PENDAHULUAN
Latar Belakang
Suku Pattinjo adalah suku yang berada di daerah, kecamatan Ulusaddang Lembang Pinrang, Kabupaten Pinrang bagian utara. Penelitian Adaptasi Sosial Budaya Suku Pattinjo Pada Masyarakat Bugis di Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.
Rumusan Masalah
Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian saya sendiri adalah penelitian ini membahas tentang interaksi sosial dan adaptasi budaya asing dengan masyarakat lokal. Kesamaan dari penelitian ini adalah sama-sama menyajikan titik fokus penelitian tentang Adaptasi dan saling menghargai serta menjaga eksistensi budaya masing-masing.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Adaptasi Sosial Budaya Suku Pattinjo Pada Persatuan Suku Bugis Di Desa Ulu Saddang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang”. Untuk mengetahui pola adaptasi sosial budaya suku Pattinjo pada masyarakat Bugis di Desa Ulusaddang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.
Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji atau mengetahui sejauh mana pola adaptasi sosial budaya suku Pattinjo terhadap masyarakat Bugis. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada adaptasi sosial budaya suku Pattinjo dengan suku Bugis.
Definisi Operasional
TINJAUAN PUSTAKA
Kajian Konsep
Menurut fenomena yang akan dikaji lebih mendalam oleh peneliti terkait adaptasi sosial budaya suku Pattinjo dengan masyarakat Bugis. Seperti yang disebutkan salah satu informan suku Pattinjo, cara mereka beradaptasi di desa Ulu Saddang adalah sebagai berikut.
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
- Jenis dan Ppendekatan Penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Fokus Penelirian
- Informan Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Teknik Keabsahan Data
- Etika Penelitian
Desa Ulusaddang Kecamatan Lembang yang terletak di Kabupaten Pinrang dikenal dengan suku Pattinjo yang sebenarnya lebih dekat dengan budaya masyarakat Toraja. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu suku Pattinjo tentang bagaimana mereka melestarikan budaya yang mereka anut selama ini di tengah perbedaan berikut. Faktor utama yang mendorong masyarakat Pattinjo datang ke Desa Ulu Saddang tempat mereka tinggal sekarang adalah sejak lama.
Dikutip dari hasil wawancara dengan salah seorang anggota suku Pattinjo yang dianggap sesepuh di desa Ulu saddang, beliau mengutarakan pendapatnya sebagai berikut. Dari hasil wawancara tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan oleh informan sebelumnya bahwa adaptasi sosial budaya suku Pattinjo mereka berpihak membawa ke lingkungan baru yang mereka tinggali dengan tata cara yang sudah ada di desa Ulu. Saddang mengenai kegiatan budaya yang dilakukannya, ikut serta dalam perayaan tersebut. Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat bagaimana masyarakat suku Pattinjo mempertahankan eksistensi sosial budayanya di tengah masyarakat Bugis yang kebetulan merupakan penduduk lokal Desa Ulusaddang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.
Dalam hal cara atau pola adaptasi, masyarakat suku Pattinjo menerapkan hal tersebut meski dengan perbedaan yang ada di antara mereka.
GAMBARAN LOKASI PENELITIAN
Deskripsi Umum Kabupaten Pinrang Sebagai Daerah Penelitian
Hal ini kemudian dibahas dalam simposium yang diadakan oleh sekelompok pemuda, khususnya KPMP Kabupaten Pinrang, dan diteruskan ke DPRD untuk dituangkan dalam PERDA tersendiri. Wilayah Pinrang memiliki garis pantai sepanjang 93 km, sehingga terdapat areal budidaya ikan di sepanjang pantai, di dataran rendah yang didominasi oleh persawahan, bahkan sampai ke perbukitan dan pegunungan. Kondisi tersebut mendukung Kabupaten Pinrang sebagai daerah potensial untuk sektor pertanian dan memungkinkan pengembangan berbagai produk pertanian (tanaman pangan, perikanan, perkebunan dan peternakan).
Kondisi topologi Kabupaten Pinrang memiliki kisaran yang cukup luas, mulai dari dataran dengan ketinggian 0 m dpl hingga dataran dengan ketinggian lebih dari 1000 m dpl. Sedangkan Sungai Saddang digunakan untuk irigasi pertanian dengan sejumlah pelayanan selain Kabupaten Pinrang yang juga melayani Kabupaten Sidrap. Daerah yang dihuni oleh masyarakat yang peduli, cerdas dan kreatif dalam berpikir dan merencanakan pembangunan suatu daerah secara sistematis hingga tahap pelaksanaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai suatu budaya dapat menciptakan keharmonisan penduduk di suatu daerah.
