• Tidak ada hasil yang ditemukan

2621-1130 ISSN (Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "2621-1130 ISSN (Online)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149

(3)

EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting

Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep Penyunting Pelaksana:

Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Penyunting:

Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.

Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِAl-Khairat, Pamekasan.

IT Support:

Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK

Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)

Jl. Bukit Lancaran PP.

Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:

[email protected] Website:

http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik

Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah

(4)

ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149

234-354 Kontribusi Pendidikan Pesantren dalam Membentuk Intelektualitas dan Spritualitas Santri

Abbadi Ishomuddin

255-278 Analisis Dampak Maklumat Kapolri Nomor MAK/2/III/2020 terhadap Sektor Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 di Desa Rombiya Timur

Abdul Wahid dan Ach Hamdan

279-300 Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan PSG (Pemulung Sampah Gaul) di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Ah Mutam Muchtar dan Masyhuri

301-325 Perkawinan Antar Agama dan Dampaknya Terhadap Psikologi Pendidikan Anak Abdul Halim dan Mohammad Hosnan 326-343 Studi Komparasi Hukum Islam

dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Human Trafficking)

Moh Jazuli dan A Washil

(5)

344-366 Program Zero Waste Sebagai Implementasi Pendidikan Cinta Lingkungan di PPA Lubangsa Utara Fadhilah Khunaini

367-384 Studi tentang Tujuan Pendidikan Islam Menurut Azyumardi Azra

Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan 385-405 Urgensi Pendidikan Islam Tradisional Dalam

Menciptakan Manusia Ideal Moh. Naqib dan A. Faisol Rizal

406-425 Analisis terhadap Pemikiran Ahmad Baso tentang Penyemaian Pendidikan Karakter di Pesantren M Faizi dan Yondriani Akbar

426-451 Konsep Ulul Al-bab dalam Tafsir Al-Mishbah Dan Pengembangannya dalam Pendidikan Islam Moh. Shalahuddin A. Warits, Moh. Asyari Muthhar, dan Muthmainnah

(6)

URGENSI PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL DALAM MENCIPTAKAN MANUSIA IDEAL

Moh. Naqib

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep [email protected]

A. Faisol Rizal

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep [email protected]

Abstrak

Melihat keadaan saat ini dengan berkembangnya tekhnologi dan jaman yang semuanya serba modern nilai-nilai kemanusian yang dulunya sangat religius seakan-akan pudar mengikuti arus modernisasi, untuk itu kita sebagai seorang pelajar (mahasiswa) dan calon seorang pendidik wajib untuk menanggulangi perubahan tersebut dan mempertahankan nialai- nilai keagamaan dalam kehidupan, salah satunya dengan cara melalui pendidikan islam tradisional. Maka dari itu, rumusan masalah yang akan diiteliti oleh peneliti adalah Bagaimana Manusia Ideal Dalam Perspektif Pendidikan Islam Tradisional, Bagaimana Strategi Pendidikan Islam Tradisional Dalam Menciptakan Manusia Ideal, Dan Bagaimana Kontribusi pendidikan islam tradisional dalam menciptakan manusia ideal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif pustaka (libary research). Setelah data terkumpul dengan baik, langkah yang dilakukan oleh penulis ialah mengkaji data-data tersebut dengan cermat. Dari data tersebut, penulis melakukan analisa yakni dengan cara menelaah data kemudian mengombinasikannya dengan dari berbagai sumber. Setelah itu, penulis mendipenelitiankan hasil dari data tersebut dengan memberikan penjelasan beserta uraian untuk memudahkan pemahaman.

Dari keseluruhan data tersebut dapat di tarik kesimpulan. Berdasarkan hasil research dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa manusia ideal dalam persepektif pendidikan islam tradisional itu ialah manusia yang tertanam dalam dirina sifat-sifat ketuhanan dan kerasulan. Strategi pendidikan islam tradisional dan kontribusi pendidikan islam tradisonal dalam menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlaq mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat pada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat sekaligus menjadi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian nabi Muhammad saw..

Kata Kunci: Pendidikan, Islam, Manusia Ideal

(7)

Pendahuluan

Pendidikan Islam merupakan salah satu disiplin ilmu keislaman, yang memiliki daya tarik tersendiri untuk terus dikaji secara lebih mendalam dan komprehensif, serta selalu hangat untuk di bicarakan, terutama oleh kalangan akademisi. Hal ini karena pendidikan islam berperan untuk membina manusia secara utuh (kaffah) dan seimbang (tawazun), baik dari segi aspek rohani maupun jasmani. Dengan demikian, rupanya sangat tepat apa yang dikatakan A. Tafsir, bahwa tujuan pendidikan islam adalah “memanusiakan manusia”. Artinya bahwa pendidikan islam akan membawa manusia pada posisi yang sebenarnya sebagai “manusia”, yakni menjadi khalifatullah fil ardh (yakni menjadi wakil allah di muka bumi) yang akan memakmurkan bumi ini dengan segala potensi yang dimilikinya, serta sekaligus menjadi ‘abdullah (hamba Allah) yang selalu tunduk dan patuh kepadanya, baik dalam ucap, langkah, perbuatan, maupun pemikirannya.1

