• Tidak ada hasil yang ditemukan

371/Ilmu Keperawatan - Perpustakaan Poltekkes Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "371/Ilmu Keperawatan - Perpustakaan Poltekkes Malang"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

Kebanyakan pasien diabetes melitus hanya memperhatikan konsumsi makanannya dan melengkapinya dengan obat-obatan dari dokter. Peningkatan prevalensi diabetes melitus tidak hanya terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat, namun juga di negara berkembang. Diabetes melitus merupakan penyakit dimana kadar glukosa dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin dalam jumlah yang cukup.

Penyebab paling umum hilangnya sel beta pada diabetes tipe 1 adalah reaksi autoimun yang menghancurkan sel beta pankreas. Kadar glukosa rata-rata pada pasien diabetes tipe 1 harus senormal mungkin (80-120 mg/dL, 4-6 mmol/l). Wanita yang mengidap diabetes selama kehamilan berisiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Gejala diabetes tipe 1 muncul secara tiba-tiba pada masa kanak-kanak akibat adanya kelainan genetik sehingga tubuh tidak memproduksi insulin dengan baik. Sedangkan gejala diabetes tipe 2 muncul secara perlahan hingga menjadi kelainan yang jelas, pada tahap awal mirip dengan gejala diabetes tipe 1 yaitu.

Diagnosis Diabetes Melitus

Pengertian Kadar Gula Darah

Dalam kondisi normal, kadar gula darah saat puasa berkisar antara 80 mg% hingga 120 mg%, satu jam setelah makan akan mencapai 170 mg% dan dua jam setelah makan akan turun hingga 140 mg%.

Faktor-Faktor Kadar Gula Darah dalam Tubuh

Macam-macam Pengukuran Kadar Gula Darah

Diawali juga dengan tes gula darah, kemudian kita diminta makan seperti biasa dan diperiksa kembali darahnya dua jam setelah makan.

Metode Pengukuran Kadar Gula Darah

Jika konsentrasi monosakarida di usus halus atau sel mukosa cukup tinggi, penyerapan dilakukan secara pasif atau fasilitatif. Residu pencernaan ini merupakan substrat potensial untuk fermentasi oleh mikroorganisme di usus besar. Produk utama fermentasi karbohidrat di usus besar adalah karbon dioksida, hidrogen, metana, dan asam lemak rantai pendek yang mudah menguap, seperti asam asetat, propionat, dan butirat.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, metabolisme secara sederhana diartikan sebagai proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup dengan tujuan menghasilkan energi. Langkah ini diperlukan sebelum proses memasukkan hasil glikolisis ke dalam siklus asam nitrat, yang merupakan jalur akhir oksidasi seluruh komponen senyawa protein, karbohidrat, dan lemak. Merupakan jalur metabolisme yang digunakan tubuh dengan fungsi menjaga keseimbangan senyawa glukosa dalam plasma darah sehingga gejala hipoglikemia dapat dihindari.

Tahap selanjutnya adalah hexose monophosphate shunt atau biasa disingkat dengan HMP Shunt dan dikenal juga dengan jalur Pentose Phosphate. Ini adalah jalur metabolisme yang digunakan tubuh untuk menjaga keseimbangan glukosa dalam plasma darah untuk menghindari gejala hipoglikemia.

Metabolisme Kadar Glukosa Darah pada Diabetes Melitus

Proses metabolisme karbohidrat selanjutnya adalah fase glikogenesis, yang secara umum proses ini menghasilkan sintesis glikogen dari glukosa. Hormon yang berperan dalam proses ini adalah insulin sebagai reaksi terhadap peningkatan rasio gula darah. HMP-Shunt adalah jalur pentosa fosfat atau heksosa monofosfat yang menghasilkan NADPH dan ribosa di wilayah luar mitokondria.

