Dokumen Metadata Indikator TPB/SDGs Indonesia terbagi menjadi 4 (empat) dokumen besar yang tidak dapat dipisahkan, yaitu: (1) Dokumen Indikator Metadata SDGs Indonesia Pilar Pembangunan Sosial termasuk Tujuan dan 5; (2) Pilar Pembangunan Ekonomi yang memuat Tujuan dan 17; (3) Pilar Pembangunan Lingkungan Hidup yang memuat Tujuan dan 15; dan (4) Pilar Pembangunan Hukum dan Tata Kelola, khususnya untuk tujuan 16. Kota berkelanjutan.80 INDIKATOR 11.3.2.(b) Jumlah lembaga pembiayaan infrastruktur..82 INDIKATOR 11.4.1.(a) Jumlah kota pusaka di daerah perkotaan metropolitan,.
MELINDUNGI, MERESTORASI DAN MENINGKATKAN PEMANFAATAN BERKELANJUTAN EKOSISTEM DARATAN,
MENJAMIN KETERSEDIAAN SERTA PENGELOLAAN AIR BERSIH DAN SANITASI YANG BERKELANJUTAN UNTUK SEMUA
2030, yang menerapkan pengelolaan sumber daya air secara terpadu di semua tingkatan, termasuk melalui kerja sama lintas batas yang tepat. 6.5.1.(h) Jumlah DAS prioritas yang jumlah mata airnya ditambah dengan konservasi sumber air di hulu DAS dan sumur resapan.
INDIKATOR 6.1.1.(a)
KONSEP DAN DEFINISI
Pada tahun 2030, mencapai akses universal dan adil terhadap air minum yang aman dan terjangkau bagi semua. Jumlah rumah tangga yang mempunyai akses terhadap sumber air minum yang layak pada suatu waktu dibagi dengan jumlah rumah tangga pada periode yang sama dinyatakan dalam persentase.
METODE PERHITUNGAN
MANFAAT
Aspek keamanan air yang diukur dengan kualitas air yang bebas dari pencemaran feses dan bahan kimia belum termasuk dalam indikator ini.
SUMBER DAN CARA PENGUMPULAN DATA
DISAGREGASI
FREKUENSI WAKTU PENGUMPULAN DATA
INDIKATOR 6.1.1.(b)
Total kapasitas prasarana air baku rumah tangga, kota, industri, dan pulau-pulau kecil dibagi jumlah sektor yang dilayani (4 sektor) dinyatakan dalam meter kubik per detik (m3/detik). KABR: Kapasitas infrastruktur air baku untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. KABK : Kapasitas prasarana air baku.
INDIKATOR 6.1.1.(c)
Indikator ini merupakan indikator nasional sebagai proksi indikator global untuk mengukur pencapaian akses terhadap air minum yang aman dan terjangkau bagi masyarakat. BPS melalui Susenas Kor yang dilakukan setiap tahun akan mengukur akses terhadap air minum yang aman dengan menggunakan indikator proksi berupa:. (i) jenis sumber air; (ii) lokasi sumber air; (iii) jarak sumber air ke rumah; (iv) waktu yang dibutuhkan untuk mengambil air ke dan dari rumah; (v) cara mendapatkan air (beli atau tidak beli); (vi) kejadian kekurangan air dalam setahun;
INDIKATOR 6.2.1.(a)
Banyaknya rumah tangga yang mempunyai sarana cuci tangan pakai sabun dan air dibagi dengan jumlah rumah tangga yang dinyatakan dalam persentase. RTCSA : Jumlah rumah tangga yang mempunyai fasilitas cuci tangan pakai sabun dan air JRT : Jumlah rumah tangga.
INDIKATOR 6.2.1.(b)
Jumlah rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai pada suatu waktu dibagi dengan jumlah rumah tangga pada periode yang sama, yang dinyatakan dalam persentase. Fasilitas sanitasi yang memadai sangat penting dalam mengukur akses rumah tangga terhadap layanan sanitasi yang memadai baik di perkotaan maupun pedesaan.
INDIKATOR 6.2.1.(c)
Jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan STBM adalah jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan STBM untuk mendukung peningkatan akses terhadap sanitasi dan kebersihan yang memadai dan merata bagi semua orang, dan terutama upaya menghentikan praktik buang air besar. Banyaknya kota/kelurahan yang melaksanakan STBM pada Provinsi ke-1, ditambah jumlah kota/kelurahan yang melaksanakan STBM pada Provinsi ke-2 hingga Provinsi ke-n, dinyatakan dalam satuan kota/kelurahan.
