• Tidak ada hasil yang ditemukan

ADAPTABILITAS KARIER MAHASISWA PPG PRAJABATAN DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA

N/A
N/A
Zahra Radhia

Academic year: 2024

Membagikan "ADAPTABILITAS KARIER MAHASISWA PPG PRAJABATAN DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA "

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

ADAPTABILITAS KARIER MAHASISWA PPG PRAJABATAN DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Proposal Skripsi

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan

Oleh DINATIL AMNA 1906104030023

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU

PENDIDIKAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH

2023

(2)

i

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat, hidayah dan karunia- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW.

karena kasih dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian ini yang berjudul “ADAPTABILITAS KARIR MAHASISWA PPG PRAJABATAN DI

UNIVERSITAS SYIAH KUALA” proposal penelitian ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Bimbingan dan Konseling di Universitas Syiah Kuala. Dalam penyusunan proposal penelitian ini, penulis mengalami kesulitan dan penulis menyadari dalam penulisan proposal penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan proposal penelitian ini.

Maka, dalam kesempatan ini pula penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Nurbaity,S.Pd.,M.Ed. selaku ketua jurusan Bimbingan dan Konseling dan dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama proses penyelesaian proposal penelitian ini. Penulis sangat berharap semoga proposal penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.

Dengan selesainya skripsi ini, penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak yang mendukung.

Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

(3)

1. Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, hidayah, kasih, karunia, rizki, dan ridhonya kepada penulis.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Marwan selaku Rektor USK

3. Bapak Dr. Drs. Syamsulrizal, M. Kes selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, USK yang telah memberikan kemudahan administrasi dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Nurbaity S. Pd., M.ED selaku ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, USK.

5. Ibu Jamilah Aini Nasution, S. Pd selaku sekretaris Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, USK

6. Ibu Nurbaity, S.Pd.,M.ED selaku dosen wali sekaligus pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan berupa saran dan masukan serta kesabaran dan pikirannya dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Ibu Evi Rahmiyati, S. Pd selaku pembimbing II yang telah meluangkan banyak waktu, kesabaran, nasihat-nasihat dan pikirannya dalam membimbing penulis.

8. Ibu Khairiah dan Ibu Fitra Marsela selaku penguji yang telah banyak memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini

9. Seluruh dosen Bimbingan dan Konseling USK yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan

10. Staf Jurusan (Bang Syafrizal, S. T dan Kak Hamidah, S. Pd) Prodi Bimbingan dan Konseling USK yang telah memberikan bantuan informasi kepada penulis tentang data-data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.

(4)

11. Diri saya sendiri, yang telah mampu kooperatif dalam mengerjakan tugas akhir ini.

Terimakasih karena selalu berfikir positif ketika keadaan sampai tidak berpihak, dan selalu berusaha mempercayai diri sendiri, hingga akhirnya diri saya mampu membuktikan bahwa saya bisa.

12. Teristimewa ucapan terimakasih yang tiada terkira terkhusus kepada kedua orang (Alm Bapak Ridwan Ismail dan Ibunda Nazariah)

13. Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan bekal pengetahuan, bimbingan, dan motivasinya selama mengikuti perkuliahan sampai dengan selesai

14. Segenap keluarga besar kak emi, kak anik, kak pik, kak rahmi, bang daus, yaik, serta ponakan tersayang, yang memberikan doa serta dukungannya, serta membantu membiayai pendidikanku.

15. Kawan-kawan yang selalu membersamai, memberikan dukungan dan semangat.

16. Serta berbagai pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebut satu persatu.

Banda Aceh, April 2023 Penulis

Dinatil Amna

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

1.5 Anggapan Dasar ... 9

1.6 Definisi Operasional Variabel ... 9

BAB II ... 10

2.1 Adaptabilitas Karier ... 10

2.1.1Pengertian Adaptabilitas Karier ... 10

2.1.2Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adaptabilitas Karier ... 12

2.1.3Dimensi Adaptabilitas Karier ... 15

2.1.4karakteristik Adaptabilitas Karier ... 17

(6)

2.2Mahasiswa PPG ... 20

2.2.1Pengertian Mahasiswa PPG ... 20

2.2.2Tujuan Pendidikan Profesi Guru ... 22

2.2.3Proses Pembelajaran Pendidikan Profesi Guru ... 23

2.2.3Minat Pendidikan Profesi Guru ... 26

2.2.4Adaptabilitas Karier Mahasiswa PPG Prajabatan ... 27

2.2.5Penelitian Terdahulu ... 28

BAB III ... 30

METODE PENELITIAN ... 30

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 30

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 30

3.3Populasi dan Sampel ... 31

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.4 Teknik Analisis Data ... 34

DAFTAR PUSTAKA ... 37

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemampuan beradaptasi penting di dalam masa individu melakukan karirnya untuk dapat berinteraksi dengan sesama individu, karena setiap orang berhak memiliki kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan sosial mana pun. Kemampuan beradaptasi adalah kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya, sehingga ia merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya.

Pada masa perkembangan seorang individu yang berproses dari masa remaja menuju masa dewasa biasanya ditandai dengan eksplorasi diri. Dalam mengeksplorasi diri, umumnya individu cenderung menjelajahi pada jalur karir dalam dunia kerja yang ingin dicapai. Dengan adanya eksplorasi diri, seorang individu akan lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Seorang individu akan merasa khawatir pada diri sendiri secara berlebihan akan dunia luar yang disebut lingkungan baru baginya. Maka timbul anggapan bahwa lingkungan baru berisikan hal-hal asing yang tidak pernah ditemukan di lingkungan sebelumnya, sehingga diperlukan adaptasi atau penyesuaian pada lingkungan baru.

Kadiyono (2013, dalam Dharmariana & Fajrianthi, 2015) mengungkapkan bahwa hal penting yang menentukan lulusan perguruan tinggi terserap dunia kerja berasal dari masing-masing individu. Koen, Klehe dan Vianen (2012) menyatakan bahwa salah satu cara untuk sukses masuk ke dunia kerja dengan mempersiapkan diri. Lulusan perguruan

(8)

tinggi yang mempersiapkan diri mampu bersaing dan menyesuaikan diri di dunia kerja.

Individu yang memiliki kesiapan beradaptasi ke dunia kerja akan menemukan pekerjaan yang sesuai (Hirschi, Niles & Vianen, 2012) dan sukses masuk dalam pasar tenaga kerja (Koen, Klehe & Vianen, 2012). Hartung (2008) menyatakan bahwa kemampuan adaptasi meningkatkan daya saing individu mencapai kesuksesan kerja.

Fenomena yang sering terjadi dalam hal memilih karir di kalangan mahasiswa, baik yang berhubungan studi lanjut atau pekerjaan bahwa mahasiswa pada umumnya cenderungnya kurang mempertimbangkan beberapa hal dalam memilih suatu fokus pada studi atau pekerjaan. Seorang mahasiswa tentunya telah berada pada tahap perkembangan di mana ia mulai memikirkan tentang masa depannya termasuk menentukan ke arah mana dan bagaimana mereka mencapai karirnya. Savickas (dalam Zahra, 2018) mendefinisikan adaptabilitas karir sebagai kesiapan untuk mengatasi tugas yang terprediksi untuk mempersiapkan dan turut berperan dalam pekerjaan, pendidikan, serta mampu mengatasi situasi yang tidak terduga yang mungkin muncul sebagai perubahan dalam pekerjaan, kondisi kerja dan pendidikan.

