Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan topografi Wonorejo terhadap sebaran sedimen di wilayah tersebut. Penelitian pengaruh kondisi topografi terhadap sebaran sedimen di wilayah Wonorejo dilakukan dengan menganalisis data citra satelit Landsat multitemporal. Hal ini menunjukkan bahwa topografi wilayah tidak berpengaruh terhadap sebaran sedimen di wilayah Wonorejo.
Perubahan kondisi topografi wilayah Wonorejo juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sebaran sedimen di wilayah tersebut.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 yaitu 1 ppm sehingga kandungan minyak sebesar tersebut tidak membahayakan biota perairan dan masih dapat ditoleransi oleh organisme yang ada di perairan tersebut. Hasil perhitungan dengan nilai dominasi pada stasiun 1, 2 dan 3 mendekati nol, dapat dijelaskan bahwa tidak terjadi dominasi pada perairan tersebut. Jadi hubungan antara kandungan minyak dengan kelimpahan diatom di perairan Selat Lalang desa Mengkapan sangat lemah, nilai negatif menunjukkan bahwa kandungan minyak yang tinggi akan menyebabkan penurunan kelimpahan diatom di perairan tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kandungan minyak tidak banyak berpengaruh terhadap kelimpahan diatom di perairan Selat Lalang Desa Mengkapan.
Kesimpulan
Hal serupa juga dijelaskan oleh Rudiyanti (2009) bahwa nilai keanekaragaman pada kisaran 1-2 menunjukkan bahwa air tersebut berada dalam keadaan tercemar sedang. Jika kita melihat indeks keseragaman Pilou dalam Krebs (1989), rentang nilai indeks keseragaman mendekati 1 (>0,5). Keseragaman pada stasiun 1 yang lebih besar dari 0,5 menunjukkan bahwa sebaran individu tiap jenis relatif tidak merata, sedangkan nilai indeks keseragaman pada stasiun 2 berada di bawah 0,5 yang menunjukkan bahwa sebaran individu dalam komunitas relatif merata.
Berdasarkan perbandingan tersebut juga terlihat pengaruh kandungan minyak dan kelimpahan diatom sebesar 0,2%, sedangkan 99,8% dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain yaitu faktor fisik air (suhu, kejernihan dan arus), kimia air (pH, oksigen terlarut, salinitas, nitrat dan fosfat) dan biologi perairan seperti hutan bakau.
Saran
Hubungan Kandungan Minyak Dengan Kelimpahan Diatom Pada Lapisan Dalam Perairan Tanjung Buton Kabupaten Siak. Pengaruh penambahan ekstrak kunyit putih (Curcuma zedoaria) terhadap daya tahan tubuh udang Vaname (Litopenaeus. Vannamei) ditantang dengan bakteri Vibrio harveyi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak kunyit putih (Curcuma zedoaria) terhadap daya tahan tubuh udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang ditantang bakteri Vibrio harveyi.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak kunyit putih (C. hyaline sebesar 58,7%, semigranulosit sebesar 18,33%, granulosit sebesar 23%), berperan dalam sistem imun pada udang vaname.
Pendahuluan
The research container used a container container (size 40x30x28 cm) and a stocking density of 20 fish/container with a volume of 20 L. The research design used was a completely randomized design consisting of 5 treatments with 3 replications where P1: artificial feed + Vibrio harveyi infection, P2: artificial feed + 0.1 mL NaCl injection, P3: artificial feed + 0 .5%. The results showed that administration of white turmeric extract (C.zedoaria) at a dose of 1% gave the best results and had a significant effect on the survival rate of 68.3%, Total hemocyte count of 21.63x10⁶ cells/ml , and differential hemocyte count (hyaline cells). with 58.7%, semi-granulocytes with 18.33%, granulocytes with 23%) which play a role in the immune system of white shrimp.
Moreover, the value of phagocytic activity was 68.8% and could suppress the growth of bacteria in the intestine at the lowest at 57.7 x 108 CFU/ml and suppress the number of vibrios to the lowest number at 26 x 106 CFU/ ml. .
