Ali Nurdin, S.Kom.
PEDOMAN PENULISAN
JURNAL ILMIAH MAHASISWA
AGROINFO GALUH
1. Naskah yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh adalah tulisan yang belum dipublikasikan .
2. Naskah yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh meliputi tulisan tentang hasil penelitian atau hasil pemikiran dan informasi lain yang bersifat ilmiah yang berkaitan dengan bidang pertanian.
3. Naskah berisi :
a. Judul : ringkas dan menggambarkan isi naskah secara jelas, terdiri atas 15-25 kata.
b. Nama Penulis (Biodata penulis dicantumkan di akhir tulisan)
c. Abstrak ditulis dalam satu sepasi, terdiri atas 200-250 kata, ditik menggunakan huruf Times new roman, Font 11 Italic dan ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Abstrak merangkum secara singkat dan jelas tentang tujuan penelitian, metode, intisari penelitian dan simpulan.
d. Kata Kunci mengandung kata yang diindekskan.
e. Sistematika isi terdiri atas pendahuluan, Kajian teori, metode, pembahasan, simpulan, dan daftar pustaka.
4. Naskah ditik dengan 1 spasi diatas kertas A4, Menggunakan huruf Times new roman, font 10, berkisar antara 15-20 halaman margin kiri 3,5 cm, margin atas 3 cm, margin kanan 3,5 cm, margin bawah 3 cm.
5. Naskah ditik menggunakan bahasa Indonesia baku atau bahasa Inggris.
6. Daftar pustaka disusun secara alfabet berisi nama pengarang, tahun, judul, kota penerbitan, dan penerbit.
7. Isi tulisan diluar tanggung jawab redaksi. Redaksi dapat memperbaiki tulisan yang akan dimuat tanpa mengubah isi dan maksud tulisan tersebut.
8. Naskah disertai softcopy dalam .doc atau .docx dikirim ke Redaksi Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh.
Alamat Redaksi :
Fakultas Pertanian Universitas Galuh
JL. R.E. Martadinata No. 150. Telp. (0265) 2754011 Ciamis email : [email protected]
JURNAL ILMIAH MAHASISWA
AGROINFO GALUH
E-ISSN 2579-8359 P-ISSN 2356-4903 Volume 7 No 1, Januari 2020
Dewan redaksi Jurnal Mahasiswa Agroinfo Galuh mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyusun artikel Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 7 Nomor 1 Januari 2020 pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Galuh.
Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Nomor : 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 perihal Publikasi Karya Ilmiah, dinyatakan bahwa mulai kelulusan setelah bulan Agustus 2012 diberlakuakan ketentuan bahwa untuk lulusan program Sarjana (S1) harus telah menghasilkan karya ilmiah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah ini disusun untuk memenuhi ketentuan dimaksud, dengan demikian diharapkan mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tinggianya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan jurnal ilmiah ini. Semoga Allah SWT. Selalu memberikan bimbingan dan kekuatan pada kita. Amin.
Ciamis, Januari 2020 Pimpinan Redaksi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA
AGROINFO GALUH
E-ISSN 2579-8359 P-ISSN 2356-4903 Volume 7 No 1, Januari 2020
DAFTAR ISI
ANALISIS PENDAPATAN AGROINDUSTRI NATA DE COCO (Studi kasus di Desa Bojongmengger Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis)
dudi dudi, Dani Lukman Hakim, Sudrajat Sudrajat 1-6 ANALISIS SALURAN PEMASARAN PEPAYA CALIFORNIA (Suatu Kasus di Desa Sukajaya Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis) Hadi Permana, Trisna Insan Noor, Agus Yuniawan Isyanto 7-13 ANALISIS PERBANDINGAN RISIKO USAHATANI PADI SAWAH DAN PADI RAWA (Suatu Kasus Di Desa Sukanagara Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis).
