• Tidak ada hasil yang ditemukan

abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "abstrak"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

Hal ini berbeda dengan penelitian yang akan penulis selidiki, dimana penulis ingin mengetahui pandangan hakim Pengadilan Agama Trenggalek melalui Fatwa No.11 Tahun 2012 dan Pasal 209 KHI tentang wasiat wajib. Kedua, berjudul “Hak penghidupan bagi anak hasil hubungan di luar nikah (kajian Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012)”.

Metodologi Penelitian

Mengenai metode pengolahan data yang akan digunakan dalam penelitian ini, penulis akan melalui beberapa tahapan, antara lain: Dalam pelaksanaannya, peneliti melakukan pengecekan data yang berasal dari hasil wawancara dengan hakim Pengadilan Agama Trenggalek.

Sistematika Pembahasan

Triangulasi Teknik pengujian kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data terhadap sumber data yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda. Apabila ketiga teknik pengujian kredibilitas data menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti akan melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data terkait atau lainnya untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

Deskripsi Wasiat

Sedangkan menurut ulama Hana>bilah adalah perintah untuk menafsirkan (mengolah) sesuatu setelah orang yang mempunyai wasiat meninggal, seperti wasiat seseorang. Bedanya wasiat dengan hibah, dalam wasiat kepemilikan atas hibah itu ditunda sampai yang mempunyai wasiat meninggal dunia, sedangkan pada hibah langsung, hibah dapat diterima pada saat itu juga tanpa harus menunggu orang yang memberikannya. memberi hadiah, mati duluan. 34.

Hukum memberikan Wasiat

Wasiat dikira makruh apabila mewasiatkan lebih sepertiga daripada harta atau waris. Wasiat yang memenuhi syarat wasiat dan tidak mencapai tahap wasiat wajib, haram atau makruh, seperti wasiat kepada selain daripada waris yang munasabah atau wasiat kepada fakir dan miskin. 39.

Karakteristik Wasiat 1. Syarat dan Rukun Wasiat

Antara orang yang boleh menerima wasiat ialah: Pertama, tanpa waris, seperti yang dilaporkan oleh Abd. Empat orang yang menerima wasiat itu bukanlah yang membunuh secara langsung mayat (pembunuhan terlarang).52 4.

Terciptanya Wasiat Wajibah

Karena para ulama dalam menafsirkan ayat ini berpendapat bahwa wasiat (kepada orang tua dan sanak saudara) pada mulanya bersifat wajib, maka sekarang pun kewajiban tersebut masih sah dan masih dapat dilaksanakan. Sementara itu, sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa ketentuan mengenai wasiat wajib tidak dapat diterapkan dan dilaksanakan karena ketentuan hukum mengenai wasiat telah tertulis dalam ayat ini atau secara hukum dibatalkan oleh Al-Qur'an dan al-Hadits.73. Menurut sebagian ulama, ayat ini dibatalkan hanya dengan hadis Nabi la>was}iyyata liwa>ris}in karena menurutnya kadang-kadang kita bisa membatalkan Al-Qur'an secara sah dengan hadis mutawattir.

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa penghapusan ayat ini adalah dengan ayat maharis dan Nabi la>was}iyyata liwa>ris}in.74. Penghapusan ayat ini menunjukkan bahwa surat wasiat tidak diperbolehkan bagi ahli waris yang menerima warisan, dan surat wasiat diperbolehkan bagi orang yang bukan sanak saudara. Sayyid Sabiq menjelaskan dalam bukunya Fiqh as-Sunnah bahwa menurut mayoritas ulama ayat ini telah dihapus.

Orang Yang Berhak Menerima Wasiat Wajibah

Ibnu Hazm dalam penjelasan ayat 180 surat Al-Baqarah, wasiat yang sah harus dikecualikan bagi orang tua dan kerabat yang mendapat harta pusaka. Abu Daud, Ibn Hazm dan ulama salaf termasuk Ibn Jarir, Jabir bin Zaid, Qatadah, Thawus dan Masruq berpendapat bahawa wasiat wajib masih sah dan boleh diguna pakai dan dilaksanakan bagi mereka yang berhak menerimanya. Orang yang berhak menerima wasiat wajib ialah ibu bapa dan penjaga yang tidak termasuk/dikategorikan sebagai waris 80.

Mengenai yang dimaksud dengan aqrabi>n, menurut Ibnu Hazm, orang yang bertemu dengan almarhum dari garis bapaknyalah yang darinya dapat dipastikan apakah mereka bernasib sama. Begitu pula menurut garis ibu, yaitu orang yang menjumpai orang yang meninggal dalam garis ibu, siapakah di antara mereka yang dapat diketahui jika mereka ditugaskan kepadanya, karena menurut bahasa mereka semua disebut saudara dan tidak boleh dipisahkan darinya. mereka. menyebutkan nama kerabat tanpa dasar 81. Konsep wasiat wajib yang diberikan kepada cucu setelah kematian ayah atau ibu telah diperkenalkan di beberapa negara Islam seperti Mesir, Suriah dan Maroko, meskipun terdapat beberapa perbedaan di antara keduanya.

