PERENCANAAN RUMAH SAKIT HEWAN UHO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU
Herlina Damayanti
Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Halu Oleo Siti Belinda Amri
Tenaga Pengajar Jurusan Arsitektur, Univeritas Halu Oleo E-Mail : [email protected]
ABSTRAK
Bangunan Rumah Sakit Hewan UHO dengan konsep arsitektur hijau merupakan salah satu fasilitas kesehatan khusus hewan yang dapat melayani kebutuhan perawatan kesehatan hewan, baik secara rawat inap maupun rawat jalan.
Selain itu, masyarakat bisa mendapatkan informasi dari rumah sakit mengenai cara-cara di dalam menjaga kesehatan hewan yang mereka pelihara dan juga dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa Fakultas Peternakan UHO. Dengan demikian, masyarakat juga dapat terhindar dari efek atau pengaruh negatif dari memelihara hewan yakni kemungkinan tertularnya penyakit hewan terhadap manusia.Agar kotoran hewan tidak menyebar di area sekita Fakultas Peternakan, Rumah Sakit Hewan UHO menyediakan fasilitas pengolahan limbah. Hasil proses perombakan tersebut dapat menghasilkan pupuk organik cair yang bermutu berupa gas yang biasa disebut biogas.
Kata Kunci : Rumah Sakit Hewan, Hewan Peliharaan, Pengolahan Limbah Hewan, Biogas, Arsitektur Hijau ABSTRACT
Building UHO Animal Hospital Architectural Concepts With Green is one of the specialized veterinary health facility that can serve the needs of animal health care, both inpatient and outpatient. In addition, the public can get information from the hospital mengenaicara-way in maintaining the health of the animals they keep and can also be a learning experience for the students of the Faculty of Animal Husbandry UHO.Thus, people can also avoid the effect or a negative effect of raising animals with the possibility of transmission of animal diseases to humans. In order not to spread manure around diarea Faculty of Animal Husbandry, Animal Hospital UHO provide sewage treatment facilities. The results of the reform process can produce quality liquid organic fertilizer in the form of a gas commonly called biogas.
Keywords: Animal Hospital, Pets, Animal Waste Management, Biogas, Green Architecture
PENDAHULUAN A. LatarBelakang
Di Kota Kendari tercatat jumlah hewan peliharaan pada tahun 2014 sebanyak 26.937 ekor, tahun 2015 sebanyak 31.023 ekor, tahun 2016 mengalami loncatan peningkatan yang tinggi yaitu sebanyak 32.210 ekor. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu Sarana dan Prasarana Kesehatan yang lebih Spesifik penaggulangannya terhadap kesehatan hewan.
Oleh karena itu, UHO sebagai motor utama dalam pengembangan kualitas pendidikan di Sulawesi Tenggara untuk menyedikan wadah bagi masyarakat yang mempunyai hewan atau generasi mudah yang memiliki kemampuan dalam merawat dan memeriksa hewan yang memiliki penyakit.Beberapa wadah yang disiapkan oleh Universitas Halu Oleo dikemas dalam bentuk jurusan/program keilmuan dengan dasar ilmu yang berbeda-beda. Hal ini tentunya harus diselaraskan dengan pembangunan saran- sarana Pendidikan untuk membantu pembangunan dasar keilmuannya masing- masing dalam merawat dan memeriksa hewan tersebut.Salah satu keilmuan yang telah
disiapkan oleh Universitas Halu Oleo adalah Program Studi Pendidikan Dokter atau Fakultas Peternakan yang lebih menyangkut dengan kesehatan hewan.
Untuk itu di Kota Kendari perlu adanya sebuah Rumah Sakit Hewan UHO dengan konsep Arsitektur Hijau, Rumah Sakit Hewan UHO ini juga dapat mewadahi masyarakat umum yang memiliki hewan ternak dan hewan peliharan. Melalui pendekatan pemeliharaan kesehatan hewan diharapkan kehadiran suatu lembaga Kesehatan Hewan di Kota Kendari yang benar-benar mendukung dan layak.
