealismenya.
Kata Kunci: tujuan, pendidikan Islam, Azyumardi Azra
Pendahuluan
Dalam konteks personalitas, pendidikan difahami sebagai upaya memperbaiki dan menemukan jati diri setiap individu. Hal ini mengandung pengertian bahwa bila mana serorang tidak mengalami
368|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
proses pendidikan maka mereka tidak akan menjadi manusia sebenarnya, dalam arti lain tidak akan sempurna hidupnya dan tidak akan dapat memahami fungsinya sebagai manusia yang berguna dalam hidup dan kehidupannya. Dengan kata lain, hanya pendidikanlah yang dapat memanusiakan dan membudayakan manusia.1
Di satu pihak pendidikan adalah merupakan media pemberdayaan manusia, sedangkan dipihak lain dapat juga dipandang sebagai salah satu aspek dari kebudayaan atau peradaban yang satu sama lainnya saling mengembangkan. Oleh sebeb itu, memang pendidikan sebagai suatu alat pembudayaan yang sangat tertentu merupakan cerminan dari cita-cita masyarakat.
Dilihat dari proses kehidupan masyarakat yang bercita-cita semakin maju, maka pendidikan berada dalam proses kehidupan tersebut, yang mengandung ciri-ciri yang bersifat meluruskan dan mengarahkan terhadap perkembangan dunia komunitas masyarakat.
Pendidikan bagi umat manusia sebagai sistem dan cara meningkatkan kwalitas hidup dalam segala bidang, sehingga dalam sepanjang perjalanan historis hidup manusia di muka bumi ini hampir tidak ditemukan komunitas masyarakat yang tidak menggunakan pendidikan sebagai media dan pembudayaan peningkatan kwalitas peradaban, sekalipun dalam kelompok masyarakat primitif.2 Akan tetapi perjalanan pendidikan yang dilakukan sering kali mengalami degradasi yang disebabkan oleh pemikiran-pemikiran barat , serta ideolog-ideologi yang berorentasi pada materialisme, atau bahkan penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan fitrah kejadian manusia yang terdiri dari dua unsur; yaitu unsur tanah dan unsur ketuhanan, karenanya dalam dekadensinya membutuhkan pembinaan yang seimbang antara keduanya, agar tercipta makhluq dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat.
Dan juga sering kali terjadi terhadap pola pendidikan dalam praksisnya yang dimulai dari pemikiran-pemikiran yang
1. Zuhairi dkk. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1995), hal:
93-94
2. M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal:
72
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |369
mengesampingkan aspek-aspek agama, bahkan mematikan terhadap aspek kepribadian manusia, pada akhirnya akan berdampak terhadap pendidikan yang hanya berorentasi kepada material saja. Pendidikan semacam ini menurut M. Ali Hasan dan Muhammad Ali, bahwa:
“pendidikan telah melupakan terhadap tujuan utama, pendidikan yaitu mengembangkan pengatahuan, sikap, dan keterampilan secara simultan dan seimbang”.3
Masalah-masalah di atas sangatlah kuat dalam mempengaruhi keberlangsungan proses pendidikan; yaitu mematikan unsur-unsur efektif seperti moral, kejujuran dan kepribadian. Pendidikan yang seperti itu hanya berkembang diranah kognitif dan psikomotorik, yang sejatinya harus diberikan dalam sistem pendidikan. Sehingga nantinya pradigma kesuksesasan tidak hanya berkutat seberapa jauh menampilkan dirinya secara lahiriyah ataun bersifat material, namun lebih pada kesuksesan di dunia dan akhirat.