Ditilik dari sejarah pendidikan Islam Indonesia, pesantren sebagai sistem pendidikan Islam tradisional, telah memainkan peran cukup penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia.2 Pesantren dengan segala keunikan yang dimilikinya masih diharapkan menjadi penopang berkembangnya sistem pendidikan di Indonesia. Keaslian dan kekhasan pesantren di samping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral. Oleh sebab itu, arus globalisasi mengandaikan tuntutan profesionalisme dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu. Realitas inilah yang menuntut adanya manajemen pengelolaan lembaga pendidikan sesuai tuntutan zaman.3

1 Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2014,), iii

2 Yasmadi, Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, (Ciputat: QUANTUM TEACHING, 2005), 59.

3 Ainurrafiq Dawam, Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, (Sapen: Listafarika Putra,2005), 18.

(8)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|387

Lembaga pendidikan yang disebut pondok pesantren sebagai pusat penyiaran Islam tertua yang lahir dan berkembang seirama dengan masuknya Islam di Indonesia. Pada awal berdirinya, pondok pesantren umumnya sangat sederhana.

Kegiatan pembelajaran biasanya diselenggarakan di langgar (mushala) atau masjid oleh seorang kyai dengan beberapa orang santri yang datang mengaji. Lama kelamaan “pengajian” ini berkembang seiring dengan pertambahan jumlah santri dan pelebaran tempat belajar sampai menjadi sebuah lembaga yang unik, yang disebut pesantren.4

Pondok pesantren sungguh pun sebagai sebuah lembaga pendidikantradisional Islam, namun dalam perkembangannya menyelenggarakan sistempendidikan formal. Nilai-nilai dan norma-norma kepesantrenan yang tadinya sangat sentral, sekarang hanya dilengketkan sebagai nilai tambah ( added value) pada lembaga-lembaga pendidikan formal yang didirikan. Perubahan ini terjadi terutama setelah Belanda pada abad 19 memperkenalkan sistem pendidikanBarat, sebuah sistem pendidikan yang menurut Zamakhsyari Dhofir, bahwa melahirkan lulusan yang kemudian menjadi golongan terdidik yang dapat mengganti kedudukan kiai sebagai kelompok inteligensia danpemimpin masyarakat.5

Untuk itu pendidikan islam tradisional yang penulis menitik beratkan terhadap pondok pesantren sebagai pendidikan islam tradisional sangatlah berperan penting dalam menciptakan manusia ideal.

Manusia dilahirkan kebumi dengan mengemban sebuah amanah tuhan yang mulia, dimana bumi dan langit tidak sanggup mengemban amanah itu. Inilah tugas berat yang di emban manusia, sehingga manusia mendapat gelar sebgai khalifah dimuka bumi yang tujuannya membentuk kepribadian manusia yang punya tanggung jawab terhadap pilihan hidupnya di dunia.

4 Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta:

Logos, 2001), 157.

5 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1982), 39.

(9)

Disinilah peran aktif manusia yang harus menentukan hakikat kepribadiannya sebagai seorang manusia, sehingga manusia sadar akan keberadaan dirinya di dunia ini dan mendorong dirinya utuk selalu beraktivitas sesuai dengan pilihan dirinya dalam mengambil jalan hidup didunia.

Sebagiamana para filsuf, para sufi pun telah mencari jawaban tentang manusia, lewat pendekatan internalnya (batin, ruh, nafs) sebagaimana yang telah dilakukan oleh al-Ghazali. Demikian pula dengan Ibn Arabi yang mengkaji manusia dengan pendekatan mistis- ontologis, sehingga teorinya ini dikenal dengan sebutan al-insan al- kamil. (manusia sempurna).

Manusia ideal merupakan gambaran dari bentuk esensial manusia yang pailing fundamintal, yang tiap-tiap manusia punya pandangan ideal dalam mempersepsikan sosok manusia yang sempurna. Gambaran itu tercermin dalam diri manusia yang mampu menyerap sifat-sifat yang dimiliki oleh tuhan, sehingga ia menjadi tajalli tuhan dimuka bumi, seperti hadits yang di sabdakan Rasulullah saw: “takhallaqu bi akhlaqi’llah” (Tumbuhkan dalam dirimu sifat- sifat Tuhan).6

Melihat keadaan saat ini dengan berkembangnya tekhnologi dan jaman yang semuanya serba modern nilai-nilai kemanusian yang dulunya sangat religius seakan-akan pudar mengikuti arus modernisasi, untuk itu kita sebagai seorang pelajar (mahasiswa) dan calon seorang pendidik wajib untuk menanggulangi perubahan tersebut dan mempertahankan nialai-nilai keagamaan dalam kehidupan, salah satunya dengan cara melalui pendidikan islam tradisional. Maka dari itu penulis dalam penelitian ini tertarik untuk mengangkat penelitian yang berjudul Urgensi Pendidikan Islam Tradisional Dalam Menciptakan Manusia Ideal.

Pengertian Pendidikan Islam Tradisional

Secara etimologi, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok

6 Muhammad Iqbal, Asrar-I Khudi, terj. Bahrum Rangkuti, Rahasia- Rahasia Pribadi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 13.

(10)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|389

orang dalam usaha untuk mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.7 Sedangkan tradisional adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat serta kebiasaan yang ada secara turun-temurun.8

Sehingga pendidikan tradisional berdasarkan pengertian tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pendidikan tradisional adalah proses pengubahan sikap atau tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha untuk mendewasakan manusia melalui upaya pelaksanaan kegiatan pengajaran dengan cara berpegang teguh kepada norma atau kebiasaan yang sudah berlangsung sejak lama yang terjadi secara turun temurun.