Demikian pula dengan suatu wadah yang menampung praktisi-praktisi medik didalam melakukan riset guna kepentingan masyarakat umum, khususnya mahasiswa Fakultas Peternakan yang dapat mengembangkan pengetahuan yang dimiliki. Rumah Sakit Hewan UHO memiliki aspek lingkungan alami dan buatan yang akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan. Dalam proses perencanaan Rumah Sakit Hewan UHO ini dibutuhkan proses persiapan, perencanaan manajemen dan pengelolaannya termaksud pengelolaan limbah hewan menjadi pupuk dan
Volume 1 No 2| Agustus 2016 11 juga sampai akhir proses perencanaan sarana
dan prasarana yang dibutuhkannya. Untuk proses pengelolaan Rumah Sakit Hewan UHO ini juga diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan mahasiswa Fakultas Peternakan.
B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas pada perencanaan Rumah Sakit Hewan UHO ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana merencanakan Rumah Sakit Hewan UHO yang dapat mewadahi kegiatan dan aktifitas yang sesuai dengan fungsinya ?
2. Bagaimana mengaplikasikan prinsip- prinsip Arsitektur Hijau dalam perencanaan Rumah Sakit Hewan UHO ?
3. Bagaimana merencanakan penghawaan, pencahayaan, dan pengolahan limbah pada Rumah Sakit Hewan UHO dengan Konsep Arsitektur Hijau ?
C. Tujuan Perancangan
Untuk menjawab permasalahan yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Rumah Sakit Hewan UHO Dengan pendekatan Arsitektur Hijau dan sebagai bagian dari persyaratan kelengkapan untuk mata kuliah Tugas Akhir.
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Judul
Pengertian judul “Perencanaan Rumah Sakit Hewan UHO Dengan Pendekatan Arsitektur Hijau” dapat diuraikan sebagai berikut :
Perencanaan : hal merencanakan; hal merancangkan [1].
Rumah sakit : Merupakan wadah atau media untuk merawat, dan memberikan pertolongan kesehatan [1].
Hewan : Makhlukhidupselain manusia yang hidup diair, udara atau darat atau hidup didua lingkungan, memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berkembangbiak sesuai dengan ekosistem yang sesuai.[1].
Arsitektur hijau : seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan dengan berdasarkan pada arsitektur hijau (Haven, 1997)[2].
B. Tinjauan Terhadap Rumah Sakit Hewan
1. Pengertian
Menurut menteri Pertanian Nomor : 02/Permentan/OT.140/1/2010, Rumah Sakit
Hewan adalah tempat usaha pelayanan jasa medik veteriner yang dijalankan oleh suatu manajemen dengan dipimpin oleh seorang dokter hewan penanggungjawab, memiliki fasilitas untuk pelayanan gawat darurat, laboratorium diagnostik, rawat inap, unit penanganan intensif, ruang isolasi, serta dapat menerima jasa layanan medik veteriner yang bersifat rujukan.
Dalam peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor. 159b/MEN.KES/PER/II/1988 disebutkan bahwa Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian.
2. Sejarah Rumah Sakit Hewan
Titik tolak perjalanan sejarah dokter hewan Indonesia dimulai pada tahun 1910, hal ini dikarenakan untuk pertama kali lulusan kedokteran hewan berasal NIVS (Netherlands Indische Veeartsen School) hijrah ke Bogor yang kemudian membuat jasa praktik Dokter Hewan. Penyakit hewan menular dan populasi ternak meningkat ada massa kolonial, pendudukan Jepang dan pada masa perjuangan kemerdekaan, untuk itu diperlukan penanganan khusus. Atas dasar tersebut maka dibangunlah berbagai Fakultas Kedokteran Hewan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Cita-cita luhur bagi terwujudnya kesejahteraan manusia melalui dunia hewan sesuai yang tercantum dalam semboyan
”Manusya Mriga Satwa Sewaka” yang berarti Kesehatan hewan dapat meningkatkan kesejahteraan manusia hal ini sejalan dengan Universal Role of Veterinary Profession, peranan profesi veteriner yang bersifat universal.[3].