meiza magfira, Trisna Insan Noor, Dani Lukman Hakim 14-27 Analisis Biaya Pendapatan Dan R/C Agroindustri Keripik Pisang (Studi Kasus Pada Perajin Keripik Pisang Di Desa Parigi Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran)
Ayu Agustin, Agus Yuniawan Isyanto, budi setia 28-33 ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI JAMUR TIRAM PUTIH DAN COKLAT DI DESA SUKAMULYA KECAMATAN BAREGBEG KABUPATEN CIAMIS nelis marlina solihat, Trisna Insan Noor, Budi Setia 34-44 ANALISIS USAHATANI MINAPADI (Studi Kasus pada Kelompok Tani Fajar Jayamukti di Desa Jayamukti Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya)
Heri Mulyadi, Dini Rochdiani, Dani Lukman Hakim 45-55 TINGKAT PARTISIPASI ANGGOTA DALAM PROGRAM OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN MELALUI KONSEP KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (Studi Kasus di KWT Mekarwangi Desa Mekarmulya Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis) Bayu Rohmatulloh, Dini Rochdiani, Sudradjat Sudradjat 55-66
ANALISIS SALURAN PEMASARAN JAMUR TIRAM PUTIH (Studi Kasus di Desa Rajadesa Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis) Ahmad Fauzan, Dini Rochdiani, Sudradjat Sudradjat 78-83 ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI PADI JAJAR LEGOWO DAN KONVENSIONAL (Suatu Kasus pada Kelompok Tani Cidadap di Desa Cidadap Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya) Depi Irawan, Dani Lukman Hakim, Trisna Insan Noor 84-96 Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Padi (Studi Kasus di Desa Selasari Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran) aden bayu raspati, Muhamad Nurdin Yusuf, Dani Lukman Hakim 97-111 ANALISIS BIAYA, PENERIMAAN, PENDAPATAN DAN R/C USAHATANI CABAI MERAH BESAR (Capsicum annum L.) (Studi Kasus pada Kelompok Tani Gunung Sari di Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis)
Nurlina Nurlina, Dini Rochdiani, Agus Yuniawan Isyanto 112-115 Daya Saing Berkelanjutan Produk Agroindustri Jus Honje ( Studi Kasus Pada Agroindustri HOLA Juice Desa Karangbenda Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran) ruswana wana, Sudrajat Sudrajat, Iwan Setiawan 116-133 Analisis Kelayakan Agroindustri Keripik Kelapa (Studi Kasus Pada PT. Dinaya Sambiana Loemintoe di Dusun Cikoranji Desa Cimindi Kecamatan Cigugur Kabupaten Pangandaran) dede heri guntara, Budi Setia, Sudrajat Sudrajat 134-141 STRATEGI PENGEMBANGAN PADI ORGANIK (Studi Kasus pada Kelompok Tani Putra Mandiri di Desa Linggaraja Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya)
Virga Gumilar, Sudrajat Sudrajat, Budi Setia 142-155 ANALISIS USAHATANI KOMODITAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea) (Suatu Kasus di Desa Kertajaya Kecamatan Mangunjaya Kabupaten Pangandaran)
Maharresti Aziziah, Trisna Insan Noor, Sudrajat Sudrajat 156-159 ANALISIS PERBEDAAN PENDAPATAN PADA USAHATANI PADI SAWAH DAN PADI RAWA (Suatu Kasus di Desa Sukanagara Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis) Wiwit Asriani, Trisna Insan Noor, Agus Yuniawan Isyanto 160-165
JARINGAN KOMUNIKASI PEMASARAN BERAS (Studi Kasus pada CV Jembar Rahayu di Desa Sukamantri Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya)
dian nurdiana, Iwan Setiawan, Agus Yuniawan Isyanto 166-176 ANALISIS BIAYA, PENDAPATAN, DAN R/C PADA USAHATANI KACANG HIJAU (Studi Kasus di Desa Kertajaya Kecamatan Mangunjaya Kabupaten Pangandaran) Dika Arfah, Dini Rochdiani, Agus Yuniawan Isyanto 177-181 KERAGAAN AGROINDUSTRI KELAPA PARUT KERING ( DESICCATED COCONUT ) (Studi Kasus Pada Agroindustri Kelapa Parut Kering di Desa Cidadali Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya) ARIF BAHTIAR, Trisna Insan Noor, Budi Setia 182-190 ANALISIS TITIK IMPAS USAHATANI CABAI RAWIT (Studi Kasus pada Kelompok Tani Gunung Sari di Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis) dendi ruswendi, Dini Rochdiani, Budi Setia 191-198 ANALISIS USAHATANI KOMODITAS KACANG KEDELAI (Glycine max) (Suatu Kasus di Desa Kertajaya Kecamatan Mangunjaya Kabupaten Pangandaran)