Pendidikan tradisional ini, identik dengan pendidikan pesantren, karena sebagaimana dijelaskan dalam sejarah bahwa lembaga pendidikan pesantren terlahir sejak lama, bahkan sebelum kedangan penjajah ke Negeri ini, sehingga pendidikan pesantren telah menjadi system pendidikan yang sudah mentradisi sejak lama. Rekonstruksi pendidikan tradisional ini dapat dilihat dari berbagai system pendidikan yang telah diterapkan, mulai dari kelembagaannya, sarana dan prasarananya, kemudian pendanaannya hingga persoalan pelaksanaan kegiatan pendidikannya dan lain sebagainya

Sedangkan menurut Mastuhu, Pendidikan islam tradisional adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.9

Pendidikan islam tradisional adalah kegiatan pendidikan yang di identikan dengan system pendidikan pesantren, dimana pesantren merupakan pendidikan islam yang bertujuan untuk menghayati, mengamalkan ajaran Islam (tafaqquh fiddin) dengan

7 Tim penulis KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), 241

8 Ibid., 32.

9 Mastuhu, Dinamika Model Pendidikan Pesantren, (Jakarta:

INIS.1994) , 55.

(11)

menekankan pentingnya moral Agama Islam sebagai pedoman hidup bersosial (bermasyarakat) dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga hal tersebut menimbulkan beragam wacana para pemikir dan praktisi alumni pesantren yang menegaskan bahwa pesantren merupakan bagian dari infra struktur masyarakat yang secara makro telah berperan menyadarkan komuditas masyarakat untuk mempunyai idealisme, kemampuan intelektual, dan perilaku mulia (al-Akhlakul al-Karimah) guna menata dan membangun karakter bangsa yang paripurna.10

Karena pesantren mempunyai peran yang sangat strategis yang harus dikembangkan dalam kultur internal pendidikan pesantren itu sendiri, pesantren juga rajin berusaha untuk membentuk pola perilaku masyarakatnya dalam hal dimensi pembentukan moral dan etika, sehingga pesantren juga disebut dengan “bengkel moral-spritual dan pengembangan intelektual islam”. Penyelenggaraan pendidikan Islam tradisional biasanya berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri dibawah kepemimpinan seorang kiai atau seorang ulama yang kemudian dibantu oleh para tenaga edukatif seperti para asatidz dan pengurus pesantren yang kemudian mereka hidup bersama ditengah-tengah para santri dengan masjid atau surau sebagai center kegiatan ke-Agamaan, sedangkan kegiatan belajar berlangsung selama 24 jam dari masa ke masa, mereka hidup kolektif antara kiai, ustad santri dan para pengasuh lainnya sebagai suatu keluarga besar.

Manusia Ideal dalam Perspektif Pendidikan Islam Tradisional Berbicara mengenai manusia ideal pastinya tidak terlepas dari sosok ideal sepanjang masa, Rasulullah SAW. Menjadikan beliau sebagai teladan yang patut dan layak untuk ditiru demi meraih syurga-Nya. Meniru dan mengaplikasikan segala sikap dan perilaku Nabi Muhammad SAW menunjukkan cinta kita terhadap Allah SWT.

Maka dari itu pendidikan islam tradisional mempunyai persepektif manusia ideal sebagai berikut:

10 Suwendi, Sejarah dan pemikiran pendidikan islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 117.

(12)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|391

Pertama, Jujur. Kejujuran rasanya begitu sulit kita temukan dewasa ini. Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulnya tetapi masih kita dapati dirinya sulit berkomitmen dengan kejujuran. Padahal jujur merupakan akhlak yang mesti dimiliki oleh seorang mukmin. Berusahalah untuk selalu bersikap jujur dalam hati, perkataan dan perbuatan, dan hindarilah dusta. Sebab dusta dan keimanan tidak akan pernah bertemu di hati seorang mukmin. Ini berarti siapa yang berdusta, maka keimanan telah tercabut total dalam dirinya.

Kedua, Menjaga Lisan. Manusia yang ideal adalah manusia yang selalu berusaha menjaga apa yang keluar dari lisannya.

Menjaga, agar setiap kata yang keluar dari lisannya adalah kata-kata yang penuh manfaat dan jauh dari kata-kata kotor dan kasar, pembicaraan yang sia-sia seperti bergunjing dan mengadu domba, sertakata-kata yang dapat melukai hati lawan bicaranya.

Ketiga, Menepati janji dan Menghargai Waktu. Menepati janji merupakan karakteristik manusia ideal. Sebab, dengan selalu berupaya menepati janji seseorang secara otomatis dapat dipercaya karena sifat amanah yang dimilikinya. Orang yang selalu ingkar, sulit baginya mendapat kepercayaan dari orang lain. Selain tidak disukai oleh sesame manusia lainnya, ingkar termasuk kategori atau ciri yang lekat pada orang munafik.

Keempat, Dermawan dan Pemurah. Sikap dermawan dan pemurah hendaklah terpatri dan diaplikasikan oleh setiap yang ingin memenuhi kriteria sebagai manusia ideal.

Kelima, Tawadhu ( Rendah Hati). Sebaik apapun dan sesempurna apapun seseorang, tetapi apabila terdapat kesombongan pada dirinya, niscaya tidak akan ada orang yang menyukainya.

