Dari tabel di atas terlihat adanya perkembangan kecerdasan interpersonal baik pada kelas kontrol maupun eksperimen. Hasil uji homogenitas data kecerdasan interpersonal siswa kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 16. Sebelum dilakukan pemeriksaan, kelas eksperimen dan kontrol diberikan pre-test yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal kelas eksperimen dan kontrol. .
Rata-rata data pre-test kelas eksperimen dan kontrol kemudian diuji secara statistik untuk mengetahui apakah data pre-test kedua kelas berbeda signifikan atau tidak. Berdasarkan hasil uji normalitas, nilai L0 untuk data pre-test kelas eksperimen adalah L0 = 0,0938, sedangkan nilai L0 untuk data pre-test kelas kontrol adalah L0 = 0,1374. Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum diterapkan perlakuan berbeda pada kedua kelas.
Post-test ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan akhir kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah diberikan perlakuan. Nilai belajar siswa kelas eksperimen dan kontrol secara keseluruhan disajikan secara ringkas pada Tabel 25. Berdasarkan hasil uji normalitas, nilai L0 data postes kelas eksperimen adalah L0 = 0,105, sedangkan nilai L0 pada data postes kelas kontrol data postes kelas adalah L0 = 0,123.
Artinya, baik data nilai postes kelas eksperimen maupun kelas kontrol berdistribusi normal.
Respon Siswa terhadap Model Pembelajaran NHT bermuatan MI Respon siswa dilakukan untuk mengetahui bagaimana sikap dan
Dapat disimpulkan bahwa H0 yang menyatakan tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran NHT mengandung MI dengan hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran NHT, ditolak. Dengan kata lain terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol, hal ini terlihat dari t hitung > t tabel.
Pembahasan
Analisis kecerdasan ganda siswa Tabel 29 Lanjutan
Dilihat dari hasil tes kecerdasan majemuk, terdapat perkembangan kecerdasan siswa baik pada kelas kontrol maupun eksperimen sebelum dan sesudah pembelajaran. Berikut diagram persentase skor kecerdasan majemuk sebelum dan sesudahnya pada kelas kontrol dan eksperimen. Dari gambar di atas terlihat bahwa kualitas perkembangan kecerdasan interpersonal meningkat pada kedua kelas, hanya saja peningkatan pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan pada kelas kontrol.
Hal ini terjadi karena pada kedua kelas diterapkan model pembelajaran kooperatif yang dapat membuat siswa aktif dalam kegiatan belajarnya. Perkembangan tipe kecerdasan dominan siswa pada kelas kontrol dan eksperimen sebelum dan sesudah pembelajaran dapat dilihat pada gambar 3 dan 4. Dari gambar 3 dan 4 terlihat bahwa jumlah siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal meningkat setelah diberikan perlakuan. diberikan, baik pada kelas kontrol maupun eksperimen.
Artinya penggunaan model NHT berisi MI pada kelas eksperimen lebih efektif dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa, dibandingkan hanya menggunakan model NHT. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Wahyudi (2011), menambahkan aktivitas interpersonal pada model pembelajaran dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa. Persentase siswa yang mempunyai kecerdasan interpersonal sebelum mendapat perlakuan pada kelas kontrol sebesar 15,15% atau 5 orang, dan pada kelas eksperimen sebesar 6,25% atau 2 orang.
Perkembangan jumlah siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal pada kelas kontrol hanya berjumlah 5 orang, sedangkan pada kelas eksperimen berjumlah 8 orang. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Posciak dan Settles (2007), untuk meningkatkan kecerdasan dominan siswa memerlukan waktu sekitar 10 minggu. Dengan kata lain, agar jumlah siswa yang mempunyai kecerdasan interpersonal dominan lebih banyak maka guru memerlukan waktu pertemuan yang relatif lama.
Hasil pengembangan ini juga menunjukkan bahwa model NHT berisi MI dapat membantu siswa mengembangkan kecerdasan interpersonalnya. Walaupun peningkatan kecerdasan interpersonal siswa pada kelas kontrol berbeda dengan pada kelas eksperimen, namun hal tersebut membuktikan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa sesuai dengan pernyataan Jasmine (2007) yaitu “the metode pembelajaran kooperatif dapat dipersiapkan dengan baik bagi mereka dan pembelajaran kooperatif sebagai metode pengajaran memiliki kecerdasan interpersonal'. Menurut penelitian Handayani (2007) yang menggunakan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan kecerdasan majemuk siswa, salah satunya adalah kecerdasan interpersonal.
Analisis pengaruh model pembelajaran NHT bermuatan MI terhadap hasil belajar dan kecerdasan interpersonal siswa
Pesan berantai yang disampaikan oleh siswa terakhir yang menerima pesan tersebut benar dan siswa lainnya pun terlihat bersemangat dengan pesan berantai tersebut. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat yang menyatakan bahwa aktivitas guru dan siswa sudah baik, artinya evaluasi awal terhadap kegiatan apersepsi ini dapat dikatakan berhasil. Nampaknya para siswa tampak bersemangat untuk membagi kelompok berdasarkan nomor, hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Jadi dari hasil observasi pengamat ditentukan bahwa aktivitas guru dan siswa sudah baik, artinya dengan menilai kegiatan inti kegiatan pengelompokan atau penomoran ini dapat dikatakan berhasil.