Siva Faujiah, Dini Rochdiani, Budi Setia 204-210 Analisis Usahatani Sayuran Organik (Studi Kasus di Desa Selacai Kecamatan Cipaku Kabupaten Ciamis) Aditya Permana Rahman, Dini Rochdiani, Budi Setia 211-218 EFISIENSI PEMASARAN KERIPIK KELAPA (Studi Kasus pada PT. Dinaya Sambiana Loemintoe di Dusun Cikoranji Desa Cimindi Kecamatan Cigugur Kabupaten Pangandaran) Dewi Permatasari, Budi Setia, Sudrajat Sudrajat 219-229 SALURAN PEMASARAN SERUNDENG (Studi Kasus pada PT. Dinaya Sambiana Loemintoe di Dusun Cikoranji Desa Cimindi Kecamatan Cigugur Kabupaten Pangandaran) Susilawati Susilawati, Budi Setia, Dani Lukman Hakim 230-236 Analisis Biaya, Pendapatan Dan R/C Agroindustri Tahu Di Desa Cidadap Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis Agna Wahyu Maulana, Dini Rochdiani, Sudrajat Sudrajat 237-243
ANALISIS SALURAN PEMASARAN JAGUNG HIBRIDA VARIETAS BISI 2 (Zea mays Linn) (Suatu Kasus di Desa Handapherang Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis) fadiel permadi gojali, Muhamad Nurdin Yusuf, Dani Lukman Hakim 244-249 Saluran Dan Marjin Pemasaran Mentimun (Studi Kasus di Desa Sidamulya Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap)) Roni Vona Aghfian, Agus Yuniawan Isyanto, Sudrajat Sudrajat 250-258 KAJIAN PROSES PENGERINGAN PEMBUSAAN TOMAT APEL (Lycopersicum pyriforme) DENGAN FOAM-MAT DRYING BERBANTU OVEN GELOMBANG MIKRO Nedia Cahyati Muchtarina, Asri Widyasanti, Sarifah Nurjanah 259-271 MANFAAT INTERNET MARKETING DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN UMKM PUREE MANGGA (Studi Kasus pada CV. Promindo Utama di Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon)
Rahyan Arfi Mubarak, Lies Sulistyowati 272-287 DESKRIPSI PROFIL WARUNG KOPI KIWARI DAN KARAKTERISTIK KONSUMENNYA YANG MENGONSUMSI KOPI ARABIKA MANGLAYANG KARLINA Muhammad Fadli, Kuswarini Kusno 288-300
166
JARINGAN KOMUNIKASI PEMASARAN BERAS (Studi Kasus pada CV Jembar Rahayu di Desa Sukamantri
Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya)
RICE MARKETING COMMUNICATION NETWORK (Case Study on CV Jembar Rahayu in Sukamantri Village
Ciawi Sub-District Tasikmalaya District)
DIAN NURDIANA1*, IWAN SETIAWAN2, AGUS YUNIAWAN ISYANTO1
1Fakultas Pertanian Universitas Galuh
2Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran
*Email: [email protected]
ABSTRAK
CV Jembar Rahayu merupakan pabrik beras yang besar di Desa Sukamntri yang sudah berdiri sejak tahun 1987 dan masih aktif berproduksi dan memasarkan beras hingga saat ini. Pemasaran beras CV Jembar Rahayu dilakukan sampai ke daerah Bandung yang dilakukan secara rutin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Jumlah saluran pemasaran CV Jembar Rahayu di Desa Sukamantri Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya; (2) Jaringan pemasaran beras yang terbentuk pada CV Jembar Rahayu di Desa Sukamantri Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya, serta; (3) Proses komunikasi yang dilakukan oleh produsen maupun konsumen untuk mengetahui harga beras di pasaran. Penelitian ini dilakukan di Desa Sukamantri dan Bandung dari bulan April sampai Agustus 2019. Penelitian ini didesain secara kualitatif dengan metode studi kasus dan pengambilan data dengan cara wawancara terhadap informan yang dipilih secara purposive sampling. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Diketahui bahwa terdapat dua jenis saluran pemasaran yang terbentuk, produsen-pengepul-konsumen, dan produsen-pengepul-pengecer- konsumen; (2) Jaringan pemasaran terbentuk dari hasil turun temurun dan juga perluasan pasar yang diupayakan; (3) diketahui cara berkomunikasi yang dilakukan yaitu dengan cara bertatap muka langsung atau melalui media komunikasi.