3. Prinsip – prinsip Arsitektur Hijau Menurut Tri Harso Karyono(2010) bahwa dalam rancangan arsitektur Konsep green building yang telah lama berkembang di Negara maju dapat diterapkan untuk mengurangi polusi udara di lingkungan perkotaan.Dengan tingginya jumlah kendaraan bermotor di Perkotaan menghasilkan gas pencemar yaitu carbon dioksida (CO2) yang cukup tinggi. Gas pencemar ini secara menyeluruh pada kurun waktu lama telah diketahui akan cenderung menyebabkan peningkatan suhu bumi yang semakin panas (global warming). Melalui pemanfaatan konsep green building dengan tata lingkungan
hijau, lansekap vertikal pada bangunan akan mampu menyerap gas carbon dioksida (CO2) yang akan dapat mengurangi terjadinya pencemaran udara dan mengurangi emisi CO2
yang akan naik ke lapisan udara atas yang menyebabkan menipisnya lapisan ozon.dan berimplikasi pada pemanasan bumi yang lebih buruk. Bila konsep ini konsisten dapat dikembangkan maka bumi tidak menjadi lebih panas yang pada gilirannya pengguna gedung konvensi dapat menghemat energi listrik karena tidak lagi menggunakan, AC, kipas angin, exhouse fan, dan lain sebagainya untuk pengkondisian udara pada ruang.
Pada dasarnya dalam arsitektur terdapatprinsip-prinsip green architecture yaitu:
1) Hemat energi/Conserving energi : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan.
2) Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendesain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.
3) Minimizing new resources : Mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang .
4) Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.
5) Tidak berdampak negative bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti.bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada).
6) Merespon keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.
7) Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan / Holism : Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita. ( Karyono :2010)
METODE PEMBAHASAN
Metode pembahasan yang digunakan yaitu dengan metode deskriptif yaitu mengumpulkan dan menguraikan data primer dan data sekunder:
1. Data primer, yaitu data yang didapatkan dari data wawancara dan observasi lapangan dan studi banding.
2. Data sekunder, yaitu data yang didapatkan melalui studi literatur dan referensi (online dan offline) serta dokumentasi.
PEMBAHASAN DAN HASIL
RANCANGAN
A. Lokasi dan Tapak 1. Lokasi
Lokasi perencanaan Rumah Sakit Hewan UHO Dengan Pendekatan Arsitektur Hijau berada pada kampus utama Universitas Halu Oleo yang berada di Jalan HEA. Mokodompit.
Gambar 1 : Kawasan Kampus Universitas Halu Oleo (Sumber: Peta Citra Kendari, Februari 2014 )
Luas kawasan Universitas Halu Oleo ± 250 ha yang berbatasan dengan :
Utara : Hutan kampus.
Selatan : Hutan Kampus Timur : Fakultas Peternakan.
Barat : Hutan Kampus
2. Tapak /Site
Adapun perencanaan site/ tapak, berdasarkan Central Place Theorymaka tapak berada pada area sentral/ pusat dari kawasan Kampus Universitas Halu Oleo dengan deskripsi site : Lokasi : Kawasan Kampus UHO.
Luas : ± 1,6 Ha.
Kondisi tanah : Lembab 3. Lokasi dan Site Terpilih
Lokasi dan site terpilih terletak di Universitas Halu Oleo samping Fakultas Peternakan,dengan kondisi lingkungan sekitar sebagai berikut :
Volume 1 No 2| Agustus 2016 13 B. Tampilan Bangunan
Pada rancangan ini tampilan bangunan menerapkan konsep arsitektur hijau, dapat dilihat dari bentuk dan material yang digunakan. Tampilan bangunan Rumah Sakit Hewan UHO disesuaikan dengan fungsi serta tampilan bangunan yang ada di dalam lingkungan Universitas Halu Oleo.