Keenam, Menjauhi Prasangka buruk. Prasangka buruk, baik yang ditujukan bagi diri sendiri ataupun orang lain hanyalah menghambat keberhasilan diri dalam meraih kesuksesan serta menghambat terjalinnya hubungan yang harmonis antara manusia.

Ketujuh, Bermanfaat Bagi Yang Lain. Mereka yang selalu berupaya agar setiap waktu yang terbuang benar-benar bermanfaat tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

(13)

Dengan kelebihan yang dimiliki kemudian memanfaatkannya sebaik mungkin sehingga juga dapat dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitarnya.11

Selain itu pendidikan islam tradisional melihat manusia ideal itu dari hakikat karakter yang dimilikinya diantaranya:

1. Kemampuan Menyadari Diri

Melalui kemampuan ini manusia betul-betul mampu menyadari bahwa dirinya memiliki ciri yang khas atau karakteristi diri. Kemampuan ini membuat manusia bisa beradaptasi dengan lingkungannya baik itu limgkungan berupa individu lainnya selain dirinya, maupun lingkungan nonpribadi atau benda. Kemampuan ini juga membuat manusia mampu mengeksplorasi potensi-potensi yang ada dalam dirinya melalui pendidikan untuk mencapai kesempurnaan diri. Kemampuan menyadari diri ini pula yang membuat manusia mampu mengembangkan aspek sosialitas di luar dirinya sekaligus pengembangan aspek individualitas di dalam dirinya.

2. Kemampuan Bereksistensi

Melalui kemampuan ini manusia menyadari bahwa dirinya memang ada dan eksis dengan sebenarnya. Dalam hal ini manusia punya kebebasan dalam ke ‘beradaan’ nya. Berbeda dengan hewan di kandang atau tumbuhan di kebun yang ‘ada’ tapi tidak menyadari ‘keberadaan’ nya sehingga mereka menjadi onderdil dari lingkungannya. Sementara itu manusia mampu menjadi manajer bagi lingkungannya. Kemampuan ini juga perlu dibina melalui pendidikan. Manusia perlu diajarkan belajar dari pengalaman hidupnya, agar mampu mengatasi masalah dalam hidupnya dan siap menyambut masa depannya.

3. Pemilikan Kata Hati (Conscience of Man)

Yang dimaksud dengan kata hati di sini adalah hati nurani.

Kata hati akan melahirkan kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Orang yang memiliki hati nurani

11 http//ddayipdokumen.blogspot.co.id/2014/04/ciri-manusia-ideal- menurut-islam.html?m=1, akses 02 juli 2017

(14)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|393

yang tajam akan memiliki kecerdasan akal budi sehingga mampu membuat keputusan yang benar atau yang salah.

Kecerdasan hati nurani inipun bisa dilatih melalui pendidikan sehingga hati yang tumpul menjadi tajam. Hal ini penting karena kata hati merupakan petunjuk bagi moral dan perbuatan.

4. Moral dan Aturan

Moral sering juga disebut etika, yang merupakan perbuatan yang merupakan wujud dari kata hati. Namun, untuk mewujudkan kata hati dengan perbuatan dibutuhkan kemauan. Artinya tidak selalu orang yang punya kata hati yang baik atau kecerdasan akal juga memiliki moral atau keberanian berbuat. Maka seseorang akan bisa disebut memiliki moral yang baik atau tinggi apabila ia mampu mewujudkanya dalam bentuk perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai moral tersebut.

5. Kemampuan Bertanggung Jawab

Karakteristik manusia yang lainnya adalah memiliki rasa tanggung jawab, baik itu tanggung jawab kepada Tuhan, masyarakat ataupu pada dirinya sendiri. Tanggung jawab kepada diri sendiri terkait dengan pelaksanaan kata hati.

Tanggung jawab kepada masyarakat terkait dengan norma- norma sosial, dan tanggung jawab kepada Tuhan berkaitan erat dengan penegakan norma-norma agama. Dengan kata lain kata hati merupakan tuntunan, moral melakukan perbuatan,dan tanggung jawab adalah kemauan dan kesediaan menanggung segala akibat dari perbuatan yang telah dilakukan.

6. Rasa Kebebasan (Kemerdekaan)

Kebebasan yang dimaksud di sini adalah rasa bebas yang harus sesuai dengan kodrat manusia. Artinya ada aturan-aturan yang tetap mengikat, sehingga kebebasan ini tidak mengusik rasa kebebasan manusia lainnya. Manusia bebas berbuat selama perbuatan itu tetap sesuai denga kata hati yang baik maupun moral atau etika. Kebebasan yang melanggar aturan akan berhadapan dengan tanggung jawab dan sanksi-sanksi

(15)

yang mengikutinya yang pada akhirnya justru tidak memberikan kebebasan bagi manusia.

