Selain itu, sifat mikobakteri lainnya adalah ketahanan kimia dan fisik serta kemampuan bertahan hidup pada kondisi kering dan dingin, dormansi dan aktivitas aerobik. Mycobacterium tuberkulosis dapat bertahan hidup di udara selama 1-2 jam, tergantung paparan sinar matahari, kelembapan, dan ventilasi. Selain itu, bakteri dapat bertahan hidup berhari-hari bahkan berbulan-bulan dalam kondisi lembab, gelap, dan dingin (Gustaman, 2019).
Ketika penderita TBC batuk, bersin, atau berbicara saat berhadapan dengan orang lain, maka bakteri TBC akan disemprotkan dan dihisap ke dalam paru-paru orang yang sehat. Di rumah sakit Rujukan penanganan kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Apabila jenis obat yang menyebabkan efek samping tidak diketahui, maka pengembalian OAT harus dilakukan dengan cara “drug-challenge” dengan menggunakan obat yang dijual bebas.
Jika terjadi reaksi pada proses re-challenge yang dimulai dengan dosis rendah, berarti hepatotoksisitas akibat reaksi hipersensitivitas. Apabila diketahui jenis obat penyebab efek samping, misalnya pirazinamid dan etambutol atau streptomisin, maka pengobatan TBC kembali dapat dilakukan tanpa obat tersebut. Jika pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap isoniazid atau rifampisin adalah HIV negatif, desensitisasi dapat dilakukan.
Namun, jangan membuat pasien TBC HIV positif tidak peka karena berisiko tinggi mengalami keracunan parah.
Kepatuhan berobat
Pasien yang rutin minum obat minimal 6 bulan sampai 8 bulan dianggap pasien patuh. Sebaliknya pasien yang pengobatannya tidak dilakukan sesuai rencana yang dibuat dianggap pasien tidak patuh. Sedangkan bagi pasien yang tidak datang lebih dari 3 hari sampai 2 bulan dari waktu yang ditentukan maka dianggap berstatus lalai berobat, dan apabila melewati 2 bulan berturut-turut tanpa mengunjungi tenaga kesehatan dianggap putus sekolah (Depkes RI , 2002).
Jika tidak ada tenaga kesehatan yang potensial, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat atau anggota keluarga lainnya. Penelitian Ulfa dkk (2018) menunjukkan bahwa kelompok yang kurang patuh dalam berobat adalah kelompok usia produktif dan hal tersebut dapat terjadi karena padatnya aktivitas. Laki-laki juga dianggap lebih rentan terkena tuberkulosis paru karena kurang memperhatikan kesehatan dan lebih banyak menerapkan gaya hidup tidak sehat (Erawatyningsih, Purwanta, Subekti Kerja.
Paparan udara yang tercemar dapat meningkatkan angka kesakitan, terutama munculnya gejala penyakit pernafasan dan tuberkulosis paru secara umum. Menurut Chinnock, lamanya pengobatan dan banyaknya obat juga dapat menimbulkan kebosanan pada penderitanya, sehingga berujung pada pengobatan massal bahkan dapat mengganggu pengobatan (Kharisma, 2010). Dengan banyaknya efek samping yang dapat diterima pasien saat melaksanakan pengobatan, maka kepatuhan pengobatan dapat terpengaruh (Kemenkes RI, 2009).
Dalam penelitian yang dilakukan Wulandari ditemukan bahwa pasien dengan efek samping obat yang parah memiliki risiko ketidakpatuhan 6,1 kali lebih besar dibandingkan pasien yang mengalami efek samping obat ringan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Wulandari ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara status gizi dengan ketidakpatuhan menerima pengobatan dan hal ini terjadi pada pasien TB paru stadium lanjut dengan nilai OR sebesar 0,399 pada (95% CI p-value 0,060 ( Jarak Tempat Tinggal Wulandari ke Fasilitas Kesehatan Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengetahuan PMO mengenai pentingnya PMO bagi pasien TBC paru dan konseling TBC paru (Tirtana Extension.
Khususnya dalam konseling tuberkulosis paru, hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pesan-pesan penting baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hal ini melalui media. Keberhasilan pengobatan pasien dalam kasus ini sangat bergantung pada konseling langsung terhadap tersangka, penderita dan keluarga, sehingga pengobatan yang diberikan pasien dapat berjalan dengan baik hingga sembuh (Sormin dkk, 2014). Penelitian Wulandari menunjukkan bahwa tingkat ketidakpatuhan pasien yang tidak mendapat konseling beresiko 1,27 kali lebih besar dibandingkan pasien yang mendapat konseling dengan nilai OR 1,276 pada (95% CI p-values 0,879 (Sikap Wulandari dari pejabat kesehatan.
