5 (1) (2022) 76-83
Journal of Curriculum Indonesia
http://hipkinjateng.org/jurnal/index.php/jci
Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Kelas I dan IV dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu Melalui Pendampingan Kurikulum 2013
Bejo
UPTD Pendidikan Kecamatan Tanggungharjo Grobogan, Indonesia
Info Articles
____________________
Keywords:
Pendampingan Kurikulum 2013, Kompetensi menyusun RPP Tematik Terpadu _________________________
Abstract
________________________________________________________________
Penelitian ini bertolak dari hasil temuan melalui Pendampingan Kurikulum 2013 dari 8 guru kelas I dan IV di 4 sekolah binaan yang mengimplementasikan Kurikulum 2013, pelaksanaaan pembelajaran masih fokus pada mata pelajaran dan belum menggunakan pembelajaran tematik terpadu. Alasan guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu terasa sangat sulit, hal ini terjadi karena belum ada pendampingan dalam penyusunan RPP Tematik Terpadu terhadap guru kelas pada sekolah yang melaksanakan kurikulum 2013. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan RPP Tematik Terpadu, yang diharapkan berimplikasi pada terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran di kelas I dan IV di Gugus Hasanudin Kecamatan Tanggungharjo. Metode penelitian tindakan sekolah (action research) dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tahapan Perencanaan,Pelaksanaan,Observasi dan Refleksi dalam setiap siklusnya. Hasil penelitian tindakan sekolah terhadap penyusunan RPP Temati Terpadu melalui pendampingan Kurikulum 2013 pada kelas I dan IV nilai rata-rata masin g –masing Pra Siklus 59 (kurang), Siklus I 69 (cukup) dan Siklus II 82 ( baik). Dengan perolehan nilai rata-rata tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui pendampingan kurikulum 2013 dapat meningkatkan kompetensi menyusun RPP Tematik Terpadu bagi Guru Kelas I dan IV di Gugus Hasanudin Kecamatan Tanggungharjo Tahun 2017. Selanjutnya peneliti merekomendasikan: (1) Guru menyusun RPP Tematik Terpadu dapat dilaksanakan dalam pembelajaran tematik di kelas. (2) Dalam pembelajaran guru perlu diarahkan untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan baik, agar pembelajaran dapat efektif dan efisien.(3) Kesulitan-kesulitan guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran perlu didukung oleh sekolah dalam hal sarana prasarana yang mendukung dalam penyusunan RPP Tematik terpadu secara optimal.
e-ISSN 2549-0338
Journal of Curriculum Indonesia 5 (1) (2022) PENDAHULUAN
Pembelajaran adalah proses interaksi Pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran meliputi perencanakan, pelaksanakan, penilaian.
Berdasarkan Permendikbud nomor 22 Tahun 2016, guru harus mampu melakukan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan menarik dan bermakna untu siswa dalam mencapai kompetensi lulusan yang mencakup Kompetensi Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan.
Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Berkenaan dengan kompetensi profesional, seorang guru harus mampu melakukan merencanakan dan mengelola kelas dengan baik.
Setiap guru berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran dapat memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Peserta didik yang berada pada kelas satu,dua dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.dengan demikian pembelajaran yang paling efektif dan dalam rangka implementasi Standar proses yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas rendah lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Sudah barang tentu ketika guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kurikulum 2013, juga disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran tematik, yaitu adanya perencanaan pembelajaran RPP Tematik Terpadu.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan Pengawas Sekolah, terhadap guru kelas I dan IV di Sekolah Binaan yang mengimlementasikan kurikulum 2013, kenyataan yang diperoleh dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran maupun Kegiatan Belajar Mengajar masih menggunakan pola lama yaitu menyusun RPP masih terpisah-pisah setiap muatan pelajaran dan melaksanakan pembelajaran belum menggunakan pembelajaran tematik. Atas dasar pemikiran tersebut maka diperlukan adanya pendampingan/tindakan perbaikan kepada guru kelas I dan IV agar terampil menyususn RPP Tematik Terpadu sesuai tuntutan Kurikulum 2013.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul
“Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Kelas I Dan IV dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu Melalui Pendampingan Kurikulum 2013 di Gugus Hasanudin Tanggungharjo Tahun 2017“ .