Islam adalah agama yang diproyeksikan dalam memberi respon terhadap permassalahan umat manusia sepanjang zaman, berusaha meminimalisir dan mentolerir dampak buruk pemikiran yang bertolak belakang dengan konsep tujuan pendidikan Islam, mencoba merekonstruksi kembali terhadap system pendidikan dengan menekankan pada tujuan hidup manusia sebagai abdi Tuhan yang kembali pada-Nya dengan bahagia. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, firman Allah, yang artinya.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Al-Dzariyat : 56).4 Dari tujuan penciptaan jin dan manuisia di-break down menjadi menjadi tujuan pendidikan Islam. Sebagaimana, M. Samsul Ulum dkk, mengutip pendapatnya Langggulung, bahwa pendidikan adalah segala usulan untuk menjadikan manusia sebagai abdi
3. M. Ali Hasan, Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 2003), hal: 41
4. Departement Agama Republik Indinesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (1989), Al-Qur’an, 51:56
370|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
(penyembah Allah); inilah tujuan yang tertinggi dalam pendidikan Islam.5
Mengacu pada permasalahan di atas, sangat naif sekali bila pendidikan tidak menyentuh semua potensi manusia. Hal ini bisa menyebabkan pergeseran fungsi kehidupan yang semula untuk memaksimalkan seluruh potensi masyarakat menjadi manusia seutuhnya kini berubah, lebih memprioritaskan potensi akal dan jasmaniahnya, serta menaikkan potensi lainnya.
Padahal seperti yang diungkapkan Hidayat Nataatmaja,
“manusia seutuhnya adalah manusia yang dapat mengenal deminsi spiritual dan deminsi skular dengan baik, mengenal keduanya sebagai pasangan yang tidak terpisahkan selama manusia hidup di bumi.”
Karena apabila keduanya dipisahkan antara agama dengan ilmu pengatahuan akan merusak makna pasangan antara dunia objektif dengan dunia subyektif, memunculkan pribadi-pribadi dualistik yang mustahil dapat mengenal dirinya.6
Oleh karena itu apabila pendidikan itu dijadikan sebagai proses, maka proses tersbut akan berakhir pada tercapainya suatu tujuan yang telah direncanakan, pada hakikatnya yang hendak dicapi oleh pendidikan itu adalah terciptanya nilai-nilai ideal yang tertanam dalam pribadi manusia.
Sebagai langkah awal yang dilakukan dalam mengambangkan pendidikan ideal, dapat juga menggunakan konsep-konsep pendidikan Islam terutama tentang tujuan pendidikan Islam. Seperti yang ditawarkan oleh Azyumardi Azra M.A. Dimnana konsep tersebut akan membawa manusia mendapat nilai-nilai yang ideal dalam rangka membentuk manusia seutuhnya dengan cara mengoptimalkan potensi rohaniyah dan jasmaniyah manusia.7 Dan ini juga termasuk dari ide Azyumardi Azra dimana dalam membangun kesadaran spiritual terhadap masyarakat, diperlukan semacam pelatihan yang
5. M. Samsul Ulum, Triyo Supriyanto, Tarbiyah Qur’aniyah, (Malang: UIN- Pres Malang, 2006), Cet. I, hal: 56
6. Hidayat Nataatmaja, Krisis Manusia Modern, (Surabaya: Al-Hidayah, 1994), hal: 37
7. Mas’udi, Konsep Pendidikan dan Pengajaran…..,….., hal: 67
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |371
mengedepankan perbaikan terhadap tingkah laku baik pergaulan dengan masyarakat maupun dengan tuhannya.
Menurut Azyumardi Azra pendidikan yang mengarah terhadap penyadaran yang agaknya sulit ditemukan dikalangan kebanyakan penyelenggara pendidikan, menjadi penting untuk menbangun kesadaran terhadap generasi muda kita, mengingat akan semakin menghawatirkan kebiasaan mereka dalam pergaulannya sehari-hari, karena pendidikan yang mengembangkan kesadaran secara spiritual akan menyelamatkan generasi dari hiruk pikuk kehidupan yang semakin brutal.
Azyumardi Azra adalah merupakan intelektual muslim, selain itu beliau juga sebagai pengamat pendidikan di Indonesia. Banyak karangannya yang sudah terbentuk buku-buku yang telah terbit dan tersebar secara nasional maupun internasional. Dengan demikian sangat logis sekali jika beliau banyak menuangkan dan menuliskan gagasannya dalam bentuk buku-buku dan makalah-makalah.
