50 TAHUN BANK SULTENG Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi
TIM PENULIS :
HAERUL ANAM HALIADI-SADI MUH. YUNUS KASIM
HARNIDA W. ADDA
TIM PENGARAH :
HANS KINDANGEN SYAMSU ANASIR
MULIATI
ARSYAD MARDANI
20 x 25 cm xi-227 Hal.
Desain Cover :
Muh. Syahid
Penyunting Akhir :
Firman
iii Assalamu Alaikum War. Wab.
Penerbitan buku “50 TAHUN BANK SULTENG: MELINTASI WAKTU, MERAJUT DEDIKASI” melahirkan kebanggaan tersendiri bagi kami, pemerintah Sulawesi Tengah.
Buku ini bukan saja mengajak pembaca melintasi waktu dari awal kelahiran lembaga keuangan ini di Sulawesi Tengah, tetapi kehadirannya telah memberi
"multiplier effect" bagi kemajuan Sulawesi Tengah.
Sektor keuangan dan lembaga keuangan merupakan mesin pendorong yang sangat penting dalam memicu dan memacu perekonomian suatu daerah.
Dalam memacu kemajuan ekonomi daerah termasuk Sulawesi Tengah, seringkali tercermin pada pertumbuhan ekonomi daerah tersebut yang dindikasikan oleh trend pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Pada saat yang sama pertumbuhan ekonomi dipicu oleh akumulasi kapital melalui sektor keuangan.
Melalui pintu sektor keuangan peranan penting Bank Sulteng terlihat jelas baik pada peningkatan akumulasi kapital maupun peran- peran lain yang tak kalah penting.
Akhirnya, semoga Bank Sulteng semakin maju dan tetap sustainable dalam kondisi persaingan sektor dan lembaga keuangan yang makin ketat. Dan tentu saja pemerintah Sulawesi sangat berharap di Usia 50 Tahun, Bank Sulteng semakin dewasa dalam memberi pelayanan pada masyarakat Sulawesi Tengah.
Palu, Maret 2019
Gubernur Sulawesi Tengah,
Drs. H. Longki Djanggola, M.Si.
SAMBUTAN
GUBERNUR SULAWESI TENGAH
iv 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Assalamu Alaikum War. Wab.
Kehadiran Buku “50 Tahun BANK SULTENG: MELINTASI WAKTU, MERAJUT DEDIKASI” membawa kita menyelami masa silam. Kita dibawa menelusuri artefak anak tangga, sehingga terbayang di mata kita, perjalanan Bank Sulteng sejak tahun 1969 hingga kini di tahun 2019.
Apresiasi yang tak terhingga diberikan kepada jajaran Direksi, lebih khusus pada saudara Direktur Utama yang telah menginisiasi kehadiran buku ini.
Lebih dari itu, bahwa kehadiran buku merefleksikan pola pikir dari dewan direksi yang tidak mudah melupakan mereka yang berjasa di tahun-tahun awal kehadiran Bank Sulteng.
Buku ini juga memberikan informasi, betapa capaian prestasi Bank Sulteng telah banyak dicapai selama ini, dengan berbagai penghargaan yang di dapatkan.
Semoga Bank Sulteng di usia 50 tahun ini mendapatkan energi baru untuk lebih berkembang di masa datang dan makin memberi kontribusi yang besar meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah.
Wassalam.
Palu, Maret 2019 Komisaris Utama,
Drs. H. Abd. Karim Hanggi
SAMBUTAN KOMISARIS UTAMA
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi v Assalamu Alaikum War. Wab.
BUKU “50 TAHUN BANK SULTENG:
MELINTASI WAKTU, MERAJUT DEDIKASI”
menggoreskan tinta emas dalam sejarah perbankan di Sulawesi Tengah.
Apa yang kami lakukan dengan menghadirkan buku ini, tentulah belum seberapa dibanding dengan dukungan pemerintah dan masyarakat Sulawesi Tengah terhadap eksistensi Bank Sulteng.
Kehadiran buku ini merupakan manifestasi bahwa menuliskan sejarah Bank Sulteng sama dengan memberikan apresiasi pada mereka yang berjasa "meletakkan batu pertama" pembangunan Bank Sulteng.
Merekalah yang besar jasanya dalam pengembangan Bank Sulteng.
Apa yang kami lakukan hari ini tidak ada artinya tanpa pendahulu kami.
Akhirnya kami ingin mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak, sehingga buku ini dapat kami terbitkan. Kepada Bapak Gubernur Sulteng, Bapak Komisaris, para Narasumber, para Penulis Buku, staf Bank Sulteng dan semua dan siapa saja yang telah berkontribusi terhadap lahirnya buku ini.
Kami juga memohon maaf jika dalam buku ini masih ditemukan kesalahan dalam penulisan nama dan kesalahan penulisan waktu serta jika masih ada beberapa foto yang belum dicantumkan karena belum ditemukan hingga penerbitan buku ini.
Kami juga masih sangat mengharap dukungan untuk pengembangan Bank Sulteng di masa yang akan datang.
Wassalam.
Hormat kami, Direktur Utama
Ir. Rahmat Abdul Haris
SAMBUTAN DIREKTUR UTAMA
vi 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Assalamu Alaikum War. Wab.
Sepatutnyalah kami memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. karena telah diberi karunia sehingga kami dapat merampungkan penulisan buku ini. Buku “50 TAHUN BANK SULTENG: MELINTASI WAKTU, MERAJUT DEDIKASI”.
Dalam rentang waktu penulisan banyak kendala dan tantangan yang kami hadapi. Penelusuran data dan foto yang harus berkesesuaian karena berkaitan dengan nama, jabatan, dan waktu.
Kami berusaha semaksimal mungkin agar tingkat kesalahan diminimalisir.
Dalam perjalanan penulisan dan pencarian data kami sempat mengalami jedah karena terjadinya Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi (GTS) pada tanggal 28 September 2018 dengan kekuatan gempa 7,4 SR. Akibatnya kami sempat tidak melakukan komunikasi sesama Tim Penulis untuk beberapa lama. Kami masing-masing sibuk membenahi
"perasaan dan hati" kami yang sempat terkena serpihan "traumatik"
akibat peristiwa GTS.
Buku ini menguraikan tentang sejarah perjalanan Bank Sulteng dari awal berdiri, hingga usianya yang ke 50 tahun, pada tanggal 1 April 2019.
Kami juga sepantasnya berterima kasih kepada banyak pihak karena tanpa mereka niscaya penulisan buku ini tidak akan rampung.
Terima Kasih kepada Bapak Direktur Utama Bank Sulteng dan seluruh jajarannya yang telah memberi kepercayaan kepada kami dalam penulisan buku ini. Terima kasih juga kepada Bapak dan Ibu Narasumber atas segala informasi, serta semua pihak yang telah membantu sehingga buku ini terwujud.
Wassalam.
