• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adaptasi Budaya Pada Masyarakat Saribudolok ( kasus: Proses Adaptasi Bahasa Batak Toba, Karo dan Simalungun)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Adaptasi Budaya Pada Masyarakat Saribudolok ( kasus: Proses Adaptasi Bahasa Batak Toba, Karo dan Simalungun)"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

ADAPATASI BUDAYA PADA MASYARAKAT SARIBUDOLOK

( Kasus: Proses Adaptasai Bahasa batak Toba, Karo dan Simalungun)

SKRIPSI

Oleh

Eka Kristiani Damanik 020901024

DEPARTEMEN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2008

(2)

ABSTRAKSI

Masyarakat Saribudolok adalah masyarakat yang majemuk yang terdiri dari berbagai dari sub-etnis Batak, dimana setiap etnis mempunyai kebudayaan yang berbeda. Bahasa adalah merupakan salah satu unsur kebudayaan yang sangat penting yang dapat menunjukkan jati diri seseorang. Akan tetapi apa yang terjadi apabila dalam masyarakat yang majemuk itu tidak mempunyai alat komunikasi dalam berinteraksi.

Bahasa adalah salah satu alat dalam berinteraksi, oleh sebab itu sangatlah penting dalam masyarakat yang majemuk mempunyai bahasa persatuan dalam satu daerah.

Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti bagaimana proses adaptasi bahasa Batak Toba, Karo dan Simalungun yang terjadi pada masyarakat Saribudolok yang majemuk sehingga menimbulkan masyarakat yang madani tanpa menimbulkan konflik.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Alat pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi dan studi kepustakaan. Melalui metode deskriptif dengan panduan teori adaptasi Sosial, interaksi dan Sosiolinguistik, penelitian ini dilakukan terhadap 17 orang informan, dengan tujuan menggambarkan bagaimana proses adaptasi Bahasa Batak Toba, Karo dan Simalungun pada masyarakat Saribudolok. 17 informan ini terdiri dari dua kategori, yaitu penduduk pendatang (Suku Batak Toba dan Karo) dan penduduk asli (Suku Simalungun) yang dijabarkan melalui pertanyaan-pertanyaan.

Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa proses adaptasi bahasa Batak Toba, Karo dan Simalungun sangatlah penting untuk memperlancar hubungan interaksi antara penduduk pendatang dan penduduk asli, dimana proses adaptasi yang dilakukan oleh pendatang terhadap Bahasa Simalungun ataupun Penduduk asli terhadap Bahasa Karo dan Toba tidaklah membutuhkan waktu yang lama karena proses adaptasi ini didapat melalui pergaulan sehari-hari.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada an Yesus Kristus, karena atas berkat-Nya dan rahmat-Nya yang senantiasa menyertai dan memberkati penulis dalam menyelesaikan perkuliahan dan juga pada saat penyusunan skripsi yang berjudul: “Adaptasi Budaya Pada Masyarakat Saribudolok ( kasus: Proses Adaptasi Bahasa Batak Toba, Karo dan Simalungun)”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menghadapi berbagai hambatan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, pengalaman, kepustakaan dan materi penulis. Namun, berkat pertolongan Tuhan Yesus Kristus yang memberi ketabahan, kesabaran, dan kekuatan kepada penulis dan juga para teman-teman yang selalu memberikan motivasi, dukungan pada saat-saat penulis mengalami kesulitan. Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, kritikan, saran-saran, motivasi serta dukungan Doa dari berbagai pihak, oleh karena itu Penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. DR. Arief Nasution, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak DR. Badaruddin, M.Si, selaku Ketua Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

(4)

3. Ibu Rosmiani, MA, selaku sekretaris Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Dan juga sebagai dosen tamu dalam ujian komprehensif penulis.

4. Bapak Drs. Junjungan Simanjuntak, Msi, selaku dosen wali sekaligus sebagai dosen pembimbing penulis, yang telah membimbing penulis semenjak semester pertama sampai pada penyelesaian skripsi ini. Dimana dengan begitu banyaknya kesibukan, beliau masih bersedia meluangkan waktu kepada penulis untuk memberikan masukan berupa nasehat maupun materi yang berguna dalam penulisan skripsi ini.

5. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh dosen Sosiologi dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan berbagai materi selama penulis menjalani perkuliahan di FISIP USU.

6. Secara khusus dan teristimewa kepada kedua orang tuaku yang tercinta Almarhum Ayahanda J. Damanik dan Ibunda L. br. Purba Siboro yang telah melahirkan dan membesarkan penulis dengan penuh cinta dan kasih sayang serta selalu memberikan didikan dan disiplin sejak penulis masih kecil, nasehat, memberikan motivasi dan memberikan perhatian yang besar bagi penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Buat abang-abangku yang tersayang dan tercinta B’Benialtoni, kakakku Mariani ( thanks for all ya kak krna berkat perhatian dan kerelaan kakak yang penuh Buat adikmu ini ), kak Candra dan suami, adikku Adi dan Nove yang selalu mendoakan, memberikan dukungan dan perhatian yang besar bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(5)

8. Terimakasihku yang sangat besar buatmu abang dan kekasih hatiku R.E.Marselinus Pakpahan yang selalu setia menunggu, memotivasi adikmu yang keras kepala ini.

Makasi bangat ya bang

9. Tidak lupa juga buat abagku Sony Manik yang begitu dekat denganku yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Makasi ya bang atas bantuanmu selama ini ketika aku dilapangan.

10. Terima Kasihku juga buat anak-anak Sosiologi Stambuk 2002 yang selalu kompak:

Roy dan Riko yang senantiasa setia mendampingi diriku dalam perbaikan skripsiku sampai dengan selesai ( thanks ya roy atas kesetianmu dan thanks bangat ya ko kar dirimu telah memberikan inspirasi dan minjamkan komputermu dalam proses pengerjaan skripsiku) ga lupa juga buat teman-teman seperjuanganku yang saling menyokong dan memnerikan masukan Benny Ariyandi thanks atas bantuannya selama ini, Dedi Ashari, Alhamdy , Haru Bornok, Jimi, Novenra, Rico (si tubuh ideal) dan teman-teman yang telah mendahului Juni A, Mona , Horhosana ( buat klian bertiga makasi y karena tidak pernah bosan ngingatin aku biar tetap semangat) , Imelda B, Juniwati, Uli,, Intan dua-duanya, Anna, Eprina, Julasni, Kusrinayanti, Zulfahriani, Dewi Z, Elida, Tuti, Innike, Vevy, Sariomas, Mahyani, witha, kevin, pinta, Rhamadhani dan yang paling penting lagi Buat temanku yang satu perjuangan maslidiaty yang setia mendampingiku juga dan hayo kawanku dea jangan Cuma kasi dukungan buatku tapi perjuagkan biar kita bersama lagi dan gak lupa lupa buat tema-temanku yang senasib citra, martha, siska dan kamu silvia semoga sukses buat kita semua dan persahabatan kita tetap terjalin selamanya. ( maaf klo da nama teman-teman yang termuat pokoknya buat stmbuk 02 thanks.

(6)

11. Kepada anak-anak Sos stambuk ’03, 04 dan Stambuk 05 thanks ya

12. terimakasihku ucapkan lagi teman-teman dari kecil aku sampai sekarang yang selalu memberiku semangat dan semangat lagi Iren ( hayo kamu pasti bisa nyusul temanmu ini tinggal kita Berdua lho), erita , masdalena

juantry, elsa, erna, Joy, Togen, Salom, Hotjama dan Tanda H.s. (pulanglah kami rindu), ibanku radon dan lian makasi juga ya. Khusus buatmu toni temanku yang terbaek yang tidak pernah lelah menemaniku dalam perbaikan skiripsiku ini makasi bangat ya.

13. terimakasihku juga buat teman-teman satu kost kak des, kak masda, laskar, pida, citra, lamhot dan dina dan buat castry juga dan enika.

14. Kepada seluruh informan penelitian ini yang telah banyak meluangkan waktunya dan memberi informasi yang sesuai dengan permasalahan penelitian, sehingga dapat menjawab permasalahan penelitian, dan penulis dapat menyusun laporan penelitian yang berbentuk skripsi ini.