INDIKATOR 6.2.1.(d)
Memantau pelaksanaan STBM khususnya dalam terwujudnya perilaku higiene dan sanitasi mandiri masyarakat desa/kelurahan khususnya dalam buang air besar guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan lingkungan.
INDIKATOR 6.2.1.(e)
JKIL : Jumlah kabupaten/kota yang telah membangun infrastruktur air limbah sistem terpusat pada skala kota, regional, dan komunal. KILP1 : Jumlah kabupaten/kota yang telah membangun infrastruktur air limbah sistem terpusat pada skala kota, regional, dan komunal di Provinsi 1. KILP2 : Jumlah kabupaten/kota yang membangun.
INDIKATOR 6.2.1.(f)
PRTST: Proporsi rumah tangga yang terhubung dengan sistem pengolahan air limbah domestik terpusat pada skala perkotaan, regional, dan kota. JRTST: Jumlah rumah tangga yang dilayani oleh sistem pengolahan air limbah domestik terpusat JRT: Jumlah total rumah tangga.
INDIKATOR 6.3.1.(a)
Memantau peningkatan kabupaten/kota yang dilayani IPLT agar tidak mencemari lingkungan dan melindungi kesehatan masyarakat.
INDIKATOR 6.3.1.(b)
Jumlah rumah tangga yang terlayani oleh sistem pengelolaan lumpur tinja, baik yang direncanakan maupun tidak (berdasarkan panggilan/program) dengan jumlah rumah tangga yang terlayani dan tidak terlayani.
INDIKATOR 6.3.2.(a)
INDIKATOR 6.3.2.(b)
Indikator ini digunakan untuk memantau perubahan kualitas air di 15 danau prioritas dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh berbagai aktivitas yang dapat mencemari danau tersebut. Indikator ini digunakan untuk memantau perubahan kualitas air sungai dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh berbagai aktivitas yang dapat mencemarinya, serta menjadi dasar penghitungan Indeks Kualitas Air (IKA).
INDIKATOR 6.4.1.(a)
Pada tahun 2030, secara signifikan meningkatkan efisiensi penggunaan air di semua sektor dan memastikan penggunaan dan pasokan air bersih yang berkelanjutan untuk mengatasi kelangkaan air dan secara signifikan mengurangi jumlah orang yang menderita kelangkaan air. Mendorong upaya menjamin ketahanan air untuk mendukung ketahanan nasional yang dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan air untuk kebutuhan produktif sosial dan ekonomi melalui upaya mengurangi penggunaan sumber daya air yang berlebihan dan tidak terkendali.
INDIKATOR 6.4.1.(b)
Kementerian dan Lembaga (K/L): Peraturan tingkat nasional mengenai penggunaan sumber daya air yang efektif dan efisien untuk berbagai sektor pembangunan; Pemerintah Daerah (Pemda): Peraturan daerah yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya air secara efektif dan efisien untuk berbagai sektor pembangunan.
INDIKATOR 6.5.1.(a)
Pada tahun 2030, menerapkan pengelolaan sumber daya air terpadu di semua tingkatan, termasuk kerja sama lintas batas yang sesuai. Jumlah RPDAST yang terinternalisasi dalam RTRW Provinsi I ditambah dengan jumlah RPDAST yang terinternalisasi dalam RTRW Provinsi II Provinsi ke-9 yang dinyatakan dalam satuan RPDAST.
INDIKATOR 6.5.1.(b)
Jumlah stasiun hidrologi dan klimatologi yang diperbarui dan dihidupkan kembali pada Provinsi I, ditambah jumlah stasiun hidrologi dan klimatologi yang diperbarui dan dihidupkan kembali pada Provinsi II hingga Provinsi n, dinyatakan dalam satuan stasiun hidrologi dan klimatologi. Memantau dan mendorong pihak-pihak terkait untuk memperbaharui dan merevitalisasi sarana dan prasarana stasiun hidrologi dan klimatologi agar kegiatan pengukuran data hidrologi dan klimatologi dapat terlaksana secara tepat, akurat, dan berkelanjutan.
INDIKATOR 6.5.1.(c)
Memantau jumlah jaringan sumber daya air untuk mendukung pengelolaan air yang komprehensif, terpadu, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan tujuan mewujudkan manfaat sumber daya air yang berkelanjutan bagi kesejahteraan penduduk.
INDIKATOR 6.5.1.(d)
MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016)
Hutan Kemasyarakatan (HR) adalah hutan hak yang terletak pada tanah yang mempunyai hak milik (UU No. 41/1999 tentang Kehutanan). Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati, baik nabati maupun hewani, serta hasil turunan dan budidaya selain kayu yang berasal dari hutan.