Kata Kunci: Jaringan Pemasaran, Komunikasi Pemasaran, Beras
ABSTRACT
CV Jembar Rahayu is a large rice factory in Sukamntri Village, which has been established since 1987 and is still actively producing and marketing rice to this day. CV Jembar Rahayu rice marketing is carried out to the Bandung area which is done routinely. The purpose of this study was: (1) Determine the number of marketing channels CV Jembar Rahayu in Sukamantri Village, Ciawi Sub-District, Tasikmalaya District, to know the rice marketing network formed at CV Jembar Rahayu in Sukamantri Village, Ciawi Sub-District, Tasikmalaya District; (2) to know the communication process carried out by producers and; (3) consumers to determine prices rice on the market. This research was conducted in the villages of Sukamntri and Bandung from April to August 2019. The research was conducted qualitatively with a case study method and data collection by interviewing informants chosen purposively. The results of this study are known that:
(1) There are two types of marketing channels formed, namely producer-wholesalers-consumer, and producer-wholesalers-retailer-consumer; (2) the marketing network is formed from hereditary results and also; (3) the expansion of the market sought, as well as known ways of communicating that is done by means of face to face or through communication media.
Keywords: Network Marketing, Marketing Communication, Rice
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
167 PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan pangan sumber karbohidrat seperti singkong, jagung, talas, sagu, kentang, beras dan umbi-umbian lainnya, meskipun demikian beras menjadi sumber karbohidrat yang sering dikonsumsi sebagian besar mayarakat Indonesia.
Konsumen beras di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Ketergantungan masyarakat Indonesia yang sangat tinggi terhadap beras akan menjadi masalah jika ketersediaan beras sudah tidak tercukupi.
Hal inilah yang dapat mengganggu ketahanan pangan nasional. Dihitung dari tingkat konsumsi beras perkapita, data menunjukkan pada tahun 2017 konsumsi beras di Indonesia sebesar 114,6 kg/kapita per tahun (Badan Pusat Statistik, 2018).
Desa Sukamantri merupakan salah satu desa penghasil beras di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Pada umumnya petani Desa Sukamantri menggunakan sistem irigasi atau padi sawah untuk produksi padinya.
Desa Sukamantri memiliki beberapa pabrik yang memproduksi dan memasarkan produknya hingga luar daerah. Menurut data Balai Penyuluhan
Pertanian (BPP) Kecamatan Ciawi (2018), Desa Sukamantri memiliki luas lahan sawah 121 hektar dan memiliki produktivitas lahan 69,1 kuintal padi per hektar. Jika dihitung total produksi padi sawah di Desa Sukamantri menghasilkan 8.361,1 ton padi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini didesain secara kualitatif dengan metode studi kasus.
Desain kualitatif lebih berdasarkan kepada filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan. Penelitian metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif memperhatikan kepada prosesnya disamping hasilnya, berorientasi kepada pemaknaan (meaning) tentang rasa kehidupan dan pengalaman serta strukturnya juga akan mendeskripsikan proses dan pemaknaan (Munandar, 2004).
Metode studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu penyimpanan dokumen atau peristiwa tertentu (Bogdan dan Biklen 1982).
Sedangkan menurut Ary, Jacobs, dan Rajavieh (1985) menjelaskan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalam. Para peneliti berusaha
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
168 menemukan semua variabel yang penting.
HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Responden
Pengambilan data informan dilakukan dengan metode wawancara terhadap para informan untuk mendapatkan data penelitian yang dibutuhkan. Pemilihan informan seluruhnya dilakukan dengan cara purposive sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel dengan sengaja atau menunjuk diantara anggota populasi untuk menjadi sampel sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Informan dalam penelitian ini terdiri atas 10 orang yang merupakan pihak-pihak yang berkaitan dengan proses pemasaran beras yang berasal dari CV Jembar Rahayu di Desa Sukamantri.
Informan tersebut terdiri atas satu orang pemilik pabrik/produsen, dua orang pedagang besar, dua orang pengecer, empat orang konsumen akhir dan satu orang dari pihak pemerintahan setempat setingkat desa sebagai informan tambahan.
CV Jembar Rahayu merupakan peran utama dalam penelitian ini, sehingga informan dari pihak perusahaan dipilih. Informan tersebut adalah (NA, 42
tahun) sebagai pemilik perusahaan, dari pihak pedagang besar yaitu (AS, 45 tahun) dan (MM, 35 tahun). Kedua informan dari pihak pedagang besar itu dipilih karena merupakan tujuan pengiriman terdekat dan terjauh, serta target pasar yang berlainan, lalu dari pihak pengecer adalah (WL, 38 tahun) dan (ET, 40 tahun). Kedua informan tersebut dipilih karena merupakan pengecer yang membeli terbanyak dari AS dan MM, dan yang terakhir adalah (LH, 28 tahun) dan (SO, 19 tahun) yang merupakan konsumen akhir dari AS, serta (FZ, 52 tahun) dan (RA, 26 tahun) merupakan konsumen akhir dari MM, dipilih karena kebetulan konsumen tersebut berbelanja ke toko tersebut.