Hasil SP 2020 dan SP 2010 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk Kabupaten Pinrang sebanyak 52.876 jiwa atau rata-rata 5.287 jiwa setiap tahunnya.
Kondisi Umum Desa Ulu Saddang
Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan salah satu anggota suku Pattinjo, dapat kita lihat seberapa tinggi toleransi dan rasa hormat mereka, seperti juga diungkapkan oleh informan selanjutnya. Salah satu alasan masyarakat suku Pattinjo pindah ke Desa Ulu Saddang adalah karena tekanan hidup yang mereka hadapi serta situasi dan kondisi yang ada juga mengharuskan mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk hidup bertahan hidup di desa tersebut. situasi dan kondisi yang tidak pasti pada saat itu. Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dengan salah satu anggota suku Pattinjo, dapat kita lihat bahwa komunikasi itu penting, seperti yang juga diungkapkan oleh informan berikut ini; yake yaku sa dikitai barami situasi pertama menyapa dan membangun suasana yang baik di kota ini, bergaul dengan mereka juga memahami dan memahami sosial budaya masyarakat setempat".
Melihat bagaimana suatu kebudayaan masih bertahan di masyarakat saat ini membuktikan bahwa keberadaan suatu kebudayaan tetap diperlukan bagi masyarakat suku Pattinjo. Penjelasan teori ini sesuai dengan kondisi masyarakat Desa Ulu Saddang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang. karena masyarakat disana mengakui adanya suatu budaya dan dapat mempererat solidaritas dalam komunitas etnis Pattinjo dan Bugis, sehingga selama masih ada nilai-nilai budaya tersebut tetap dilaksanakan dan dipertunjukkan dalam masyarakat sesuai dengan pemahaman dan kepercayaan masing-masing suku bangsa. Namun sejauh ini mereka mampu bertahan.Dari sudut pandang yang berbeda, pola adaptasi sosial budaya ini lebih menekankan pada dua obyek yang menjadi sasaran, yaitu suku Pattinjo dan suku Bugis.
Melihat kondisi yang terjadi pada masyarakat suku Pattinjo, struktur fungsional yang dipopulerkan oleh Talcot Parson (Ritzer, 2012;') menyatakan bahwa struktur fungsional yang dipahami mengandung empat unsur, yaitu: 1) Adaptasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hidup di tengah perbedaan bahasa dan budaya sudah biasa, dalam situasi seperti ini prioritas harus diberikan untuk bertahan dan melestarikan budaya yang telah lama dianut di lingkungan baru untuk hidup dengan beradaptasi dengan masyarakat setempat. Hal penting yang dapat dipetik dari penjelasan narasumber ini adalah meskipun berbeda adat dan tinggal dalam satu wilayah yang sama, terlihat dari masyarakat suku Pattinjo yang saling menghargai dan menghargai satu sama lain semakin kokoh dalam kehidupannya. Dari keterangan para informan tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa memang pada zaman dahulu kala ada masa-masa yang sangat tidak pasti dimana mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi mendapatkan kehidupan yang layak dan. nyaman mengingat saat itu masih dalam suasana masa penjajahan yang dikuasai negara asing.
Mengenai penjelasan para informan ini tidak jauh berbeda dengan informan sebelumnya yaitu sebagai pendatang mereka tetap berusaha menjalankan tradisi budayanya dengan catatan apa yang mereka lakukan tidak mengganggu dan mengganggu satu sama lain, masih seputar tradisi yang mereka bawa. keluar meskipun mereka harus berhati-hati dan mematuhi norma, norma dan menghormati tradisi masyarakat setempat di kota. maka ungkapan salah satu informan tentang bagaimana mempertahankan eksistensi budaya suku pattinjo mereka di Desa Ulu Saddang adalah sebagai berikut :. bagi saya dengan selalu memperkenalkan kepada mereka bahwa kita juga memiliki budaya yang harus ada dan dipertahankan dengan melakukan ritual yang tidak melanggar aturan di desa yang telah ditetapkan oleh tetua desa. Dari penjelasan informan ini, dapat kita pahami bahwa sesuatu yang mereka anggap sakral masih tetap bertahan dan tetap ada pada waktu-waktu tertentu, seperti upacara kematian yang dilakukan pihak keluarga sebagai tanda penghormatan terakhir kepada salah satu keluarga yang meninggal dunia tersebut. Pertama. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan salah satu anggota suku Pattinjo, dapat kita lihat bahwa komunikasi itu penting, seperti juga diungkapkan oleh informan berikut ini.