Proses HMP-Shunt juga menghasilkan pentosa untuk digunakan dalam sintesis nukleotida dan asam nukleat. Sedangkan ribosa 5-fosfat bereaksi dengan komponen ATP menjadi komponen 5-fosforibosil-1-pirofosfat atau biasa disingkat PRPP. Pada proses glukoneogenesis, glukosa mengalami proses sintesis dengan substrat yang tidak lain hanyalah hasil jalur atau proses glikolisis, antara lain asam piruvat, asam laktat, asam oksaloasetat, dan suksinat.

Tujuannya adalah mengoptimalkan penyerapan glukosa dari darah ke dalam sel, sehingga kadar glukosa darah kembali mendekati stabil. Pasalnya diabetes merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal.

Konsep Gerakan Tubuh .1 Pengertian gerakan tubuh .1 Pengertian gerakan tubuh

DM yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi atau komplikasi yang dapat berakibat fatal, misalnya penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan, dll. Untuk menghindari gangguan atau cedera otot, kita harus menghindari aktivitas atau gerakan yang dipaksakan, gerakan dan aktivitas yang tiba-tiba. yang membebani otot secara berlebihan, hindari. Lakukan beberapa latihan peregangan sebelum dan sesudah aktivitas tertentu yang memerlukan kerja otot dalam jangka waktu lebih lama, seperti olahraga, jalan kaki jarak jauh, dan lari.

Latihan rutin ini bisa dilakukan dengan atau tanpa beban, bisa dilakukan di dalam ruangan atau di luar ruangan.

Gambar macam gerak otot
Gambar macam gerak otot

Kerangka Konsep

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh gerakan anggota tubuh sederhana terhadap penurunan kadar gula darah pada diabetes tipe 2 di desa Sumberporong Lawang. Pada setiap gerakan sederhana terdapat pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar glukosa darah pada diabetes tipe 2 di Desa Sumberpmorong Kecamatan Lawang. Memberikan dan menambah pengetahuan penderita diabetes tipe 2 bahwa gerakan sederhana dapat digunakan untuk membantu menurunkan glukosa darah selain menjaga pola makan yang ketat.

Memberikan masukan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya untuk melaksanakan rencana perawatan komplementer untuk menurunkan glukosa darah pada DM tipe 2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mengenai pengaruh gerakan sederhana sebagai alternatif penurunan gula darah pada DM Tipe 2 dan sebagai bahan kajian untuk kegiatan penelitian selanjutnya serta sebagai sumber atau referensi di perpustakaan. Jenis penelitian ini didasarkan pada desain penelitian eksperimen, yaitu peneliti mencoba melihat pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau akibat yang terjadi akibat suatu pengobatan tertentu. Eksperimen tersebut berupa perlakuan atau intervensi terhadap satu variabel, dan diharapkan terjadi perubahan atau pengaruh terhadap variabel lain (Setiadi, 2013: 81). Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan pre-eksperimental one group pre-test-post-test.

Desain ini juga tidak memiliki kelompok pembanding (kontrol), namun setidaknya dilakukan observasi awal (pretest) yang dapat diuji perubahan yang terjadi setelah eksperimen. 01: Diberikan glukosa darah sebelum diberikan intervensi senam ekstremitas. 02: Diberikan glukosa darah setelah diberikan intervensi senam ekstremitas X5: Gerakan fleksi-ekstensi pada pergelangan kaki X6: Gerakan adduksi-abduksi pada pergelangan kaki X7: Gerakan fleksi-ekstensi pada siku-pergelangan kaki.

Kerangka Operasional

Populasi, Sampel, Sampling Penelitian .1 Populasi Penelitian

Sampel Penelitian

X1: Gerakan menggenggam dan membuka jari, X2: Gerakan ekstensi pergelangan tangan. X5 : Gerakan ekstensi fleksi pergelangan kaki X6 : Gerakan abduksi pergelangan kaki Glukosa darah (y) Kadar gula dalam darah merupakan kadar produk akhir dan merupakan sumber energi utama bagi organisme hidup yang penggunaannya dikendalikan oleh insulin .

Hasil pengukuran konsentrasi glukosa dalam darah responden, menggunakan alat ukur tes glukosa darah sederhana (Blood Glucose Stick Test) pada pembuluh darah tepi.

