Maka dari itu peneliti mengangkat judul yaitu “KONSEP PSIKOLOGI HUMANISTIK MENURUT ABRAHAM MASLOW DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI ISLAM”. Dalam penelitian ini tujuan pengumpulan data adalah untuk mengembangkan teori-teori sebagai landasan ilmiah dengan menelaah dan mempelajari pokok-pokok permasalahan dan literatur yang mendukung dan berkaitan dengan pembahasan penelitian ini, yaitu yang berkaitan dengan pemikiran Abraham Maslow dari sudut pandang psikologi Islam.
Telaah Pustaka
Bedanya dengan penelitian yang ada saat ini, konsep psikologi humanistik Abraham Maslow dilihat dari sudut pandang psikologi Islam, yaitu motivasi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhannya hingga mencapai taraf aktualisasi diri. orang menurut Pandangan Maslow mengenai psikologi akan dilihat dari perspektif psikologi Islam. Bedanya dengan penelitian yang ada saat ini adalah melihat konsep psikologi humanistik Abraham Maslow jika dilihat dari sudut pandang psikologi Islam, bahwa manusia mempunyai potensi positif untuk mengatur perilaku hidupnya dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, dan jika dilihat dari sudut pandang psikologi humanistik. psikologi Islam. Perspektifnya adalah potensi manusia untuk menambah unsur keimanan. .
Sistematika Pembahasan
Bab ini bertujuan untuk mengetengahkan kerangka teori yang digunakan sebagai asas untuk menjalankan penyelidikan. Bab ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehidupan Abraham Maslow dan digunakan sebagai asas untuk melakukan penyelidikan ini.
Psikologi
Menurut Garden Murphy, psikologi adalah ilmu yang mempelajari respon makhluk hidup terhadap lingkungannya.17. Yang akan dibahas dalam artikel ini adalah psikologi objek manusia, yang pada saat ini masih dibedakan antara psikologi umum dan psikologi khusus.18.
Psikologi Islam
Jadi, manusia dalam psikologi Islam sebagaimana disebutkan Ibnu Sina adalah makhluk yang berdimensi tumbuhan, hewan, dan spiritual (rasional). Oleh karena itu hakikat manusia dalam perspektif psikologi Islam adalah keseluruhan kemanusiaan dalam gabungan pikiran (akal), perasaan (hati), kehidupan (roh) dan keinginan atau cita-cita tertentu (jiwa). Melalui sifat nafsani dalam psikologi Islam, pusat tingkah laku adalah hati, bukan otak atau tubuh manusia.
Humanistik 1. Humanisme
Ketiga, humanisme adalah filsafat akal dan ilmu pengetahuan dalam upaya memperoleh ilmu pengetahuan.45 Yang dimaksud dengan humanisasi di sini adalah pengertian humanisasi melalui pemahaman seutuhnya bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang sempurna. Sementara itu, Ali Syari'ati, seorang pemikir Islam kelahiran Iran, merumuskan humanisme sebagai mazhab filsafat yang tujuan utamanya adalah mencapai penebusan dan kesempurnaan manusia.46 Menurut Ali Syari'ati, humanisme adalah mazhab yang memandang manusia sebagai makhluk mulia yang prinsip dasarnya adalah adalah kebutuhan-kebutuhan yang semuanya bertujuan untuk memperbaiki spesiesnya.47 Berdasarkan nilai-nilai dan sifat-sifat tersebut, ia mengembangkan kebudayaan dan peradaban manusia semaksimal kemampuannya.48. Realitas manusia adalah milik manusia, sehingga setiap peristiwa, gejala dan penilaian harus selalu berkaitan dengan keberadaan, kepentingan atau kebutuhan manusia.50.
Setiap orang adalah makhluk hidup, yaitu manusia, oleh karena itu kita tidak boleh kejam terhadap orang lain. Menurut humanisme, manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan istimewa dan mempunyai kemampuan lebih dibandingkan makhluk lain di dunia karena bersifat spiritual. Kini saatnya kita menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang selalu mencari makna dan akan dilanda kegelisahan jika makna yang dicari tidak ditemukan.”
Pernyataan ini mengandung makna bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk terus berkembang, mampu mengarahkan diri sendiri, kreatif dan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Bahwa manusia hanya merespon rangsangan dari lingkungannya saja, sebagaimana hewan juga merespon rangsangan dari lingkungannya.