Melihat fenomena pendidikan yang terjadi pada saat ini, seakan terasa sangat jauh dari kesempurnaan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya peserta didik yang menjadi korban kegagalan pencapaian tujuan pendidikan, maka dari itu para birokraasi pendidikan selalu mencari alternatif baru untuk tercapainya tujuan pendidikan, sehingga tidak terjadi lagi yang namanya kegagalan-kegagalan dalam dunia pendidikan yang nantinya akan melanda peserta didik.
Konsep Tujuan Pendidikan Islam Menurut Azyumardi Azra Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karenanya, tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam; yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia didunia dan akhirat.8 Dalam konteks sosial masyarakat, bangsa dan negara
8. Lihat Surat Al-Dzariat ayat 56; “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”. Atau Surat Al-Imran 102; “Hai orang- orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.
372|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
maka pribadi yang bertaqwa ini menjadi rahmatan lil’alamin, baik dalam skala kecil maupun besar. Tujuan hidup dalam Islam inilah yang dapat disebut juga sebagai tujuan akhir pendidikan Islam.
Selain tujuan umum itu, tentu dapat pula tujuan khusus yang lebih spesifik menjelaskan apa yang ingin dicapai melalui pendidikan Islam. Tujuan khusus ini lebih praxis sifatnya, sehingga konsep pendidikan Islam jadinya, tidak sekedar idealisasi ajaran-ajaran Islam dalam bidang pendidikan. Dengan kerangka tujuan yang lebih praxis itu dapat dirumuskan harapan-harapan yang ingin di dalam tahap- tahap tertentu proses pendidikan, sekaligus dapat pula dinilai hasil- hasil yang telah dicapai.
Tujuan-tujuan khusus itu tahap-tahap penguasaan anak didik terhadap bimbingan yang diberikan dalam berbagai aspeknya; pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, keterampilan, atau dengan istilah lain kognitif, efektif dan motorik. Dari tahapan-tahapan inilah kemudian dapat dicapai tujuan-tujuan yang lebih terperinci lengkap dengan materi, metode dan sistem evaluasi. Inilah yang kemudian disebut dengan kurikulum, yang selanjutnya diperinci lagi dalam bentuk silabus dari berbagai materi bimbingan yang akan diberikan.
Dalam memperoleh tujuan yang diharapkan dalam pendidikan Islam, maka Azyumardi Azra mengembangkan suatu sistem pendidikan Islam yang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan sistem-sistem pendidikan lainnya, yaitu:
Karakteristik pertama pendidikan Islam adalah penekanan pada pencarian ilmu pengatahuan, penguasaan dan pengembangan atas dasar ibadah kepada Allah SWT. Setiap penganut Islam diwajibkan mencari ilmu pengatahuan untuk dipahami secara mendalam yang dalam tarap selanjutnya dikembangkan dalam keangka ibadah guna kemaslahatan ummat manusia. Pencarian, penguasaan dan pengembangan ilmu pengatahuan ini merupakan suatu proses yang berkesinambungan, dan pada prinsipnya berlangsung seumur hidup.9
Sebagai sebuah ibadah, maka dalam pencarian, penguasaan dan pengembangan ilmu pengatahuan dalam pendidikan Islam sangat
9. Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi…, hal:8
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |373
menekankan pada nilai-nilai akhlak. Di dalam konteks ini maka kejujuran, sikap tawadhu’, menghormati sumber pengatahuan dan lain sebagainya merupakan prinsi-prinsip penting yang perlu dipegangi bagi setiap pencari ilmu yang nantinya akan memperoleh tujuan- tujuan yang diharapkan.
Karakteristik kedua adalah pengakuan terhadap potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembang dalam suatu kepribadian.
Setiap pencari ilmu dipandang sebagai makhluk Allah yang perlu dihormati dan disantuni, agar potensi-potensi yang dimilikinya dapat teraktualisasi dengan sebaik-baiknya.