Savickas (dalam Zahra, 2018) mendefinisikan adaptabilitas karir sebagai kesiapan untuk mengatasi tugas yang teprediksi untuk mempersiapkan dan turut berperan dalam pekerjaan dan kondisi kerja. Dalam hal ini dapat pula dianggap sebagai kesiapan untuk mengatasi perubahan dalam pekerjaan dan kondisi kerja. Pada dunia pendidikan sebagai pangkat dari karir dimana seseorang harus mempersiapkan diri dalam dunia kerja saja, tetapi juga terjadi di berbagai rentang kehidupan lainnya.

(9)

Kepercayaan diri seorang individu penting ditanamkan dengan tujuan agar ia yakin terhadap kemampuan yang dimiliki dalam dirinya, sehingga ia dapat mengekplorasi diri sesuai potensi yang dimilikinya. Seorang inidvidu mampu menciptakan lingkungan yang nyaman dalam menjalin kedekatan antara individu, sehingga rasa percaya diri tumbuh untuk berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.

Kesiapan individu untuk menghadapi rintangan dalam kondisi transisi karir adalah adaptabilitas karir (Hall, 2004; Savickas & Profeli, 2012 dalam Koen, dkk, 2013).

Konsep adaptabilitas karir didefinisikan Savickas, sebagai konstruk psikososial yang menunjukkan sumber daya individu untuk mengatasi tugas perkembangan karier, transisi kerja, dan trauma pribadi yang terkait dengan peran pekerjaan. Adaptabilitas karir juga merupakan kesiapan menghadapi segala tuntutan untuk menyiapkan dan berpartisipasi pada peran dalam pekerjaan dan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan yang tak terduga pada kondisi pekerjaan dan kondisi kerja (Savickas, 2013).

Adaptabilitas karir diajukan untuk menggantikan konsep kematangan karir sebagai konstruk utama dalam perkembangan karier orang dewasa (Savickas, 2007). Perubahan dari kematangan karier menjadi adaptabilitas karier menyederhanakan teori life-span.

Life space dari Donald Super dengan hanya menggunakan satu konstruk untuk menjelaskan secara sederhana namun menyeluruh mengenai perkembangan karier pada anak, remaja dan orang dewasa. Perubahan ini juga memperkuat integrasi antara life span, life space, dan bagian self-concept dengan menekankan pada setiap bagian adaptasi yang dilakukan individu terhadap konteks lingkungan dan proses motivasi di dalam diri.

(10)

Savickas (2012) mengatakan bahwa adaptabilitas karir sangat penting ditingkatkan guna mempercepat proses penyesuaian terhadap aturan, rekan, dan lingkungan kerja yang baru. Pentingnya adaptabilitas karir ini dikuatkan oleh beberapa penelitian terdahulu salah satunya penelitian yang dilakukan Saka, Gati & Kelly (2016:20) yang mengungkapkan bahwa adaptabilitas karier berperan penting jika adaptabilitas karier rendah maka individu tidak akan memiliki perencanaan karier yang jelas. Dalam penelitiannya Saka, Gati & Kelly (2016:20) mengatakan bahwa individu yang adaptabilitas karirnya rendah cenderung memiliki gangguan emosi dan kepribadian seperti pesimistis, gangguan kecemasan, konsep diri negatif, dan self esteem yang rendah. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Creed & Hunghes (2011:152) dengan mempersiapkan karier yang tepat akan meningkatkan keberhasilan individu dalam menghadapi masa transisi ke dunia kerja.

Hirschi (2009: 144) memaparkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi adaptabilitas karir yang sama dengan faktor yang mempengaruhi kematangan karir yaitu:

Usia seseorang yang dapat menentukan bagaimana pola pikirnya. Gender yang menentukan pola pembentukan identitas pengalaman kerja. Keluarga, berkaitan dengan ekspektasi terhadap anak dari orang tua Institusi pendidikan, terkait kegiatan yang dilaksanakan yang berkaitan dengan penjurusan didunia perkuliahan dan alternatif karir terkait jurusan tersebut; serta status sosial ekonomi, dimana individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi akan memiliki kesempatan yang lebih besar dalam rangka eksplorasi karir dan perencanaan karirnya.

(11)

Studi pendahuluan yang ditunjukkan pada beberapa mahasiswa PPG di Universitas Syiah Kuala yang mengalami kesulitan dalam memberikan materi kepada siswa karena masih kurangnya pengalaman dan transisi dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal ini menyebabkan timbulnya permasalahan mengenai mahasiswa PPG yang kesulitan dalam menyesuaikan dengan lingkungannya di Universitas Syiah Kuala.

Permasalahan tersebut terdiri dari timbulnya permasalahan yang tidak terduga, kesulitan dalam melakukan tugas di sekolah maupun memberikan materi kepada peserta didik.

Hal ini termasuk kedalam karakteristik pada beberapa aspek adaptabilitas karier yang mana jika seseorang individu yang mempunyai adaptabilitas karier yang rendah maka individu akan merasa kebingungan dalam lingkungan karirnya. Menurut pernyataan Savickas (2012:2) Jika individu memiliki pengendalian karier yang rendah, maka ia akan cenderung mudah merasa tertekan pada saat yang dilakukannya gagal atau bahkan di saat kondisi kariernya tidak memuaskan bahkan merasa pesimis dengan apa yang dilakukannya.

Individu yang tidak memiliki pengendalian karier yang baik diistilahkan sebagai seseorang yang memiliki kebingungan karier, penundaan dan impulsif. Maka dari itu individu yang masih mengalami masa transisi sangat penting memiliki adaptabilitas karier. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Guan et al (dalam Aprilia & Azhar, 2018:112) yaitu adaptabilitas karier penting untuk dimiliki para lulusan baru untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap kesulitan serta tantangan yang mungkin akan dihadapi.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Lenny (2017:18) yang menunjukkan bahwa masalah yang menyangkut sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi atau pekerjaan disebabkan karena seorang individu memiliki perbedaan jenjang karir,

(12)

keterampilan, emosi, motivasi, mental dan spiritual. Hal ini dikuatkan oleh penelitian Moesono (2012)

(13)

dalam meniti karir di suatu instansi, pada masa transisi dalam pekerjaan seorang tenaga pendidik dapat saja berpindah posisi ataupun jalur karir hingga berkali-kali. Adanya perpindahan posisi atau jalur karir ini tentunya menimbulkan terjadinya perubahan- perubahan yang menuntut tenaga pendidik untuk mempunyai kemampuan beradaptasi dengan karir. Selaras dengan pernyataan Duffy (dalam Setiaji & Solichah, 2019:654) mengatakan bahwa adaptabilitas karier ini dibutuhkan agar tenaga pendidik dapat cepat menyesuaikan diri dan tetap produktif ketika dihadapkan dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Adapun yang menjadikan hal positif dalam fenomena tersebut terhadap karir seseorang dalam penelitian Soresi (dalam Rosulin, 2012:3) adaptabilitas karir yang tinggi membuat seseorang lebih banyak memproyeksikan diri pada masa depan, merasakan lebih sedikit hambatan karir, lebih mampu mewujudkan tujuan karir ke dalam perilaku. Oleh karena itu adaptabilitas karir juga dapat memfasilitasi transisi ke dunia kerja. (Negru- Subtirica, dkk., 2015:41). Individu yang memiliki adaptabilitas karir yaitu mereka yang memiliki kepedulian terhadap masa depan sebagai pekerjaan, meningkatkan pengendalian terhadap masa depan masa depan karir, menunjukkan keingintahuan dalam melakukan eksplorasi diri dan lingkungan karir di masa depan, mampu memperkuat keyakinan diri untuk mewujudkan aspirasinya (Creed, Mueller, &

Patton, 2003:177)

Adaptabilitas karier memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan karier, salah satunya adalah promotabilitas. Hubungan positif di antara keduanya mengindikasikan bahwa mahasiswa ppg yang mampu beradaptasi memiliki kesan yanng

(14)

lebih baik mengenai karier yang dilakukan oleh Chan, Mai, Kuok, & Kong (2016) serta Tolentino, Garcia, Restubog, Bordia, & Tang (2013). Berdasarkan hasil penelitian ini

(15)

dapat dilihat bahwa para mahasiswa ppg yang mampu beradaptasi dengan baik memiliki peluang promosi yang lebih besar. Misalnya, mahasiswa ppg yang dapat dipromosikan dapat merefleksikan secara mendalam potensi mereka untuk promosi dan menggunakan sumber daya internal mereka untuk mengembangkan kebiasaan mengajar dan kompetensi yang baik serta dilihat sebagai peluang promosi dengan mempersiapkan pekerjaan dengan peluang pertumbuhan yang lebih tinggi.

