• Tidak ada hasil yang ditemukan

ahana Forestra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ahana Forestra"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

Pemanfaatan daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) sebagai minuman seduh didukung oleh hasil penelitian Surjanto, pada Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai keamanan produk teh antioksidan daun gaharu secara non klinis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keamanan produk teh daun gaharu induksi melalui uji toksik oral.

Bahan yang digunakan adalah daun gaharu (A.malaccensis Lamk.) segar non induksi yang dikeringkan selama 1 bulan, mencit (M. musculus), histo hati dan ginjal, akuades dan air panas. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun gaharu yang diinduksi dari pohon di Langkat, Sumatera Utara.

Tabel 5. Hasil Rata-Rata Berat Badan Mencit Betina Setelah Pemberian Teh  Hari  Rata-Rata Berat Badan (g) ± SD
Tabel 5. Hasil Rata-Rata Berat Badan Mencit Betina Setelah Pemberian Teh Hari Rata-Rata Berat Badan (g) ± SD

SURVEI POTENSI GAHARU DENGAN SISTEM AGROFORESTRI DI KECAMATAN XIII KOTO KAMPAR, KABUPATEN KAMPAR (STUDI

KASUS: DESA PULAU GADANG DAN DESA KOTO MASJID)

Berdasarkan Tabel 1 di atas diketahui jenis tanaman penghasil gaharu di Desa Pulau Gadang dan Desa Koto Masjid terdapat pada umur 7, 8 dan 9 tahun. Tanaman penghasil gaharu yang dikelola masyarakat Desa Pulau Gadang didominasi pada umur 8 tahun sebanyak 920 batang dengan diameter rata-rata 9,14 cm. Sedangkan masyarakat Desa Koto Mesjid mengelola beberapa tanaman penghasil gaharu berumur 9 tahun sebanyak 400 batang dengan diameter rata-rata 9,15 cm.

Potensi tanaman penghasil gaharu di desa Pulau Gadang pada umur tanam 7 tahun sebanyak 70 batang, 8 tahun sebanyak 920 batang dan 9 tahun sebanyak 440 batang. Potensi tanaman penghasil gaharu masyarakat desa Pulau Gadang dengan rata-rata lahan luas 1,09 ha/petani, rata-rata jumlah pohon penghasil gaharu sebanyak 84,12 pohon/petani dan rata-rata pohon/ha sebanyak 78,03 pohon/ha/petani.

Tabel 2. Rata-rata Pohon/Ha pada       Desa Pulau Gadang
Tabel 2. Rata-rata Pohon/Ha pada Desa Pulau Gadang

IDENTIFIKASI FAKTOR PENENTU HARGA KAYU BAKAU (Rhizophora sp.)

DI KECAMATAN TEMBILAHAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

  • Kondisi Umum Lokasi Penelitian
  • Daftar Penjual dan Harga Kayu Bakau yang ditawarkan
  • Pemanfaatan Kayu Bakau Kayu bakau yang diperjual
  • Faktor-Faktor yang mempengaruhi Penentuan
  • Faktor Penentu Harga Jual Kayu Bakau di Kecamatan
  • Metode Penetapan Harga Kayu Bakau

Harga yang ditawarkan pedagang kayu bakau dapat berubah sewaktu-waktu, meskipun jenis kayunya sama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi determinan harga kayu mangrove di pasar di Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir. Biaya produksi yang diperhatikan oleh pedagang kayu mangrove di Kecamatan Tembilahan adalah biaya-biaya seperti pemanenan, pengangkutan, pemenuhan peralatan penunjang dan biaya tenaga kerja.

Biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen langsung dan pengumpul kayu mangrove di Kabupaten Tembilahan dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan pendataan lapangan pedagang kayu mangrove di Kabupaten Tembilahan, biaya produksi tertinggi umumnya terdapat pada divisi Usaha Bersama dimana statusnya sebagai reservoir. Namun hal ini jarang terjadi, karena untuk saat ini kayu bakau masih mudah ditemukan di alam.

