Teknologi yang diperlukan untuk membangun pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan harus dilakukan. Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta akan dapat memahami pengertian MASALAH STABILITAS KERJA JALAN PADA TANAH BERMASALAH, khususnya memahami KERUSAKAN DAN MASALAH JALAN. Materi pokok modul pelatihan yang membahas tentang PENGELOLAAN TANAH BERMASALAH UNTUK KONSTRUKSI JALAN, yang secara singkat memuat isi modul 3 menjelaskan PERMASALAHAN DAN PERENCANAAN KERUSAKAN JALAN – PENANGANANNYA SEBAGAI TANAH DASAR dalam pembangunan infrastruktur jalan khususnya yang berkaitan dengan JALAN MASALAH. STABILITAS KETENAGAKERJAAN DI DAERAH MASALAH.
Rangkuman
LANDASAN pembangunan infrastruktur jalan dibahas secara rinci pada Bab II, Bab III dan BAB IV dengan kesimpulan pada Bab V.
Latihan
KEGIATAN BELAJAR I
PERMASALAHAN KERUSAKAN KONSTRUKSI JALAN PADA TANAH PROBLEMATIK
DAN FAKTOR PENYEBABNYA
Konstruksi Infrastruktur Jalan dan Jembatan
Karakteristik kerusakan sangat dipengaruhi oleh kondisi lapisan tanah yang berperan sebagai substrat seperti terlihat pada gambar di bawah pada perkerasan di atasnya, misalnya akibat longsornya badan jalan. Tanah lapisan dasar yang berupa tanah bermasalah (termasuk tanah lunak, ekspansif dan gambut) akan mempengaruhi kestabilan perkerasan jalan di atasnya secara keseluruhan dan ditunjukkan pada Gambar 2-2.sd 2-4 Kondisi perkerasan jalan yang ketahanannya tergantung pada daya dukung substrat.
Kondisi Jalan pada at-grade
Hal lain yang mempengaruhi menurunnya daya dukung lapisan tanah bawah adalah muka air tanah dan sistem drainase, sehingga harus direncanakan secara terpadu dengan konstruksi perkerasan. Keadaan kerusakan jalan disebabkan oleh menurunnya daya dukung lapisan tanah bawah, baik akibat drainase maupun lapisan tanah yang bermasalah.
Kondisi Jalan pada “at-fill”
- Kondisi jalan pada “at-fill” pada tanah Problematik, Tanah Lempung dan Tanah Oragnik
- Keruntuhan pada Kondisi “at-fill” pada timbunan jalan yang berada pada Lapisan Tanah Lunak dan Organik
- Keruntuhan Tanah Dasar Pondasi Jalan pada kondisi ”at-fill” atau timbunan jalan yang berada pada tanah Gambut
- Keruntuhan Jalan pada Kondisi ” at-fill ” pada timbunan jalan yang berada pada lapisan tanah ekspansif
- Fungsi dan Aplikasi Perkuatan Timbunan
Dalam keadaan timbunan, permasalahan lebih banyak terjadi bila lapisan tanah paling bawah bermasalah atau tanah lunak, tanah ekspansif, dan tanah gambut. Pada kondisi tanggul ini, lapisan dasar terdiri dari lapisan tanah bermasalah berupa endapan sedimen kuarter dan dapat berupa tanah lunak, baik organik maupun anorganik, tanah gambut, dan tanah ekspansif.
Kondisi Jalan pada “at-cut”
Berikut ini adalah kondisi jalan “in-cut” yang terjadi di lapangan, dengan menggunakan tanah dasar sebagai alasnya. Jika dilihat pada Gambar 2-21, pada kondisi “in-cut” ini mempengaruhi kejenuhan pada bagian lereng yang digali, yang mengakibatkan berkurangnya beban dan menyebabkan turunnya muka airtanah dan konsentrasi air tanah. kaki lereng.
Rangkuman
Latihan
KEGIATAN BELAJAR 2
KRITERIA PADA PERENCANAAN DAN PENANGANAN JALAN PADA TANAH
Lapisan Tanah Dasar dalam Sistim Perkerasan Jalan
Oleh karena itu, persyaratan lapisan tanah bawah yang digunakan sebagai permukaan jalan harus mampu mengantisipasi beban lalu lintas dengan kondisi kelas jalan yang berbeda. Oleh karena itu, tanah dasar sebagai tanah dasar pada umumnya ditentukan oleh karakteristik modulus reaksi (k) tanah dasar tersebut.
