“Tinjauan Hukum Islam tentang Pelunasan Kredit Macet di BMT Kube Sejahtera 020 Trogoadi Mlati Sleman Yogyakarta)” menghasilkan penelitian. 2Dwi Antoro, Penyelesaian kredit macet dalam perjanjian pinjaman di Bank BRI Mlita Yogyakarta, (Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2015). Ilham, “Review Hukum Islam Penebusan Kredit Macet pada BMT Kube Sejahtera 020 Trogoadi Mlati Sleman Yogyakarta” (Skripsi Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2013).
Perjanjian pembagian kredit dicatat dalam perjanjian kredit yang ditangani oleh kedua belah pihak yaitu bank dan nasabah. Namun apabila telah dilakukan investigasi kredit secara mendalam sehingga nasabah dikatakan layak menerima kredit, maka penjaminan kredit sebaiknya hanya sebagai tindakan pencegahan saja. Oleh karena itu, dalam memberikan kredit, Bank harus memperhatikan prinsip-prinsip pemberian kredit yang benar. Artinya sebelum suatu fasilitas kredit diberikan, bank harus terlebih dahulu mempunyai keyakinan bahwa kredit yang diberikan benar-benar sah. 7Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Ed. Keyakinan ini diperoleh dari hasil penilaian kredit sebelum kredit disalurkan.
Ada beberapa prinsip penilaian kredit yang sering dilakukan yaitu analisis 5C yang terdiri dari: 8. Kemampuan ini dikaitkan dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya dalam mengelola usahanya, sehingga akan terlihat “kemampuannya”. dalam pelunasan kredit yang telah disalurkan. Hal yang paling penting untuk diingat adalah jika suatu fasilitas kredit dibiayai tanpa prospek, maka bukan hanya bank yang dirugikan, tetapi juga nasabah.
Profitabilitas diukur dari periode ke periode, apakah akan tetap sama atau meningkat. apalagi dengan tambahan pulsa yang akan diterimanya.
KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) a. Pengertian KPR
Pembiayaan BNI Syariah Parepare tersedia untuk pembelian rumah berdasarkan prinsip murabahah harga pembelian dan margin yang disepakati antara bank dan nasabah. Pinjaman ekuitas rumah bersubsidi adalah pinjaman ekuitas rumah yang pembiayaannya didukung atau disubsidi oleh pemerintah, sedangkan pinjaman ekuitas rumah tidak bersubsidi adalah pinjaman ekuitas rumah yang pembiayaannya tidak dibantu atau disubsidi oleh pemerintah. Berdasarkan undang-undang no. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman, masyarakat berpendapatan rendah mendapat dukungan kepemilikan rumah melalui kebijakan tunjangan dan/atau bantuan membangun dan membeli rumah.
Mengenai kemudahan dan/atau bantuan dalam pembangunan dan perolehan rumah, diatur lebih lanjut dalam peraturan menteri yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 21/Prt/M/2016 tentang kemudahan dan/atau bantuan dalam memperoleh rumah bagi masyarakat berpendapatan rendah. Setiap kredit yang disetujui dan diperjanjikan antara kreditur dan penerima kredit harus dituangkan dalam bentuk perjanjian kredit atau perjanjian pembiayaan. Perbedaan utama antara CPR dengan sistem konvensional dan PPR dengan sistem Syariah terletak pada dasar perjanjian atau prinsipnya.
Pada bank konvensional, perjanjian KPR didasarkan pada suku bunga tertentu yang berfluktuasi atau mengikuti kebijakan otoritas dan kebijakan internal bank. Sedangkan akad KPR (Pembiayaan Kepemilikan Rumah) Syariah dapat dilakukan dengan beberapa alternatif pilihan akad sesuai kebutuhan nasabah. Perjanjian hipotek dengan sistem konvensional merupakan perjanjian suka sama suka berdasarkan ketentuan KUH Perdata antara debitur dan kreditur (dalam hal ini bank) sehingga menimbulkan hubungan utang dan penagihan.
Debitur wajib membayar kembali pinjaman yang diberikan kreditur, dengan syarat dan ketentuan yang disepakati para pihak. Berbeda dengan akad KPR dengan sistem konvensional, akad PPR dengan sistem Syariah tidak hanya didasarkan pada ketentuan mengenai akad dalam KUHPerdata saja, namun juga berdasarkan asas-asas yang diatur dalam fatwa MUI tentang akad pembiayaan. Umumnya akad yang sering digunakan dalam PPR adalah murabahah (jual beli dengan margin keuntungan), khususnya untuk rumah yang sudah dibangun.
PPR dengan akad murabahah merupakan akad jual beli antara bank dengan nasabah, dimana bank tersebut membeli. Selain akad murabahah, terdapat juga akad PPR dengan akad jual beli lainnya yaitu akad istishna. KPR BNI Syariah diperuntukkan bagi pemohon atau calon nasabah yang memenuhi persyaratan dan bertujuan untuk menggunakannya untuk membeli rumah, ruko, apartemen dan bentuk perumahan lainnya dan/atau tanah untuk dimiliki dan/atau digunakan sendiri.
Permasalahan Kredit Kepemilikan Rumah
Di kalangan lembaga keuangan, permasalahan pembiayaan sendiri tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan disebabkan oleh dua hal, yaitu Faktor Internal (berasal dari pihak perbankan), Faktor Eksternal (berasal dari pihak nasabah). Kolektibilitas sendiri merupakan kondisi pembayaran pokok atau angsuran dan keuntungan Bank dari debitur serta tingkat kemungkinan dana pembiayaan dapat dikembalikan oleh Bank. Tidak ada kredit dan/atau pembiayaan konsumen, kecuali pinjaman ekuitas rumah dan/atau pembiayaan ekuitas rumah.
