• Tidak ada hasil yang ditemukan

AHMAD SAIFUL ANAM - Universitas Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "AHMAD SAIFUL ANAM - Universitas Jember"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

Model Pengendalian Mutu Biji Kakao Menggunakan Sistem Pakar Berbasis Web (Studi Kasus di PTPN XII Banjarsari Kabupaten Jember)" sebenarnya adalah hasil karya saya sendiri, kecuali kutipan sudah saya cantumkan sumbernya, belum pernah saya serahkan ke institusi manapun, dan bukan merupakan hasil plagiarisme. Makalah berjudul “Model Pengendalian Mutu Biji Kakao Menggunakan Sistem Pakar Berbasis Web (Studi Kasus di PTPN XII Banjarsari Kabupaten Jember)”. MODEL PENGENDALIAN MUTU BIJI KAKAO DENGAN SISTEM AHLI BERBASIS WEB (STUDI KASUS DI PTPN XII BANJARSARI KABUPATEN JEMBER)”; Ahmad Saiful Anam;

Proses pengolahan biji kakao di Pabrik Gerengrejo PTPN XII Banjarsari Kabupaten Jember dapat digolongkan menjadi tiga jenis proses, yaitu proses pemanenan, proses pasca panen, dan proses penyimpanan. Proses pengolahan biji kakao dilakukan oleh tenaga kerja yang berbeda-beda pada setiap prosesnya, dan kualitas produksinya tetap terkendali. Pengendalian mutu dilakukan mulai dari proses pemilihan buah kakao matang hingga penyimpanan biji kakao kering.

Pengambilan keputusan terjadi melalui perolehan pengetahuan pakar dalam bentuk sistem pakar dan digunakan sebagai kendali mutu atau quality control dalam setiap proses pengolahan biji kakao. Data yang digunakan untuk membuat sistem pakar ini merupakan hasil wawancara dengan pakar (manajer pengolahan) Pabrik Gerengreja, Perkebunan Banjarsari PTPN XII Kabupaten Jember dan SOP Sudir (23/SE/096/2002) serta mutu biji kakao SNI 2323. :2008 dan sastra . Model Pengendalian Mutu Biji Kakao Menggunakan Sistem Pakar Online (Studi Kasus di PTPN XII Banjarsari Kabupaten Jember)”.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sehingga PTPN XII Banjarsari harus mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas biji. Pada dasarnya PTPN XII Banjarsari Jember telah menerapkan manajemen mutu yang baik sesuai SNI Mutu dan Standar Prosedur Operasional Biji Kakao, Sudir (23/SE/096/2002) di PTPN XII Banjarsari Jember, namun nyatanya masih ditemukan kerusakan pada biji kakao kering. . yang terjadi pada saat pengolahan biji kakao, terutama pada saat proses pemanenan. Proses pengambilan keputusan dalam menentukan mutu biji kakao sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan kepala bagian pengolahan yang mempunyai pengetahuan mendalam mengenai pengolahan biji kakao dan masih bersifat konvensional.

Melalui sistem pakar dapat mempermudah proses konsultasi kualitas biji kakao dan sebagai alternatif apabila waktu terbatas dalam proses konsultasi dengan pakar. Mengingat keadaan yang ada di PTPN XII Banjarsari Jember yang disebabkan oleh permasalahan tersebut, maka perlu diterapkannya suatu sistem pakar untuk mendukung proses konsultasi dalam pengendalian mutu biji kakao yang bertajuk “Model pengendalian mutu biji kakao menggunakan sistem online”. Sistem Pakar (Studi Kasus pada PTPN XI Banjarsari Jember)”. Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana membangun model sistem pakar dengan metode forward chaining sebagai alat online pengendalian mutu biji kakao dan pelatihan rekrutmen tenaga kerja baru di PTPN XII Banjarsari Kabupaten Jember.

Batasan Masalah

Keluaran sistem pakar sebagai pengambilan keputusan dan solusi terhadap setiap kendala dalam pengolahan biji kakao. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah forward chaining, PHP sebagai bahasa pemrograman, MySQL sebagai database. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan membangun model pengendalian mutu biji kakao dalam bentuk sistem pakar dengan menggunakan metode forward chaining.

Manfaat penelitian ini adalah untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dan memecahkan solusi penentuan mutu biji kakao pada pengolahan biji kakao di PTPN XII Banjarsari Kabupaten Jember dengan sistem pakar berbasis web.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Kakao

Biji kakao yang sampai di pabrik ditimbang untuk mengetahui perbedaan beratnya karena jarak kebun dengan pabrik cukup jauh sehingga mengakibatkan kehilangan air. Komponen teknologi pasca panen yang mempengaruhi mutu biji kakao antara lain fermentasi, pencucian, pengeringan, penyortiran, grading dan pengemasan. Fermentasi biji kakao jenis Edel memakan waktu ± 3 hari dengan pemerahan pertama pada 12 jam pertama, berkisar antara 25°C-35°C.