Penulis telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran begitu juga waktu dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun demikian penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun dari para pembaca. Besar harapan penulis kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Mei 2008 Penulis

EKA KRISTIANI DMK

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ……… 1

1.2 Perumusan Masalah ……… 3

1.3 Tujuan Penelitian ……… 4

1.4 Manfaat Penelitian ……… 4

1.5 Definisi Konsep ……… 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ……… 7

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ……… 21

3.2 Lokasi Penelitian ……… 21

3.3 Unit Analisis dan Informan ……… 21

3.4 Teknik Pengumpulan Data ……… 22

3.5 Interpretasi Data ……… 23

3.6 Jadwal Kegiatan ……… 24

3.7 Keterbatasan Penelitian ……… 25

BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ……… 26

4.1.1 Sejarah singkat Kelurahan Saribudolok………26

4.1.2 Letak dan Keadaan Wilayah……… ……… 27

4.1.2.1 Kondisi Iklim dan Letak Geografis……... ……… 27

4.1.2.2 Batas dan Luas Wilayah ……… ……… 28

4.1.3 Komposisi Penduduk ………... 29

(8)

4.1.3.1 Komposisi penduduk berdasarkan Suku ……… 31

4.1.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan umur ……… 32

4.1.3.3 Jumlah penduduk berdasarkan agama….……… 33

4.1.3.4 Jumlah penduduk berdasakan pendidikan……… 34

4.1.3.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata pencaharian………. 34

4.1.4 Sarana dan Prasarana ………...……… 37

4.1.4.1 Sarana Kesehatan ……… 37

4.1.4.2 Sarana Ibadah ……… 37

4.1.4.3 Sarana Pendidikan……….... 38

4.2 Profil Informan……….. ……….39

4.3. Pembahasan Penelitian………. ……… 48

4.3.1. Kekerabatan Pada Masyarakat Saribudolok... 48

4.3.2. Kehidupan Masyarakat Majemuk Di Kelurahan Saribudolok…………..49

4.3.2.1 Pandangan suku Simakungun Tentang Kahidupan Bersama…………..50

4.3.2.2 Pandangan Suku Toba Terhadap Kehidupan Bersama………56

4.3.2.3 Pandangan Suku Karo Tantang Kahidupan Bersama………..58

4.3.3 Proses Adaptasi Bahasa...………61

4.3.3.1 Faktor- faktor yang mempercepat Proses Adaptasi………..61

4.3.3.2 Pengaruh Proses Adaptasi Terhadap Bahasa Ibu……….65

4.3.3.3. Manfaat Proses Adaptasi………71

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ……… 76

5.2 Saran ……… 78

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAn

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Jadwal Kegiatan ………. 24

2. Luas Wilayah Menurut Nagori/ Kelurahan Di Kecamatan Silimakuta………. 28

3. Penyabaran Panduduk Bardasarkan Urung Warga (Lingkungan)………. 29

4. Perbandingan Jumlah Panduduk Berdasarkan Suku ………. 32

5. komposisi penduduk berdasarkan umur dan kelompok kerja………..32

6. Perbandingan Jumlah Panduduk Berdasarkan agama………. 33

7. komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan………..34

8. komposisi penduduk berdasarkan mata pancaharian………36

9. Sarana Kesehatan………..37

10. Sarana Ibadah………38

11. Sarana Pandidikan……….39

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

Dewasa ini mobilitas penduduk di berbagai wilayah Indonesia sering terjadi bahkan di sekitar lingkungan kita. Perpindahan yang kita temukan seperti perpindahan penduduk dari negara yang satu ke negara lain, perpindahan dari pulau yang padat penduduknya kepulau yang jarang penduduknya atau perpindahan dari desa ke kota.

Akan tetapi perlu penulis tegaskan bahwa perpindahan yang dimaksud di sini adalah perpindahan suku bangsa yang mendiami satu wilayah. Berdasarkan penelitian Mochtar Naim, ada beberapa suku bangsa di Indonesia yang mempunyai mobilitas perpindahan penduduk yang cukup tinggi, seperti Minangkabau, Banjar, Bugis dan suku Batak.

Indonesia merupakan negara yang wilayahnya sangat luas dengan penduduk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah serta latar belakang yang budaya yang tidak sama. Perpindahan penduduk yang terjadi ini akan meyebabkan munculnya suatu interaksi antara penduduk pendatang dengan penduduk asli. Interaksi menghasilkan proses adaptasi budaya, yang akan menyebabkan banyak terjadi perubahan budaya bagi penduduk asli maupun bagi penduduk pendatang.

Perubahan tersebut tampak pada kebiasaan, acara adat istiadat, sistem kekerabatan, kepercayaan dan bahasa.

Salah satu wilayah yang ditempati berbagai suku bangsa adalah Sumatera Utara, yang terletak di Pulau Sumatera Utara, berbatasan dengan Aceh di sebelah utara dan Sumatera Barat dan Riau di sebelah selatan dengan penyebaran suku-suku seperti,

(11)

Batak. Batak terdiri dari 6 sub suku bangsa yang dibagi secara geografis, yaitu: batak Toba, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Pak-Pak.

Saribudolok adalah daerah yang dikenal sebagai daerah pertanian yang letaknya berbatasan dengan daerah Karo dan Daerah Sidikalang, karena letaknya yang berada diantara dua daerah maka Saribudolok tidak luput dari masyarakat pendatang yakni suku Batak Toba dan Karo. Saribudolok dapat juga dinyatakan sebagai desa dengan masyarakat majemuk. Kemajemukan suku bangsa sebuah daerah berdampak pada perubahan budaya daerah dan bahasa yang digunakan.

Bahasa adalah hal terpenting dalam menjalin hubungan harmonisasi antara individu yang satu dengan individu yang lain karena tanpa adanya bahasa maka tidak akan terjadi komunikasi. Maka dengan demikian interaksi antara pendatang dan penduduk asli tidak akan bisa hidup berdampingan apabila setiap suku memakai bahasa daerah masing-masing. Oleh sebab itu untuk menghindari terjadinya konflik yang terjadi akibat salah paham maka dalam suatu daerah yang majemuk memerlukan proses adaptasi bahasa.

Proses adaptasi budaya yang terjadi pada setiap suku bangsa ada beberapa model adaptasi yang dilakukan oleh pendatang terhadap penduduk asli, adaptasi yang dilakukan penduduk asli terhadap pendatang dan adaptasi yang tidak dilakukan oleh pihak manapun, dimana masing-masing etnik berdiam diri tanpa melakukan adapatasi.

Pada umumnya adaptasi yang paling sering terjadi adalah adaptasi yang dilakukan oleh penduduk pendatang terhadap penduduk asli.

Model adaptasi yang terjadi di Kelurahan Saribudolok adalah adaptasi penduduk asli terhadap pendatang atau saling adaptasi bahasa. Hal ini dapat dilihat dari

(12)

masyarakat Simalungun sebagai penduduk asli di Kelurahan Saribudolok yang pada umumnya menguasai atau setidaknya mengerti bahasa daerah dari suku pendatang tersebut khususnya bahasa Karo dan Batak Toba. Dikatakan juga sebagai model saling adaptasi budaya karena banyak juga penduduk pendatang yang sudah menguasai bahasa daerah setempat yaitu Bahasa Simalungun.

Suku Simalungun adalah sebagai objek dalam penelitian di dalam proses Adaptasi Bahasa Karo, Batak Toba dan Simalungun di Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun. Suku Simalungun merupakan penduduk asli di Kelurahan Saribudolok sedangkan suku Jawa, Karo, batak Toba dan etnis China adalah penduduk pendatang. Dalam beberapa kasus dinyatakan bahwa penduduk pendatanglah yang melakukan adaptasi bahasa akan tetapi di desa ini penduduk asli (dominant Kultur) yang pertama sekali yang melakukan adaptasi bahasa.

Hal-hal tersebutlah yang mengakibatkan penulis tertarik untuk meneliti Proses Adaptasi Bahasa Karo, batak Toba dan Simalungun di Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun.

