• Tidak ada hasil yang ditemukan

AHMAD MAULANA ISKAK-150710101369.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "AHMAD MAULANA ISKAK-150710101369.pdf"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

ANALISIS HUKUM TERHADAP PUTUSAN PENINJAUAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 33 PK /PDT.SUS-ARBT/2016 PADA KASUS PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN PUTUSAN. ANALISIS HUKUM ATAS PUTUSAN PENINJAUAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 33 PK/PDT.SUS-ARBT/2016 PADA KASUS PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN PUTUSAN. ANALISIS HUKUM ATAS PUTUSAN PENINJAUAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 33 PK/PDT.SUS-ARBT/2016 PADA SUBJEK PERKARA PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI PUTUSAN ARBITRASE. tidak, dan tidak menjiplak.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas segala rahmat dan hidayah yang diberikan, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsinya yang berjudul “ANALISIS PERADILAN TERHADAP PUTUSAN TINJAUAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 33. PK/ PDT.SUS-ARBT/2016 DALAM PRINSIP PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN PUTUSAN ARBITRASE.” Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian hukum yang berjudul “Analisis Hukum Putusan Peninjauan Kembali Pengadilan Tinggi Nomor 33 PK/Pdt.Sus-Arbt/2016 pada Pokok Perkara Penyelesaian Sengketa Melalui Putusan Arbitrase. Namun kemudian putusan Pengadilan Negeri Serang Nomor 18/Pdt.G/2013/PN Srg dibenarkan dengan putusan Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Nomor 33 PK/Pdt.Sus-Arbt/2016.

PENDAHULUAN 1.5 Latar Belakang 1.5 Latar Belakang

Rumusan Masalah

Bagaimana Laporan Keputusan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 33 KP/Pdt.Sus-Arbt/2016 mengabulkan permohonan KP dari Pemohon KP Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Tujuan penelitian yang ingin dicapai melalui penulisan ilmiah berbentuk skripsi ini dibedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Pengakuan dan analisa atas laporan yang telah ditetapkan dan Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 33 PK/Pdt.Sus-Arbt/2016 diberikan.

Metode Penelitian

Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan kaidah-kaidah hukum, asas-asas hukum, dan doktrin-doktrin hukum guna menjawab pertanyaan-pertanyaan hukum yang ada. Pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan menelaah seluruh peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan hukum yang sedang ditangani. Pendekatan perundang-undangan ini akan membuka peluang bagi para peneliti untuk mengkaji apakah terdapat konsistensi dan kesesuaian antara undang-undang yang satu dengan undang-undang yang lain ataukah antara hukum pokok antara peraturan perundang-undangan dengan undang-undang.8 Pendekatan perundang-undangan tidak hanya melihat pada bentuk peraturan perundang-undangan saja, namun juga mengkaji bentuk peraturan perundang-undangan. materi substantifnya, maka perlu bagi peneliti untuk mengkaji landasan ontologis lahirnya hukum.

Selain itu, perlu mengkaji risalah pembahasan undang-undang di DPR dari sudut pandang umum, pembahasan di berbagai sidang hingga persetujuan. Dengan mempelajari peraturan perundang-undangan dan doktrin dalam ilmu hukum, peneliti akan menemukan gagasan-gagasan yang melahirkan konsep-konsep hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum yang relevan dengan permasalahan hukum yang sedang dihadapi.11 Selain itu, meskipun tidak secara eksplisit, kita juga dapat menemukan konsep hukum. dalam undang-undang atau keputusan pengadilan. Bahan hukum merupakan sarana penyelesaian suatu persoalan hukum, yang sekaligus memberikan gambaran tentang apa yang seharusnya diminta sebagai sumber penelitian.

Sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber hukum yang berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Analisis bahan hukum merupakan suatu cara atau sarana yang digunakan dalam penelitian hukum untuk mencari jawaban atau pemecahan yang kemudian menjadi resep atas permasalahan hukum atau pertanyaan hukum yang kita hadapi. Peter Mahmud Marzuki berpendapat bahwa dengan menganalisis bahan hukum yang diperoleh, untuk menjawab permasalahan secara memadai, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 16.

Mengidentifikasi fakta hukum dan menghilangkan hal-hal yang tidak relevan untuk menentukan permasalahan hukum yang akan diselesaikan; Metode analisis bahan hukum yang digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah metode deduktif, yang berpedoman pada prinsip-prinsip dasar kemudian penyajian objek yang akan diteliti, agar beralih dari prinsip umum ke prinsip khusus.