METODE
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dari perencanaan sampai pelaporan dilaksanakan dalam waktu tiga bulan. Adapun jadwal penelitian disusun sebagaimana terdapat pada tabel 3.1 sebagai berikut:
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian N
o
Uraian Kegiatan Agustus Septembe
r Oktober
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Kegiatan
Pra siklus
2 Pembinaan guru kelas I dan IV dan Persiapan
Journal of Curriculum Indonesia 5 (1) (2022) penyusunan RPP Siklus I
3 Pemantauan dan penilaian RPP Tematik Terpadu Kelas Idan IV Siklus I
4 Pembinaan guru perbaikan RPP kelas I dan IV dan Persiapan penyusunan RPP Siklus II 5 Pemantauan dan
penilaian RPP Tematik Terpadu Kelas I dan IV Siklus II
6 Analisis penilaian dan Penyelesaian Laporan PTS
Penelitian dilaksanakan di 4 sekolah binaan yang mengimplementasikan Kurikulum 2013 di Daerah Binaan III (Gugus Hasanudin) Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan. Peneliti memilih sekolah tersebut karena sebagai Pengawas Sekolah yang mempunyai tugas pokok dan fungsi supervisi di 10 Sekolah Binaan dan diantara 10 Sekolah Binaan ada 4 Sekolah sebagai Pailot Projek Penyelenggara Kurikulum 2013.
Dari hasil pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan peneliti pada guru-guru kelas I dan IV diperoleh bahwa guru-guru kelas I dan IV tersebut belum menerapkan pembelajaran tematik di kelasnya, hal ini disebabkan guru belum mampu membuat RPP tematik Terpadu, sesuai dengan Kurikulum 2013 dan tuntutan standar proses yang diharapkan.
Berdasarkan kenyataan tersebut maka Pengawas Sekolah melakukan Penelitian Tindakan sebagai upaya untuk memperbaiki kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer di dapat dari hasil observasi dengan instrumen pendampingan dan atau monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh peneliti.
Tehnik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pendampingan. Pedoman yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar pendampingan terhadap penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun guru. Alat pengumpul data yang adalah instrument pendampingan, digunakan untuk memperoleh data tentang skor yang diperoleh oleh guru sebelum mendapatkan pendampingan, dan hasil skor yang diperoleh oleh guru setelah mendapatkan pendampingan yang berlangsung selama dua siklus I dan II.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu secara kuantitatif dan kualitatif.
Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif. Data diperoleh dari hasil skor pendampingan monitoring dan evaluasi RPP Tematik terpadu pada pra siklus, siklus I dan siklus II.
Langkah penghitungannya adalah sebagai berikut : 1. menghitung skor tiap aspek yang diperoleh peserta 1-5 2 . menghitung komulatif dari seluruh aspek
Teknik kualitatif digunakan untuk mengkategorikan keberhasilan guru dalam menyusun RPP, dari hasil perolehan skor komulatif dari instrument pendampingan penyusunan RPP. Adapun Katagori dalam tingkat keberhasilan penyusunan RPP adalah dengan sebutan sebagai berikut:
1. 91% - 100% = Amat Baik 4. 51% - 60% = Kurang Baik 2. 76% - 90% = Baik 5. <50% = Tidak Baik 3. 61% - 75% = Cukup
Penelitian ini dilakukan bukan hanya mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan kurang berhasilnya hasil dari pembelajaran yang dihadapi seperti kesulitan guru dalam menyampaikan
Journal of Curriculum Indonesia 5 (1) (2022)
materi, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan pemecahan masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan perencanaan, kualitas proses dan hasil belajar.
Prosedur pelaksanaan dalam penelitian tindakan sekolah (PTS) ini meliputi penetapan fokus permasalahan pra siklus, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan yang diikuti dengan kegiatan observasi, interpretasi, dan analisis, serta refleksi. Adapun rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.1
Siklus Kegiatan Penelitian Tindakan Sekolah
Sebagai indikator kinerja dalam penelitian tindakan kelas ini adalah jika guru kelas I dan IV Di Gugus Hasanudin Daerah Binaan III Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan, memperoleh nilai rata-rata komulatif minimal 76 dengan kategori Baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kondisi Awal (Pra Siklus)
Kondisi awal merupakan kondisi sebelum adaa tindakan, peneliti melakukan pengamatan monitoring dan evaluasi dalam menyusun RPP Tematik Terpadu. Hasil pengamatan diperoleh data kompetensi guru kelas I dan IV dalam menyusun RPP tematik terpadu dengan nilai rata-rata 59 ( Kurang).
