• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ABSTRAK"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif yang mempunyai ciri-ciri alam (alam sekitar) sebagai sumber data yang langsung bersifat deskriptif, proses lebih penting dari pada hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara induktif. , dan makna sangat menentukan 11 . Sumber data utama dalam penelitian ini adalah perkataan dan tindakan, selebihnya merupakan sumber tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data dalam penelitian ini adalah: kata-kata dan tindakan sebagai sumber data terpenting, sedangkan sumber data tertulis, foto dan statistik merupakan sumber data tambahan.

Sanafiah Faisal mengelompokkan observasi menjadi observasi partisipan, observasi terbuka dan observasi terselubung (open observasi dan observasi terselubung) dan observasi tidak terstruktur.Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi yang berperan sebagai partisipan. Hasil observasi dalam penelitian ini dicatat dalam Catatan Lapangan (CL), karena catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Terdapat tiga tahap penelitian dalam penelitian ini dan ditambahkan pada tahap akhir penelitian yaitu tahap penulisan laporan penelitian.

gambar  hidup,  sketsa  lain-lain. 16   Dokumen  merupakan  pelengkap  dari  pengunaan  metode  observasi  dan  wawancara  dalam  penelitian  kualitatif
gambar hidup, sketsa lain-lain. 16 Dokumen merupakan pelengkap dari pengunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif

Sistematika Pembahasan

Kajian Teori

Peran guru dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa juga dapat dipenuhi dengan cara sebagai berikut: 1) membantu siswa mempelajari bahasa emosi dan kalimat yang digunakan untuk mengungkapkannya; Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan kekuatan dan kecerdasan emosi sebagai sumber energi, informasi, hubungan dan pengaruh manusia. Mengacu pada definisi kecerdasan emosional di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional antara lain adalah suatu jenis kecerdasan yang fokusnya pada pemahaman, pengenalan, penginderaan, pengendalian, dan pengarahan motivasi diri sendiri dan orang lain untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan. tujuan yang diinginkan. dan menetapkan tujuan. .33.

Kecerdasan emosional berfungsi tidak hanya untuk mengendalikan diri sendiri, tetapi lebih dari itu juga mencerminkan kemampuan mengendalikan ide, konsep atau produk sehingga menjadi menarik bagi banyak orang. Dengan pemahaman tersendiri, kecerdasan emosional juga merupakan cara terbaik untuk membangun lobi, jaringan, dan kolaborasi; Kemampuan mengenali emosi diri sendiri merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali emosi diri sendiri ketika emosi itu muncul, sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional.

Sementara itu, Steven J. Stein dan Howard E. Book menjelaskan penemuan Reoven Bar-On yang merangkum dan membagi kecerdasan emosional menjadi lima bidang atau domain yang komprehensif, dan 15 subbagian atau skala dari lima bidang atau domain kecerdasan tersebut, yaitu: 1 ) domain intrapribadi;. Bidang kecerdasan emosional ini juga berkaitan dengan apa yang biasa disebut dengan “diri batin”. Dalam arti lain, domain kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan kita menilai dan merespons situasi sulit.

Penjelasan lebih lanjut terkait kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan menahan stres tanpa terjatuh, putus asa, kehilangan kendali, atau terjatuh. Ranah suasana hati secara umum, ranah kecerdasan emosional ini berkaitan dengan pandangan kita terhadap hidup, kemampuan kita untuk bahagia sendiri dan bersama orang lain, serta rasa kepuasan dan frustrasi secara umum yang kita rasakan. Berdasarkan kajian dan pembahasan teori di atas, dapat dipahami bahwa kecerdasan emosional mempunyai cakupan teori yang berbeda-beda.

Tampaknya kecerdasan emosional harus lebih dihargai dan dikembangkan pada diri siswa sedini mungkin mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi.

Telaah Hasil Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil analisis data dapat dikatakan bahwa perilaku sosial siswa MI Ma’arif Czechok Babadan Ponorogo berada pada kategori tinggi. Penelitian Yatimah (2014 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dengan judul “Kompetensi Pribadi Guru PAI dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Siswa Kelas 2 SD Negeri Cepedak Bruno Purworejo Tahun 2014” menyimpulkan bahwa 1. Selain berkompeten dalam menjalankan tugasnya, guru PAI juga melakukan kompetensi kepribadian meliputi melakukan tindakan sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan budaya nasional Indonesia.