Wasiat Wajibah dalam Prespektif Kompilasi Hukum Islam Dan Fatwa Majelis U lama’ Indonesia No. 11 Tahun 2012 Tentang Kedudukan Anak

Anak yang lahir dari hasil zina tidak mempunyai hubungan keturunan, wali nikah, waris dan nafkah (nafkah) dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya. Anak yang lahir dari hasil zina hanya mempunyai hubungan nasab, waris dan nefaka dengan ibunya dan keluarga ibunya. 98 Fatwa MUI no. 11 Tahun 2012 tentang kedudukan anak akibat zina dan perlakuannya, Komisi Fatwa MUI yang diketuai oleh Prof.

Jika anak sah disamakan dalam hal harta warisan dengan anak hasil zina, maka hal ini akan menjadi permasalahan tersendiri. Komisi Fatwa MUI menyampaikan lima rekomendasi kepada DPR dan pemerintah mengenai perilaku zina yang menimbulkan masalah pada anak akibat perzinahan. Pemerintah berkewajiban melindungi anak akibat perzinahan dan mencegah penelantaran, terutama dengan memberikan hukuman kepada laki-laki yang menyebabkan kelahirannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Teori Keadilan

Keadilan komutatif adalah keadilan yang berkaitan dengan kesetaraan yang diterima oleh semua orang tanpa memandang kemampuan mereka. Keadilan ini menekankan pada peraturan atau keputusan adat yang harus dipatuhi oleh warga negara dan dikeluarkan oleh suatu otoritas. Hakikatnya, seorang warga negara dapat menjunjung haknya setelah mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam sistem tersebut.

Keadilan distributif adalah keadilan yang diterima seseorang berdasarkan jasa atau kemampuan yang telah disumbangkannya (suatu kinerja). Contoh Keadilan Alam: Perbuatan baik atau buruk tentu akan mendapat imbalan yang setimpal tergantung dari perbuatan itu sendiri. Keadilan Remedial adalah keadilan yang dimaksudkan untuk mengembalikan suatu keadaan status ke keadaan semula.

Gambaran Umum Pengadilan Agama Trenggalek 1. Sejarah Pengadilan Agama Trenggalek

  • Hakim Narasumber di Pengadilan Agama Trenggalek
  • Persepsi Hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Fatwa MUI No.11 tahun 2012 dan tentang Wasiat Wajibah
  • Persepsi Hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang Wasiat Wajibah
  • Persepsi Hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Relevansi Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 dengan Pasal 209 Kompilasi Hukum

Pandangan Hakim Pengadilan Agama Trenggalek Terhadap Fatwa MUI Nomor 11 Tahun 2012 dan Wasiat Wajibah Nomor 11 Tahun 2012 dan Wasiat Wajibah. Pandangan Hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang wasiat Wajibah. Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang wasiat Wajibah. 11 Tahun 2012 dengan Pasal 209 penjabaran hukum Islam tentang wasiat Wajibah dan implikasinya terhadap pelaksanaan hukum di Indonesia.

11 Tahun 2012 dengan Pasal 209 Kompendium Hukum Islam tentang pengikatan wasiat dan implikasinya terhadap penerapan hukum di Indonesia adalah sebagai berikut. 11 Tahun 2012 dengan Pasal 209 Kompendium Hukum Islam tentang pengikatan wasiat dan implikasinya bagi pelaksanaan hukum di Indonesia, katanya. 11 Tahun 2012 dengan Pasal 209 Intisari Hukum Islam tentang mengikat wasiat dan implikasinya terhadap penerapan hukum di Indonesia.

Analisa Persepsi Hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Fatwa MUI No.11 tahun 2012 tentang Wasiat Wajibah

Menyimpang dari hal tersebut, peneliti menganalisis hasil penelitian yang membahas tentang persepsi hakim pengadilan agama terhadap Fatwa MUI No.11 Tahun 2012 tentang wasiat Wajibah. Peneliti tidak hanya berkutat pada pengertian wasiat wajib dari segi istilah saja, namun disini peneliti juga melakukan wawancara lebih dalam dan fokus pada persepsi hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Fatwa MUI No.11 Tahun 2012 tentang wasiat wajib. Pada wawancara pertama yang peneliti lakukan dengan Mohamad Thoha selaku Hakim Pengadilan Agama Trenggalek membahas mengenai persepsinya terhadap Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 tentang wasiat wajib menyebutkan jika fatwa MUI No.

Sementara itu, informan lainnya, Shobirin, menjelaskan persepsinya terhadap fatwa MUI no. 11 Tahun 2012 tentang wasiat wajib yaitu pada fatwa no. 11 Tahun 2012 wasiat wajib yang diberikan kepada anak akibat zina. Daim Khoiri selaku hakim Pengadilan Agama Trenggalek pun memberikan pendapatnya atas fatwa MUI no. 11 Tahun 2012 tentang Wasiat Wajibah bahwa konteks wasiat Wajibah dalam fatwa MUI no. Hanya dalam kasus ini, hakim menilai wasiat itu wajib dalam fatwa MUI no.

