STABILITAS PADA
SEDIAAN SEMISOLID DAN CAIR
Kelompok 5
Dosen Pengampu: Karlah Lifie Riani Mansauda S.Farm, Apt, M.Farm
Brigita Joy Minggu 231011050020
ANGGOTA KELOMPOK
Yunita Tanebulo 231011050048
Fikri Liputo 231011050064
Della E. Rongga 231011050022
Tessalonika E. Watung 231011050044
Henricus Delon Danielson 231011050056
Jean S. Homenta 231011050028
Stabilitas merupakan hal yang penting untuk menentukan kualitas, efikasi, dan keamanan suatu produk karena produk yang stabil dapat menentukan keberhasilan pengobatan.
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau kosmetik untuk bertahan dalam batas spesifikasi yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan.
Stabilitas obat merupakan kemampuan suatu produk untuk
mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan yang
dimilikinya pada saat dibuat dalam batasan periode.
UJI STABILITAS
Uji stabilitas sediaan terdiri dari uji stabilitas fisika, kimia, dan mikrobiologi. Uji stabilitas dilakukan untuk menentukan masa kadaluarsa produk yakni jangka waktu penyimpanan pada kondisi tertentu yang menunjukkan produk obat masih memenuhi syarat yang telah ditetapkan spesifikasi.
Uji stabilitas terdiri atas serangkaian tes untuk mendapatkan jaminan kualitas dari produk obat. Uji tersebut meliputi data spesifikasi produk obat yang dikemas dalam bahan kemasan yang ditentukan dan disimpan pada kondisi penyimpanan yang ditentukan dalam jangka waktu yang ditentukan. Uji stabilitas dicantumkan dalam beberapa pedoman untuk memberikan rekomendasi pada studi stabilitas yang diperlukan pihak industri produksi obat atau individu dalam mendapatkan pertimbangan ilmiah tertentu dan karakterisasi produk yang dievaluasi.
UJI KETIDAKSTABILAN FISIK
Stabilitas fisika adalah kemampuan suatu sediaan untuk mempertahankan pemerian, rasa, keseragaman, kelarutan, dan sifat fisika lainnya.
Ketidakstabilan fisik sediaan ditandai dengan adanya pemusatan warna atau munculnya warna, timbul bau, perubahan konsistensi, pertumbuhan kristal atau perubahan bentuk kristal, terbentuknya gas dan perubahan fisik lainnya.
Semisolid
Perubahan struktur kristal 1.
Perubahan kondisi distribusi 2.
Perubahan konsistensi atau kondisi agregat
3.
Perubahan perbandingan kelarutan 4.
Perubahan perbandingan hidratasi 5.
Berikut ini akan diuraikan jenis
ketidakstabilan yang paling penting, tanpa memperdulikan kesempurnaan prosesnya:
KETIDAKSTABILAN FISIK
Ketidakstabilan fisik pada sediaan cair merujuk pada perubahan sifat fisik yang terjadi selama penyimpanan atau penggunaan, seperti sedimentasi, kekeruhan, pemisahan fase, atau perubahan viskositas, yang dapat mengurangi kualitas dan efektivitas produk.
Contohnya, pada sediaan emulsi atau suspensi, ketidakstabilan dapat ditandai dengan terbentuknya lapisan endapan atau fase terpisah akibat pengaruh gravitasi atau ketidakcocokan komponen formulasi . Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan paparan cahaya berperan signifikan dalam mempercepat proses ini.
Liquid
KETIDAKSTABILAN KIMIA
Ketidakstabilan kimia sediaan ditandai dengan berkurangnya konsentrasi zat aktif karena terjadi reaksi atau interaksi kimia, rusaknya eksipien karena hidrolisis dan reaksi sejenis serta pembentukan senyawa lain.
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu sediaan untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensi zat aktif yang tertera pada etiket dalam batasan spesifikasi atau nilai keberterimaan nya dimana stabilitas kimia ini sangat dipengaruhi oleh kondisi dan tempat penyimpanan.
Secara kimia proses kerusakan obat yang sering terjadi adalah proses hidrolisis dan oksidasi.
KETIDAKSTABILAN BIOLOGI
Stabilitas mikrobiologi menampilkan waktu simpan dari sediaan farmasi selama periode penyimpanan untuk mencegah efek terjadinya kontaminasi mikroba.