TINJAUAN PUSTAKA 2.5 Putusan 2.5 Putusan

Pengertian Putusan

Keputusan declaratoir dapat dipahami dengan kata “declatoir” yang diambil dari kata bahasa Inggris yaitu “todeclaration” yang artinya antara lain: mengumumkan, melaporkan, mendeklarasikan.26 Kata “declatoir” juga dipahami dari kata latin yaitu . Dimaknai sebagai putusan yang bersifat deklaratif, tidak perlu ada paksaan karena sudah mempunyai akibat hukum tanpa adanya tindakan pihak lawan.28 Putusan pada hakikatnya mengandung unsur-unsur. Perlu diketahui bahwa putusan deklaratif dapat bersifat independen, artinya diperoleh semata-mata dengan mengajukan permohonan ke pengadilan.

Namun dapat pula ditemukan dalam gugatan, dimana dalam gugatan tersebut putusan tersebut dinyatakan sebagai syarat untuk memperoleh tuntutan lain. Putusan konstitutif dapat dipahami dari kata latin “konstitutif” yang artinya menetapkan, membentuk suatu undang-undang baru. 31 Putusan konstitutif, yaitu penciptaan keadaan hukum baru, misalnya menyatakan seseorang pailit. Berdasarkan Pasal 18 Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, Kewenangan Kehakiman dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh Mahkamah Konstitusi.

Badan peradilan pada empat (empat) pengadilan mempunyai kewenangan untuk menerima, memeriksa, memutus, dan menangani suatu perkara yang diserahkan kepadanya.36 Kewenangan ini lazim disebut dengan kewenangan mengadili atau kewenangan. Sedangkan pengadilan khusus berdasarkan Pasal 1 ayat (8) UU Kehakiman adalah pengadilan yang berwenang menyelidiki, mengadili, dan memutus perkara tertentu, yang hanya dapat dibentuk pada salah satu pengadilan di bawah Mahkamah Agung, sebagaimana ditentukan oleh undang-undang. Pengadilan-pengadilan ini mempunyai kewenangan masing-masing dalam menerima, menyelidiki, mengadili, dan menyelesaikan suatu perkara.

Kompetensi juga dapat disebut yurisdiksi, yang dalam peradilan berarti kompetensi suatu pengadilan untuk mengadili atau pengadilan yang berwenang mengadili suatu sengketa tertentu sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Sangadji, Yurisdiksi Peradilan Biasa dan Peradilan Tata Usaha Negara, Edisi Pertama, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), hal.

Macam-Macam Kompetensi Kompetensi Absolut

Mengenai asas acta sequitur forum rei, terdapat beberapa pengecualian yang diatur dalam Pasal 118 HIR itu sendiri. Gugatan diajukan kepada pengadilan negeri yang mempunyai wilayah hukum tempat tinggal tetap tergugat, apabila tempat tinggal tergugat tidak diketahui. Apabila tergugat terdiri dari dua orang atau lebih, maka perkara diselesaikan di tempat tinggal tetap salah seorang tergugat, tergantung pilihan penggugat.

Namun apabila tergugat ada dua, yaitu yang satu misalnya debitur dan yang satu lagi penjamin, maka gugatan harus diajukan ke pengadilan negeri debitur. Sehubungan dengan itu perlu ditegaskan bahwa, jika dianalogikan dengan ketentuan alinea kedua Pasal 118 bagian akhir ZIZ ini, apabila tempat tinggal tergugat dan turut tergugat berbeda, maka gugatan harus dibubarkan di tempat tinggal tergugat. . Apabila tergugat tidak diketahui alamat dan tempat tinggalnya, maka gugatan diajukan kepada ketua pengadilan negeri yang daerah hukumnya atas tempat tinggal tetap penggugat atau salah seorang penggugat.

Apabila tempat tinggal dan kediaman tergugat tidak diketahui dan gugatannya berkaitan dengan harta benda, dapat pula diajukan kepada ketua pengadilan negeri yang wilayah hukumnya meliputi di mana harta benda itu berada. Apabila ada tempat tinggal yang dipilih berdasarkan akta, maka dapat diajukan gugatan terhadap hakim ketua pengadilan negeri yang wilayah hukumnya meliputi tempat tinggal yang dipilih dalam akta.