Dijamin berupa tanah dan bangunan dan/atau tanah dengan nilai paling sedikit 110% (seratus sepuluh persen) dari batas kredit dan/atau batas pembiayaan. Sisa jangka waktu kredit dan/atau pembiayaan paling singkat 9 (sembilan) bulan terhitung sejak tanggal penandatanganan perjanjian PLJP. Debit kredit maupun pokok pembiayaan tidak melebihi batas maksimum pemberian kredit atau pencairan dana pada saat diberikan dan tidak melebihi plafon kredit atau pembiayaan.
Perjanjian kredit dan/atau pembiayaan antara Bank dengan debitur atau nasabah memuat klausul bahwa kredit dan/atau pembiayaan dapat dialihkan kepada pihak lain. J. Dicantumkan dalam laporan terkini daftar aset kredit dan/atau aset pembiayaan yang disampaikan secara berkala kepada Bank Indonesia.18. Pembiayaan belum jatuh tempo dan terdapat tunggakan pembayaran bagi hasil/margin keuntungan, namun belum melebihi 3 bulan, atau.
Pembiayaan angsuran KPR mempunyai tunggakan angsuran pokok di atas 6 bulan, namun tidak melebihi 9 bulan. Adanya keterlambatan karena penyesalan, namun jangka waktunya sudah melebihi 15 hari kerja, namun belum melebihi 30 hari kerja. Pembiayaan yang masih dapat dihemat dan nilai bangunannya paling sedikit 75% dari utang peminjam termasuk bagi hasil/nisbah keuntungan, atau.
Memenuhi kriteria diragukan, namun belum ada pelunasan atau penyelesaian dalam waktu 21 bulan sejak tergolong diragukan. Penyelesaian pembiayaan tersebut diajukan ke pengadilan nasional atau Badan Usaha Tagihan Negara (BUPN), atau ganti ruginya diserahkan kepada perusahaan asuransi kredit atau badan arbitrase syariah.
Penyelesaian Kredit Bermasalah
Restrukturisasi adalah penyelamatan pembiayaan bermasalah dengan cara mengubah seluruh atau sebagian perjanjian antara bank dan nasabah dengan harapan nasabah dapat melunasi kewajibannya. Ahmad Ifham menjelaskan bahwa “rescheduling adalah mengubah jangka waktu pembiayaan, renovasi adalah mengubah persyaratan, restrukturisasi adalah mengubah struktur fasilitas atau kontrak”.24 Kasmir menjelaskan bahwa Rescheduling adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan cara memperpanjang jangka waktu kredit atau jangka waktu angsuran. . Restrukturisasi adalah tindakan bank terhadap nasabah dengan cara menambah modal nasabah dengan mempertimbangkan bahwa nasabah benar-benar membutuhkan tambahan dana dan usaha yang dibiayai masih layak.25.
Menurut Zainal Asikin, kebijakan penghematan pembiayaan dilakukan melalui reprogramming, yaitu upaya melakukan perubahan terhadap beberapa syarat perjanjian pembiayaan, seperti jadwal pembayaran. Rekondisi, yaitu melakukan perubahan terhadap sebagian atau seluruh syarat perjanjian tanpa adanya konversi pembiayaan. Restrukturisasi, yaitu perubahan syarat-syarat perjanjian pembiayaan, seperti konversi seluruh atau sebagian pembiayaan yang dapat dilakukan dengan penjadwalan ulang, rekondisi, atau kedua-duanya.
Penjadwalan ulang yaitu mengubah jadwal atau jangka waktu pembayaran nasabah, hal ini dilakukan dengan cara memperpanjang jangka waktu kredit, dimana debitur diberikan keringanan jangka waktu kredit. Pendapat beberapa tokoh di atas pada hakikatnya sama, bahwa penyelesaian terhadap kredit bermasalah atau pembiayaan bermasalah dilakukan dengan cara Reprogramming, Reconditioning dan Restructuring yang disebut dengan restrukturisasi pembiayaan. 28 Peraturan Bank Indonesia NOMOR: 13/9/PBI/2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/18/PBI/2008 tentang Restrukturisasi Pembiayaan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah pasal 1 ayat 7. secara bersamaan atau bersama-sama, seperti melakukan reprogramming dan reconditioning, melakukan reprogramming dan restrukturisasi, serta reprogramming, reconditioning, restrukturisasi dalam waktu yang bersamaan. 29 Bank dapat memberikan keringanan besaran angsuran disertai keringanan jadwal pembayaran dalam sesuai dengan kebijakan yang disetujui dan kesepakatan dengan klien.
Namun dalam penyelamatan pembiayaan bermasalah, bank tidak boleh melakukan restrukturisasi dengan tujuan: 31. 29Etty Mulyati, Perkreditan Perbankan (Aspek Hukum dan Perkembangan Usaha Mikro Kecil Dalam Pembangunan Indonesia, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2016), P.
Penyelesaian Sengketa Perbankan
Berdasarkan kesepakatan dengan debitur atau nasabah, lembaga keuangan diberikan kebebasan untuk memilih pola rekonstruksi yang dinilai terbaik dalam kaitannya dengan kekayaan bank, kondisi kredit, dan kekayaan debitur. Upaya ini dilakukan apabila upaya damai telah dilakukan secara maksimal dan belum membuahkan hasil, sehingga ditempuh melalui jalur hukum. Lelang sita merupakan upaya terakhir bagi bank untuk menyelamatkan asetnya melalui lelang barang pemberian debitur.
Tinjauan Konseptual
Bagan Kerangka Pikir