Kepatuhan pengobatan tuberkulosis paru juga ditentukan oleh perhatian petugas kesehatan terhadap konseling, penjelasan pasien, kunjungan rumah bila diperlukan dan ketersediaan paket obat anti tuberkulosis (Senewe, 2002). Sikap petugas merupakan faktor risiko ketidakpatuhan pada pasien tuberkulosis paru stadium lanjut pada penelitian Wulandari, dimana pasien yang mendapat sikap buruk dari tenaga kesehatan mempunyai kemungkinan 3,6 kali lebih besar untuk patuh berobat, dibandingkan dengan pasien yang mendapat sikap baik dari tenaga kesehatan. profesional dengan nilai OR sebesar 3,587 pada (95% CI p-value 0,020 (Wulandari, 2015).
Konsep Ekologi
Konsep kunci lainnya dari perspektif ekologi, sebab-akibat timbal balik, menunjukkan bahwa manusia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar mereka. Untuk mendalami tingkatan tersebut, salah satu teori yang digunakan adalah Teori The Health Belief Model (HBM). Berdasarkan kegagalan tersebut, muncul teori yang menjelaskan perilaku pencegahan penyakit. Becker (1974) mengembangkan bidang Lewin (1954) menjadi Health Belief Model (Notoatmodjo, 2007).
HBM adalah model keyakinan kesehatan individu dalam menentukan sikap dalam melakukan perilaku kesehatan (Conner, 2005). Lawrence Green yang merupakan tokoh terkenal dalam pengembangan teori perilaku, Green mengatakan bahwa kesehatan individu/masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor perilaku dan faktor non-perilaku (non-behavioral). Kelompok faktor kedua adalah faktor yang memungkinkan tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan dan kemudahan menjangkaunya.
Kelompok faktor yang ketiga adalah faktor penguat, yaitu sikap dan perilaku petugas kesehatan. Pada tingkat interpersonal, teori perilaku kesehatan mengasumsikan bahwa individu ada dan dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Banyak teori yang berfokus pada tingkat interpersonal, tetapi puncaknya adalah Teori Kognitif Sosial (SCT).
SCT adalah salah satu teori perilaku kesehatan yang paling banyak digunakan untuk menyelidiki interaksi timbal balik antara manusia dan lingkungannya serta faktor penentu psikososial perilaku kesehatan. Menurut SCT, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kemungkinan seseorang mengubah perilaku kesehatan, yaitu: (1) efikasi diri, (2) tujuan, dan (3) hasil yang diharapkan. Salah satu teori yang digunakan adalah teori jaringan sosial dan dukungan sosial (yang mengeksplorasi pengaruh hubungan sosial terhadap pengambilan keputusan dan perilaku terkait kesehatan), yang dapat digunakan untuk mengadaptasi strategi pengorganisasian komunitas dengan tujuan pendidikan kesehatan.
Teori ekologi dipilih peneliti sebagai teori utama dalam penelitian ini karena peneliti ingin melihat lebih jauh fenomena sosial yang terjadi di Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu perilaku kesehatan dalam hal kepatuhan pengobatan sehingga pendekatan ekologi dinilai tepat. karena bersifat abstrak dan terdapat 3 tingkatan yang dapat mencakup semua aspek yang ingin diteliti. Lebih lanjut, teori-teori yang sering digunakan dalam penelitian perilaku kesehatan seperti HBM Green mempunyai kelemahan yang menjadi tolak ukur bagi peneliti untuk tidak menggunakan teori Green sebagai teori utama. Hasil penelitian di atas membuktikan bahwa faktor ekologi berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan sehingga memperkuat dasar peneliti untuk menggunakan pendekatan ekologi dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat lebih jauh faktor intrapersonal (pengetahuan, sikap, persepsi keyakinan Marapu, keyakinan tim salat, motivasi, konsep diri, pengalaman masa lalu, keterampilan), faktor interpersonal (persepsi lingkungan sosial, perilaku, dan bentuk dukungan sosial) dan faktor masyarakat (persepsi terhadap kebijakan pelayanan kesehatan, kebijakan pemerintah desa, dan kebijakan sekolah). 55 secara sosial budaya di Kabupaten Sumba Barat Daya terkait dengan perilaku kesehatan yaitu kepatuhan pasien TBC dalam menjalani terapi.