41 kAJIAn mengenAI eFekTIFITAS
ImPlemenTASI kebIJAkAn konSeRvASI hIu DAn mAmAlIA lAuT (wPP573)
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Komplek Bina Samudera, Jalan Pasir Putih II, Ancol Timur Jakarta Utara 14430 Drs. Dharmadi Prof. Ngurah N.W., DEA Dr. Dian Oktaviani Priyo S. S., S.Pi Puput F. R, S.Pi Andrias S. S., S.Pi Drs. Dharmadi
Penelitian dan Pengembangan IPTEK KP
Dinas KP Propinsi NTB, dan NTT, Dinas KP Kab. Pelabuhan Ratu dan Cilacap, Nelayan dan Pedagang Produk Hiu di Pelabuhan Ratu, Cilacap, Tanjung Luar Lombok dan Pulau Maringkik Kupang
Lombok, Cilacap, Palabuhan Ratu, NTB, NTT, dan Bogor Lokasi Penelitian:
Mitra Kerjasama
Aceh
Riau Islands WestKalimantan
Central Kalimantan
East Kalimantan
South Kalimantan North
Sumatera
Bengkulu Riau West Sumatera
South Sumatera
Bangka Belitung Islands Jambi
Lampung
Banten Jakarta
Bali West
Jawa Central Java
East Yogyakarta Java
West Nusa Tenggara
East Nusa Tenggara West Sulawesi
Central Sulawesi Gorontalo North
Sulawesi North Maluku
Maluku Southeast Sulawesi South Sulawesi
West Papua Papua
RENSTRA Peneliti
Satuan Kerja
Hiu Martil hasil tangkapan nelayan Tj. Luar Produk hiu yang diperdagangkan
latar belakang :
Konservasi sumberdaya ikan adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfataan sumberdaya ikan termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan (Anonim,
2007). Sementara itu sumberdaya beberapa jenis ikan hiu (Sphyrna lewini, S. mokarran, S. zygaena, dan Carcharhinus longimanus).
Kelompok hiu tersebut termasuk dalam daftar appendiks II CITES sejak Maret 2013, dan selanjutnya dalam pemanfaatannya harus sesuai dengan ketentuan CITES, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi CITES
sesuai Keputusan Presiden Nomor : 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade In Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora.
Tujuan :
Melihat kondisi terkini mengenai sumberdaya beberapa jenis Hiu (Sphyrna lewini, S. mokarran, S.zygaena, dan C. longimanus).
Terkait dengan Kepmen KP No. 34/2015, apakah terjadi peningkatan populasi atau aktivitas penangkapan berkurang.
metode :
1. Survei lapangan untuk verifikasi data dan informasi terkait peraturan pelarangan perdagangannya hiu apendik II CITES dan wawancara dengan para pemangku kepentingan (nelayan, eksportir, pengumpul, pedagang, Dinas KP, Polair, PSDKP, dan LSM).
2. Studi pustaka untuk memperoleh data dan informasi dari berbagai literatur terkait dengan sumberdaya ikan hiu (Carcharhinus longimanus, Sphyrna lewini, S. mokarran, S.
zygaena).
3. Analisis data dan konsultasi dengan narasumber.
4. Pelaksanaan Focus Group Discussion (Kelompok diskusi terarah) untuk menghimpun informasi dari narasumber dan merumuskan bahan rekomendasi kajian konservasi sumberdaya hiu dan mamalia laut.
42
hasil :
Perlindungan terhadap tiga jenis hiu martil (Sphyrna lewini, S. mokarran, S. zygaena) dan satu jenis hiu koboi (Carcharhinus longimanus) dilakukan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri KP No.34/2014, dan perpanjangan Permen KP No. 59/PERMEN-KP/2015.
Dalam peraturan ini ditekankan pelarangan terhadap pengeluaran hiu dan produk turunannya dari wilayah negara Republik Indonesia. Untuk mengetahui efektifitas dari regulasi ini dilakukan kajian di tempat pendaratan hiu seperti di Palabuhanratu (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Tangjungluar (Lombok Timur) dan Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur). Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur, enumerator, pengamatan langsung dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa pasca dikeluarkannya regulasi aktivitas penangkapan hiu mengalami penurunan dan kembali normal setelah adanya pembinaan terhadap nelayan penangkap hiu. Hanya di Palabuhanratu dimana nelayan tidak lagi secara khusus menangkap hiu, sementara produksi hiu berasal dari hasil tangkapan sampingan.
Pemahaman terhadap regulasi di tingkat nelayan, pedagang produk hiu dan aparat penegak hukum tampak masih tidak merata. Hal
ini telah menimbulkan kasus pengamanan nelayan oleh petugas karena menangkap hiu. Keempat jenis hiu merupakan bagian dari semua jenis hiu yang tertangkap.
Terdapat hiu yang didaratkan masih berukuran kecil atau muda. Dari kajian ini direkomendasikan agar:
(i) kegiatan sosialisasi pemahaman peraturan kebijakan konservasi sumber daya hiu dilakukan secara intensif dan berkesinambungan oleh pemerintah daerah di wilayah WPP-573; (ii) kebijakan peraturan pelarangan ekspor produk hiu diperpanjang kembali minimal untuk satu tahun ke depan; (iii) penyusunan aturan dan ketentuan lengkap (SOP pemanfaatan produk hiu) yang ditujukan kepada pelaku usaha (pengepul I-pengepul II-eksportir) untuk melakukan pemisahan produk hiu (sirip, tulang, kulit) dan mencatat volume berdasarkan jenis hiu yang ditetapkan masuk Apendiks II CITES;
(iv) peningkatan pengetahuan identifikasi produk hiu Apendiks II CITES terutama pengenalan ciri morfologi sirip (punggung, dada, ekor) kepada petugas bea cukai di bandara maupun di pelabuhan;
dan (v) peningkatan fasilitas pendaratan hiu dan pendukung lainnya serta memperkuat sekaligus meningkatkan kualitas pendataan hiu di lokasi khususnya di Tanjungluar, Lombok Timur.