• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ABSTRAK"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

Dalam skripsi ini penulis memberi judul “Hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca awal siswa kelas 1 SDN 2 Tonatan tahun pelajaran 2015/2016”. Oleh karena itu, batasan masalah dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca yang berkaitan dengan pola asuh orang tua. Berapa persentase tingkat pola asuh orang tua siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo tahun pelajaran 2015-2016.

Adakah hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca awal siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo tahun pelajaran 2015/2016. Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca awal siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo tahun ajaran 2015/2016. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkap seberapa besar hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca siswa kelas I SDN 2 Tonatan tahun pelajaran 2015/2016.

Landasan Teori 1. Pola Asuh Orang Tua

Cara kepemimpinan orang tua dalam keluarga yang paling banyak dilakukan adalah kepemimpinan demokratis, otoriter, dan permisif. Orang tua seringkali memaksa anak untuk bertindak seperti dirinya (orang tua), kebebasannya untuk bertindak atas nama dirinya dibatasi. Anak jarang sekali diajak berkomunikasi dan berbincang, bercerita, bertukar pikiran dengan orang tuanya, terutama orang tuanya.

Pola asuh demokratis merupakan pola pengasuhan yang ditandai dengan pengakuan orang tua terhadap kemampuan anaknya. Pola asuh ini merupakan pola asuh dimana orang tua dengan leluasa mendidik anak, memperlakukan anak sebagai orang dewasa atau remaja. Orang tua seolah-olah hanya berperan sebagai penonton, padahal mereka berada di tengah-tengah anak-anaknya dalam keluarga.25.

Telaah Penelitian Terdahulu

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Ahmad Fauzi Annuzul (2012) dengan judul “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Konsep Diri Positif Siswa MI Tsamrotul Huda II”. Hasil penelitian adalah terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap konsep diri positif siswa kelas V dan VI MI Tsamrotul Huda II Jatirogo Bonang Demak.42. 41 Niswatun Hasanah, Korelasi Pola Asuh Orang Tua Dengan Kepribadian Siswa MIN Doho Dolopo Madiun Tahun Ajaran, tidak diterbitkan, 2013).

42 Ahmad Fauzi Annuzul, Pengaruh pola asuh orang tua terhadap konsep diri positif siswa MI Tsamrotul Huda II, http://library.walisongo.ac.id, diakses pada 11 Februari 2016. Penelitian ketiga diteliti oleh Ahmad Fauzi , jenis penelitian ini adalah kuantitatif, fokus masalahnya adalah pola asuh orang tua terhadap konsep diri, tujuan penelitian adalah siswa kelas VI MI Tsamrotul Huda II Demak. Penelitian yang penulis teliti adalah jenis penelitian kuantitatif korelasional, fokus masalah yaitu hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca, objek penelitian siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo.

Kerangka Berpikir

Meskipun penelitian ketiga peneliti ini identik dengan penelitian ini dari segi pola asuh orang tua, namun terdapat perbedaan pada variabel lain yaitu membaca awal. Perbedaan ketiga penelitian tersebut adalah: penelitian pertama dilakukan oleh Niswatin Hasanah, jenis penelitian kuantitatif korelasional, fokus masalah hubungan pola asuh orang tua dengan kepribadian, objek penelitian siswa MIN Doho , Dolopo. Penelitian lain yang diteliti oleh Mulyadi, jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas, fokus permasalahannya adalah meningkatkan keterampilan membaca awal dengan menggunakan model kolaboratif, objek penelitiannya adalah siswa kelas 1 SD Negeri Boyolali.

Hipotesis Penelitian

Rancangan Penelitian

Variabel bebasnya berupa pola asuh orang tua, dan variabel terikatnya yaitu kemampuan membaca awal.