KONSEP DAN DEFINISIINDIKATOR
Banyaknya DAS yang pulih kesehatannya melalui pengembangan hutan dan peningkatan HHBK adalah jumlah DAS yang pulih kesehatannya melalui pengembangan HTR, HKm, HD, HA dan HR serta peningkatan HHBK. Luas pengembangan hutan dan peningkatan HHBK untuk memulihkan kesehatan DAS pada provinsi ke-1 ditambah luas pengembangan hutan dan peningkatan HHBK untuk memulihkan kesehatan DAS pada provinsi ke-2 hingga provinsi ke-n dinyatakan dalam hektar (Ha).
INDIKATOR 6.5.1.(f)
Mendukung model pengelolaan sumber daya air termasuk partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pemanfaatan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air.
INDIKATOR 6.5.1.(g)
INDIKATOR 6.5.1.(h)
DMSP2 : Jumlah DAS prioritas yang mengalami peningkatan jumlah mata air melalui konservasi sumber daya air di wilayah hulu DAS dan sumur resapan di Provinsi 2. DMSPn : Jumlah DAS prioritas yang mengalami peningkatan jumlah mata air melalui konservasi sumber daya air di daerah hulu DAS dan sumur resapan di Provinsi n.
INDIKATOR 6.5.1.(i)
JDPE: Jumlah DAS prioritas yang telah dipulihkan kesehatannya melalui pembangunan waduk, check dam, dan bendungan retensi skala kecil dan menengah. DPEP1: Jumlah DAS prioritas yang telah dipulihkan kesehatannya melalui pembangunan waduk, bendungan pengendali, dan bendungan retensi kecil dan menengah di Provinsi 1 DPEP2: Jumlah DAS prioritas yang dipulihkan.
INDIKATOR 6.6.1.(a)
INDIKATOR 6.6.1.(b)
Jumlah danau yang kemiringannya kurang dari 1% adalah jumlah danau yang mengalami kemiringan kurang dari 1% akibat sedimentasi. Banyaknya danau yang tinggi muka airnya kurang dari 1% pada Provinsi I ditambah dengan jumlah danau yang muka tanahnya kurang dari 1% pada Provinsi II sampai Provinsi ke-n, dinyatakan dalam satuan danau.
INDIKATOR 6.6.1.(c)
INDIKATOR 6.6.1.(d)
Luas lahan kritis pada KPH yang direhabilitasi di Provinsi ke-1 ditambah dengan luas lahan kritis di KPH yang direhabilitasi di Provinsi ke-2 hingga Provinsi ke-n, dinyatakan dalam hektar (Ha). Banyaknya DAS prioritas yang mata airnya dilindungi dan dipulihkan kesehatannya di Provinsi ke-1 ditambah dengan jumlah DAS prioritas yang mata airnya dilindungi dan dipulihkan kesehatannya di Provinsi ke-2, ditambah Provinsi ke-n yang dinyatakan sebagai DAS prioritas adalah satuan .
MENJADIKAN KOTA DAN PEMUKIMAN INKLUSIF, AMAN, TANGGUH DAN BERKELANJUTAN
11.3.1.(a) Jumlah kota menengah di luar Pulau Jawa yang ditetapkan sebagai penyangga arus urbanisasi dan pusat pertumbuhan utama. 11.7.1.(a) Jumlah kota hijau yang menyediakan kawasan terbuka hijau di wilayah metropolitan dan perkotaan menengah.
INDIKATOR 11.1.1.(a)
Untuk rumah tangga yang mempunyai sumber air minum dari mata air terlindung yang jaraknya
INDIKATOR 11.1.1.(b)
Memantau peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat di wilayah perkotaan metropolitan yang diberikan oleh pemerintah daerah sesuai dengan prinsip SPP.
INDIKATOR 11.1.1.(c)
Jumlah kota menengah dan baru yang memenuhi SPP di Provinsi ke-1 ditambah dengan jumlah kota menengah dan baru yang mematuhi SPP di Provinsi ke-2 hingga Provinsi ke-n yang dinyatakan dalam satuan kota menengah dan baru. Memantau peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan pemerintah daerah kepada masyarakat di kota menengah dan kota baru dengan memenuhi prinsip SPP.