TIM PENULIS:
Haerul Anam, Haliadi-Sadi,
Muh. Yunus Kasim Harnida W. Adda
KATA PENGANTAR
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi vii DAFTAR ISI
Halaman SAMPUL
SAMBUTAN GUBERNUR iii
SAMBUTAN KOMISARIS UTAMA iv
SAMBUTAN DIREKTUR UTAMA v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL ix
BAB I Provinsi Sulawesi Tengah: Sebuah Gambaran Umum 1 1.1. Geografi dan Penduduk Sulawesi Tengah 1 1.2. Gubernur dan Perkembangan Pembangunan
Sulteng 7
BAB II Melintasi Waktu Sejarah Bank Sulteng 1969-2019 25 2.1. Pembentukan BPD Secara Yuridis 25
2.2. BPD Sulteng Secara Defakto 29
BAB III Transformasi Bank Sulteng 59
3.1. Bank Sulteng Sebagai Perusahaan Daerah 59 3.1.1. Latar Belakang Pembuatan Action Plan
Tahun 1998 60
3.1.2. Penjelasan Umum Materi Action
Plan/Step 61
3.2. Bank Sulteng sebagai Perseroan Terbatas (PT) 68 BAB IV Tata Kelola Manajemen Sumber Daya Manusia Bank
Sulteng 71
4.1. Visi, Misi, dan Budaya Kerja Bank Sulteng 71
4.1.1. Visi dan Misi 72
4.1.2. Budaya Kerja 79
4.2. Kebijakan dan Strategi Pengelolaan SDM 80
4.3. Strategi Pengembangan SDM 82
4.4. Strategi Peningkatan Kesejahteraan,
Kesehatan, dan Keselamatan Kerja 82 4.5. Komposisi SDM Bank Sulteng dari Masa ke
Masa 83
4.6. Struktur Organisasi 87
BAB V Profil Sumber Daya Manusia Bank Sulteng 95 5.1. Profil Dewan Pengawas/Komisaris 95
viii 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi
5.2. Profil Dewan Direksi 119
5.3. Profil Pemegang Saham 132
BAB VI Kinerja Keuangan Bank Sulteng 143
6.1. Ihtisiar Keuangan 143
6.1.1. Asset 143
6.1.2. Produk Simpanan 144
6.1.3. Kredit yang Diberikan 145
6.1.4. Modal Disetor 146
6.1.5. Pendapatan 148
6.1.6. Biaya 149
6.1.7. Laba Bersih 150
6.2. Rasio Keuangan Bank SULTENG 152 6.2.1. BOPO (Belanja Operasional terhadap
Pendapatan Operasional) 152
6.2.2. NIM (Net Interest Margin) 153 6.2.3. ROA (Return On Assets) 154 6.2.4. ROE (Return on Equity) 155 6.2.5. LDR (Loan to Deposits Ratio) 156 6.2.6. CAR (Capital Adequacy Ratio) 158
6.3. Kepemilikan 159
BAB VII Produk dan Jasa Keuangan PT. Bank Sulteng 161
7.1. Penghimpunan Dana 161
7.2. Penyaluran Dana 161
7.3. Jasa Bank Lainnya 162
7.4. Pengembangan Produk 163
BAB VIII Pencapaian Bank Sulteng 165
8.1. Penghargaan 165
8.2. Kepedulian Sosial 169
8.3. Pengembangan SDM 177
BAB IX Merajut Dedikasi Untuk Prestasi Masa Depan 179
9.1. Tantangan Bank Sulteng 179
9.2. Prospek Bank Sulteng 185
9.3. Kebijakan Manajemen (Policy Statements) 192 9.4. Kebijakan Manajemen Risiko dan Kepatuhan 195 9.5. Strategi Pengembangan Bisnis 202
DAFTAR PUSTAKA 209
LAMPIRAN 211
PROFIL TIM PENULIS & NARASUMBER 221
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi ix DAFTAR TABEL
Halaman 1.1. Distribusi PDRB Sulteng Atas Dasar Harga Yang Berlaku
Menurut Lapangan Usaha 22
1.2. Distribusi PDRB Sulteng Menurut Laapangan Usaha 22 3.1. Realisasi Setoran yang diharapkan tahun 1998 64
x 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 1 BAB I
PROVINSI SULAWESI TENGAH:
Sebuah Gambaran Umum
Bank Sulawesi Tengah yang telah berkiprah selama lima puluh tahun sejak tahun 1969 hingga tahun 2019 ini semula bernama Perusahaan Daerah (PD) Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dibangun menjadi salah satu penggerak ekonomi keuangan di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah yang berpenduduk kurang lebih sebanyak 3.222.241 jiwa pada tahun 2015,
dalam wilayah seluas 65.526,72 km² atau 6.552.672 Ha. Gambaran umum Provinsi Sulawesi Tengah pada kesempatan ini dibagi atas dua bagian penting, yakni: Pertama, Geografi dan Penduduk Sulawesi Tengah dan Kedua, Gubernur dan Perkembangan Pembangunan Sulawesi Tengah.
1.1. Geografi dan Penduduk Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah terletak di antara 2º22` LU dan 3º48` LS, serta 119º22` dan 124º22` Bujur Timur. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo di Sebelah Utara, Provinsi Maluku di Sebelah Timur, Provinsi Sulawesi Selatan
2 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi dan Provinsi Sulawesi Tenggara di Sebelah Selatan, serta Selat Makassar di Sebelah Barat. Luas wilayah Sulawesi Tengah yang membentang dari Pulau Sonit di Kabupaten Banggai Kepulauan di sebelah Timur hingga Kabupaten Tolitoli dan Buol di Sebelah Barat.
Kemudian dari Menui Kepulauan Kabupaten Morowali di Sebelah Selatan sampai Walea Kepulauan di Sebelah Utara memiliki luas 68.033 Km2. Luas wilayah ini secara administratif terbagi dalam sembilan Kabupaten dan satu Kota dengan 99 Kecamatan, serta 1.505 Desa dan Kelurahan, serta 46 UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) (Sulawesi Tengah Dalam Angka 2004, 2005: 3).
Sementara penduduk Provinsi Sulawesi Tengah tersebar di beberapa kabupaten kota, yakni: Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Tolitoli, Buol, Poso, Tojo Una-Una, Morowali, Morowali Utara, Banggai, Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut. Perkembangan Bank Sulteng hingga lima puluh tahun terakhir ini telah memiliki cabang-cabang di seluruh Kabupaten Kota tersebut. Jumlah Penduduk Sulawesi Tengah pada tahun 1955 adalah sebanyak 561.007 jiwa yang mendiami dua Kabupaten yaitu Kabupaten Donggala dan Kabupaten Poso. Enam tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1961 telah mencapai jumlah penduduk sebanyak 689.786 jiwa, Sulawesi Tengah terdiri dari empat kabupaten yakni Kabupaten Buol Tolitoli, Donggala, Poso, dan Banggai dengan jumlah penduduk sebesar 689.786 (Laki-laki:
353.571 jiwa; dan Perempuan: 336.215 jiwa) jiwa. Pada tahun ini Sulawesi Tengah masih menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Utara- Tengah. Jumlah penduduk Kabupaten Buol Tolitoli adalah 82.386 jiwa, Donggala adalah 288.290 jiwa, Poso adalah 174.231 jiwa , dan Banggai sebesar 144.879 jiwa. (Masri Singarimbun, 1980: 229).
Jumlah ini terus bertambah, dan tahun 1971 menjadi 913.662 jiwa
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 3 (Laki-laki: 467.166 jiwa; dan Perempuan: 446.496 jiwa) jiwa. Pada tahun 1980 jumlah penduduk Sulawesi Tengah berada pada angka 1.284.528 jiwa (Laki-laki: 662.039 jiwa; dan Perempuan: 622.210 jiwa). Antara tahun 1980-1990, penduduk Sulawesi Tengah mengalami pertumbuhan hampir dua kali lipat, karena pada tahun 1990 jumlah penduduk telah mencapai jumlah sebesar 1.710.890 jiwa (Laki-laki: 876.815 jiwa; dan Perempuan: 834.075 jiwa).
Kemudian pada tahun 2000, setelah Sulawesi Tengah terbagi dalam sembilan kabupaten dan satu Kotamadya, jumlah penduduknya mencapai angka sebesar 2.070.201 jiwa (Laki-laki: 1.063.977 jiwa;
dan Perempuan: 1.015.224 jiwa). Pada tahun ini, Provinsi Sulawesi Tengah telah terbagi menjadi tujuh kabupaten dan satu kota. Pada tahun 2004 jumlah penduduk Sulawesi Tengah adalah sebesar 2.324.506 jiwa (laki-laki: 1.197.689 jiwa; dan perempuan: 1.126.8I7 jiwa). Akhirnya pada tahun 2016, Kabupaten dengan populasi penduduk terbesar, secara berurutan adalah Parigi Moutong dengan 457.707 jiwa, Kota Palu dengan 368.086 jiwa, Banggai dengan 354.402 jiwa, Donggala dengan 293.742 jiwa, Poso dengan 235.567 jiwa, Sigi dengan 229.474 jiwa, Tolitoli dengan 225.875 jiwa, Buol dengan 149.004 jiwa, Tojo Una-Una dengan 147.536 jiwa, Morowali Utara dengan 117.670 jiwa, Banggai Kepulauan dengan 114.980 jiwa, Morowali dengan 113.132 jiwa, serta Banggai Laut dengan 69.514 jiwa.
Sulawesi Tengah merupakan salah satu Provinsi di Pulau Sulawesi yang mempunyai kekayaan alam yang cukup besar, baik berupa tanah dan kandungan mineral yang terpendam di dalamnya, air, dan segala isinya, flora dan fauna yang beraneka ragam. Akan tetapi, sebagian besar potensi alam tersebut belum dikelolah dengan baik. Luas wilayah daratan Sulawesi Tengah mencapai 68.033 Km2
4 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi dan luas wilayah teritorial lautan sekitar 193.923,75 Km2. Luas wilayah daratan, diperuntukan bagi dua kawasan yaitu kawasan hutan dan kawasan bukan hutan yang dapat dirinci sebagai berikut:
Kawasan Hutan: 5.176,672 ha yang terdiri atas: Hutan Lindung:
1.764.720 ha, hutan Suaka dan Wisata: 604.780 ha, hutan Produksi Tetap: 422.809 ha, hutan Produksi terbatas: 2.142.606 ha, hutan Konversi: 241.757 ha. Sementara itu, Kawasan Bukan Hutan seluas:
1.192.253 ha, yang terdiri atas: kawasan Pertanian seluas: 672.795 ha. dan kawasan untuk pemukiman seluas: 519.548 ha.