Lapisan Tanah Dasar dalam Tanah Problematik
Lapisan bawah permukaan ditinjau dari sistem perkerasan bawah permukaan berada di bawah tanah, sedangkan dalam lingkup geoteknik, tanah dasar merupakan lapisan tanah yang berfungsi untuk menopang pembebanan struktur struktur perkerasan jalan. Berdasarkan ketentuan di atas, ruang lingkup tanah bermasalah untuk pembangunan jalan juga mencakup kondisi seperti lapisan tanah bawah atau tanah dasar untuk pembangunan jalan serta sifat-sifat propertinya sebagai lapisan bermasalah dalam menopang beban tanggul jalan.
Stabilitas Konstruksi Jalan diatas Tanah Problematik
- Stabilitas Daya Dukung Lapisan Tanah Dasar
- Stabilitas Timbunan
Dalam spesifikasi Divisi 3 disebutkan bahwa lapisan tanah di bawahnya dalam istilah Tanah Lunak didefinisikan sebagai setiap jenis tanah yang mempunyai CBR lapangan kurang dari 2%. Kedalaman penggalian untuk perbaikan peningkatan daya dukung lapisan tanah bawah disetujui dan diperiksa bila ada perubahan oleh direktur pekerjaan, berdasarkan uji coba lapangan (uji skala penuh). Dalam pekerjaan konstruksi jalan, daya dukung lapisan tanah bawah yang diartikan dengan nilai CBR harus diketahui dengan cepat di lapangan, dan cara yang umum digunakan adalah dengan menguji kepadatan tanah di lapangan dengan menggunakan alat DCP (Dynamic Cone). Penetrometer). .
Total kedalaman minimum penggalian di bawah permukaan tanah. gt; 150 cm Menyelesaikan penggalian atau perbaikan khusus lainnya sesuai perintah atau persetujuan Direksi. Oleh karena itu, tinggi tanggul sebagai landasan harus mempunyai ketinggian yang cukup dan mampu memberikan daya dukung yang cukup serta berdiri stabil untuk mencegah keruntuhan dangkal (slope keruntuhan) atau keruntuhan dalam (pondasi runtuh). 7) Nilai daya dukung material tanah dasar di lapangan karena tanah dasar mempunyai nilai kepadatan (compactness) sama dengan nilai derajat kepadatan (relative Density) dan rasio), serta sudut gesek dalam sebagai ditunjukkan pada CBR (California Bearing ringkasan Tabel 3-5. Pemenuhan daya dukung tanggul. Sebagai lapisan bawah tanah untuk konstruksi jalan, tidak cukup bila tidak dilakukan evaluasi dan analisa terhadap kondisi lapisan tanah tersebut, karena sudah berdampak pada runtuhnya tanggul.
Rangkuman
Latihan
KEGIATAN BELAJAR 3
TANAH PRINSIP PENANGGULANGAN PROBLEMATIK
Kualitas dan Kontrol Kualitas Materal Timbunan Sebagai Tanah Dasar atau Subgrade
Untuk menentukan nilai kepadatan lapangan ditentukan nilainya dengan menggunakan alat uji kerucut pasir seperti pada Gambar 4-1, dan hasilnya ditunjukkan pada Gambar 4-2. Contoh hasil dan hasil pengujian sand cone serta pengujian CBR lapangan setelah pekerjaan pemadatan telah selesai berat volumenya. Gambar 4-2 juga menunjukkan uji nilai Field CBR yang dapat dilakukan bersamaan dengan uji Field Density menggunakan alat uji Sandcone.
Dengan melakukan pengujian untuk mengetahui kepadatan lapangan hasil pemadatan yang dilakukan maka akan diketahui nilai kepadatan yaitu berdasarkan pengujian Sand Cone untuk mengetahui nilai MDD (Maximum Dry Density) pada kadar air optimum (WOPT). kondisi dan perbandingannya dengan nilai CBR lapangan.
Konstruksi Tanah Timbunan Sebagai Subgrade
- Persyaratan Kekuatan Daya Dukung
- Variasi jenis material material tanah untuk subgrade
- Jenis Material terhadap Kelompok Penggunaannya
Tanah A: dalam spesifikasi konstruksi jalan sering disebut dengan agregat grade A, yang umumnya digunakan sebagai lapisan pondasi jalan (base course). 2. Tanah D : merupakan jenis material lempung dalam spesifikasi konstruksi jalan dan jarang digunakan sebagai material timbunan. Selain jenis tanah sebagaimana diuraikan pada Tabel 4 – 3, terdapat juga kelompok tanah yang tergolong agregat kelas S, kegunaannya sebagai lapisan dasar tanggul jalan dan ditunjukkan pada Tabel 4 – 4 menurut ke kelas Agregat A dan B.
