• Tidak ada hasil yang ditemukan

abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "abstrak"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

Apa persamaan dan perbedaan konsep pendidikan akhlak menurut Ah}mad Maysūr Sindi> al-T{ursidi> dalam Tanbīh al-Muta'allim dan al-Zarnūji> dalam Ta'līm al-Muta'allim. Sedangkan menurut al-Attas, pendidikan akhlak menjamin meratakan dan menanamkan budi pekerti pada diri manusia, yang disebut dengan ta’di>b.

Telaah Pustaka Terdahulu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Tanbih al-Muta’allim terbagi menjadi 4 bagian: Hubungan manusia dengan Tuhan (seperti menjauhi dosa, mengimani kemuliaan dan keagungan guru, maksud dan tujuan pembelajaran), hubungan antarmanusia (seperti berbuat baik dan menaati orang tua, guru, teman dan masyarakat), hubungan manusia dengan lingkungannya (seperti makan dan menggunakan benda-benda yang halal, baik dan bersih) dan moralitas terhadap diri sendiri. (seperti menjaga kebersihan, bekerja keras dan berdiskusi). Tesis kedua mengkaji tentang konsep pendidikan akhlak anak dari sudut pandang Al-Qur'an surat al-Isra'.

Metode Penelitian

  • Pendekatan Penelitian
  • Jenis Penelitian
  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian di atas adalah penelitian ini mengkaji tentang perbandingan konsep pendidikan akhlak dalam Ahmad Maysūr Sindi> al-T{ursidi> dalam Tanbīh al-Muta'allim dan al-Zarnūji> dalam Ta'līm al - muta' umum Burhan al-Di>n al-Zarnūji>, Ta'līm al-Muta'allim, Surabaya: Al-Miftah, n.d.

Sistematika Pembahasan

Akhak Murid dalam Belajar

Persiapkanlah perlengkapan yang akan anda bawa saat belajar, agar sesampainya di tempat belajar anda tidak perlu kembali lagi karena ada yang kurang. Hendaknya siswa juga mengawali pelajarannya dengan shalat, mengucapkan basmala, hamdalah dan shalawat untuk menghormati guru dan menghadap kiblat, sebagaimana dijelaskan al-T{ursidi> dalam puisinya sebagai berikut. Ia kemudian mulai belajar dengan mengucapkan basmalah, hamdalah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Selain itu, salah satu akhlak peserta didik dalam belajar adalah hendaknya mempunyai sifat ‘wara’ agar ilmu yang diperolehnya menjadi berkah. Santri hendaknya mempunyai makanan dan pakaian yang halal, serta perlengkapan belajar, karena hal ini memberikan cahaya dan kejernihan hati, yang cocok untuk tempat menuntut ilmu. Sepulang dari madrasah, ulangi pelajaran yang baru saja kamu pelajari hingga menyentuh hatimu.

Begitu saja sebelum masuk lagi agar ilmu benar-benar tetap melekat erat di hati 52.

Akhlak Murid terhadap Guru

Hendaknya santri dapat mengurangi hal-hal yang mubah dan menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan dosa, karena dosa satu saja sudah mengotori hati. Siswa meyakini keagungan dan keluhuran seorang guru agar ia menjadi pribadi yang berbahagia di zaman yang akan ia temui. Hendaknya siswa bersungguh-sungguh mencari keridhaan gurunya dan memuliakan gurunya dengan hati yang ikhlas, sehingga pencari ilmu termasuk golongan manusia yang paling utama.

Imam al-Baihaqi> meriwayatkan hadits marfu' dari sahabatnya Abi Hurairah raj: “Bersikaplah santunlah kepada orang yang mengajarimu, sebagaimana Syekh al-Mughir>ah takut pada Syekh Ibrahim>m, sebagaimana ia takut pada raja yang menguasainya.” 53. Dari ayat di atas, kewajiban siswa terhadap guru adalah hendaknya siswa senantiasa menghormati gurunya dan sungguh-sungguh mengupayakan ridha gurunya serta memuji gurunya dengan hati yang ikhlas. guru tidak nyaman atau bosan, karena hal ini menimbulkan cacat yang dapat mengubah pemahaman dan merusak karakter, bahkan menurut Syaikh Ibnu al-S{ala>h akan berdampak pada terhambatnya kemaslahatan ilmu.

