ABDUL GANI PAHLAWAN SEJATI DARI KOTA BATU
Perjuangan dan perlawanan para pejuang di daerah terutama perjuangan di kota Batu salah satunya adalah berawal pada tanggal 23 Juli 1947, dimana pada saat itu tentara kolonial Belanda yang menyerang dan menduduki di wilayah kota Malang termasuk kota Batu dan sekitarnya tak luput pula dikuasai oleh kolonial Belanda.
Setelah beberapa bulan penyerangan dan pendudukan Belanda, para gerilyawan di kota Batu bertahan sambil mengadakan serangan – serangan kecil terhadap tentara Belanda, bahkan ada beberapa kelompok gerilyawan melakukan perlawanan kepada tentara Belanda secara terbuka ada yang satu lawan satu ada, ada pula yang melakukan penyerangan patroli serdadu kolonial Belanda kemudian mengambil persenjataan yang di miliki tentara Belanda.
Salah satu gerilyawan atau pejuang dari kota Batu tersebut adalah bernama Abdul Gani.
Abdul Gani adalah salah seorang pejuang yang berasal dari Desa Ngaglik, tepatnya disebelah selatan Belik Tanjung di kampung Klembengan Kota Batu. Beliau memilki seorang istri yang oleh penduduk sekitar biasa di panggil dengan ibu Suin.
Pada awalnya Abdul Gani dan para gerilyawan lainnyan telah mendapat informasi , bahwa pada tanggal 10 september 1947 akan terjadi serangan besar – besaran oleh Belanda. Oleh sebab itu Abdul Gani sudah mempersiapkan diri dan pasukannya untuk menjaga pertahanan di desa Gunungsari dengan mengadakan penjagaan yang ketatat dan waspada jika sewaktu – waktu penjajah menyerang.
Abdul Ganipun yang merupakan tokoh pejuang yang berada dalam garda terdepan menyerukan kepada para pejuang :
“Kawan – kawan seperjuangan semua mari kita satukan diri untuk menumpas penjajah dan mempertahankan wilayah kita dari ancaman para penjajah “
“Apakah kalian semua sanggup? “ teriak Abdul Gani untuk memberi semangat kepada para pejuang.
“Sanggup ... merdeka ... merdeka ... merdeka“ teriak para pejuang.
Dengan semangat yang bergelora merekapun melanjutkan berjaga di beberapa titik. Beberapa jam kemudian terdengar dentuman peluru dari senjata dan meriam penjajah Belanda terdengar di wilayah lain, yang semakin lama semakin mendekati wilayah pertahanan Abdul Gani dan kawan – kawan, yang seakan – akan menyiutkan hati para pejuang dengan persenjataan yang terbatas.
Akan tetapi Abdul Gani yang seorang pejuang sejati tidak goyah dengan dentuman peluru dan meriam dari penjajah Belanda yang bahkan semangat juangnya untuk memerdekakan diri dan bangsa
dari cengkraman penjajah Belanda beserta kroni – kroninya semakin bergolak.
Dengan semangat juang yang tinggi Abdul Gani membakar semangat para pejuang sambil berkata :
“Kita persiapkan diri kita saudara – saudara sekalian Belanda sudah mulai mendekat“, ucap Abdul Gani.
“Allahu akbar... allahu akbar..“, sahut para pejuang.
Selang beberapa saat kemudian terjadilah serangan, suara senjata yang membabi buta seakan siap menembus tubuh siapa saja yang berani melawan, dan... bummm ... meriam penjajah dimuntahkan untuk menghancur leburkan wilayah pertahanan Abdul Gani dan kawan – kawan.
Pertempuran sengitpun tak terelakkan, saling serangpun terjadi.
Karena kalah jumlah pasukan dan persenjataan yang minim, akhirnya 13 orang pejuang gugur di medan pertempuran, sementara para pejuang lainnya melarikan diri untuk bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda.
Abdul Gani yang pada saat itu selamat, justru di tahan kemudian tanggannya di ikat oleh pasukan kolonial Belanda, kemudian tubuhnya diseret di belakang mobil perang milik Belanda.
Abdul Gani kemudian di bawa menuju markas Belanda yang terletak didesa Kaliputih, di markas tersebut Abdul Gani diinterogasi oleh pemimpin belanda yang bernama Mison untuk menunjukkan dimana tempat persembunyian para pejuang lainnya.
Karena keteguhan hatinya Abdul Gani tetap diam seribu bahasa dan tidak bersedia membuka mulutnya untuk menunjukkan persembunyian para pejuang lainnya yang berhasil melarikan diri dari serangan serdadu Belanda, diamnya Abdul Gani membuat Mison dan pasukan Belanda lainnya naik pitam mereka semakin menyiksa Abdul Gani.
Akibat dari kekejaman Mison dan pasukanya menyiksa Abdul Gani, sehingga Abdul Ganipun tewas mengenaskan di tangan penjajah belanda yang keji tersebut.
Patriotisme dan semangat juang Abdul Gani yang menjujung tinggi harkat dan martabat bangsa indonesia sehingga rela berkorban walaupun pada akhirnya pengorbanannya ini mempertaruhkan nyawanya.
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya, maka Nama Abdul Gani di abadikan menjadikan sebagai nama jalan, yang di sejajarkan dengan nama- nama pahlawan lainnya di wilayah kota Batu.
Nama jalan Abdul Gani adalah terletak di kelurahan Ngaglik Kota Batu, yang merupakan jalan akses utama menuju tempat – tempat wisata di kota Batu yang tersohor salah satunya Musium Angkut, Agrowisata dan sebagainya.
Semoga kita bisa meneladani semagat juang dan patrotisme Abdul Gani, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya.
TAMAT
Sepenggal Kisah Tentang Abdul Manan Wijaya
Getar perjuangan untu melepaskan diri dari belenggu penjajah tidak hanya terjadi di tempat – tempat yang di tulis di buku sejarah indonesia, namun di kota kecil seperti kota Batu gerakan seperti itupun juga terjadi di kota Batu.
Sebuah sumber mengatakan bahwa mulai sekitar tahun 1947, pasukan penggempur atau pasukan “Berani Mati“ yang di pimpin oleh Mayor Abdul Manan Wijaya mengoperasikan pasukannya di wilayah Batu dan sekitarnya. Ratusan pemuda bergabung dalam pasukan ini dan memulai perang melawan Belanda secara gerilya.
Abdul Manan lahir di desa Ngroto, kecamatan Pujon pada tahun 1915. Ayahnya bernama Rumpoko adalah seorang mandor jalan.
Sejak berusia remaja, Abdul Manan sudah mendalami ilmu keagamaan di podok pesantren Tebuireng, Jombang.
Ketika PETA di bentuk pada masa penjajahan Jepang, Abdul Manan Wijaya yang baru menyelesaikan pendidikan pesantrennya langsung bergabung dengan kesatuan militer yang di bentuk Jepang tersebut.
Saat pasukan Belanda melancarkan agresi Militer I dan II Abdul Manan yang pada saat itu masih berpangkat Mayor, mendapatkan tugas mengorganisir pasukan Batalyon II. Kebetulan, kala itu pasukannya berkedudukan di daerah kawedanan Pujon, Dulunya daerah ini semula adalah bagian dari kawedanan Batu, kemudian menjadi salah satu daerah yang menjadi incaran Belanda yang sudah mengusai wilayah kota Batu lebih dahulu.
Saat itu hasil dari perjanjian Renville, yang di akui masih sangat merugikan bangsa Indonesia, karena wilayah kekuasaan Indonesia terus menyempit. Bahkan meski sudah di tentukan garis demarkasi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Belanda masih terus melakukan konfrontasi, karena pasukan Belanda terus melakukan provokasi dengan sengaja melanggar garis demarkasi. Tentu saja, pejuang yang sedang berpatroli di sekitar garis status quo ikut terpancing.
Di perbatasan wilayah itulah terjadi pertempuran darah yang membuat gugur putra putri bangsa , di bawah kepemimpinan Brigjen Abdul Manan Wijaya, pasukan putra putri bangsa terus bertempur hingga titik darah penghabisan.
Bersama Letnan Soemadi dan Mayor Sunandar, Abdul Manan menjadi otak di balik serangan – serangan mematikan terhadap tentara Belanda. Tak hanya di kenal sebagai ahli strategi perang,
karena disitulah taktik dan strategi perangnya dimainkan, karena serangan - serangan tentara Indonesia dibawah kepimpinan Abdul Manan berbuah kemenangan atas penjajah.
Mayor Manan juga seorang negosiator yang handal, hal itu terbukti dengan keberhasilan delagasi batalyon II yang di pimpin Manan menghindarkan TNI dari sanksi KTN akibat penyerangan pasukan Belanda di desa Pandesari.
Jasa – saja Abdul Manan semasa perang kemerdekaan selalu di kenang’ salah satunya adalah dengan didirikannya monumen Garis Status Quo Van Mook sebagai penanda, termasuk patung Abdul Manan, walaupun kenyataannya setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng pada tahun 1967, Abdul Manan di Mabeskan hingga pensiun. Pasalnya dalam rapat tersebut, Abdul Manan berkata “Hamid Roesdi itu Ketua Ansor “. Abdul Mananpun pensiun dengan pangkat terakhir sebagai Brigjen.
Setelah meninggal dunia Jenazah Abul Manan di makamkan di desa Sisir Kecamatan Batu. Ia dimakamkan di sana atas permintaan sendiri, karena tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan ( TMP )