Hasil pengamatan sementara menunjukkan bahwa adaptabilitas karir mahasiswa ppg prajabatan di Kota Banda Aceh, yanik masih adanya beberapa mahasiswa yang masih belum dapat mengelola kelas dan pembelajaran dengan baik, juga ada yang masih susah beradaptasi dengan siswa di sekolah tersebut. Oleh karena itu adaptabilitas karir mahasiswa ppg prajabatan tersebut hendaklah dilasanakan dengan penuh keikhlasan dan mengharuskan seorang mahasiswa ppg untuk mengembangkan pengalaman serta pengetahuannya di era globalisasi seperti sekarang ini, demi meningkatkan kualitas keilmuan yang akan diterima oleh peserta didik.

Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa individu mampu mengatasi tugas perkembangan karirnya, mereka perlu beradaptasi dengan perbedaan- perbedaan yang ada di dunianya, oleh karena itu individu harus mempunyai adaptabilitas karier yang tinggi agar bisa menyesuaikan diri dengan perubahan mampu mempersiapkan diri dalam keputusan pemilihan karier dan mendapatkan kesejahteraan karier.

Maka dari itu adapun fokus penelitian yang berkaitan dengan uraian di atas, penulis tertarik ingin melakukan penelitian mengenai “Adaptabilitas Karier Mahasiswa PPG Prajabatan Di Universitas Syiah Kuala”.

(16)

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana gambaran adaptabilitas karier mahasiswa PPG Prajabatan di Universitas Syiah Kuala?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran adaptabilitas karir mahasiswa PPG Prajabatan di Universitas Syiah Kuala.

1.4 Manfaat Penelitian

Dilihat dari manfaat yang ada, penelitian ini diharapkan mampu memberikan konstribusi pemikiran secara

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dalam aplikasi teori dan menggunakan teori yang telah ada guna memperluas wacana dalam bidang psikologi baik pendidikan, perkembangan, sosial, maupun psikologi sumber daya manusia dalam pembahasan tentang hubungan persepsi terhadap adaptabilitas karir mahasiswa ppg prajabatan di Universitas Syiah Kuala.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk para mahasiswa ppg dalam memperhatikan beberapa hal termasuk adaptabilitas karir seorang mahasiswa.

Jika penelitian ini terbukti maka diharapkan menjadi sumber informasi menganai adaptabilitas karir mahasiswa ppg prajabatan di Universitas Syiah Kuala.

(17)

1.5 Anggapan Dasar

Anggapan dasar yang menjadi landasan dalam penelitian ini yaitu adaptabilitas karir yang diterapkan oleh mahasiswa ppg ini menjadi salah satu landasan mahasiswa ppg dalam menghadapi dunia kerja di bidang pendidikan.

1.6 Definisi Operasional Variabel

Adaptabilitas karir adalah kesiapan individu dalam menghadapi segala tuntutan pekerjaan dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. Adaptabilitas karir juga kesiapan dan sumber daya individu untuk mengatasi dan mengantisipasi tugas-tugas saat ini, masa transisi, trauma dalam peran pekerjaan dengan derajat yang besar atau kecil serta mengubah integrasi sosial mereka. Ciri-ciri atau karakteristik individu yang mampu melakukan adaptabilitas karir yaitu individu memiliki kepedulian karir yang tergolong tinggi, individu memiliki pengendalian karir yang tergolong tinggi, dan individu memiliki keingintahuan karir yang tinggi.

(18)

BAB II

ADAPTABILITAS KARIER MAHASISWA PPG PRAJABATAN DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA

2.1 Adaptabilitas Karier

2.1.1 Pengertian Adaptabilitas Karier

Karier adalah perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan seseorang. Ini juga bisa berarti jenjang dalam sebuah pekerjaan tertentu. Menurut Desler, Karier adalah serangkaian posisi yang berhubungan dengan kerja, entah dibayar atau tidak, yang membantu seseorang bertumbuh dalam keterampilan keberhasilan dan pemenuhan kerja.

Sedangkan Adaptabilitas karier merupakan suatu konstruk psikososial yang mewakili kesiapan seseorang dalam mengatasi tugas-tugas dalam perubahan lingkungan dan kondisi kerja baik yang dapat diprediksi maupun tidak dapat diprediksi (Savickas, 2005).

Menurut Savickas & Porfeli (2012) adaptabilitas karir merupakan kemampuan seseorang dalam mempersiapkan diri untuk menyelesaikan berbagai macam tugas, dan terlibat dalam peran pekerjaan, serta mampu mengatasi permasalahan yang tidak dapat diduga atau diprediksi yang akan terjadi karena perubahan dalam kondisi kerja. (Creed, Fallon & Hood, 2009) menjelaskan bahwa adaptabilitas karir merupakan kecenderungan yang mempengaruhi cara seseorang dalam melihat kapasitasnya untuk merencanakan dan menyesuaikan diri dengan rencana perubahan-perubahan dalam karirnya, terutama dalam menghadapi hal-hal yang tidak terprediksi.

(19)

Adaptabilitas karier merupakan bagian dari teori konstruksi karier dari Savickas, yang menjelaskan bahwa proses seseorang melalui masa perkembangan karier, cara mengajar mereka, dan tujuan karier mereka. Adaptabilitas karier pertama kali dibentuk oleh Super dan Knasel sebagai pusat dalam perkembangan karier dan sejak itulah disarankan sebagai kunci kompetensi dalam keberhasilan karier pada umumnya.

Savickas (2005) menyatakan bahwa individu harus memiliki kemampuan yang memungkinkan agar cepat beradaptasi dengan berbagai situasi kerja dan mengatasi masalah serta hambatan yang akan sering terjadi dalam situasi kerja. Adaptabilitas karir dapat membantu individu dalam mengatur diri untuk memecahkan masalah, mengatasi hambatan, mengatasi masa transisi kerja dan kemungkinan trauma pada pekerjaan tertentu.

Individu yang mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan peserta didik dan lingkungannya akan merasa lebih nyaman dalam mengajar dan memperoleh kepuasan dalam menekuni karirnya. Sedangkan individu yang kurang mampu beradaptasi dengan peserta didik dan lingkungan yang ada disekitar akan sering merasa tidak nyaman dalam menjalani mengajar, kemudian memilih untuk berpindah-pindah bidang pekerjaan hingga akhirnya menemukan bidang pekerjaan yang sesuai.

Adaptabilitas karir dapat membantu individu dalam menekuni cara mengajarnya, memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, minat dan bakatnya. Adaptabilitas karir dapat memperluas kesempatan individu dalam mencari pekerjaan yang cocok, dan meningkatkan keberhasilan karir bahkan kesejahteraan (Skorikov dalam, Talitha,2016).

(20)

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adaptabilitas Karier

Hirschi (2009) memaparkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi adaptabilitas karier yang mirip dengan faktor yang mempengaruhi kematangan karier.