Karakteristik ketiga adalah pengamalan ilmu pengatahuan atas dasar tanggung jawab kepada Allah dan masyarakat manusia. Di sini pengatahuan bukan hanya untuk diketahui, dan dikembangkan, melainkan sekaligus dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Dengan demikian terdapat konsistensi antara apa-apa yang diketahui dengan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.
Azyumardi Azra menjelaskan bahwa salah satu tujuan pendidikan Islam, adalah terbentuknya kepribadian utama berdasarkan nilai-nilai dan ukuran Islam.10
Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, Azyumardi Azra menyebutkan tujuan antara lain sebagai tujuan yang pertama hendak dicapai dalam proses pendidikan. Sebelum mencapai tujuan akhir yang lebih jauh; tujuan antara itu menyangkut perubahan yang diinginkan dalam proses pendidikan Islam, baik berkenaan dangan anak didik, masyarakat maupun lingkungan tempat hidupnya.11 Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaibani menjelaskan tujuan ‘antara’ dalam pendidikan Islam sebagai berikut:
1. Tujuan individual yang berkaitan dengan individu-individu, pelajaran (leaning) dan dengan pribadi-pribadi mereka dan apa yang berkaitan individi-individu tersebut pada perubahan yang diinginkan pada tingkah laku, aktivitas dan penyampaiannya, dan pada pertumbuhan yang diinginkan
10. Azyumardi Azra Esei-esei Intelektual…, hal:6
11. Ibid, Hal: 6-7
374|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
pada pribadi mereka, dan pada persiapan yang dimestikan kepada mereka pada kehidupan dunia dan akhirat.
2. Tujuan-tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan, dengan tingkah laku masyarakat umumnya, dengan apa yang berkaitan dengan kehidupan ini tentang perubahan yang diinginkan dan pertunbuhan, memperkaya penglaman dan kemajuan yang diingini.
3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai suatu aktivitas di antara aktivitas-aktivitas masyarakat.12
Dari ketiga tujuan di atas, yakni tujuan individual, tujuan sosial, dan tujuan profesional, dalam proses pendidikan Islam harus terpadu dan terarah diusahakan agar tercapai sebuah tujuan pendidikan Islam; yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba tuhan yang selalu bertaqwa dan mengabdi kepada Allah.
Tujuan akhir pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup seorang muslim. Pendidikan Islam itu sendiri hanyalah suatu sarana untuk mencapai tujuan hidup muslim, bukanlah tujuan akhir. Tujuan hidup muslim sebagaimana difirmankan Allah SWT.
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali- kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(Qs. Ali Imram: 102).13
Pendidikan Islam adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran is;am secara keseluruhan. Karena itu, tujuan akhirnya harus selaras dengan tujuan hidup dalam Islam.14
12. Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, tej.
Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1999),cet.X, hal: 399
13. Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Al-Qur’an, 03: 102
14. Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual…, hal:8
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |375
Tujuan hidup muslim sebagaimana dijelaskan dalam ayat Al- Qur’an di atas, juga menjadi tujuan akhir pendidikan Islam. Yakni untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Tuhan yang selalu bertaqwa dan mengabdi kepada-Nya. Sebagai hamba Allah yang bertaqwa, maka segala sesuatu yang diperoleh dalam proses pendidikan Islam itu tidak lain termasuk dalam bagian perwujudan pengabdian kepada Allah SWT.
Relevansi Tujuan Pendidikan Islam dengan Tujuan Pendidikan Nasional menurut Azyumardi Azra
Pandangan Azyumardi Azra terhadap konsep tujuan pendidikan Islam, yaitu: yang senantiasa mendasarkan dan menyandarkan pendapat-pendapatnya kepada al-Qur’an dan al-Hadits, maka akan tetap sesuai dengan tujuan dan arah tujuan pendidikan yang berlaku di Indonesia, sebab kedua nash tersebut diakui atau tidak, akan tetap terjamin relevansinya dengan zaman. Apalagi bagi ummat Islam sendiri, segala apa yang dilandaskan pada al-Qur’an dan al-Hadits akan senantiasa tetap menjadi rujukan dalam berfikir dan bertindak, kapanpun dan dimanapun.
Tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam, adalah membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah.
Manusia adalah mahluk yang mempunyai unsure materi (jasmani) dan immaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akal melahirkan ilmu. Sedangkan pembinaan jiwanya melahirkan kesucian dan etika, dan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan. Dengan penggunaan unsure-unsur tersebut, terciptalah mahluq dwideminsi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, iman dan ilmu. Itu sebabnya dalam pendidikan Islam dikenal dengan istilah “ada al-din dan adab al-dunya.”
Pendapat Azyumardi Azra tentang tujuan pendidikan Islam berujung pada tercapainya kesuksesan dunia dan akhirat, kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena hal yang demikian memang hal yang sangat di damba-dambakan oleh setiap Muslim dari dulu sampai saat ini, sehingga konsep tujuan pendidikan Islam yang dikeluarkan oleh
376|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
Azyumardi Azra secara teoritis dan konseptual sangat sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional di Indonesia, karena bagaimanapun dalam tujuan pendidikan Nasional masih merujuk pada konsep tujuan pendidikan Islam.
Sehubungan dengan konsep yang di tawarkan oleh Azyumardi Azra, maka kita tidak bisa terlepas dari suatu prinsip, karena setiap sesuatu pasti mempunyai kekurangan dan kelemahan, kesesuaian dan tidak kesesuaian. Dengan ini pemikiran Azyumardi Azra tentang konsep tujuan pendidikan Islam perlu dikaji ulang dan melakukan pembenahan-pembenahan, meskipun secara konsep sudah relevan, tapi karena dia pasti berlatar belakang yang tidak sama, tentunya praksis penanaman dari konsep itu perlu mendapat perhatian dan kajian ulang, agar tidak terlalu jauh dan menyimpang dengan tujuan pendidikan Nasional.
Selanjutnya, kalau diuraikan dengan tujuan pendidikan Nasional, jelas sekali relevansinya dan penyesuaiannya, dalam GBHN 1983 dinyatakan: “pendidikan Nasional berdasarkan pada Pancasila dan bertujuan meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, meningkatkan budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan Bangsa.”
Dalam rumusan di atas, jelaslah apa yang ingin dicapai, yaitu terbentuknya manusia Indonesia yang:
1. tinggi taqwanya terhadap Tuhan Yang Maha Esa 2. cerdas dan terampil
3. berbudi pekerti yang luhur dan berkepribadian yang baik, dan
4. memiliki semangat kebangsaan
Semuanya bertujuan untuk menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri dan bersama-
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |377
sama bertanggung jawab atas pembangunan Bangsa dengan menungkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Jika diamati, tidak satupun dari butir di atas yang tidak ditemukan dalam analisa konsep tujuan pendidikan Islam menurut Azyumardi Azra. Akan tetapi satu-satunya yang mungkin dipertanyakan adalah butir yang ke-4. namun, bila disadaribahwa semangat kebangsaan pada haikatnya adalah rasa kebersamaan hidup dalam satu wilayah atau lingkungan, disertai dengan kesadaran persamaan nasib, sejarah, dan masa depan, yang harus dipertanggung jawabkan bersama, maka dengan demikian, persoalan di atas pada hakikatnya tidak ada persoalan.
Sesuai hakikat pembangunan nasional adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, maka jelaslah tersirat dalam rumusan GBHN tersebut suatu idealitas yang sangat tinggi nilainya karena pandangan manusia yang utuh lahiriyah dan jasmaniyah, seimbang, selaras, dan serasi antara dunia dan akhirat.