INDIKATOR 11.2.1.(a)
Persentase pengguna angkutan umum di perkotaan merupakan jumlah penduduk yang menggunakan kendaraan bermotor umum di perkotaan dibandingkan dengan jumlah penduduk di perkotaan. Jumlah pengguna angkutan umum di perkotaan pada suatu periode tertentu dibagi dengan jumlah penduduk perkotaan pada periode yang sama, dikalikan seratus persen, yang dinyatakan dalam satuan persentase.
INDIKATOR 11.2.1.(b)
Banyaknya sistem transportasi kereta api yang dikembangkan di kota-kota besar merupakan banyaknya sistem kereta api yang dikembangkan untuk melayani pergerakan masyarakat di kota-kota besar. Jumlah sistem transportasi kereta api yang dikembangkan di 1. Kota besar ditambah dengan jumlah sistem transportasi kereta api yang dikembangkan di 2. Kota besar ke n.Kota besar, yang dinyatakan dalam satuan perkotaan besar.
INDIKATOR 11.3.1.(a)
Jumlah kota menengah di luar Pulau Jawa yang diarahkan sebagai pengendali (buffer) arus urbanisasi dan sebagai pusat pertumbuhan utama adalah jumlah kota menengah di luar Pulau Jawa yang ditujukan untuk mengendalikan mobilitas penduduk dari desa ke kota. Jumlah kota menengah sebagai penyangga di Provinsi ke-1 ditambah dengan jumlah kota menengah sebagai penyangga di Provinsi ke-2 hingga Provinsi ke-n yang dinyatakan dalam satuan kota.
INDIKATOR 11.3.1.(b)
Banyaknya daerah metropolitan baru di luar Pulau Jawa sebagai PKN pada Provinsi ke-1 ditambah dengan banyaknya daerah metropolitan baru di luar Pulau Jawa sebagai PKN pada Provinsi ke-2 hingga Provinsi ke-n yang dinyatakan dalam satuan kota. Pantau perkembangan wilayah metropolitan baru di luar Pulau Jawa sehingga Anda dapat memantau laju penggunaan lahan di luar Pulau Jawa.
INDIKATOR 11.3.2.(a)
Banyaknya lembaga yang berperan aktif dalam FDPPKB kota ke-1 ditambah jumlah lembaga yang berperan aktif dalam FDPPKB kota ke-2 sampai dengan kota ke-n dibagi dengan jumlah kota yang dinyatakan dalam satuan kelembagaan per kota. . .
INDIKATOR 11.3.2.(b)
INDIKATOR 11.4.1.(a)
Jumlah kota pusaka di Provinsi ke-1 ditambah dengan jumlah kota pusaka di Provinsi ke-2 di Provinsi ke-n yang dinyatakan dalam satuan. KPP1 : Jumlah kota pusaka di Provinsi 1 KPP2 : Jumlah kota pusaka di Provinsi 2 KPPn : Jumlah kota pusaka di Provinsi n.
INDIKATOR 11.5.1*
Jumlah korban hilang akibat suatu bencana dibagi dengan jumlah penduduk dikalikan seratus ribu dan dinyatakan dalam satuan jiwa. Banyaknya korban luka akibat suatu bencana dibagi dengan jumlah penduduk dikalikan seratus ribu dan dinyatakan dalam satuan orang.
INDIKATOR 11.5.1.(a)
Memantau jumlah korban jiwa, hilang, luka-luka, dan pengungsi akibat bencana dari waktu ke waktu dan mengevaluasi hasil penerapan kebijakan dan strategi pengurangan risiko bencana. Berdasarkan tingkat risiko tersebut, dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan analisis sebagai landasan kebijakan kelembagaan, pembiayaan, perencanaan, statistik dan operasionalisasi penanggulangan bencana.
INDIKATOR 11.5.1.(b)
INDIKATOR 11.5.1.(c)
Sistem peringatan dini merupakan suatu sistem peringatan dini kepada masyarakat mengenai kemungkinan terjadinya kecelakaan di kota yang dilakukan oleh instansi yang berwenang. Memantau dan mendorong ketersediaan sistem peringatan dini bencana di kota/daerah rawan bencana sehingga kerugian material dan nyawa dapat diprediksi.
INDIKATOR 11.5.2.(a)
Pada tahun 2030, mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan perkotaan per kapita, termasuk dengan memberikan perhatian khusus pada kualitas udara dan pengelolaan sampah kota.
INDIKATOR 11.6.1.(a)
Persentase sampah perkotaan yang dikelola merupakan jumlah sampah perkotaan yang dikelola dibandingkan dengan jumlah sampah perkotaan total. Jumlah sampah perkotaan yang tertangani dibagi dengan jumlah sampah perkotaan total dikalikan seratus persen yang dinyatakan dalam satuan persentase.