7. Kesediaan Melaksanakan Kewajiban dan Menyadari Hak

Idealnya ada hak ada kewajiban. Hak baru dapat diperoleh setelah pemenuhan kewajiban, bukan sebaliknya. Pada kenyataanya hak dianggap sebagai sebuah kesenangan, sementara kewajiban dianggap sebagi beban. Padahal manusia baru bisa mempunyai rasa kebebasan apabila ia telah melaksanakan kewajibannya dengan baik dan mendapatkan haknya secara adil. Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak ini haru dilate melalui proses pendidikan disiplin. Sebagaimana dikutip oleh Umar dan La Sulo, Selo Soemarjan menyatakan bahwa perlu ditanamkan empat macam pendidikan disiplin untuk membentuk karakter yang memahami kewajiban dan memahami hak-haknya. 1) disiplin rasional yang bila dilanggar akan melahirkan rasa bersalah. 2) disiplin sosial, yang bila dilanggar akan menyebabkan rasa malu. 3) disiplin afektif, yang bila dilanggar akan melahirkan rasa gelisah dan 4) disiplin agama, yang bila dilanggar akan menimbulkan rasa bersalah dan berdosa.12

8. Kemampuan Menghayati Kebahagian

Kebahagian bisa diartikan sebagai kumpulan dari rasa gembira, senang, nikmat yang dialami oleh manusia. Secara umum orang berpendapat bahwa kebahagiaan itu lebih pada rasa bukan pikiran. Padahal tidak selamanya demikian, karena selain perasaan, aspek-aspek kepribadian lainnya akal pikiran juga mempengaruhi kebahagian seseorang. Misalnya, orang yang sedang mengalami stress tidak akan dapat menghayati kebahagian secara utuh. Dari contoh ini jelas, bahwa kemampuan menghayati kebahagiaan dipengaruhi juga oleh aspek nalar di samping aspek rasa. Untuk mendapatkan kebahagiaan seseorang harus berusaha. Usaha-usaha tersebut harus berlandaskan norma- norma atau kaidah-kaidah yang ada. Namun usaha-usaha yang dilakukan itu akan terkait erat dengan takdir Tuhan. Sehingga

12 Raharja dan La Sulo, Pengantar..., hal, 11

(16)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|395

rasa menerima dan syukur akan mempengaruhi kemampuan manusia dalam menghayati kebahagian. Dalam hal ini, pendidikan agama menjadi modal utama untuk dapat menghayati kebahagian.

Sedangkan menurut muhammad Iqbal, manusia ideal itu ada 4 macam, yaitu:

1. Mempunyai Sifat-Sifat Tuhan

Karakteristik yang pertama ini merupakan karakteristik yang bersifat umum. Bagi Iqbal, Insan al-Kamil merupakan pribadi yang paling dekat dengan Tuhan, dengan dekat Tuhan maka secara otomatis segala perilaku dari individu tersebut disifati oleh sifat-sifat dari Tuhannya.

Bagi Iqbal, kedekatan kepada Tuhan tidak membawa kepada kefana’an sebagaimana versinya kaum sufi klasik.

Dengan saling berdekatan pada Tuhan, insan dapat menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, sehingga semakin nyata eksistensinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.13

Setiap individu yang telah mencapai derajat Insan al- Kamil akan dapat memiliki sifat-sifat Tuhan, sifat-sifat Tuhan terefleksi dalam nama-nama-Nya yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Sebagaimana yang termaktub dalam sembilan puluh sembilan Asma Allah.

2. Sebagai Individu yang Bebas dan Kreatif

Setiap dari individu yang telah mencapai derajat Insan al-Kamil, menurut Iqbal, memiliki jiwa mandiri, dan memiliki kebebasan yang bertanggung jawab. Sehingga dia dengan leluasa dapat meningkatkan kreatifitasnya secara optimal demi terjadinya perubahan signifikan di dunia ini.

Iqbal berkeyakinan bahwa perkembangan kreatifitas merupakan atribut keinsanan yang paling tinggi yang mempertautkannya dengan Illahi.14 Hal ini dapat tercapai,

13 Abdul Wahab Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, terj. Ahmad Rafi’ Usman, (Bandung:Pustaka, 1985), 51

14 K.G., Saiyidain, Percikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan, Alih Bahasa: M. I. Soelaeman, (Bandung : CV. Diponegoro, 1986), 44

(17)

manakala seorang insan telah merasakan iklim kebebasan yangbertanggung jawab.

Jadi seorang insan itu wajib memaksimalkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya agar mampu memberikan sentuhan perubahan di dalam kehidupannya.

3. Sebagai Khalifah di Dunia

Tuhan adalah Maha Pencipta dan Insan al-Kamil memiliki daya untuk menjadi pencipta pelengkap. Daya-daya yang dimiliki Insan al-Kamil memperoleh percikan dari sifat-sifat ketuhanan. Sebagai khalifah Tuhan, menurut Iqbal, memiliki tugas yang cukup berat. Yakni harus mampu menjadi seorang pembaharu untuk merubah keadaan zaman dari keadaan gelap menuju suatu kondisi yang terang benderang dan sebagai sahabat Tuhan insan dituntut untuk turut membantu dalam penciptaan yang belum selesai.15

4. Figur Insan al-Kamil

Menurut Iqbal, hanya satu insan yang pantas dijadikan figur Insan al-Kamil yang paling tepat, Rasulullah Muhammad SAW. Beliau dianggap Iqbal sebagai sosok insan yang tingakat egonya telah mencapai tingkat intensitas tertinggi. Dan hal ini merupakan idealnya dari Insan al-Kamil dalam Islam.16

Strategi Pendidikan Islam Tradiosional dalam Melahirkan Manusia Ideal

Lembaga pendidikan Islam trsdisional yang masih konservatif dan statis dalam menyerap tendensi dan aspirasi masyarakat tardisional seperti sekarang perlu melakukan inovasi dalam wawasan,