C. Arah Orientasi Bangunan
Arah orientasi bangunan Rumah sakit hewan uho adalah ke arah selatah, arah tersebut dipilih dengan mempertimbangkan view yang terbaikdari dan keluar site dan potensi bangunan yang langsung berhadapat dengan jalan.
Arah Selatan dipilih karena view keluar yang baik mengarah pada Jln. H.E.A Mokodompit, tepatnya mengarah pada jalan poros. Untuk view masuk yang baik, dengan mempertimbangkan keindahan view bangunan dari luar dilalui kendaraan, sehingga dapat dilihat oleh publik.
D. Pencapaian ke Tapak
Pencapaian dapat ditempuh dengan cepat, baik dari arah Fakultas MIPA, ataupun dari arah Fakultas Pertanian. Dimana Jln. H.E.A Mokodompit merupakan jalur yang sering dipakai para pengguna kendaraan sebagai jalur alternatif sebab letaknya strategis. Untuk main entrance dan side entrance diletakkan pada arak selatan tapak yaitu Jln. H.E.A Mokodompit.
Main Entrance Side Entrance
1. Orientasi Matahari dan Arah Angin Orientasi matahari pada tapak dimanfaatkan sebagai pencahayaan alami pada bangunan. Pencahayaan alami didapat melalui jendela yang terbuka lebar pada sisi bangunan dengan material full kaca, ventilasi, jalusi serta void. Selain hal tersebut pencahayaan pada Gambar 2. Kondisi lingkungan site
Gambar 5. Tampak Atas
Gambar 4. Orientasi Bangunan
Gambar 4.Sirkulasi dan Pencapaian ke Tapak
Gambar 6. Parkir 45º Pada Roda Dua dan Roda Empat
Gambar 3. Tampilan bangunan
Volume 1 No 2| Agustus 2016 14 bangunan dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu sebagai berikut :
a. Bangunan didesain transparan disisi Timur dan Barat dengan atap yang terbuka lebar yang merupakan arah datang sinar matahari. Namun untuk menghindari cahaya matahari yang berlebihan maka bentuk atap didesain lebar yang berfungsi sebagai shading.
b. Membuka dua sisi bangunan, yaitu dari arah Selatan dan Utara, sehingga cahaya dapat masuk secara tidak langsung.
Kondisi angin yang cukup kuat pada area laut dapat menjadi potensi dan masalah.
Menjadi masalah karena hal ini karena akan memberi beban angin pada bangunan dan menjadi potensi karena kondisi ini dimanfaatkan sebagai penghawaan alami pada bangunan. Bentuk atap pada bangunan mengikuti pola hembusan angin, sehingga distribusi angin dapat terarahkan dengan baik ke seluruh tapak. Begitupula dengan penataan vegetasi sebagai pemecah angin sehingga angin dapat termanfaatkan dengan baik pada bangunan.
2. Kebisingan (Noise)
Kebisingan yang terdapat disekitar tapak disebabkan oleh beberapa faktor seperti kenderaan, baik mobil ataupun motor.
Kebisingan ini direduksi dengan langkah- langkah sebagai berikut :
a. Menempatkan pohon dan tanaman sebagai barrier,
b. Membuat dinding pembatas,
c. Jarak antara bangunan dan jalan disesuaikan,
E. Konsep Tata RuangLuar 1. Sistem Parkir
2. Soft material
Palem raja, berfungsi sebagai tanaman pengarah untuk sirkulasi, baik kendaraan maupun pejalan kaki yang diletakkan pada sirkulasi kendaraan.
Rumput manila, sebagai tanaman penutup tanah (Ground Cover).
3. Hard Material
Paving blok digunakan sebagai pedestrian, sirkulasi pejalan kaki, jalur kendaraan roda dua dan empat.