Bahan dan Metode
Kerang darah (Anadara granosa) termasuk dalam Filum Mollusca, Kelas Bivalvia, Ordo Arcoida, Famili Arcidae dan merupakan salah satu spesies dari Genus Anadara (Broom, 1985). Berdasarkan Gambar 3 terlihat skor yang diberikan panelis terhadap keripik tulang ikan gabus berkisar antara 3,90 hingga 4,40. Grafik batang rata-rata kadar air keripik ikan haring dapat dilihat pada Gambar 6.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan penambahan tulang ikan memberikan pengaruh nyata terhadap nilai lightness keripik tulang ikan yang dihasilkan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perlakuan dengan penambahan tulang ikan gabus memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai kroma keripik tulang ikan yang dihasilkan. Ikan patin (Pangasius sp) merupakan salah satu ikan air tawar yang merupakan salah satu ikan dengan nilai ekonomis terpenting, sehingga FAO menempatkan ikan Patin pada urutan kelima setelah ikan mas, nila, lele, dan ikan gurami (Ghufran, 2010).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penyesuaian suhu pada gel surimi ikan bulan (Megalops cyprinoides). Suhu pemeraman terbaik untuk kemampuan pembentukan gel surimi ikan selama beberapa bulan adalah 40 oC dan tanpa pengawetan. Parameter yang diamati pada gel surimi adalah kekuatan gel, uji keriting, derajat keputihan dan kadar air nyata (EMC).
Perlakuan dengan pengaturan suhu 40oC (T2) mempunyai kekuatan gel yang paling baik diantara perlakuan lainnya, namun tidak berbeda dengan T0 yaitu gel surimi tanpa pengaturan suhu. Kualitas gel yang baik dapat ditentukan dengan mencari retakan pada gel surimi setelah dilakukan uji pelipatan (Lanier, 1992). Suhu yang disetel sebesar 50ºC menghasilkan nilai kualitas 3 dan kelas mutu B yang menunjukkan bahwa gel surimi berangsur-angsur retak setelah dilipat menjadi setengah lingkaran.
Tingkat kemerahan (a*) gel surimi berkisar antara -2,27 hingga -1,03. Gel surimi dengan setting suhu 40oC memiliki tingkat kemerahan paling rendah (-2,27). Hasil analisis EMC gel surimi dari angelfish (Megalops cyprinoides) dengan suhu pemeraman yang berbeda ditunjukkan pada Gambar 2. Hasil analisis EMC menunjukkan bahwa nilai kekuatan gel dan uji lipat yang tinggi meningkatkan daya ikat air pada surimi. gel.
Efektivitas pengaturan suhu gel surimi ikan bulan (Megalops cyprinoides) mempengaruhi kekuatan gel, uji keriting, tingkat keputihan dan kadar air yang dinyatakan. Pembentukan gel surimi moonfish dapat dilakukan dengan pengaturan suhu 40 oC atau tanpa pengaturan suhu.
Ucapan Terima Kasih
Factory feeding merupakan hal yang lumrah dalam budidaya benih ikan, terutama pada benih ikan yang dapat mengkonsumsi pakan buatan (Andriyanto et al., 2012). Pertumbuhan adalah perubahan panjang dan berat dalam satuan waktu (Extrada, 2013; Hartini et al., 2013). Sedangkan pada suhu rendah maka perkembangan akan terhambat dan laju metabolisme juga akan menurun (Hasibuan et al., 2018).
Seluruh jenis dan kelimpahan mikroplastik berdasarkan kelas ukurannya dianalisis menggunakan rumus kelimpahan mikroplastik (Boerger et al., 2010). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini didasarkan pada penggunaan metode garis transek kuadrat (English et al., 1994). Ikan ini mempunyai nilai komoditas yang tinggi (Manurung et al., 2014) dan merupakan jenis ikan omnivora yaitu pemakan campuran.
Mikroplastik yang tertelan ikan juga dapat menghambat proses penyerapan di dalam tubuh ikan (Wright et al., 2013). Jenis serat yang ditemukan pada penelitian ini dapat diasumsikan berasal dari penguraian limbah tekstil laundry berupa serat pakaian (Hiwari et al., 2019). Hal ini konsisten dengan Foley dkk. 2018), yang menyatakan bahwa bentuk mikroplastik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi potensi mikroplastik tersebut tertelan oleh ikan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Kataoka dkk. 2019), yang menyatakan bahwa sungai merupakan jalur utama masuknya plastik ke laut. Jika α-glukosidase dihambat, karbohidrat tidak dipecah dan menurunkan kadar gula darah (Andrade-Cetto et al., 2008). Hal ini disebabkan kandungan komponen kimia pada daun muda dan tua berbeda (Hardoko et al., 2017).
Persiapan reseptor: Reseptor yang digunakan adalah α-glukosidase (kode: 3A4A) yang diunduh dari https://www.rcsb.org/ (Sichaem et al., 2017).