15 Danusiri, Epistimologi dalam Tasawwuf Iqbal, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1996), 138

16 Muhammad, Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, terj. Didik Komaidi, (Yogyakarta : Lazuardi, 2002), 67

(18)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|397

strategi dan programprogram agar mampu menjawab secara aktual dan fungsional tantangan-tantangan baru.17

Sebagaimana dikatakan oleh Munir Mulkhan, pembentukan SDM modern dan religius sangat bergantung pada dasar paradigma yang digunakan dalam melakukan rekonstruksi sistem pemikiran dan pendidikan Islam tradisional.18

Mengingat pendidikan dianggap sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab, maka muncul pertanyaan bagaimana sesungguhnya format pendidikan Indonesia (khususnya lembaga pendidikan Islam tradasional) baik dari basis filosofi maupun kerangka praksis. Pertanyaan ini juga berlaku bagi lembaga pendidikan Islam tradisional.

Apakah model (bentuk) lembaga pendidikan Islam tradisional yang ada sekarang mampu menyesuaikan terhadap arus modernisasi, dan apakah setiap out put-nya memiliki kemampuan daya adaptabilitas yang tinggi terhadap lingkungan, sehingga mampu berperan dalam mengelola budaya (cultur ontwitkkelear).?19

Pendidikan islam traadisional mempunyai strategi tersendiri dalam melahirkan manusi yang ideal, dan pendidikan islam tradisional itu membuat strategi melihat dari berbagai sistem diantaranya:

Di lihat dari kemajuan berdasarkan muatan kurikulumnya, Martin Van Bruinessen mengelompokkan pendidikan islam tradisional menjadi pendidikan islam tradisional paling sederhana yang hanya mengajarkan cara membaca huruf Arab dan menghafal beberapa bagian atau seluruh Al-Qur’an, pendidikan islam tradisional sedang yang mengajarkan kitab-kitab klasik, dan pendidikan islam paling maju yang mengajarkan kitab kitab fiqh,

17 M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 8.

18 Abdul Munir Mulkhan, Runtuhnya Mitos Politik Santri, Strategi Kebudayaan dalam Islam, (Yogyakarta: Sipress, 1994), 27

19 Binti Maunah, Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia: Kajian Deskripsi-Analitik Model Lembaga Pendidilan Islam, Emperisma, 2 Juli 2015, 266

(19)

aqidah, dan tasawuf yang lebih mendalam dan beberapa mata pelajaran tradisional lainnya.20

Di lihat dari perspektif keterbukaan terhadap perubahan- perubahan yang terjadi, kemudian membagi pendidikan islam tradisional menjadi dua kategori yaitu pendidikan islam tradisional salafi dan khalafi. pendidikan islam tradisional salafi tetap mengajarkan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikannya. Penerapannya sistem madrasah untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.

Sedangkan pendidikan islam tradisional khalafi telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkan atau membuka tipe-tipe sekolah umum di dalam lingkugan pendidikan islam tradisional.21

Di lihat dari sistem pendidikan yang dikembangkan.

pendidikan islam tradisional dalam pandangan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga macam: Kelompok pertama, memiliki santri yang belajar dan tinggal bersama kiai, kurikulum tergantung kiai, dan pengajaran secara individual. Kelompok kedua, memiliki madrasah, kurikulum tertentu, pengajaran bersifat aplikasi, kiai memberikan pelajaran secara umum dalam waktu tertentu, santri bertempat tinggal di asrama untuk mempelajari pengetahuan umum dan agama. Dan kelompok ketiga, hanya berupa asrama, santri belajar di sekolah, madrasah, bahkan perguruan tinggi umum atau agama di luar, kiai sebagai pengawas dan pembina moral santri.22

Di lihat dari kelembagaannya yang dikaitkan dengan sistem pengajarannya menjadi lima ketegori: 1) pendidikan islam tradisional yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan maupun yang juga memiliki sekolah umum; 2)

20 Arifin dalam Mujammil Qomar, Pesantren, Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2003), 16

21 Ibid., 17

22 Ibid, 17

(20)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|399

pendidikan islam tradisional yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional; 3) pendidikan islam tradisional yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah diniyah; 4) pendidikan islam tradisional yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian (majlis ta'lim); dan 5) pendidikan islam tradisional untuk asrama anak-anak belajar sekolah umum dan mahasiswa.23

Kesuksesan Pendidikan Islam Tradiosional dalam Melahirkan Manusia Ideal

Kesuksesan pendidikan islam tradisional dalam melahirkan manusia ideal tentunya tidak terlepas dari peran pendidikan islam tradisional yang bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yaitu kepribaian yang beriman, dan bertaqwa kepada tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat dan berkhidmad kepada masyarakat, mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian.

Sudah banyak diketahui bahwa peran pendidikan islam tradisional secara konvensional adalah melakukan proses transfer ilmu agama Islam, mencetak manusia ideal, dan mempertahankan tardisi. Dalam perkembangan modern, pendidikan islam tradisional menghadapi tantangan baru, di mana pendidikan islam tradisional tersebut tidak bisa mengelak dari proses modernisasi itu. Dampak dari modernisasi setidaknya mempengaruhi pendidikan islam tradisional tersebut dari berbagai aspeknya. Di antaranya adalah sistem kelembagaan, orientasi hubungan guru-murid dan peran pendidikan islam tradisional.24

23 Ibid., 18

24 Sri Haningsih, Peran Strategis Pendidikan Islam Tradisional Di Indonesia, El-Tarbawi, 2008, 34

(21)

Lembaga pendidikan yang memainkan perannya di Indonesia, jika dilihat dari struktur internal pendidikan Islam serta praktek- praktek pendidikan yang dilaksanakan, ada empat kategori.