Selain itu penelitian-penelitian terkait adaptabilitas karier menunjukkan bahwa terdapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal:

1. Usia

Usia seseorang dapat menentukan bagaimana pola pikirnya yang terkait dengan tahap perkembangan individu. Misalnya individu pada usia remaja dan dewasa pasti akan memiliki adaptabilitas karier lebih tinggi daripada individu usia anak-anak. Hal ini terkait dengan tugas perkembangan dimana mereka dipersiapkan untuk menghadapi peran di masa dewasa. Adapun pada tahapan masa perkembangan dewasa awal, individu dituntut bisa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Selain itu, periode ini yaitu masa pembuatan komitmen-komitmen, menentukan pilihan-pilihan utamanya yang berkaitan dengan komitmen seperti pernikahan, mempunyai anak, dan pekerjaan.

2. Gender

Pada remaja perempuan dan laki-laki memiliki pola yang berbeda terkait komponen pembentukan identitas. Seperti penelitian dari Patton & Lokan (2001:37) yang menyatakan bahwa kematangan karier pada remaja perempuan lebih tinggi dari remaja laki-laki sesuainya. Dengan pola relasional, remaja perempuan akan dapat lebih mudah menggali tentang karier yang diminati, karena mereka cenderung berinteraksi dengan banyak orang.

(21)

3. Pendidikan

Faktor demografis berupa pendidikan menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dengan kemampuan adaptabilitas karier. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Bocciardi et al, 2017: 71) yang menunjukkan bahwa pendidikan tampaknya mewakili faktor sosio-demografis yang secara positif mempengaruhi kemampuan beradaptabilitas karier.

4. Adversity quotient

Kesulitan mengacu pada kejadian atau keadaan yang tidak menguntungkan atau keadaan yang serius dan berlanjut. Hal ini didukung dalam penelitian yang dilakukan Tian & Fan (2014:255) yang mengatakan bahwa Adversity quotient terkait secara positif dengan kemampuan adaptabilitas karier. Phoolka dan Kaur (dalam Tian &

Fan, 2014:255) menyimpulkan bahwa Adversity quotient dapat berguna untuk memprediksi kinerja, ketekunan, ketahanan, umur panjang dan respon terhadap perubahan.

5. Regulasi diri

Menurut penelitian Creed et. Al. (2009:220) menunjukkan bahwa regulasi diri berpengaruh terhadap adaptabilitas karier. Menurut Baumeister dan Vohs (2003).

Regulasi diri dapat meningkatkan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai macam situasi dan tuntutan sosial (Creed et, al. 2009: 221). Secara umum, regulasi diri akan meningkatkan fleksibilitas perilaku individu dan memudahkannya untuk beradaptasi. Hasil ini juga memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Merino dan Tejedor (2016:7) yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara regulasi diri dan kemampuan adaptabilitas karier.

(22)

Adapun faktor eksternal yang dapat mempengaruhi adaptabilitas karier yaitu:

1. Pengalaman kerja

Ketikaseorang individu memiliki pengalaman kerja yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, individu akan mendapatkan informasi terkait dengan karir yang dipilihnya. Semakin banyak pengalaman yang didapat, individu akan dapat mengeksplorasi karier tersebut dengan lebih mendalam lagi. Dengan semakin kayanya informasi yang dimiliki, seseorang akan dapat merencanakan kariernya dengan lebih matang lagi (Hirschi, 2009:149).

2. Dukungan sosial

Metheny dan Mc Whirter (2013) menyimpulkan bahwa dukungan keluarga dikaitkan dengan pengembangan karier, dan mempengaruhi serangkaian konstruksi karier (dalam Tian & Fan, 2014:256). Dukungan sosial yang dirasakan dari orang-orang terdekat memengaruhi individu yang dalam tahap perkembangan dewasa awal untuk mengeksplorasi karier menurut Creed, Fallon, dan Hood, 2009 (dalam Tian & Fan, 2014: 256). Dukungan dari keluarga dan teman berupa motivasi dan informasi terkait dengan karier membantu individu untuk memilih karier yang diinginkan.

3. Kelekatan emosional

Penelitian yang dilakukan oleh Collins et, al, (1990) ini ingin melihat sejauh mana kelekatan emosional (attachment) membentuk kepercayaan tentang diri dan dunia sosial yang kemudian membimbing hubungan individu di masa dewasa termasuk pada pekerja.

(23)

2.1.3 Dimensi Adaptabilitas Karier

Savickas (2012:663) menjelaskan empat dimensi adaptabilitas karier yang merupakan suatu tugas perkembangan karier yang spesifik, yaitu kepedulian (concern), pengendalian (control), keingintahuan (curiousity) dan keyakinan (confidence). Dimensi ini menggambarkan sumber dan strategi adaptabilitas karier yang dipakai individu untuk mengelola tugas-tugas penting, transisi dan pengalaman-pengalaman trauma yang dialami individu sering proses pembangunan karier individu.

Berikut uraian mengenai empat dimensi pada adaptabilitas karier menurut Savickas (dalam Brown, 2013:159) sebagai berikut:

1. Kepedulian (Career Concern)

Dimensi pertama adalah kepedulian, dalam artian individu memiliki kepedulian terhadap karier dan mempersiapkan masa depan kariernya. Kepedulian terhadap karier merupakan orientasi ke masa depan, merasa penting, dan terlibat dalam persiapan masa depan. kepedulian yang dimiliki individu mengenai kariernya tentu saja dapat dibangun dengan memiliki pandangan yang optimis dan memiliki perencanaan yang matang terhadap segala hal yang akan terjadi di masa depannya dengan melihat pengalaman yang pernah didapat di masa lalu dan keadaannya saat ini. Kesadaran individu terhadap kariernya akan mendorong timbulnya perhatian untuk menjadi sadar akan tugas kerja dan masa transisi yang aan dihadapi (Brown, 2013:159).

2. Pengendalian (Career Control)

Dimensi pengendalian yang artinya individu mempunyai keyakinan untuk memiliki masa depannya sendiri serta tanggungjawab yang besar terhadap kariernya.

(24)

Pengendalian dalam dimensi ini memungkinkan individu untuk lebih bertanggungjawab dalam

(25)

membentuk diri dan lingkungan sekitar untuk menghadapi perubahan yang terjadi di masa depan dengan menggunakan disiplin diri, usaha, dan ketekunan. Keyakinan individu memiliki pengendalian meliputi sikap asertif dan tegas dalam memutuskan untuk terikat dalam tugas perkembangan kerja dan mampu untuk tidak menghindar dan menunda- nunda. Sikap tersebut akan mendorong individu untuk terlibat dalam aktifitas dan pengalaman yang dapat meningkatkan ketegasan dalam mengambil keputusan.

Selain itu kurangnya pengendalian diri terhadap karier disebut dengan kebimbingan karier (indecision) (Savickas dalam Lent & Brown, 2013:159).

3. Rasa Ingin Tahu (Career Curiosity)

(Career Curiosity) mengacu pada kekuatan individu dalam mengeksplorasi berbagai situasi dan peran yang dibutuhkan karier mereka ke depan. Rasa ingin tahu yang terjadi

`akan mendorong individu melakukan eksplorasi yang terkait dengan penyesuaian diri dalam dunia kerja. Rasa ingin tahu mendorong individu untuk menggambarkan dirinya pada berbagai situasi dan peran. Hal ini dapat diketahui dari munculnya berbagai inisiatif untuk mempelajari berbagai jenis pekerjaan. Rasa ingin tahu akan membentuk sebuah pengetahuan yang berguna bagi individu untuk mengambil pilihan yang terkait dengan pekerjaan. Selain itu, individu juga akan menunjukkan sikap penyesuaian seperti melakukan percobaan, berani mengambil resiko, dan memberanikan diri untuk menanyakan hal-hal yang terkait dengan karier atau pekerjaan (Savickas dalam Lent &

Brown, 2013:160).