Informan yaitu dari 19 tahun sampai 55 tahun, dari usia tersebut terlihat rata-ratainforman merupakan usia produktif. Hal tersebut sesuai dengan Pusat Badan Statistik (2018) yang menyatakan bahwa kelompok usia produktif adalah mereka yang berada dalam rentang usia 15 tahun sampai 64 tahun.
Produksi CV Jembar Rahayu
Terdapat tiga jenis harga berdasarkan kualitas yang diproduksi CV Jembar Rahayu, antara lain:
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
169 1. Jenis Premium
Jenis premium adalah beras yang digiling atau di poles beberapa kali dari bahan baku padiyang dicampur dengan beras jadi dari pabrik lain dengan perbandingan 80% bahan baku padi, 20%
beras campuran, dengan harga jual Rp 10.000/kg.
2. Jenis Medium
Jenis medium adalah beras yang digiling atau di poles beberapa kali dari bahan baku padiyang dicampur dengan beras jadi dari pabrik lain dengan perbandingan 50% dari bahan baku padi, 50% beras campuran, dengan harga jual Rp 8.700/kg.
3. Jenis Pandan Wangi
Jenis pandan wangi adalah beras yang memiliki aroma khas pandan karena itulah beras ini disebut beras pandan wangi. Jenis pandan wangi adalah beras yang digiling atau di poles beberapa kali dari bahan baku padi pandan wangi tanpa campuran beras lain, dengan harga jual Rp 11.000/kg.
Setiap pemesanan oleh pelanggan, terdapat beberapa jenis permintaan dalam sekali pengiriman, diantaranya: (1) seluruhnya memesan salah satu jenis,
jenis premium, medium atau pandan wangi; (2) separuh jenis premium dan separuhnya jenis medium; (3) memesan secara campur dari jenis premium, medium dan pandan wangi. Untuk pemesanan jenis pandan wangi, akan memakan waktu lebih lama sebelum pengiriman, dikarenakan bahan baku yang langka, jika pun ada kuantitasnya tersedia sedikit.
Jumlah Saluran yang Ada pada Pabrik Beras di CV Jembar Rahayu di Desa Sukamantri
Saluran pemasaran adalah jalan atau rute sebuah produk sebelum akhirnya diterima oleh konsumen akhir, dari hasil penelitian yang dilakukan, saluran pemasaran beras yang terbentuk di CV Jembar Rahayu, rata-rata terdiri atas dua saluran, pertama yaitu produsen – pedagang besar – konsumen akhir, dan saluran yang kedua yaitu produsen – pedagang besar – pengecer – konsumen akhir.
a. Saluran Pertama
Saluran pertama merupakan saluran yang melalui satu perantara dari produsen sebelum sampai ke konsumen akhir.
Sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Bagan Saluran Pertama
Konsumen Akhir
Produsen Pedagang Besar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
170 Dari bagan saluran pertama, yang menjadi perantara adalah para pedagang besar yang menjual langsung kepada konsumen akhir. Konsumen akhir biasanya datang langsung ke tempat
pedagang besar tetapi bisa juga diantar oleh pedagang besar apabila pembelian dalam jumlah banyak. Marjin dari saluran pertama dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Marjin Antara Harga Jual pada Saluran Pertama
No Jenis Beras Harga Produsen/kg Harga Pedagang Besar/kg Marjin Produsen dan Pedagang Besar
1. Premium Rp 10.000 Rp 10.500 Rp 500
2. Medium Rp 8.700 Rp 9.500 Rp 800
3. Pandan Wangi Rp 11.000 Rp 13.500 Rp 2.500
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian
Tabel 1 menunjukkan, marjin harga dari produsen ke pedagang besar untuk jenis premium adalah Rp 500, jenis medium Rp 800, dan pandan wangi Rp 2.500 untuk setiap kg penjualan. Nilai marjin paling besar adalah dari pandan wangi, dengan marjin Rp 2.500 karena
stok yang terbatas sehingga pedagang besar menaikkan harganya lebih tinggi, sedangkan nilai marjin paling kecil adalah jenis premium karena rata-rata jenis medium lebih laku sehingga penjual lebih meningkatkan harga jual jenis medium dari pada jenis premium.
