5 Aksioma Komunikasi Menurut Paul Watzlawick Uswatun hasanah
Mahasiswa komunikasi dan penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Pontianak
PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang menjadi dasar interaksi sosial. Setiap tindakan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, mengandung elemen komunikasi. Dalam kajian komunikasi, salah satu konsep penting yang sering dibahas adalah aksioma komunikasi yang diperkenalkan oleh Paul Watzlawick dan koleganya dalam buku mereka yang berjudul Pragmatics of Human Communication. Konsep ini menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang mendasari interaksi manusia, khususnya dalam konteks komunikasi interpersonal.
Pemahaman tentang aksioma komunikasi menjadi penting untuk diterapkan dalam berbagai bidang, seperti psikologi, pendidikan, hubungan interpersonal, dan pengembangan organisasi. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar ini, kita dapat lebih efektif dalam menyelesaikan konflik, membangun hubungan, dan meningkatkan kualitas interaksi. Artikel ini akan membahas lebih lanjut lima aksioma komunikasi menurut Paul Watzlawick, sekaligus memberikan ilustrasi nyata untuk mempermudah pemahaman.
Aksioma 1: “Seseorang tidak dapat berkomunikasi”.
Mustahil bagi kita untuk tidak berkomunikasi bahkan saat kita diam. Tubuh kita selalu mengirimkan pesan.
Contoh: Ketika di ruang rapat ada seseorang yang duduk diam dengan tangan disilangkan di dada, wajahnya sangat terlihat bosan dan tidak mengatakan apa pun. Meskipun dia tidak berbicara sedikit pun namun sikap tubuhnya itu memberikan pesan kepada orang lain. Dengan arti bahwa dia mungkin tidak tertarik dengan perbincangan rapat tersebut atau dia tidak setuju dengan hal yang di bahas
Aksioma 2: "Setiap komunikasi mempunyai aspek isi dan hubungan sedemikian rupa sehingga yang terakhir mengklasifikasikan yang pertama dan karenanya merupakan meta-komunikasi."
Isi setiap komunikasi ditafsirkan tergantung pada konteks hubungan antara komunikator.
Contoh: Seorang teman berkata "Kamu nggak pernah jawab chat Aku". Perkataan tersebut jika dikatakan dengan nada bercanda maka mengartikan bahwa dia menunjukkan hubungan mereka santai dan akrab. Tetapi berbanding terbalik jika perkataan tersebut dikatakan dengan nada dingin, itu artinya dia menunjukkan bahwa teman tersebut merasa diabaikan atau marah.
Aksioma 3: "Sifat suatu hubungan bergantung pada tanda baca prosedur komunikasi mitra."
Dalam komunikasi, ada rangkaian tindakan dan reaksi yang saling berhubungan. Orang cenderung memahami komunikasi berdasarkan interpretasi urutan peristiwa (siapa yang memulai, siapa yang merespons). Perbedaan persepsi mengenai urutan ini dapat menyebabkan konflik.
Contoh: bena berkata :" Aku marah karena kamu selalu sibuk dan tidak punya waktu luang untukku"
Lana menjawab: "aku sibuk karena kamu selalu mengeluh soal penghasilan kita
Pada komunikasi ini bena merasa bahwa kesibukan lana adalah penyebab permasalah itu terjadi namun sebaliknya menurut lana bahwa keluhan bena adalah penyebab lana sibuk melakukan pekerjaannya. Perbedaan persepsi tentang siapa yang memulai suatu masalah dapat memperpanjang konflik.
Aksioma 4: "Komunikasi manusia melibatkan modalitas digital dan analog."
Contoh: Ada seorang pasangan berkata "Aku tidak apa apa" Namun ketika mengatakan tersebut ekspresi wajahnya murung, nada suranya terdengar dingin dan dia menghindari kontak mata.
Ini kita dapat mengartikan bahwa ketika dia berkomunikasi digital (kata kata) dia menyatakan baik baik saja, tetapi komunikasi analog (non verbal) menyampaikan bahwa perasaan yang dia rasakan bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan bisa diartikan sedang marah atau kecewa.
Aksioma 5: "Prosedur komunikasi antarmanusia bersifat simetris atau komplementer, tergantung pada apakah hubungan mitra didasarkan pada perbedaan”
1. Hubungan simetris (setara)
Ada dua teman yang berbicara dengan posisi setara
syakila: "aku butuh saran untuk memilih wisata saat liburan nanti"
ahmad:" aku juga bingung ni, mungkin kita bisa diskusi bareng untuk cari tempat wisata yang bagus"
Pada komunikasi ini bersifat simetris (setara) karena kedua pihak merasa sejajar dan saling berbagi ide tanpa adanya perbedaan kekuasan
2. Hubungan komplemen (hierarkis):
Ada orang tua yang berkata pada anaknya:
"kamu tidur sekarang, sudah malam besok biar tidak kesiangan"
Anak tersebut menjawab: "Baik ayah"
Hubungan komunikasi ini bersifat komplemen karena orang tua memiliku otoritas yang lebih tinggi dibandingkan anak, dan anak menuruti perintah tersebut.
KESIMPULAN
Paul Watzlawick, melalui teori lima aksioma komunikasi, memberikan landasan penting untuk memahami kompleksitas interaksi manusia. Kelima aksioma tersebut menunjukkan bahwa komunikasi adalah proses yang tak dapat dihindari, multidimensional, dan dipengaruhi oleh konteks hubungan antarindividu. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Paul Watzlawick, kita dapat meningkatkan efektivitas komunikasi, memperbaiki hubungan sosial, serta mengurangi potensi konflik yang muncul akibat kesalahan persepsi. Pada akhirnya, teori ini menjadi pengingat bahwa komunikasi tidak hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana hubungan dan makna dibangun di dalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Watzlawick, P., Beavin, J. H., & Jackson, D. D. (1967). Pragmatics of Human Communication.
New York:
W. W. Norton & Company.
Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2010). Theories of Human Communication. Belmont:
Wadsworth.