Selama ini harga yang ditawarkan pedagang kayu bakau relatif sesuai dengan harga pasar dan konstan. Biasanya proses penyelesaian jumlah kayu mangrove yang diinginkan pelanggan tidak lebih dari 2 minggu (tergantung jumlah yang diinginkan). Harga kayu mangrove di pasaran ditentukan oleh interaksi penawaran dan permintaan antara seluruh pedagang dan pembeli.

Posisi pedagang kayu mangrove di kabupaten Tembilahan masih tergolong kecil, peranannya dalam pasar kayu mangrove di Indragiri Hilir. Faktor yang menentukan harga kayu mangrove di pasar Kecamatan Tembilahan adalah interaksi antara penawaran dan permintaan di pasar. Pedagang kayu mangrove di Kecamatan Tembilahan berperan sebagai penerima harga dan pasar yang terbentuk merupakan pasar persaingan sempurna.

Gambar 1. Kayu bakau yang         digunakan sebagai          perancah
Gambar 1. Kayu bakau yang digunakan sebagai perancah

MODEL ARSITEKTUR POHON ARBORETUM UNIVERSITAS LANCANG KUNING SEBAGAI PENUNJANG PEMBELAJARAN

  • Model Champagnat
  • Model Koriba
  • Model Leeuwenberg
  • Model Massart
  • Model Rauh
  • Model Roux
  • Model Scarrone
  • Model Troll

Jenis pohon dengan pola arsitektur Aubreville yang terdapat di Arboretum UNILAK ditunjukkan pada Gambar 4. Jenis pohon pada Gambar 4 menunjukkan bahwa pola arsitektur ini memungkinkan banyak air keluar dari tajuk dan sedikit aliran batang. Bagi satwa liar khususnya burung dan mamalia, pohon jenis ini dapat dijadikan tempat istirahat yang sangat nyaman karena dahannya cenderung rata.

Jenis pohon yang ditunjukkan pada Gambar 6 menunjukkan bahwa model arsitektur ini memungkinkan banyak aliran batang dan sedikit air yang keluar melalui tajuk. Jenis pohon yang ditunjukkan pada Gambar 8 menunjukkan bahwa model arsitektur ini memungkinkan banyak air keluar dari tajuk dan sedikit aliran batang. Bagi satwa liar khususnya burung dan mamalia, jenis pohon ini dapat dijadikan tempat istirahat yang cukup nyaman karena dahannya cenderung rata.

Jenis pohon yang ditunjukkan pada Gambar 9 menunjukkan bahwa model arsitektur ini memungkinkan banyak air keluar dari tajuk dan sedikit aliran batang. Bagi satwa liar khususnya burung dan mamalia, jenis pohon ini dapat dijadikan tempat istirahat yang cukup nyaman karena dahannya cenderung rata. Jenis pohon yang ditunjukkan pada Gambar 10 menunjukkan bahwa model arsitektur ini memungkinkan banyak aliran batang dan sedikit air yang keluar melalui tajuk.

Jenis pohon yang ditunjukkan pada Gambar 11 menunjukkan bahwa model arsitektur ini memungkinkan banyak air keluar dari tajuk dan sedikit aliran batang. Jenis pohon yang ditunjukkan pada Gambar 12 menunjukkan bahwa model arsitektur ini memungkinkan banyak aliran batang dan sedikit air yang keluar melalui kanopi. Jenis pohon pada Gambar 13 menunjukkan bahwa model arsitektur ini memungkinkan banyak air keluar dari tajuk dan sedikit aliran batang.

Tabel 1.  Bentuk arsitektur pohon di Arboretum UNILAK
Tabel 1. Bentuk arsitektur pohon di Arboretum UNILAK

Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Kecamatan

Bukit Batu, Kab. Bengkalis)

  • Penutupan Lahan
  • Jenis Tanah
  • Curah Hujan
  • Jarak dari Pemukiman
  • Tutupan Lahan
  • Ketinggian Tempat
  • Curah Hujan

Pemetaan Kawasan Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Kabupaten. Untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, diperlukan peta yang menunjukkan kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan, dengan memperhatikan aspek tutupan lahan, jenis lahan, curah hujan, ketinggian tempat dan jarak ke pemukiman Tujuan penelitian adalah memetakan tingkat kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan guna mendukung implementasi strategi penanggulangan kebakaran hutan di Kabupaten Bengkalis dengan mempertimbangkan aspek tutupan lahan, lahan, dan lahan. jenis, jumlah curah hujan, ketinggian tempat dan jarak dari pemukiman.