Guru PAI terus berupaya meningkatkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, kebanggaan menjadi guru, rasa percaya diri dan menjunjung kode etik guru 2. Upaya yang dilakukan guru PAI SD Negeri 1 Cepedak Bruno Purworejo antara lain membudayakan sikap empati sebagai teladan selain menerapkan pembelajaran dengan 42Eva Nuril Imro'atin, Hubungan Kecerdasan Emosional (EQ) dengan Perilaku Sosial di MI Ma'arif Czechok Ponorogo Tahun Pelajaran, STAIN Ponorogo, 2014).

Kesamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah membahas tentang peningkatan kecerdasan emosional (EQ) dan shalat zuhur berjamaah agar siswa mampu memotivasi, mengendalikan emosi dan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain. Sedangkan penelitian ini membahas tentang peran pemangku kepentingan dalam meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) siswa melalui sholat magrib berjamaah di MI Ma'arif Ngrupit Jenangan Ponorogo pada tahun ajaran.

DESKRIPSI DATA

Deskripsi Data Umum

Suatu sekolah tentunya mempunyai gambaran tugas yang disederhanakan dalam suatu struktur organisasi sekolah. Dalam kegiatan proses belajar mengajar (KBM) diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, prasarana yang bersangkutan merupakan hal yang dapat memperlancar usaha dan mempercepat pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran di MI Ma'arif Ngrupit Ponorogo. Dengan sarana prasarana yang ada, siswa mampu menggali potensi-potensi yang ada pada diri siswa, serta dapat mengembangkan kecerdasan yang dimiliki siswa.

Prasarana yang tersedia di sekolah adalah sebagai berikut : 1 ruang direktorat dan guru dalam kondisi baik, 1 ruang LAB komputer dalam kondisi baik, 1 ruang mushola dalam kondisi baik, 3 ruang toilet guru dan siswa dalam kondisi baik, ruang UKS dan koperasi. 1 siswa dalam kondisi baik, 11 ruang kelas dalam kondisi baik terdiri dari 2 kelas I, 2 kelas II, 2 kelas III, 2 kelas IV, 2 kelas V, dan 1 kelas VI, perpustakaan nomor 1 dalam kondisi baik, ground, drum set 1 set, hadroh 1 set.45. Berdasarkan data dokumentasi yang diperoleh peneliti secara keseluruhan, jumlah siswa MI Kelompok Ma’arif berjumlah 245 siswa. Dan jumlah guru MI Kelompok Ma'arif berjumlah 15 orang, dengan tingkat pendidikan S1 (10 orang), SLTA (4 orang) dan SLTA (1 orang).

Deskripsi Data Khusus

  • Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional siswa
  • Peran Guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Memotivasi Diri pada Peserta Didik
  • Peran Guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Mengenali Emosi Diri dan Mengelola Emosi
  • Peran guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Membina Hubungan Sosial
  • Peran Guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain (Empati)

Banyak cara yang dilakukan guru untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa, yaitu dengan membimbing, memimpin, memberi kasih sayang, memberi pujian, menanamkan hal-hal positif pada diri siswa. Agar siswa tidak merasa ragu untuk terus melangkah maju yaitu mencapai apa yang diinginkan dan diperjuangkan. Ketika ada peserta yang tidak mampu belajar, beliau memberikan keyakinan kepada siswa bahwa mereka bisa jika terus belajar dan berusaha.

Beliau juga memberikan hadiah kepada siswa agar dapat memotivasi dirinya untuk mencapai apa yang diinginkannya.” Dengan memberikan contoh kepada siswa bagaimana berperilaku yang baik dan bagaimana mengendalikan amarahnya sendiri.” 53. Memberikan arahan kepada peserta didik agar mempunyai kemampuan mengembangkan hubungan sosial yang baik.