4. Keyakinan Diri (Career Confidence)

Dimensi keyainan diri yaitu sejauh mana individu menunjukkan keyainan untuk mampu menyelesaikan masalah dan menunjukkan upaya yang dibutuhkan untuk

(26)

mengatasi hambatan yang dihadapi. Individu yang memiliki kepercayaan diri akan cenderung tidak menghindari saat menghadapi permasalahan karier. Hal ini ditunjukkan dengan sikap pantang menyerah, selalu berjuang, dan tekun. Percaya diri dapat timbul melalui keberhasilan yang dicapai dalam melakukan aktifitas sehari-hari sehingga dapat meningkatkan penerimaan diri dan perasaan menghargai diri sendiri.

2.1.4 karakteristik Adaptabilitas Karier

Adaptabilitas karir sangatlah penting dikembangkan untuk mempercepat proses penyesuaian lingkungan diri dalam lingungan kerja yang baru, aturan kerja, dan rekan kerja (Savickas, 2009). Menurut Savickas M (The theory and practice of career construction. In S. D. Brown & R.W. Lent (2nd Ed). Career Development and Counseling: puttinv theory and research o work, 2013) jika seorang individu tersebut dapat menjadi apatis atau pasif, tidak mampu atau kesulitan dalam memutuskan, tidak realistis, serta menahan diri untuk pencapaian karir mereka. Adaptabilitas karir juga memiliki hubungan terhadap pembentukan identitas vokasi, dimana lulusan yang mampu beradaptasi memiliki berbagai keterampilan (skill) tambahan dan membuatnya lebih dinamis dalam pemilihan atau menentukan bidang pekerjaan (Savickas & Porfeli, 2011). Selanjutnya, Hirschi (2009) juga memaparkn bahwa pencapaian dalam adaptasi karir dapat dilihat sebagai suatu indikator penting bagi perkembangan masa remaja yang pada gilirannya dapat mendorong perkembangan komponen inti yang mampu mengembangkan remaja positif dan menghasilkan well being yang lebih tinggi. Seperti diketahui bahwa globalisasi dan kemajuan teknologi telah membuat banyak perubahan di seluruh dunia, terlebih di dunia kerja dan lingungan.

(27)

Karakteristik adaptabilitas karier yang tergolong tinggi direpresentasikan melalui perilaku individu sebagai berikut ini:

1. Individu Memiliki Kepedulian Karier yang Tergolong Tinggi

Individu ini optimis dan peduli atau memiliki orientasi terhadap masa depan mereka sendiri. Individu menyakini setiap orang memiliki masa depan mereka sendiri. Individu menyakini setiap orang memiliki masa depan yang berharga dan layak untuk persiapkan dan bahwa persiapan tersebut akan memperbaiki masa depan mereka. Individu yang memiliki kepedulian karier akan memiliki pandangan ke depan dan memiliki kepedulian karier akan memiliki pandangan ke depan (Maree dan Hancke, 2011: 480).

2. Individu Memiliki Pengendalian Karier yang Tergolong Tinggi

Pengendalian karier berarti bahwa orang tersebut percaya bahwa mereka bertanggung jawab untuk membangun karier mereka sendiri. Jika individu merasa yakin akan pengendalian karier yang dimilikinya, individu akan lebih yakin dalam membuat alternatif pilihan-pilihan karier dan tidak merasa terpuruk saat salah satu perencanaan yang dilakukannya gagal (Maree dan Hancke, 2011).

3. Individu memiliki Keingintahuan Karier yang Tinggi

Menurut Mare dan Hancke (2011), individu yang memiliki keingintahuan karier yang tinggi akan memiliki antusiasme saat ingin mengetahui pekerjaan tertentu yang dilakukannya. Individu mungkin akan melakukan analisa pekerjaan melalui job shadowing dengan senang hati dan penuh semangat.

(28)

4. Individu Memiliki Keyakinan Karier yang Terholong Tinggi

Maree dan Hancke (2011) mengatakan, individu yang memiliki keyainan karier akan menggunakan kemampuan pemecahan masalah yang dimilikinya untuk membuat keputusan karier yang lebih baik. Ia juga akan mampu menggunakan keterbatasan yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan beradaptasi dengan tantangan karier yang dihadapinya.

Karakteristik adaptabilitas karier yang tergolong rendah direpresentasikan melalui perilaku individu sebagai berikut:

1. Individu Memiliki Kepedulian Karier yang Rendah

Individu ini akan cenderung menghindari tanggung jawab untuk membuat perencanaan karier, menghindari pengambilan keputusan karier ataupun keputusan apapun yang berkaitan dengan kariernya. Pada kondisi kepedulian karier yang sangat rendah, individu akan menyerahkan tanggung jawab itu kepada pihak lain seperti orang tua, guru ataupun konselor karier. Individu yang memiliki kepedulian karier yang rendah disebut sebagai orang yang memiliki ketidapedulian karier (career indifference), yang merefleksikan perilaku tanpa perencanaan, pesimis dan sikap apatis terhadap karier (Savickas, dalam Lent & Brown, 2013).

2. Individu Memiliki Pengendalian Karier yang Rendah

Jika individu memiliki pengendalian karier yang rendah, maka ia akan cenderung mudah merasa tertekan saat perencanaan karier yang dilakukannya gagal atau bahkan di saat kondisi kariernya yang baik diistilahkan sebagai seseorang yang memiliki kebingungan karier (career indecision) yang menampilkan perilaku kebingungan, penundaan (prokrastinasi) dan impulsif (Savickas, dalam Lent & Brown, 2013).

(29)

3. Individu Memiliki Keingintahuan Terkait Karier yang rendah

Individu ini cenderung bersikap apatis dan tidak peduli dengan pekerjaan yang menarik untuknya. Bahkan mungin tidak memikirkannya sama sekali. Seseorang dengan keingintahuan karier yang rendah dikataan memiliki sikap tidak realistis (unrealism) terhadap dunia pekerjaan dan memiliki citra diri yang tidak tepat (Savickas, dalam Lent & Brown, 2013).

4. Individu Memiliki Keyakinan Karier yang rendah

Individu yang kurang memiliki keyainann karier akan menghasilkan hambatan karier (career inhibition) yang akan menghambat terwujudnya peran seseorang dan menyebabkan kegagalan dalam meraih tujuan (Savickas, dalam Lent & Brown, 2013).

2.2 Mahasiswa PPG

2.2.1 Pengertian Mahasiswa PPG

Menurut Melmambessy proses pendidikan adalah pengalihan pengetahuan secara sistematis dari seseorang kepada orang lain sesuai standar yang telah ditetapkan oleh para ahli. Dengan adanya transfer pengetahuan tersebut diharapkan dapat merubah sikap tingkat laku, kedewasaan berpikir dan kedewasaan pribadi ke dalam pendidikan formal dan pendidikan informal. Kemudian menurut Sugihartono, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan pelatihan.

(30)

Menurut Saud (2011:55) menyatakan bahwa Guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik. Dalam mengajar di perlukan keterampilan-keterampilan yang harus dibutuhkan untuk kelancaran proses belajar mengajar antara lain: (1) keterampilan dalam membuka maupun menutup pelajaran, (2) keterampilan dalam menjelaskan, (3) ketrampilan dalam bertanya, (4) keterampilan dalam memberikan penguatan, (5) keterampilan dalam menggunakan media pembelajaran, (6) keterampilan dalam membimbing diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan dalam mengelola kelas, (8) keterampilan dalam mengadakan variasi, dan (9) keterampilan dalam mengajar perorangan dan kelompok kecil.