DESKRIPSI DATA
Biografi Abraham Maslow
Di Wisconsin, dia sangat terkesan dengan psikologi perilaku John B. Watson, seorang guru revolusioner yang menjadikan psikologi sebagai ilmu perilaku. Selain itu Maslow juga mempelajari karya Freud, psikologi Gestalt, filsafat Alfred Whitehead dan Henri Bergson. Selain itu, ia juga membuat sebuah penemuan penting dalam hidupnya, sebuah penemuan yang menyadarkannya bahwa manusia tidak selalu berpedoman pada naluri, sebuah penemuan yang mampu memanusiakan manusia.
Di sini ia juga mulai mengembangkan konsep psikologi humanistik, sebuah konsep yang baginya jauh lebih penting daripada bisnis. Gerakan ini merupakan gerakan psikologis yang tidak puas dengan psikologi behavioris dan psikoanalisis dan mencari alternatif psikologi yang fokusnya adalah manusia dan ciri-ciri keberadaannya. Meskipun psikologi behavioris menunjukkan keberhasilan yang cukup spektakuler dalam bidang-bidang tertentu, psikologi ini sebenarnya tidak memberikan kontribusi terhadap pemahaman manusia dan kondisi keberadaan mereka.
Pada tahun 1958, Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai kekuatan ketiga di samping psikologi behavioris dan psikoanalisis sebagai kekuatan pertama dan kedua. Dengan psikologi humanistik, yang ia perkenalkan bersama banyak psikolog lain dan disebut sebagai “sekolah ketiga”, Maslow mencoba memfokuskan psikologi pada potensi manusia secara keseluruhan.
Karya-Karya Abraham Maslow
Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
Jika kebutuhan fisiologisnya terpenuhi maka individu akan mencari kebutuhan lain yang lebih tinggi.70. Sebaliknya jika kebutuhan dasar tersebut relatif tercukupi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman.71. Dampak psikologis yang terjadi pada masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar tersebut jelas mempengaruhi cara berpikir, berperilaku dan bereaksi terhadap situasi di sekitarnya.
Oleh karena itu, mengajarkan etika, sopan santun, cinta kasih, nilai-nilai yang lebih tinggi kepada masyarakat yang hidupnya masih dihadapkan pada kelaparan seringkali merupakan usaha yang sia-sia. Pada anak, kebutuhan akan rasa aman terlihat jelas, karena mereka suka merespons sesuatu secara langsung. Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah terpenuhi, individu mengembangkan kebutuhan untuk diakui dan dihargai atau dicintai.
Jika kebutuhan fisik dan kebutuhan rasa aman telah terpenuhi secara bertahap dalam kehidupan seseorang, maka akan timbul kebutuhan akan cinta kasih yang sifatnya lebih tinggi dibandingkan kedua kebutuhan sebelumnya. Orang yang telah mampu memenuhi kebutuhan fisik dan rasa aman memulai hidupnya dengan fokus untuk diterima di masyarakat.
Manusia dalam Pandangan Abraham Maslow
Secara umum perilaku manusia dilatarbelakangi oleh kebutuhan fisiologis dan rasa aman yang ditentukan oleh kekuatan dari luar, sehingga menempatkan perilaku aktualisasi diri manusia mendapat porsi minor. Ketika manusia mencapai aktualisasi diri, ia mengalami sinergi yang baik antara kebutuhan biologis, sosial, dan spiritualnya.89. Dalam pandangannya tentang sifat manusia, Maslow percaya bahwa manusia adalah orang yang optimis, berkehendak bebas, sadar dalam pilihannya, unik, mampu mengatasi pengalaman masa kanak-kanak dan baik.
Keyakinan bahwa manusia mempunyai sejumlah besar kemampuan yang belum dimanfaatkan merupakan aspek penting dari teori motivasi manusia yang komprehensif dari Maslow. Ia percaya bahwa setiap anak dilahirkan dengan kemampuan dan kebutuhan untuk berkembang secara psikologis. Maslow percaya bahwa kebanyakan orang mempunyai kemampuan untuk menjadi kreatif, spontan, perhatian terhadap orang lain, penuh rasa ingin tahu, kemampuan untuk terus berkembang, kemampuan untuk mencintai dan dicintai, dan semua karakteristik lain yang terdapat pada orang yang mengaktualisasikan diri.
Menurut Maslow, manusia merupakan makhluk yang berbeda dengan hewan karena keunikannya yang memberikan kemampuan untuk berkembang lebih jauh. Kemampuan manusia dalam mencapai realisasi diri merupakan hal yang wajar dan harus melalui tahapan pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
Potensi Manusia Menurut Abraham Maslow
Jika hal ini benar-benar dilakukan maka perkembangan psikologis cenderung mengarah pada aktualisasi potensi batin sehingga memungkinkan tumbuhnya perilaku psikologis yang lebih positif. Keadaan tersebut dapat muncul karena perilaku psikologis yang ditimbulkannya selalu dilatarbelakangi oleh nilai-nilai yang lebih tinggi, sehingga terdorong untuk selalu mencintai kebenaran, kedamaian, keluhuran budi, kasih sayang, dan sebagainya. Maslow berpendapat bahwa potensi kodrat manusia selain bersifat inheren juga merupakan kemampuan dasar manusia untuk menentukan positif dan negatifnya perilaku psikologis.