INDIKATOR 11.6.1.(b)
Jumlah kota hijau yang mengembangkan dan menerapkan sampah hijau di provinsi ke-1 ditambah dengan jumlah kota hijau yang mengembangkan dan menerapkan sampah hijau di provinsi ke-2 hingga provinsi ke-n, yang dinyatakan dalam satuan kota hijau. Pada tahun 2030, memastikan ruang publik dan ruang terbuka hijau yang aman, inklusif, dan mudah diakses, terutama bagi perempuan dan anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
INDIKATOR 11.7.1.(a)
Jumlah kota hijau yang menyediakan kawasan terbuka hijau pada kawasan perkotaan metropolitan dan kota sedang adalah jumlah kota hijau pada kawasan perkotaan metropolitan dan kota sedang yang menyediakan kawasan khusus sebagai kawasan terbuka hijau paling sedikit 30% dari luas kota. daerah. Jumlah kota hijau yang menyediakan kawasan terbuka hijau pada provinsi ke-1 ditambah dengan jumlah kota hijau yang menyediakan kawasan terbuka hijau pada provinsi ke-2 hingga ke-n, yang dinyatakan dalam satuan kota hijau.
INDIKATOR 11.7.2.(a)
Pencurian dengan kekerasan adalah perampasan barang-barang atau hewan ternak milik orang lain seluruhnya atau sebagian, dengan maksud untuk mengambil alih sesuatu itu tanpa haknya, yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang tersebut. dengan maksud untuk mempersiapkan atau memfasilitasi pencurian, atau jika ia tertangkap basah (tertangkap), agar ia dan teman-temannya yang ikut serta dalam kejahatan itu melarikan diri, atau agar barang curian itu tetap berada di tangannya. Jumlah penduduk yang menjadi korban kejahatan dalam 12 bulan terakhir dibagi dengan jumlah penduduk pada tahun ini dikalikan seratus persen yang dinyatakan dalam persentase.
INDIKATOR 11.b.1*
Pada tahun 2020, secara signifikan meningkatkan jumlah kota dan pemukiman yang mengadopsi dan menerapkan kebijakan dan perencanaan terpadu terkait dengan inklusivitas, efisiensi sumber daya, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, ketahanan terhadap bencana, serta mengembangkan dan menerapkan manajemen risiko bencana secara holistik di semua bidang, sesuai dengan Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030. Mengawasi pemerintah kota yang memiliki RPBD dan RAD API untuk memastikan penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan komprehensif.
INDIKATOR 11.b.2*
Mengembangkan rencana BP yang mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan berdasarkan analisis risiko bencana dan menentukan pilihan tindakan yang konsisten dengan fokus prioritas, program, target pencapaian dan kegiatan yang diperlukan. Memberikan acuan bagi kementerian, lembaga pemerintah/pemerintah daerah, dan lembaga non-pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan BP di Indonesia, agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terpadu, terkoordinasi, dan komprehensif.
MENJAMIN POLA PRODUKSI DAN KONSUMSI YANG BERKELANJUTAN
12.a.1 Dukungan total negara-negara berkembang terhadap penelitian dan pengembangan konsumsi dan produksi berkelanjutan serta teknologi ramah lingkungan. 12.b.1 Jumlah strategi atau kebijakan pariwisata berkelanjutan dan implementasi rencana aksi, dengan alat pemantauan dan evaluasi yang disepakati.
INDIKATOR 12.1.1*
Indikator tersebut dicapai melalui tersedianya dokumen kerjasama tematik program Quickwins yang disetujui pada saat pendataan, yang merupakan indikasi pengarusutamaan dan implementasi rencana aksi produksi dan konsumsi berkelanjutan di tingkat nasional pada tahun berjalan. Dokumen ini menunjukkan adanya kebijakan dan strategi, serta rencana aksi yang melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas hidup di berbagai sektor guna mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mendukung terciptanya pola konsumsi dan produksi berkelanjutan dalam berbagai pembangunan. sektor.
INDIKATOR 12.4.1.(a)
Jumlah peserta Proper peringkat Biru ditambah dengan jumlah peserta Proper peringkat Hijau ditambah dengan jumlah peserta Proper peringkat Emas yang dinyatakan dalam satuan perusahaan. Jumlah minimum peserta Proper peringkat Biru adalah jumlah peserta Proper peringkat Biru ditambah dengan jumlah peserta Proper peringkat Hijau ditambah dengan jumlah peserta Proper peringkat Emas, yang dinyatakan dalam satuan perusahaan.