Potensi wilayah laut meliputi Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Teluk Tolo dengan potensi penangkapan ikan di laut lepas dan budidaya pantai diperkirakan dapat menghasilkan 213.774 ton ikan setiap tahun. Namun hingga tahun 1999 potensi tersebut baru dapat dimanfaatkan sekitar 41,42 persen atau 88.552 ton. Demikian juga dengan potensi perairan umum darat seperti danau, rawa, dan sungai yang diperkirakan dapat menyediakan atau menghasilkan 75.643 ton ikan air tawar setiap tahunnya. Akan tetapi yang telah dikelola baru mencapai 0,48 persen atau hanya berkisar 366 ton per tahun. Hal ini bertolak belakang dengan usaha budidaya ikan pada perairan air tawar lainnya, seperti tambak, kolam, sawah, dan kerambah telah mengalami perkembangan yang cukup besar, hingga tahun 1999 telah menghasilkan 7.474 ton ikan (36 Tahun Sulawesi Tengah, Jakarta: 2000: 9). Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut), dataran di Sulawesi Tengah terdiri dari 0-100 m = 20,2 %, 101-500 m = 27,2 %, 501-1000 m = 26,7 %, dan 1001 m ke atas = 25,9 %.
Provinsi Sulawesi Tengah sebagian besar merupakan daerah yang bergunung-gunung, hanya sebagian kecil saja merupakan
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 5 tanah rendah yang pada umumnya terdapat di sekitar Pantai yang diselingi oleh bagian-bagian yang meninggi. Dua pegunungan yang besar dan membujur dari arah Provinsi Sulawesi Selatan menuju kearah kabupaten Donggala, yakni pegunungan Takolekayu dan Molengraf serta yang satu kearah Kabupaten Poso yakni pegunungan Tineba (Vennema). Selain itu juga, masih ada dataran-dataran pegunungan yang lebih kecil yaitu pegunungan Peleru, Pompangea dan Takolekaju di Kabupaten Poso dan Morowali, serta pegunungan Balingara di Tojo Una-Una. Pegunungan Batui dan Pegunungan Balantak di Kabupaten Banggai. Selain itu, di Kabupaten Donggala hingga Parigi Moutong membujur perbukitan panjang.
Gunung-gunung berapi di Propinsi ini merupakan gunung- gunung yang telah lama mati (tidak berapi atau non aktif). Satu- satunya gunung yang masih aktif terletak di Pulau Una-Una yaitu Gunung Colo di Kabupaten Tojo Una-Una. Keaktifan gunung berapi ini dapat dibuktikan dengan adanya satu tempat yang terdapat di Sebelah Utara Kota Ampana yang disebut Tanjung Api. Hamparan wilayah Sulawesi Tengah tersedia juga beberapa sungai dan anak sungai. Dapat diketahui air adalah merupakan salah satu unsur penting dalam perkembangan masyarakat sulawesi Tengah, karena sungai memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia, sosial, ekonomi di daerah ini (Tim Penyusun, 1977: 53-54).
Sungai-sungai tersebut antara lain: Pertama, Sungai Palu di Kabupaten Donggala yang mempunyai 34 anak Sungai dan panjangnya 43 kilometer dan berhulu di Danau Lindu serta bermuara di Teluk Palu. Dari beberapa anak sungai ini yang besar adalah sungai Gumbasa. Sungai ini berperan penting dalam proyek pengairan Guimbasa yang telah mengairi sawah seluas 16.000 ha.
Kedua, Sungai Buol dan Sungai Kalangkangan yang juga mempunyai
6 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi jarak yang panjang mempunyai peranan penting bagi perkembangan pertanian di Daerah Buol dan wilayah Kabupaten Tolitoli. Ketiga, Sungai Poso yang berhulu di Danau Poso serta bermuara di Teluk Tomini Bagian Timur, juga berfungsi sebagai sumber elektrifikasi.
Daerah Sulawesi Tengah beriklim tropis, curah hujan kurang berada pada 1000 mm pertahun, seperti di Lembah Palu, Daerah Luwuk, dan Batui. Tanah di Wilayah Sulawesi Tengah mempunyai peranan penting untuk dijadikan daerah pertanian, persawahan, serta dapat ditumbuhi oleh tumbuhan dan pepohonan yang dapat berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan air hujan, serta mencegah bahaya banjir. Jenis-Jenis tanah di Sulawesi Tengah antara lain: Alluvial – dataran dengan letaknya di Kintom, Batui, Bunta, Tomeang dan sekitar Hanga-Hanga, Morowali, Tamoro, Taripa, sekitar Dondo dan Poso. Tanah alluvial meliputi tanah yang sering mengalami banjir, sehingga dianggap masih muda. Sifat tanah alluvial pada umumnya dapat memberi hasil produksi yang cukup memuaskan, baik untuk ditanami padi maupun palawija atau tebu.
Kemudian, Regosal-Palembahan. Letak daerah bertanah regosol- Palembahan terletak di sekitar Lembah Palu. Tanah ini pada umumnya dapat dijadikan sebagai tanah pertanian (persawahan) serta dapat ditanami ketela, tembakau, kacang-kacangan dan lain- lain. Selanjutnya tanah Latosol, letak tanah ini ada di Bagian Ujung Tanjung Api di Kabupaten Tojo Una-Una. Akhirnya tanah Latosol- Plateau, letak tanah ini di Daerah Kabupaten Poso dan Banggai.
Vegetasi, di daerah wilayah Propinsi Sulawesi Tengah sebagian besar ditumbuhi oleh hutan-hutan lebat dan sebagian kecil saja merupakan dataran dan padang rumput (alang-alang).
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 7 1.2. Gubernur dan Perkembangan Pembangunan Sulteng
Provinsi Sulawesi Tengah yang berdiri pada tahun 1964 telah dipimpin oleh Gubernur sebanyak kurang lebih 11 orang. Pada tanggal 13 April 1964 terjadi penyerahan pimpinan atas wilayah Sulawesi Tengah dari Gubernur Sulawesi Utara Tengah F.
J. Tumbelaka kepada pejabat Kepala Daerah Tingkat Satu Sulawesi Tengah Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning periode 1964-
1968. Anwar Gelar Datok Madjo Basa Nan Kuning diangkat sebagai Gubernur Sulawesi Tengah berdasarkan SK Presiden RI Nomor 166 tahun 1965 tanggal 11 Juni 1965 memangku jabatan Gubernur sejak tanggal 13 April 1964 hingga 13 April 1968. Pada waktu itu, beliau juga menjabat sebagai Ketua DPRD-GR Provinsi Sulawesi Tengah dengan membawahi 21 orang anggota dari berbagai partai politik. Anwar Gelar Datok Madjo Basah Nan Kuning sebagai ketua DPRD-GR dengan wakil ketua Zainuddin Abd. Rauf (19 Tahun Propinsi dati I Sulawesi Tengah, 1983).
8 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Pada tahun 1967, Anwar Gelar Datok Madjo Basa Nan Kuning mengajukan permohonan pensiun karena faktor usia sehingga DPRD-GR tingkat 1 Sulawesi Tengah menetapkan calon tunggal Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 Sulawesi Tengah yakni Danrem 132/Tadulako Letkol M.
Jasin sebagai calon tunggal. Dengan demikian terhitung tanggal 13 April 1968 Letkol M. Jasin diangkat menjadi Gubernur dengan Keputusan Presiden nomor 24 tahun 1968. Pada masa M. Jasin yang menjadi Sekretaris Daerah dipegang oleh Drs. H.F.
Tangkilisan. Selain menetapkan pencalonan Gubernur juga DPRD-GR mengatur pembentukan Badan Pemerintah Harian (BPH) untuk melengkapi perangkat pemerintahan
dengan tujuh orang calon dan yang ditetapkan menjadi lima orang, yakni: Tahir Muhammad untuk bidang pemerintahan, Junus Kindangen untuk bidang Kesra, S.M.L. Tobing untuk bidang Ekubang, S. Tambing untuk bidang Produksi dan Distribusi, dan Mohammad Azis Tadji, BA. Untuk bidang keuangan. Sementara DPRD-GR periode 1967-1969 diketuai oleh Zainuddin Abd. Rauf dengan wakil dua orang yakni: B.C. Tobondo dan Mas’ud Lahuda.
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 9 Letkol M. Jasin menjabat sebagai Gubernur Kepala daerah Tingkat 1 Sulawesi Tengah diangkat sejak tanggal 13 April 1968-25 April 1973.