Potensi fitrah manusia ini akan memberikan pengaruh positif terhadap perilaku psikologis, bila upaya pengembangannya terus dilakukan oleh orang-orang yang unggul. Maslow menemukan dari penelitiannya terhadap sejumlah orang tertentu bahwa orang-orang yang ditelitinya mempunyai satu ciri umum, yaitu kreativitas. Sebab menurut Maslow, setiap siswa mempunyai potensi psikologis (potensi batin) yang biasanya bersifat positif, berbeda dengan karakter binatang.
Faktanya, perilaku psikologis manusia, dalam pandangan Maslow, tidak dikendalikan oleh faktor eksternal dan kekuatan bawah sadar, melainkan dikendalikan oleh faktor eksternal dan kekuatan bawah sadar. Mengingat potensi fitrah manusia cenderung ke arah baik, maka langkah yang tepat menurut Maslow adalah mengembangkan potensi tersebut hingga terwujudnya pertumbuhan psikologis yang sehat, karena jika ditekan akan menimbulkan gangguan jiwa, karena selain bersifat alami, jarang hilang pada orang normal 0,97.
BAB IV
Perbedaan dan Persamaan Konsep Kebutuhan Dasar Abraham Maslow dalam Perspektif Psikologi Islam
- Kebutuhan fisiologis
- Kebutuhan rasa aman
- Kebutuhan pengakuan dan kasih sayang
- Kebutuhan akan harga diri
- Kebutuahan aktualisasi diri
Dalam kebutuhan ini, orang ingin merasa menjadi milik dan dimiliki oleh orang lain. Manusia membutuhkan cinta dan kasih sayang dari orang lain serta perhatian dari orang lain. Cinta-Nya dapat diperoleh dengan mencintai makhluk-Nya di muka bumi. Persamaan kebutuhan akan pengakuan dan kasih sayang antara Abraham Maslow dengan psikologi Islam adalah manusia selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya dan manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah makhluk sosial.
Bedanya dalam psikologi Islam, manusia harus mengedepankan cintanya kepada Allah terlebih dahulu, karena cinta dan kasih sayang datangnya dari Allah Yang Maha Besar. Sedangkan menurut konsep Maslow, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang hanya bisa diperoleh dari sesama manusia dan orang-orang di sekitar kita. Ketika kebutuhan akan cinta dan kasih sayang terpenuhi, maka muncullah kebutuhan akan harga diri.
Kebutuhan akan harga diri ini berasal dari dua hal: pertama, dari diri sendiri dan kedua, dari pengakuan orang lain. Dalam konsep Maslow, kebutuhan akan penghargaan berasal dari dua hal: pertama, dari diri sendiri dan kedua, dari pengakuan orang lain.
Kesimpulan
Perbedaan keduanya adalah kebutuhan fisiologis dalam psikologi Islam, jika terpenuhi maka akan mendekatkan manusia kepada Allah. Dalam psikologi Islam, ketenangan, rasa aman, hilangnya rasa takut dan sedih dari jiwa disebut sakinah. Persamaan kebutuhan Abraham Maslow akan rasa aman dengan psikologi Islam adalah kebutuhan ini sangat mempengaruhi keadaan jiwa manusia dalam hidupnya.
Dalam psikologi Islam, hendaknya manusia mampu membangun hubungan sosial yang baik berdasarkan rasa saling percaya dan cinta kasih. Bedanya dalam psikologi Islam, manusia harus mengutamakan cintanya kepada Allah karena cinta dan kasih sayang datangnya dari Allah Yang Maha Besar. Persamaan antara kebutuhan harga diri Abraham Maslow dengan psikologi Islam adalah bahwa manusia membutuhkan harga diri dalam hidup sebagai motivasi dalam hidup.
Persamaan aktualisasi diri antara Abraham Maslow dan psikologi Islam adalah kita manusia termotivasi untuk menjadi segala sesuatu yang sesuai dengan kemampuan kita. Bedanya, dalam psikologi Islam lebih pada aspek kodrati bahwa manusia dilahirkan dengan pilihan.
Saran
Baharuddin, Paradigma Islam Psikologi, Kajian Unsur Psikologi dari Al-Qur'an. Yogyakarta: Perpustakaan Mahasiswa, 2004.