Populasi dan Sampel 1. Populasi penelitian

Instrumen Pengumpulan Data 1. Instrumen Pengumpulan Data

Validitas suatu instrumen penelitian tidak lain adalah sejauh mana suatu tes dapat mengukur apa yang ingin diukur. Validitas artinya instrumen dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. 50 Untuk menguji validitas instrumen, peneliti menggunakan Korelasi Product Moment yang dikemukakan oleh Karl Pearson yaitu: 51. “Jadi jika ada korelasi antara item dan total skor kurang dari 0,3 maka butir soal pada instrumen dinyatakan tidak valid.” 52.

Untuk mengetahui skor respon angket uji validitas variabel model pengasuhan dan tes awal kemampuan membaca lihat Lampiran 5 dan 6. Hasil perhitungan validitas butir pada instrumen penelitian variabel model pengasuhan dihitung, dan kemampuan membaca. . Sejumlah pertanyaan yang dianggap valid kemudian digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini.

Soal instrumen dalam penelitian ini meliputi 18 soal pada instrumen pola asuh orang tua dan 4 soal pada tes kemampuan membaca awal. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan berulang kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Untuk menguji reliabilitas instrumen, penelitian ini melakukan konsistensi internal dengan mencoba instrumen hanya satu kali, setelah itu data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik tertentu.

Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen.53 Teknik yang digunakan untuk menganalisis reliabilitas instrumen adalah teknik setengah Spearman Brown yang dianalisis sebagai berikut: 54. Karena soal tes yang diujikan dalam penelitian ini, ada 24 dan 4, maka dapat dikatakan instrumen tersebut reliabel jika diperoleh angka korelasi sebesar 0,50 dan 0,33. Dari hasil perhitungan reliabilitas diatas terlihat bahwa nilai reliabilitas instrumen variabel sampel induk “r” hitung >.

Untuk reliabilitas instrumen, variabel keterbacaan awal “r” dihitung > angka korelasi minimum yaitu 0,686 > 0,33, maka instrumen dikatakan reliabel.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun dalam pelaksanaan pembagian angket diberikan kepada seluruh siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo untuk diisi sesuai dengan keadaan sebenarnya. Tes biasanya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, khususnya hasil belajar kognitif dalam hal penguasaan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pedagogi. Akan sangat baik jika siswa dapat membaca kata dengan benar sesuai dengan intonasi, pengucapan dan tanda baca.

Dikatakan baik jika siswa mampu membaca kata atau kalimat sesuai pengucapan dan tanda baca. Dikatakan sangat baik apabila siswa dapat mengenal dan memahami fungsi tanda baca serta menerapkannya pada saat membaca. Dikatakan sangat baik apabila siswa dapat menemukan gagasan pokok bacaan sederhana dengan benar dan sesuai bacaannya.

Dikatakan sangat baik apabila siswa dapat mengartikan makna kalimat yang dibacanya sesuai dengan makna sebenarnya.

Teknik Analisis Data 1. Analisis Data Deskriptif

Teknik analisis data untuk menjawab hipotesis yang diajukan dan merumuskan masalah ketiga adalah dengan menggunakan statistik korelasi koefisien kontingensi yang diterapkan pada dua variabel yang berhubungan dalam bentuk kategori.

Tabel 3.2 Koefisien Kontingensi
Tabel 3.2 Koefisien Kontingensi

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

  • Sejarah Berdirinya SDN 2 Tonatan Ponorogo
  • Letak Geografis SDN 2 Tonatan Ponorogo
  • Tujuan SDN 2 Tonatan Ponorogo a. Tujuan Pendidikan Dasar
  • Struktur Organisasi SDN 2 Tonatan Ponorogo
  • Keadaan Kepala Sekolah dan Guru SDN 2 Tonatan Ponorogo
  • Keadaan Peserta Didik di SDN 2 Tonatan Ponorogo
  • Sarana dan Prasarana SDN 2 Tonatan Ponorogo

Selain maju dalam bidang kegiatan pembelajaran, SDN 2 Tonatan Ponorogo mempunyai kegiatan ekstrakurikuler yang cukup menonjol. Di sebelah utara berbatasan dengan pemukiman penduduk c. Di sisi timur dibatasi oleh pemukiman d. Sebelah selatan berbatasan dengan rumah warga 3. Visi dan Misi SDN 2 Tonatan Ponorogo. Struktur organisasi pada suatu lembaga atau organisasi sangatlah penting karena dengan melihat dan membaca struktur tersebut maka akan mudah untuk mengetahui jumlah orang yang menduduki jabatan tertentu pada lembaga tersebut.