b. Saluran Kedua
Saluran kedua merupakan saluran yang melalui dua perantara, dari
produsen sebelum sampai ke konsumen akhir, sebagai mana terlihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Bagan Saluran Kedua
Dari bagan di atas, saluran kedua yang menjadi perantara adalah para pedagang besar menjual kepada para pengecer sebelum akhirnya dijual ke konsumen akhir. Pengecer membeli dari pedagang besar dengan jumlah yang sedang, lalu dijual kembali kepada konsumen akhir dengan jumlah
pembelian yang sedikit. Seleruh pengecer berasal dari daerah yang sama dengan pedagang besar. Keadaan ini disebabkan oleh faktor biaya pemasaran yang dapat ditekan oleh biaya transportasi, karena jumah pembelian dalam jumlah sedang sampai sedikit. Harga ongkos kirim berkisar antara Rp 40.000 sampai Rp
Produsen Pedagang Besar Pengecer Konsumen
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
171 50.000, tergantung jarak pengiriman, harga tersebut sudah termasuk biaya kuli untuk mengankut beras. Hal tersebut disampaikan oleh Metcalf (1991), yang berpendapat bahwa semakin banyak produk yang dipesan, maka semakin murah biaya pemasarannya.
Terdapat tiga jenis harga berdasarkan kualitas seperti jenis premium, medium dan pandan wangi serta marjin dari setiap jenis, sebagaimana terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Marjin Antara Harga Jual pada Saluran Kedua No Jenis Beras Harga
Produsen
Harga Pedagang Besar
Harga Pengecer
Marjin Pedagang Besar dan Pengecer
Marjin Produsen dan Pengecer 1. Premium Rp 10.000 Rp 10.500 Rp 11.500 Rp 1.000 Rp 1.500
2. Medium Rp 8.700 Rp 9.500 Rp 10.500 Rp 1.000 Rp 1.800
3. Pandan Wangi
Rp 11.000 Rp 13.500 Rp 15.000 Rp 2.500 Rp 4.000
Berdasarkan Tabel 2, marjin harga dari pedagang besar ke pengecer untuk jenis premium adalah Rp 1.000, jenis medium Rp 1.000, dan pandan wangi Rp 2.500 untuk setiap kg penjualan, sementara marjin dari produsen ke konsumen untuk jenis premium Rp 1.500, jenis medium Rp 1.800, dan jenis pandan wangi Rp 4.000. Nilai marjin yang paling besar antara pedagang besar dan pengecer serta produsen ke pengecer adalah dari pandan wangi, dengan marjin Rp 2.500 dan Rp 4.000 karena stok yang terbatas sehingga penjual menaikkan harganya lebih tinggi, sedangkan nilai marjin paling kecil antara pedagang besar dan pengecer adalah jenis premium dan medium, sedangkan nilai marjin paling kecil antara produsen ke pengecer adalah jenis premium karena rata-rata jenis
medium lebih laku dengan alasan bahwa beras jenis medium lebih murah sehingga penjual lebih meningkatkan harga jual jenis medium dari pada jenis premium.
Jenis premium dan pandan wangi, kebanyakan dibeli oleh konsumen rumah tangga.
Berdasarkan dari dua alur tersebut, dapat dinyatakan bahwa saluran pertama lebih efektif bagi konsumen akhir, sesuai dengan yang disampaikan oleh Kotler (2009), semakin pendek saluran pemasaran, maka harga yang didapatkan oleh konsumen tingkat akhir akan semakin murah. Begitu pun sebaliknya, semakin panjang saluran pemasaran, maka harga yang didapatkan oleh konsumen tingkat akhir akan semakin mahal.
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
172 Jaringan Pemasaran Beras yang Terbentuk pada CV Jembar Rahayu di Desa Sukamantri
Berdasarkan saluran pemasaran beras di CV Jembar Rahayu yang telah dibahas, setiap konsumen CV Jembar Rahayu (pedagang besar) memliki dua
jenis saluran pemasaran beras. Struktur jaringan pemasaran dan struktur jaringan komunikasi yang terbentuk dari kedua saluran tersebut dapat dilihat pada
Gambar 3.
Gambar 3. Struktur Jaringan Pemasaran
Pada Gambar 3, terlihat bahwa beras yang diproduksi CV Jembar Rahayu memiliki struktur jaringan pemasaran dengan struktur rantai. Sesuai dengan yang disampaikan Devito (1997), bahwa setiap komponen pemasaran bisa menjual dan membeli dengan dua anggota lainnya, seperti pedagang besar membeli dari produsen dan menjualnya ke pengecer, apabila tidak ada pengecer,
bisa menjual kepada konsumen akhir, pengecer membeli dari pedagang besar dan menjualnya kepada konsumen akhir, sedangkan untuk komponen pertama dan terakhir hanya bisa menjual atau membeli dari satu komponen saja, seperti produsen hanya bisa menjual ke pedagang besar, dan konsumen akhir hanya bisa membeli dari pengecer atau pedagang besar apabila pengecer tidak ada.