Arbitrase

  • Pengertian Arbitrase

Sarana penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum berdasarkan perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Maksud dari asas ini adalah setiap perjanjian, kesepakatan atau janji yang mengikat secara hukum harus dipenuhi dan oleh karena itu para pihak harus menaatinya. Klausa arbitrase dituangkan dalam suatu perjanjian atau persetujuan para pihak dalam perjanjian dan berlaku sepenuhnya terhadap penerapan pacta sunt servanda dan pasal 1338 KUHPerdata, dengan penerapan sebagai berikut:50.

Adanya perjanjian tertulis meniadakan hak para pihak untuk menyerahkan penyelesaian perselisihan atau perbedaan pendapat yang terdapat dalam perjanjian tersebut kepada Pengadilan Negeri; Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dikatakan bahwa bilamana terjadi perselisihan dan para pihak membawanya ke Pengadilan Negeri, maka Pengadilan Negeri tersebut harus secara resmi (diambil alih) dinyatakan tidak sah. Dalam perjanjian arbitrase, para pihak dapat sepakat untuk menyerahkan penyelesaian sengketanya kepada arbitrase ad hoc atau arbitrase institusi.

Agar suatu proses arbitrase dapat berjalan lancar, para pihak biasanya mempunyai hak untuk menunjuk seorang arbiter yang akan menyelesaikan sengketanya dan arbiter yang ditunjuk tersebut harus menerima penunjukan tersebut. Pada prinsipnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Pasal 17(1), penunjukan arbiter oleh para pihak dan penerimaan arbiter yang bersangkutan telah dilakukan berdasarkan kesepakatan perdata. Selain hal-hal di atas, putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap, termasuk putusan pengadilan tentang perdamaian para pihak (putusan mediasi).

Selain itu, diketahui bahwa para pihak secara efektif tidak mampu memberikan bukti setelah kasus tersebut diselidiki di tingkat pertama. Para pihak telah diberi kesempatan untuk mengajukan bukti-bukti ke Pengadilan Negeri, namun ternyata mereka diberikan kesempatan lagi untuk mengajukan bukti-bukti tersebut, yang tercermin dari alasan mengajukan permohonan peninjauan kembali.

PENUTUP 4.1 Kesimpulan 4.1 Kesimpulan

Rasio memutuskan judex juris Banding Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 26 B/Pdt.Sus-Arbt/2014 seharusnya menolak permohonan Pemohon Banding (PT Hutama Karya (Persero)). Hal ini jelas bertentangan dengan amanat Penjelasan Pasal 72 ayat (4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “banding”. Apabila putusan Ketua Pengadilan Negeri menolak permohonan pembatalan putusan arbitrase, maka penolakan tersebut tidak dapat diajukan banding.

Rasio memutuskan judex juris review oleh Mahkamah Agung Nomor 33 PK/Pdt.Sus-Arbt/2016 telah benar mengeluarkan putusan yang mengabulkan permohonan pemohon peninjauan kembali oleh Pemohon Peninjauan Kembali (BANI) dan membatalkan putusan nomor putusan Mahkamah Agung. 26 B/Pdt.Sus-Arbt/2014, karena putusan judex factie dengan tegas menolak permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan pemohon PT Hutama Karya (Persero), namun dalam putusan banding judex juris, Mahkamah Agung menyatakan sebaliknya. Pemrosesan putusan peninjauan kembali ini sesuai amanat Pasal 67 huruf f Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung. Para pihak yang mengadakan perjanjian kerja sama bisnis dan telah menyepakati kontrak klausul arbitrase harus memahami dan berkomitmen terhadap prinsip-prinsip penyelesaian sengketa melalui arbitrase.

Majelis hakim MA dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara yang bersifat luar biasa juga perlu lebih teliti dan tekun. 2016. Yurisdiksi Pengadilan Negeri pada Forum Arbitrase dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999. Makalah penelitian tersebut dipresentasikan pada Konferensi Nasional Hukum Acara Perdata III yang diselenggarakan oleh ADHAPER (Asosiasi Dosen Hukum Acara Perdata ). Hukum), di Universitas Tanjung Pura – Pontianak, 15-17 November 2016.

Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2016 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Pengadilan. Tinjauan Hukum Pembatalan Putusan Arbitrase Nasional Berdasarkan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 (Studi Kasus Berbagai Putusan Mahkamah Agung Indonesia), Skripsi, Universitas Indonesia, Melalui http://lib.ui.ac.id/file?file =digital/ 20232857T2890 6Ulasan%20yuridis.pdf , hal.

Referensi

Dokumen terkait

According to the definition made by the United Nations Palermo Protocol: “human trafficking is the recruitment, transportation, transfer, harboring, or receipt of persons utilizing the