Fermentasi yang terlalu lama akan meningkatkan kandungan biji kakao yang berjamur dan berkecambah, sedangkan fermentasi yang terlalu cepat mengakibatkan tingginya kandungan biji espalier (biji yang tidak terfermentasi) (Setyani, 2013). Proses pencucian bertujuan untuk menghentikan proses fermentasi dan memberikan tampilan biji kakao yang lebih cerah. Biji kakao yang telah dikeringkan dan mencapai kadar air yang ditentukan harus membiarkan biji kakao didiamkan/temper untuk menetralkan suhu di dalam biji semalaman pada suhu kamar atau menyesuaikan dengan kelembaban relatif udara sekitar.

Setelah itu dilakukan seleksi dan grading biji kakao yang baik dengan yang kurang baik menurut ukuran dan tampilan visualnya. Penilaian mutu biji kakao diatur dalam SNI biji kakao, Pusat Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, 2012). Pemilahan biji kakao kering dilakukan dengan cara memilih dan mengelompokkan biji kakao yang baik dari yang tidak baik menurut ukuran dan tampilan visualnya.

Tampah digunakan untuk membersihkan kotoran kakao, sedangkan ayakan berlubang digunakan untuk memisahkan biji kakao berdasarkan ukurannya. Karung goni digunakan untuk mengemas biji kakao kualitas ekspor, sedangkan kantong plastik digunakan untuk mengemas biji kakao kualitas lokal. Kemasan ditutup rapat untuk mencegah kontaminasi serangga dan kotoran serta menjaga kadar air biji kakao.

Selain persyaratan Menteri Pertanian Republik Indonesia, terdapat pula persyaratan mutu biji kakao yang dikeluarkan Badan Standardisasi Biji Kakao Nasional 2323:2008. Biji kakao digolongkan menjadi 2 yaitu jenis mulia/halus (berasal dari tanaman kakao jenis Criolo dan Trinitario serta persilangannya) dan jenis curah/bulk (berasal dari tanaman kakao jenis Forastero).

Tabel 2.1 Standar mutu biji kakao edel
Tabel 2.1 Standar mutu biji kakao edel

Sistem Pakar

Lingkungan pengembangan digunakan untuk membantu membangun sistem pakar yang lebih baik dari segi komponen dan basis pengetahuan. Apalagi menurut Setiarso (2006), sistem pakar merupakan salah satu teknologi andalan dalam manajemen pengetahuan, khususnya melalui empat skema implementasi dalam suatu organisasi, yaitu. Penalaran berbasis aturan (RBR), mengandalkan serangkaian aturan yang mewakili pengetahuan karyawan/manusia dalam menyelesaikan kasus-kasus kompleks.

Penalaran berbasis model (MBR), melalui representasi pengetahuan dalam bentuk atribut, perilaku, hubungan dan simulasi proses pembentukan pengetahuan.

Metode Forward Chaining

Forward chaining merupakan metode yang menjelaskan alur penalaran lanjutan pada sistem pakar dapat dilihat pada Gambar 2.3. Penalaran dalam metode rantai maju diawali dengan mencari fakta dan memperoleh fakta baru dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui pada sisi If (jika). Misalnya aturan A diketahui kebenarannya, maka sistem pakar memulai dengan memperoleh fakta baru dengan menggunakan aturan yang mempunyai A pada sisi If sehingga diperoleh aturan baru dan menghasilkan suatu kesimpulan.

Beberapa peneliti terdahulu dalam penelitiannya menggunakan metode rantai maju, Khairi (2018) menggunakan metode rantai maju, dalam sistemnya digunakan untuk menentukan kualitas yang dihasilkan setelah produksi gula. Penelitian ini memilih metode rantai maju untuk mengambil kesimpulan berdasarkan adanya beberapa data yang diberikan, khususnya data kriteria kualitas gula. Penelitian lain yang dilakukan Triyanto, dkk. 2014), melakukan penelitian bertajuk Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Kelinci Berbasis Web, yang menghasilkan sistem yang dapat membantu peternak kelinci dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit pada kelinci.

Perdana, dkk (2013), dalam penelitiannya yang berjudul Metode Chaining yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit ginjal. Mengingat tingkat keberhasilan yang diperoleh dari penelitian ini relatif tinggi yaitu 90%, hal ini membuktikan bahwa metode forward chaining cocok digunakan pada sistem pakar. Sistem pakar yang dikembangkan merupakan sistem konsultasi terkait penyebab permasalahan dengan menggunakan sistem pakar sebagai diagnosis atau konsultasi yang benar dengan metode forward chaining (Kusrini, 2008).