Dengan demikian, strategi pendidikan agama di semua lingkungan pendidikan tidak hanya bertugas memotifasi kehidupan dan mengeliminasi dampak negatif pembangunan, melainkan juga harus mampu menginteralisasikan nilai-nilai dasar yang bersifat absolute dari Tuhan ke dalam pribadi utuh yang mampu menjadi filter dan selector; sekaligus penangkal terhadap dampak negatif dari dalam proses maupun luar proses pembangunan
Maka kita sebagai bangsa Indonesia, kita harus mengartikan pendidikan sebagai perjuangan bangsa, yaitu pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. dalam oprasionalnya, pendidikan Nasional tersebut dikelompokkan kedalam berbagai jenis sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya, yang dikelola dalam perjenjangan sesuai dengan tahapan atau tingkat perkembangan peserta didik, keluasan dan kedalaman bahan pengajaran.
Untuk tujuan itulah pendidikan agama diarahkan pada terbentuknya manusia Indonesia beridentitas dan berkepribadian Pancasilais, moralitas agamis yang kondusif serta ketegaran dan keteguhan pribadi dalam menghadapi pasang surut pembangunan
378|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
bangsa. Meskipun pendidikan agama tidak termasuk pola dasar pembangunan nasional melainkan sebagai salah satu komponen strategis dalam pembinaan watak bangsa Indonesia.
Dengan demikian, sistem pendidikan khususnya pendidikan Islam, secara makro merupakan usaha pengorganisasian proses kegiatan kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam dan pendekatan sistematik, sehingga dalam pelaksanaan oprasionalnya terdiri dar berbagai sub-subsistem dari jenjang pendidikan pradasar, menengah, atau perguruan tingi yang harus mmiliki vertikalitas dalam kualitas keilmuan pengatahuan dan ketegnologian yang semakin optimal, yang mana setiap tingkat, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah akan meningkat derajat lebih tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.
Kritik terhadap Konsep Tujuan Pendidikan Islam Menurut Azyumardi Azra
Pendidikan senantiasa memberi saham yang besar dalam membina kemegahan dan kemajuan semua ummat manusia.
Pendidikanlah yang menciptakan kekuatan-kekuatan yang mendorong untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Berbicara tentang pendidikan, pengertian Pendidikan secara global adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan membentuk atau mengembangkan potensi suatu individu dari keadaan yang kurang tahu akan sesuatu menjadi keadaan yang mengerti atau paham tentang sesuatu hal.
Karena melalui pendidikanlah yang dapat menghasilkan individu-individu yang mampu membawa perubahan pada bangsa.
Kemudian untuk membentuk individu yang sempurna yang tidak hanya memiliki kemampuan intelegensi tinggi, tetapi juga harus memiliki kemampuan spiritual yang memadai. Untuk itu pendidikan Islam patut mendapat perhatian yang penuh dari pihak atau orang- orang yang bekerja dalam lapangan pendidikan.
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |379
Banyak macam konsep tentang tujuan pendidikan yang ditawaran oleh para pakar pendidikan terhadap pendidikan Islam, dan itu semua sesuai dengan corak pemikiran masing-masing para ahli, maka jelaslah akan mengalami pebedaan-perbedaan yang nantinya akan melahirkan individu-individu yang juga berbeda dalam berfikir.
Dalam menentukan sebuah tujuan pendidikan Islam harus mampu menyesuaikan diri dengan agama dan sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Oleh karena itu, dalam pendidikan Islam Azyumardi Azra menawarkan sebuah konsep tentang tujuan pendidikan Islam, yang mana menurut Azyumardi Azra tujuan pendidikan Islam itu adalah untuk menciptakan hamba-hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada- Nya dan mampu mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Mengenai permasalahan tujuan pendidikan Islam, banyak para pakar pendidikan yang memberikan pendapat yang berbeda-beda. Dan semua pendapat itu sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.
