• Tidak ada hasil yang ditemukan

Air Faktor air untuk pertumbuhan tanaman garut - Spada UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Air Faktor air untuk pertumbuhan tanaman garut - Spada UNS"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Faktor

Lingkungan terhadap Pertumbuhan dan Hasil

Tanaman Garut

Audhia An Nafisa (H0719026). Latiffah Indriana Septin (H0719107).

Muhammad Luthfi Akbar (H0719129). Novilia Romadhona (H0719137). Peni Agustini (H07190148).

(2)

Umbi Garut

Garut (Maranta arundinaceae Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman umbi-umbian yang menghasilkan karbohidrat atau pati.

Bentuknya panjang dan beruas-ruas. Warna daging umbinya kuning kehijauan.

Penamaan umbi garut berbeda di beberapa daerah.

Menurut Estiasih dkk (2017) nama lain dari umbi garut yaitu patat sagu, irut, arut, atau jelarut.

(3)

Manfaat

● Sumber energi

● Makanan pengganti beras

● Tanaman hias

● Olahan tepung

● Dasar pembuatan bedak

● Pembuatan kertas

● Pakan ternak

● Pengental dan pengenyal makanan

● Mengobati masalah pencernaan

● Memperlancar peredaran darah

● Mengobati luka

● Menjaga kekebalan tubuh

(4)

Umbi Garut

(5)

Kelembab an

Tanah

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi

Cahay

a Air

Team

Suhu

(6)

Cah

aya

(7)

Syarat tumbuh cahaya untuk tanaman garut

Tanaman garut mampu beradaptasi terhadap naungan seperti di bawah tegakan pohon serta pada lahan marginal. Menurut Djafaar, et al (2010) umbi garut tidak harus mendapat cahaya matahari penuh secara langsung karena tanaman garut tahan terhadap naungan 30-70%. Bahkan, tanaman garut masih mampu tumbuh optimum dan mempertahankan kualitas serta karakteristik umbinya, meskipun kanopinya membesar dan menutupi bagian bawah tanaman dengan cahaya matahari yang minimum.

(8)

Pengaruhnya terhadap

pertumbuhan

● Tinggi tanaman

● Panjang ruas

● Jumlah anakan dan

● Pertumbuhan umbi akar

● Jumlah daun

● Indeks luas daun

[Berdasarkan hasil penelitian Supriyono, et al (2017)]

• Berat kering tanaman

• Nisbah akar tajuk

• Kandungan klorofil daun

• Laju pertumbuhan tunas

• Laju asimilasi benih

• Pertumbuhan umbi

(9)

Tana

h

(10)

Syarat tumbuh tanah untuk tanaman garut

Umbi garut kurang cocok ditanam pada tanah yang sering tergenang, karena akar akan kekurangan oksigen dan terjadi keracunan metana sehingga layu dan membusuk.

Menurut Djaafar dan Pustika (2010), Jenis tanah yang baik bagi pembentukan umbi adalah yang berstruktur remah, dengan kandungan liat, debu, dan pasir berbanding 1:1:1; dan kemasaman (pH) tanah 5-8, seperti di Sentolo dan Semin, Yogyakarta.

Suhartini dan Hadiatmi (2011) menyatakan bahwa berat umbi dipengaruhi oleh faktor lingkungan antara lain kesuburan tanah. Tanah yang kurang subur dapat memperkecil berat umbi, dan sebaliknya pada tanah yang subur dapat memperbesar berat umbi.

(11)

Air

(12)

Faktor air untuk

pertumbuhan tanaman garut

Menurut Djafaar et al. (2007) dalam Oktafani et al. (2017) Tanaman Garut memerlukan curah hujan minimum 1500 – 2000 mm per tahun. Hal ini menandakan tanaman garut normal untuk tumbuh pada keadaan dimana curah hujan yang sangat tinggi.

Air sendiri berguna untuk mempengaruhi proses fotosintesis serta perkembangan akar, hal ini senada dengan yang dikatakan Sastra (2003) dalam Yudianto et al. (2015) proses fotosintesis akan berlansung secara sempurna apabila tersedia unsur hara, air dan sinar matahari yang cukup sedangkan tersedianya unsur hara dan air akan mempengaruhi perkembangan akar.

(13)

Garut merupakan tanaman yang mudah beradaptasi hampir disemua agroekologi akan tetapi produksi umbi tidak selalu sama.

Umumnya pada kondisi tanah pejal dan kering akan menghambat perkembangan umbi. Hal ini juga bergantung pada kandungan air tanah dimana curah hujan yang sedikit mengakibatkan pasokan air kedalam tanah terbatas (Murniyanto dan Badami, 2009).