1.2. Perumusan masalah

Dalam melaksanakan setiap penelitian harus terlebih dahulu dirumuskan permasalahannya, hal ini dilakukan agar penelitian dapat dilaksanakan secara terarah.

Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi pokok peremasalahan dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana Proses Adaptasi bahasa Karo, Batak Toba dan Simalungun di Kelurahan Saribudolok ”.

(13)

1.3. Tujuan penelitian

Secara umum kegiatan penelitian dilakukan dengan suatu tujuan pokok yaitu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian guna mengungkap fenomena- fenomena sosial tertentu.

Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah:

1.3.1 Untuk mengetahui bagaimana proses adaptasi bahasa Karo, Batak Toba dan Simalungun di Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun.

1.3.2. Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam Proses Adaptasi Bahasa.

1. 4 . Manfaat penelitian

Dalam melakukan suatu penelitian pastinya penelitian ini mempunyai manfaat bagi penulis.

Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah:

1. 4. 1. Manfaat teoritis

a. Untuk meningkatkan kemampuan berfikir peneliti melalui karya ilmiah, sekaligus penerapan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh.

b. Untuk lebih memahami masalah-masalah dalam masyarakat dalam mengadapatasikan dirinya dalam berkomunikasi melalui bahasa ditinjau dari kajian sosiologis.

1. 4. 2. Manfaat Praksis

(14)

a. Data- data yang diperoleh nantinya dari lapangan dapat dimanfaatkan bagi pihak- pihak yang berkepentingan.

b. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang selanjutnya yang mempunyai keterkaitan dengan masalah dalam penelitian ini.

1. 6. Defenisi Konsep

Adapun defenisi konsep dalam penelitian ini adalah;

1. 6 1. Adaptasi

Merupakan proses penyesuaian diri dan motivasi yang kuat serta strategi yang dilakukan supaya tetap bertahan hidup di daerah perantauan bagi masyarakat pendatang dan strategi untuk mempertahankan kekuasaan bagi masyarakat asli.

1.6.2. Bahasa

Merupakan alat yang dipakai oleh penduduk untuk berinteraksi melalui proses komunikasi.

1.6.3 Bahasa daerah

Merupakan alat komunikasi berbentuk bahasa, dari suku dan daerah asal masyarakat tertentu.

1.6.4. Adaptasi Bahasa

Merupakan proses penyesuaian diri terhadap pemakaian bahasa yang beranekaragam yang akan digunakan untuk menjalin kerjasama ataupun menjamin berlangsungnya interaksi antara pendatang dan penduduk asli.

(15)

1.6.5. Kebudayaan

Semua hasil pikiran manusia yang dituangkan dalam kehidupan sehari- hari dan meliputi cipta, rasa masyarakat dimana bentuk kebudayaan yang dimaksud disini adalah bahasa.

1.6.6. Interaksi

Yaitu adanya hubungan antara pendatang dengan penduduk asli dalam proses sosialnya menggunakan perpaduan bahasa yang berbeda.

1.6.7. Biligualisme

Mampu menggunakan atau sekedar mengerti dua bahasa atau lebih saat melakukan hubungan interaksi.

(16)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Menurut Hassan Shadly (dalam Mansyurdin SH, 1994:43) mendefenisikan masyarakat adalah sebagai golongan besar dan kecil manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh mempengaruhi satu sama lain.

Pengaruh dan pertalian kebatinan yang terjadi dengan sendirinya disini menjadi unsur yang sine qua non (yang harus ada) bagi masyarakat. Masyarakat bukannya ada dengan hanya menjumlah adanya orang-orang saja, diantara mereka harus ada pertalian satu sama lain.

Selo Soemardjan (dalam Soerjono Soekanto, 1982 :22) menyatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.

Dengan demikian tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya.

Akan tetapi bedanya adalah bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh setiap masyarakat adalah berbeda, bedanya hanyalah bahwa kebudayaan masyarakat yang satu lebih sempurna daripada kebudayaan lain dalam memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.

Kebudayaan dari setiap bangsa atau masyarakat, terdiri dari unsur-unsur besar dan kecil yang merupakan bagian-bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai satu kesatuan. Seorang Antropolog yaitu C. Kluckhohn didalam sebuah karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture ( dalan Koentjaranigrat 1994 : 203-204 ) telah menguraikan ulasan-ulasan para sarjana mengenai hal itu. Inti pendapat - pendapat

(17)

dari ahli sarjana itu menunjuk pada adanya tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai Cultural Universals, yaitu:

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia

2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi.

3. Sistem kemasyarakatan.

4. Bahasa.

5. Kesenian.

6. Sistem pengetahuan.

7. Religi.

Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain.

Dengan kata lain manusia adalah mahluk pribadi sekaligus mahluk sosial dimana sebagai pribadi manusia memiliki kebiasaan bagi dirinya sendiri ( Habit) dan sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Soerjono Soekanto 1982 : 1973 ) Akan tetapi kita harus sadar didalam pengalaman hidup manusaia, kebudayaan itu adalah bersifat universal, akan tetapi perwujudan kebudayaan mempunyai ciri-ciri yang khusus sesuai dengan situasi maupun lokasinya masing-masing. Masyarakat dan kebudayaan adalah Dwi tunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan (Soerjono Soekanto 1982 : 174 ). Hal ini mengakibatkan bahwa setiap masyarakat manusia mempunyai kebudayaan atau dengan perkatan lain , kebudayaan bersifat universal yaitu menjadi atribut dari setiap masyarakat di dunia ini. Akan tetapi apabila seseorang dari masyarakat tertentu berhubungan dengan seseorang yang

(18)

menjadi angggota masyarakat berlainan, maka dia akan sadar bahwa adat istiadat kedua masyarakat adalah tidak sama..

Para perantau yang datang dan tinggal serta enetap di luar daerah asalnya, akan selalu disertai dengan poa tingkah laku dan sikap tertentu. Dalam mlakuka perpindahan suku bangsa pendatang akan turut membawa adapt-astiadat, norma dan berbagai bentuk organisasi sosial kedalam lingkungan sosial budaya setempat. Budaya setempat ini bisa merupakan sesuatu yang baru bagi suku pendatang. Ditempat tujuan kebiasaan- kebiasaan yang dibawa dari daerah asal akan mengalami perubahan termasuk orientasi terhadap kampong halaman ( Naim : 73 ).

Masuknya suku pendatang kedaerah tertentu yang ditempati oleh bangsa suku lain akan melahirkan terjadinya kontak sosial atau hubungan sosial diantara mereka.

Menrut Suyatno ( 1974:5 ) kondisi seperti ini memungkinkan untuk terjadinya peminjaman unsure-unsur budaya bagi masing-masing suku bangsa.Ditempat baru, suku pendatang di dalam proses adaptasi akan sampai kepada dua pilihan, pertama apakah pola-pola sosial budaya yang diwariskan oleh nenek moyang akan dipertahankan dan yang kedua, adalah apakah pendatang baru itu akan mengadaptasikan dirinya dengan pola-pola sosal budaya suku bangsa setempat.

Menurut Cohen ( 1985:2 ) kelompok suku bangsa yang memasuki suatu daerah yang masih baru baginya, dimana kebudayaanya itu terpisah secara fisik dengan kebutuhannya akan mlakukan adaptasi terhadap lingkungan sosial budaya dan fisik ditempat yang lain.Bila suku pendatang ingin hidup survive di tempat yang baru, biasanya merka akan mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan sosial budaya setempat dan suku bangsa setempat. Dan suku bangsa setempat mempertahankan

(19)

budayanya dari jamahan atau pengaruh kebudayaan dari luar khususnya unsure budaya luar yang bersifat negative. Untuk mempertahankan agar suku bangsa pendatang dapat hisup bertahan di daerah lain, setiap suku bangsa mempunyai kebudayaan untuk itu umunya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan itu melengkapi manusia denga cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan fisiologis dari badan dari mereka, dan penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik geografis maupun ligkungan sosialnya menurut R. Ember dan M. Ember dalam ( Ihromi 1987:28 )

Menurut Suharso (1997:48) didalam kebudayaan itu manusia memiliki seperangkat pengesahan yang dipakai untuk memahami serta menginpretasikan dan mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang baru. Manusia yang mempunyai pengetahuan, kebudayaan yang dipakai sehubungan dala menhadapai kebudayaan asal sku setempat. Pengetahuan itu tentunya banyak mendukung terhadap proses adaptasi.