Adapun kelebihan dari sebuah konsep tujuan pendidikan yang ditawarkan oleh Azyumardi Azra adalah terletak pada kesesuaian tujuan itu terhadap tujuan hidup manusia dan juga sesuai dengan hakikat manusia sempurna menurut Islam. Konsepsi manusia yang sempurna menurut Islam adalah mahluk yang memiliki unsur jasmani dan rohani, fisik, dan jiwa yang memungkinkan ia dapat diberikan pendidikan, karena konsepsi inilah yang nantinya akan memberikan gambaran ideal untuk merumuskan tujuan pendidikan dan tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah gambaran ideal dari manusia yang ingin mewujudkan melalui pendidikan. Sedangkan kekurangan- kekurangan yang terdapat pada konsep tujuan pendidikan yang ditawarkan oleh Azyumardi Azra adalah terletak pada perubahan- perubahan yang harus dilakukan, itu-pun hanya berlaku pada pendidikan Islam saja. Apabila akan menerapkan konsep tujuan yang ditawarkan oleh Azyumardi Azra, maka harus merubah semua aturan- aturan dan sistem yang sudah tertata rapi oleh pihak negara, baik dari segi kurikulum maupun dari sistem kependidikannya. Dan juga pradigma pendidikan Islam dan singkronisasi antara lembaga-lembaga pendidikan Islam dengan lingkungan masyarakat. Selain itu implikasi dari rekonstruksi yang perlu dilakukan adalah reformulasi,
380|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
merumuskan kembali tentang ilmu-ilmu Islam dan perumusan kembali makna pendidikan.
Simpulan
Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa: pertama, hakikat tujuan pendidikan adalah penyerapan informasi pengatahuan yang sebanyak-banyaknya dan penkajian yang mendalam serta uji coba dan penerapannya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dan juga termasuk dari hakikat tujuan pendidikan Islam yaitu upaya menolong manusia agar menjadi manusia terdidik. Kedua, bahwa pemikiran Azyumardi Azra tentang konsep tujuan pendidika Islam bersifat etis-religius. Bahwa pandangan Azyumardi Azra tentang konsep tujuan pendidikan Islam terletak pada pijakan yang mendasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. serta menanamkan akhlak pada anak didik demi terwujudnya manusia seutuhnya dalam pendidikan Islam, yang nantinya pendidikan di Indonesia akan melahirkan individu yang berjiwa kebangsaan dan bertanggung jawab.
Ketiga, secara keseluruhan konsep tujuan pendidikan Islam yang ditawarkan oleh Azyumardi Azra masih relevan dengan tujuan pendidikan Nasional Indonesia dan juga masih bisa diterima untuk terus diterapkan dan dikembangkan di Indonesia, hanya saja perlu diadakan kajian yang komprehensip dan perhatian yang serius atas konsep yang di tawarkan oleh Azyumardi Azra. Sehingga dalam penanaman dan pembumian dari konsepnya bisa sejalan dan sesuai dengan harapan kita bersama (bangsa dan ummat sedunia). Karena sebagus apapun konsep itu, tanpa adanya keseriusan dan pematangan akan menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan idealismenya.
Daftar Pustaka
Abdullah Aly, Djamaluddin, 1998, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia
Abidin Ibnu Rusn, 1998, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |381
Al-Attas, Muhammad An-Naquib, 1984, Konsep Pendidikan dalam Islam, Jakarta: Mizan
Ali Hasan, M. dan Ali, Mukti, 2003, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya
Al-Nahlawi, Abdurraman, 1989, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Diponegoro: Logos Wacana. Alih bahasa Hery Noer Ali
Arifin, H.M, 1996, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta:
Bumi Aksara
Arifin. M, 1995, Kapita Selekta Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara Arikunto, 1998, Prosedur Penelitian: suatu pendekatan praktek,
Jakarta: Rinika Cipta
Ashraf, Ali, 1996, Horison Baru Pendidikan Islam: Minal Uluhit Tarbiyah fil Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus
Azra, Azyumardi, 2001, Pendidikan Islam (Tradisi dan Modernisasi Menuju Milineum Baru), Jakarta: Kalimah
---, 1996, Neo-Sufisme dan Masa Depannya, Jakarta:
Paramadina. di dalam Muhammad Wahyuni Nafis (Ed.), Rekontruksi dan Renungan Riligius Islam
---, 1998, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu
---, 2000, Reposisi Hubungan Agama dan Negara:
Merajut Kerunan Antar Umat, Jakarta: Galang Press
Az-Zarnuji, Syeh, Terjemahan Ta’lim Muta’alim, Bandung: Husaini Basri, Hasan, M.Ag, dkk, 2010, Ilmu Pendidikan Islam(jilid II),