Hal ini merupakan adaptasi untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa sebagai salah satu strategi pengajaran dalam kecerdasan majemuk yaitu berbagi perasaan, dimana berbagi perasaan melatih siswa untuk mengajarkan materi kepada teman yang membutuhkan, sehingga terjalin komunikasi yang lebih aktif antar siswa dalam kelompoknya. . . Hasil observasi pengamat menunjukkan bahwa aktivitas guru dan siswa sudah baik, artinya penilaian terhadap kegiatan inti penyampaian materi dan meminta siswa menjadi mentor dalam kelompoknya bisa saja berhasil. Kegiatan intinya adalah bertanya, guru memberikan masalah/pertanyaan kepada setiap kelompok dan siswa mendiskusikan masalah tersebut.
Hasil observasi yang dilakukan pengamat mengatakan aktivitas guru dan siswa baik, artinya evaluasi aktivitas inti bertanya berhasil. Pada fase keempat yaitu berpikir bersama, pada fase ini ditambahkan beberapa tahapan kegiatan yang sarat MI untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal. Hasil observasi yang dilakukan pengamat mengatakan aktivitas guru dan siswa baik, artinya evaluasi aktivitas inti pada aktivitas berpikir kolaboratif ini berhasil.
Siswa yang pendiam berani mengatakan apa yang ingin disampaikannya pada kesimpulan, dan hasil observasi yang diberikan oleh pengamat mengatakan bahwa aktivitas guru dan siswa baik, artinya evaluasi kegiatan akhir dari kegiatan kesimpulan ini dapat diterima. dikatakan berhasil. Kemudian untuk melihat perkembangan kecerdasan interpersonal siswa selama pembelajaran pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga, pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan lembar observasi kecerdasan interpersonal yang dinilai oleh observer dapat dilihat pada tabel 30. terlihat pada tabel kecerdasan interpersonal yang berkembang dari pertemuan-pertemuan, dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua sebesar 2,82%, dan dari pertemuan kedua ke pertemuan ketiga sebesar 6,56%, padahal persentase perkembangannya hanya selisih satuan saja. .
Kemudian pada kelas kontrol terlihat pada tabel kecerdasan interpersonal mengalami perkembangan dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua sebesar 1,81%, dan dari pertemuan kedua ke pertemuan ketiga sebesar 3,93%. Perbedaan persentase perkembangan kecerdasan interpersonal pada kelas kontrol dan kelas eksperimen digambarkan pada gambar di bawah ini. Perkembangan kecerdasan interpersonal pada saat pembelajaran Perkembangan kecerdasan interpersonal tidak terlalu tinggi karena waktu pembelajaran yang cukup singkat yaitu 3 kali pertemuan.
Analisis respon siswa
Berdasarkan hasil pengolahan angket respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan model pembelajaran NHT bermuatan MI pada materi pokok hidrolisis garam, pernyataan pertama berbunyi “pembelajaran menggunakan NHT bermuatan MI pada materi pokok hidrolisis garam, saya merasa belajar kimia lebih menarik dan menyenangkan” sebanyak 12,50% siswa sangat setuju. Sebanyak 56,25% siswa setuju dan 31,25% ragu-ragu. Pada pernyataan kedua siswa memberikan respon positif terhadap pernyataan “model pembelajaran NHT berisi MI dapat meningkatkan motivasi saya bekerja dalam kelompok”. Hal ini terlihat dari jawaban siswa yang sangat setuju sebesar 15,63%; 59,38% setuju dan 25% ragu-ragu.
Siswa yang menyatakan sangat setuju, setuju, dan ragu serta tidak setuju dengan pernyataan ketiga yaitu “Model pembelajaran NHT mengandung MI. Dengan menggunakan model NHT yang sarat MI siswa dapat dengan mudah memahami konsep hidrolisis garam. Hal ini menunjukkan, bahwa model ini menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran berdasarkan semangat dan responnya selama proses pembelajaran.
Pernyataan selanjutnya mengatakan bahwa “model pembelajaran NHT berisi MI meningkatkan kinerja saya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan”. Lebih dari 50% siswa memberikan jawaban positif, hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran NHT bermuatan MI dapat meningkatkan pemahaman siswa. “Tugas yang diberikan guru pada model pembelajaran NHT berisi MI dapat membantu saya memahami konsep hidrolisis garam dengan lebih baik” dengan pernyataan 15,63% siswa setuju dan 53,15%.
Sebanyak 6,25% siswa menyatakan sangat setuju dan 62,50% siswa menyatakan setuju dengan pernyataan “model pembelajaran NHT bermuatan MI layak digunakan dalam pembelajaran konsep hidrolisis”, sedangkan 31% siswa menyatakan bahwa mereka tidak yakin dan tidak ada siswa yang menyatakan tidak setuju atau tidak setuju. Hal ini tercermin dari diskusi, nilai baik untuk tugas kelompok maupun tugas individu dan peningkatan nilai pada evaluasi akhir. Terhadap pernyataan “model pembelajaran NHT dengan MI membuat saya menikmati kegiatan belajar kelompok” siswa menjawab sangat setuju 18,75%; 56,25% setuju; 21,88% ragu-ragu dan 3,13% tidak setuju.
Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran yang digunakan dapat memaksimalkan kerjasama dalam kelompok. Pernyataan akhir “model pembelajaran NHT yang mencakup MI menjadikan pembelajaran kimia tidak membosankan” dan respon siswa 12,50% sangat setuju, 65,63% siswa setuju, 18,75%.