Di SDN 2 Tonatan, Ponorogo, terdapat 14 orang guru dan kakitangan pendidikan terdiri daripada 10 orang guru tetap, 3 orang guru sambilan dan 1 orang nazir sekolah.

Deskripsi Data

Dalam penelitian ini objek yang digunakan adalah siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo yang berjumlah 32 siswa. Nilai keseluruhan variabel keterampilan membaca awal siswa di SDN 2 Tonatan Ponorogo dapat dilihat secara rinci pada Lampiran 17. Skor dan frekuensi keterampilan membaca awal siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Analisis Data

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tipe pola asuh orang tua yang dominan pada siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo adalah tipe pola asuh demokratis. Perhitungan untuk mencari mean dan deviasi standar kemampuan membaca awal siswa kelas 1 SDN 2 Tonatan Ponorogo. Tingkatan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan membaca awal siswa Kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo berada pada kategori tinggi dengan frekuensi 4 siswa dengan persentase 12,5%, pada kategori sedang dengan frekuensi 23 siswa dengan persentase 12,5%, berada pada kategori sedang dengan frekuensi 23 siswa dengan persentase 12,5%. 71,9%, dan pada kategori rendah dengan frekuensi 5 siswa dengan persentase 15,6%.

Dengan demikian secara umum dapat disimpulkan bahwa sebagian besar keterampilan membaca awal siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo adalah sedang dengan jumlah responden 23 orang. Analisis hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca awal siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo. Untuk menganalisis data korelasi gaya pendidikan orang tua dengan kemampuan membaca awal siswa, penulis menggunakan teknik perhitungan koefisien korelasi kontingensi.

Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo Tahun Pelajaran.

Tabel 4.8 Tabel Penghitungan X 2
Tabel 4.8 Tabel Penghitungan X 2

Pembahasan dan Interpretasi

Teori yang menyatakan adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca dini adalah teori yang dikemukakan dalam buku Farida Rahim yang berjudul Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Rubin62 menyatakan bahwa orang tua yang hangat, demokratis, dapat memimpin anaknya dalam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, suka menantang anak untuk berpikir dan suka mendorong anak untuk mandiri, merupakan orang tua yang mempunyai sikap yang dibutuhkan anak sebagai persiapan yang baik untuk belajar di sekolah. ... Selain itu, komposisi orang dewasa di lingkungan rumah juga mempengaruhi kemampuan membaca seorang anak.

Jadi berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN 2 Tonatan Ponorogo. Tingkat pola asuh orang tua berhubungan dengan tingkat kemampuan membaca awal siswa. Hubungannya bersifat searah, artinya jika pola asuh orang tua baik/tinggi maka kemampuan membaca awal siswa baik/tinggi dan sebaliknya.

PENUTUP

Saran

Orang tua harus menyadari bahwa keluarga merupakan tempat utama dan pertama dalam membesarkan anak, tempat anak belajar berinteraksi untuk menentukan perilakunya. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk menerapkan pola asuh yang baik sesuai usia dan kepribadian anak agar tercipta perilaku sosial yang baik. Kepada seluruh komponen di sekolah baik kepala sekolah, komite, guru, pegawai, wali siswa, agar meningkatkan kemampuan membaca siswa melalui kegiatan membaca rutin di perpustakaan seminggu sekali, dan juga dapat menggunakan strategi yang membuat siswa senang. membaca untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka.

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti pola pengasuhan orang tua dalam kaitannya dengan variabel lain. Pengaruh Model Pola Asuh Terhadap Konsep Diri Positif Siswa MI Tsamrotul Huda II, http//library.walisongo.ac.id, diakses 11 Februari 2016.

Referensi

Dokumen terkait