INDIKATOR 12.4.2.(a)
Jumlah limbah B3 yang diolah sesuai peraturan perundang-undangan adalah jumlah limbah B3 yang dihasilkan yang telah dikurangi dan/atau dihilangkan sifat berbahaya dan/atau racunnya menurut jenis pengolahan tertentu sesuai peraturan perundang-undangan. Memantau pengelolaan limbah B3 dan upaya pengurangan sifat berbahaya dan/atau racun limbah B3 yang dihasilkan dari kegiatan industri.
INDIKATOR 12.5.1.(a)
Jumlah sampah yang dihasilkan yang didaur ulang adalah jumlah sampah yang dihasilkan yang didaur ulang di pusat daur ulang skala kota dan tempat daur ulang lainnya. Memantau pengelolaan sampah daur ulang untuk mengurangi, membatasi, dan menggunakan kembali timbulan sampah, sebagai upaya penerapan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.
INDIKATOR 12.6.1.(a)
Memantau dan mendorong perusahaan untuk mengembangkan dan melaksanakan kebijakan dan pengelolaan aspek lingkungan hidup berdasarkan SNI ISO 14001, yang dapat mendukung pengelolaan usaha berwawasan lingkungan.
INDIKATOR 12.7.1.(a)
INDIKATOR 12.8.1.(a)
Jumlah fasilitas umum yang melaksanakan SPM dan terdaftar adalah jumlah fasilitas umum yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, meliputi fasilitas, informasi, pendidikan dan penghormatan dengan fokus substantif pada efisiensi sumber daya (energi, air dan material) dan pelaksanaan pengelolaan sampah. pengelolaan. Memantau dan mendorong peningkatan jumlah fasilitas umum yang melaksanakan SPM dan terdaftar untuk memberikan manfaat peningkatan kualitas lingkungan di tingkat tapak kepada seluruh masyarakat dengan memberikan kapasitas dan mengubah perilaku baik pengelola fasilitas umum maupun pengguna fasilitas umum.
MENGAMBIL TINDAKAN CEPAT UNTUK MENGATASI PERUBAHAN IKLIM DAN DAMPAKNYA
13.b Mempromosikan mekanisme untuk meningkatkan kapasitas perencanaan dan pengelolaan perubahan iklim yang efektif di negara-negara kurang berkembang, negara-negara berkembang kepulauan kecil, termasuk fokus pada perempuan, pemuda dan komunitas lokal dan terpinggirkan. Memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptasi terhadap risiko terkait iklim dan bencana alam di semua negara.
INDIKATOR 13.1.1*
Indikator tersebut dicapai melalui tersedianya dokumen strategi PRB di tingkat nasional (Jakstra PB, Renas PB, RAN PRB dan/atau RAN API) dan daerah (RPBD, RAD PRB dan/atau RAD API) yang disahkan pada saat pendataan. , yang merupakan indikasi adanya kebijakan dan strategi, serta rencana aksi yang mendasari pelaksanaan PRB di tingkat nasional dan daerah pada tahun berjalan. Memantau ketersediaan kebijakan, strategi, dan rencana aksi PRB yang ditetapkan oleh pemerintah dan otoritas daerah, serta pihak lain, dalam strategi PRB nasional dan regional (provinsi/kabupaten/kota).
INDIKATOR 13.1.2*
Jumlah korban meninggal akibat suatu bencana dibagi dengan jumlah penduduk dikalikan seratus ribu dan dinyatakan dalam satuan orang. Jumlah korban yang mengungsi akibat suatu bencana dibagi dengan jumlah penduduk dikalikan seratus ribu dan dinyatakan dalam satuan orang.
INDIKATOR 13.2.1*
INDIKATOR 13.2.1.(a)
Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) merupakan dokumen rencana kerja pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara langsung dan tidak langsung mengurangi emisi gas rumah kaca sejalan dengan tujuan pembangunan daerah. Laporan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Tahunan merupakan dokumen yang melaporkan penurunan emisi gas rumah kaca setiap tahun melalui kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan RAN GRK dan RAD GRK untuk lima sektor prioritas yaitu kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri dan persampahan.
MELESTARIKAN DAN MEMANFAATKAN SECARA BERKELANJUTAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN SAMUDERA UNTUK
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
14.b Menjamin akses bagi nelayan kecil terhadap sumber daya laut dan pasar. KONSERVASI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA LAUT DAN LAUT SECARA BERKELANJUTAN UNTUK SUMBER DAYA LAUT DAN LAUT UNTUK.