Manusia berusaha untuk menyesuaikan dirinya di lingkungan yang baru karena didorong untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhab itu sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Jika manusia itu berhasil dalam memenuhi kebutuhannya maka dia akan merasa puas dan apabila tidak maka akan menimbulkan masalah.

Pada dasarnya, manusia mengenal kebutuhan akan biologis dan kebutuhan sosial phsikologis, beberapa kebutuhan ang harus diperhatikan itu adalah:

1. kebutuhan memperolh kepuasan biologi, seperti: makan, minum dan tempat tinggal.

2. kebutuhan akan harga diri.

3. kebutuhan akan memperoleh penghargaan yang sama.

(20)

4. kebutuhan untuk dikenal.

5. kebutuhan memperoleh prestasi dan posisi.

6. kebutuhan untuk dibutuhkan orang lain dan memperoleh kasih saying.

7. kebutuhan merasa bahagia dalam kelompok.

8. kebutuhan rasa aman dan perlindungan diri.

9. kebutuhan kemerdekaan diri. ( Depdikbud 1984:12 )

Kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam mengadaptasikan dirinya adalah tuntutan kebutuhan akan merasa aman, untuk dikenal dan memperoleh harga diri.

Proses adapatasi bangsa suku bangsa tertentu sehingga adapat diterima dilingkungan yang baru, akan memakan waktucukup yang lama sehingga dapat hidup serasi. Suku bangsa pendatang dapat bkerjasama untuk tujuan tertentu dengan suku setempat.

Menurut Suyatno ( 1974: 15 ) proses adaptasi akan cepat terjadi apabila suku bangsa pendatang lebih terbuka terhadapa budaya suku setempat.

Sebagai mahluk sosial manusia akan yang satu lebih terbuka dan berinterksi dengan mausia lainnya terutama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurit Mar”at ( 1981: 107 ) interaksi adalah suatu proses dimana individu yang satu memperhatikan dan memeberikan respons terhadap individu lainnya sehingga akan dibalas dengan tingkah laku tertentu. Untuk mencapai kehidupan yang serasi dan tidak saling merugikan dalam interaksi mereka, diharapkan adanya hubungan sosial yang termasuk diantara kedua suku bangsa dan yang harus dipertahankan adalah hubungan yang pantas, akrab dan saling menuntungkan. ( Koenjaranigrat 1981:348) interaksi diantara dua suku bangsa yang berbeda akan membuahkan dua alternative, baik yag sifatnya positif maupun sifat yang negative. Dikatakan positif apabila hubungan sosialnya

(21)

harmonis dan saling menguntungkan sehingga dapat menciptakan alkulturasi, asimilasi dan amalgamasi, sedangkan negative bila ada perbedaan sikap dan kadangkala menjurus kepada konflik.

Sebagai penyebab adanya sikap prasangka maupun streotip karma memiliki hubungan emosional yang menyangkut kelompok suku bangsa dan sebagai penyebabnya adalah alam kaitannya denga hubungan antara kelmpok minoritas dan mayoritas yaiu:

1. kekuasaan factual yang terlihat hubungan antara gologa minoritas dan golongan mayoritas.

2. fakta akan perlakuan terhadap kelompok mayoritas dan kelompok minoritas.

3. fakta mengenai kesempatan untuk berusaha pada kelompok mayoritas da minoritas.

4. fakta mengenai unsure geografis, dimana keuargaminoritas menduduki daerah tertentu.

5. fakta mengenai posisi an peranan dari sosial ekonomi yang pada umumnya dikuasa oleh kelompok minoritas.

6. potensi energi eksistensi dari kelompok minoritas daam mempertahankan kehidupannya (Mar”at 1981:114)

Di daerah perantauan biasanya orang merantau akan membawa suatu misi budaya yaitu sesuatu yang dititipakan dan khsanah budaya mereka ( Pelly 1983:7 ).

Misi budaya ini pula yang akan membuka strategi adaptasi di rantau mulai dari pemilihan pemukiman sampai jenis pekerjaan. Manusia itu harus bisa menyesuaiakan

(22)

dirinya dengan lingkungan yang baru, baik itu lingkungan sosial budaya maupun fisiknya. Adaptasi ini perlu agar manusia itu dapat bertahan di. lingkungannya

Seperti yang sudah dikemukan sebelumya bahwa masyarakat itu tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan, akan tetapi masalah yang akan dihadapai adalah bahwa bangsa Indonesia adalah beranekaragam kebudayaannnya sesuai dengan suku bangsa masing-masing. Masalah suatu keanekaragaman tersebut adalah dilihat dari unsur Bahasa. Bahasa adalah merupakan salah satu unsur yang ada dalam kebudayaan, dimana bahasa adalah hal yang terpenting dalam melakukan suatu interaksi dalam masyarakat yang berbeda budayanya.

Manusia telah mempunyai naluri untuk melakukan interaksi dengan sesamanya semenjak ia dilahirkan didunia. Interaksi sesama manusia merupakan suatu kebutuhan ini adalah akibat bahwa manusia itu adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa interaksi dengan manusia lain tidak akan dapat bertahan hidup. Dalam buku sosiologi suatu pengantar, Soerjono Soekanto (1986 : 498 ) mengutip defenisi Gillian dan Gillian dalam buku mereka Cultural Sosiology yakni interaksi merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial merupakan konsep yang penting dalam sosiologi. Istilah tersebut secara kontak timbal balik atau interstimulasi dan respons antara individu-individu dan kelompok.

Adapun ciri-ciri dari interaksi sosial adalah:

1. Adanya komunikasi antar pelaku dengan menggunakan symbol-simbol.

2. Adanya Jumlah pelakunya lebih dari seorang, biasanya dua atau lebih.

(23)

3. Adanya suatau dimensi waktu yang meliputi masa lampau, kini, dan akan datang, yang menentukan sifat dari aksi yang sedang berlangsung. Adanya suatau tujuan tertentu.

Hal ini sejalan dengan kutipan Soekanto (1990) yaitu interaksi merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang perorangan dengan kelompok manusia”. Lebib lanjut Soekanto (1990) menyatakan ;

“ Suatu interaksi sosial akan terjadi apabila memenuhi dua syarat yaitu: kontak sosial untuk berhubungan dengan orang lain dan komunikasi yaitu perasaan yang ingin disampaikan dan memungkinkan adanya kerjasama”.

Menurut Kimbal Young dan Raymond W. Mack ( dalam Soekanto 1982: 58) menyatakan bahwa interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa adanya interaksi, tak akan mungkin ada kehidupan bersama; interaksi yang dilakukan oleh manusia mempunyai syarat-syarat agar interaksi berjalan dengan baik., yaitu:

1. Kontak 2. Komunikasi

Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum ( yang artinya bersama- sama) dan tango ( yang artinya menyentuh); jadi artinya secara harafiah adalah “ bersama-sama menyentuh secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah, oleh karena orang dapat mengadakan hubungan pihak lain tanpa menyentuhnya, seperti dengan berbicara dengan pihak lain.

Kontak pada dasarnya merupakan aksi dari individu atau kelompok agar mempunyai makna bagi pelakunya, kemudian ditangkap oleh individu atau kelompok

(24)

lain. Penangkapan makna tersebut yang menjadi pangkal tolak untuk memberikan reaksi. Kontak dapat terjadi secara langsung yakni melalui gerak dari fisikal organisme ( action of physical organism ), misalnya melalui pembicaraan, gerak, isyarat dan dapat pula secara tidak langsung, misalnya melalui tulisan atau bentuk komunikasi jarak-jauh, seperti dengan telepon, chatting, dan sebaginya. Sebagaiman yang dikatakan oleh Alvin dan Helen Gouldner dalam Taneko ( 1990:110), interaksi itu adalah suatu aksi dan reaksi diantara orang-orang, jadi tidak memperdulikan secara berhadapn muka secara langsung ataukah melalui symbol-simbol seperti bahasa, tulisan yang disampaikan dari jarak ribuan kilometer jauhnya. Semua itu adalah tercakup dalam konsep interaksi selama hubungan itu mengharapkan satu atau lebih bentuk respons.