(14)

Suh

u

(15)

Syarat tumbuh suhu untuk tanaman garut

Menurut Djaafar dan Pustika (2010), suhu berpengaruh terhadap proses metabolisme tanaman garut. Suhu lingkungan yang optimal adalah 25 - 30°C agar proses respirasi, transpirasi maupun fotosintesis berjalan optimal.

(16)

Pengaruhnya terhadap

pertumbuhan

● Pembentukan kalus dari

● Proses respirasiumbi

● Proses transpirasi

● Proses fotosintesis

● Munculnya tunas

Menurut Lathifah et al (2017), suhu

dapat mempengaruhi Menurut Lestari et al (2006), suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan inaktifnya enzim- enzim sehingga menghambat respirasi. Ketika suhu malam terlalu tinggi akan menyebabkan peningkatan respirasi yang mengakibatkan peningkatan pembongkaran hasil fotosintesis, akibatnya hasil fotosintesis yang digunakan untuk pertumbuhan dan cadangan makanan menurun.

(17)

Kelem

baban

(18)

Kelembaban untuk

pertumbuhan tanaman garut

Tanaman garut cocok ditanam pada daerah yang memiliki kelembaban udara tinggi.

Tanaman garut dapat tumbuh di bawah naungan karena naungan dapat membantu mempertahankan kelembaban media sehingga dapat mengurangi kehilangan kadar air dan hara dari dalam umbi.

Kelembaban udara berpengaruh terhadap laju transpirasi tanaman. Kelembaban udara tinggi dapat memperlambat proses transpirasi sehingga tanaman tidak mudah layu.

Kelembaban udara juga berpengaruh terhadap metabolisme tanaman garut.

Kelembaban yang tinggi berperan dalam pertumbuhan awal dalam pembentukan kalus dari umbi.

(19)

Menurut Saputra et al (2017), tanaman garut yang dibudidayakan pada kondisi terbuka akan menimbulkan masalah yaitu : peningkatan cahaya akan menurunkan bukaan stomata, peningkatan suhu akan meningkatkan kerja enzim, penurunan kelembaban akan mengurangi serapan air, sehingga pada gilirannya produktivitas garut menjadi rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan upaya adaptasi tanaman garut sesuai dengan habitatnya agar penerapan teknologi budidaya dapat dilakukan secara optimal sehingga pertumbuhan dan hasil garut juga akan optimal.

Kesimpulan

(20)

Daftar Pustaka

Djaafar TF, Sarjiman, Pustika AB. 2010. Pengembangan budi daya tanaman garut dan teknologi pengolahannya untuk mendukung ketahanan pangan. J Litbang Pertanian 29 (1): 25- 33.

Estiasih T, Putri WDR, Waziiroh E. 2017. Umbi-umbian & pengolahannya. Malang (ID): UB Press.

Lathifah, M. N., Supriyono, S., & Mujiyo, M. (2017). Respon Garut Terhadap Jumlah Benih Dan Dosis Pupuk Organik. Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture32(2), 101-107.

Lestari, G. W. (2006). Pertumbuhan, kandungan klorofil dan laju respirasi tanaman garut (Maranta arundinacea L.) setelah pemberian asam giberelat (GA3).

Murniyanto, E., Badami, K. 2009. Karakteristik Agroekologi Garut (Marantha arundinaceae L.) Pulau Madura. Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi2(2), 59-66.

Oktafani, M. B., Supriyono, S., Budiastuti, M. S. 2017. Hasil Garut (Marantha Arundinaceae) pada Kekeringan. Agrotechnology Research Journal1(2), 29-32.

Saputra, D.K.D., Efrain, P., Sri, H. 2017. Kajian Penanaman Jagung (Zea Mays L.) Sebagai Penaung Dan Dosis Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Garut (Marantha Arundinacea L.). J Inovasi Pertanian, 17(1) : 1-13.

Suhartini, T dan Hadiatmi, 2011. Keragaman Karakter Morfologis Garut (Maranntha arundinacea L). Buletin Plasma Nutfah, 17(1): 12-18

Supriyono, Putri RBA, Wijayanti R. 2017. Analisis pertumbuhan garut (Marantha arundinaceae) pada beberapa tingkat naungan. J Agrosains 19(1): 22-27.

Yudianto, A. A., Fajriani, S., Aini, N. 2015. Pengaruh jarak tanam dan frekuensi pembumbunan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman garut (Marantha arundinaceae L.). Jurnal Produksi Tanaman3(3): 172-181.

(21)

Terimakasi

h

Referensi

Dokumen terkait