Analisa Persepsi Hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam

Berdasarkan berbagai teori, peneliti merasa perlu untuk mengkaji persepsi hakim Pengadilan Agama Trenggalek terhadap Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam yang membahas tentang wasiat wajib. Sementara itu, Shobirin yang juga merupakan hakim Pengadilan Agama Trenggalek sekaligus informan kedua peneliti menjelaskan, dalam Pasal 209 KHI, diberikan wasiat wajib kepada anak angkat, berbeda dengan wasiat wajib. Dalam Fatwa MUI No.11 Tahun 2012, wasiat wajib diberikan kepada anak hasil zina. Namun wasiat wajib yang diberikan kepada anak akibat zina masih belum bisa dibandingkan dengan wasiat wajib yang diberikan kepada anak angkat.

Daim Khoiri memaparkan pendapatnya terhadap Pasal 209 Kumpulan Hukum Islam tentang wasiat wajib, yang mana dalam Pasal 209 Kumpulan Hukum Islam diperuntukkan bagi anak angkat. Jika para ulama menganalisa wasiat wajib dalam Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam, menurut ketiga hakim di atas, wasiat wajib sebenarnya khusus untuk anak angkat. Menurut para ulama, memberikan wasiat kepada anak angkat sebagaimana diatur dalam Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam merupakan bentuk keadilan terhadap anak angkat itu sendiri.

Pembahasan berikut ini mengenai tingkat dan besarnya harta yang diterima dalam wasiat wajib yang diberikan kepada anak akibat zina. 11 Tahun 2012 tidak menjelaskan secara rinci mengenai besarnya harta yang diterima dan besarnya wasiat wajib yang diberikan kepada anak akibat zina. Namun menurut pandangan Mohamad Thoha, besar dan kecilnya wasiat wajib yang diberikan kepada anak akibat zina tidak lebih dari 1/3 harta warisan.

Da’im Khoiri mengenai besaran dan luasnya wasiat yang diberikan kepada anak akibat zina, sesuai dengan kebijakan Ulil Amri atau pemerintah yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, bahwa besaran dan luasnya wasiat wajib tersebut. pengaruhnya tidak melebihi 1/3 dari jumlah warisan. Sehingga diberikan wasiat wajib kepada anak hasil zina, sesuai dengan aturan dalam Fatwa MUI No. Dasar hakim Pengadilan Agama Trenggalek dalam persepsinya terhadap wasiat wajib dalam Fatwa MUI No 11 Tahun 2012 dan Pasal 209 KHI dengan demikian sesuai dengan teori yang dikemukakan peneliti pada Bab II.

PENUTUP

Kesimpulan

Menurut hakim Pengadilan Agama Trenggalek, relevansi makna wasiat wajib dalam fatwa MUI no. 11 Tahun 2012 dan Pasal 209 Kumpulan Hukum Islam yang menyatakan bahwa anak angkat sama dengan keadaan anak hasil zina. . Ruang lingkup dan besarnya wasiat Wajibah yang diberikan kepada anak akibat zina tidak berbeda dengan wasiat Wajibah dalam Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Jadi persepsi yang diungkapkan hakim Pengadilan Agama Trenggalek di atas bermuara pada satu hal, yaitu adanya konsep keadilan dalam penerapan hukum di Indonesia.

Apabila anak angkat mendapat perlindungan hukum, maka anak hasil perzinahan yang mempunyai hubungan darah dengan ayah kandungnya juga harus mendapat perlindungan hukum serupa.

Saran

Afdol, Landasan Hukum Positif Penerapan Hukum Islam dan Permasalahan Penerapan Hukum Warisan Islam, Surabaya: Airlangga university press, 2003. 11 Tahun 2012 tentang kedudukan anak akibat zina dan perlakuannya, skripsi fakultas syariat. UIN Maulan Malik Ibrahim Malang, 2014. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 11 Tahun 2012 yang dikeluarkan pada tanggal 10 Maret 2012 M bertepatan dengan 18 Rabi'ul Akhir 1433H tentang status anak akibat zina dan perlakuannya.

Hartini dan Harahap Yulkarnain, “Pengaruh Kompilasi Hukum Islam dalam Penyelesaian Sengketa Warisan di Pengadilan Agama pada Hak Hidup Anak Akibat Hubungan Di Luar Nikah (Kajian Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012)”, Syari' ah skripsi dosen, UIN Sunan Kalijaga, 2013. Ahli Waris Pengganti dan Wasiat Wajibah, dalam: Kompilasi Hukum Islam, Editor Cik Hasan Bisri, Jakarta: Wacana Logos tentang Ilmu Pengetahuan, 1999.

Referensi

Dokumen terkait