Salah satu faktor yang mempengaruhi daya dukung jenis tanah sebagai lapisan pondasi jalan adalah nilai PI (Indeks Plastisitas), sehingga nilai PI (Indeks Plastisitas) Lapisan Pondasi Agregat Kelas‒S ditetapkan minimal sebesar 4.%. Hubungan antara Agregat Kelas S dengan Kelas A dan/atau Kelas B ditinjau dari sifat dan sifat fisisnya disajikan pada Tabel 4 - 5. Apabila sulit diperoleh maka material Lapisan Pondasi Agregat Kelas S dapat diperoleh dengan campuran bahan plastik berupa tanah lempung dengan agregat golongan A atau B sehingga memenuhi persyaratan PI dan CBR.
Teknologi Perkuatan Timbunan sebagai Lapisan tanah Dasar atau Subgrade
- Sifat-sifat Bahan Material Geosintetik .1 Sifat-sifat Elektrokimia
- Interaksi tanah dan geosintetik
- Prinsip Dasar Perkuatan Timbunan dengan Bahan Geosintetik Material Geosintetik memiliki banyak kegunaan dalam rekayasa teknik
- Fungsi Perkuatan Geosintetik
Oksidasi geosintetik di dalam tanah dapat terjadi hampir secepat geosintetik di atas tanah. Meskipun sebagian besar perkuatan geosintetik terkubur di dalam tanah, stabilitas geosintetik terhadap sinar UV tetap harus diperhatikan selama konstruksi. Untuk perkuatan lereng, besarnya untuk perkuatan timbunan umumnya diperoleh melalui pengujian karena material timbunan yang digunakan berbeda.
Fungsi utama perkuatan material geosintetik dasar tanggul adalah untuk meningkatkan kestabilan tanggul terhadap keruntuhan lereng dalam atau longsor tanggul, yaitu dengan memasang komposisi material geosintetik pada dasar tanggul. Kita bisa menggunakan dua jenis material geosintetik yaitu geotekstil dan geogrid yang tentunya mempunyai sifat berbeda. Material geogrid juga merupakan kelompok material geosintetik yang pada hakikatnya merupakan sistem perkuatan timbunan dengan berperan sebagai material yang dapat memberikan kontribusi terhadap kekuatan tarik.
Aplikasi Perkuatan Bahan Geosintetik
- Perkuatan Lereng Timbunan
- Pemilihan Prosedur perkuatan lereng tanah
- Prosedur Perencanaan Perkuatan Timbunan
Pemilihan kriteria untuk perkuatan tanggul harus mempertimbangkan kinerja struktur dalam jangka panjang, ketahanan selama konstruksi, dan faktor degradasi lingkungan yang terjadi pada perkuatan (Gambar 4-17). Perkuatan mekanis lereng tanah selama ini hanya menggunakan timbunan granular (non-kohesif) karena berkaitan dengan distribusi tegangan internal, kuat tarik, dan bentuk zona keruntuhan yang cukup konsisten dengan sifat teknis jenis tanah tersebut. Berdasarkan hal di atas, maka rekomendasi persyaratan tanggul yang diperkuat dengan material geosintetik seperti terlihat pada Tabel 4 – 7 dapat digunakan untuk tanggul.
Kisaran nilai indeks tanah dan sifat parameter mekanik yang dapat dijadikan acuan dalam menilai keandalan hasil pengujian tanah timbunan ditunjukkan pada Tabel 4 – 8 (CUR, 1996) dan nilai tanah merah ( laterit) diambil dari hasil uji laboratorium (Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Departemen Pekerjaan Umum, 2014). Persyaratan perencanaan untuk lereng dengan perkuatan geosintetik pada dasarnya sama dengan perencanaan untuk lereng tanpa perkuatan yang memerlukan terpenuhinya faktor keamanan jangka panjang dan jangka pendek terhadap modus keruntuhan yang mungkin terjadi. Tata cara perencanaan lereng yang diperkuat dengan material geosintetik ditunjukkan pada diagram alur pada Gambar 4-17.
Tetapkan dimensi timbunan dan kondisi pembebanan
Untuk permukaan yang sangat lunak (cu antara 1-5 kPa), kemiringan rendah kurang dari 1 m dan untuk jalan akses, tidak diperlukan beban lalu lintas dalam analisis stabilitas.