M. Jasin bertugas pada saat pelaksanaan konsepsi pembangunan yang dituangkan pada program/Proyek Pelita 1 jadi selain beliau bertugas mengikuti tugas pokok di bidang pemerintahan dan pembinaan wilayah. Pembangunan dalam berbagai bidang sudah mulai dilancarkan dengan adanya program repelita. Salah satu hal yang dijalankan oleh mantan Danrem Tadulako tersebut adalah memulai pembangunan prasarana- prasarana dasar perhubungan untuk menghubungkan Kota dan wilayah antar Kabupaten, Kota, dan Desa di Daerah Sulawesi Tengah. Pada bidang politik pemerintahan, M. Jasin berhasil melakukan Pemilu 1971 di wilayah Sulawesi Tengah. Pada pelita pertama M. Jasin berhasil menyerap dana sebesar Rp.8,7 Milyar selama Pelita I dengan keberhasilam pembangunan fisik sebanyak 5.156 proyek (Memory Gubernur
Kepala Daerah Propinsi Sulawesi Tengah, 6 Oktober 1971).
Gubernur ketiga Brigjen A.M. Tambunan yang diangkat dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 72 tahun 1973 dikukuhkan dengan SK Presiden No. 144/M/1973 dengan memangku jabatan Gubernur dari tanggal 25 April
10 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 1973 hingga tanggal 28 September 1978. Beliau memulai tugasnya pada tahun ke-V, pelita I, sehingga selain bertugas untuk menyelesaikan atau merampungkan pelita ke lima juga mempersiapkan program-program pembangunan untuk proyek- proyek Pelita II dan melaksanakannya. Program popular yang dijalankan oleh Tambunan adalah Tri Program sebagai topik pokok program Pelita II di Sulawesi Tengah. Tri Program yang dijalankan antara lain: Pertama, menetapkan kehidupan demokrasi Pancasila yang bertanggungjawab di daerah Sulawesi Tengah. Kedua, Penertiban dan pendayagunaan Aparatur Negara. Ketiga, Meningkatkan kesejahteraan rakyat Sulawesi Tengah. Pada pembangunan wilayah Sulawesi Tengah, Tambunan menitikberatkan pada lima hal untuk pembangunan Sulawesi Tengah antara lain:
Sektor Perhubungan, Sektor Produksi Pangan, Sektor Kependudukan dan Tenaga Kerja, Sektor diversifikasi komoditi (tanaman Perdagangan), dan Sektor Sarana atau Fasilitas Pelayanan sosial masyarakat Sulawesi Tengah. Demikian juga pada periode ini pelaksanaan pemilu 1977 telah berhasil dilaksanakan dengan baik di Sulawesi Tengah. Daya serap anggaran Provinsi Sulawesi Tengah pada masa ini sebesar Rp.74,1 Milyard dengan jumlah proyek sebanyak 27.815 buah proyek (19 Tahun Propinsi dati I Sulawesi Tengah, 1983: 41-43).
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 11 Gubernur keempat bernama
Brigjen Moenafri yang diangkat dengan SK Presiden RI Nomor 191/M tahun 1978 yang dimulai pada tanggal 28 Desember 1978 hingga tanggal 22 Oktober 1979.
Beliau memulai tugasnya pada akhir periode pelaksanaan Pelita ke- II sehingga selain merampungkan pelaksanaan pembangunan pelita ke-II juga merancang Pelita ke-III.
Moenafri berhasil menetapkan tujuh saran prioritas pembangunan Provinsi Sulawesi Tengah dalam
Repelita ke-III. Hal itu merupakan pengembangan dari lima sektor yang telah dilakukan pada Pelita II Sulawesi Tengah. Tujuh Sektor Prioritas Pembangunan Sulawesi Tengah merupakan ciri pembangunan yang dibangun oleh Gubernur Moenafri yang dikenal dengan nama Sapta Prioritas. Pelaksanaan pembangunan wilayah Sulawesi Tengah dibagi menjadi enam wilayah kerja, yakni: wilayah kerja pembangunan Palu, wilayah kerja pembangunan Tolitoli, wilayah kerja pembangunan Parigi, wilayah kerja pembangunan Poso, wilayah kerja pembangunan Luwuk, dan wilayah kerja pembangunan Kolonodale. Pusat pengendalian wilayah pembangunan dipusatkan pada empat kota, yakni: Palu, Tolitoli, Poso, dan Luwuk. Wilayah pengembangan pembangunan Sulawesi Tengah, yakni: Satuan Wilayah Pengembangan 1 (Palu), Satuan Wilayah Pengembangan II (Moutong), Satuan Wilayah Pengembangan III (Poso), Satuan Wilayah Pengembangan IV (Ampana), Satuan Wilayah Pengembangan V (Kolonodale), Satuan Wilayah
12 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Pengembangan VI (Bungku), Satuan Wilayah Pengembangan VII (Luwuk), Satuan Wilayah Pengembangan VIII (Banggai), Satuan Wilayah Pengembangan IX (Ogotua), Satuan Wilayah Pengembangan X (Tolitoli), dan Satuan Wilayah Pengembangan XI (Leok). Walaupun pada masa ini suhu politik agak meningkat namun pembangunan tetap berjalan sebagaimana mestinya yakni menyerap dana sebesar Rp 26 milyard dengan jumlah proyek sebanyak 6.056 buah proyek (19 Tahun Propinsi dati I Sulawesi Tengah, 1983: 45-46).
Gubernur kelima Provinsi Sulawesi Tengah dijabat oleh Pj.
Kolonel R.H. Eddy Djadjang Djayaatmadja dengan SK Presiden nomor 177/M tahun 1979 dengan tugas pokok: membina stabilitas, memelihara kelancaran pemerintahan dan pembangunan, dan memproses pencalonan Gubernur yang definitif. Beliau juga mengembangkan proyek- proyek khusus yang langsung menunjang program pemerataan hasil-hasil pembangunan bagi
masyarakat umum terutama di perdesaan. Eddy Djadjang Djayaatmadja memprioritaskan pembukaan Perguruan Tinggi Negeri di Sulawesi Tengah dan berupaya untuk merealisasikan perluasan jaringan telekomunikasi (telepon otomatis), demikian juga penambahan pembangunan stasiun-stasiun relay televisi di Poso dan Tolitoli. Selain itu, juga mendorong percepatan reaslisasi jalan raya lintas Sulawesi, serta menyelesaikan proses pencalonan dan
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 13 pelantikan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banggai. Pj. Gubernur ini dapat menyerap dana sebesar Rp.52,6 milyar dengan proyek sebanyak 5.835 proyek (Memory Pj. Kepala Daerah RH. Eddy Djadjang Djajaatmadja Djayaatmadja, 1980).
Gubernur keenam juga Pj.
Mayjen H. Eddy Sabara yang diangkat dengan SK Presiden Nomor 150/M tahun 1980 yang melaksanakan tugas dari tanggal 25 November 1980 sampai 19 Februari 1981. Selain PJ Gubernur juga bertugas sebagai Inspektur Jenderal Departemen Dalam Negeri. Keberhasilan yang dapat dilihat dalam periode ini adalah berhasil mengkonsolidasi stabilitas sosial politik di Sulawesi Tengah
dan jalannya pemerintahan dalam waktu yang relatif singkat. Proses pencalonan dan pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah yang definitif dan juga dinyatakan lancar, aman, tertib dan sukses. Beliau dapat memberikan jalan keluar yang terbaik terhadap persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakat Sulawesi Tengah (19 Tahun Provinsi Dati I Sulawesi Tengah, 1983: 48).
Gubernur ketujuh Provinsi Sulawesi Tengah dipercayakan kepada Drs. H. Galib Lasahido yang dimulai pada tanggal 19 Pebruari 1981. Galib Lasahido diangkat berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia nomor 38/M tahun 1981. Menurut buku Sejarah Sulawesi Tengah dikatakan bahwa beliau dilahirkan sebagai
14 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi gubernur oleh kondisi dan situasi
serba aspiratif. Hal ini terjadi karena beliau tampil sebagai titik tentu yang paling puncak dari aspirasi rakyat daerah dan pusat setelah melalui proses mekanisme demokrasi demokrasi yang cukup panjang. Ia memperoleh berkat, hikmah dan karunia dari kesabaran, keikhlasan, kejujuran, ketekunan, dan ketakwaan.
Beliau menerima jabatan Gubernur tersebut, benar-benar dari kepercayaan rakyat dan
pemerintah secara utuh sebagai seorang Pamong Praja Karier, bukan karena perjuangan politiknya atau ambisi pribadinya. Beliau menerapkan kebijakan atau prinsip kesinambungan perlu dikembangkan dan ditingkatkan berdasarkan hasil pelita I, II, dan III. Pedoman dasar kita melaksanakan pembangunan cukup mendasar untuk dijabarkan sesuai situasi dan kondisi wilayah, masyarakat, dan pemerintahan sebagaimana telah digariskan dalam TAP MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN serta Pelita III Nasional maupun daerah. Program yang dapat dilaksanakan dengan baik adalah pelaksanaan Pemilu tahun 1982 dan program atau proyek tahun 1982/1983 berhasil menyerap investasi sebesar Rp. 87,4 milyard dengan berhasil mengerjakan proyek sebanyak 12.571 buah proyek (19 Tahun Propinsi dati I Sulawesi Tengah, 1983: 49-52).