Menurut Husein (2017:143) menyatakan bahwa seseorang guru/lulusan Lembaga Penddikan Tenaga Kependidikan (LPTK) wajib menempuh pendidikan profesi guru atau lebih dikenal dengan PPG ini dilakukan tidak hanya kepada lulusan kependidikan, tetapi juga lulusan non kependidikan pun bisa mengikuti program ini ketika berminat ingin menjadi guru. Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah sebuah program baru dari kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah berjalan dengan berbagai pertimbangan sejak tahun 2008, pada tahun 2016 pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan bahwa setiap guru wajib menempuh pendidikan profesi guru (PPG) gunu meningkatkan kompetensi pendidik. Sehingga lulusan sarjana pendidikan akan bersaing dengan sarjana ilmu murni. Ketetapan ini tertuang dalam peraturan Mentri Pendidikan dan Kebduayaan Nomor 87 Tahun 2013 tentang Program Pendidikan Profesi Guru.

(31)

Guru adalah tenaga pendidik profesional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Kemudian presepsi awam yang terjadi di masyarakat yang selama ini terbangun, didekonstruksi secara yuridis dengan lahirnya PP. No 74 Tahun 2008 tentang Guru dan Permendiknas No. 8 Tahun 2009 tentang PPG. Konstruksi pandangan yang terjadi di masyaraat berubah tentang guru secara sosio-kultural ketika pemerintah memberikan berbagai tunjangan kepada guru (bahkan guru PNS) dan harapan sejenis lainnya.

Menurut Kisrianto (2018:82) menyatakan bahwa Kekurangan dan kelebihan yang ada dalam PPG banya beragam. Tetapi dilihat dari kelebihannya sangat banyak sekali, mulai dari kegiatan PPG memberikan ilmu yang dalam lingkup kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik yang bisa diaktualisasikan dalam pelaksanaan tanggung jawab dan tugas sebagai guru. Adapun prosesnya lebih mendalam dan terperinci dalam bentuk guru yang profesional dan berkualitas, oleh karena itu sarjana pendidikan harusnya banya berminat untuk mengikuti PPG. Namun disisi lain informasi yang ada dalam kegiatan PPG ini bersifat kurang akurat didapatkan untuk mahasiswa yang masih kuliah sebagai mahasiswa program S-1, tidak begitu rinci dan hanya sekilas dari diskusi dengan dosen ataupun sesama mahasiswa yang peduli akan adanya profesi keguruan.

2.2.2 Tujuan Pendidikan Profesi Guru

Tujuan PPG di dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 adalah menghasilkan calon guru yang memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertawa

(32)

kepada Tuhan Yang Maha Easa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,

(33)

dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selain itu, tujuan program PPG yang ada di dalam Permendiknas No. 87 Tahun 2013 Pasal 2 untuk menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam merencanaan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran serta menindaklanjuti hasil penelitian, melakukan pembimbingan, dan pelatihan peserta didik serta melakukan penelitian, dan mampu mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan program PPG adalah untuk menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi serta kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional serta mampu mengembangkan profesional secara berkelanjutan.

2.2.3 Proses Pembelajaran Pendidikan Profesi Guru

Dalam Panduan Penyelenggaran Program PPG oleh Kementrian Agama RI tahun 2013, dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran dalam PPG meliputi pendalaman materi (martikulasi), workshop SSP yang meliputi pengembangan perangkat pembelajaran dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), praktikum (peer teachking atau micro teaching) dan praktik pengalaman lapangan oleh dosen yang ditugaskan khusus. Sistem pembelajaran PPG adalah sebagai berikut:

1) Pendalaman materi

Pendalaman materi atau martikulasi dilakukan dengan perkuliahan tatap muka, tugas terstruktur, dan tugas mandiri

2) Workshop SSP (subject spesific pedagogy)

Woskshop SSP adalah pembelajaran yang berbentuk lokalkarya yang bertujuan menyiapkan mahasiswa agar mampu mengemas materi bidang studi untuk

(34)

pembelajaran bidang studi yang mendidik. Tahapan workshop SSP adalah sebagai berikut :

a. Pleno 1

Pleno 1 bertujuan untuk memberi bekal mahasiswa mengenai tujuan, hakikat, sistem pembelajaran serta ruang lingkup dalam PPG, PPL dan sistem evaluasi. Pleno 1 digunakan untuk memulai Workshop SSP yang dibuka dan diarahkan oleh pimpinan fakultas dan difasilitasi oleh dosen pembimbing, dosen pengampu mata kuliah bidang studi, dan guru pamong.

Dosen pembimbing, dosen pengampu bidang studi, dan guru pamong memimpin diskusi untuk menelaah kurikulum, sistem pembelajaran dan evaluasi sesuai dengan jenjang serta jenis pendidikan peserta didik, sampai peserta workshop dapat menemukan materi pembelajaran yang akan diajarkan.

b. Diskusi Kelompok

Diskusi kelompok dilakukan untuk membahas hasil pleno 1, yaitu sinkronisasi SK (standar kompetensi) dan KD (kompetensi dasar), memilih pendekatan, strategi dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Diskusi kelompok dibimbing oleh dosen pembimbing, dosen pengampu bidang studi, serta guru pamong. Jika dalam diskusi kelompok terdapat mahasiswa yang kurang atau mengalami kekeliruan pada konseptual materi, maka dosen pengampu bidang studi mahasiswa tersebut segera melakukan pendalaman atau pelurusan konseptual. Hasil diskusi kelompok adalah kesiapan mahasiswa dengan materi pembelajaran, pendekatan, metode pembelajaran serta media dan rancangan bahan ajar materi

(35)

pembelajaran yang akan digunakan untuk pengembangan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran),

(36)

bahan ajar, dan media pembelajaran, serta alat evaluasi.

c. Kerja Kelompok/Mandiri

Dalam kerja kelompok/mandiri, mahasiswa diberikan tugas untuk menyusun RPP, bahan ajar, media pembelajaran, instrument evaluasi, serta pendukung pembelajaran lainnya.

d. Pleno 2

Hasil dari kerja kelompok atau mandiri kemudian dibawa ke dalam pleno 2. Adapun tujuan pleno 2 adalah memaparkan hasil kerja kelompok atau mandiri dan mendapatkan feed back dari dosen pembimbing, dosen pengampu bidang studi, serta guru pamong dan teman.

e. Revisi

Jika dalam pleno 2 RPP dan kelengkapannya harus direvisi, maka diberikan kesempatan pada mahasiswa untuk merevisi.

f. Persetujuan RPP

Jika RPP serta kelengkapannya sudah benar dan layak digunakan untuk melaksanakan PPL, maka dosen pembimbing maupun guru pamong berhak menyetujui RPP.

g. Peer teaching atau microteaching

Peer teaching atau microteaching dilakukan atau dilaksanakan setelah RPP disetujui oleh dosen pembimbing dan guru pamong dengan tujuan untuk mempraktekkan perangkat pembelajaran maupun untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk latihan mengajar.

(37)

h. Refleksi dan Revisi

Setelah melakukan Peer teaching atau microteaching maka akan ada perbaikan, saran, atau masukan dari dosen pembimbing, guru pamong, dan teman untuk perangkat pembelajaran atau RPP.

Pembelajaran dalam PPG tidak lagi menggunakan nonmenklatur mata kuliah.