Gambar 7. Pola hembusan angin pada bangunan
Gambar 8. Vegetasi sebagai peredam kebisingan
Gambar 10. Palem Raja
Gambar 12. Bunga Kertas Gambar 9. Tampak Atas
Gambar 11. Rumput Manila
Volume 1 No 2| Agustus 2016 15 Grass block pada beberapa bagian tapak
sebagai penutup permukaan tanah yang memungkinkan air masuk dan mengalir ke lapisan yang lebih bawah.
F. HASIL RANCANGAN STRUKTUR Pemilihan sub struktur (pondasi) dengan pertimbangan kondisi tanah pada lokasi.
Adapun jenis sub struktur yang digunakan adalah dengan menggunakan pondasi tiang pancang dan pondasi menerus.
1. Modul struktur
Modul secara horizontal menggunakan pola grid dan terpusat Karena mengikuti bentuk dasar bangunan yang mengadopsi bentuk dasar yaitu segi empat. Bentuk kolom menggunakan kolom segi empat dengan dimensi kolom 40cm dengan jarak antar kolom 600 cm.
Gambar 15. Sistem Modul Struktur.
1. Sub Struktur
Pemilihan sub struktur (pondasi) dengan pertimbangan kondisi tanah pada lokasi. Adapun jenis sub struktur yang digunakan adalah dengan menggunakan pondasi tiang pancang dan pondasi menerus.
2. Super Struktur
Sistem struktur vertikal menggunakan kombinasi sistem rangka kaku dan struktur horizontal menggunakan sistem plat datar dan menggunakan dinding akustik. Sedangkan untuk pengisi dari super struktur itu sendiri menggunakan bata, partisi, kaca, serta alumunium composit panel.
3. Upper Struktur
Untuk atap yang mempunyai bentangan yang besar dipergunakan struktur rangka space frame, sedangkan untuk ruang-ruang lain menggunakan green roof dengan alasan sifatnya kaku, kekuatan kuat terhadap tarik dan tekan, macam perencanaan bervariasi dan
Gambar 16. Pondasi Tiang Pancang Gambar 13. Paving Blok
Gambar 14. Grass Block
Gambar 17. Struktur Rangka Kaku
Gambar 18. Dinding Akustik
pelaksanaanya bisa dalam waktu singkat.untuk efesiensi pencahayaan dan menghemat energy maka diterapkan sky light, juga untuk menyempurnakan penerapan prinsip arsitektur hijau maka menggunakan green roof.
G. Hasil Rancangan Utilitas 1. Instalasi Listrik
Sistem elektrikal selain berasal dari PLN juga berasal dari genset sebagai sumber listrik cadangan.Genset dilengkapi dengan Automatic Transfer Switch sehingga dapat langsung dikirim apabila terjadi pemadaman listrik dari PLN.
2. Jaringan Air Bersih
Jaringan air bersih dilayani oleh gabungan
sumber PDAM dan sumur
pompa.Pendistribusian air dimulai dari menampung air sementara, baik yang berasal dari PDAM maupun air tanah pada bak penampungan bawah (reservoir bawah) untuk selanjutnya di teruskan ke bak penampungan atas (reservoir atas).Kemudian air didistribusikan ke unit-unit yang membutuhkan dengan menggunakan boster.
3. Jaringan Air Kotor
Sistem pembungan disposal padat menggunakan septictank dan sumur resapan dengan dasar pertimbangan letak toilet tersebar. Untuk disposal cair diteruskan ke bak kontrol dan diteruskan ke got besar yang selanjutnya diteruskan ke riol kota.
Pembungan air hujan dialirkan ke got besar dan kemudian diteruskan ke saluran pembungan kota.
4. Persampahan
Samapah-sampah yang berupa sisa-sisa bahan padat dikumpulkan, menuju ketempat penampungan (bak sampah). Sampah yang dikumpulkan pada bak sampah dan ditempatkan pada titik tertentu diangkat oleh cleaning servis ke bak penampungan sementara yang selanjutnya akan diangkut oleh mobil sampah untuk diteruskan ke tempat pembungan akhir.