Siswa wajib meminta izin kepada guru apabila tidak dapat menghadiri kegiatan pembelajaran karena ada alasan atau kebutuhan dan menjelaskan alasannya.

Akhlak Murid terhadap Ilmu

Siswa harus bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu sampai berhasil karena ilmu tidak bisa diperoleh dengan santai dan bermalas-malasan. Siswa harus mengetahui terlebih dahulu pengucapannya, kemudian bahasanya, kemudian bahasa i'arabnya dan beberapa arti yang diucapkan dan dipahami sehingga menjadi jelas dan nyata. Yang terpenting, untuk memperkuat hafalannya dan menuliskan hal-hal yang tidak jelas. Karena seseorang yang mencari ilmu, namun merasa cukup dengan menulis dan mendengarkan saja, tidak mengetahui penjelasan yang lebih detail sehingga memahami makna, bahasa, i'rab dan lain-lain, maka orang tersebut hanya akan mendapat kesulitan, terlepas dari untuk mendapatkan sesuatu. .55 . Di antara akhlak orang yang mempelajari ilmu adalah: Apabila ilmu dihafal atau dipelajari, hendaknya dilakukan secara bertahap, satu per satu, dan.

Sebab orang yang ketika menuntut ilmu atau mempelajari ilmu hanya berdasarkan kontrak (satu kali kerja), dan segera apa yang dipelajari dan dicarinya hilang lagi, maka tenaganya akan sia-sia.56. Menuntut ilmu juga ada jika air mengalir ke atas atau jika ada burung gagak petok (gagak putih), namun apakah (air mengalir ke atas atau burung gagak petok) bisa? 58. Seseorang yang mencari ilmu hendaknya niatnya karena Allah SWT, namun jika niatnya untuk meraih kekayaan duniawi atau tujuan lain, maka pada hari kiamat ia tidak akan mencium wangi surga.59.

Apabila kamu telah mendapat ilmu walaupun hanya satu kalimah, hendaklah kamu sampaikan kepada orang lain dengan niat yang ikhlas kerana Allah SWT agar kamu tidak tergolong dalam golongan orang yang bakhil.60.

Biografi al-Zarn ū ji>

  • Riwayat Hidup al-Zarn ū ji>
  • Riwayat Pendidikan al-Zarnu>ji
  • Latar Belakang Sosial Politik al-Zarnu>ji>
  • Karya-Karya al-Zarnu>ji>

Namun jika relasinya adalah al-Zarnu>ji>, maka sebagian peneliti mengatakan berasal dari Zarnuj. Dalam mazhab yang ada saat itu, Mu'id Khan seperti dikutip Affandi Mukhtar menyimpulkan bahwa al-Zarnu>ji>. Di tengah perdebatan tersebut, al-Zarn>ji> adalah seorang ulama yang membela dan melestarikan ideologi Sunni.

Untuk mengetahui kondisi sosial politik dan perkembangan masyarakat perlu diketahui masa hidup al-Zarn>ji>.73. Sebagaimana disebutkan di atas, al-Zarn>ji> adalah seorang ahli di bidang tasawuf, sehingga apa yang terkandung dalam Ta'li>m al-Muta'allim banyak sekali. Sampai saat ini hanya ada satu karya yang dapat ditemukan sebagai karya al-Zarn>ji>, yaitu Ta'li>m al-Muta'allim.

Dari sini besar kemungkinan karya al-Zarn>ji> juga turut dibakar, padahal selama ini hanya kitab Ta'li>m al-Muta'allim yang masih bertahan.81.

Konsep Pendidikan Akhlak al- Zarnūji>

Akhlak Murid dalam Belajar

Dari penjelasan di atas hendaknya seorang siswa selalu menetapkan tujuan ketika belajar karena tujuan menentukan segala tindakan yang dilakukan. Hendaknya seorang pelajar belajar dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan serta berusaha selalu menghadap kiblat ketika belajar, seperti yang dijelaskan di bawah ini. Mau bagaimana lagi, para pelajar harus senantiasa belajar dan mengulang pelajaran yang didapat di awal dan di akhir malam, karena waktu antara sore dan pagi hari serta waktu sahur (sebelum fajar) adalah waktu-waktu yang diridhoi Allah SWT. .