Pembelajaran pada program PPG mencakup lokakarya/workshop pengembangan perangkat pembelajaran yaitu silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, media pembelajaran dan perangkat penilaian, dan praktik pengalaman lapangan. Kegiatan ini dibimbing secara intensif oleh dosen dan guru pamong yang ditugaskan khusus untuk kegiatan tersebut. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran tersebut diimplementasikan dalam kegiatan peer teaching dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) (Panduan PPG Direktorat Pembelajaran tahun 2017).

Berdasarkam beberapa penjelasan tersebut, maka dapa disimpulkan bahwa proses pembelajaran PPG mencakup kegiatan workshop, praktikum (peer teaching dan micro teaching), dan praktik pengalaman lapangan dimana sudah tidak

menggunakan nonmenklatur matakuliah.

2.2.3 Minat Pendidikan Profesi Guru

Minat merupakan kecenderungan dalam memperhatikan suatu maupun beberapa kegiatan. Seseorang yang mempunyai minat terhadap suatu kegiatan maka seseorang tersebut akan memperhatikan secara terus menerus dengan perasaan senang. Pada dasarnya, minat merupakan perasaan senang dan tertarik terhadap suatu (Slameto, 2013).

(38)

Menurut Moh. As’adi (2004) minat adalah sikap maupun perasaan senang seseorang terhadap suatu hal atau objek tertentu, sehingga orang tersebut akan cenderung mencari objek yang ia senangi itu. Sejalan dengan Moh. As’adi, menurut Muhibbin Syah (2012) minat adalah keinginan atau kecenderungan yang tinggi terhadap sesuatu. Berdasarkan beberapa pendapat pendapat tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa minat terhadap PPG dilatar belakang dengan perasaan suka, keinginan, maupun ketertarikan dalam mengikuti PPG.

2.2.4 Adaptabilitas Karier Mahasiswa PPG Prajabatan

Career adaptability memiliki dampak positif terhadap persipan dan perkembangan karier yang akan dilakukan oleh seseorang (Hirschi, 2009:147), dan dengan kemampuan career adaptability, seseorang akan dapat merespon tuntutan karier pada saat ini yang banyak terjadi seperti adanya lingkungan kerja yang tidak stabil atau turbulent, hal yang tidak pasti (uncertain), dan peristiwa yang selalu berubah di lingkungan pekerjaan (Coetzee & Harry, 2015: 81). Sehingga, kemampuan individu untuk beradaptasi secara baik sangat diperlukan untuk menghadapi tuntutan karier yang berdinamika, tidak pasti dan berubah-ubah.

Career adaptability penting untuk dimiliki oleh mahasiswa, karena, career adaptability akan membantu mahasiswa untuk merencanakan pilihan karier dan meningkatkan kemungkinan mahasiswa untuk menemukan pekerjaan yang cocok (Zikic

& Klehe, 2006: 393). Selain itu, career adaptabily akan membantu individu dalam mempersiapkan diri dan berperan dalam pekerjaan serta mampu mengatasi penyesuaian yang muncul dalam perubahan yang terjadi (Savickas, 1997:253). Sehingga dengan

(39)

mengembangkan career adaptability akan dapat membantu lulusan baru mendapatkan pekerjaan yang sesuai bahkan dalam era ekonomi yang tidak menentu (Koen, dkk, 2012:406).

Seiring ditemukannya hambatan dan tantangan untuk mencapai perkembangan karier, seperti penyediaan lapangan kerja yang terbatas, persaingan kerja yang semakin ketat, tuntutan karier yang berdinamika, tidak pasti dan berubah-ubah. Maka sudah seharusnya para mahasiswa untuk bersikap lebih fleksibel dalam menghadapi segala bentuk perubahan yang terjadi pada masa transisi dari kuliah ke dunia kerja. Oleh karena itu, career adaptability adalah konstruk yang relevan untuk memahami bagaimana kesiapan mahasiswa tingkat akhir Universitas Syiah Kuala dalam mengahadapi masa transisi kerja dari kuliah ke dunia kerja.

2.2.5 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa individu yang mampu beradaptasi dalam karier lebih mampu menemukan kesempatan kerja yang lebih baik, sukses dalam menghadapi masa transisi, serta mendapatkan pekerjaan yang berkualitas (Klehe, Zikie, Van Vianen, Koen & Buyken, 2012; Klehe & Van Vianen, 2012 dalam Tolentino, dkk, 2014: 40). Individu yang memiliki career adaptability tinggi lebih sukses dalam menghadapi masa transisi, berisiko lebih kecil menjadi pengangguran dalam jangka waktu yang lama dan membuat pilihan karier yang lebih baik (Creed, dkk, 2013; Gemerjis & Verschueren, 2007; Patton, dkk., 2002; Fouad, 2007; Hirchi, dkk., 2011 dalam Koen,

dkk., 2012: 396).

(40)

Penelitian ini mendukung penelitian-penelitian terdahulu yang juga menemukan bahwa kecerdasan emosi berkaitan dengan adaptabilitas karier. Diantaranya adalah penelitian Dharmariana dan Fajrianthi (2015) yang menemukan bahwa pada mahasiswa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara ke cerdasan emosi dan adaptabilitas karier. Temuan serupa juga diperoleh pada penelitian Coetzee dan Harry (2014) tersebut sesuai dengan teori kecerdasan emosi dan adaptabilitas karier. Perencanaan dan orientasi masa depan sangat penting di dalam adaptabilitas karier karena hal tersebut mendorong individu untuk menghadapi tugas-tugas dan keputusan-keputusan yang harus dihadapi untuk mencapai tujuan karier (Savickas, 2013). Penelitian mengenai adaptabilitas karier telah dilakukan oleh beberapan penelitian. Beberapa diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Dina Nurhindazah, Erin Ratna Kustanti (2016) yang berjudul hubungan antara dukungan orangtua dengan adversity intelligence pada mahasiswa kuliah akhir, mengemukakan hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan sosial orangtua dengan adversity intelligence pada mahasiswa akhir.

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian adalah salah satu kegiatan ilmiah yang dilakukan dengan cara yang sistematis dan mengikuti aturan-aturan metodologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2015) mengungkapkan metode penelitian kuantitatif adanya populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Noor (2011) menegaskan penelitian deskriptif berusaha mendeskripsikan suatu gejala peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian pada masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran konformitas remaja terhadap perilaku merokok.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat

Lokasi Penelitian dilaksanakan di Universitas Syiah Kuala terhadap mahasiswa PPG Prajabatan di Kota Banda Aceh.

b. Waktu

Kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan mei, dihitung setelah seminar proposal

(42)

3.3 Populasi dan Sampel A. Populasi

Menurut Darmadi (2011) populasi ialah suatu kelompok dimana seorang peneliti akan memperoleh hasil penelitian yang dapat digeneralisasikan. Suatu populasi memiliki satu perbedaan sekurangnya yang dapat membedakan populasi tersebut dengan kelompok lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Mahaiswa PPG Prajabatan Gelombong 2 di Universitas Syiah Kuala Kota Banda Aceh.

Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa PPG Prajabatn di Universitas Syiah Kuala sebanyak 202 mahasiswa.

B. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012:118). Menurut Yusuf (2010) sampel adalah sebagian objek, manusia atau kejadian yang mewakili populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik Probability Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberi peluang yang sama bagi setiap anggota populasi. Teknik sampel ini menggunakan jenis Proportionate Stratified Random Sampling yaitu teknik pengambilan dilakukan sampel bila populasi mempunyai unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.