Komunikasi muncul setelah kontak berlangsung. Terjadinya kontak belum berarti telah ada komunikasi, oleh karena komunikasi itu muncul apabila seseorang individu memberikan tafsiran tadi, lalu seseorang itu mewujudkan dengan perilaku, dimana perilaku tersebut merupakan reaksi terhadap perasaan yang ingun disampaikan oleh orang lain. Sehubungan dengan komunikasi, Schlegel berpendapat bahwa manusaia adalah mahluk sosial yang dapat bergaul dengan dirinya sendiri, mentafsirkan makna-makna, obyek - obyek di dalam kesadarannya, dan memutuskan bagiamana dia bertindak secara berarti sesuai dengan penafsiran itu ( Tanneko,1990 :75 ). Gerungan ( 2002 : 57), seorang sarjana psikologi mengatakan bahwa interaksi sosial dirumuskan sebagai berikut: yaitu suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu yang satu mempengaruhi, merubah atau memperbaiki kelakuan individu lain atau kebalikannya.

(25)

. Interaksi tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila dalam suatu kelompok masyarakat tidak terdapat suatu alat pemersatu dalam menyatukan keanekaragaman.

Salah satu alat pemersatu adalah bahasa. Bahasa adalah salah satu symbol dalam menentukan komunikasi. Akan tetapi apa yang dilakukan apabila dalam masyarakat majemuk tersebut membawa bahasa masing-masing dalam berinteraksi, maka yang akan terjadi adalah konflik. Untuk menghindari terjadinya konflik maka yang harus diadakan adalah penyesuaian setiap bahasa daerah tersebut ( adaptasi bahasa ).

Soerjono Soekanto (Soekanto,2000:10-11)memberikan beberapa batasan pengertian dari adaptasi sosial, yakni:

1. Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan.

2. Penyesuaian terhadap norma-norma untuk menyalurkan ketegangan.

3. Proses perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi berubah.

4. Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan.

5. Memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem.

6. Penyesuaian budaya dan aspek lainnya sebagai hasil seleksi alamiah.

Dari batasan-batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa adapatasi merupakan proses penyesuaian dari individu, kelompok, maupun unit sosial terhadap norma, proses perubahan, ataupun suatu kondisi yang diciptakan.

Lebih lanjut tentang proses penyesuaian tersebut, Aminuddin menyebutkan bahwa penyesuaian dilakukan dengan tujuan-tujuan tertentu ( Aminuddin, 2000;38), diantaranya:

(26)

1. Mengatasi halangan-halangan dari lingkungan.

2. Menyalurkan ketegangan sosial.

3. Mempertahankan kelanggengan kelompok atau unit sosial.

4. Bertahan hidup.

Proses adaptasi biasanya paling sering terjadi di daerah yang masyarakatnya adalah majemuk dimana kemajemukan ini diakibatkan oleh adanya migrasi. Para migrasi dapat membawa dampak bagi daerah tempat dia bermigrasi. Hal ini dapat kita lihat terjadinya perubahan bahasa. Sebagai akibat adaptasi yang dilakukan melalui interaksinya maka dapat mengakibatkan masyarakatnya menjadi bilingualistik atau multilingualisme.

Terjadinya keragaman bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang Keanekabahasan (bilingualisme maupun multilingualisme) tidak homogen, tetapi juga atau variasi karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan juga beragam.

Setiap kegitan memerlukan atau menyebabkan terjadinya keragaman bahasa itu.

Keragaman ini akan bertambah kalau bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang banyak, serta dalam wilayah yang luas ( Chaer 2004: 61)

Menurut Mackey dan Fishman ( dalam Chaer, 2004: 84 ) Istilah bilingualisme yang dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Secara sosiolinguistik, secara umum bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu.

Pertama, bahasa ibunya (B1) dan yang lain menjadi bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang bilingual. Sedangkan kemampuan

(27)

untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas. Selain istilah bilingualisme dengan segala jabarannya ada juga istilah multilingualisme (dapat menggunakan lebih dari dua bahasa/banyak bahasa). Dimana bilingualisme dan multingualisme merupakan model yang sama .

Konsep umum bahwa bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian dapat menimbulkan sejumlah masalah ( Chaer, 2004 : 85 )

1. Sejauhmana taraf kemampuan seseorang akan B2 (B1 tentunya dapat dikuasai dengan baik) sehingga dia dapat disebut sebagai seorang yang bilingual.

2. Apa yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme ini?

3. Apakah bahasa dalam pengertian langue atau sebuah kode, sehingga bisa termasuk sebuah dialek atau sosiolek.

4. Kapan seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian artinya kapan dia harus menggunakan B1-nya dan kapan pula harus menggunakan B2-nya.

5. Sejauh mana B1-nya dapat mempengaruhi B2-nya atau sebaliknya.

6. Apakah bilingualisme itu berlaku pada perseorangan atau juga berlaku pada satu kelompok masyarakat tutur.

Untuk menjadi bilugualisme hal ini mempunyai suatu proses dimana pastinya orang-orang akan terlebih menguasi B1 karena sebagai bahasa ibunya dan kemudian dalam pergaulan dan interaksi dengan orang lain maka orang tersebut dapat dipengaruhi

(28)

untuk mengetahui bahasa orang lain yang disebut bahasa kedua (B2). Akan tetapi perlu diingat bahwa untuk pertama sekali orang tersebut tidak akan bisa dapat langsung menguasai B2 sebaik B1 karena harus berjenjang dari hanya mulai mengerti sampai pada tahap penguasaan B2-nya sama seperti B1-nya.

Pertanyaan kapan seorang penutur bilingual menggunakan B1 dan B2 atau satu ragam bahasa tertentu adalah menyangkut masalah fungsi bahasa atau fungsi ragam bahasa tertentu didalam masyarakat tuturnya sehubungan dengan adanya ranah-ranah penggunaan bahasa atau ragam bahasa tersebut. Kalau disini masalahnya kita sempitkan hanya pada penggunaan B1 dan B2 (masalah ragam bahasa kita tangguhkan dulu karena anatara bilingual dan multulingual mempunyai model yang sama), maka kembali ke pertayaan kapan B1 harus digunakan dan kapan B2 harus dipakai.

Pertanyaan ini menyangkut masalah pokok sosiolinguistik, “siapa pembicara, dengan bahasa apa, kepada siapa kapan dan dengan tujuan apa”. B1 pertama-tama dan terutama dapat digunakan dengan para anggota masyarakat tutur yang sama bahasanya dengan penutur. Jika B1 penutur adalah Bahasa Simalungun, maka dia akan menggunakan bahasa Simalungun dengan semua anggota masyarakat tutur yang mengerti bahasa Simalungun, seperti dalam percakapan dalam keluaraga untuk topik pembicaraan biasa. Untuk formal memakai bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia dan kadang untuk tujuan tertentu dengan alasan tertentu bisa menggunakan bahasa daerah dalam pergaulan walaupun berbeda masyarakat penuturnya yang terpenting mereka bisa saling mengerti misalnya antara masyarakat Simalungun dalam menghadapi etnis Suku Karo dan Batak Toba menggunakan Bahasa Simalungun atau menggunakan Bahasa Karo atau Batak Toba tergantung kepada lawan bicara dengan

(29)

alasan tertentu. Misalnya dalam bisnis dagang (tetapi bagi penutur bilingual yang B1- nya Bahasa Sunda dan B2 Bahasa Jawa hanya dapat menggunakan B2-nya itu untuk orang jawa).

Kita berasumsi bahwa penguasaan terhadap B1 oleh seorang bilingual adalah lebih baik daripada penguasaannya terhadap B2, sebab B1 adalah bahasa ibu, yang dipelajari dan digunakan sejak kecil dalam keluarga sedangkan B2 adalah bahasa yang baru kemudian dipelajari yakni setelah menguasai B1.