Sedangkan data primer berupa verifikasi keberadaan dan kondisi kawasan yang dinilai berpotensi menjadi kawasan berisiko kebakaran hutan dan lahan. Peta bahaya kebakaran merupakan model spasial yang digunakan untuk merepresentasikan kondisi di lapangan terkait risiko kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan Permenhut No. P12//P Menhut-II/2009 pasal 1 disebutkan bahwa titik panas merupakan indikator terjadinya kebakaran hutan yang menunjukkan suatu tempat mempunyai suhu yang relatif tinggi dibandingkan suhu sekitarnya.

Untuk menentukan zona rawan kebakaran hutan dan lahan di wilayah kabupaten Bukit Batu dilakukan dengan melapiskan peta tutupan lahan/vegetasi, peta elevasi/elevasi, peta sebaran curah hujan, peta jenis tanah dan peta jarak pemukiman. Sangat tinggi dan tingginya tingkat kerentanan terhadap kebakaran lahan di wilayah Kecamatan Bukit Batu kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya aktivitas masyarakat terutama di semak-semak rawa, hutan rawa sekunder, hutan tanaman dan lahan terbuka yang sebagian besar merupakan titik panas. Satuan lahan di Kecamatan Bukit Batu Hasil overlay yang dilakukan menghasilkan 88 satuan lahan di Kecamatan Bukit Batu.

Tingkat bahaya kebakaran di Kecamatan Bukit Batu dibagi menjadi dua kelas yaitu bahaya sangat tinggi dan bahaya tinggi. Pengamatan terhadap tingkat kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan menunjukkan bahwa seluruh wilayah di Kecamatan Bukit Batu merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan penelitian yang mendalam untuk lebih memahami faktor-faktor penyebab tingginya tingkat kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

IDENTIFIKASI JENIS DAN HABITAT JAMUR MAKROSKOPIS DI HUTAN LARANGAN ADAT RUMBIO KABUPATEN KAMPAR

PROVINSI RIAU

PENDAHULUAN

Hutan Rumbio di wilayah Kampar Provinsi Riau merupakan salah satu contoh kawasan hutan di Indonesia yang tentunya memiliki keanekaragaman jamur makroskopis yang tinggi. Jumlah Jenis, Ordo dan Famili Jamur Makroskopis di Hutan Terlarang Rumbio Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Persentase jumlah jenis jamur makroskopis pada setiap ordo di hutan terlarang Rumbio normal disajikan pada Gambar 1.

Kajian identifikasi jamur secara makroskopis yang dilakukan di Hutan Larangan Adat Rumbio menemukan bahwa jenis jamur yang paling banyak ditemukan pada setiap Ordo adalah Ordo Agaricales yang memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar 44%. Diantara jumlah jenis jamur makroskopis pada setiap famili yang terdapat di Hutan Larangan Adat Rumbio, diketahui bahwa famili Polyporaceae mempunyai jumlah jenis jamur terbanyak yakni sebanyak 12 jenis. Persentase jumlah jenis jamur makroskopis pada setiap famili di hutan Rumbio biasa ditunjukkan pada Gambar 2.

Pada kajian identifikasi jamur secara makroskopis yang dilakukan di hutan larangan adat Rumbio ditemukan bahwa jenis jamur yang paling banyak ditemukan pada setiap famili adalah jamur asal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fuhrer (2011) dalam Syafrizal (2014) yang menyatakan bahwa jamur makroskopis banyak terdapat di hutan. Berdasarkan substrat jamur makroskopis yang terdapat di Hutan Adat Rumbio Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar terlihat bahwa jamur tersebut mempunyai peranan penting sebagai pengurai suatu ekosistem.