Mahasiswa yang akan dijadikan sasaran sampel penelitian ini menggunakan taraf kesalahan 5%. Untuk menentukan berapa minimal sampel yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus Slovin seperti berikut:

� = N

1 + N. �2

(43)

Keterangan:

n = jumlah sampel N = jumlah populasi

e = presisi (batas kesalahan sebesar 5% atau (0,05)

Dalam menentukan jumlah sampel yang akan dipilih, penulis menggunakan tingkat kesalahan sebesaar 5%, karena dalam setiap penelitan tidak mungkin hasilnya sempurna 100%, makin besar tingkat kesalahan maka makin sedikit ukuran sampel.

Jumlah populasi yang digunakan adalah 202 orang, maka:

� = N

1 + N. �2

� = 202

1 + 202. (0,05)2

� = 202

1 + 202 (0,0025)

� = 202

1 + 1,505 = 134

Jadi sampel dalam penelitiann ini adalah sebanyak 134 mahasiswa PPG Prajabatan di Universitas Syiah Kuala.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Menurut sugiyono (2017) angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara memberikan beberapa pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.

(44)

Teknik ini dilakukan dengan mengajukan sejumlah pertanyaan atau pernyataan secara tertulis. Pertanyaan dan pernyataan yang tersajikan dalam angket harus menjurus kepada rumusan masalah atau kepada indikator yang telah dicantumkan dalam konsep operasional. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala konformitas terhadap perilaku merokok bedasarkan aspek konformitas yang dikemukakan oleh Myers (2014) yang terdiri dari : pengaruh normatif dan pengaruh informasional.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan skala likert. Yang dimaksud dengan skala likert yaitu skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, persepsi, pendapat seseorang tentang suatu keadaan. Dalam skala likert yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan angket dan lima opsi jawaban. Penilaian angket ini akan menilai seberapa besar gambaran konformitas siswa terhadap perilaku merokok.

Skala likert yang digunakan dalam angket yaitu:

Sangat Setuju (ST) 5

Setuju (S) 4

Kurang Setuju (KS) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat Tidak Setuju (STS) 1

(45)

3.4 Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono ( 2008 : 207) analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Azwar (2000) menyatakan bahwa uraian kesimpulan dalam penelitian deskriptif didasari oleh angka yang diolah secara tidak terlalu mendalam. Analisa data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan yang akan disajikan adalah ukuran tengah meliputi nilai mean dan ukuran variasi meliputi standar deviasi, minimum dan maksimum. Seseorang dikatakan memiliki gambaran konformitas tinggi atau rendah berdasarkan masing-masing aspek dari konformitas.

Pembagian kategori sampel yang digunakan peneliti adalah kategorisasi berdasarkan model distribusi normal dengan kategorisasi jenjang (ordinal). Menurut Azwar (2015) kategorisasi jenjang (ordinal) merupakan kategorisasi yang menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur. Lebih lanjut Azwar (2015) menjelaskan bahwa cara pengkategorian ini akan diperoleh dengan membuat kategori skor subjek berdasarkan besarnya satuan deviasi standar populasi.

(46)

Karena kategorisasi ini bersifat relatif, maka luasnya interval yang mencakup setiap kategori yang diinginkan dapat ditetapkan secara subjektif selama penetapan itu berada dalambatas kewajaran. Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian tersebut dapat dijadikan batasan dalam pengkategorian sampel penelitian yang terdiri dari lima kategori yaitu: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Data diolah dengan menggunakan SPSS. Perhitungan kategorisasi dengan lima jenjang diperoleh dengan rumus berikut (Azwar, 2012)

Kategorisasi Lima Jenjang

Rumus Kategori

X ≤ (µ - 1,5 σ) Sangat Rendah

(µ - 1,5 σ) < X ≤ (µ - 0,5 σ) Rendah (µ - 0,5 σ) < X ≤ (µ + 0,5 σ ) Sedang (µ - 0,5 σ) < X ≤ (µ + 1σ ) Tinggi

X > (µ + 1,5 σ ) Sangat Tinggi

Keterangan:

X : Skor mentah sampel

µ : Rata-rata distirbusi dalam populasi σ : Deviasi standar distribusi populasi

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan yaitu mendeskripsikan gambaran konformitas remaja terhadap perilaku merokok yang disajikan melalui persentase.

Menurut Ridwan (2004: 71-95) untuk menghitung persentase menggunakan rumus

(47)

Keterangan:

P= Angka Persentase

�

P = � X 100%

f= Jumlah frekuensi dari setiap jawaban yang telah menjadi pilihan responden N= Jumlah frekuensi atau banyaknya individu

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. (2014). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, S. (2016). Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Arikunto, S. 2002. Metodelogi Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT.

Rineka Cipta

Brown, S. D., & Lent, F. T. L (2013). Career development and counseling: puttong theory and research to work. In John Wiley & Sons (Vol. 53, Issue 9).

Bocciardi, F., Caputo, A., Fregonese, C., Langher, V., & Sartori, R. (2017). Career adaptability as a strategic competence for career development. European Journal of Training and Development.

Chan, S., Mai, X., Kuok, O., & Kong, S. (2016). The influence of satisfaction and promotability on the relation between career adaptability and turnover intentions.

Journal of Vocational Behavior, 92, 167-175.

Creed, P. A., Fallon, T., & Hood, M. (2009). The relationship between career

adaptability, person and situation variables, and career concerns in young adults.

Journal Vocational Behavior, 74(2), 219-229.

Hirschi, A. (2009). Career Adaptability Development in Adolescence: Multiple Predictors and Effect on Sense of Power and Life Saticfaction. Journal of Vocational Behavior, 74 (2009), 145-155.

Hirschi, A & Vondracek, F.W. (2009). Adaptation of Career Goals to Self Opportunities in Early Adolescence. Journal of Vocational Behavior, 75 (2009), 120-128.

(49)

Komasari, D., & Helmi, A. F. (2000). Faktor-faktor penyebab perilaku merokok pada remaja. Jurnal Psikologi, (1), 37-47.

Maree, J. G & Hancke, Y (2011) The Value of Life Design Counselling for an Adolescent who Stutters. Journal of Psychology in Africa, 21:3, 479- 485.

Merino & Tejedor (2016). Career adaptability and its relation to self-regulation, career construction, and academic engagement among Spanish university students. Journal of

Vocational Behavior. 93: 92-102

Negru-Subtirica, O., Pop, E. I., & Crocetti, E. (2015). Developmental trajectories and reciprocal associations between career adaptability and vocational identity: A three-wave longitudinal study with adolescents. Journal of Vocational Behavior, 88, 131-142.

Neuman, W. L. (2003). Social research: Qualitative and quantitative approach. Boston, United State of America: Pearson Education, Inc.

Patton, W., & McMahon, M. (2014). Career development and systems theory.

Rotterdam: Sense Publisher.

Patton, W., & Lokan, J. (2001). Perspectives on Donald Super’s construct of career maturity. International Journal for Educational and Vocational Guidance, 1(1–2), 31

48.

Robbaniyah, N.I., Mamesah, M., & Fitri, S. (2013). Efektivitas Layanan Konseling Karir Untuk Meningkatkan Kemampuan Adaptasi Karir Mahasiswa Bk Fip Unj

Angkatan 2011. Insight: Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol 2 No 2.

(50)

Savickas, M. L. (1997). Career adaptability: An integrative construct for life-span, life- space theory. Career Development Quarterly, 45(3), 247–259.

(51)

Savickas, M. L., & Porfeli, E. sJ. (2012). Career adapt-abilities scale: construction, reliability, and measurement equivalence across 13 countries. Journal of Vocational Behavior, 80(3), 661–673.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tian, Y., & Fan, X. (2014). Adversity quotients, environmental variabel and career adaptability in student nurses. Journal of Vocational Behavior, 85, 257.

doi:10.1016/j.jvb.2014.09.002

Referensi

Dokumen terkait