Ketidakstabilan mikrobial pada sediaan farmasi adalah parameter kritis dalam mengevaluasi penampilan dan kualitas produk karena mikroba juga dapat mempengaruhi sifat fisikokimia produk yang akhirnya dapat menurunkan shelf life. Stabilitas mikrobiologi produk sangat penting untuk kemanjuran dan keamanan obat produk. Khasiat pengawet harus tetap tidak berubah dalam batas waktu yang ditentukan, selain itu pengawet ditambahkan dengan tujuan pencegahan. pertumbuhan mikroba di sediaan farmasi. Jika suatu produk terkontaminasi pathogen dapat mengakibatkan konsekuensi yang parah bagi kesehatan konsumen.
UJI STABILITAS FISIK SEMI SOLID
Uji Organoleptik: Mengamati perubahan visual seperti warna, bau, dan bentuk. Perubahan bau atau warna dapat mengindikasikan degradasi bahan aktif atau interaksi antar komponen.
Uji Homogenitas: Menilai keseragaman distribusi bahan dalam sediaan.
Sediaan homogen menunjukkan tidak adanya gumpalan atau fase terpisah, yang menandakan distribusi zat aktif merata.
Uji pH: Pengukuran pH penting untuk memastikan sediaan sesuai dengan pH kulit (untuk produk topikal) atau sesuai kebutuhan farmakologis. Perubahan pH dapat menunjukkan degradasi bahan aktif atau ketidakstabilan formulasi.
Pengujian Stabilitas Krim dengan Sentrifugasi: ni dilakukan untuk mengetahui adanya pemisahan fase pada sediaan krim (Handali, et al., 2011).
UJI STABILITAS FISIK SEMI SOLID
Uji Daya Sebar: Mengukur kemampuan sediaan untuk menyebar di permukaan aplikasi. Daya sebar yang baik menunjukkan tekstur yang sesuai untuk penggunaan, sedangkan penurunan daya sebar bisa menunjukkan peningkatan viskositas atau kekentalan.
Uji Stabilitas Suhu Ekstrem (Freeze Thaw Cycle): Sediaan disimpan bergantian pada suhu rendah (misalnya 4°C) dan suhu tinggi (misalnya 40°C). Proses ini mempercepat kemungkinan terjadinya perubahan fisik, seperti pemisahan fase atau perubahan konsistensi. Metode ini digunakan untuk memprediksi stabilitas dalam jangka panjang dalam waktu yang lebih singkat.
Daya Lekat: Plat kaca yang saling menempel dipasang pada alat uji daya lekat dan dilepas dengan beban 80 g, kemudian dicatat waktu saat kedua plat tersebut lepas. Replikasi dilakukan sebanyak tiga kali
UJI STABILITAS FISIK SEMI SOLID
Metode Cycling Test: Uji cycling test ini dilakukan sebanyak 6 siklus. Sediaan disimpan pada suhu dingin 4°C selama 12 jam lalu dikeluarkan dan ditempatkan pada suhu 40°C, proses ini dihitung 1 siklus. Kondisi fisik krim dibandingkan selama percobaan dengan sediaan sebelumnya (Rieger, 2000).
UJI STABILITAS FISIK CAIR
Uji organoleptik :Uji ini mencakup pengamatan visual dan sensorik seperti warna, bau, rasa, dan bentuk.
Uji Kejernihan :Kejernihan diuji secara visual untuk mendeteksi adanya partikel asing, kekeruhan, atau endapan.
Uji homogenitas : Homogenitas penting untuk menjamin dosis yang konsisten setiap kali digunakan. Pengendapan atau pemisahan fase menunjukkan adanya masalah stabilitas.
Uji Ph : Perubahan pH dapat mempengaruhi kestabilan bahan aktif, rasa, dan potensi iritasi pada tubuh. Sediaan liquid biasanya memiliki rentang pH tertentu yang harus dipertahankan agar tetap aman dan efektif.
Uji viskositas : Viskositas yang terlalu rendah dapat mempengaruhi kenyamanan penggunaan, sedangkan viskositas yang terlalu tinggi bisa menyulitkan proses pengeluaran produk.
UJI STABILITAS KIMIA
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk farmasi dalam mempertahankan keutuhan kimiawi dan juga potensi zat aktif yang tertera dalam batasan spesifikasi atau nilai keberterimaannya dimana stabilitas kimia ini sangat dipengaruhi oleh kondisi dan tempat penyimpanan.