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 15 Gubernur kedelapan dipegang oleh H. Abdul Azis Lamajido, S.H. Diangkat dengan SK Presiden RI nomor 23/M tahun 1986. Azis Lamajido meletakkan dasar kebijakan
pada Lima skala prioritas pembangunan Sulawesi Tengah, yakni: Pertama, Peningkatan produksi pertanian dalam rangka menuju swasembada pangan. Kedua, penyediaan bahan baku industri dan memperbesar volume ekspor non migas. Ketiga, Peningkatan pembangunan industri yang mengolah hasil-hasil pertanian.
Keempat, Peningkatan prasarana dan sarana perhubungan khususnya yang menuju daerah pedesaan. Dan
Kelima, Gerakan Terobosan Pembangunan Desa (Gerbosbangdes).
Pada hakekatnya, konsep ini merupakan suatu crash program untuk mendukung suksesnya Program Pembangunan Nasional dan daerah.
Beliau menitikberatkan pada pembangunan desa yang bertujuan untuk merubah mental, mendorong dan memacu serta menerobos hambatan pembangunan dengan mengusahakan adanya partisipasi swadaya masyarakat. Azis Lamadjido memperoleh pena emas dari PWI Pusat karena jasa-jasanya dan berhasil melakukan pembinaan Pers di daerah Provinsi Sulawesi Tengah.
16 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Gubernur kesembilan
dipegang oleh Brigjen (Purn) H.B. Paliudju yang menjabat dari tahun 1996 hingga 2001.
Bandjela Paliudju lahir di Palu Sulawesi Tengah pada tanggal 3 Maret 1945. HB. Paliudju adalah seorang asal Sulawesi Tengah. Dia juga menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Tengah pada tahun 2006 hingga tahun 2011 untuk periode kedua, dan berpasangan dengan Ahmad Yahya, SE., MM. Pertama kali
menjabat sebagai gubernur pada tahun 1996 dan mengakhiri periode pertama pada tahun 2001. Dia menang telak dalam Pemilihan Gubernur pada tahun 2006, dan terpilih lagi serta menjabat kembali hingga tahun 2011, dan digantikan untuk sementara oleh Tanribali Lamo. Program andalan HB. Paliudju pada periode pertama menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Tengah adalah Gerakan Mandiri Membangun Desa (Gema Bang Desa) sebagai kelanjutan dari pembangunan sebelumnya yakni Program Gerbongbangdes. Gerakan pembangunan yang dilakukan HB.
Paliudju adalah membangun manusia di desa secara mandiri, bebas, bahagia, dan aman.
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 17 Gubernur kesepuluh
dipegang oleh Prof (em) H.
Aminuddin Ponulele yang pernah menjabat sebagai Gubernur dalam periode 2001-2006. Prof. (Em) Drs.
H. Aminuddin Ponulele, M.S. lahir di Palu Sulawesi tengah tanggal 5 Juli 1939.
Latar belakang pendidikan Aminuddin Ponulele dimulai dari SR Palu tahun 1951 dan SMPN Makassar pada tahun 1954. Kelanjutan sekolah beliau adalah sarjana (S1) Biologi pada FKIP Manado pada tahun 1967 dan pascasarjana (S2) di Institut
Pertanian Bogor (IPB) dalam bidang “Environmental Study” (PSL) pada tahun 1988. Gubernur ini memiliki pengalaman yang luar biasa dalam berorganisasi. Pengalaman organisasi yang beliau lalui antara lain Sekretariat Yayasan UNTAD (1963), Sekretaris Panitia Persiapan Universitas Tadulako (1965), Dekan Muda FKIE – IKIP Ujung Pandang Cabang Palu (1970-1976), Ketua SIWO/PWI Sulawesi Tengah (1976-1978),Ketua PERSIPAL Palu (1978-1990), Ketua II KOSGORO Sulawesi Tengah (1979-1989),Ketua II KONI Sulawesi Tengah (1980-1990), Ketua Umum PASI Sulawesi Tengah (1980-1990), Kepala Balai Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Tadulako (1981-1986), Pembantu Rektor III Universitas Tadulako (1989-1990), Pembantu Rektor I Universitas Tadulako (1990-1994),
18 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Ketua Pusat Studi Lingkungan Universitas Tadulako (1982-1995), Koordinator Staf Ahli BAPPEDA Tingkat I Sulawesi Tengah (1991- 1995), Ketua Harian Pengurus ICMI Propinsi Sulawesi Tengah (1991- 1995), Wakil Ketua Dewan Pembina Perguruan Islam Alkhaerat Pusat Palu (1992-sekarang), Korwil ICMI Sulawesi Tengah (1995- sekarang),Pembina Pemuda PANCAMARGA Sulawesi Tengah,Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah (1992-1997), Ketua Umum INKAI Sulawesi Tengah (1994-1998), Wakil Ketua GOLKAR DPD I Sulawesi Tengah (1998-sekarang), Ketua GOLKAR DPD I Sulawesi Tengah (1998-sekarang), Penasehat Forum Komunikasi Lembaga Dakwah Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, 8 April 1994 No.
WS/4/BA.01/47/1994 Kanwil Agama Propinsi Sulawesi Tengah, Ketua IMI Sulawesi Tengah (1999-2004), Ketua UMUM PGP Sulawesi Tengah (1999-2004), Ketua Umum Kafilah MTQ nasional XIX (2000), Ketua Kontingen PON XV Sulawesi Tengah di Surabaya (2000). Visi dan misi Beliau sebagai gubernur Sulawesi Tengah adalah
“Terwujudnya Tatanan Masyarakat Madani Melalui Otonomi Daerah Dalam Format Baru Sulawesi Tengah.” Sementara misi pemerintahan Aminuddin Ponulele melakukan restrukturisasi, refungsionalisasi, revitalisasi, reaktualisasi, dan reposisi kelembagaan Pemerintah Daerah, Pemberdayaan Organisasi Politik, Pemasyarakatan, dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM). Beliau juga pernah menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah periode 2009-2014 kemudian lanjut lagi menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah periode 2014-2019 (Riwayat Hidup Aminuddin Ponulele, 2017).
Gubernur sekarang dipegang oleh Drs. H. Longki Djanggola, M.
Si. 2011-2016 dan 2016-2021. Beliau mengawali kariernya sebagai staf perwakilan Pemda Sulteng di Jakarta, pria kelahiran Palu ini
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 19 menjadi bupati Parigi
Moutong dua periode dan gubernur dua periode.
Longki Djanggola lahir di Palu, Sulawesi Tengah pada tanggal 11 November 1952.
Longki menyelesaikan SD dan SMP di Palu.
Sedangkan SMA-nya diselesaikan di Sekolah Menengah Apoteker Makassar, Sulawesi Selatan dan lulus pada tahun 1971.
Setelah itu, ia kuliah di Fakultas MIPA, Universitas Indonesia, Jakarta dan mendapatkan gelar sarjana pada tahun 1983. Dalam
berorganisasi Longki Djanggola terbilang aktif. Sejak mahasiswa beliau aktif di Organisasi Kampus sebagai Wakil Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas MIPA, Universitas Indonesia.
Selain itu, ia juga aktif di Pemuda Pancasila, MPI (Majelis Pemuda Indonesia) Sulawesi Tengah, AMPI, MKGR, Partai Golkar, hingga menjadi Ketua Partai Gerindra.
Kariernya dimulai pada tahun 1983 sebagai staf perwakilan Pemda Sulawesi Tengah di Jakarta. Setahun setelah itu, ia naik menjadi Kepala Perwakilan Pemda Sulawesi Tengah di Jakarta dari tahun 1984 hingga 1989. Kariernya terus meningkat hingga beliau ditarik kembali ke kota kelahirannya menjadi Kepala Bagian Tata
20 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Usaha pada Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah 1989-1998. Setelah itu, kariernya berpindah-pindah menjadi Kepala Biro Humas Pemda Sulawesi Tengah, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah. Pada tahun 2002, ia diangkat menjadi Pj.