Tempat dan Waktu Penelitian

Teknik dan instrumen pengumpulan data

Kerangka kerja

Penyajian Data

Etika Penelitian a. Informed consent

Pengaruh gerakan III (gerakan fleksi ekstensi pada pergelangan siku) terhadap penurunan glukosa pada dm tipe II

Pengaruh gerakan IV (Gerakan Adduksi Abduksi Dengan Pengelangan Siku) terhadap penurunan glukosa pada dm tipe II

Pengaruh gerakan V (Gerakan Fleksi Ekstensi Di Pergelangan Kaki) terhadap penurunan glukosa pada dm tipe II

Pengaruh gerakan VI (Gerakan Adduksi abduksi Pergelangan Kaki) terhadap penurunan glukosa pada dm tipe II

Pengaruh gerakan VII (Gerakan fleksi ekstensi Pergelangan siku Kaki) terhadap penurunan glukosa pada dm tipe II

Pengujian Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah

  • Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah Gerakan
  • Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah Gerakan Fleksi
  • Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah Gerakan Fleksi
  • Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah Gerakan
  • Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah Gerakan Fleksi
  • Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah Gerakan
  • Perbedaan Rata-Rata Glukosa pada DM Tipe-2 di Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang 2018 antara Sebelum dan Sesudah Gerakan Fleksi

H0 : Tidak terdapat perbedaan rerata kadar glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan fleksi ekstensi pergelangan tangan. H1 : Terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan fleksi-ekstensi pergelangan tangan. Hasil pengujian perubahan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan fleksi-ekstensi pergelangan tangan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Dengan demikian dapat dikatakan terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan 10 gerakan fleksi-ekstensi pada pergelangan tangan. Dengan demikian dapat dikatakan terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan 16 gerakan fleksi-ekstensi pada pergelangan tangan. Dengan demikian dapat dikatakan terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan 18 gerakan fleksi-ekstensi pada pergelangan tangan.

Berdasarkan hasil pengujian, selisih rerata glukosa pada DM Tipe-2 sebelum dan sesudah pengobatan dengan gerakan fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang efektif adalah 10 gerakan, 16 gerakan, dan 18 gerakan. H0 : Tidak terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan ekstensi fleksi siku pergelangan tangan. H1 : Terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan ekstensi fleksi siku pergelangan tangan.

Dengan demikian dapat dikatakan terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan 10 gerakan regangan fleksi siku. H1 : Terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan abduksi adduksi dengan siku ditekuk. H0 : Tidak terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan peregangan fleksi pergelangan kaki.

H1 : Terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan fleksi-ekstensi pergelangan kaki. H0 : Tidak terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan adduksi-abduksi pada pergelangan kaki. H1 : Terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan adduksi-abduksi pada pergelangan kaki.

H0 : Tidak terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan peregangan fleksi pergelangan kaki. H1 : Terdapat perbedaan rerata glukosa pada DM tipe 2 di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang tahun 2018 antara sebelum dan sesudah melakukan gerakan peregangan fleksi pergelangan kaki.

Kesimpulan

Saran

Hubungan pola makan dengan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2 di Klinik Penyakit Dalam dr. Diunduh dari WHO http://www.who.int/ mediacentre/ factsheets/ fs312/en/index.html pada tanggal 17 Desember 2012. Pengaruh relaksasi terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2 di RSUD Tasikmalaya.

Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kadar glukosa darah pasien diabetes melitus tipe 2 di RS Raden Mattaher Jambi'. Pengaruh senam diabetes melitus terhadap risiko terjadinya ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Rambipuji Kabupaten Jember. Deskripsi Kontrol dan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Mellitus di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof.

Gambar

Gambar macam gerak otot
Gambar  4.3  Kerangka  Kerja  Efektifitas  pergerakan  sederhana  tubuh  terhadap                                                                penurunan kadar glukosa pada pasien diabetes mellitus tipe2
Gambar 3.2 Kerangka Kerja

Referensi