Buat profil tanah dan tentukan sifat teknis tanah pondasi A. Berdasarkan penyelidikan tanah pondasi tentukan
Tentukan sifat fisik tanah timbunan A. Klasifikasi tanah;
Tentukan faktor keamanan minimum dan kriteria penurunan timbunan
Cek kapasitas daya dukung
1 Apabila faktor keamanan memenuhi syarat maka tidak diperlukan perkuatan geosintetik. 2 Dengan adanya geosintetik diasumsikan akan terjadi pemerataan beban pada seluruh lebar geosintetik.
Cek stabilitas terhadap geser rotasional
RFID = faktor pengurangan kerusakan selama instalasi; Nilainya bervariasi dari 1,05 hingga 3,0, tergantung pada tingkatan material timbunan dan berat geosintetik per berat isi. RFD = faktor reduksi ketahanan terhadap mikroorganisme, senyawa kimia, oksidasi panas dan stress cracking.
Cek stabilitas terhadap pergerakan (gelincir) lateral
RFCR = faktor reduksi mulur, yaitu perbandingan kuat tarik maksimum dengan kuat mulur ultimit hasil uji mulur di laboratorium. RFID = faktor pengurangan kerusakan selama instalasi; Nilainya bervariasi dari 1,05 hingga 3,0 tergantung pada tingkatan material timbunan, teknik pemadatan, struktur produk dan berat geosintetik per satuan berat. Untuk kasus umum, tentukan kuat tarik rencana Td yang lebih besar antara Tg,ult (persamaan 3.9) dan Tls,ult (persamaan 3.11);.
Tetapkan persyaratan deformasi geosintetik yang diizinkan dan hitung modulus perkuatan, J, berdasarkan uji tarik lebar (ASTM
Langkah 9: Tetapkan persyaratan kekuatan geosintetik pada arah longitudinal timbunan (arah alinyemen timbunan)
Tetapkan sifat geosintetik yang dibutuhkan
- Aplikasi Perkuatan Lereng Timbunan
- Langkah 6: Rencanakan perkuatan untuk mendapatkan lereng yang stabil
- Aplikasi untuk Perkuatan Dasar Timbunan
- Distribusi Beban pada Subgrade (Tanah Dasar)
- RANGKUMAN
- LATIHAN
Zona keruntuhan kritis yang terjadi di bawah ujung lereng menunjukkan adanya masalah keruntuhan daya dukung yang dalam. Tentukan kuat tarik maksimum tulangan per satuan lebar tulangan, Ts-. maks, dari beberapa kemungkinan bidang keruntuhan yang berada dalam zona kritis Langkah 5. iv) Sebagai catatan, faktor keamanan terkecil yang dihitung dari Langkah 5 biasanya tidak memberikan nilai T (Ts-max) terbesar; ..v) bidang kegagalan yang paling kritis adalah bidang kegagalan yang memerlukannya. Ts= besarnya gaya tarik yang diperlukan per satuan lebar tulangan pada seluruh lapisan tulangan yang memotong bidang keruntuhan (kN/m);
Asumsikan H/3 di atas lereng untuk perhitungan awal, yaitu asumsikan ia bekerja pada bidang horizontal yang memotong bidang sesar pada H/3 di atas dasar lereng. Penggantian material mempunyai fungsi utama untuk mencapai tanah dasar sebagai daya dukung instalasi permukaan jalan yang memenuhi syarat yaitu CBR 6% dan ditunjukkan pada Gambar 4-19. Selain itu, pada bab ini juga dijelaskan beberapa teknologi untuk mencapai kondisi lapisan tanah atau subsoil yang sesuai dan dapat menunjang stabilitas konstruksi jalan, oleh karena itu dijelaskan beberapa teknologi perkuatan yang diperlukan.
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
1987), Perkuatan Dasar Granular Perkerasan Lentur Menggunakan Geogrid, Proc. Konferensi Geosintetik '87, IFAI, 1987, hal. Direktorat Jenderal Bina Marga (1992), Manual Perancangan Jembatan (Draft), Badan Penerbitan Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Marga (1994), Perencanaan Geometris Jalan Antar Kota, Badan Penerbitan Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, Indonesia.
Eddie Sunaryo, M, PhD Pemaparan Bahan Ajar Pengarahan Teknis bagi Perencana dan Pengawas Lapangan, P2 JN Provinsi Aceh 20. Gouw Tjie-Liong, Konsep Perancangan Geosintetik untuk Pembangunan Jalan, Seminar “Pembangunan Jalan di Indonesia dengan Referensi Khusus Peran Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga “Spesifikasi Umum Desain dengan Geosintetik, Edisi ke-5, Pearson Prentice Hall, New Jersey, USA.