Ucapan Terima Kasih
Interaksi antara α-glukosidase dan orientin menghasilkan 7 ikatan hidrogen dan 1 ikatan hidrofobik dengan energi ikat total -9,7 kkal/mol. Interaksi vitexin dengan α-glukosidase menghasilkan 3 ikatan hidrogen dan 1 ikatan hidrogen dengan energi ikat -9,7 kkal/mol. Asam oleanolat yang berinteraksi dengan α-glukosidase mempunyai 3 ikatan hidrogen dengan energi ikatan -8,6 kkal/mol.
Interaksi makromolekul α-glukosidase dengan reserpin menunjukkan 4 ikatan hidrogen dan 3 ikatan hidrofobik serta menghasilkan energi ikat sebesar -10,0 kkal/mol. Berdasarkan hasil penambatan molekul di atas diketahui bahwa nilai energi ikat total kelima senyawa uji lebih kecil dibandingkan dengan energi ikat antara α-glukosidase dengan senyawa pembanding, sehingga hal ini menunjukkan bahwa kelima senyawa tersebut mempunyai in silico α-glukosidase. aktivitas penghambatan (Limanto et al., 2019). Energi ikat yang rendah cenderung bersifat hidrofilik dan residu asam amino yang berinteraksi lebih bersifat hidrofilik karena asam amino mempunyai struktur polar.
Reserpin menghambat α-glukosidase lebih baik dibandingkan keempat senyawa lainnya, begitu pula dengan senyawa pembanding acarbose, karena menunjukkan afinitas terbaik terhadap α-glukosidase. Hasil analisis kemiripan obat atau Drug Likeness digunakan untuk memprediksi peluang suatu senyawa sebagai kandidat obat oral. Berdasarkan Tabel 3, senyawa vitexin, luteolin, dan asam oleanolic memenuhi persyaratan Lipinski, namun orientin dan reserpin tidak memenuhi syarat sebagai kandidat obat karena tidak memenuhi persyaratan Lipinski.
Prediksi toksisitas berupa nilai LD50 menunjukkan bahwa reserpin memiliki nilai toksisitas yang rendah, sedangkan nilai LD50 tertinggi terdapat pada luteolin. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat direkomendasikan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penghambatan aktivitas α-glukosidase dengan pendekatan in vitro.
Tingginya ketersediaan ikan lele di Riau menarik minat perusahaan perikanan untuk mengolahnya menjadi produk ikan lele asin. Proses pembuatan produk ikan lele asin harus dapat memenuhi Standar Nasional Indonesia mengenai kadar air maksimal yaitu 40% (SNI. Proses pengolahan ikan lele asin diadaptasi berdasarkan metode Asli dkk. 2016) : ( 1) Ikan lele putih (P. hypopthalmus) dicuci bersih lalu difillet, (2) daging fillet lele dipotong-potong ± 5 cm kemudian ditimbang, (3) proses penggaraman dilakukan dengan cara basah (30% dari (berat ikan) dan disimpan pada suhu ruang selama 4 jam, dan (4) Kemudian ikan ditiriskan di atas loyang dan proses pengeringan dilanjutkan di dalam oven (75oC, 36 jam).
Berdasarkan hasil pengujian kadar air pada produk ikan lele asin pada Gambar 2 diketahui bahwa kadar air pada produk ikan lele asin sangat rendah yaitu. Berdasarkan hasil uji kadar air produk ikan asin lele diketahui F tabel 5% > F hitung. Rendahnya kadar air pada produk ikan lele asin disebabkan oleh kondisi produk yang berada pada fase kadar air kritis dan titik jenuh.
Produk ikan asin lele memiliki nilai F tabel 5% > F hitung, artinya penambahan perlakuan teh hijau atau serai tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein ikan asin ikan lele. Berdasarkan perhitungan uji kualitas kenampakan Kruskal-walli diketahui bahwa pengolahan ikan lele asin menunjukkan hasil yang signifikan. Peringkat mutu aroma produk ikan lele asin paling rendah terdapat pada perlakuan X1 yang diberi penambahan garam 3% dan teh hijau 1%.
Nilai kualitas rasa terendah pada produk ikan lele asin terdapat pada perlakuan X1 (3% saline + 1% teh hijau). Selain itu, penilaian subyektif masing-masing panelis terhadap rasa asin juga mempengaruhi nilai kualitas produk ikan lele asin.
Editorial Office
Kampus Bina Widya