Adapun kondisi awal penyusunan RPP dapat dilihat pada gambar 4.1 sebagai berikut : Gambar 4.1
Rekapitulasi Hasil Pengamatan
Penyusunan RPP Tematik Terpadu Kelas I Dan IV Pra Siklus
Permasalahan Perencanaan
Tindakan - I
Pelaksanaan Tindakan - I
Pengamatan/
Pengumpulan Data - I SIKLUS - I
Permasalahan baru, hasil
Refleksi
Refleksi - I
Perencanaan
Tindakan - II Pelaksanaan Tindakan - II
Pengamatan/
Pengumpulan Data - II SIKLUS - II
Refleksi - I Permasalahan
baru, hasil Refleksi
SIKLUS - II
Bila Permasalahan Belum Terselesaikan
Refleksi - II
Dilanjutkan ke Siklus Berikutnya
Journal of Curriculum Indonesia 5 (1) (2022)
2. Hasil Tindakan Siklus I
Setelah dilakukan pendampingan oleh Pengawas sekolah sekaligus peneliti permasalahan- permasalahan yang dihadapi guru dalam menyusun RPP Tematik terpadu ada jalan keluarnya, setiap kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru segera diberikan solusi dan setiap permasalahan secara operasional pengawas mendampingi dalam penyusunan RPP tematik terpadu.
Adapun nilai rata-rata hasil pendampingan pada Siklus I diperoleh nilai pada gambar 4.2 sebagai berikut :
Gambar 4.2
Rekapitulasi Penilaian
Penyusunan RPP Tematik Terpadu Kelas I Dan IV Siklus I
Dari data grafik tersebut dapat dijelaskan bahwa setelah pendampingan dan bimbingan oleh peneliti ada peningkatan nilai rata-rata dari Pra Siklus 59 ( Kurang) dan siklus I 69 (Cukup)
3. Hasil Tindakan Siklus II
Tindakan Siklus II dilaksanakan karena tinakan siklus I kompetensi guru kelas dalam menyusun RP Tematik Terpadu masih perlu ditingkatkan. Refleksi dari hasil tindakan Siklus I selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pendampingan yang sifatnya individual dan pembimbingan terhadap guru kelas I dan IV di Gugus Hasanudin Daerah Binaan III pada tahap selanjutnya. Pendampingan yang
Rni Htn Wrs Zul Srn Dnb Arkh Munz Rata- rata
Nilai Pra Siklus 60 63 63 56 57 58 56 58 59
Rni Htn Wrs Zul Srn Dnb Arkh Munz Rata- rata
Siklus I 70 76 79 65 65 72 62 64 69
Journal of Curriculum Indonesia 5 (1) (2022)
dilakukan pada siklus II yaitu pendampingan dan pembinaan yang lebih operasional dan mudah dilaksanakan oleh guru dengan upaya memberikan kemudahan dalam meningkatkan kemampuan menyusun RPP Tematik Terpadu.
Adapun nilai rata-rata hasil pendampingan penyusunan RPP Tematik Terpadu pada Siklus II dapat dilihat pada gambar 4.3 sebagai berikut :
Gambar 4.3
Rekapitulasi Penilaian
Penyusunan RPP Tematik Terpadu Kelas I Dan IV Siklus II
Dari data grafik tersebut dapat dijelaskan bahwa setelah bimbingan pada siklus II terdapat peningkatan nilai dari 69 (Cukup) menjadi 82 (Baik)
4. Pembahasan
Selanjutnya peningkatan kompetensi guru kelas I dan IV dalam menyusun RPP Tematik Terpadu dari Pra siklus, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada gambar 4.4 seperti berikut.