Melibatkan reaksi kimia seperti:
hidrolisis 1.
oksidasi 2.
epimerisasi 3.
isomerisasi 4.
dekarboksilasi 5.
dehidrasi dan lainnya 6.
SEMISOLID
Menurut Ulfa, T. E., 2014, berfokus pada formulasi dan uji stabilitas kimia vitamin C dalam sediaan semisolid berbasis air dan berbasis silikon. Metode yang digunakan adalah Pengujian Stabilitas Dipercepat selama 8 minggu pada suhu 40±20°C, dengan analisis menggunakan KLT Densitometri.
Hasilnya menunjukkan bahwa sediaan semisolid berbasis silikon lebih stabil dibandingkan sediaan semisolid berbasis air.
CAIR
Jenis-jenis uji stabilitas diantaranya:
Uji stabilitas dipercepat (accelerated test): dilakukan peningkatan laju degradasi kimia dan perubahan fisika.
1.
Uji stabilitas jangka panjang (long term testing atau real time):
dilakukan hingga masa kadaluarsa dari sediaan tersebut dan disimpan pada konsisi ruang sesuai dengan zona masing-masing negara.
2.
Uji stabilitas intermediet (intermediat testing): dilakukan dengan kondisi hampir sama dengan keadaan normal.
3.
Uji stabilitas (stress testing): dilakukan untuk melihat efek ketika suatu obat disimpan pada kondisi stress.
4.
UJI STABILITAS BIOLOGI
Menampilkan waktu simpan dari sediaan farmasi selama periode penyimpanan untuk mencegah efek terjadinya kontaminasi mikroba. Ketidakstabilan mikrobial pada sediaan farmasi adalah parameter kritis dalam mengevaluasi penampilan dan kualitas produk karena mikroba juga dapat mempengaruhi sifat fisikokimia produk yang akhirnya dapat menurunkan shelf life.
Stabilitas mikrobiologi produk sangat penting untuk kemanjuran dan keamanan obat produk. Khasiat pengawet harus tetap tidak berubah dalam batas waktu yang ditentukan, selain itu pengawet ditambahkan dengan tujuan pencegahan.
pertumbuhan mikroba di sediaan farmasi. Jika suatu produk terkontaminasi pathogen dapat mengakibatkan konsekuensi yang parah bagi kesehatan konsumen.
UJI STABILITAS BIOLOGI
Tujuan Uji Stabilitas Mikrobiologi
Memastikan bahwa sediaan farmasi tetap bebas dari mikroorganisme atau memiliki batas cemaran mikroba yang sesuai standar.
1.
Menekan pertumbuhan mikroorganisme dalam sediaan hingga waktu tertentu agar tidak mempengaruhi efektivitas dan keamanan produk.
2.
Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Mikrobiologi pH sediaan
1.
Suhu dan kelembaban penyimpanan 2.
Keberadaan air dalam sediaan 3.
Paparan cahaya 4.
Sifat fisika-kimia zat aktif dan zat tambahan, terutama yang bersifat higroskopik atau hidrofilik karena lebih rentan terhadap kontaminasi mikroba.
5.
UJI STABILITAS BIOLOGI
Metode Uji Stabilitas Mikrobiologi menggunakan metode pengujian TPC atau ALT untuk menghitung jumlah mikroba dalam sediaan.
Standar batas cemaran mikroba dalam sediaan farmasi non-steril:
Bakteri aerob: ≤ 10³ CFU/g atau CFU/ml 1.
Kapang & khamir: ≤ 10² CFU/g atau CFU/ml 2.
Jika jumlah cemaran mikroba melebihi batas ini, maka produk dianggap tidak stabil secara mikrobiologi.
Sterilisasi sebagai Cara Menjaga Stabilitas Mikrobiologi
Metode sterilisasi fisik (panas kering, panas basah, filtrasi, radiasi, dan pengeringan).
1.
Metode sterilisasi kimia (penggunaan gas etilen oksida, formaldehida, atau senyawa disinfektan).
2.
UJI KESTABILAN MENURUT ICH
Pedoman ICH telah menetapkan inti data stabilitas yang
diperlukan untuk menjual API (Active Pharmaceutical Ingredients) dan FPP (Finished Pharmaceutical Products) serta persetujuan
regulasi. Menurut jenis studi, beberapa langkah dan kondisi
dijelaskan untuk setiap jenis: studi jangka panjang, menengah, dan
dipercepat.
