PENDAHULUAN
Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Manfaat Penelitian
Para ahli hukum pidana berpendapat bahwa kesalahan merupakan unsur yang sangat mendasar dalam menentukan pertanggungjawaban pidana. Selain itu, kesalahan dalam pengertian tersebut di atas juga terkait dengan pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana. Bagaimana pertanggungjawaban pidana pelaku yang memerintahkan pembuangan limbah secara tidak sah ke lingkungan.
Secara teoritis bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum sebagai pedoman dalam kajian pertanggungjawaban pidana bagi mereka yang memberi perintah membuang limbah ke media lingkungan hidup tanpa izin. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan signifikan bagi pembaruan hukum di bidang pertanggungjawaban pidana bagi mereka yang memberi perintah untuk membuang limbah ke media lingkungan tanpa izin.
Tujuan Penelitian
Metode Penelitian
- Sifat Penelitian
- Sumber Data
- Alat Pengumpul Data
- Analisis Data
Kesalahan sebagai bagian dari tanggung jawab pidana bukanlah kesalahan psikis atau kesalahan sebagai bagian dari kejahatan (baik disengaja maupun lalai). Kesanggupan untuk bertanggung jawab digunakan sebagai pembenaran ketika seseorang yang melakukan kejahatan dimintai pertanggungjawaban secara pidana. Oleh karena itu, perlu diingat kembali unsur-unsur pidana yang dirumuskan oleh Simons, sebagai berikut; 74.
Kemampuan untuk mengungkapkan keadaan pikiran tertentu secara bertanggung jawab pada saat melakukan kejahatan harus sedemikian rupa sehingga orang tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Hakim menyatakan bahwa terdakwa Aprildo Tri Husudo terbukti secara meyakinkan dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagai orang yang memerintahkan pembuangan sampah di media lingkungan.
Defenisi Operasional
TINJAUAN PUSTAKA
- Pertanggungjawaban pidana
- Pelaku
- Dumping limbah
- Media Lingkungan
Namun, jika pertanggungjawaban pidana tanpa kesalahan pelaku, ada penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan asas “tidak ada kejahatan tanpa kesalahan”, tetapi asas ini merupakan hukum tidak tertulis dan juga berlaku di Indonesia. Arti penting dari hal tersebut di atas harus diperhatikan dengan seksama, karena dalam hukum pidana berlaku asas bahwa suatu perbuatan yang mempunyai segala tanda-tanda tindak pidana belum tentu dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana. Harus diperjelas lagi bahwa pertanggungjawaban pidana hanya dapat dimintakan kepada pelaku tindak pidana jika ia bersalah atau dapat didakwa melakukan tindak pidana.
Unsur kesalahan pelaku tindak pidana inilah yang akan menjadi dasar putusan hakim atau syarat umum penjatuhan pidana (algemen voorwarde voor strafbaarheid). Actus reus, adalah asas bersalah, berdasarkan perbuatan yang diinginkan oleh pelaku dan sesuai dengan rumusan hukum pidana (wederrechteliikheid). Sedangkan mens rea adalah asas kesesatan yang menggambarkan keadaan jiwa yang mendasari seseorang yang dengan sengaja melakukan kejahatan.
Oleh karena itu, pelaku bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan sebelumnya, untuk memperbaiki keadaan mentalnya, jika dia dapat disalahkan, maka dia harus bertanggung jawab atas kejahatan tersebut. Ini berarti bahwa jika seseorang tidak dapat didakwa dengan kejahatan, maka mereka tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Menentukan siapa pelaku kejahatan secara umum dapat dipahami dari jenis kejahatan sebagai berikut: 33.
Pelaku delik materiil adalah setiap orang yang menimbulkan akibat yang dilarang dalam rumusan delik pidana. Orang yang melakukan (melakukan) atau pelaku (pelaku) adalah orang yang perbuatannya sesuai dengan semua unsur tindak pidana. Karena pelaku dipandang sebagai seseorang yang terlibat dalam tindak pidana yang melibatkan beberapa peserta.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku Pemberi Perintah
Tanggung jawab pidana adalah tanggung jawab seseorang atas kejahatan yang dilakukannya, semata-mata untuk kejahatan yang menjadi tanggung jawab orang itu, tanggung jawab pidana yang dilakukannya. Kata tanggung jawab pidana secara negatif terutama berkaitan dengan fungsi represif hukum pidana, dalam hal ini memikul tanggung jawab dalam hukum pidana berarti memikul, sehingga konsep tanggung jawab pidana penjatuhan pidana sementara bersumber dari gagasan monodualisme. (daad en deder strafrecht), the due process of law) penentuan pertanggungjawaban pidana tidak hanya dilakukan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat, tetapi juga pencipta itu sendiri, proses ini tergantung pada terpenuhinya syarat dan ketentuan yang dapat ditegur. oleh pelaku kejahatan tersebut. Fungsi pertanggungjawaban pidana mempunyai kekuatan penjatuhan pidana agar dapat digunakan sebagai kontrol sosial agar tidak terjadi tindak pidana dalam masyarakat.
Jadi yang dimaksud dengan kesalahan menurut Simons adalah seseorang yang melakukan tindak pidana berkaitan dengan kesanggupan untuk bertanggungjawab karena orang tersebut dapat dipidana melakukan suatu tindak pidana. Jadi, menurut Simons, dasar kesalahan pelaku tindak pidana adalah kesanggupan untuk bertanggung jawab yang harus ditentukan oleh dua hal, sebagai berikut; 75. Ketiga unsur kesalahan tersebut merupakan unsur subyektif dari syarat pemidanaan atau jika menurut pengertian strafbaar feid merupakan unsur subyektif dari suatu kejahatan.
Oleh karena itu, keempat unsur kesalahan tersebut di atas harus dipahami dengan baik untuk menentukan apakah seorang pelaku kejahatan dapat dimintai pertanggungjawaban atau tidak. Berkaitan dengan meminta pertanggungjawaban seseorang dalam hukum pidana, harus ada kesempatan bagi pembuat untuk menjelaskan mengapa ia melakukannya, dapat dikatakan bahwa tidak ada peradilan yang adil dalam menangani tindak pidana, oleh karena itu pertanggungjawaban pidana harus dihubungkan dengan upaya preventif. fungsi hukum pidana dalam Konsep harus terbuka pada fakta bahwa pabrikan sendiri menyadari sepenuhnya konsekuensi dari tindakan kriminal, yang merupakan risiko yang dipahami pabrikan sejak awal. Kajian penerapan teori pemisahan tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana terutama dilakukan dari pertimbangan hukum putusan pengadilan, dengan mempertimbangkan tindak pidana, pertanggungjawaban pidana yang ditimbulkannya dan pidana yang dijatuhkan.
Jadi subjek dari tindak pidana yang dimaksud dalam perkara ini adalah korporasi, KUHP belum mengatur secara jelas tentang tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi di bidang lingkungan hidup Indonesia, dapat menggunakan undang-undang yang lebih spesifik yaitu undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan lingkungan. pengelolaan (UUPPLH). Kejahatan lingkungan adalah perbuatan manusia, baik secara aktif (criminal by commission) maupun percakapan (criminal by omission) yang mengakibatkan kerusakan atau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan atau kematian dan untuk itu diperlukan sanksi (ancaman) sebagai berikut: 1) Pidana penjara 2) Penjara 3 ) Denda 4) Tindak pidana administratif. Tidak perlu menjalani pidana, kecuali di kemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain jika terpidana melakukan tindak pidana sebelum masa percobaan.
Analisis Terhadap Putusan (No.566/Pid.Sus/PN.Kwg)
Yurisprudensi dalam klarifikasi konstitutif mencakup sengketa penegakan hukum yang mengandung ciri-ciri nasional atau global, seperti hukum hak asasi manusia, hukum lingkungan, dan hukum yang ditujukan untuk mendukung demokrasi. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tidak melindungi lingkungan sebagaimana yang dijelaskan dalam undang-undang, hanya namanya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pada dasarnya, undang-undang ini dibuat untuk tidak menimbulkan efek jera bagi pelakunya. Keputusan tidak selalu konsisten dengan harapan. Padahal, terlalu mudah, karena dampak pembuangannya saja sudah sangat berbahaya bagi kehidupan, lingkungan, dan masyarakat. , ketika seseorang memahami apa artinya, mulai dari menjaga lingkungan, ketika lingkungan tercemar, seperti air sungai, efek yang sangat fatal dari penyakit kulit hingga penyakit berbahaya yang dapat terjadi akibat pencemaran air, dari tanah lingkungan dari Dilihat dari sudut pandang semua tumbuhan yang hidup akan mengalami kerusakan ekosistem, ketika suatu kebijakan tertentu tidak memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan lingkungan, hal yang sama akan terjadi berulang kali, nampaknya dalam kasus kasus I sedang belajar, dimana membuang sampah merupakan salah satu kegiatan yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup bahkan dapat menyebabkan kematian.
Bentuk perbuatan memberi perintah untuk membuang limbah lingkungan tanpa izin adalah perbuatan atasan atau pengurus perusahaan yang menyuruh anggota atau karyawan untuk bekerja. Pengurus perusahaan dijadikan tersangka atau terdakwa, bentuk tindakannya adalah pelaksanaan pembuangan limbah, dimana pembuangan limbah (pembuangan) adalah kegiatan membuang limbah dan/atau bahan dalam jumlah, konsentrasi, waktu, tempat dan/atau tertentu impor. , dan lokasi dengan persyaratan tertentu terhadap media lingkungan. Pertanggungjawaban pidana bagi pelaku yang memberi perintah membuang limbah ke media lingkungan adalah putusan PN Karawang No.566/Pid.Sus/2012/PN/Kwg yang menyatakan bahwa terdakwa Aprildo Tri Husudo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terhadap orang yang memberi perintah membuang sampah ke media lingkungan hidup diancam dengan pidana penjara paling lama 1 tahun dan denda sebesar Rp.
32 Tahun 2009 Pasal 104 (1) tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tidak melakukan perlindungan terhadap lingkungan sebagaimana yang dijelaskan dalam undang-undang, hanya namanya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pada dasarnya undang-undang ini dibuat bukan untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku selalu dalam putusan yang tidak sesuai dengan harapannya. Bentuk tindakan yang memberikan perintah untuk membuang limbah ke media lingkungan seharusnya jika seorang direktur atau pimpinan tidak memberikan perintah yang bertentangan dengan UU No. Pertanggungjawaban pidana bagi mereka yang memberi perintah untuk membuang limbah ke media lingkungan harus dinilai mengabaikan asas ultimate remedium dan membandingkannya dengan pasal 117 undang-undang.
32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, agar perusahaan atau pengurusnya merasa prihatin dan takut terhadap tindak pidana pencemaran lingkungan khususnya pembuangan limbah, sehingga dengan menimbulkan efek jera bagi pengelola perusahaan lebih berhati-hati dan memikirkan pencemaran lingkungan. lingkungan. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, bahwa jika pengaduan pidana diajukan terhadap komandan atau pemimpin tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam butir b pasal 116 alinea pertama, diberikan ancaman berupa tindak pidana. dan dendanya ditambah sepertiga. Titian Budi, “Memahami Istilah di Bidang Lingkungan Hidup”, Prek, budisroni78.blogspot.com diakses, Selasa, 9 Oktober 2018, 05:18 WIB H.Santhos Wachjoe “Pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi”, Prek.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Limbah yang dibuang masih mengandung zat atau komponen berbahaya, misalnya bottom ash, sludge oil dan lain-lain. Limbah tersebut termasuk limbah yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan dapat memperlambat pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian banyak hewan dan tumbuhan, dan manusia akan sangat merasakan dampaknya karena lingkungan merupakan wadah bagi semua makhluk hidup yang hidup di bumi ini. lima ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda itu tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan 3 (tiga) bulan dengan ketentuan pidana tersebut tidak dilaksanakan kecuali ada putusan di kemudian hari yang menentukan bahwa terpidana dilakukan sebelum berakhirnya masa percobaan 1 (satu) tahun.
566Pid.Sus/2017PN.Kwg, hakim dalam putusan penjatuhan pidana terhadap pelaku harus hati-hati tidak hanya menjatuhkan pidana sebagaimana tertuang dalam putusan, tetapi juga harus mencabut izin perusahaan karena perbuatan perusahaan telah berulang-ulang. , dan di dalamnya ada unsur kesengajaan membuang, apalagi perusahaan tidak memiliki izin untuk kegiatan pembuangan limbah tersebut. Dalam memutus suatu perkara, hakim harus melihat aspek filosofis, aspek sosiologis yang terjadi dalam lingkup kehidupan masyarakat dan juga harus memperhatikan pasal 117 UUPPLH Tahun 2009 yang berisi bahwa apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (1) huruf b, ancaman pidana yang dijatuhkan kepada pelaku yang memberi perintah berupa pidana kurungan dan denda ditambah sepertiga. Sehingga dalam pengambilan keputusan tidak ada pro dan kontra dalam kehidupan bermasyarakat karena untuk urusan lingkungan baik dalam lingkup Air, Tanah dan Udara harus mendapat perhatian dan pengawasan yang ekstra karena itu juga lingkungan.
Saran
2014, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara,. 2003, Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku yang kelalaiannya mengakibatkan melebihi baku mutu Udura, (Disertasi) Program Studi Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan. Muhammad Ajid Husain, Fikih sebagai sumber hukum dan kedudukan dalam hukum Indonesia melalui http://muhammadajid81.blogspot.co.id, diakses pada Senin, 2 April 2018 pukul 3.26 WIB.