INDIKATOR 14.2.1.(a)
Sebagai pengesahan dari UU No. 32 Tahun 2014 Indonesia saat ini sedang menyusun Peraturan Pemerintah (PP) tentang penataan ruang laut. Proyek perancangan ini akan menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam penyusunan rencana tata ruang laut yang komprehensif.
INDIKATOR 14.2.1.(b)
Pada tahun 2020, secara efektif mengatur pemanenan dan menghentikan penangkapan ikan yang berlebihan, penangkapan ikan ilegal dan praktik penangkapan ikan yang merusak, dan menerapkan rencana pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan untuk memulihkan stok ikan secara memadai dalam waktu sesingkat mungkin, setidaknya pada tingkat di mana hal tersebut dapat menghasilkan hasil berkelanjutan yang maksimal menurut karakteristik biologisnya.
INDIKATOR 14.4.1*
Jumlah tangkapan jenis ikan pada suatu periode waktu tertentu dibagi dengan jumlah tangkapan jenis ikan yang boleh ditangkap pada periode waktu yang sama dikalikan seratus persen, yang dinyatakan dalam satuan persentase. Melestarikan setidaknya 10 persen wilayah pesisir dan laut pada tahun 2020 sesuai dengan hukum nasional dan internasional dan berdasarkan informasi ilmiah terbaik yang tersedia.
INDIKATOR 14.5.1*
Memantau kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan untuk menjaga keseimbangan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan ekosistem perairan serta menyelenggarakan pengelolaan kawasan alam secara optimal dan berkelanjutan. Pada tahun 2020, melarang jenis subsidi perikanan tertentu yang berkontribusi terhadap kelebihan kapasitas dan penangkapan ikan berlebih, menghapuskan subsidi yang berkontribusi terhadap penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur (IUU fishing) dan membatasi jenis subsidi baru, dengan mengakui adanya perlakuan khusus dan berbeda yang tepat dan efektif untuk negara-negara berkembang dan Negara-negara kurang berkembang harus menjadi bagian integral dari negosiasi subsidi perikanan di Organisasi Perdagangan Dunia.
INDIKATOR 14.6.1.(a)
Jumlah badan usaha yang memenuhi persyaratan pada tahun berjalan dibagi dengan jumlah badan usaha pada tahun berjalan dikalikan seratus persen yang dinyatakan dalam satuan persentase. Memantau tingkat kepatuhan badan usaha perikanan laut terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk mencegah kegiatan IUU fishing.
INDIKATOR 14.b.1*
Kerangka hukum/peraturan/kebijakan/kelembagaan yang mengakui dan melindungi hak akses perikanan skala kecil adalah kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang isinya melindungi hak akses nelayan skala kecil dan pembudi daya ikan skala kecil terhadap sumber daya dan pasar kelautan. . Indikator tersebut dicapai melalui tersedianya peraturan perundang-undangan mengenai lembaga yang mengakui dan melindungi hak akses terhadap perikanan skala kecil yang telah disahkan dan masih berlaku pada saat pendataan, yang menunjukkan adanya kerangka kebijakan dan instrumen terkait dengan pengelolaan perikanan skala kecil. perencanaan tata ruang kelautan pada tahun berjalan.
INDIKATOR 14.b.1.(a)
Jumlah provinsi ke-1 yang mempunyai akses lebih besar terhadap pembiayaan usaha penangkapan ikan meningkat sebesar provinsi ke-2 hingga ke-n, yang dinyatakan dalam satuan provinsi. PPUN2: Provinsi ke-2 yang memperkenalkan peningkatan akses pembiayaan bagi usaha perikanan PPUNn: n. provinsi yang memperkenalkannya.
INDIKATOR 14.b.1.(b)
NIGP1 : Jumlah Nelayan, Petambak Ikan, Petambak Garam yang mendapat perlindungan di provinsi 1 NIGP2 : Jumlah Nelayan, Petambak Ikan. Memantau dan mengukur peningkatan jumlah nelayan, pembudi daya ikan, dan pendulang garam yang mendapat perlindungan dan bantuan melalui (1) sarana dan prasarana pengembangan usaha, (2) kepastian usaha, (3) penguatan kelembagaan, (4).