Bupati Parigi Moutong masa bakti 2002-2003. Tak lama kemudian, ia terpilih menjadi Bupati Parigi Mautong periode 2003-2008, 2008- 2012. Pada periode keduanya, Longki tidak meneruskan karena pada tahun 2011, ia maju dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah dan terpilih untuk periode 2011-2016. Pada Pemilihan Kepala Daerah Gubernur (Pilkada Gubernur) periode berikutnya, Longki Janggola terpilih kembali masa jabatan 2016-2021.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2016-2021 dengan Visi “Sulawesi Tengah maju, mandiri dan berdaya saing." Penjabaran visi tersebut menjadi lima misi sebagai implementasi pemerintahan Longki Janggola, yakni: pertama, melanjutkan reformasi birokrasi, mendukung penegakan supremasi hukum dan hak asasi manusia (HAM). Kedua, meningkatkan pembangunan infrastruktur daerah dan mendukung kemandirian energi. Ketiga, meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Keempat, mewujudkan pengelolaan sumberdaya agribisnis dan maritim yang optimal dan berkelanjutan sejajar dengan provinsi maju di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan kelima, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang berdaya saing dan berbudaya. Hal ini merupakan lanjutan dari visi Gubernur Sulteng Longki Djanggola di periode pertama dalam kepemimpinannya yang menentapkan visi dalam RPJMD 2011-2016 yakni “Sulawesi Tengah sejajar dengan provinsi maju di Kawasan Timur Indonesia dalam pengembangan agribisnis dan kelautan, melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 21 yang berdaya saing pada tahun 2020.” Berdasarkan penilaian dan analisis data terkini, telah banyak kemajuan atau prestasi yang dicapai dalam lima tahun terakhir. Kemajuan tersebut antara lain pembangunan infrastruktur daerah, pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peningkatan daya saing. Kemudian indikator-indikator keberhasilan lainnya seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pengentasan kemiskinan, kesempatan kerja serta kemajuan dalam sektor-sektor ekonomi lainnya. Menurut Kepala Bappeda Provinsi Professor Pata Tope bahwa "Keberhasilan lima tahun terakhir, telah membangkitkan optimisme menuju kesejajaran dengan provinsi maju di Kawasan Timur Indonesia."
Sementara itu, perkembangan perekonomian Sulawesi Tengah pada tahun 1978 dapat dinyatakan bahwa dari hasil perhitungan survey pendapatan regional Provinsi Sulawesi Tengah tahun 1977 dapat dilihat bahwa Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp.104.049.810.000, sedangkan tahun sebelumnya sebesar Rp.80.313.840.000 atau dengan kata lain naik sebesar 29,55% (BPS Sulteng Dalam Angka 1978, 1979: 373).
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi secara real (harga konstan tahun 1971) selama periode 1971-1977 adalah sebesar 14,70 % per tahun. Jika dibandingkan dengan angka nasional dalam periode yang sama angka tersebut masih di atas angka nasional yaitu 8 % per tahun. Kenaikan Real dari tahun 1976 ke tahun 1977 hanyalah sebesar 9,3 %. Kenaikan ini merupakan kenaikan yang terkecil bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena disebabkan oleh turunya sumbangan dari sub sektor peternakan dan sub sektor perdagangan masing-masing sebesar 7,01 % dan 5,86 %. Dua tabel di bawah ini akan memberikan gambaran
22 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi perkembangan perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah di tahun 1970-an dan tahun 2011-an.
Tabel 1.1
Distribusi PDRB Sulteng atas dasar Harga Yang Berlaku menurut Lapangan Usaha (Dalam Persen)
1975-1977
Sub Sektor/Tahun 1975 1975 1977 Pertanian, Kehutanan, Peternakan,
dan Perikanan 59,8 56,4 57,9
Perdagangan Besar Eceran, dan
Perhotelan 21,3 21,5 16,8
Pemerintahan dan Pertahanan 9,3 11,4 11,5 Pertambangan, Industri, bangunan,
Listrik, Transport, Komunikasi, Bank, sewa rumah, dan Jasa-jasa
9,4 10,9 13,6
Sumber: BPS Provinsi Sulawesi Tengah 1978.
Tabel 1.2
Distribusi PDRB Sulteng
Menurut Laapangan Usaha (Dalam Persen) 2011-2017
Sub Sektor/Tahun 201
1 201
2 201
3 201
4 201
5 201
6 201 7 Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan
6.08 5.85 5.66 6.76 6.35 2.4 4.46 Pertambangan dan Penggalian 32.4
5
29.3 7
27.9 2
25.9 3
27.4 1
34.7 4
15.1 8 Industri Pengolahan 4.91 5.49 4.44 8.02 89.9
8
35.1 1
11.2 8 Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8.33 5.18 7 10.8 2
4.99 5.4 4.02 Jasa Keuangan dan Asuransi 16.9
8
4.79 7.11 3.83 6.09 17.6 6
7.1 Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
8.39 9.55 8.74 9.29 8.5 6.16 6.53
Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial 8.99 7.58 5.07 10.4
9
6.74 4.31 8.5 Sumber: BPS Provinsi Sulawesi Tengah 2017.
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 23 Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2017 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 134,24 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 97,55 triliun. Sementara itu, Ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2017, tumbuh sebesar 7,14 persen, melambat dibandingkan tahun 2016 sebesar 9,98 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 15,18 persen.
Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Impor sebesar 88,09 persen. Kemudian, ekonomi Sulawesi Tengah triwulan IV tahun 2017 bila dibandingkan triwulan IV tahun 2016, tumbuh sebesar 9,15 persen lebih cepat bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,75 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 21,78 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Impor Barang dan Jasa sebesar 178,04 persen. Ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah triwulan IV tahun 2017 dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami pertumbuhan sebesar 2,15 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi juga dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan sebesar 5,28 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 94,11 persen. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi wilayah Pulau Sulawesi tahun 2017 tumbuh sebesar 7,01 persen dengan pertumbuhan tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan yang tumbuh 7,23 persen (https://sulteng.bps.go.id/pressrelease /2018/02/05/773/ ekonomi-sulawesi-tengah-tahun-2017-tumbuh- 7-14-persen.html).
Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan-I 2018 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
24 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi atas dasar harga berlaku mencapai Rp34,92 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp24,63 triliun. Sementara itu, ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah triwulan-I 2018 tumbuh 6,62 persen lebih cepat dibanding triwulan-I 2017, sebesar 3,97 persen.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 15,43 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Impor sebesar 342,86 persen. Selanjutnya, ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah triwulan I-2018 mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi) 2,30 persen bila dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari sisi produksi, kontraksi terbesar terjadi pada lapangan usaha konstruksi sebesar 5,44 persen. Sedangkan, dari sisi pengeluaran, kontraksi terbesar terjadi pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 13,63 persen. Namun, secara spasial, pertumbuhan ekonomi wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) triwulan- I 2018 tumbuh sebesar 10,16 persen dengan pertumbuhan tertinggi di Provinsi Papua yang tumbuh 28,93 persen (https://
sulteng.bps.go.id/ pressrelease/ 2018/05/07/774/ pertumbuhan- ekonomi -sulawesi-tengah- triwulan-i-tahun-2018-.html).
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 25 BAB II
MELINTASI WAKTU SEJARAH BANK SULTENG 1969-2019
2.1. Pembentukan BPD Secara Yuridis Kelahiran Bank Sulteng secara yuridis dilandasi oleh sebuah peraturan pendirian yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 1962 tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah yang diundangkan pada tanggal 16 Agustus 1962 dan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Pokok- Pokok Perbankan. Kemudian dua regulasi tersebut dilengkapi dengan Peraturan Daerah (Perda) Sulawesi
Tengah No. 6 tahun 1966 tentang Pendirian Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah. Perda mengenai Pendirian Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dibuat pada saat Gubernur Pertama Sulawesi Tengah yakni Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning dengan pimpinan DPRD-GR tahun 1966 Zainuddin Abdul Rauf (Buku Himpunan Keputusan DPRD-GR Provinsi Sulawesi Tengah 1966-1967: 66-79).
Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 1966 tentang Bank Pembangunan Daerah ditetapkan pada tanggal 17 Pebruari 1966 di Poso oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong Zainuddin Abdul Rauf, kemudian baru diundangkan pada tanggal 1 Januari 1968 di Palu oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi
26 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Tengah Drs. Abdul Azis Larekeng dan mengetahui oleh Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning. Peraturan daerah ini disahkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan nomor 9/13/46-141 pada tanggal 26 Juli 1966 ditandatangani oleh Asisten Menteri Urusan Pelaksanaan Eni Karim. Pada akhirnya Perda ini dimuat dalam Lembaran Daerah nomor 1 tahun 1968. Atas inisiatif Gubernur dan Bagian Keuangan mengangkat Direktur Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah Mohammad Idris RoE pada tanggal 1 April 1969.
Pada Perda tersebut disebutkan pada Bab III Modal pasal 7 ayat 1 bahwa modal dasar bank berjumlah Rp. 1.000.000.000 yang terdiri atas 500 saham prioritas dan 5.000 saham biasa, saham ini diambil dan disetor penuh oleh Provinsi Sulawesi Tengah dan kabupaten dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tengah (Perda No.6/1966).