CV Jembar Rahayu
Pedagang Besar
Pengecer
Konsumen Akhir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
173
---
Gambar 4. Struktur Jaringan Komunikasi
Berdasarkan Gambar 4,
terbentuknya struktur jaringan Y dikarenakan sesuai dengan pernyataan Devito (1997), menyebutkan bahwa pemeran utama yaitu CV Jembar Rahayu yang berada di tengah memiliki tiga arus komunikasi terhadap petani untuk mendapatkan padi, pabrik-pabrik kecil untuk mendapatkan beras dan pedagang besar untuk menjualnya, sehingga CV Jembar Rahayu yang berperan sebagai produsen harus benar-benar menjaga komunikasi yang baik ke berbagai arah, sehingga proses produksi dan penjualan beras berjalan dengan baik. Produsen tetap mendapatkan bahan baku dari kedua
sumber tersebut, dan produsen tetap bisa menjual produknya.
Pemasaran beras yang dilakukan oleh CV Jembar Rahayu dilakukan hingga keluar kota yaitu ke daerah Bandung. Terbentuknya jaringan pemasaran tersebut terdapat dari beberapa hasil pencarian pasar. Berikut proses terbentuknya jaringan pemasaran di CV Jembar Rahayu:
1. Pasar yang Turun-temurun
Pasar yang dimiliki oleh CV Jembar Rahayu diantaranya ada yang merupakan pasar yang sudah terbentuk sejak dulu oleh pendiri pertama. Pasar tersebut sampai saat ini tetap bertahan sebagai langganan atas dasar
Petani Pabrik
Kecil
CV Jembar Rahayu
Pedagang Besar
Pengecer
Konsumen Akhir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
174 kepercayaan dan kenyamanan anatara produsen dan pedagang besar yang sudah terbentuk sejak dulu. Hal tersebut dikemukakan oleh NA, 42 tahun sebagai berikut :
“Nya pami langgananmah aya nu ti kapungkur a, tijaman dirintis ku sepuh. Panginten aya kapercantenan ka dieu, sareng terus ngait teu putus-putus janten dugi ayena masih sok dianteran pami nelepon”(NA, 42tahun).
“Kalau langganan ada yang dari dulu, dari jaman dirintis oleh orang tua. Mungkin ada kepercayaan kesini, dan terus terhubung tidak terputus sampai sekarang juga masih diantar apabila menelepon” (NA, 42tahun).
2. Perluasan Pasar
Perlusan pasar dilakukan sejak 2001 ketika perusahaan dipindah tangankan dari pendiri pertama (orang tua), kepada anaknya (pemilik saat ini).
Pemilik perusahaan melihat peluang bisnis beras yang masih sangat besar untuk dikembangkan, atas dasar itu pemilik berusaha untuk menambah jumlah produksi serta mencari pasar baru.
Proses pemasaran saat itu dilakukan dengan cara mendatangi terlebih dahulu ke toko-toko yang berpotensi untuk di suplai disertai dengan membawa sampel beras yang akan ditawarkan.
Setelah mendapatkan pasar atau pelanggan baru maka hal berikutnya adalah menjalin komunikasi dengan cara mengunjungi konsumen secara berkala sehingga terjalin hubungan yang baik, serta memberikan pelayanan yang memuaskan terhadap konsumen tersebut, sehingga para konsumen tersebut nyaman dan tetap memesan beras secara berkelanjutan.
3. Menjaga Kepercayaan Pelanggan yang Ada
Kepercayaan adalah hal yang penting dalam berbisnis, harus ada kerjasama, visi dan misi yang sama pula, sekali produsen membuat kesalahan, bisa saja pelanggan beralih ke produsen lain, begitu pun sebaliknya, jika konsumen membuat kesalahan, bisa saja produsen
tidak akan memasok
pemesanannya.Ikatan kepercayaan bisa muncul ketika kualitas barang bagus, konsisten, dan tepat waktu, serta tidak terlambat dalam pembayaran.
Proses Komunikasi yang Dilakukan oleh Produsen Maupun Konsumen untuk Mengetahui Harga Beras di Pasaran.
Proses komunikasi yang dilakukan antara produsen dan konsumen dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Komunikasi secara langsung yaitu dengan melakukan pemesanan atau
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
175 transaksi dengan tatap muka untuk membicarakan tentang jumlah dan kualita beras yang dipesan, kesepakatan harga, serta waktu pengiriman. Komuniksi langsung ini juga bertujuan untuk menjalin keakraban antara produsen dengan konsumen.