5. Sistem Pengolahan Limbah
Penerapan sistem pengolahan limbah sebagai bahan energi alternatif teknologi biogas merupakan salah satu teknologi yang tepat untuk mengolah limbah hewan. Hasil proses perombakan tersebut dapat menghasilkan pupuk organik cair yang bermutu berupa gas yang terdiri dari gas metana (CH) dan gas karbon dioksida (CO) gas tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar gas (BBG) yang biasa disebut biogas.
Sistem Pengolahan Limbah untuk Rumah Sakit Hewan UHO dapat diuraikan sebagai berikut :
Gambar 23: sistem pengolahan limbah Gambar 20. Lapisan Struktur Roof Garden
Gambar 19. Green Roof
Gambar 21. Plat Beton
Gambar 22. Sistem Pembuangan Sampah
Volume 1 No 2| Agustus 2016 17 Keterangan :
1. Limbah hewan dibawah ke tempak pengadukan lalu dialirkan ke biogester melalui pipa.
2. Limbah hewan yang sudah diproses dialirkan kembali melalui pipa saluran biogas menuju rumah biogas.
3. Limbah hewan yang sudah diproses dapat juga dialirkan ke kolam output untuk menghasilkan pupuk biogas.
H. Sistem Pengkondisian Ruang 1. Sistem Pencahayaan
Pada umumnya ruangan menggunakan pencahayaan alami. Pemanfaatan sinar matahari sebagai pencahayaan ruangan didukung oleh bukaan berupa dinding kaca.
Adapun penggunaan cahaya buatan pada malam hari menggunakan penerangan berupa lampu dengan mengggunakan sistim sell (panel surya) yang mengubah cahaya matahari menjadi tenaga listrik.
Pada umumnya ruangan menggunakan pencahayaan alami. Pemanfaatan sinar matahari sebagai pencahayaan ruangan didukung oleh bukaan berupa dinding kaca.Adapun penggunaan cahaya buatan pada malam hari menggunakan penerangan berupa lampu dengan mengggunakan sistim sell (panel surya) yang mengubah cahaya matahari menjadi tenaga listrik.
2. Sistem Penghawaan
Sistem penghawaan dilakukan dengan dua cara yaitu penghawaan alami dan penghawaan buatan. Penghawaan alami dilakukan dengan memberi bukaan pada area terentu dengan perpaduan menggunakan tirai bambu yang juga digunakan sebagai pembatas fisual sehingga mampu mereduksi cahaya silau matahari langsung ke dalam ruangan , serta memanfaatkan elemen air sebagai penyejuk buatan yang akan menahan radiasi panas masuk ke dalam ruangan secara langsung.
Untuk penghawaan buatan menggunakan AC central pada ruangan ruang-ruang yang besar seperti ruang pimpinan , Ruang Dokter dan sebagainya. Untuk AC unit sistem pengoperasiannya relatif mudah dan dapat sewaktu-waktu digunakan, AC jenis ini digunakan pada ruang-ruang yang kecil seperti ruang pengelola dan lain-lain.
I. Perancangan Mikro
Perencanaan Rumah Sakit Hewan UHO Dengan pendekatan Arsitektur Hijau
1. Kebutuhan dan Besaran Ruang
a. Besaran Ruang Fasilitas Pengelola
No Nama Ruang Jumlah
Luasan Sesudah Desain (m²)
1 Ruang Tunggu 1 40
2 Ruang Pimpinan a. Km/Wc
1 1
27 4,5
3 Ruang Wakil
Pimpinan
1 18
4 Ruang Sekretaris 1 18
5 Ruang Wakil
Sekretaris
1 18
6 Ruang Kepala Tata Usaha
1 24
7 Ruang Staf 1 24
8 Ruang Staf
Administrasi
1 54
9 Ruang Rapat 1 54
10 Ruang Dokter a. Km/Wc
1 1
54 9
11 Ruang Perawat 2 36
11 Ruang Arsip 1 36
12 Ruang perpustakaan 1 54
13 Musholla a. Tempat
Wudhu
1 2
36 18
14 Gudang 1 18
15 Pantry 1 18
16 Lavatory
b. Perhitungan Ruang Fasilitas Medik.