INDIKATOR 14.c.1*
Indikator tersebut dicapai melalui tersedianya peraturan perundang-undangan terkait implementasi UNCLOS yang telah diratifikasi dan masih berlaku pada saat pengumpulan data, yang menunjukkan adanya kerangka kebijakan dan instrumen konservasi dan pemanfaatan laut secara berkelanjutan. dan sumber dayanya. Tersedianya kerangka kebijakan dan instrumen terkait implementasi UNCLOS untuk menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pengelolaan sumber daya kelautan dan pesisir yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
MELINDUNGI, MERESTORASI DAN MENINGKATKAN PEMANFAATAN
BERKELANJUTAN EKOSISTEM DARATAN, MENGELOLA HUTAN SECARA LESTARI, MENGHENTIKAN PENGGURUNAN, MEMULIHKAN DEGRADASI LAHAN, SERTA
15.a.1 Bantuan pembangunan dan pengeluaran pemerintah untuk konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya secara berkelanjutan. 15.b.1 Bantuan pembangunan dan pengeluaran pemerintah untuk konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya secara berkelanjutan.
INDIKATOR 15.1.1.(a)
Pada tahun 2020, menjamin konservasi, restorasi dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem perairan darat dan perairan darat serta jasa lingkungannya, terutama ekosistem hutan, lahan basah, pegunungan, dan gersang, sesuai dengan kewajiban perjanjian internasional. Perubahan kawasan hutan dan lahan yang ditumbuhi pepohonan, terutama yang disebabkan oleh aktivitas ilegal seperti pembalakan liar dan lain-lain, dapat mengganggu kelestarian lingkungan.
INDIKATOR 15.2.1.(a)
Kawasan kawasan konservasi terdegradasi yang telah dipulihkan kondisi ekosistemnya adalah kawasan hutan konservasi yang telah dipulihkan ekosistemnya dalam rangka memulihkan kemampuan menghasilkan hasil hutan. Luas kawasan cagar alam yang telah dipulihkan ekosistemnya ditambah dengan luas kawasan pelestarian alam yang telah dipulihkan ekosistemnya ditambah dengan luas kawasan taman buru yang telah dipulihkan ekosistemnya, dinyatakan dalam hektar. . (Ha).
INDIKATOR 15.2.1.(b)
Areal Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem adalah areal usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem pada hutan alam pada hutan produksi sekaligus menjaga kelestarian fungsi dan keterwakilan ekosistem serta dilakukan upaya pemulihan ekosistem. keseimbangan hayati dan ekosistem. Luas areal perusahaan pemanfaatan HHK-RE pada areal ke-1 ditambah dengan luas areal perusahaan pemanfaatan HHK-RE pada areal ke-2 sampai ke-n, yang dinyatakan dalam hektar (Ha).
INDIKATOR 15.2.1.(c)
JKSA 70 + JKPA 70 + JTB 70
Penetapan nilai indeks METT mengikuti pedoman penilaian pengelolaan cagar alam Indonesia yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Memantau peningkatan efektivitas pengelolaan cagar alam berdasarkan hasil pemahaman konteks, perencanaan, alokasi sumber daya (input), kegiatan pengelolaan (proses), produk dan jasa (output) serta dampaknya (outcome).
INDIKATOR 15.2.1.(d)
Jumlah unit pengelolaan hutan konservasi ditambah dengan jumlah unit pengelolaan hutan lindung ditambah dengan jumlah unit pengelolaan hutan produksi yang dinyatakan sebagai unit pengelolaan hutan.
INDIKATOR 15.3.1.(a)
Pemantauan pertumbuhan permukaan lahan kritis yang direhabilitasi untuk mengembalikan fungsinya sebagai unsur produktif dan media pengaturan pengelolaan air daerah tangkapan. Mengambil tindakan segera dan signifikan untuk mengurangi degradasi habitat alami, menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati dan, pada tahun 2020, melindungi dan mencegah kepunahan spesies yang terancam punah.
INDIKATOR 15.5.1*
Jumlah populasi jenis satwa pada tahun berjalan dibagi dengan jumlah populasi jenis data dasar tahun 2013 dikalikan seratus persen yang dinyatakan dalam satuan persentase. Sebagai tolak ukur keberhasilan program konservasi untuk menjamin efektivitas upaya konservasi spesies dalam mendukung pertumbuhan populasi spesies prioritas terancam punah.
INDIKATOR 15.6.1*
Mengukur ketersediaan kebijakan untuk menjamin distribusi manfaat pemanfaatan sumber daya genetik yang adil dan merata, yang dituangkan pemerintah dalam bentuk peraturan. Kementerian/Lembaga Terkait (K/L): Peraturan mengenai pembagian keuntungan pemanfaatan sumber daya genetik secara adil dan merata.
INDIKATOR 15.7.1.(a)