UJI KESTABILAN MENURUT ICH
Menurut ICH (2005) berubahan bermakna pada uji dipercepat : Kehilangan 5% potensi dari kadar awal 1 batch
Bila hasil urai < dari nilai batas spesifikasi Produk melewati batas pH-nya
Disolusi melewati batas spesifikasi untuk 12 kapsul/tablet
Gagal memenuhi spesifikasi penampilan dan sifat-sifat fisika
seperti warna, pengerasan,dsb
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad I, Sheraz MA, Ahmed S. Stability of drugs and drug products. Medical services journal, Canada. Pakistan:
Higher Education Commission; 2016.
Alif, S.B.N., Dewi, I.K., & Ridlo, A., 2024. Review : Uji stabilitas fisik formulasi sediaan sirup infusa daun seledri (Apium graveolens L.) dengan larutan pemanis daun stevia (Stevia rebaudiana). Borobudur Pharmacy Review, 4(1): 7-11.
Dao H, Lakhani P, Police A, Kallakunta V, Ajjarapu SS, Wu KW, et al. Microbial Stability of Pharmaceutical and Cosmetic Products. AAPS PharmSciTech. 2018;19(1):60-78. Djajadisastra, J., 2004. Cosmetic Stability. Seminar Setengah Hari Hiki.
Jakarta.
Gobetti C, Bitencourt Ada S, Ayres MV, de Freitas ALP, Mendez ASL, Garcia CV. Evaluation of physicochemical and microbiological stability of liquid preparation from tizanidine hydrochloride tablets - A hospital concern.
Brazilian J Pharm Sci. 2021;57:1-11.
Handali,S., Hosseini, H., Ameri, A., Moghimipour, E. 2011. Formulation and evaluation of an antibacterial cream from Oxalis corniculata aqueous extract. Medicinal Plant Research Center, Ahvaz Jundishapur University of Medical Sciences, Ahvaz, Iran.
Joele, G., 2022. Drug Stability: ICH versus Accelerated Predictive Stability Studies.[Online] Available at:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9693625/[Accessed 10 Januari 2025].
Joshita, D., 2008. Kestabilan obat. Jakarta Univ: Indones. Lasut, T.M., Tiwow, G.A.R., Tumbel, S.L. & Karundeng, E.Z.S.,
2019. Review: Uji stabilitas fisik sediaan salep ekstrak etanol daun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk). Jurnal Biofarmasetikal Tropis, 2(1): 63-70.
Priyanto, F., (2019). Uji Stabiitas Fisik dan Cemaran Mikroba Sediaan Racikan Pulveres di Puskesmas Kabupater Banjarnegara Wilayah Utara. Bachelor thesis, UMP, BAL II, hal. 6-10.
DAFTAR PUSTAKA
Rahmawatti, D., Sukmawati, A., Indrayudha P. 2010. Formulasi Krim Minyak Atsiri Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val & Zijp), Uji Sifat Fisik dan Daya Antijamur terhadap Candida albicans accald secara invitro. Maj. Obat Tradisional.
15:56-63.
Rieger, M,. 2000. Harry's Cosmeticology 8'h Edition. Chemical Publishing Co Inc, New York.
Sanjay, B., Singla, D., and Sakhuja N, 2003. Stability Testing Guidelines: Stability Testing Of New Drug Substances And Products, ICH Steering Committee. Journal of Applied Pharmaceutical Science. 68(225): 129-138.
Qomara, W. F., Musfiroh, I., & Wijayant, R. 2023. Review :Evaluasi Stabilitas dan Inkompatibilitas Sediaan Oral Liquid.
Majalah Farmasetika, 215-216.
Ulfa, T. E., 2014. Formulasi dan Uji Stabilitas Kimia Vitamin C dalam Sediaan Semisolid Basis Air dan Sediaan Semisolid
Basis Silikon = Formulation and Chemical Stability Test of Vitamin C in Semisolid Aqueous Based and Semisolid Silicone Based. Universitas Indonesia Library. [Online] Available at:https://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak/id abstrak-20347166L pdf [Accessed 10 Januari 2025].
Windi, F., Ida, M. & Rina, W., 2023. Review : Evaluasi Stabilitas dan Inkompatibilitas Sediaan Oral Liquid. Majalah Farmasetika, 8(3): 209-223.