Kesimpulan yang dapat diambil dari wawancara kedua adalah masyarakat Pattinjo yang berada di lingkungan yang bertetangga memiliki sikap saling menghargai dan toleransi yang baik serta menjaga norma sosial budaya yang tinggi serta rasa kekeluargaan yang kuat.
Pembahasan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari wawancara kedua adalah bahwa masyarakat Pattinjo di lingkungan yang bertetangga memiliki sikap saling menghargai dan toleransi yang baik serta menjunjung tinggi standar sosial budaya dan rasa kekeluargaan yang kuat. keyakinan, kesenian, moral, hukum, dan segala kemampuan yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Durkeim, ketika individu berpartisipasi dalam ritual budaya tertentu, berarti individu berpartisipasi dalam menegaskan dan mengakui keberadaan budaya tersebut. sehingga keberadaan budaya ini semakin kuat dan pada akhirnya memperkokoh solidaritas antar kelompok seperti suku Pattinjo dan suku Bugis. Mengenai budaya Mappabongain, Maroddo, Mabarasanji diyakini dan diyakini serta dipraktekkan oleh sebagian besar suku Pattinjo. Sementara sebagian lainnya adalah orang Bugis yang juga memiliki kepercayaan dan budaya, bukan berarti ada konflik di antara mereka, justru hal ini berkontribusi pada bagaimana saling menghormati satu sama lain dan integritas tetap terjaga dan seiring berkembangnya teknologi, struktur dan fungsinya. budaya suku Pattinjo masih ada.
Perilaku yang ditunjukkan oleh masyarakat Patinjo menunjukkan bahwa mereka memiliki cara tersendiri untuk beradaptasi dan berbaur dengan lingkungan tempat tinggal mereka saat ini, terlihat dari pemaparan informan yang peneliti ambil. Kondisi kehidupan dan keberadaan sosial budaya masyarakat suku Pattinjo terlihat baik, hal ini ditandai dengan pola hidup yang saling menghargai, model adaptasi yang diterapkan oleh masyarakat suku Pattinjo dengan penerapan model adaptasi yang demokratis, selain itu model komunikasi yang diterapkan cukup baik, hal ini terlihat dari komunikasi yang terus dilakukan oleh masyarakat suku Pattinjo dan model komunikasi dalam lingkungan berjalan lancar, kondisi keberadaan sosial budaya. budaya tersebut tetap berjalan baik dengan norma-norma yang berlaku di desa Ulu Saddang. Perilaku adaptasi sosial budaya masyarakat suku Pattinjo dalam lingkungan keluarga terlihat baik, anak-anak menunjukkan sikap yang ramah dan berbaur dengan masyarakat setempat, meskipun perbedaan budaya yang ada tidak menjadi halangan bagi mereka untuk hidup rukun meskipun selama ini masyarakat suku Pattin masih diakui sebagai bagian dari suku Bugis itu sendiri.
Yusi Prasiwi, Susandari, 2014 “Studi deskriptif penyesuaian sosial budaya dan psikologis mahasiswa etnis Minang dan Batak di Bandung”.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Saran
Ela Rahmawati, 2018 “Penyesuaian Sosial Budaya Suku Sunda di Desa Polo Lereng Kecamatan Pangale Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat”. Mirna, Karmilawati, Marlika, Nuralisa, 2018 “Bahasa Pattinjo dan Bahasa Bugis di Pinrang Kabupaten Pinrang Bagian Utara”. Rachmat Indryanto, 2016 “Penyesuaian Sosial Etnis Jawa Dalam Masyarakat di Desa Sumpang Binangae Kec.Barru Kab.
Sulung Siti Hanum, 2010 “Elemen sosial budaya Minangkabau dalam novel negara kelima oleh E.S. Metode penelitian kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabetah Ulfiani Rahma, 2016 “Massompa, Kajian Orang Kassa di Malaysia Timur”.