Seseorang pelajar hendaklah terlebih dahulu belajar dengan subjek yang mudah supaya lebih mudah difahami tetapi juga harus mempunyai matlamat untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimum seperti yang dijelaskan oleh al-Zarnu>ji> di bawah. Ukuran awal pelajaran adalah sebagai berikut: Ima>m Abu>>H{anifah ra, diriwayatkan dari Syaikh Qad}i> Umar bin Abi> Bakr Al-Zaranji> ra, dia berkata: Guru-guru kami berkata: "Ukuran yang paling baik. . Sebaik-baiknya dimulakan dengan pelajaran yang mudah difahami; Adakah guru kita Syaikh Ima>m Sharaf al-Di>n al-„Uqaili> ra, berkata: “Saya percaya bahawa hak dalam hal ini adalah apa yang guru-guru kita lakukan, ia adalah mereka memilih buku Ringkasan untuk pelajar baru, dengan cara ia akan lebih mudah difahami dan diingati, serta tidak membosankan dan mudah digunakan di tengah-tengah masyarakat 101.

Selain itu, pelajar perlu bersungguh-sungguh dalam pembelajaran dengan banyak menyerap, merenung dan mengulang pelajaran bagi memastikan mereka memahami sepenuhnya ilmu yang dipelajari.

تاَوَلَْْاَو

ةَاايِزَو

كَتاَقْوَأ

Analisis Konsep Pendidikan Akhlak al- Zarnūji >

Konsep pendidikan akhlak menurut al-Zarnūji tertuang secara utuh dalam karyanya Ta’li>m al-Muta’allim. Menurut al-Zarnūji, hal pertama yang harus dilakukan seorang siswa dalam belajar adalah menata niat dan hatinya, karena setiap amal baik tergantung pada niatnya. Berdasarkan keterangan di atas maka pengajaran yang dilakukan al-Zarnūji> dilaksanakan secara praktis.

Cara mengagungkan ilmu menurut al-Zarnūji adalah dengan menjunjung tinggi ilmu dan menghormati para ahli ilmu pengetahuan, mengagungkan buku pelajaran dengan kebiasaan belajar dalam keadaan suci.214. Berikut ini penulis berikan tabel perbandingan konsep pendidikan akhlak al-T{ursidi> dan al-Zarnūji>. Dari tabel diatas terlihat beberapa persamaan dan perbedaan antara al-T{ursidi> dan al-Zarnūji> mengenai konsep pendidikan akhlak.

Walaupun perbedaannya hanya kecil dan hanya terletak pada jumlah redaksi, pembahasan al-Zarnūji> mengenai akhlak santri dalam menuntut ilmu lebih luas dibandingkan dengan pembahasan al-T{ursidi>.

PENUTUP

Kesimpulan

Akhlak siswa terhadap guru adalah hendaknya siswa menghormati anaknya dan siapapun yang ada hubungannya dengan dirinya, meminta persetujuan guru, sabar dan tabah dalam belajar, meminta izin jika diperlukan, berperilaku baik dan tidak membiarkan siswa terluka. perasaan guru dan membuat guru kesal. Akhlak siswa terhadap ilmu pengetahuan adalah hendaknya siswa menghargai ilmu dan menghormati ahli ilmu pengetahuan, menghargai teks, menuliskan ilmu yang diperolehnya sebaik-baiknya, menghormati teman belajar dan guru pengajar, memperhatikan segala ilmu dan hikmah dengan penuh hormat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan akhlak antara al-T{ursidi> dan al-Zarnūji> lebih banyak persamaannya dibandingkan perbedaannya.

Persamaan tersebut antara lain: Proses internalisasi akhlak yang dilakukan melalui penugasan (pembentukan kebajikan) agar peserta didik terbiasa mengamalkan akhlak mulia. Persamaan selanjutnya menurut kedua tokoh tersebut adalah guru merupakan faktor yang sangat dominan dalam pendidikan karena guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Sedangkan perbedaannya terletak pada penjelasan konsep moral siswa versus sains dan pada metode pendidikan moral yang mereka gunakan.

Saran

Referensi

Dokumen terkait