Pertama, pendidikan islam tradisional yaitu pendidikan Islam yang diselenggarakan secara tradisional, bertolak dari pengajaran Qur’an dan Hadits dan merancang segenap kegiatan pendidikannya untuk mengajarkan kepada para siswa Islam sebagai cara hidup atau way of life. Kedua, pendidikan madrasah, yakni pendidikan Islam yang diselenggarakan di lembaga-lembaga model Barat, yang mempergunakan metode pengajaran klasikal, dan berusaha menanamkan Islam sebagai landasan hidup kedalam diri para siswa. Ketiga, pendidikan umum yang bernafaskan Islam, yaitu pendidikan Islam yang dilakukan melalui pengembangan suasana pendidikan yang bernafaskan Islam di lembaga-lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan yang bersifat umum. Keempat, pelajaran agama Islam yang diselenggarakan di lembaga-lembaga pendidikan umum sebagai suatu mata pelajaran atau mata kuliah.25

Dilihat dari sejarah pendidikan Islam di Indonesia, pondok pesantren sebagai sistem pendidikan Islam tradisional telah memainkan peran cukup penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, akhir-akhir ini menarik untuk dicermati kembali. Di era globalisasi sekarang ini, di mana krisis multi dimensi merajalela di penjuru dunia, manusia mulai melirik untuk kembali kepada agama. Agama dianggap sebagai obat yang mujarab untuk mengobati moral yang rusak, penyakit jiwa yang diakibatkan beban hidup yang berat. Tak terkecuali bangsa Indonesia yang berasaskan ketuhanan yang maha Esa dan juga sebagai negara yang baru berkembang. Membutuhkan agama sebagai alternatif untuk mengatasi krisis multi dimensi ini.

Dengan demikian, esensi peran pendidikan islam tradisional ada dua pokok, yaitu mencetak kader-kader yang mendalami ilmu

25 Mukhtar Bukhori, Spektrum Problematika Pendidikan Di Indonesia, Cet Ke-1 (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994), 243-244

(22)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|401

agama dan pada saat yang sama mengetahui, terampil, dan peduli terhadap persoalan keummatan.

Dengan peran semacam ini, dimungkinkan pendidikan islam tradisional terlibat maksimal dalam membangun bangsa ini.

Pendidikan islam tradisional, para santri atau siswa belajar ilmu-ilmu agama dan ilmu sosial yang dibutuhkan masyarakat. Bahkan seterusnya pendididkan islam tradisional menjadi lembaga pengkaderan bagi santri atau siswa yang kelak siap terjun di masyarakat.26

Selain peran yang di perankan pendidikan islam tradisional dalam melahirkan manusia ideal, ada juga beberapa sistem pendidikan yang di terapkan dalam pendidikan islam tradisional untuk suksesnya melahirkan manusia ideal.

pertama, pesantren. Sistem pengajaran dilaksanakan dengan porsi yang sama antara pendidikan agama dan umum, penguasaan bahasa asing pun sangat ditekankan.27

kedua, madrasah. Sistem pendidikan Islam madrasah udah tidak menggunakan sistem pendidikan yang sama dengan sistem pendidikan Islampesantren. Karena di lembaga pendidikan madrasah ini sudah mulai dimasukkan pelajaran-pelajaran umum seperti sejarah ilmu bumi, dan pelajaran umum lainnya. Sedangkan sebagian metode pengajarannya sudah tidak lagi menggunakan sistem halaqah seperti di pesantren, melainkan sudah mengikuti metode pendidikan modern barat, yaitu dengan menggunakan ruang kelas, kursi, meja, dan papan tulis untuk proses belajar mengajar.28

Ketiga, surau. Sebagai lembaga pendidikan tradisional, surau menggunakan sistem pendidikan halaqah. Materi pendidikan yang diajarkan pada awalnya masih di seputar belajar huruf hijaiyah dan membaca Al-Quran, disamping ilmu-ilmu keislaman lainnya,

26 Ibid., 36-37

27 Samsul Nizar, Sejarah Dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), 290

28 H.A. Mustafa Dan Abdullah Aly, Sejaran Pendidikan Islam Di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 151

(23)

seperti keimanan, akhlak dan ibadah. Peda umumnya pendidikan ini dilaksanakan malam hari.29

Keempat, meunasah sistem pendidikan yang diterapkan Umumnya, pendidikan berlangsung selama dua sampai sepuluh tahun. Pengajaran umumnya berlangsung malam hari. Materi pelajaran dimulai dengan membaca Al-Quran yang dalam bahasa Aceh disebut Bewet Quran. Biasanya pelajaran diawali dengan huruf hijaiyah, seperti yang terdapat dalam buku Qaidah Baghdadiyah, dengan metode mengeja huruf, kemudian merangkai huruf. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca juz amma, sambil menghafal surat-surat pendek. Setelah itu baru ditingkatkan kepada membaca Al-Quran besar dilengkapi dengan tajwidnya. Di samping itu, diajarkan pula pokok-pokok agama seperti rukun iman, rukun islam, dan sifat-sifat Tuhan. Selain itu, diajarkan pula rukun sembahyang, rukun puasa, dan zakat. Tak ketinggalan, pelajaran nyanyi juga diajarkan, terutama nyanyian yang berhubungan dengan agama yang dalam bahasa Aceh disebut dike atau seulaweut (dzikir atau shalawat). Buku-buku pelajaran yang digunakan adalah buku-buku yang berbahasa Melayu seperti kitab Parukunan dan Risalah Masail al-Muhtadin.30 Simpulan

