• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKHMAD HARIS PENGANTAR INTEGRASI ILMU HKI24

N/A
N/A
Muhammad Rival

Academic year: 2025

Membagikan "AKHMAD HARIS PENGANTAR INTEGRASI ILMU HKI24"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Akhmad Haris

Nim : 240102010093

Mata Kuliah : Pengantar Integrasi Ilmu

Dosen Pengampu : Rabiatul Adawiyah, S. Ag, M. Ag

Tauhid Sebagai Sumber Integrasi Ilmu

Menurut aspek bahasa atau etimologi (ilmu asal kata) adalah berasal dari kata ‘ilm (Arab), artinya pengetahuan atau tahu. Adapun tawhid berarti pengesaan atau meyakini bahwa tuhan itu cuma satu, yaitu Allah Swt. Jadi, llmu Tauhid itu bisa pula diartikan sebagai pengetahuan yang berisikan ajaran tentang pengesaan terhadap sesuatu yang ditauhidkan.1

Kata tauhid sebenarnya merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yang dapat diartikan me‘manunggal’kan, yakni mengesakan Allah. Secara tradisional dan dalam ungkapan yang sederhana tauhid adalah keyakinan dan kesaksian bahwa ‘tidak ada Tuhan selain Allah’. Kata yang umum dan dekat dengan tauhid adalah ‘aqidah, yakni kata yang berasal dari bahasa Arab, memiliki makna: “ma ‘uqida al-qalb wa a1-dlamir”, yakni sesuatu yang ditetapkan atau diyakini oleh hati dan perasaan (hati nurani), dan berarti “ma tadayyana bihi al-insan wa i’taqadahu”, yakni sesuatu yang dipegangi dan diyakini (kebenarannya) oleh manusia. Secara etimologis, ‘aqidah berarti kepercayaan atau keyakinan yang benar-benar menetap dan melekat di hati manusia.2

Sebenarnya manusia tidaklah memiliki pengetahuan sama sekali, yang memiliki hanyalah Allah. Ketika Allah menggelarkan al-Qur’an dan Alam semesta di hadapan manusia, maka manusia dengan sendirinya ditutut untuk mendapatkan pengetahuan tentang-Nya. Sehingga, ketika seseorang akan melakukan pembacaan, penelitian, dan menemukan sebuah hukum atau teori, semua itu dilakukan atas dasar lillahi ta’ala. Baginya, segala kegiatan keilmuan yang dilakukan atas nama Allah yang telah menciptkan manusia dan telah mengajar manusia segala sesuatu (QS.

Al-Alaq : 1, 2, dan 5).

1 “Ansharullah, S.Ag, M.Fil.I, Tauhid Sebuah Pengantar, Lembaga Pemberdayaan Kualitas Ummat (LPKU), Barito Kuala 2021. Hlm. 01.”

2 “Prof. Sangkot Sirait, Tauhid dan Pembelajarannya, Pascasarjana Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta 2020. Hlm. 1-2.”

(2)

Bagi illmuan Muslim, semestinya tidak mendasarkan kegiatan ilmiahnya semata-mata bersifat kognitif dan skill an sich, melainkan kesemuanya dilakukan atas dasar niat dan motivasi intrinsiknya yang keluar dari hati nurani (conscience) yang paling dalam untuk memenuhi aturan- aturan Allah. Sehingga atara science dan con-science merupakan satu kesatuan dan totalitas yang bermuara pada jiwa rabbaniyyat. (QS. Ali Imran : 79). Ketika mengembangkan dan menggali konsep teoritis dan praksis, semestinya tidak hanya berhenti pada the fact tetapi juga the fact behind the fact, pada saat mengemukakan makna ruhani atau metafisika pada setiap pernyataan fisika.

Prinsip Tauhidiiyah ini, tidak memisahkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moral religius. Antara ilmu dan etika, kesemuanya adalah satu kesatuan mutlak. Ilmu dan aktivitas keilmuan merupkan manifestasi dari pengabdian manusia kepada Tuhan. Tidak ada batas antara ilmu dan amal, tidak ada hijab antara ilmu dengan iman. Implikasinya, seorang berilmu pengetahuan memiliki komitmen terhadap Tuhannya, sekaligus menerima sepenuh hati hukum moral yang diberikan-Nya. Sehingga ia tumbuh sebagai insan yang mencintai perdamaian, dapat hidup selaras, stabil dan berbudi, yakin sepenuhnya akan kemurahan Tuhan yang tidak terbatas, keadilan-Nya yang tidak ada tandingannya, dan hidup dalam harmoni dengan alam.3

Dengan tauhid, upaya integrasi keilmuan meyakini bahwa Tuhan-lah yang mutlak dan bahwa semua yang lain adalah nisbi, sehingga dalam posisiNya sebagai kebenaran mutlak (al- haqq), maka Tuhan harus diposisikan sebagai sumber dari semua kebenaran lain, meskipun adanya hierarki atau tingkat kenisbian dan kebenaran tetap diakui. Dalam perspektif tauhid ini, ilmu yang total dan sempurna atau mutlak hrus diyakini sebagai milik Allah seperti yang ditegaskan secara mutlak sebanyak lebih kurang 30 (tiga puluh) kali dalam Alquran dengan redaksi ayat “wa huwa bi kulli syay‟ „alim”. Karenanya, sumber segala ilmu manusia dalam perspektif Islam adalah Allah Swt, sebab pada hakikatnya Ia-lah yang mengajarkan kepada manusia segala sesuatu yang mereka ketahui (QS. Al-„alaq: 5), dan bahkan para malaikat pun mengakui bahwa mereka tak memiliki pengetahuan apapun melainkan karena diajari oleh Allah (QS. Al-Baqarah:32).4

DAFTAR PUSTAKA

3 “Muhammad Hajiji Fatah, TAUHID SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.”

4 “Muhammad Riduan Harahap, INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM, Jurnal Hibrul‟ulama Vol.1 No.1, Januari-Juni 2019. hLM. 5-6.”

(3)

“Ansharullah, S.Ag, M.Fil.I, Tauhid Sebuah Pengantar, Lembaga Pemberdayaan Kualitas Ummat (LPKU), Barito Kuala 2021. Hlm. 01,” t.t.

Fatah, Muhammad Hajiji. “Muhammad Hajiji Fatah, TAUHID SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten,” t.t.

“Muhammad Riduan Harahap, INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM, Jurnal Hibrul‟ulama Vol.1 No.1, Januari-Juni 2019. hLM. 5-6,”

t.t.

Sirait, Sangkot. “Prof. Sangkot Sirait, Tauhid dan Pembelajarannya, Pascasarjana Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta 2020. Hlm. 1-2,” t.t.

Referensi

Dokumen terkait