Aktifitas perbankan di Sulawesi Tengah antara tahun 1974- 1978 terdapat 8 Bank, yaitu: Bank Indonesia, Bank Negara Indonesia 1946, Bank Rakyat Indonesia, Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor/Impor, Bank Pembangunan Daerah, dan PT. Marannu Bank. Pemupukan Dana Perbankan dalam daerah Sulawesi Tengah pada tahun 1974 giro tercatat sebesar 1.306 (dalam juta Rp), deposito sebesar 144 (dalam juta Rp), Tabungan sebesar 368 (dalam juta Rp). Pada tahun 1976 telah mengalami peningkatan dengan rincian giro tercatat sebesar 3.073 (dalam juta Rp), deposito sebesar 374 (dalam juta Rp), Tabungan sebesar 942 (dalam juta Rp).
Demikian juga pada tahun 1978 tercatat giro sebesar 3.536 (dalam juta Rp), deposito sebesar 469 (dalam juta Rp), Tabungan sebesar 1.274 (dalam juta Rp). Dengan demikian selama empat tahun aktifitas penggalangan dana perbankan yang diperoleh melalui Giro, Deposito, dan tabungan mengalami peningkatan dari tahun 1974
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 27 hingga tahun 1978. Demikian juga penabung Tabanas pada tahun 1974 sebanyak 26.187 orang dan meningkat di tahun 1978 sebanyak 36.792. Penabung Taska 1974 sebanyak 62 dan pada tahun 1978 sebanyak 41 (BPS 1978: 322-323).
Pada tahun 1999 ada perubahan mendasar dari nama Perusahaan Daerah Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah kepada Perseroan Terbatas (PT) Bank Sulteng. Hal itu diatur berdasarkan Peraturan Daerah tingkat I Sulawesi Tengah Nomor 2 tahun 1999 tanggal 30 Maret 1999 telah dilakukan perubahan bentuk hukum Bank Pembangunan Daerah dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah yang disingkat menjadi PT. Bank Sulteng. Sebagai implementasi dari Perda No. 2 tahun 1999 di atas, manajemen Bank Sulteng telah menindaklanjuti perubahan status tersebut dengan pembuatan: Akta Pendirian Perseroan Terbatas No. 23 tanggal 30 April 1999 yang dibuat oleh Notaris Anand Umar Adnan, S.H., berkedudukan di Palu, dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah, disingkat menjadi PT. Bank Sulteng telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. C-12841 HT.01.01 TH 1999 tanggal 12 Juli 1999; dan di umumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No.
69 tanggal 27 Agustus 1999, sedangkan persetujuan Bank Indonesia diperoleh tanggal 10 Desember 1999 melalui Surat Gubernur Bank Indonesia No. 1/29/KEP .GBI/1999 (Kumpulan Akta Perusahaan Bank Sulteng, 1999-2009).
Selanjutnya, Pada tahun 2010 hingga tahun 2013 Bank Sulteng terjadi lagi pembenahan secara serius dalam pembaharuan regulasi yakni dengan adanya tiga kali perubahan Anggaran Dasar
28 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi yang disesuaikan dengan Keputusan RUPS tanggal 21 Mei 2010 dan telah dibuatkan dalam Akta Notaris Idayanti Pandan, S.H., M.Kn.
Nomor 14 tanggal 31 Januari 2011 dan sudah mendapat pengesahan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tanggal 21 Juni 2011. Kemudian dilakukan perubahan Anggaran Dasar lagi disesuaikan dengan Keputusan RUPS tanggal 28 Mei 2012 yang telah dibuatkan dalam Akta Notaris Hasnah, SH.MKn. No.
09 tanggal 30 Mei 2012 dan sudah mendapat pengesahan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No.AHU- AH.01.10-25126 tanggal 10 Juli 2012. Pada akhirnya perubahan Anggaran Dasar sesuai Keputusan tanggal 12 April 2013 yang telah dibuatkan dalam Akta Notaris Charles, SH.MKn. No. 69 tanggal 12 Juni 2013 dan sudah mendapat pengesahan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No.AHU-AH.01.10.47234 tanggal 07 November 2013.
Anggaran Dasar Bank diubah untuk pertama kalinya pada tanggal 7 April 2005 berdasarkan Akta Notaris Anand Umar Adnan No. 21 dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. C-12397 HT.01.04.TH.2005 tanggal 7 April 2005 dan diubah berdasarkan Akta Notaris Anand Umar Adnan No. 36 tanggal 11 Juni 2009, dengan Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) para pemegang saham Perseroan Terbatas Bank Sulteng dan telah memperoleh persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No: AHU-32701.AH.01.02 Tahun 2009, pada tanggal 14 Juli 2009. Pada tahun 2016 dilakukan pembaharuan AKTA PT Bank Sulteng oleh Charles, SH., M. Kn. Pejabat Notaris / PPAK dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Nomor 38 mengenai AKTA Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT.
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 29 Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah pada tanggal 29 Desember 2016 telah memperoleh persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No: AHU-0062004.AH.01.11 tanggal 20 Mei 2016 dengan total saham sebanyak 2.405.987 lembar saham dengan nominal seharga Rp.240.589.700.000,00,-(Buku 2, Kumpulan Akta Perusahaan, 2016).
2. 2 BPD Sulteng Secara Defakto
Fakta sejarah menunjukkan bahwa terbentuknya Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tengah berdiri pada tanggal 1 April 1969, yakni enam tahun pasca berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah pada masa pemerintahan Gubernur kedua Mohammad Jasin. Sumber penting yang menunjukkan tanggal 1 April 1969 adalah SK nomor 13/14/BPD/XI/ 1970 tanggal 4 April 1970 tentang
pengangkatan Kepala Kasir pertama BPD Sulteng yakni Hj. Emmy Borman, BA. dengan Nota Dinas nomor 112/UP/XI/68 tanggal 6 Desember 1968 oleh Kepala Biro Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Dj. Lapasere (SK. 13/14/BPD/XI/ 1970 tanggal 4 April 1970). Nota Dinas ini yang diperbantukan pada Bank Pembangunan Sulteng adalah A. Hanggi, E. Borman, BA, dan Theo Tumakaka. Surat keputusan ini ditandatangani oleh Direktur Utama Mohammad Idris RoE yang diangkat pada tanggal 1 April 1969. Pada
Mohammad Idris RoE Direktur Utama
30 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi tahun 1969 tersebut, Bank Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah melakukan aktifitas kegiatan di kantor pusat operasional beralamat di Jalan Sultan Hasanuddin Palu. Dengan demikian, secara de fakto pendirian Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah lahir pada tanggal 1 April 1969 dan memperoleh Surat Izin Usaha dari Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor D.15.6.1.17 tanggal 27 Januari 1970 pada masa awal pemerintahan Orde Baru waktu itu dan mengangkat kasir pertama pada tanggal 1 April 1970.
Dengan demikian maka secara De Fakto berdirinya Bank Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah jatuh pada tanggal 1 April 1969 mengangkat Direktur pertama bernama Mohammad Idris RoE. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah sejak tahun 1969 hingga tahun 2019 (50 tahun) telah terjadi perubahan 16 kali pergantian Direktur. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah mengangkat Direktur Pertamanya yang bernama Mohammad Idris RoE yang bertugas sejak tahun 1969-1974 yang diangkat oleh Gubernur Sulawesi Tengah Kolonel Mohammad Yasin berdasarkan UU No.13/1962, UU No.13/1964, dan UU No.18/1965. Mohammad Idris RoE lahir di Enrekang dan memulai karir di Bank Antar sebagai Kepala Cabang di Palu. Pada tahun 1968 Bank Antar ditutup sehingga Mohammad Idris RoE diminta oleh Sekda Provinsi Sulteng (Abdul Azis Larekeng) untuk menjadi Direktur Bank Pembangunan Daerah Sulteng. Pimpinan Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah sejak berdirinya 1969-1974 yang mendampingi Mohammad Idris Roe (Direktur Utama) adalah Drs. Said Awad, M.H. sebagai Direktur yang diambil dari bagian Perencanaan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah. Dasar pertimbangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah melakukan pendirian Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah adalah mempercepat terlaksananya usaha- usaha pembangunan daerah melalui pengerahan modal dan potensi
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 31 di daerah untuk pembiayaan pembangunan daerah dalam rangka menyambut pembangunan nasional semesta berencana. Kantor BPD Sulteng pada awal berdirinya dapat diperhatikan berikut ini.
Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tengah pada awal berdirinya terdapat delapan orang yang menggerakkan antara lain:
Mohammad Idris RoE (alm) (direktur pertama), Latif Renden (alm), Syukur Hamid (alm), Yusuf Sipi, Emmy Borman, Arifin L. Lemba (alm), Dg. Manyapa (alm), dan Tadjuddin Ralla (alm). Kedelapan tokoh ini menjadi cikal bakal pegawai yang menjalankan Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dari 1969 hingga tahun 1975. Menurut keterangan Hans Kindangen (mantan Pjs. Dirut Bank Sulteng) bahwa pegawai Bank Pembangunan Sulteng pertama kebanyakan berasal dari Bank Antar yang ditutup pada tahun 1968.