No. Nama ruang Jml
Luasan sesudah desain (m2) 1 Kamar Inap Hewan Anjing 1 54 2 Kamar Inap Hewan Kucing 1 54 3 Kamar Inap Hewan Burung
Merpati 1 32
4 Kamar Inap Hewan Kelinci 1 54
5 Kamar Inap Hewan
Kambing 1 54
6 Kamar Inap Hewan Monyet 1 36
7 Kamar Inap Hewan Reptil 1 36
7 Ruang Operasi 2 90
8 Ruang Operasi Aseptik 1 36 9 Ruang Persiapan Pemeriksa 1 90
10 Ruang Pemeriksa 1 108
11 Ruang Pemulihan 1 66
12 Ruang Sterilisasi 1 36
13 Ruang ICU 1 36
14 Ruang periksaan Hewan
Besar 6 25
15 Ruang Pemeriksaan hewan
Kecil 6 25
16 Ruang X-Ray 1 54
17 Ruang konsultasi 1 24
18 Ruang obat 1 18
19 Ruang pengobatan 1 72
20 Ruang Rontgen 1 36
21 Ruang Kendali 1 36
22 Ruang Isolasi 2 72
23 Ruang Beku Hewan 1 108
24 Ruang kereta 1 36
25 Animals Salon 1 36
26 Minimarket Animals 1 54
27 Food Hall 1 90
c. Bangunan dan Fasilitas Parkir
No. Nama ruang Jumlah
Luasan sesudah desain (m2)
1 Bangunan Utama 1 5184
2 Bangunan ME 1 1200
3 Bangunan Pengolahan
Limbah 1 1200
4 Bangunan Kandang
Hewan 2 3000
5 Fasilitas Parkir 1 1750
Luas terbangun : 4.020 m² Luas lahan yang dibutuhkan adalah :
Luas lahan keseluruhan = Lantai dasar + parkir + kandang hewan
= 4.020+ 3.500 + 3.900x 40 %
= 15.988± 1.6 Ha
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil rancangan mengenai Perencanaan Rumah Sakit Hewan UHO, maka dapat disimpulkan bahwa Pendekatan desain Rumah Sakit Hewan UHO dengan konsep arsitektur hijau, adalah dengan penataan tampilan bangunan, penataan dalam bangunan, pengaturan tapak yang memanfaatkan keadaan sekitar lingkungan dan pengolahan limbah hewan yang diolah sebagai biogas untuk penghematan energi listrik. Untuk menunjang pembangunan dengan arsitektur hijau yang menjawab permasalahan dengan mengacu pada Prinsip- prinsip arsitektur hijau dan penerapannya terhadap bangunan itu sendiri.
Pengimplementasian tersebut dilakukan dengan memanfaatkan vegetasi dengan bentuk konstruksi yang mengutamakan nilai estetika seperti vertical garden dan green roof dan memperbanyak lahan terbuka hijau (garden development) serta menggunakan material
yang berkelanjutan dalamdan tidak merusak lingkungan serta menjaga ekosistem alam yang sudah adazona sedang dan zona dalam.
REFERENSI
[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Balai Pustaka, Jakarta, 1991.
[2] Soehadji. DR, dkk. 2010. Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 02/Permentan/OT.140/1/2010 dan, 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia, Jakarta : Yayasan Hemera Zoa, halaman 10
[3] Haven, 1997, Arsitektur Hijau.
[4] Dinas Pertanian dan Perternakan Kota Kendari.