Siswa perlu diperlihatkan bahwa ketika mampu menjalin hubungan sosial yang baik antar teman, maka ia akan disukai banyak teman, mudah bergaul, dan mempunyai rasa empati yang besar bila temannya dalam kesulitan. Bagaimana para pelajar ini dapat menjadi manusia yang dapat dengan mudah menjalin hubungan sosial yang baik satu sama lain dapat sangat mempengaruhi masa depan pribadi mereka ketika mereka dewasa. Rasa empati pada diri siswa dapat tumbuh melalui keteladanan guru, yaitu dengan menjadi teladan bagi siswa dengan sikap dan perilaku kita, serta siswa yang menyaksikan perilaku kita.

Rasa empati dapat diciptakan dalam diri siswa dengan mengajarkannya untuk merasa peduli terhadap apa yang dirasakan orang lain, misalnya ketika temannya sedang duduk berpikir dan orang lain sedang gembira. Melatih siswa untuk selalu memberikan bantuan kepada temannya, namun sesuai dengan kemampuannya.” 64.

ANALISIS DATA

  • Peran Guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Mengenali Emosi Diri dan Mengelola Emosi
  • Peran Guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Memotivasi Diri
  • Peran Guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain (Empati)
  • Peran Guru dalam Menumbuhkan Kemampuan Membina Hubungan Sosial
  • Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Siswa

Dalam meningkatkan motivasi pada siswa, peranan guru adalah sebagai fasilitator, dimana guru mempunyai tugas untuk memotivasi siswa, membantu siswa, membimbing siswa dalam proses pembelajaran yang tepat, menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang siswa untuk belajar, menyediakan bahan ajar, mendorong siswa untuk belajar, dan memberikan bahan ajar. mencari bahan ajar, menggunakan reward dan punishment sebagai alat pendidikan dan menciptakan kedisiplinan.67. Untuk meningkatkan kemampuan memotivasi siswa di MI Ma'arif Ngrupit Ponorogo, guru memberikan contoh kepada siswa tentang hal-hal yang ada di lingkungan siswa, misalnya tentang bagaimana orang-orang sukses disekitarnya tidak mudah mencapai kesuksesannya. Merangsang siswa dengan memberikan hadiah kepada siswa agar termotivasi dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dan orang tuanya.

Memberikan rasa percaya diri kepada siswa untuk terus berusaha, tidak mudah menyerah, selalu memberikan yang terbaik bagi diri sendiri, orang tua dan orang lain. Peningkatan rasa empati pada diri siswa di MI Ma'arif Ngrupit Ponorogo dilakukan oleh guru dengan cara menumbuhkan rasa peduli dan menunjukkan seperti apa rasa empati tersebut dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan anak kepada seseorang yang mengalami musibah, memberikan pengarahan kepada siswa mengenai peristiwa atau situasi tersebut, apa yang terjadi pada orang lain bisa juga terjadi pada diri kita, dengan cerita. Dalam mengembangkan kemampuan membangun hubungan sosial antar siswa di MI Ma'arif Ngrupit, guru membentuk sikap solidaritas dan saling membantu.

Guru menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa agar anak menerapkannya untuk menciptakan hubungan sosial yang baik satu sama lain. Hubungan sosial yang baik membuat siswa mampu bersosialisasi, mampu berinteraksi dengan siswa lain dan menyikapi dengan bijak. Kecerdasan emosional bermanfaat bagi siswa, agar mampu menghargai diri sendiri dan orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang disekitarnya.

Mengembangkan kemampuan mengelola emosi, mengenali emosi, memotivasi diri sendiri, membina hubungan sosial dan mengenali emosi orang lain (empati) dapat berdampak pada peningkatan kecerdasan emosional siswa.72 . Dengan meningkatkan kecerdasan emosional siswa, guru menanamkan nilai-nilai karakter pada diri siswa, memberikan kesempatan siswa untuk mengenali dirinya dan segala kemampuan yang dimilikinya.

PENUTUP

KESIMPULAN

Peran guru dalam membina hubungan sosial adalah dengan meningkatkan rasa percaya diri anak dengan cara mengajak anak untuk sering bersuara, membiasakan siswa mudah bergaul dengan orang lain, dan mampu menciptakan suasana harmonis dengan teman.

SARAN

Referensi

Dokumen terkait