Gambar 4.4
Nilai rata-rata Pendampingan penyusunan RPP Tematik Terpadu pada Pra siklus, siklus I dan Siklus II
Rni Htn Wrs Zul Srn Dnb Arkh Munz Rata- rata
Siklus II 83 92 89 78 76 82 78 78 82
Rni Htn Wrs Zul Srn Dnb Arkh Munz Rata-
rata
Pra Siklus 60 63 63 56 57 58 56 58 59
Siklus I 70 76 79 65 65 72 62 64 69
Siklus II 83 92 89 78 76 82 78 78 82
Journal of Curriculum Indonesia 5 (1) (2022)
Dari gambar di atas nilai rata-rata kompetensi guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu terjadi peningkatan setelah adanya tindakan perbaikan pada guru kelas I dan IV di Gugus Hasanudin Daerah Binaan III, dengan peningkatan nilai rata-rata sebagai berikut :
1. Nilai rata-rata meningkat dari Pra siklus adalah 59 kategori Kurang Baik menjadi 69 kategori Cukup pada Siklus I.
2. Nilai rata-rata kompetensi penyusunan RPP Tematik Terpadu menunjukkan peningkatan yang signifikan dari siklus I 69 kategori Cukup menjadi 82 kategori Baik pada Siklus II PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pendampingan penyusunan RPP Tematik Terpadu dapat mempengaruhi kompetensi kompetensi yang lebih baik pada guru kelas I dan IV di Daerah Binaan III Gugus Hasanudin.
2. Dengan membandingkan hasil perkembangan Kompetensi guru dalam Penyusunan RPP Tematik Terpadu terdapat peningkatan hasil dari Pra Siklus dengan rata-rata nilai 59 kategori (Kurang Baik) Siklus I rata-rata nilai 69 kategori ( Cukup ) dan Siklus II rata-rata nilai 82 kategori ( Baik ). Karena sampai pada siklus II Kompetensi sudah terpenuhi maka siklus III tidak dilanjutkan.
Saran
Selanjutnya peneliti merekomendasikan hal-hal sebagai berikut.
1. Pendampingan dengan pendekatan kolaboratif dapat dilakukan oleh Pengawas Sekolah terhadap guru kelas yang lain di Daerah Binaan III Gugus Hasanudin dalam upaya meningkatkan kompetensi menyusun RPP Tematik Terpadu.
2. Dalam pembelajaran perlu diarahkan persiapan perangkat pembelajaran dengan baik, sehingga pelaksanakan dapat efektif dan efisien.
3. Perlu adanya dukungan sekolah dalam pendanaan dan pembiayaan penyusunan RPP Tematik Terpadu dapat laksanakan dengan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi, Suharjono, dan Supardi.2006.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : PT Bumi Aksara
Bafadal, Ibrahim. 1992. Supervisi Pengajaran: Teori dan Aplikasinya dalam Membina Profesional Guru. Jakarta:
Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta: Dirjen Pendidikan dasar dan Menengah.
Depdikbud,1990,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Depdiknas.2008.Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta EM.Zul Fagri, Ratu Aprilia Senja.Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.Difa Fublisher Fatah, N. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hadikusumo, Kunaryo., Sadjad Sayuti, Achmad Rifai, Agus Salim dan Budiyono. 1995. Pengantar Pendidikan. Se- marang: IKIP Semarang Press
Hamalik, Oemar. 1992. Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum. Bandung: CV. Mandar Maju.
Imron Ali. 1995. Pembinaan Guru Di Indonesia. Malang: Pustaka Jaya.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran (Teori dan Prektek). Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti –P2LPTK.
Oliva, P.F.1984. Supervision for Todays School. New York: Tomas J. Crowell Company.
Permen Diknas Nomor 41 Tahun 2007. Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menen- gah.Jakarta:BSNP
Pidarta, Made. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Purwanto, Ngalim. 1988. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rodakarya.
Journal of Curriculum Indonesia 5 (1) (2022) Sahertian, Piet. 1994. Profil Pendidik Profesional. Yogyakarta: Andi Offset.
Sahertian, Piet. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka Pengembangan Sumberdaya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Samana A. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.
Sergiovani, T. J. 1971. Emerging Paterns Of Supervision: Human Perspective. New York: Mc Graw – Hill Book Company.
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.