Bagi seorang penutur bilingual dapat mempengaruhi B1 karena menguasai B2 hal ini dapat terjadi kalau si penutur bilingual dalam jangka waktu yang cukup lama tidak menggunakan B1-nya, tetapi terus-menerus menggunakan B2-nya atau hal ini dapat terjadi apabila si penutur bilingual untuk jangka waktu yang lama tinggal di masyarakat penutur yang berbeda. Misalnya orang Batak Toba yang tinggal di daerah Simalungun, dimana masyarakat tutur Toba hanya memungkinkan menggunakan B1 dalam ruang lingkup keluraga sedangkan dalam bahasa sehari-hari dipergaulan penutur tersebut harus menggunakan bahasa setempat sehingga dalam jangka waktu yang lama bahasanya bisa berubah.

Seperti yang dikemukan oleh Wolf (dalam Chaer 2004 : 91), salah satu ciri bilingualisme adalah digunakannya dua bahasa atau lebih oleh seseorang atau kelompok orang dengan tidak adanya peranan tertentu dari kedua bahasa itu. Artinya kedua bahasa itu bisa atau dapat digunakan kepada siapa saja, kapan saja dan dalam situasi bagaimana saja. Pemilihan penggunaan bahasa tergantung pada kemampuan si pembicara dan lawan bicaranya.

(30)

Misalnya di daerah Saribudolok dimana masyarakatnya adalah majemuk sehingga bahasa yang muncul adalah multilingualisme dimana masyarakatnya yang terdiri dari penduduk asli yaitu Simalungun dan penduduk pendatang Suku Karo dan Batak Toba. Penggunaan komunikasi masyarakatnya dapat menggunakan lebih dari satu bahasa artinya sama dengan pendapat Wolf dimana masyarakat pada umumnya dapat mengerti dan menggunakan bahasa penduduk yang ada (Bahasa Simalungun, Karo dan Batak Toba).

(31)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis penelitian

Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dimana penelitian ini mencoba untuk menggambarkan atau melukiskan bagaimana Proses Adaptasi Bahasa Karo, Batak Toba dan Simalungun yang dilakukan oleh masing- masing suku. Penelitian ini hanya untuk mengungkapkan suatu permasalahan, keadaan dan peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat sekedar untuk mengungkapkan fakta (fact finding).

3.2. Lokasi penelitian

Penelitian ini berlokasi di Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatrra Utara. Adapun alasan peneliti memilih lokasi penelitian tersebut adalah atas pertimbangan, bahwa penduduknya adalah majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan penduduknya diketahui dapat menguasai beberapa bahasa daerah sehingga memudahkan peneliti untuk meneliti Bagaimana Proses adaptasi Bahasa Karo, Batak Toba dan Simalungun pada masyarakat Saribudolok

3.3. Unit Analisis dan Informan

Adapun yang menjadi unit analisis data pada penelitian ini adalah penduduk desa yang mengerti atau dapat menguasai bahasa penduduk setempat bagi pendatang atau bagi bahasa suku pendatang oleh penduduk setempat. Informan dalam penelitian

(32)

ini adalah para penduduk yang dapat menguasai bahasa daerah baik yang belum berkeluarga maupun yang sudah berkeluarga.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Jenis dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara berikut:

3.4.1. Data primer

Merupakan jenis data pertama yang diperoleh dari lapangan yang diperoleh melalui:

3.4.1.1.Observasi

Yaitu peneliti mengadakan pengamatan secara langsung serta ikut mengambil bagian dalam obyek penelitian untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam penelitian ini peneliti mengamati secara langsung ke lapangan mengenai pemakaian bahasa yang dilakukan oleh penduduk setempat dalam berinteraksi yang berada di kawasan Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun.

3.4.1.2.Wawancara Mendalam

Yaitu peneliti berusaha menggali informasi atau jawaban-jawaban pribadi dari informan yang sesuai dengan permasalahan penelitian ini, seperti bagaimana Proses Adaptasi Bahasa Karo, Batak Toba dan Simalungun yang dilakukan oleh penduduk setempat.

(33)

3.4.2. Data sekunder

Merupakan jenis data yang kedua (data pelengkap) untuk mendukung data primer diperoleh melalui studi kepustakaan, seperti buku-buku, jurnal, makalah, surat kabar, internet dan dokumentasi.

3.5. Interprestasi Data

Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan suatu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema (Moleong, 2002 : 103 ).

Proses analisis data diawali dengan menelaah data-data yang diperoleh dari observasi, wawancara, maupun data pelengkap yang berkenaan dengan yang akan diteliti. Langkah selanjutnya adalah mereduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abtraksi (rangkuman inti). Tahap akahir analisis data yakni mengadakan pemeriksaan keabsahan data, kemudian diadakan penganalisisan berupa penginterpretasian dari data-data tersebut untuk sampai pada konsep-konsep pemecahan masalah secara tuntas dan menyeluruh serta menarik kesimpulan.

(34)

Tabel 1

3.6. Jadwal Kegiatan

KEGIATAN Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6

Pra Penelitian

Penyusunan

Proposal

Perbaikan

Proposal

Persiapan : Pengurusan

Izin

Penyiapan Instrumen

Penelitian

Penelitian :

Wawancara dan Observasi

di Lapangan

Pasca

Penelitian :

Analisis Data Penyusunan

Laporan

(35)

3.7. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini termasuk pembuatan surat izin penelitian;

terbatasnya data sekunder atau tambahan melalui buku, dokumen dan jurnal yang mendukung terhadap penelitian yang telah dilaksanakan; dan adanya keterbatasan waktu dari para informan. Keterbatasan dalam pengurusan dan pembuatan surat izin penelitian adalah begitu banyaknya rentetan jalur pengurusan surat izin penelitian yang harus peneliti jalani sehingga menyebabkan lamanya waktu yang peneliti habiskan untuk mengurus surat baik di lingkungan fakultas, birokrasi pemerintahan tempat peneliti melakukan penelitian yang terlalu berhati-hati dalam memberikan izin penelitian.

Keterbatasan data sekunder atau tambahan berupa buku, dokumen, jurnal maupun yang lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini menyebabkan peneliti mengalami kesulitan di dalam melakukan penganalisisan data lapangan dan memerlukan waktu cukup lama. Keterbatasan di dalam melaksanakan penelitian antara lain disebabkan oleh jarak penelitian yang jauh dari Medan sehingga menyebabjan penelti mempunyai keternatasan dalam menggali informasi yang lebih dalam lagi karena adanya keterbatasan waktu. Selain itu penulis juga mengalami keternatasan biaya dalam melakukan penelitian karena jarak tempuh lahan penelitian yang jauh dari lingkungan kampus. Akan tetapi peneliti akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini berkat kerjasama informan yang memberikan data- data yang diprelukan oleh peneliti dalam waktu yang tidak lama.

(36)

BAB IV

DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.1. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1.1. Sejarah Singkat Kelurahan Saribudolok

Saribudolok, saribu artinya seribu, dolok artinya bukit. Jadi Saribudolok dapat diartikan sebagai suatu daerah yang terdiri dari seribu bukit, wilayah Saribudolok terbentuk sekitar tahun 1928 yang dipimpin oleh Marga Girsang. Lokasi yang pertama sekali ditempati oleh Sipungka Huta (pembuka kampung) disebut dengan Sardolok Atas. Dikatakan Sardolok Atas karena letaknya berada di tempat yang paling tinggi.

Akibat pertumbuhan penduduk dan adanya orang-orang yang datang merantau, dengan pertambahan penduduk yang banyak mengakibatkan penduduk memperluas areal pemukiman yang akhirnya perluasan pemukiman ini menyebabkan nama baru yaitu disebut dengan Kampung Kristen karena yang menempati lokasi tersebut terdiri dari keluarga-keluarga pendeta.