Adapun kesimpulan dari keseluruhan pembahasan dan hasil penelitian ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa urgensi pendidikan islam tradisional adalah:

1. Manusia ideal dalam persepektif pendidikan islam tradisoanal.

Berbicara mengenai manusia ideal pastinya tidak terlepas dari sosok ideal sepanjang masa, Rasulullah SAW. Menjadikan beliau sebagai teladan yang patut dan layak untuk ditiru demi meraih syurga-Nya. Meniru dan mengaplikasikan segala sikap dan perilaku Nabi Muhammad SAW menunjukkan cinta kita terhadap

29 Nizar, Sejarah Dan Pergolakan.., 281

30 Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2001), 43

(24)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|403

Allah SWT. Maka dari itu pendidikan islam tradisional mempunyai persepektif manusia ideal sebagai berikut:

Pertama, Jujur. Kedua, Menjaga Lisan. Ketiga, Menepati janji dan Menghargai Waktu. Keempat, Dermawan dan Pemurah.

Kelima, Tawadhu ( Rendah Hati). Keenam, Menjauhi Prasangka buruk. Ketujuh, Bermanfaat Bagi Yang Lain.

2. Strategi pendidikan islam tradisioonal dalam menciptakan manusia ideal adalah, menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlaq mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat pada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat sekaligus menjadi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian nabi Muhammad saw (mengikuti sunnah nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat (izzul Islam wal muslimin) serta mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.

3. Kontribusi pendidikan islam tradisional dalam menciptakan manusia ideal tentunya tidak terlepas dari tujuan pendidikan islam itu sendiri yaitu menciptakan kepribadian muslim yang berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada tuhhan, bermanfaat bagi orang lain, teguh dalam kepribadian.

Peran pendidikan islam tradisional secara konvensional adalah melakukan proses transfer ilmu agama Islam, mencetak manusia ideal, dan mempertahankan tardisi. Dengan demikian, esensi peran pendidikan islam tradisional ada dua pokok, yaitu mencetak kader-kader yang mendalami ilmu agama dan pada saat yang sama mengetahui, terampil, dan peduli terhadap persoalan keummatan.

Dengan peran semacam ini, dimungkinkan pendidikan islam tradisional terlibat maksimal dalam membangun bangsa ini.

Pendidikan islam tradisional, para santri atau siswa belajar ilmu- ilmu agama dan ilmu sosial yang dibutuhkan masyarakat. Bahkan

(25)

seterusnya pendididkan islam tradisional menjadi lembaga pengkaderan bagi santri atau siswa yang kelak siap terjun di masyarakat.

Daftar Pustaka

Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2014

Yasmadi, Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, Ciputat: QUANTUM TEACHING, 2005

Ainurrafiq Dawam, Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, Sapen: Listafarika Putra,2005

Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Logos, 2001

Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1982

Muhammad Iqbal, Asrar-I Khudi, terj. Bahrum Rangkuti, Rahasia-Rahasia Pribadi, Jakarta: Bulan Bintang, 1976

Tim penulis KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:

Balai Pustaka, 2000

Mastuhu, Dinamika Model Pendidikan Pesantren, Jakarta:

INIS.1994

Suwendi, Sejarah dan pemikiran pendidikan islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004

Abdul Wahab Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, terj.

Ahmad Rafi’ Usman, Bandung:Pustaka, 1985

K.G., Saiyidain, Percikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan, Alih Bahasa :M. I. Soelaeman, Bandung : CV. Diponegoro, 1986

Danusiri, Epistimologi dalam Tasawwuf Iqbal, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1996

Muhammad, Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, terj. Didik Komaidi, Yogyakarta : Lazuardi, 2002

M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995

(26)

Moh. Naqib dan Faisol Rizal, Urgensi Pendidikan Islam Tradisional|405

Abdul Munir Mulkhan, Runtuhnya Mitos Politik Santri, Strategi Kebudayaan dalam Islam, Yogyakarta: Sipress, 1994

Binti Maunah, Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia:

Kajian Deskripsi-Analitik Model Lembaga Pendidilan Islam, Emperisma, 2 Juli 2015, 266

Arifin dalam Mujammil Qomar, Pesantren, Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, Jakarta:

Erlangga, 2003

Sri Haningsih, Peran Strategis Pendidikan Islam Tradisional Di Indonesia, El-Tarbawi, 2008, 34

Mukhtar Bukhori, Spektrum Problematika Pendidikan Di Indonesia, Cet Ke-1 Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994

Samsul Nizar, Sejarah Dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Ciputat: Quantum Teaching, 2005

H.A. Mustafa Dan Abdullah Aly, Sejaran Pendidikan Islam Di Indonesia, Bandung: Pustaka Setia, 1998

Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2001

Referensi

Dokumen terkait