Beberapa spesies jamur makroskopis yang terdapat di wilayah penelitian juga menjadi parasit pada kayu/pohon hidup. Jamur makroskopis umumnya ditemukan hidup pada kayu dan serasah yang lapuk, dan ada juga yang hidup pada pohon hidup. Keanekaragaman jamur secara makroskopis di hutan pendidikan Universitas Sumatera Utara, Desa Tongkoh, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Tabel 1. Jumlah Ordo Jamur      Makroskopis Di Hutan       Larangan Adat Rumbio
Tabel 1. Jumlah Ordo Jamur Makroskopis Di Hutan Larangan Adat Rumbio

PEMETAAN POTENSI EKOWISATA DI DESA TANJUNG BELIT DAN DESA LUBUK BIGAU KECAMATAN KAMPAR KIRI HULU

KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU

Nama-nama Potensi Objek Wisata Alam Dari 2 desa yang diamati diperoleh 5 potensi objek wisata alam berupa air terjun. Setelah dilakukan evaluasi terhadap potensi objek wisata alam yang telah diperoleh, selanjutnya dialokasikan rentang nilai pada setiap elemen yang dievaluasi untuk setiap potensi objek wisata alam yang telah diinventarisasi. Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa 5 objek potensi wisata alam yang telah diinventarisasi mempunyai kategori tinggi, karena mempunyai skor antara 982-1260.

Potensi obyek wisata alam yang mempunyai titik tertinggi adalah air terjun dinding batu 1 dan 2 serta air selancar yang mempunyai nilai 1050, sedangkan untuk obyek potensi alam yang mempunyai titik terendah ± 150 m yaitu air terjun dengan batang kapas di desa Lubuk Bigau. dengan nilai 990 Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 5 potensi objek wisata alam yang diinventarisasi mempunyai kategori yang berbeda-beda, objek yang mempunyai kategori. Dari tabel diatas diketahui 5 potensi objek wisata alam termasuk dalam kategori sedang, dengan nilai potensi objek desa Lubuk Bigau dengan nilai 175 dan potensi objek wisata alam desa Tanjung Belit dengan poin 225.

Dari lima (5) objek wisata alam, hanya objek wisata alam yang ada di Desa Lubuk Bigau yang belum memiliki rencana tata ruang wilayah, sedangkan yang berada di Desa Tanjung Belit masih dalam tahap pengembangan. Tabel di atas menunjukkan bahwa potensi objek wisata alam dengan unsur infrastruktur tertinggi adalah objek potensi wisata alam di desa Tanjung Belit dengan skor kategori sedang sebesar 120 dan di desa Lubuk Bigau dengan skor kategori rendah sebesar 120. 90. Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh potensi objek wisata alam yang telah diinventarisasi berada pada kategori tinggi, dengan nilai tertinggi sebesar 900 pada objek wisata alam di Desa Lubuk Bigau dan 870 di Desa Lubuk Bigau. obyek wisata alam di desa Tanjung Belit.

Dari hasil overlay jalur dan titik koordinat yang terekam di lapangan, terlihat 2 sarana wisata alam di Desa Lubuk Bigau dikategorikan sebagai wisata alam minat khusus karena kondisi tersebut. Tabel di atas menunjukkan perbandingan sarana dan prasarana di 2 desa yang mempunyai potensi sarana wisata alam. Sebaiknya pembangunan sarana dan prasarana dilakukan dengan melibatkan unsur masyarakat sekitar fasilitas wisata alam yang potensial, sehingga pembangunan sarana dan prasarana dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Tabel 1. Nama Obyek dan Koordinat       Obyek Potensial Wisata       Alam.
Tabel 1. Nama Obyek dan Koordinat Obyek Potensial Wisata Alam.

Gambar

Tabel 6. Hasil Rata-Rata Berat Badan Mencit Jantan Setelah Pemberian Teh  Hari  Rata-Rata Berat Badan (g) ± SD
Tabel 5. Hasil Rata-Rata Berat Badan Mencit Betina Setelah Pemberian Teh  Hari  Rata-Rata Berat Badan (g) ± SD
Tabel 9 . Hasil Pengamatan Warna        Organ Mencit Betina Setelah
Tabel 2. Rata-rata Pohon/Ha pada       Desa Pulau Gadang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini : Tabel 3 Uji Normalitas Penurunan TFU pada Responden yang Senam Nifas dan Tidak Senam Nifas Sumber: Data