Selain nama Kampung Kristen, masih ada yang dinamakan dengan Kampung Toba, dan Kampung Kopi. Alasan dari pemberian nama tersebut adalah karena di Kampung Toba ini yang menempatinya adalah para pendatang-pendatang yang berasal dari daerah Samosir yang bertujuan bekerja sebagai haroan (orang upahan yang bekerja khususya di bidang pertanian). Dengan berkembangnya waktu maka jumlah mereka semakin bertambah dimana sampai pada saat ini mereka sudah mencapai jumlah 437 jiwa. Jumlah ini hanya yang terdata di kelurahan Saribudolok, sementara pendatang lainnya yang tidak menetap tidak dicatatkan di kantor kelurahan karena biasanya mereka datang dan pergi tanpa ada waktu yang pasti. Mereka yang memilih

(37)

untuk hidup menetap di Kelurahan Saribudolok ini memiliki alasan bahwa mereka mempertimbangkan mereka dapat hidup layak dengan kesuburan tanah yang ada dan dapat mereka kelola.

Sedangkan alasan mengapa dikatakan Kampung Kopi karena pada awalnya kampung ini banyak ditanami kopi, namun pada saat sekarang tanaman tersebut tidak ditemukan lagi di lokasi ini karena sudah menjadi penyebaran penduduk. Kepadatan penduduk Saribudolok ini mengakibatkan nama-nama kampung yang disebutkan diatas tadi menjadi kabur karena batas-batas perumahan penduduk hampir tidak dapat dipastikan lagi. Pada saat sekarang ini yang menjadi tanda pembagian Kelurahan Saribudolok ini adalah adanya yang disebut dengan jalan Sutomo, Jalan Kartini, Jalan Merdeka, jalan Singgalang, Jalan Pematang Siantar, Jalan Kabanjahe dan lain sebagainya.

4.1.2. Letak dan Keadaan Wilayah

4.1.2. 1. Kondisi iklim dan letak Geografis

Kelurahan Saribudolok adalah bagian dari Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalugun. Jika ditinjau dari letak geografisnya, Kelurahan Saribudolok diapit oleh dua pegunungan, yaitu sebelah Utara pegunungan Sipiso-piso dan sebelah Barat pegunungan Singgalang. Oleh sebab itu Kelurahan Saribudolok terletak di dataran tinggi dengan ketinggian tempat dari permukaan laut 1400 meter, dimana 59,99 % (1440,25 ha) keadaan topografinya berbentuk dataran dan 39,99 % (960,17 ha) berbentuk perbukitan/ pegunungan. Rata-rata suhunya 26 – 28 0C dan keadaan curah hujan 1.150 mm/tahun.

(38)

4.1.2.2. Batas Wilayah dan Luas Wilayah

Adapun batas-batas Kelurahan Saribudolok adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Dolok Silau Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karo Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Purba

Berdasarkan topografi kemiringan tanah, Kelurahan Saribudolok berada pada kawasan dataran tinggi sehingga menyebabkan masyarakat cenderung lebih memilih menjadi petani dan pedagang (agen sayur mayur). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1

Luas Wilayah Menurut Nagori/ Kelurahan di Kecamatan Silimakuta Tahun 2006 No Nagori/ Kelurahan Luas (km ) Rasio terhadap luas kecamatan

( % )

1 Ujung Saribu 6.64 4.24

2 Sibangun Meriah 16.93 10.80

3 Silimakuta Barat 11.09 7.08

4 Saribudolok 20.60 13.15

5 Purba Sinombah 24.77 15.81

6 Purba Tua 12.22 7.80

7 Siboras 14.50 9.25

8 Ujung meriah 9.96 6.36

9 Mardinding 9.30 5.93

10 Naga Saribu 8.23 5.25

11 Purba Tua Baru 11.20 7.15

12 Saribujandi 11.26 7.19

Jumlah 156.70 100.00

(Sumber: BPS Kecamatan Silimakuta dalam angka tahun 2006)

(39)

Dari tabel di atas kita dapat melihat bahwa Kecamatan Silimakuta terdiri dari 12 kelurahan atau nagori. Ditinjau dari luasnya wilayah Kecamatan Silimakuta dengan populasi yang cukup padat, maka dalam hal ini penulis membatasi lokasi penelitian yaitu di Nagori/Kelurahan Saribudolok karena daerah ini dianggap mampu mewakili unit analisis penelitian yang dibutuhkan dengan penduduknya yang terdiri dari suku Batak Toba, Karo dan Simalungun dengan luas Wilayah 20,60 Km atau 13,15 %.

4.1.3. Komposisi Penduduk

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang diperoleh oleh peneliti di kantor Kelurahan Saribudolok jumlah penduduk yang terdapat di kelurahan ini berjumlah 7.692 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 1.365 kepala rumah tangga. Jumlah penduduk Kelurahan Saribudolok ini tersebar dalam beberapa lingkungan yang disebut Urung Warga. Urung Warga ini di bagi menjadi 29. untuk lebih jelasnya mengenai masalah penyebaran jumlah penduduk dalan urung warga dapat dilihat pada tabel di bawah ini;

Tabel 2

Penyebaran jumlah penduduk berdasarkan lingkungan (Urung Warga) di Kelurahan Saribudolok No Urung Warga (lingkungan) Jumlah Jiwa

1 Urung warga 001 245 orang

2 Urung warga 002 231 orang

3 Urung warga 003 157 orang

4 Urung warga 004 152 orang

5 Urung warga 005 181 orang

6 Urung warga 006 201 orang

7 Urung warga 007 157 orang

8 Urung warga 008 195 orang

9 Urung warga 009 374 orang

10 Urung warga 010 189 orang

11 Urung warga 011 189 orang

(40)

12 Urung warga 012 200 orang

13 Urung warga 013 211 orang

14 Urung warga 014 223 orang

15 Urung warga 015 235 orang

16 Urung warga 016 219 orang

17 Urung warga 017 243 orang

18 Urung warga 018 243 orang

19 Urung warga 019 311 orang

20 Urung warga 020 251 orang

21 Urung warga 021 297 orang

22 Urung warga 022 176 orang

23 Urung warga 023 187 orang

24 Urung warga 024 295 orang

25 Urung warga 025 289 orang

26 Urung warga 026 200 orang

27 Urung warga 027 351 orang

28 Urung warga 028 211 orang

29 Urung warga 029 234 orang

(Sumber: Kantor Kelurahan Saribudolok, 2007)

Berdasarkan tabel di atas kita dapat melihat dengan jelas bahwa Kelurahan Saribudolok dibagi lagi dalam 29 Urung Warga, dimana setiap Urung Warga ini diketuai oleh RT. Pembagian Kelurahan menjadi beberapa Urung Warga dimaksudkan untuk pembagian tugas yang lebih efisien dalam membantu kerja pemerintahan setempat untuk melihat kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Tugas yang paling utama setiap RT di sini juga adalah membantu pemerintahan setempat dalam mendata setiap warganya dalam membuat data statistik Kelurahan Saribudolok.

Sementara jumlah penduduk tersebut dapat diklasifikasikan atas beberapa pembagian yaitu menurut umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.

(41)

4.1.3.1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku

Mayoritas penduduk Kelurahan Saribudolok adalah Suku Simalungun. Hal ini dikarenakan yang pertama-tama menempati daerah ini adalah Suku Simalungun (penduduk asli). Akan tetapi pada masa sekarang selain penduduk asli banyak juga suku perantauan yang datang seperti, Suku Karo dan Suku Batak Toba. Untuk lebih jelasnya perbandingan daripada jumlah penduduk bedasarkan suku dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3

Perbandingan jumlah penduduk berdasarkan suku

NO Suku Jumlah jiwa Persentase

1 Simalungun 6.006 orang 78,02 %

2 Karo 914 orang 11,88 %

3 Toba 473 orang 6,15 %

4 Jawa 284 orang 3,69 %

5 China 21 orang 0,27 %

Jumlah 7692 orang 100%

(Sumber: Kantor Kelurahan Saribudolok, 2007)

Dari tabel di atas dapat dilihat, bahwa ada beberapa suku bangsa yang terdapat di daerah Saribudolok yaitu; Simalungun sebesar 78,02 %, Batak Toba 6,15 %, Karo 11,88 %, Jawa 3,69 % dan etnis China sekitar 0,27 %. Dari tabel ini kita dapat melihat bahwa suku pendatang yang paling banyak adalah suku Karo sekitar 11,88 % dibandingkan dengan pendatang Etnis Batak Toba yang hanya 6,15 % saja. Satu hal yang perlu kita ketahui banyak diantara suku Batak Toba dan Karo tidak mau disebutkan sebagai pendatang karena mereka merasa sudah bagian dari warga Saribudolok. Hal ini terjadi karena mereka sudah turun-temurun tinggal di Saribudolok atau dengan kata lain sudah lahir di Kelurahan Saribudolok.