Bandung: CV. Pustaka Setia
D. Marimba, Ahmad, 1980, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT.
Al-Ma’arif
Darajat, Zakiyah, 2000, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
382|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
---, 1979, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang Dikutip Heri Noer Aly, 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Dipartement Agama Republik Indonesia, 1989, Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Friere, Paulo, 2008, Pendidikan Sebagai Proses, cet.III, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Hasan, Afif, M.Pd, 2011, Filsafat Pendidikan Islam:Membangun Basis Filosofi Pendidikan Profetik, Malang: IKIP Malang ---, 2011, Ilmu Pendidikan Islam:Refleksi Pencarian
Spektrum Pendidikan Islam, Malang: IKIP Malang
Hasan. Ali. M, Mukti Ali, 2003, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: Pendoman Ilmu Jaya
Hitami. Munzir, 2004, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, Yogyakarta: Lkis
Jalaluddin, 2001, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Jerome, 1995, Pendidikan Berbasis Mutu:Prinsip-Prinsip Perumusan
dan Tata Langkah Penerapan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Labib. Ustd. Mz, 2007, Ringkasan Ihya’ulumuddin. Upaya
Menghidupkan Ilmu Agama, Surabaya, Bintang Usaha Jaya Langgulung, Hasan, 1988, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta:
Pustaka al-Husna
Madjid, Nurholish, 1997, Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan Indonesia, Jakarta: Paramadina
Matsuki, Mohammad Irfan. HS, 2000, Teologi Pendidikan Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Firiksa Agung Insani
Muhadjir. Noeng, 1991, Metode penelitian Kualitatif, Yogyakarta:
Raka Serasin
Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan, Studi tentang Tujuan |383
Muhana. Ibrahim. A, 1983, Al-Tarbiyah Fil al-Islam, cairo: Dar al- Syatibi
Nasir, M. Ridlwan, 2005, Mencari Format Pendidikan Ideal, Pondok Pesantren Ditengah Arus Perubahan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Nasution, S, 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara
Nata, Abudin, M.A, 2004, Metodologi Studi Islam, cet. IX, Jakarta:
Rajawali Pers
---, 2000, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Grafindo Persada
Natatmaja. Hidayat, 1994, Krisis Manusia Modern, Surabaya: Al- Hidayah
Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1999, Falsafah Pendidikan Islam,terj. Hasan Langgulung Jakarta: Bulan Bintang
Pulungan, J. Suyuthi, 2002, Universalitas Islam, Jakarta: PT. Moyo Segoro
Raharjo, Mudjia,(Ed.), 2006, Quo Vadis Pendidikan Islam, Malang:
UIN-Malang Press
Salim. Peter dkk, 2002, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: MEP
Shaleh Abdullah, Abdurrahman, 1994, Teori-Teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: Rinika Cipta
Singarimbun, Mari dan Sofian Efendi, 1995, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES
Sudarto, 1996, Metode Penelitian Filsafat, Jakarta: Raja Wali Pers Sukardi, 2007, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan
Praktiknya, Jakarta: Bumi Aksara
Surachmad. Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Teknik, Bandung: Tarsito Rimbun
384|JPIK Vol. 3 No. 2, September 2020: 367-384
Suyanto dkk, 2000, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Millenium III, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa Thaha, Chabib, 1996, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Ulum, Samsul. M, Triyo Supriyanto, 2006, Tarbiyah Qur’aniyah, cet.I, Malang: UIN-Press Malang
Zuhairi dkk, 1992, Pendidikan Islam, cet. III, Jakarta: Bumi Aksara Zuhairi dkk, 1995, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara