• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK - - Electronic theses of IAIN Ponorogo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ABSTRAK - - Electronic theses of IAIN Ponorogo"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

Bagaimana pengelolaan lingkungan belajar fisik dalam pengembangan kepribadian siswa III. kelas di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar. Bagaimana pengelolaan lingkungan belajar non fisik dalam pengembangan kepribadian siswa III. kelas di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar Ponorogo. Mengetahui pengelolaan lingkungan belajar dalam pengembangan kepribadian siswa III. kelas di MI Mamba'ul Huda al-Islamiyah Ngabar Ponorogo tahun ajaran 2015-2016.

Teknik Analisis Data

Pengecekan Keabsahan Data

Tahapan-Tahapan Penelitian

Sistematika Pembahasan

Bab ini menguraikan data umum dan data khusus terkait pengelolaan lingkungan belajar dalam pengembangan kepribadian siswa kelas III MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar Ponorogo pada tahun ajaran. Bab ini memudahkan pembaca dalam memahami inti skripsi yang berisi kesimpulan dan saran.

Kajian Teori

Pengelolaan Lingkungan Belajar

Alat peraga yang lengkap dan tepat akan memudahkan penerimaan materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa. Secara umum kelengkapan fasilitas belajar yang dimiliki siswa adalah segala sesuatu (benda) yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menunjang proses belajar mengajar. Kondisi ini menyebabkan proses belajar mengajar kurang berjalan lancar dan dapat menurunkan minat belajar siswa.29.

Metode ceramah merupakan suatu cara penyajian pelajaran yang dilakukan oleh guru dengan narasi atau penjelasan lisan langsung di hadapan siswa. Metode tugas merupakan suatu cara penyajian materi pembelajaran dimana guru memberikan tugas-tugas tertentu agar siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Perkembangan Kepribadian a. Pengertian Perkembangan

Menurut George Kelly dalam buku E. Koswara, ia memandang kepribadian sebagai cara unik seseorang dalam menafsirkan pengalaman hidupnya. Menurut Gregory dalam buku Sharkawi, kepribadian adalah suatu kata yang menunjukkan ciri-ciri dan pola tingkah laku seseorang yang khas pada orang tersebut. Apalagi menurut Allport, dalam bukunya Syamsu Yusuf LN telah mengungkapkan pandangannya mengenai pengertian kepribadian, yaitu “kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu dari sistem-sistem psikofisik yang menentukan adaptasi uniknya terhadap lingkungannya”. kepribadian adalah.

Hurlock dalam buku Syamsu Yusuf LN menyebutkan bahwa ciri-ciri penyesuaian diri yang sehat atau kepribadian yang sehat ditandai dengan: 1) Mampu menilai diri sendiri secara realistis; Menurut Schultz & Schultz dalam buku Dede Rahmat H merumuskan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, yaitu: 1) Faktor genetik/warisan; Menurut Alfred Adler dalam buku Dede Rahmat H, perbedaan lingkungan rumah akan mempengaruhi perbedaan kepribadian.

Sigmund Freud dalam buku Dede Rahmat H sejak awal menekankan pola asuh sebagai faktor yang sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak, sedangkan Adler fokus pada akibat anak merasa tidak diinginkan atau ditolak oleh orang tuanya. Sebagaimana disampaikan Sigmund Freud dalam buku Dede Rahmat H, ia berpendapat bahwa kepribadian terbentuk dan bertahan pada usia 5 tahun dan akan sulit berubah setelah usia tersebut. Dalam buku Dede Rahmat H, Sigmund Freud mengenalkan kita pada dunia bawah sadar, gudang gelap ketakutan, konflik, kekuatan tergelap yang mempengaruhi pemikiran sadar.

Menurut Jung, dalam buku Purwa Atmaja Prawira, pakar penyakit jiwa asal Swiss, ia membagi tipe manusia dengan cara berbeda.

Telaah Penelitian Terdahulu

Sedangkan orang yang tergolong introvert mempunyai ciri-ciri kurang bergaul, pendiam, sulit memahami batinnya, suka menyendiri bahkan sering takut pada orang lain. Menurut Gagak dan Gagak dalam buku Purwa Atmaja Prawira menjelaskan lebih detail ciri-ciri kedua tipe tersebut: 1) ekstrovert mempunyai ciri-ciri lancar/lincah dalam berbicara, bebas dari rasa khawatir/cemas, tidak mudah malu dan tidak canggung, umumnya konservatif, mempunyai ketertarikan pada atletik, mudah dipengaruhi oleh data obyektif, ramah dan mudah bergaul, suka bekerja dengan orang lain, tidak terlalu peduli dengan penyakit dan harta benda sendiri, mudah beradaptasi dan fleksibel; Penelitian yang dilakukan oleh Sri Nuryani pada tahun 2014 berjudul “Hubungan Lingkungan Keluarga Dengan Kepribadian Siswa Kelas VA MI Ma'arif Patihan Wetan Tahun Pelajaran dengan temuan penelitian sebagai berikut:.

Selain itu juga dilakukan penelitian oleh Zakiyah Fathiyatul H. pada tahun 2012 dengan judul “Peran Guru Dalam Pengembangan Kepribadian Siswa Kelas IV MI Tarbiyatul Muballighin Prambon Dagangan Madiun Tahun Ajaran dengan hasil penelitian sebagai berikut: 55 Sri Nuryani, Korelasi lingkungan keluarga dan kepribadian siswa kelas VA MI Ma'arif Patihan Wetan tahun ajaran skripsi, STAIN Ponorogo, 2014).dan mempunyai sifat terbuka terhadap orang lain yaitu berkepribadian ekstrover, dan ada juga yang cenderung bersikap pendiam dan tertutup terhadap orang lain yang merupakan ciri-ciri kepribadian introvert; 2) Membentuk pengembangan kepribadian melalui pembelajaran aktif dan menyalurkannya dalam kegiatan ekstrakurikuler antara lain muhadharah, kira'ah dan drum band; 3) Guru berperan sebagai pemimpin kelas sehingga agar siswa betah berada di dalam kelas, sebagai motivator yang menjadi semangat bagi siswa, sebagai pedoman bagi siswa untuk menjadi manusia yang berakhlak baik dan juga sebagai fasilitator bagi siswa dalam mengembangkan kemampuannya. atau kepribadian .56.

Dari tinjauan pustaka di atas terlihat persamaan penelitian ini adalah pemeriksaan kepribadian siswa/siswa. Bedanya, penelitian di atas mengkaji tentang peran guru terhadap pengembangan kepribadian siswa kelas IV MI Tarbiyatul Muballighin Prambon Dagangan Madiun tahun ajaran 2011-2012. Sedangkan penelitian ini fokus pada pengelolaan lingkungan belajar dalam pengembangan kepribadian siswa kelas III MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar Ponorogo tahun ajaran 2015-2016.

56 Zakiyah Fathiyatul H., Peran Guru dalam Pengembangan Kepribadian Siswa Kelas IV MI Tarbiyatul Muballighin Prambon Dagangan Madiun Disertasi Tahun Pelajaran, STAIN Ponorogo, 2012).

DESKRIPSI DATA

Deskripsi Data Umum 1. Profil Sekolah

  • Letak Geografis Sekolah
  • Visi dan Misi Madrasah VISI
  • Struktur Organisasi MI Mamba’ul Huda Al -Islamiyah Ngabar
  • Keadaaan Guru
  • Keadaan Siswa
  • Sarana dan Prasarana

Melaksanakan pengajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga peserta didik dapat berkembang secara optimal, sesuai potensinya; Mengembangkan kemampuan dasar siswa dalam bidang sains, bahasa Arab, bahasa Inggris, keterampilan dan seni; Dengan adanya struktur organisasi maka tugas dan tanggung jawab setiap orang yang terlibat dalam suatu lembaga tertentu dapat diatur.

Pada tahun ajaran 2015/2016, jumlah siswa di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar Ponorogo berjumlah 342 orang, terdiri dari 16 orang. Islamiyah Ngabar terdiri atas: Ruang utama Madrasah, ruang guru, ruang kelas, ruang tata usaha, laboratorium komputer ruang, ruang perpustakaan, ruang UKS, musala, kantin, tempat parkir, lapangan.

Gambar 3.1 Struktur Organisasi
Gambar 3.1 Struktur Organisasi

Deskripsi Data Khusus

  • Pengelolaan Lingkungan Belajar Fisik dalam Pengembangan Kepribadian Siswa
  • Pengelolaan Lingkungan Belajar Non-Fisik dalam Pengembangan Kepribadian Siswa

Selain itu, terdapat beberapa kendala lain yang dihadapi guru dalam mengelola lingkungan belajar yang kondusif, seperti yang diungkapkan oleh Ny. Imroatul. Selain itu terdapat pengaruh sarana dan prasarana terhadap kepribadian seperti yang disampaikan oleh Ibu Imroatul. Pengorganisasian kelas di MI Mambaul Huda Al-Islamiyah Ngabar meliputi guru kelas dan siswa, seperti Ibu. Sarmini.

Perpustakaan ini dikelola oleh Ibu Ika dan buku-bukunya juga lengkap sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Seorang siswa bernama Ziaus bercerita tentang kondisi masjid di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar. Evaluasi yang dilakukan oleh guru berbeda dengan evaluasi yang dilakukan oleh guru lainnya, seperti evaluasi yang dilakukan oleh Ibu Sarmini.

Di dalam kelas tentunya siswa berinteraksi dengan siswa lainnya, seperti yang dikatakan Bu Sarmini. Di madrasah tentunya ada permasalahan yang sering dialami siswa, seperti yang dikatakan Bu Sarmini. Ketika ada siswa yang mempunyai masalah, guru memberikan instruksi seperti yang diungkapkan oleh Ibu Sarmini.

Pengembangan kepribadian di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar cukup baik disampaikan oleh Bapak Ali Syahadat.

Gambar 3.2 Kondisi Ruang Kelas
Gambar 3.2 Kondisi Ruang Kelas

ANALISIS DATA

Pengelolaan Lingkungan Belajar Fisik dalam Pengembangan Kepribadian Siswa

Menurut Blocher, dalam buku Rita Mariyana menjelaskan bahwa lingkungan belajar pada hakikatnya adalah konteks fisik, sosial dan psikologis di mana anak belajar dan memperoleh perilaku baru. Nasehat ini menekankan bahwa lingkungan belajar merupakan sarana yang melaluinya siswa dapat mengabdikan dirinya untuk berkreasi, berkreasi dan berbuat. Lingkungan belajar yang kondusif dan selaras dengan tujuan yang diharapkan menjadikan siswa lebih bersemangat untuk mengikuti pembelajaran.

Slameto menyatakan bahwa sumber daya pendidikan erat kaitannya dengan cara siswa belajar karena sumber daya pendidikan yang digunakan guru dalam mengajar juga digunakan oleh siswa untuk menerima materi yang diajarkan. Jika siswa mudah menerima dan menguasai pelajaran, maka proses belajarnya akan menjadi lebih aktif dan maju. Lengkap atau tidaknya perlengkapan pembelajaran, baik milik siswa sendiri maupun milik sekolah, dapat memberikan dampak tertentu terhadap hasil belajar siswa. Kurangnya perlengkapan belajar dapat menimbulkan dampak negatif, misalnya siswa tidak dapat belajar dengan baik sehingga sulit mengharapkan prestasi yang tinggi.

Dengan demikian, peralatan penunjang fasilitas belajar yang lengkap sangat dominan dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan mendorong minat belajar siswa. Banyaknya jumlah siswa dan beragamnya karakteristik masing-masing memerlukan kondisi bangunan yang sesuai pada setiap kelas. Jika kondisi bangunan memadai maka minat belajar siswa akan meningkat dan sebaliknya minat belajar.

Berdasarkan analisis data di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengelolaan lingkungan belajar fisik menyangkut adanya peraturan, ketentuan dan sarana dan prasarana yang sesuai bagi siswa.

Pengelolaan Lingkungan Belajar Non-Fisik/Sosial dalam Pengembangan Kepribadian Siswa

Di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar semua guru dapat merancang program pembelajaran dengan menggunakan media yang ada. Hal ini diperkuat dengan pengertian metode pembelajaran sebagai suatu metode yang memuat prosedur baku dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, khususnya kegiatan pemberian materi pembelajaran kepada siswa. Evaluasi harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan untuk menggambarkan kemampuan siswa yang dievaluasi.

Selain itu, ia juga menilai ketika pembelajaran berlangsung dan ada siswa yang keluar kelas, maka nilai siswa tersebut akan diturunkan. Hal ini membuat siswa enggan keluar kelas ketika sedang belajar dan siswa lebih memperhatikan guru yang mengajar, tidak sendirian dan tertib dalam proses pembelajaran. Hurlock menyatakan bahwa ciri-ciri penyesuaian diri yang sehat atau kepribadian yang sehat ditandai dengan: 1) Mampu menilai diri sendiri secara realistis;

Berdasarkan teori di atas, siswa MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar tidak mampu mengendalikan emosinya, bersifat hiperaktif, terkadang siswa mengganggu siswa lain, sehingga siswa yang mengganggunya perlahan-lahan akan dikucilkan oleh temannya. Hal ini menuntut guru untuk lebih selektif dalam memberikan motivasi kepada siswa yang sering mengganggu teman sebayanya. Di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar sebagian besar siswanya mempunyai tipe kepribadian ekstrover, hanya sedikit yang mempunyai tipe introvert.

Berdasarkan analisis data di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengelolaan lingkungan belajar non fisik/sosial yang harmonis dengan memberikan motivasi terus-menerus dan memberikan contoh perilaku positif kepada siswa secara perlahan mengubah kepribadian siswa yang tidak sehat menjadi sehat, dan kemudian siswa yang tidak sehat. Memiliki kepribadian yang introvert perlahan akan berubah menjadi siswa yang mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

PENUTUP

Kesimpulan

Interaksi antara siswa dengan siswa tidak terjalin disebabkan oleh perilaku siswa yang tidak dapat mengendalikan emosinya, siswa yang hiperaktif dan siswa yang sulit menyesuaikan diri serta kaku dalam pergaulan.

Saran

Referensi

Dokumen terkait