(42)

4.1.3.2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur

Dengan memperhatikan data yang diperoleh peneliti dari data statistik dari lapangan (kantor Kelurahan Saribudolok) maka komposisi penduduk terdiri dari beberapa klasifikasi menurut umur dan kelompok tenaga kerja. Berdasarkan jumlah penduduk yang sebanyak 7.692 jiwa, maka jumlah laki-laki adalah sebesar 3.659 jiwa dan perempuan 4.033 jiwa. Berdasarkan jumlah ini jelas terlihat jumlah perbandingan antara penduduk laki-laki dengan perempuan. Dimana jumlah yang paling banyak itu adalah perempuan.

Jumlah penduduk Kelurahan Saribudolok yang dominan usia angkatan kerja yaitu, 27 tahun sampai dengan 57 tahun. Hal ini disebabkan oleh penduduk yang berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 25 (dua puluh lima tahun) masih terikat dengan pendidikan masing-masing.

Tabel 4

Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur dan Kelompok Tenaga Kerja

No Umur Laki-laki Perempuan Jumlah

1 0 – 12 bulan 65 72 137

2 1 – 4 tahun 102 115 217

3 5 – 6 tahun 205 211 416

4 7 – 12 tahun 354 365 719

5 13 – 15 tahun 517 577 1.094

6 16 – 18 tahun 429 503 932

7 19 – 25 tahun 328 375 703

8 26 – 35 tahun 496 536 1.032

9 36 – 45 tahun 457 496 953

10 46 – 50 tahun 312 378 690

11 51 – 60 tahun 247 246 493

12 61 – 75 tahun 103 98 201

13 76 tahun ke atas 45 51 96

(43)

4.1.3.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama

Kelurahan Saribudolok merupakan daerah yang penduduknya mayoritas suku Simalungun. Sejak jaman dahulu suku bangsa Simalungun itu adalah suku yang menganut Agama Kristen dan Islam. Sama halnya Suku Simalungun yang terdapat di Kelurahan Saribudolok, penduduknya menganut berbagai aliran kepercayaan baik itu agam Kristen Protestan, Khatolik, dan Islam. Tetapi berdasarkan hasil penelitian bahwa penduduk mayoritas menganut agama Kristen Protestan.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5

Jumlah Menurut Berdasarkan Agama

No Agama Jumlah Persentase

1 Katolik 3.030 39.4%

2 Protestan 4.053 52.7%

3 Islam 589 7,6%

4 Budha 21 0.3%

5 Hindu -

(Sumber: Kantor Kelurahan Saribudolok, 2007)

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa komposisi penduduk berdasarkan agama di Kelurahan Saribudolok didominasi oleh agama Kristen Protestan, yakni sebanyak 4.053 jiwa atau sekitar 52,7 %. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa yang menganut agama Kristen didominasi oleh suku Batak Toba, Karo dan Simalungun. Sementara untuk agama Islam rata-rata dianut oleh etnis Jawa sedangkan untuk Agama Budha dianut oleh etnis China. Dari data ini juga kita dapat melihat bahwa untuk agama Budha 100 % dianut oleh China dimana hal ini dapat kita lihat dari data penduduk dimana dari 21 jiwa penduduk etnis China semuanya menganut agama Budha.

(44)

4.1.3.4. Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Masyarakat Saribudolok adalah masyarakat yang sebenarnya sangat peduli terhadapa pendidikan. Akan tetapi banyak sekali anak-anak sekolah yang putus sekolah hanya samapai jenjang SMA sederajat. Hal minim ini dikarenakan faktor kemalasan khususnya untuk pemuda setempat.

Tabel 6

Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat pendidikan Jumlah

1 SD 1.381

2 SLTP 1.262

3 SLTA 1.357

4 Perguruan tinggi 519

(Sumber: Kantor Kelurahan Saribudolok, 2007)

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa komposisi penduduk berdasarkan pendidikan di Kelurahan Saribudolok sudah tergolong penduduk yang berpendidikan atau pendidikan pada masyarakat sudah mulai berkembang, berkembangnya pendidikan di daerah ini karena daerah ini sudah dekat dengan wilayah perkotaan dan didukung juga oleh sarana prsasarana dan perekonomian di Saribudolok juga sangat mendukung.

Hal ini dibuktikan banyaknya minat sekolah dari setiap keluarga untuk melanjutkan studi diluar daerah Saribudolok bukan karena tidak adanya Gedung sekolah tapi pemikiran orangtua yanmg ingin anaknya lebih baik daripada pendidikan mereka terdahulu.

4.1.3.5. Mata Pencaharian

Penduduk Kelurahan Saribudolok hidup hampir 100 % dari berladang, sebagian mata pencaharian lain seperti Guru, pegawai dan juga banyak yang berdagang.

(45)

hasil pertanian. Ini terbukti bahwa rata-rata penduduk yang menjadi pegawai baik swasta maupun negeri termasuk pedagang tetap memiliki lahan pertanian untuk dikelola.

Sebagai suatu daerah pertanian yang strategis yakni berada sekitar 1400 meter di atas permukaan laut dan ilkim yang tetap yaitu musim kemarau dan musim hujan.

Dengan perbedaan temperatur antara siang dan malam mencapai 27 – 29 0C. Lahan pertanian sangat subur untuk tanaman hortikultura dan tanaman lainnya. Tanaman yang ada di daerah ini beragam jenis diantaranya ada tanaman keras dan tanaman muda, akan tetapi tanaman muda adalah merupakan pilihan yang utama.

Alasan tanaman muda adalah sebagai tanaman utama dalam pertanian adalah pengurusannya lebih mudah dan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil lebih cepat dan yang palimg mendukung itu adalah tanahnya yang subur untuk tanaman capcay ( tanaman muda seperti sayur-mayur). Kelurahan Saribudolok ini dapat dikatakan sebagai tanah yang tergolong subur.

Tanaman muda seperti kentang, cabe, kol, tomat, sayur-mayur dan lainnya.

Sedangkan tanaman tua adalah seperti tanaman kopi, jeruk dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil-hasil tanaman inilah penduduk Kelurahan Saribudolok dapat memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan untuk makan, kebutuhan pendidikan anak dan juga pemenuhan kebutuhan hidup seperti kebutuhan barang-barang mewah dan sebagainya.

Gambar

Tabel 8  Sarana Kesehatan
Tabel 9  Sarana Ibadah

Referensi

Dokumen terkait

Hasil wawancara yang dilakukan dengan dua orang dukun/ tabib kampung diketahui, terdapat 67 jenis dari 39 famili tumbuhan herba yang dimanfaatkan oleh masyarakat Karo di Desa

1. Persepsi akan kongruensi budaya memiliki hubungan yang signifikan dengan intergroup contact yang dilakukan oleh individu-individu yang berasal dari kelompok

sukunya. Namun saat ini banyak suku Batak Toba yang menikah dengan suku lain. “Ya kalau memang sudah tekad menikah, harus dilaksanakan adat bataknya. Mau tidak mau harus pakai

P: Hilangnya sesuatu hal dalam proses pernikahan adat Batak Toba juga menghilangkan nilai budaya pernikahan adat Batak Toba itu sendiri, menurut anda apa yang dapat

Tingginya minat masyarakat untuk mencari informasi tentang visi dan misi yang ditawarkan oleh pasangan calon dapat dilihat dari jawaban responden yaitu sebanyak 45 orang atau

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara umum perilaku politik dari etnis Batak Toba dalam hubungannya dengan preferensi calon Kepala Daerahnya

Skripsi yang disampaikan oleh penulis dengan judul “Adaptasi Dalam Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Pada Masyarakat Pendatang dari suku-suku di Flores, di Desa

Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan dapat di katakan bahwa perkembangan hukum waris islam pada masyarakat suku karo muslim tidak dipengaruhi oleh pengetahuan