32 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Pada perkembangan selanjutnya, pegawai Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulteng dari delapan orang bertambah lagi menjadi empat belas orang. Kedelapan orang pegawai awal tersebut antara lain: Mohammad Idris RoE (alm) (Direktur Pertama), Abd. Latif Renden (alm), Syukur Hamid, Jusuf Sipi, Emmy Borman, Arifin Loulemba (alm), Dg. Manyapa Lamaundu (alm), dan Tadjuddin Ralla.
Adapun pegawai Bank Pembangunan Sulteng dapat diperhatikan berikut ini.
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 33 Foto PT. Bank Sulteng
pada tahun 1996 dapat diperhatikan berikut ini.
Foto Gedung PT. Bank Sulteng III Tahun 2003
34 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi Kegiatan operasional Bank Pembangunan Sulteng pada tanggal 1 April 1969 pelayanannya masih terbatas pada pembukaan rekening giro, pemberian surat keterangan nasabah, referensi bank, dan pemberian kredit kecil. Berangsur-angsur Bank Pembangunan Daerah Sulteng semakin memperluas pelayanan kepada nasabah seperti pemberian jaminan bank antara lain: jaminan tender, jaminan pelaksanaan, jaminan penarikan uang muka untuk nasabah kontraktor.
Selain pertimbangan pengerahan modal dan memaksimalkan potensi daerah Sulawesi Tengah di Bank Pembangunan Daerah, juga ada pertimbangan politis, Sosiologis, psikologis, dan ekonomis (Himpunan Keputusan DPRD-GR Provinsi Sulteng 1966-1967: 77- 79). Pertimbangan politis berdasarkan Undang-Undang nomor 13 tahun 1962 pasal 1 ayat 1 tentang ketentuan-ketentuan pokok Bank Pembangunan Daerah bahwa setiap Provinsi diwajibkan mendirikan Bank Pembangunan Daerah untuk membiayai pembangunan di daerah-daerah yang meliputi proyek-proyek komplementer dari proyek-proyek nasional semesta berencana. Selain itu, upaya mempertinggi ketahanan resolusi yang salah satu seginya terjamin pula di Lembaga Perkreditan Bank sebagai alat perubahan cepat (revolusi) dimana Bank dapat menerima, menyimpan, dan merencanakan penyaluran kredit sesuai dengan peraturan dan ketentuan bank tekhnis. Dengan itu, Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah berfungsi sebagai alat perubahan cepat (revolusi) dan alat atau lembaga pembangunan ekonomi terutama dapat mensukseskan rencana pembangunan politik tiga tahun Sulawesi Tengah pada tahun 1965 dalam menyalurkan kreditnya sementara.
Hal ini menjadi dasar pertimbangan politik untuk menggalakkan manifestasi kegotongroyongan rakyat untuk kelompok bukan usaha
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 35 individu atau golongan.
Foto-Foto Rapat-Rapat awal membicarakan Bank Sulteng dapat diperhatikan berikut ini:
Pertimbangan psikologis dari pembukaan Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah adalah menumbuhkan rasa antusiasme atau gairah dari masyarakat secara psikologis karena Bank Pembangunan Daerah dalam rangka kegiatan penarikan dana dari masyarakat yang sudah jelas perencanaan dan arah penggunaannya.
Dana yang sudah terkumpul oleh Bank Pembangunan Daerah dapat
36 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi tersalurkan kepada kegiatan proyek pemerintah, perusahaan- perusahaan swasta nasional, dan juga diprioritaskan kepada proyek pemerintahan. Hal itu berarti bahwa dana pembangunan berasal dari rakyat untuk dipergunakan bagi rakyat juga. Oleh Karena itu Bank Pembangunan Derah merupakan suatu bank secara psiokologis mengemban amanat penderitaan rakyat menuju tata kemasyarakatan yang adil dan makmur yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud dari sila pertama Pancasila (Hans Kindangen, 2018).
Pendirian Bank Pembangunan Sulawesi Tengah juga didasari oleh pertimbangan bahwa bank ini menjadi alat penyaluran kredit dengan jaminan produksi yang berguna untuk pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Tengah. Selain itu proses kredit tentu saja akan menambah tingginya taraf kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah yang merasa sehingga akan menjadi salah satu penopang bertambahnya pendapatan ekonomi nasional.
Dalam rangka mendorong bertambahnya modal, maka sidang-sidang DPRD-GR Provinsi Sulawesi Tengah akan menetapkan nilai nominal untuk saham-saham yang diharapkan dari pengusaha untuk mendorong pertambahan modal yang dimiliki oleh Bank Pembangunan Provinsi Sulawesi Tengah.
Pendirian Bank Pembangunan Sulawesi Tengah bertujuan mewujudkan pembangunan nasional semesta berencana guna menuju tata masyarakat yang baru yaitu masyarakat adil dan makmur yang meliputi proyek komplementer terutama proyek- proyek semesta berencana. Berkaitan dengan hal ini maka kredit yang akan disalurkan Bank Pembangunan Daerah merupakan kredit yang bertujuan tidak hanya saja melaksanakan kegiatan
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 37 pembangunan ekonomi saja tetapi juga membantu usaha kearah stabilitas ekonomi. Hal itu bertujuan untuk mendapatkan efek inflatoir yang dimunculkan dari kredit perbankan dapat dibatasi pada proporsi yang wajar. Penjaminan dan usaha agar volume kredit yang disalurkan oleh perbankan sungguh ditujukan pada sektor yang menjadi skala prioritas pertama dalam rencana pembangunan Provinsi Sulawesi Tengah dengan memperhatikan tujuan pemerintah dalam jangka panjang. Hal ini sesuai dengan dua patokan yang ditegaskan oleh Bank Indonesia Jakarta pada tanggal 13 Juli 1963, yakni: Pertama, kredit untuk sektor produksi sekurang-kurangnya 50 % yang biasanya disebut kredit eksploitasi. Kedua, kredit untuk ekspor sekurang-kurangnya 20 % sebagaimana penjelasan Gubernur Anwar Datuk Madjo Basah Nan Kuning sebagai Gubernur pertama Provinsi Sulawesi Tengah (Surat BI Jakarta, nomor 11/574/UM/Pk tahun 1963). Pada masa Mohammad Idris RoE sebagai Direktur Utama, Direktur dipegang oleh Drs. Said Awad, M.H. 1969-1975.
DIREKTUR UTAMA DAN DIREKTUR PD. BANK PEMBANGUNAN SULTENG
1966-1975
Mohammad Idris RoE Direktur Utama
Drs. Said Awad, M.H.
Direktur
38 50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi DIREKTUR UTAMA DAN DIREKTUR
PD. BANK PEMBANGUNAN SULTENG 1975-1981
Mohammad Idris RoE Direktur Utama
Drs. H. Abd. Rahman Talib Direktur
Kemudian pada Periode 1975-1981 Direktur PD. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dipegang oleh Drs. H. Abd.
Rahman Talib. Setelah Mohammad Idris RoE menjadi Direktur pada tahun 1969-1974 digantikan oleh Direktur Kedua yang dipegang oleh Drs. Drs. Said Awad, M.H. untuk periode 1974-1975. Sementara itu, Direktur Utama masih dipegang oleh Mohammad Idris Roe pada periode kedua ini. Pada periode ketiga Mohammad Idris RoE tetap memegang posisi Direktur Utama dan posisi Direktur dipegang oleh Drs. H. Abd. Rahman Talib pada periode 1975-1981.
Pada periode 1981-1982 pengurus Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dipegang oleh Caretaker dengan Ketua Careteker Drs. HF. Tangkilisan dan anggota caretaker dipegang oleh Drs. H.
Malaga dan Drs. H. Tato Lamasituju. Jadi pada masa pemerintahan Gubernur Kolonel TNI Mohammad Jasin, Direktur Bank Pembangunan Sulawesi Tengah dipercayakan kepada Mohammad Idris RoE dan Drs. Said Awad, M.H.
50 Tahun Bank Sulteng: Melintasi Waktu, Merajut Dedikasi 39 DIREKTUR UTAMA DAN DIREKTUR
PD. BANK PEMBANGUNAN SULTENG 1981-1982
Drs. HF. Tangkilisan Careteker Direksi
Sementara itu pada periode Gubernur Brigjen TNI A.M.
Tambunan, Bank Pembangunan Daerah dipercayakan kepada Moehammad Idris RoE dan Abd. Rahman Thalib. Selanjutnya pada masa tiga Gubernur Drs. Galib Lasahido 1986 dipercayakan kepada tiga orang yakni masing-masing Drs. HF. Tangkilisan, Drs. H.
Malaga, dan Drs. H. Tato Lamasituju sebagai caretaker Direksi.
Drs. H. Malaga Anggota
Drs. H. Tato Lamasituju Careteker Direksi