Komunikasi antara produsen kepada konsumen berikutnya adalah menggunakan media. Media yang digunakan, yaitu media telepon, SMS dan whatsapp. Pembeli akan memesan terlebih dahulu melalui media
komunikasi atau handphone kepada NA sesuai dengan jenis kualitas yang diperlukan, kesepakatan harga serta waktu pengiriman yang diinginkan.
Setelah pemesanan dilakukan, NA akan memproses barang yang dipesan sebelum akhirnya dikirimkan pada hari yang diinginkan oleh konsumen. Harga jual ditentukan oleh produsen dengan menggunakan matrik harga beras berdasarkan rantai dan pelaku pemasaran (Tabel 3)
Tabel 3. Matrik Harga Beras Berdasarkan Rantai dan Pelaku Pemasaran
X Produsen Pedagang Besar Pengecer Konsumen Akhir Jumlah
Produsen X 1 1 1 3
Pedagang Besar - X 1 1 2
Pengecer - - X 1 1
Konsumen Akhir - - - X 0
Dari Tabel 3, bisa dilihat bahwa produsen adalah komponen penentu harga beras di pasaran dengan alasan bahwa produsen lebih mengetahui biaya produksi, sedangkan pedagang besar menentukan harga dari produsen karena menerima harga dari produsen dan dia memiliki tambahan biaya pemasaran seperti ongkos kirim dan tenaga kerja, lalu pengecer karena pengecer memiliki biaya pemasaran yang ditentukan oleh pedagang besar, dan konsumen akhir sebagai penerima, karena konsumen akhir hanya akan menggunakan produk tersebut tanpa dijual kembali maka
konsumen akhir tidak memiliki wewenang mengenai pengaturan harga.
Hal tersebut disebut dengan istilah price maker untuk produsen sebagai
penentu harga dan price taker untuk konsumen-konsumennya sebagai penerima harga.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Saluran pemasaran yang terbentuk di CV Jembar Rahayu Desa Sukamantri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 7, Nomor 1, Januari 2020 : 166–176
176 terdiri atas dua saluran yaitu: 1) produsen – pedagang besar – konsumen; dan 2) produsen – pedagang besar – pengecer – konsumen
2. Terdapat dua struktur jaringan yang terbentuk yaitu struktur jaringan rantai untuk jaringan pemasaran dan struktur jaringan Y untuk jaringan komunikasi. Pasar yang terbentuk di CV Jembar Rahyu yaitu turun temurun dari konsumen yang sejak dahulu yang dibentuk oleh penderi pertama perusahaan dan perluasan pasar serta produksi yang dilakukan oleh pemilik perusahaan dengan cara penjajakan mencari konsumen baru.
3. Komunikasi yang dilakukan oleh produsen dan konsumen yaitu secara langsung bertatap muka dan atau juga dengan menggunakan media komunikasi telepon atau WhatsApp.
Dalam saluran pemasaran beras ini yang paling berperan dalam penentuan harga adalah produsen karena merupakan pihak yang mengetahui biaya produksi dan biaya pemasaran.
Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, maka diajukan saran untuk memaksimalkan proses jaringan
komunikasi pemasaran beras sebagai berikut:
1. Diadakannya pelatihan penggunaan media komunikasi untuk para petani atau pengusaha agroindustri sehingga dapat menjual produk atau hasil panennya lebih luas.
2. Membuat gudang stok di daerah Bandung untuk memudahkan produsen dalam pendistribusian ke konsumen.
3. Melakukan kunjungan secara rutin ke semua konsumen untuk menjaga kepercayaan dalam berbisnis.
DAFTAR PUSTAKA
Ary, D., Jacobs, L. C., dan Rajavieh, A.
1985. Introduction to Research in Education. Holt, Rinehart. New York.
Badan Pusat Statistik. 2018. Produksi Beras indonesia.Badan Pusat Statistik. Jakarta.
Bogdan, R.C. dan Biklen. 1982.
Pengantar Studi Penelitian. PT Alfabeta. Bandung.
Devito, J. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Professional Books.
Jakarta.
Kotler dan Keller. 2009. Manajemen Pemasaran. Jilid 2. Edisi 13.
Erlangga. Jakarta.
Metcalf, R. 1991. Ethernet. Amerika.
Munandar, M.S. 2004. Metodologi Penelitian Sosial Pendekatan Kualitatif. Laboratorium Sosiologi dan Penyuluhan Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.
Bandung.