Gambar 2.3 Metode forward chaining
Gambar 2.3 Metode forward chaining

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Kerangka Pemikiran

Sistem pakar yang dikembangkan mempunyai beberapa karakteristik yaitu fleksibel, akurat, mudah dioperasikan dan menggantikan peran pakar. Membangun model sistem pakar memerlukan data tertentu yaitu informasi pakar dan kondisi proses, yang kemudian dikeluarkan setelah membangun database dan aturan inferensi.

Gambar 3.1 Kerangka pemikiran
Gambar 3.1 Kerangka pemikiran

Diagram Alir Penelitian

Observasi dilakukan untuk mengamati langsung proses pengolahan biji kakao dan wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi umum mengenai proses pengolahan biji kakao serta penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama proses tersebut. Identifikasi masalah dilakukan untuk mengetahui apakah ada permasalahan yang terjadi pada saat pengolahan biji kakao, dan permasalahan tersebut dapat diatasi dengan cepat dan tepat sesuai kondisi yang ada, sehingga kualitas biji kakao dapat tetap terjaga. Pemilihan tenaga ahli bertujuan untuk mengetahui kualitas informasi yang mempengaruhi pengambilan keputusan apabila terjadi penyimpangan dalam pengolahan biji kakao.

Setelah seleksi ahli selesai, maka langkah selanjutnya adalah memperoleh pengetahuan tentang proses pengolahan biji kakao yang terjadi di PTPN XII Banjarsari Kabupaten Jember dan berbagai permasalahan yang sering terjadi, serta solusi perbaikan yang akan dilakukan. Basis data atau database adalah kumpulan data yang disimpan secara sistematis dalam bentuk tabel aturan setiap proses pengolahan biji kakao, yang berisi indikasi, keputusan dan solusi yang akan diproses ke MySQL melalui. Pisahkan biji kakao yang rusak lalu bungkus dalam kantong plastik dan kubur di dalam tanah untuk membunuh larva yang masih hidup.

Biji kakao mempunyai kematangan yang tidak merata (terlalu muda), dan ada pula biji yang terlalu tua (busuk). Biji kakao edel dengan DB kurang dari 20% mempunyai mutu kakao (AA) terbaik dan dilanjutkan dengan proses fermentasi. Biji kakao yang kurang dari jumlah minimal 40 kg dimatangkan hingga mencapai standar minimal fermentasi.

Pulpa yang masih melekat pada biji koko dan sukar dilepaskan kerana proses penapaian yang tidak lengkap. Sapukan biji koko di atas lantai pengeringan dengan penyebar setebal 5 cm (2-3 lapisan biji). Pemutaran biji koko dilakukan setiap 1-2 jam dan dipengaruhi oleh cuaca sekeliling, dan pemutaran bertujuan untuk membuat biji yang masih basah seragam.

Kantong senjata yang tidak dijahit rapat dan rapat akan menyebabkan kerusakan pada biji kakao termasuk serangga, hama hewan dan pengikis yang ada di gudang. Parameter yang akan dibandingkan adalah proses pengolahan biji kakao pada setiap menu sistem pakar pengendalian mutu biji kakao.

Tabel 3.1 merupakan tabel informasi mengenai kode aturan yang akan digunakan  sebagai  input  pada  proses  sortasi  basah  (uji  petik  dan  uji  marga)  dan  Tabel  3.2  merupakan tabel hubungan antar kode pada proses sortasi basah (uji petik dan uji  ma
Tabel 3.1 merupakan tabel informasi mengenai kode aturan yang akan digunakan sebagai input pada proses sortasi basah (uji petik dan uji marga) dan Tabel 3.2 merupakan tabel hubungan antar kode pada proses sortasi basah (uji petik dan uji ma

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Panen Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) di Perkebunan Rumpun Sari Antan IV, Banyumas PT Agro Lestari, Jawa Tengah. Penerapan metode rantai maju dan mundur dalam sistem informasi penentuan kualitas dan produksi gula.

Gambar 1. Sortasi Basah  Gambar 2. Fermentasi
Gambar 1. Sortasi Basah Gambar 2. Fermentasi

Gambar

Gambar 2.1 Tanaman dan buah kakao
Tabel 2.1 Standar mutu biji kakao edel
Tabel 2.3 Syarat mutu dan pemasaran biji kakao
Tabel 2.4 Syarat mutu umum
+7

Referensi